cadangan devisa ditandatanyain neh … 061209

Ekonomi di Atas 5%, Cadangan Devisa Berkurang
Jum’at, 4 Desember 2009 – 17:16 wib

Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – Perekonomian Indonesia selalu mengalami masalah sruktural jika mengalami pertumbuahan ekonomi lebih dari lima persen. Pasalnya, nilai tukar rupiah pasti akan mengalami depresiasi dan akhirnya cadangan devisa menjadi kurang.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah usai menghadiri seminar Politik dan Ekonomi Indonesia 2010, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Jumat (4/12/2009).

“Ekonomi kita selalu memiliki masalah struktural, yakni likuidity gap di valas. Cadangan devisa kita selalu kurang di valas kalau mau tumbuh besar-besaran. Kalau ekonomi tumbuh di atas lima persen, maka impor tumbuh, maka akan ada tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” katanya.

Selanjutnya, setelah nilai tukar rupiah naik maka akan ada inflasi. Untuk menjaga inflasi tidak terafiliasi maka harus dijaga juga siklus moneter. Hal inilah, kata Halim yang harus dicarikan jalan keluar oleh pemerintah.

“Kita harus mencari jalan untuk mengatasi masalah ini, di mana setiap perekononian tumbuh, maka harus cari cara menaikkan cadangan devisa,” tukasnya. (ade)

kredit saat likuid, bwat apa … 051209

Sabtu, 05/12/2009 14:23 WIB
Pertumbuhan Kredit Perbankan Tidak Sejalan Dengan Likuiditas
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2009 jauh dari realisasi target Bank Indonesia (BI). Padahal, jika dilihat dari tingkat likuditas sebagai faktor utama perbankan menyalurkan kredit, sama sekali tidak mengalami kekeringan.

BI mencatat, pertumbuhan kredit hingga bulan November 2009 hanya tumbuh sebesar 5,6% (y-t-d) sementara itu dari modal atau (CAR/Rasio Kecukupan Modal) dalam periode yang sama juga tercatat tetap kokoh berada di 17%.

Pengamat Ekonomi dan Perbankan, Ryan Kiryanto mengatakan, seharusnya perbankan bisa lebih deras mengucurkan kreditnya jika dilihat dari aspek likuiditas.

“Ditambah jika dilihat dari profil income, statement bank-bank nasional juga menyatakan saat ini mereka dalam kondisi bagus. Karena rata-rata mencatat laba yang positif di kuartal III-2009,” ungkapnya dalam diskusi Proyeksi Ekonomi 2010 di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (06/12/2009).

Ryan menjelaskan, pertumbuhan laba perbankan yang cenderung positif diperoleh bukan dari lending kredit. “Padahal core suatu perbankan yakni melakukan intermediasi dengan memberikan kredit kepada yang membutuhkan,” tuturnya.

Perbankan, lanjut Ryan ternyata dominan memperoleh laba dari fee based income. Menurut Ryan fee based tersebut ditopang dari pendapatan penempatan dana di surat berharga. “Perbankan yang enggan melakukan intermediasi tersebut yang menyebabkan sektor riil sulit bergerak,” tambahnya.

Ryan menekankan, tahun 2009 sudah menajdi tipikal perbankan di Indonesia untuk sulit memberikan kredit yang menyebabkan sektor riil sulit tumbuh. “Sekitar 40%-50% dari kegiatan perbankan yakni memperoleh pendapatan dari fee based income bukan dari pemberian kredit. Ini sebenarnya tidak related dan ini typical perbankan di Indonesia,” ungkapnya.

Kedepan, lanjut Ryan, BI sebagai regulator harus bisa mendorong perbankan nasional agar melakukan intermediasinya dengan baik. “Sehingga, mereka dapat bersama-sama menggerakan sektor riil dan perekonomian bukan hanya menempatkan dananya di surat berharga saja,” pungkasnya.

(dru/ang)

bunga obligasi bbri yang tinggi, terjangkau lah … 0512109

Bunga Obligasi BFI Finance 11-13%
04/12/2009 23:21:02 WIB
JAKARTA, INVESTOR DAILY
PT BFI Finance Indonesia Tbk berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 200 miliar yang dibagi dalam tiga seri. Kupon yang ditawarkan dengan bunga absolut berkisar dari 11-13,25%.

Obligasi yang bernama Obligasi BFI Finance Indonesia II Tahun 2009 dengan tingkat bunga tetap ini memiliki harga penawaran 100% dari nilai obligasi. Sedangkan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberi peringkat A- dengan outlook stabil.

Obligasi ini terdiri atas Seri A Rp 75 miliar dengan tenor 370 hari kalender dan bunga 11-12%. Kemudian seri B Rp 50 miliar dengan tenor 18 bulan dan bunga 11,75-12,75%. Seri C Rp 75 miliar dengan tenor 24 bulan dan bunga 12,25-13,25%.

Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi ini adalah PT Danareksa Sekuritas dengan wali amanat PT Bank Mega Tbk. Selain itu, obligasi ini dijamin dengan piutang pembiayaan dengan kategori lancar dan diikat dengan akta jaminan selambat-lambatnya empat bulan sejak tanggal emisi. Penjaminan sekurang-kurangnya sebesar 110% dari nilai pokok obligasi yang terhutang.

Direktur BFI Finance Cornellius Henry Kho mengatakan, pihaknya akan menggunakan dana hasil penjualan obligasi tersebut untuk pembiayaan konsumen sebesar 90% dan sewa guna usaha (leasing) 10%.

“Kami gunakan untuk modal target pembiayaan baru (new booking) sebesar Rp 3 triliun tahun depan. Sedangkan proyeksi pembiayaan pada tahun ini Rp 1,8 triliun,” kata Cornellius pada di Jakarta, Kamis (3/12).

stock split @ bbri, akhirnya … 051209

… gw pernah ngoceh2 di blog ini supaya bbri stock split supaya harga belinya terjangkau investor ritel yang terutama orang lokal :  http://sahambbri.wordpress.com/2009/05/19/perx-mahal-banget-bbri/
BBRI: Kaji Rencana Stock Split, Mencoba Merangkul Investor Individu
Jumat, 04 Desember 2009 11:50 WIB

Emiten perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia tbk (BBRI) saat ini kabarnya sedang mengkaji kemungkinan pemecahan saham (stock split). Pertimbangan tersebut diambil mengingat semakin tingginya harga pasar saham BBRI sehingga sulit dimiliki oleh investor individu.

BBRI sendiri saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp 90 triliun atau sebesar 5% dari total emiten pasar modal. Namun memang dari kacamata individu saham BBRI terbilang saham bank yang memiliki harga pasar termahal

vibiznews
GENJOT INVESTOR LOKAL, BRI Kaji Stock Split
04/12/2009 23:37:14 WIB
Oleh Fathya Dahrul

JAKARTA, INVESTOR DAILY
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mengkaji pemecahan saham (stock split) satu banding dua atau satu banding tiga menyusul tren peningkatan harga saham. Hal itu dilakukan untuk mendorong investor lokal memiliki saham blue chips, termasuk BRI.

Direktur Kepatuhan BRI Abdul Salam mengatakan, minat investor lokal cukup besar terhadap saham blue chips tanah air. Namun, harga saham BRI saat ini dianggap kemahalan. “Kami sedang mengkaji stock split untuk mendorong kepemilikan lokal pada saham BRI,” kata Abdul Salam di sela Investor Summit 2009 di Jakarta, Kamis (3/12).

BRI mencatat, kepemilikan asing terhadap saham BRI kian meningkat sejak 2003. Saat itu, dari 40,1% saham publik, investor asing 55,3% dan lokal 44,7%. Namun, pada Desember 2008 kepemilikan asing terus melonjak dari 43,19% saham publik, sebanyak 81,7% dimiliki asing sedangkan investor lokal hanya 18,3%. Bahkan, hingga September 2009, dari 43,22% saham publik, 83,67% diantaranya milik investor asing dan milik lokal hanya 16,33%.

Abdul Salam mengaku, menipisnya kepemilikan investor lokal terhadap saham BRI disebabkan harga per lembar saham yang relatif mahal. Pada perdagangan Kamis (3/12), harga saham BRI naik Rp 200 menjadi Rp 8.050 dari hari sebelumnya Rp 7.080. Tren peningkatan harga saham kian terlihat sejak 4 November 2009.

Namun, dia enggan menyebutkan hingga level berapa perseroan siap memecah saham tersebut. “Kalau tahun depan harganya terus naik, bisa jadi kami lakukan stock split,” ujar dia.

Di tempat yang sama, Direktur Keuangan BRI Sudaryanto Sudargo mengaku, pihaknya mengkaji stock split sebab sulit memperbanyak saham di pasar dengan cara lain. Padahal, saham BRI tergolong saham paling likuid di posisi ke lima atau ke enam dari sejumlah emiten blue chips.

Tahun Depan

Bila harga saham 2010 terus meningkat, menurut dia, maka rencana stock split bisa dilakukan satu banding dua atau banding tiga. Saat ini, kapitalisasi saham BRI mencapai Rp 98 triliun dan diyakini bisa di atas Rp 100 triliun pada 2010.

Sementara itu, terkait penerbitan subdebt yang belum lama ini dilakukan BRI, menurut dia, sebagian besar dikuasai oleh investor lokal. Dari target Rp 1-3 triliun dana subdebt, pihaknya mencatat lembaga keuangan lokal seperti asuransi dan dana pensiun.

“Subdebt kami kemarin lebih banyak diserap investor lokal, sedangkan asing sangat sedikit sekali,” kata dia.

Kinerja keuangan BRI terus menguat ekspansi kredit di industri secara nasional melambat. Per September BRI mencatatkan laba bersih sekitar Rp 5,302 triliun atau naik 25,08% dibanding September 2008 sekitar Rp 4,238 triliun.

Total pinjaman sekitar Rp 192,234triliun atau naik 26,92% dibanding kuartal ketiga 2008 sekitar Rp151,457 triliun dan total simpanan sekitar Rp 220,081 triliun per kuartal ketiga 2009. Pinjaman untuk UMKM selalu di atas 80% selama 5 tahun terakhir.

Total aset BRI sekitar Rp 274,393 miliar atau naik 24,97% dibanding kuartal ketiga 2008 sekitar Rp 218,564 triliun.

BRI Berencana Stock Split Tahun Depan
Kamis, 03 Desember 2009 21:09 WIB
JAKARTA–MI: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk berencana melakukan stock split pada 2010. Ini dilakukan untuk memperbesar nilai kapitalisasi saham. Demikian dikatakan Direktur Keuangan BRI Sudaryanto Sudargo di Jakarta, Kamis (3/12).

“Kita ingin perbesar kapitalisasi saham kita. Kalau harga saham tahun depan besar, akan di stock split dua kali atau tiga kali. Kita lihat dulu harga sahamnya,” katanya.

Menurut Sudaryanto, opsi stock split dilakukan karena tidak ada cara lain untuk melakukan kapitalisasi. Pasalnya posisi bank BRI sudah sangat likuid.

Menurutnya posisi kapitalisasi saham BRI saat ini berada di kisaran Rp98 triliun. Tahun depan, perseroan mentargetkan nilai kapitalisasi lebih dari lebih dari Rp100 triliun. “Dengan adanya stock split harapannya bisa lebih dari Rp100 triliun,” ujarnya. (DU/OL-06)

rakyat kecil yang termarginalisasi full …

Dicari, Bank untuk Rakyat Kecil

KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO
Suasana rumah Ny Nurhasanah yang terletak di Jalan Hanura 6, Tanah Sereal, Jakarta Barat, Minggu (22/11). Ny Nurhasanah diketahui sebagai penyelenggara arisan Lebaran yang melarikan diri karena tak mampu membayar uang ratusan warga peserta arisan yang ditaksir mencapai Rp 1 miliar. Warga lalu merusak rumah tersebut.
Artikel Terkait:
Ini Dia Ukuran yang Dipakai BI Menilai Dampak Kasus Bank Century
Century Gate, Kesempatan DPR Kembalikan Kepercayaan Rakyat
Pengusung Angket Century Bakal Temui Amien dan Kalla
SENIN, 30 NOVEMBER 2009 | 06:42 WIB

SOELASTRI SOEKIRNO

KOMPAS.com – Menabung, tetapi malah buntung. Begitu nasib ratusan warga Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, dan Kelurahan Krukut, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Uang mereka yang diperkirakan berjumlah Rp 1 miliar hilang karena penyelenggara arisan ”paket Lebaran” kabur. Ana (40) kini hanya bisa menyesali mengapa ia menjadi pengumpul uang arisan milik 20 orang, yang sebagian besar teman kerja suaminya yang menjadi buruh harian di pergudangan Sunter, Jakarta Utara.

Akibatnya, hingga saat ini teman-teman suaminya menagih uang kepadanya. ”Susah tidur. Tiap hari orang minta uangnya. Pulang kampung juga enggak tenang. Nanti si Nur datang, siapa tahu uangnya dibagi,” kata Ana, warga RT 10 RW 09 Krukut, Minggu (22/11).

Nur yang dimaksud Ana adalah Nurhasanah, warga Jalan Hanura 6, Kelurahan Tanah Sereal, yang menjadi bandar arisan. Sejak akhir Agustus lalu, Nur kabur membawa uang milik nasabah arisan bernama ”paket Lebaran” itu.

Ida juga kecewa. Sudah lima tahun ia ikut paket Lebaran yang bernilai Rp 300.000 per paket. Ia ikut tiga paket (Rp 900.000). Untuk itu, ia harus menyetor uang Rp 315.000 yang diangsur selama 45 minggu atau Rp 7.000 per minggu.

”Selama lima tahun, setiap awal puasa saya terima uang Rp 900.000 dan sembako isi Indomie, sirup, gula. Uang buat beli baju baru dan pulang kampung ke Mauk, Tangerang,” katanya. Tiba-tiba, Agustus lalu, Nur kabur. Di tengah pelarian, Nur sempat membayar seperempat dari uang warga. Setelah itu ia tak berkabar lagi.

Kerugian lebih besar dan tragis dialami Ny Nuryati (50). Warga RT 08 RW 09 Kelurahan Krukut ini kehilangan uang jutaan rupiah. Uang tabungannya sebagai tukang cuci pakaian bertahun-tahun, plus uang milik peserta arisan lain yang setiap bulan menitipkan membayar kepadanya, lenyap.

Uang warga yang ia kumpulkan per minggu selama 10 bulan untuk disetorkan kepada Nurhasanah berjumlah sekitar Rp 40 juta. Ketika Nur lenyap, nasabah langsung minta pertanggungjawabannya. Perempuan yang tinggal di kampung amat padat penghuninya itu hanya bisa menangis meraung-raung.

Lebaran menjadi saat istimewa bagi sebagian besar warga. Untuk mendapatkan uang pembeli kebutuhan puasa dan Lebaran, warga berupaya keras menabung. Minimnya penghasilan warga yang menjadi pemulung, penjual sayur, buruh cuci baju, atau pengojek membuat mereka hanya mampu menabung sejumlah Rp 7.000 sampai Rp 14.000 per minggu.

Entah siapa pemilik ide awal, sejak bertahun-tahun lalu muncul paket Lebaran uang, bahan kebutuhan pokok, atau daging di kawasan Kota serta tempat lain, seperti Bekasi dan Surabaya. Penyelenggaranya adalah warga perorangan yang biasanya memberikan iming-iming pemberian bonus bingkisan bahan pokok bagi nasabah.

”Tadinya sih enggak mau ikutan, tapi waktu lihat banyak tetangga bawa paket sembako, saya pengin juga ikut paket Lebaran. Eh, malah ketipu,” kata Iyah, warga RT 04 RW 15, Kelurahan Tanah Sereal.

Semakin banyak warga tertarik ikut paket Lebaran. Setahun-dua tahun paket berjalan lancar. Saat masuk tahun kelima atau keenam, ketika peserta paket mencapai ratusan orang, penyelenggara menghilang.

Dua tahun lalu, Nu, warga Krukut, penyelenggara paket Lebaran, juga menghilang. Agustus lalu Nurhasanah menyusul kabur. Warga gigit jari.

Tak tersentuh

Kondisi ini memperlihatkan warga kalangan bawah tak tersentuh layanan perbankan. Aparat pemerintah bahkan tak melihat ada kebutuhan semacam koperasi bagi warganya. ”Warga saya malu kalau menabung cuma Rp 10.000 ke bank, sedangkan di sini belum ada koperasi,” tutur Ketua RW 15 Tanah Sereal Sholeh Assegaf.

Akibatnya, ketika ada orang mau menyimpankan uang mereka, warga berduyun-duyun mendatanginya. Mereka bahkan rela membayar Rp 15.000 per paket agar bisa menabung.

Menanggapi keadaan itu, Djoko Retnadi, salah satu petinggi di Bank BRI, menyatakan, BI sudah meluncurkan program Tabunganku yang sedang diuji coba. Untuk menjadi nasabah Tabunganku, warga harus membuka rekening dengan setoran awal Rp 50.000.

Untuk warga kelas bawah, seperti di Tambora dan Tamansari, jumlah itu masih terlalu besar. Sementara bagi pihak bank, kalau harus datang ke rumah penabung tentu saja sulit karena butuh biaya operasi yang tidak sedikit. Rakyat kecil rupanya masih harus sabar menunggu sampai ada layanan jasa perbankan yang mau melirik potensi mereka yang sebenarnya cukup besar.

Editor: jimbon

Sumber : Kompas Cetak

ati2 dengan bank2 ini … reputasi aja ga cukup : 031209

Perhatian! 30 Bank Masuk Daftar Pengawasan

SHUTTERSTOCK
KAMIS, 3 DESEMBER 2009 | 08:43 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Stabilitas Keuangan yang dibentuk menteri-menteri keuangan dalam G-20 telah membuat daftar berisi 30 lembaga keuangan dan bank bertaraf internasional yang perlu mendapatkan perhatian khusus.

Hal ini dilakukan untuk mencegah kegagalan keuangan global akibat kekacauan yang berpotensi dilakukan oleh bank dan lembaga keuangan itu. ”FSB (Financial Stability Board/Badan Stabilitas Keuangan) telah memasukkan 30 bank dan lembaga keuangan sebagai sumber krisis sistemik karena wilayah kerjanya yang mendunia sehingga tergolong dalam perusahaan yang too big too fail (terlalu besar untuk gagal). Perilaku pemegang saham dan kebijakan manajemennya masuk dalam pengawasan,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Rabu (2/12).

Pada laporan Financial Times ada 24 bank dan 6 lembaga asuransi multinasional yang masuk dalam daftar FSB. Mereka tersebar di Inggris, Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.

Ke-24 bank itu adalah Bank of America Merrill Lynch (BAC),
Citigroup,
Goldman Sachs,
JPMorgan Chase,
Morgan Stanley,
Royal Bank of Canada,
Barclays,
HSBC,
Royal Bank of Scotland,
Standard Chartered,
Credit Suisse, dan
UBS AG. Selain itu juga ada
BNP Paribas,
Société Générale (Perancis),
BBVA (Spanyol),
Santander (Spanyol),
Mitsubishi UFJ,
Mizuho,
Nomura, dan
Sumitomo Mitsui (Jepang).

Lalu ada
Banca Intesa dan
UniCredit (Italia), kemudian
Deutsche Bank (Jerman), serta
ING Group (Belanda). Adapun enam kelompok usaha asuransi adalah
Aegon,
Allianz,
Aviva,
Axa,
Swiss Re, dan
Zurich.
”Dalam pengawasan FSB, bank dan lembaga keuangan itu harus memiliki living will (keinginan untuk hidup). Sebab, kalau ada kesulitan, mereka harus menyelesaikan sendiri masalahnya sebelum meminta bantuan kepada pemerintah masing-masing,” ujar Sri Mulyani.

Secara terpisah, Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, stabilitas sistem keuangan domestik akan tetap terjaga.

Hal itu ditandai dengan rasio kecukupan modal yang rata-rata ada di level 17,7 persen dan kredit berkinerja rendah yang kurang dari 5 persen. BI juga memberlakukan Giro Wajib Minimum sekunder sebesar 2,5 persen sejak 24 Oktober 2009. (OIN)

utang sebesar itu seimbang dengan cadangan devisa $500M… 031209

Lima Tahun Lagi Utang Negara Membengkak Rp 600 Triliun
Kamis, 03 Desember 2009 | 16:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Utang pemerintah lima tahun mendatang diperkirakan akan meningkat sekitar 35,48 persen atau Rp 601,31 triliun dari proyeksi outstanding utang akhir tahun ini berdasarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2009 sebesar Rp 1.694,44 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, Rahmat Waluyanto, memperkirakan, rasio utang terhadap produk domestik bruto lima tahun mendatang hanya 24-25 persen. Jika dihitung dari proyeksi produk domestik bruto 2014 berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah sebesar Rp 9.183 triliun, maka utang Indonesia pada tahun yang sama diperkirakan Rp 2.225,75 triliun.

Meski demikian, Rahmat memastikan rasio utang pemerintah bakal semakin efisien untuk membiayai pembangunan. Perbandingannya, rasio utang pemerintah tahun ini terhadap produk domestrik bruto diperkirakan masih di kisaran 30-21 persen.

“Utang naik, namun semakin efisien untuk pembiayaan pembangunan. Ini dilihat dari kenaikan produk domestik bruto yang akselarasinya tinggi, sehingga rasio utangnya turun. Tahun ini sekitar 30-31 persen, dan pada 2014 tinggal 24-25 persen,” kata Rahmat saat ditemui di Departemen Keuangan, Rabu (2/12).

Rahmat mengatakan, pemerintah akan mengelola utang dengan sangat berhati-hati. Selain memperhitungkan defisit anggaran, pemerintah tetap akan melihat respons pasar sehingga bisa dilakukan penghematan. Tahun ini pemerintah berhasil melakukan penghematan bunga utang sebesar Rp 14,1 triliun.

Strateginya, dia memaparkan, risiko refinancing akan dikurangi dengan cara menukar utang lama dengan utang baru yang memiliki jatuh tempo lebih panjang. Utang jangka panjang itu tetap akan dikombinasikan dengan utang berjangka pendek dan menengah. “Kami menerbitkan dengan tenor beragam (multiple tranches), sehingga rata-rata durasi portofolio tetap panjang,” ujarnya.

Surat berharga negara jangka pendek juga tetap akan diterbitkan untuk menghemat pembayaran bunga. Namun, pemerintah akan mengukur volume penerbitan obligasi jangka pendek itu agar jumlahnya tak terlalu banyak. “Nanti durasinya jadi semakin pendek, refinancing risk semakin tinggi, akan kami kombinasikan,” ujar Rahmat.

Selain itu, dia melanjutkan, pemerintah juga akan merestrukturisasi pinjaman luar negeri terutama dengan mengubah formula suku bunga. Dia mencontohkan pinjaman dari Bank Dunia yang tadinya menggunakan formula bunga variable diupayakan menjadi berbunga tetap.

Restrukturisasi pun dilakukan pada beban komitmen pembiayaan (comitment fee). Contohnya, komitmen pinjaman siaga yang kini dikantongi Indonesia sebesar US$ 5,5 miliar dari Bank Dunia, Japan Bank for International Cooperation, Bank Pembangunan Asia dan pemerintah Australia. “Kami kan selalu berdialog dengan mereka, setiap kuartal kami evaluasi, memperbaiki benchmark, dan sebagainya,” katanya.

Tahun depan strategi pengelolaan utang tak akan jauh berbeda. Lelang reguler surat utang negara, penerbitan sukuk baik lewat penawaran lelang maupun penempatan langsung, hingga penerbitan obligasi dan sukuk ritel, tetap akan dilakukan. Adapun untuk kebutuhan pembiayaan berbentuk valuta asing, kata dia, Indonesia sudah memiliki dealer panel untuk penerbitan Global Medium Term Notes (GMTN).

Pembiayaan valuta asing itu juga bisa dilakukan dengan menerbitkan sukuk global. Apalagi, pemerintah juga masih memiliki pinjaman siaga. “Tapi waktunya saya tidak tahu,” ujarnya. Yang penting, menurut dia, pemerintah saat ini memiliki banyak instrumen sehingga kenaikan defisit tak akan terlalu mengkhawatirkan. “Kami sudah bisa melakukan diversifikasi instrumen dan pasar,” katanya.

AGOENG WIJAYA

penurunan suku bunga kredit seperti membongkar gunung batu (2): 031209

Kamis, 03 Desember 2009 | 17:17

BUNGA KREDIT PERBANKAN

Bunga Kredit Cuma Turun 76 bps

JAKARTA. Bankir di Indonesia memang keterlaluan. Meski sepanjang tahun ini Bank Indonesia telah memangkas bunga acuan BI Rate sebanyak 275 basis points (bps), respon mereka untuk menurunkan bunga kredit masih sangat lambat. Rata-rata penurunan bunga kredit cuma 76 bps.

Dalam Laporan Lebijakan Moneter Bank Indonesia mencatat, bankir memang telah memangkas bunga deposito jangka 1 bulan mereka sebesar 337bps.

Tapi, bankir masih mempertahankan keuntungan yang tinggi. Menurut catatan BI, bankir hanya memangkas suku bunga kredit investasi sebesar 128bps, sedangkan kredit untuk modal kerja sebesar 113bps. Sementara itu suku bunga kredit konsumsi justru mereka kerek naik hingg 13 bps.

Berdasarkan kelompok bank, penurunan suku bunga terbesar juga terjadi pada kelompok bank asing dan campuran yaitu sebesar 165bps. Karena memang sebelumnya mereka telah mematok bunga kredit lebih tinggi. Terutama suku bunga kredit konsumsi.

Sedangkan rekor suku bunga tertinggi untuk kredit modal kerja dan kredit investasi tetap di pegang oleh kelompok perbankan swasta nasional.

Syamsul Ashar kontan
Kamis, 03 Desember 2009 | 13:09

BUNGA KREDIT PERBANKAN

BI : Penurunan Bunga Kredit Jauh dari Harapan

JAKARTA. Rapat Dewan Gubernur BI Kamis (3/12) menilai langkah perbankan untuk menurunkan bunga kredit masih belum sesuai harapan. Artinya perbankan masih gemar mempertahankan bunga kredit yang tinggi.

“Meski penurunan suku bunga kredit belum seperti yang diharapkan, respons perbankan terhadap pelonggaran kebijakan moneter mengalami perbaikan,” kata Dyah K. Makhijani, Direktur Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Bank Indonesia.

BI menganggap pertumbuhan kredit 2009 masih terbatas. Namun, pada 2010 mendatang BI yakini kredit bisa tumbuh sebesar 15%-20%. Ini sejalan dengan meningkatnya keyakinan para pelaku ekonomi terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

BI juga menilai kondisi likuiditas perbankan masih mencukupi untuk kegiatan perbankan untuk menyalurkan kredit. Di sisi mikro, industri perbankan dalam kondisi stabil, seperti rata-rata rasio kecukupan modal atawa Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 17,6%, lalu kredit bermasalah atawa non performing loan (NPL) secara gross rasionya masih 5%. “Dewan Gubernur optimistis kondisi perbankan tetap sehat,” ungkap Dyah.

Syamsul Ashar

KUR dan bbri maseh mesra kok … 031209

Kamis, 03/12/2009 15:50 WIB
BRI Salurkan KUR Rp 12,91 Triliun
Angga Aliya ZRF – detikFinance

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebanyak Rp. 12,91 triliun kepada 2,23 juta nasabah hingga akhir September 2009.

Menurut Corporate Secretary BRI Hartono Sukiman, total KUR BRI di triwulan III-2009 mencapai Rp 5,7 triliun dengan total nasabah sebanyak 1,3 juta orang.

“Kita memang bank yang fokusnya ke UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah). Jadi kita terus kembangkan kredit di sektor usaha ini,” katanya sela Investor Summit di Hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta, Kamis (3/12/2009).

Ia mengatakan, pada periode yang sama, di sektor pendanaan bank pelat merah tersebut telah menghimpun dana sebesar Rp 220,08 triliun. Angka tersebut meningkat 25,48 persen jika dibandingkan triwulan III-2008 sebesar Rp 175,39 triliun.

Komposisi dana pihak ketiga (DPK) itu masing-masing antara lain Giro Rp 38,7 triliun, Tabungan Rp 89,09 triliun, dan Deposito Rp 92,29 triliun.

(ang/dnl)

bbri bersepakat untuk tidak sepakat … 031209

BRI Belum Akan Turunkan NIM
Kamis, 3 Desember 2009 – 16:54 wib

JAKARTA – Walaupun Bank Indonesia (BI) meminta kepada pihak perbankan untuk menurunkan marjin bunga bersih (net interest margin/NIM), namun pihak BRI belum akan menurunkan NIM-nya.

“Struktur biaya operasional (overhead cost) masing-masing perbankan beda. Jadi, pihak regulator tidak bisa mengintervensi untuk mengatur margin bunga bersihnya. Hal itu dikarenakan tingkat kebutuhan perbankan juga beda, apalagi biaya dana (cost of fund) demi ekspansi ke depan,” jelas Direktur Keuangan BRI Sudaryanto Sudargo, selepas acara Investor Summit di Hotel Ritz Carlton Pacific Place Jakarta, Kamis (3/12/2009).

Dengan jaringan kantor paling banyak dibandingkan dengan bank lain, BRI juga akan membutuhkan biaya dana yang lumayan banyak. Sudaryanto mengaku NIM BRI saat ini berkisar di level 9,21 persen. Hingga akhir tahun, pihaknya juga akan tetap mempertahankan NIM perbankannya di level sembilan persen.

“NIM sebesar sembilan persen sudah cukup ideal bagi kami untuk tumbuh dan berkembang. Baik untuk ekspansi kredit ataupun pertumbuhan secara unorganic. Jika kurang dari itu, bagaimana ekonomi Indonesia bisa berkembang,” tukasnya. (Didik Purwanto/Koran SI/ade)