Image

tren JANGKA PANJANG @analisis teknikal+fund bbri (271013_090817)

neh harga saham BBRI (09 Januari 2015) @ 12050

sejak Agustus 2014 gw uda berekspektasi secara teknikal n fundamental BBRI akan mencapai 12K, well, uda deket banget ya

bbri menuju 13K-14K, kata analis

JAKARTA okezone -Saham-saham emiten perbankan kapital tengah merekah, bahkan hampir menyentuh level tertingginya. Dengan valuasi yang tinggi, dikhawatirkan malah menjadi beban bagi investor retail.

Oleh karena itu, beberapa bank tengah mengkaji wacana pemecahan saham atau stock split.

Wakil Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Sunarso mengatakan bahwa perseroan juga memiliki wacana aksi stock split. Pasalnya, dengan harga yang lebih terjangkau, BRI ingin meningkatkan partisipasi investor retail.

“Harga itu kita lihat tinggi, kita ingin BRI dimiliki rakyat Indonesia. Mungkin saja (stock split) BRI dimiliki masyarakat, jadi setiap value yang di-create BRI bisa dinikmati,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia BEI, Rabu (9/8/2017).

Baca Juga:

Bank Mandiri Kaji Rencana Stock Split Saham, Wadirut: Biar Lebih Murah

Hingga Juni, BRI Sudah Salurkan Kredit ke UMKM Rp687,9 Triliun

Kendati demikian, Sunarso mengatakan bahwa stock split bukanlah perkara yang mudah. Tidak hanya tentang memecah nilai saham, tetapi perseroan harus mampu menjanjikan pertumbuhan pasca-stock split. Sehingga, kondisi makroekonomi juga menjadi faktor penentu keberhasilan dan keputusan stock split.

“Nah makanya sekarang kalau mau stock split menentukannya juga enggak gampang 1:2, 1:3, 1:4, 1:5 kita harus ukur,” terang dia.

Apabila stock split tersebut dieksekusi oleh BRI, maka akan menjadi kedua kalinya bank pelat merah ini melakukan pemecahan saham. Sebelumnya, BRI telah melakukan stock split pada November 2010 dengan rasio 1:2.

Hingga penutupan perdagangan kemarin, saham dengan kode BBRI ditransaksikan seharga Rp14.950. Sehingga, investor yang mengoleksi saham BBRI sejak awal diperdagangkan telah menikmati kenaikan hingga 34 kali.

(dni)

ets-small

TEMPO.CO, Jakarta –  Pelemahan rupiah tidak mampu menahan aksi  jual saham-saham perbankan meskipun Otoritas Jasa Keuangan menjamin hingga saaat ini bank masih aman. Bahkan tiga saham bank besar  tak luput terkena aksi jual.

Pada perdagangan akhir pekan, saham BRI turun 11,52 poin. Begitu pula dengan Bank Mandiri sahamnya turun 6,05 poin dan BNI turun 3,39 persen.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan  kinerja sektor  perbankan tidak hanya ditentukan oleh faktor rupiah saja. “Pelemahan rupiah memberikan imbas secara tidak langsung pada kinerja perbankan,” katanya dalam keterangan tertulis Senin, 28 September 2015.

Kinerja debitur, kata Reza, akan terganggu dan hal ini akan berimplikasi pada kualitas kredit yang dimilikinya. Sehingga,  ujung-ujungnya akan berpengaruh pada masalah pembayaran kredit. “Ini akan berimbas negatif pada NPL nya,” ujarnya.

Persepsi bahwa kinerja para emiten konsumer akan terhambat dengan semakin mahalnya dolar juga membuat sentimen negatif pada laju harga saham emiten konsumer. Di sisi lain, laju bursa saham Asia yang cenderung mengalami pelemahan turut memberikan sentimen negatif sehingga pelaku pasar lebih memilih menjauhi pasar.

Reza menambahkan  upaya Bank Indonesia menggelontorkan cadangan devisa hingga Rp 65,9 triliun dalam dua bulan terakhir untuk mengintervensi fluktuasi adalah sia-sia. Sebab hingga kini nilai tukar rupiah masih terus merosot. “Ini adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi.”

Sebelumnya Reza menyampaikan, rendahnya harapan pada penguatan rupiah membuat rupiah terus berada dalam zona merah. Intervensi pasar oleh Bank Indonesia tidak akan berguna selama tidak ada upaya perbaikan dari sisi pemerintah. Menurutnya, intervensi sesaat hanya akan membuat rupiah menguat sementara namun tetap dalam pola tren yang menurun.

MAYA AYU PUSPITASARI

JAKARTA. Tren pelemahan harga saham perbankan juga dialami PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Sama seperti BNI dan Bank Mandiri, manajemen BRI juga berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham.

BRI mengaku sedang menunggu waktu yang pas untuk melakukan buyback.Seperti diketahui, sejak awal tahun sampai saat ini, harga saham BRI tercatat menurun hampir sebesar 15,02% menjadi 9.900 per saham. Padahal jika diihat di awal tahun, harga saham BRI masih bertengger di angka 11.650 per saham.

Direktur Utama Bank BRI, Asmawi Sjam mengatakan, perseroan masih melihat kondisi saham BRI dalam beberapa waktu ke depan. Jika nantinya harga saham terus mengalami penurunan, maka perseroan akan melakukan buyback di harga yang ditentukan. Namun Asmawi masih belum merinci di harga berapa perseroan akan melakukan buyback.

“Buyback ini masalah momentum atau timing, jadi kami masih menghitung nanti bisa masuk, nah jika sudah menentukan harga yang pas kami akan beli,” ujar Asmawi, Rabu (19/8).

Asmawi mengatakan, harga saham BRI saat ini yang berada di angka 9.900 per saham tidak mencerminkan kondisi rill perusahaan. Kendati melemah, Asmawi menilai harga saham BRI sekarang masih bagus mengacu pada harga pada saat aksi stock split beberapa waktu lalu.

Ketika ditanya berapa persen saham yang akan di-buyback, Asmawi masih belum bisa menyebut. Yang jelas, kata dia, dana yang digunakan untukbuyback ini tidak akan mempengaruhi modal.

Menurutnya, modal BRI sampai semester I-2015 masih relatif besar dengan CAR sebesar 20%. BRI juga masih memiliki beberapa opsi pendaaan lain, yaitu dari yayasan dana pensiun dan dari DPK.

Seperti diketahui Otoritas Jasa Keuangan OJK sedang menggodok beleid mengenai aksi buyback ini. Beleid itu bakal mengatur buyback dapat dilakukan tanpa melewati prosedur rapat umum pemegang saham (RUPS).

Editor: Havid Vebri

TEMPO.CO , Jakarta:Analis senior LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan rontoknya saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) lebih karena adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2015. Anjloknya sejumlah saham-saham BUMN juga dinilai sebagai akibat dari ditahannya suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) dan bank sentral Amerika Serikat (Fed Rate).

“Akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi yang turun 0,2 persen dibandingkan tahun lalu, saham terkoreksi dari level tertinggi 5.523.290,” kata Lucky saat dihubungi, Minggu, 3 Mei 2015.

Menurut Lucky, anjloknya saham-saham BUMN juga disebabkan oleh kebijakan Bank Indonesia yang menahan tingkat suku bunga acuan di angka 7,5 persen. Anjloknya saham BUMN juga ditambah dengan pengumuman Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang menyatakan realisasi pajak pada kuartal I 2015 hanya Rp 198,88 triliun. Angka itu turun dari realisasi pajak tahun lalu pada periode yang sama yang mencapai Rp 210,05 trilun.

“Pemerintah tak maksimal mengumpulkan pajak. Itu menjadi sinyal bahwa ada perlambatan di sektor industri,” katanya.

Pernyataan Chairman The Fed, Janet Yellen, yang mengatakan dalam waktu dekat The Fed tetap akan menahan suku bunga acuan Amerika Serikat di angka 0,25 basis poin juga menambah derita saham-saham BUMN. Dengan penahanan suku bunga itu, kata Lucky, menampakkan adanya perlambatan perekonomian global.

“Padahal perubahan suku bunga The Fed sudah ditunggu sejak Yellen menjabat,” kata Lucky.

Sementara rekor indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mencapai 5.523.290 pada 7 April 2015 lalu, kata Lucky, tak dapat mewakili kondisi perekonomian Indonesia. Apalagi, pada 1 Mei 2015 lalu Pertamina sudah menaikkan harga Pertamax yang dianggap sebagai faktor negatif bahwa program restrukturisasi subsidi BBM belum berjalan.

“Faktor-faktor itulah yang menyebabkan rontoknya saham-saham BUMN. Faktor adanya penanaman modal negara dan bagi-bagi kursi komisaris itu sudah lewat,” kata Lucky.

Sepanjang Maret hingga April 2015, sejumlah saham BUMN terus rontok. Pada 24 April 2015, saham PT Waskita Karya (WSKT) yang masih Rp 1.785 rontok menjadi Rp 1.720 pada penutupan 30 April 2015. Saham Bank BNI (BBNI) yang pada 23 April 2015 masih Rp 7.125 turun menjadi Rp 6.525 pada penutupan 30 April 2015.

Tak hanya Bank BNI, saham Bank BRI (BBRI) juga rontok dari Rp 13.200 pada 21 April 2015, ditutup di level Rp 11.625 pada 30 April 2015. Bank BCA (BBCA) juga ikut terseret dengan rontoknya saham bank BUMN. Saham BCA yang pada 21 April 2015 masih Rp 14.900 anjlok menjadi Rp 13.500 pada penutupan 30 April 2015.

Saham PT Gas Negara (PGAS) juga anjlok pada level Rp 4.265 pada penutupan 30 April 2015, dan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) terperosok di level Rp 12.975 pada penutupan 30 April 2015.

KHAIRUL ANAM

Untuk saham BBRI, HD Capital melihat koreksi jangka pendek medium term saham ini sudah selesai di zona jenuh jual (oversold).  “Saatnya buy untuk mengikuti pembentukan tren naik kembali ke Rp11.950,” ungkap riset harian HD Capital itu.

Saat ini, saham BMRI secara valuasi diperdagangkan pada price earning (PE) 2015 sebesar 11,6 kali, price to book value (PBV) 3 kali dan return on equity  (ROE) 26,5 persen. “Entry (1) Rp11.425, entry (2) Rp11.375, serta cut loss point Rp11.275,” jelasnya.
– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2172380/inilah-saham-bank-dan-konstruksi-pilihan-hari-ini/19759/saham-bbri#sthash.scEwLKOn.dpuf

BBRI (11.250)Rekomendasi: Sell On Strength —Candle Bank Rakyat Indonesia (BBRI) masih rally di atas support EMA5 meskipun dengan volume yang tipis. MACD positif sedangkan stochastic overbought sehingga rawan profittaking. Target harga 11.325 sementara support 11.150.
Sumber : IPS RESEARCH

Saham BBRI

Menurut HD Capital, breakout dari downtrend channel jangka pendek terhadap emiten perbankan big cap BUMN yang bergelut di kredit mikro UKM ini merupakan sinyal konfirmasi akan terjadinya perubahan tren kembali bullish secara short dan medium term trend. Diharapkan saham ini target measured moved di Rp10.800-11.075.

“Rekomendasi kami buy dengan entry (1) Rp10.425, entry (2) Rp10.375, serta cut loss point Rp10.275,” ungkapnya. Melihat valuasi saat ini, saham BBRI berada di posisi price earning 2014 sebesar 11,1 kali, price to book value (PBV) 3 kali dan return on equity (ROE) 27%.

inilah.com Saham BBRI

Saham top terakhir yang mendapat rekomendasi buy dari HD Capital adalah BBRI. Saham ini tengah mengalami konsolidasi pendek dalam kenaikan minor uptrend baru untuk memulihkan stamina medium uptrend. Emiten perbankan kredit mikro BUMN ini berpotensi breakout ke Rp10.975-11.150.

Menurut HD Capital, BBRI memiliki valuasi PE 2014 11,3 kali, PBV 3,1 kali dan ROE 27,6%. “Entry (1) Rp10.650, entry (2) Rp10.575, serta cut loss point Rp10.475,” ungkapnya. [mdr]

Bisnis.com, JAKARTA–Saat IHSG diprediksi turun pada Agustus, investor disarankan membeli saham-saham bank yang tergolong bluechip, atau yang memiliki kapitalisasi pasar besar dan fundamentalnya baik.

Analis PT Investa Saran Mandiri yaitu Jhon Veter & Kiswoyo Adi Joe mengungkapkan pada bulan Agustus, besar kemungkinannya IHSG akan turun dalam.

“Data statistik sejak 2005 menunjukkan bahwa bulan Agustus adalah bulan di mana IHSG lebih banyak turunnya daripada naiknya,” ungkapnya dalam Investa White Paper edisi kedua di bulan Juli 2014, seperti dikutip, Sabtu (19/7/2014).

Oleh sebab itu, investor disarankan agar tidak terlena dalam situasi ‘Efek Jokowi’. Jhon dan Kiswoyo menyarankan, bagi investor yang memiliki cash dan ingin membeli saham di harga diskon atau harga murah, maka bisa menunggu di bulan Agustus.

“Lalu saat IHSG turun dalam di bulan Agustus, apa yang harus dibeli? Disarankan untuk membeli saham bluechip. Saham apakah itu? Kami sarankan itu adalah saham-saham perbankan,” ungkapnya.

Dasarnya adalah, sektor keuangan atau bank memiliki bobot paling besar dibandingkan dengan sektor lainnya terhadap IHSG yaitu sebesar 25%.

Lalu dari saham-saham yang ada di sektor keuangan, yang bobotnya besar hanya ada empat saham yaitu BBCA, BMRI, BBRI, dan BDMN. Namun, dari empat saham bank tersebut yang fundamentalnya bagus adalah BMRI, BBRI, BBCA.

“Sehingga sangat disarankan ketika saham BMRI, BBRI, dan BBCA turun dalam di bulan Agustus, maka itu adalah peluang emas untuk membeli saham bank bluechip di harga diskon,” ungkapnya.

 

Editor : Ismail Fahmi

RABU, 23 APRIL 2014 | 06:57 WIB
Investor Ragukan Integritas BCA

TEMPO.CO , Jakarta:Penetapan status tersangka terhadap Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo dalam kaitan dengan pembayaran pajak PT Bank Central Asia Tbk memberi dampak buruk kepada saham emiten tersebut. Dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia kemarin, nilai saham emiten berkode BBCA itu turun 125 poin (1,12 persen) menjadi Rp 11.050 per lembar.

Penurunan tersebut bertolak belakang dengan kenaikan harga saham emiten bank berkapitalisasi besar, seperti PT Bank BRI Tbk yang naik 150 poin (1,49 persen) menjadi Rp 10.200 dan PT Bank Mandiri Tbk yang naik 25 poin (0,25 persen) menjadi Rp 9.850. Saham BCA yang berpindah tangan sebanyak 226.074 lot atau jauh di atas rata-rata tiga bulan sebanyak 168.966 lot. (Baca:Efek Kasus Hadi, Saham BCA Turun 150 poin)

Analis dari PT Recapital Securities, Agustini Hamid, memperkirakan, terungkapnya kasus pajak BCA bakal menggerus kepercayaan pelaku pasar atas emiten bank. Jadi, tak mengherankan jika pelaku pasar mengurangi kepemilikan saham pada bank itu. “Publik mulai mencemaskan integritas dan manajemen risiko yang dimiliki BCA,” ujarnya, Selasa, 22 April 2014.

Dia mengimbuhkan, sebelum muncul kejelasan informasi kepada publik, saham BCA diperkirakan masih akan terus melanjutkan koreksi. Persepsi yang sedang memburuk menjadi faktor utama yang membuat pelaku pasar meninggalkan sementara BCA. “Fraud adalah hal yang tak bisa ditoleransi investor saham,” kata Agustini.

Meski demikian, Agustini mengatakan, kasus ini bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi harga saham BCA. Menurut dia, kecemasan terhadap rilis kinerja kuartal pertama 2014 membuat sektor saham perbankan kurang diminati dalam jangka pendek. Ancaman perlambatan pertumbuhan kinerja perbankan membuat prospek emiten perbankan tahun ini rendah. (Baca: Perkara Hadi Poernomo, BCA Klaim Tak Langgar UU)

Analis dari BNI Securities, Thendra Chrisnanda, juga memandang efek negatif penangkapan Hadi Poernomo terhadap harga saham BCA hanya sementara. Alasannya, saham-saham perbankan, termasuk BCA, selalu menjadi primadona pelaku pasar. “Likuiditas dan kapitalisasi pasar yang besar membuat sektor saham perbankan selalu menarik,” kata dia.

MEGEL | M. AZHAR | MARIA YUNIAR
JUM’AT, 14 MARET 2014 | 17:38 WIB
Euforia Jokowi, Saham Perbankan Diburu

TEMPO.CO, Jakarta – Pencalonan Joko Widodo alias Jokowi sebagai presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memicu gairah beli pelaku pasar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia hari ini naik tajam 152,47 poin (3,23 persen) ke level 4.878,64. Indeks bergerak melawan arah bursa regional Asia yang terkoreksi pada perdagangan akhir pekan. (baca: Pencapresan Jokowi Dorong Penguatan Rupiah)

Analis dari PT Trust Securities, Reza Priyambada, mengatakan kehadiran Jokowi di bursa calon RI 1 memberikan kepastian kepada pelaku pasar, yang memang sejak lama menanti jadi-tidaknya Jokowi maju sebagai calon presiden. “Lewat figur Jokowi, pelaku pasar berharap perubahan yang lebih baik,” ujarnya, Jumat, 14 Maret 2014.

Efek Jokowi ini kemudian mendorong gairah beli pada saham-saham perbankan, terutama setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 7,5 persen.

Saham BRI meroket 10,5 persen ke Rp 10.300 per lembar saham, Bank Mandiri menguat tajam 9,1 persen ke Rp 10.150 per lembar saham, dan Astra Internasional menguat 7,2 persen ke Rp 7.800 per lembar saham. Asing mencatat pembelian bersih Rp 7,5 triliun, atau tertinggi sepanjang 2014.

Menurut Reza, sangat jarang terjadi sebuah faktor nonekonomi menjadi hal dominan yang menggerakkan laju indeks saham. Biasanya, investor mengacu pada laporan keuangan, data ekonomi domestik, dan nilai tukar rupiah sebelum mengambil keputusan investasi.

Dia mengatakan ekspektasi pelaku pasar terhadap Jokowi mirip dengan ekspektasi pasar Amerika Serikat ketika Barack Obama terpilih sebagai Presiden AS pada 2008. “Apa yang terjadi pada Jokowi merupakan kasus yang langka. Begitu besar harapan pasar terhadap figur Jokowi,” ujar Reza.

PDAT | M. AZHAR
tren bbri harga saham 5yr 1000_8000 20012014
… di atas: tren 5 taon, setidaknya saat gw mulai beli bbri, sekira 3000an, s/d 20 Januari 2014… +600-800% dalam 5 taon 🙂
… di bawah: beberapa cara analisis tren harga saham bbri secara teknikal n fundamental:
tren bbri sejak luncur OKT 2013 8450
… dalam jangka pendek sedang terjadi REBOUND (mantul naek) ke harga saham yang lebe wajar (valuasi wajar) @8750-9600… well, liat aja :
tren bbri posteuforia Apr_Okt 2013 8450

analisis fundamental bbri :
BRI Pamer 4 Keunggulan di Investor Summit 2013
Herdaru Purnomo – detikfinance
Kamis, 28/11/2013 18:40 WIB

Jakarta -PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengklaim alami perkembangan yang cukup pesat di industri perbankan tanah air. Saat ini BRI dijuluki sebagai bank nasional yang paling menguntungkan atau ‘profitable’.

Direktur Keuangan BRI Achmad Baequni mengatakan, ada empat hal yang menjadi keunggulan BRI.

“Pertama, kami sebagai market leader dalam bisnis mikro. Pangsa pasar (Market share) kami terbesar dalam penyaluran kredit mikro di indonesia, yakni sekitar 50%,” ujar Baequni di Jakarta, Kamis (28/11/2013).

Kredit mikro BRI melayani pengusaha yang bergerak pada sektor riil dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia, serta masih memiliki potensi pengembangan bisnis yang sangat besar.

Baequni mengatakan penetrasi layanan elektronik perbankan BRI ikut menjadi salah satu keunggulan di industri perbankan nasional. Hal itu terlihat dari pertumbuhan yang sangat pesat e–Banking BRI akhir-akhir ini.

“e-Banking BRI serta jumlah rekening nasabah BRI yang mencapai 45 juta rekening, merupakan keunggulan kedua milik BRI,” papar Baequni.

“Potensi untuk kami makin besar disini, masih terbuka sangat lebar. Sebab BRI merupakan bank dengan jumlah rekening nasabah terbesar di Indonesia, memberikan potensi pengembangan e-banking BRI di masa yang akan datang,” imbuhnya.

Berkaitan dengan itu, keunggulan ketiga menurut Baequni yakni BRI memiliki jaringan dan jangkauan layanan tersebar dan terbesar.

“Akses BRI ke nasabah makin dekat. Dengan lebih dari 9.600 unit kerja real time online, BRI melayani seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke,” ujar Baequni.

Keunggulan keempat BRI adalah struktur permodalan dan infrastruktur yang kuat. Manajemen optimistis, BRI akan mampu bersaing secara nasional maupun regional ke depan.

“Di depan mata kita kan ada perdagangan bebas ASEAN 2015. Kita optimis mampu bersaing. Utamanya pasar domestik ini harus kita layani secara optimal. Dengan dukungan permodalan yang kuat (Total CAR 17.13% ) serta infrastruktur teknologi informasi, sistem informasi dan SDM yang handal, BRI akan mampu menjaga pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Baequni.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s