GDP kitaaa(+5.01%)AA … 050815_070817

 bird_bbri_unvr

CHRON: Purchasing power measures the value of goods that can be bought with a specific amount of a currency. Purchasing power is a relative measure that is most relevant when analyzed for changes over time. For example, if a dollar is valuable enough to buy five apples for one dollar at a point in time, and one dollar can only buy four apples a year later, then the dollar’s purchasing power will have decreased over the year.

Prices

Inflation is the number-one enemy of economy-wide purchasing power. Inflation is the process whereby prices slowly rise throughout all sectors in an economy, effectively reducing the purchasing power of fixed assets and current income levels. According to Investopedia, inflation is neither inherently good nor bad. It is an ever-present reality that must be counterbalanced by increases in wages, interest rates and other factors over time. In periods of deflation, in which prices drop throughout an economy, relative purchasing power theoretically increases. Deflation, however, can be caused by negative economic issues which may themselves reduce purchasing power. Economics use the Consumer Price Index (CPI) to measure purchasing power by tracking price changes for commonly purchased goods.

Wages and Employment

Employment levels and average salaries can have a tremendous effect on economy-wide purchasing power. Taken in aggregate, the more people who are employed, and the more money they earn, the more discretionary funds they will have to spend throughout the economy. Employment factors affect total purchasing power rather than causing a relative shift. Employment does not necessarily cause a currency to become stronger, yet it puts more currency in the hands of consumers, boosting commercial and tax revenues. Per capita Gross Domestic Product (GDP), calculated by dividing GDP by population, is a popular measure of economy-wide income levels for consumers and businesses.

Currency Considerations

Fluctuating exchange rates affect purchasing power in relation to other currencies. As one nation’s currency devalues against another, goods in the second country will be higher in the first country’s currency. This fact in itself does not necessarily affect purchasing power for domestic purchases, but businesses that rely on suppliers in the second country can experience dramatic price increases for imported goods. These businesses may pass their higher costs on to consumers, contributing to inflation and diminished domestic purchasing power.

Availability of Credit

The willingness of banks to lend money to consumers and businesses affects total purchasing power in much the same way as higher salaries and employment levels. With a line of credit, consumers and companies can spend more than they actually have, giving a static, ever-present boost to their personal purchasing power. Lenders reap the benefits of credit agreements by earning interest revenue, which gives them more money to spend in the economy, boosting per capita GDP.

gifi

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 sebesar 5,01 persen, lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,18 persen.

Bila dibandingkan kuartal I 2017, maka pertumbuhan ekonomi kuartal II stagnan. Sebab, pada kuartal I 2017, pertumbuhan ekonomi juga sebesar 5,01 persen.

Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 ditopang oleh konsumsi rumah tangga 4,95 persen, investasi 5,35 persen, ekspor 3,36 persen, lembaga non profit 8,46 persen, dan impor 0,55 persen. Adapun konsumsi pemerintah justru negatif 1,93 persen.

Konsumsi

BPS menyanggah konsumsi rumah tangga turun. Pada kuartal II 2017, BPS mencatat konsumsi tumbuh 4,95 persen, naik 0,01 persen dibandingkan kuartal I 2017.

“Bila ada yang bilang konsumsi turun, tidak,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (7/8/2017).

(Baca: Mal Sepi, Daya Beli Turun?)

Konsumsi makanan dan minuman tumbuh 5,24 persen, pakaian dan alas kaki 3,47 persen, perumahan dan perlengkapan rumah 4,12 persen, kesehatan dan pendidikan 5,40 persen, transportasi dan komunikasi 5,32 persen, hotel dan restoran 5,87 persen.

Bila dibandingkan kuartal I 2017, pertumbuhan konsumsi memang naik. Namun bila dibandingkan kuartal II 2016, pertumbuhan konsumsi kuartal II 2017 justru turun.

Sebab pada periode yang sama tahun lalu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,07 persen.

Meski begitu BPS menyatakan bahwa hal ini bukan disebabkan oleh penurunan daya beli, namun karena adanya kecenderungan masyarakat kelas menengah atas menahan konsumsi.

Indikasinya, yaitu persentase transaksi debit melambat dan presentase uang yang ditabung justru naik. Namun sayangnya BPS tidak bisa memberikan penjelasan lebih detail terkait data tersebut.

(Baca: Konsumsi Masyarakat pada Kuartal III 2017 Berpotensi Melemah)

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani turut berkomentar perihal turunnya daya beli masyarakat.

Menurut dia, tren penurunan daya beli yang saat ini menjadi polemik terjadi karena adanya tren penurunan angka serapan tenaga kerja formal.

Hariyadi menjelaskan, jika melihat data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan periode serapan tenaga kerja formal dari tahun 2010 hingga 2016 hanya 850.000 orang per tahun.

“Padahal setiap tahun itu masuk kurang lebih sekitar 2 juta lebih angkatan kerja yang masuk ke bursa kerja. Jadi kami melihat bahwa kelas menengah bawah itu betul-betul drop banget,” ujar Hariyadi kepada Kompas.com, Minggu (6/8/2017).

Dengan demikian, adanya backlog antara serapan tenaga kerja dan angkatan kerja setiap tahunnya berdampak pada penurunan daya beli.

(Baca: Apindo: Daya Beli Masyarakat Turun Karena Serapan Tenaga Kerja Susut)

 

Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,01 persen di kuartal I 2017 (Year on Year). Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, ada beberapa hal yang mendorong pertumbuhan ekonomi di kuarta I 2017 tersebut.

“Harga komoditas nonmigas di pasar internasional di kuartal I secara umum meningkat. Misalnya beras, kedelai, daging, teh dan lainnya. Komoditas tambang bijih besi, aluminium, bijih tembaga juga mengalami kenaikan,” jelas dia di Jakarta, Jumat (5/5/2017).

Kondisi perekonomian global di periode tersebut juga secara umum terus meningkat. Di luar itu, ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia pada umumnya juga membaik.

Suhariyanto merinci, Tiongkok sedikit menguat dari 6,7 persen jadi 6,9 persen (yoy). Amerika Serikat (AS) juga menguat dari 1,6 persen jadi 1,9 persen. Singapura pun menguat dari 1,9 persen menjadi 2,5 persen (yoy).

Dengan realisasi tersebut, ia berharap pertumbuhan ekonomi terus meningkat ke depannya. “Mudah-mudahan pertumbuhan ekonomi kita meningkat ke depannya,” kata dia.

Sebelumnya, Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I ini sebesar 4,97 persen secara year on year (yoy).

BACA JUGA
Meramal Pertumbuhan Ekonomi RI di Kuartal I-2017
Menko Darmin Yakin Ekonomi RI Tumbuh 5,1 Persen di Kuartal I
Ekonomi Indonesia Berkualitas, Bos IMF Sanjung Jokowi

Proyeksi tersebut lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu sebesar 4,92 persen dan realisasi 4,94 persen di kuartal IV-2016. Walaupun lebih rendah dibanding perkiraan pemerintah 5,1 persen.

“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I diperkirakan mencapai 4,97 persen,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Jumat ini.

Prediksi pertumbuhan ekonomi ini, Josua menilai, akan ditopang dari konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, dan ekspor.

Dia menjelaskan, konsumsi rumah tangga cenderung sedikit melambat, PMTB meningkat khusus investasi non-bangunan, serta perbaikan kinerja ekspor yang didorong tren kenaikan harga komoditas global.

Josua lebih jauh menerangkan, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sekitar 4,98 persen yoy, cenderung melambat dari kuartal sebelumnya akibat perlambatan penjualan ritel, penjualan motor (-6,8 persen yoy dari -4,8 persen yoy di kuartal IV-2016). Sementara penjualan mobil (5,7 persen yoy dari 12,2 persen yoy pada kuartal sebelumnya). (Fik/Gdn)

JAKARTA okezone – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi RI kuartal I 2017 sebesar 5,01%. Posisi ini lebih tinggi dibandingkan laju ekonomi pada periode yang sama tahun lalu 4,92% namun lebih rendah dari kuartal I-2015 yang sebesar 5,04%. “Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2017 5,01% lebih tinggi dibanding 2016,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jumat (5/4/2017). Dirinya menuturkan, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp2.377,5 triliun. Sedangkan PDB atas dasar harga berlaku (ADBH) mencapai Rp3.227,2 triliun.

Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi sepanjang tiga bulan pertama tahun 2017 disokong kinerja perdagangan, ekspor dan impor yang sukses meraih surplus dalam tiga bulan berturut-turut. Menurutnya, hal pertumbuhan juga didukung karena sentimen positif dari perbaikan harga sejumlah komoditas dunia. “Sejumlah komoditas non migas di pasar internasional pada kuartal I-2017 secara umum mengalami peningkatan dan kondisi ekonomi global juga menunjukkan adanya peningkatan,” jelasnya. BPS mencatat, surplus perdagangan tercermin dengan adanya hubungan dagang pada sejumlah negara mitra, semisal China yang menguat 6,9% dari sebelumnya 6,7%, dengan Amerika Serikat (AS) menguat 1,9% dari sebelumnya 1,8%, dan dengan Singapura menguat 2,5% dari sebelumnya 1,9%. Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia USD40,61 miliar atau naik 1,33% secara per kuartal dan meningkat 20,84% secara tahunan. Sementara nilai impor Indonesia USD36,68 miliar atau menurun 0,75% secara per kuartal, namun naik 14,83% secara tahunan. (kmj)
(rhs)

lol

Jakarta DETIK – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil lima menteri ekonomi dipanggil ke Istana Negara, Jakarta. Jokowi mempertanyakan realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2016 yang baru saja dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu sebesar 5,02%.

Hadir di antaranya adalah Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Airlangga Hartarto dan Menteri BUMN Rini Soemarno. Turut hadir juga Kepala Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM) Thomas Lembong.

Hasil 5,02% memang lebih rendah dari proyeksi awal pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2016 yang sebesar 5,2%. Meski demikian masih lebih baik dibandingkan dengan realisasi pada tahun sebelumnya.

“Presiden tadi mengajak kita berdiskusi, berdialog mengenai bagaimana, kan data pertumbuhan ekonomi kita belum lama keluar yang 5,02% untuk 1 tahun di 2016,” ujar Darmin saat meninggalkan Istana Negara, Jakarta, Jumat (10/2/2017).

Diskusi juga berkembang tentang proyeksi 2017. Pada APBN 2017 dicantumkan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,1% atau di bawah kecenderungan para analis dan lembaga internasional yang memproyeksi ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,3%.

“Presiden mengatakan oke kalau 5,02% di 2016 itu, berapa sebenarnya yang bisa kita capai di 2017 dan apa yang harus dilakukan,” paparnya.

Hal lain yang ikut dibahas adalah tentang investasi dan inflasi. Ada beberapa kebijakan pemerintah yang bisa mendorong inflasi lebih tinggi dari tahun lalu. Pemerintah mematok angka inflasi pada kisaran 4%.

“Kita bicarakan soal inflasi,” imbuhnya.

Jokowi juga menyampaikan sektor industri bisa berkembang lebih pesat dari dua tahun terakhir. Seiring dengan paket kebijakan ekonomi yang sudah diluncurkan sangat banyak. Termasuk juga optimalisasi ekspor.

“Presiden meminta untuk dilihat betul market baru untuk ekspor. Bagaimanapun ekonomi negara-negara besar tujuan ekspor kita selama ini belum pulih kelihatannya sehingga kita harus mencari market baru,” pungkasnya. (mkj/ang)

ezgif.com-resize

the economist: TRADERS are now back at their desks, and markets are getting active again, after a somnolent August. Friday saw the first significant sell-off (in both bonds and equities) for a while and the trend continued on Monday morning. German ten-year yields have “soared” to 0.03%.

The proximate cause seems to be central bank action and inaction. The Federal Reserve looks more likely to increase rates this year while the European Central Bank (ECB) failed to add any stimulus last week. The narrowing presidential polls in America (and the health scare for Hillary Clinton) can be thrown into the mix; there is not the usual investor enthusiasm for the Republicans, given the nature of the nominee. (Indeed, fund managers polled by Bank of America see a Turmp win as the second biggest risk after EU disintegration).

But the underlying problem needs a new word—stagfusion. Investors have become used to low interest rates and bond yields since central banks started to loosen policy in 2008. They have prospered from it, since asset valuations have risen and corporate profits have held up well, particularly in America. But they also grumble about it from time to time. Hedge-fund libertarians dislike the amount of official intervention in the market; pension funds and insurance companies have seen their liabilities rise because of lower yields; strategists and economists worry about the prospect of secular stagnation, a prolonged period of slow growth.

So investors are confused. They recognise that a world of zero interest rates and negative bond yields is inherently strange and problematic and fear it can’t last forever. But they worry what will happen when they cease to benefit from all that central bank support. Perhaps stagnation is better than the alternative? Hence “stagfusion”.

And judging by the comments of the central bankers, investors aren’t the only ones to be confused. Many central bankers seem to worry that monetary policy has done as much as it can, and that economies need structural reform (and fiscal stimulus) if they are to prosper. They are also conscious of the fact that they are getting dragged into the political arena—and this makes them uncomfortable. But they have mandates to meet, and if the other reforms do not happen, what else can the Bank of Japan, the Bank of England and the ECB do but stimulate? Meanwhile the Fed is clearly terrified of making the kind of premature move that sabotaged the 1930s recovery (or Japan’s in the 1990s). As we have seen, big market moves may cause them to think again.

So we have what therapists might call an “unhealthy relationship” between the central banks and the markets in which each is nervous about the other might do and the latter is terribly dependent on the former. And divorce is out of the question.

lol

 

INILAHCOM, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 sebesar 5,02 persen, angka ini lebih baik ketimbang pertumbuham ekonomi pada tahun 2015 yang tumbuh 4,88 persen.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan pertumbuhan ekonomi tahun 2016 menunjukkan perbaikan dari sisi koreksi angka. Dia mengatakan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp2.385,6 triliun. Sedangkan PDB atas dasar harga berlaku (ADBH) mencapai Rp3.194,8 triliun.

“Ada sedikit koreksi, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 sebesar 5,02 persen ini lebih baik,” kata Kecuk di Kantornya, Senin (06/02/2017).

Kecuk bilang selama 3 tahun belakang ini motor penggerak pertumbuhan ekonomi paling tinggi disumbang oleh 4 kelompok yakni industri pengelolaan yang sebesar 0,92 persen, kemudian perdagangan yang mencapai 0,53 persen, disusul kontruksi yang menyumbang sebesar 0,51 persen, kemudian sektor informasi dan komunikasi 0,42 persen dan sisa sektor yang lainnya sebesar 2,64 persen.

Kecuk menjelaskan, ekonomi Indonesia pada triwulan keempat 2016 tumbuh 4,94 persen menunjukan peningkatan namun pertumbuhannya belum merata, harga komoditas di triwulan keempat juga mendongkrak pertumbuhan triwulan tersebut.

“Mitra dagang Indonesia pada umumnya membaik, Tiongkok sedikit menguat dari 6,7 persen menjadi 6,8 persen, AS dengan Presiden barunya menguat dari 1,7 persen menjadi 1,9 persen, Singapura menguat 1,1 persen menjadi 1,8 persen,” paparnya.

Sehingga BPSmencatat, sepanjang 2016, triwulan pertama pertumbuhannya sebesar 4,92 persen, triwulan kedua 5,18 persen, dan triwulan ketiga 5,02 persen dan pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 4,94 persen, sehingga secara total pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2016 sebesar 5,02 persen. [lat]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357826/2016-pertumbuhan-ekonomi-502-persen#sthash.j7W7oKR5.dpuf

lol

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III-2016 sebesar 5,02%. Ekonomi Indonesia melambat jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2016 yang sebesar 5,18%.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengutarakan bahwa perlambatan ini disebabkan oleh beberapa sektor. Salah satunya adalah program tax amnesty dan infrastruktur yang dampaknya belum dirasakan oleh masyarakat.

“Kalau dari segi seperti infrastruktur, eksekusi masih butuh waktu. Kalau dengan tax amnesty kita masih melihat butuh banyak waktu,” tuturnya di Intercontinental Jakarta Midplaza, Jakarta, Selasa (8/11/2016).

Hanya saja, apabila dilihat secara menyeluruh, lanjutnya, ekonomi Indonesia cenderung membaik. Kadin pun optimis ekonomi Indonesia dapat terus tumbuh hingga tahun 2017 mendatang.

“Penurunan ini kan enggak secara menyeluruh. Kita harus lihat secara per kuartal dan sekarang keadaan sudah membaik,” tuturnya.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Kadin pun mengusulkan terdapat beberapa sektor yang perlu dikembangkan. Di antara adalah sektor industri padat karya dan maritim.

Kedua sektor ini merupakan salah satu tumpuan yang banyak memberi pengaruh kepada ekonomi Indonesia. Tak hanya kepada pertumbuhan ekonomi, kedua sektor ini juga diyakini dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Saya pernah katakan untuk industri padat karya pemain besar survive, pemain menengah itu lebih banyak memengaruhi. Ini juga berdampak pada unemployment,” tuturnya.

“Untuk Indonesia pertama maritim, kedua agribisnis, ketiga industri padat karya tetap. Tapi yang paling besar itu sektor maritim. Lalu yang tertinggi itu pariwisata, khusunya yang menarik adalah agrotourism. Data base kita akan kita kembangkan pada sektor itu,” tutupnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/11/08/20/1535905/ekonomi-kuartal-iii-melambat-pengusaha-tax-amnesty-belum-beri-dampak
Sumber : OKEZONE.COM

 ets-small

Jakarta detik – Ekonomi Indonesia tumbuh 5,02% di kuartal III-2016. Jika dilihat dari periode Januari-September 2016 maka pertumbuhan ekonomi mencapai 5,04%.

Angka ini jauh lebih baik dibandingkan kuartal III-2015 sebesar 4,79%. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto, pertumbuhan ekonomi Indonesia ini termasuk bagus jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global.

“Perlu ditingkatkan dari sisi tingginya (pertumbuhan ekonomi) maupun kualitasnya,” katanya di kantornya, Senin (7/11/2016).

Ia mengatakan, bila dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi RI sempat capai 6,17% di kuartal III-2011.

Hingga pada kuartal III-2014 pertumbuhan ekonomi RI turun ke 5,02 dan di 2015 turun lagi ke 4,79%.

“Bisa dilihat ini merupakan angka menjanjikan di 2016 sampai kuartal III bisa 5,04%,” jelasnya. (ang/drk)

ets-small

INILAHCOM, Hong Kong – Analis pasar modal di bursa Asia terkejut dengan data pertumbuhan ekonomi atau PDB Indonesia mencapai 5,18%. Sebab mereka hanya memprediksi angkanya hanya sekitar 5%.
Ekonom OCBC Bank di Singapura, Wellian Wiranto mengatakan data tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia memiliki lebih banyak momentum. Untungnya, momentum yang terjadi sesuai dengan harapan pasar.
Ada beberapa tanda yang menggembirakan, lanjutnya, tentang kesehatan ekonomi Indonesia. “Kembalinya konsumsi sektor swasta yang sangat berpengaruh. Sementara dukungan belanja pemerintah juga memusahkan pertumbuhan di kuartal kedua,” jelasnya seperti mengutip cnbc.com.

Pada kuartal kedua, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,04 persen. Begitupun dengan konsumsi pemerintah yang tumbuh 6,28 persen dengan kontribusinya untuk gaji pegawai. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai jasa keuangan dan asuransi sebesar 13,51 persen.

Dengan perolehan PDB kuartal kedua sebagai pertumbuhan terkuat dalam 10 kuartal terakhir, IHSG memperbaiki rekor penutupan tertinggi. IHSG naik 0,8% atau 46,3 poin ke 5.420,24 dari level pembukaan di 5.380,11.
Rekor tertinggi terakhir di level 5.372,36 yang terjadi pada penutupan tanggal 2 Agustus dan 4 Agustus 2016. Rekor hari ini mendapat dukungan dengan volume perdagangan mencapai 7,2 miliar saham senilai Rp9,8 triliun, sebanyak 301.545 kali transaksi.
Tren positif juga terjadi pada beberapa bursa saham di kawasan Asia untuk perdagangan akhir pekan ini. Indeks ASX naik 0,3% dengan dukungan saham sektor energi yang menguat 1,1 persen dan sektor bahan baku yang naik 1,7 persen. Sedangkan bursa Kospi berakhir naik 0,9 persen. Indeks Hang Seng naik 1,4 persen. Untuk bursa Shanghai lebih rendah dengan turun 0,8 persen.

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2315065/pdb-indonesia-kejutkan-analis-singapura#sthash.HvYOprDH.dpuf

 lol

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2016 sebesar 5,18 persen. Posisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun lalu yang sebesar 4,66 persen. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, capaian tersebut memang sesuai dengan prediksinya.

“Kan saya sudah bilang bahwa malah lebih tinggi dari yang saya bilang. saya bilang 5,1 persen jadi 5,18 persen,” kata dia di kantornya, Jumat (5/8/2016).

Darmin mengatakan, salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi kuartal II tinggi karena bergesernya panen raya. Pergeseran ini membuat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2016 tidak terlalu tinggi dan berkontribusi pada pertumbuhan kuartal II 2016.

Tidak hanya panen raya yang bergeser. Darmin meyakini pertumbuhan ekonomi ini mencerminkan ekonomi dalam negeri sudah mulai menggeliat naik.

“Banyak data menunjukkan ekonominya sudah menggeliat naik, apakah itu data ekspor impor, tapi dilihatnya satu kuartal, jangan melihat setahun. kalau yoy belum,” jelas Darmin.

http://economy.okezone.com/read/2016/08/05/20/1455901/pertumbuhan-ekonomi-5-18-menko-darmin-sudah-menggeliat
Sumber : OKEZONE.COM

 dollar small

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2015 sebesar 5,04 (yoy) persen. Posisi ini membaik dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada pertengahan tahun atau kuartal III-2015 yang sebesar 4,73 persen.

“Ekonomi Indonesia kuartal IV 2015 tumbuh 5,04 persen (yoy)”, kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Jumat (5/2/2016).

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi dari triwulan I sampai triwulan IV sebesar 4,79 persen.

Tahun 2015, ekonomi RI bisa dibilang naik turun. Pertumbuhan ekonomi sempat melambat pada kuartal II 2015. Saat itu ekonomi RI menyusut dari 4,71 persen menjadi 4,67 persen. Namun kembali terangkat pada kuartal III 2015 ke level 4,73 persen.

Jika diurutkan sepanjang 2015, berikut adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia:

– pertumbuhan ekonomi kuartal I 4,71 persen.

– pertumbuhan ekonomi kuartal II 4,67 persen.

– pertumbuhan ekonomi kuartal III 4,73 persen.

– pertumbuhan ekonomi kuartal IV 5,04 persen.

http://economy.okezone.com/read/2016/02/05/20/1305336/ekonomi-indonesia-2015-hanya-tumbuh-4-79
Sumber : OKEZONE.COM

dollar small

Jakarta -Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2015 mencapai 4,73%. Sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi kuartal II-2015 yang sebesar 4,67%.

Deputi Neraca dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suharyanto mengatakan, angka ini juga lebih bagus dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2015 yang sebesar 4,72%.

“Perekonomian global pada kuartal tiga diperkirakan masih melambat. Dipengaruhi oleh masih rendahnya harga komoditas dan gejolak dari pasar keuangan global, yang berdampak terhadap perekonomian domestik,” jelas Kecuk dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (5/11/2015).

Masih melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diakibatkan lemahnya pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang, seperti Amerika Serikat, China, dan Singapura.

Angka Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga berlaku di kuartal III-2015 adalah Rp 2.982,6 triliun. Sementara berdasarkan harga konstan adalah Rp 2.311,2 triliun.

(dnl/ang)

rose KECIL

Jakarta, CNN Indonesia — PT Mandiri Sekuritas memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,8 persen pada kuartal III 2015, lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya di angka 4,67 persen.

Analis Mandiri Sekuritas Adrian Talo Putra dan Leo Rinaldy menjelaskan, proyeksi yang meningkat tersebut muncul dengan faktor pendorong peningkatan belanja yang dilakukan pemerintah dan konsumsi publik yang masih stabil.

“Karena adanya akselerasi oleh pemerintah, konsumsi publik yang stabil, dan memudarnya efek dari Pemilu tahun lalu yang membuat belanja institusi non-profit akan menjadi positif semester ini,” ujar mereka dalam riset, dikutip Kamis (5/11).

Dari data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan, hingga 30 September 2015 realisasi belanja modal pemerintah hanya mencapai 27,8 persen atau senilai Rp 76,8 triliun dari dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015.

Pertumbuhan di kuartal III menurut Mandiri Sekuritas juga didorong oleh neraca perdagangan yang kerap surplus. Nilai ekspor juga diprediksi akan membaik dari sisi volume, meskipun dari sisi nilai mengalami kontraksi yang lebih dalam pada kuartal III 2015.

“Secara keseluruhan, kami memprediksi kontribusi ekspor bersih terhadap PDB pada kuartal III akan lebih baik daripada kuartal sebelumnya,” katanya

Ekonom Development Bank of Singapore (DBS) Gundy Cahyadi juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III tahun ini hanya sebesar 4,8 persen setelah awalnya sempat membuat proyeksi tumbuh 5 persen.

Menurut Gundy, masih adanya tren penurunan impor yang menandakan permintaan masih melemah di tambah nilai ekspor yang tidak juga meningkat signifikan membuatnya tidak jadi merilis perkiraan pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 5 persen.

Namun Gundy melihat adanya tanda pemulihan ekonomi di akhir tahun yang ditandai membaiknya pertumbuhan kredit investasi.

Sebagai informasi Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan PDB kuartal III 2015 pada hari ini, Kamis (5/11) pukul 11.00 WIB. (gen)

ezgif.com-resize

JAKARTA detik – Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumhuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) kuartal III-2015 hari ini. Diprediksi pertumbuhan ekonomi lebih membaik dibanding kuartal sebelumnya.

Prediksinya 4,9 persen untuk month to month,” ungkap Ekonom BCA David Sumual kepada Okezone, Jakarta, Kamis (5/11/2015).

Tidak hanya itu, Bank Indonesia (BI) serta Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang PS Brodjonegoro juga sepakat memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2015 sebesar 4,85 persen. Tentu angka ini lebih baik dibanding kuartal I yang sebesar 4,7 persen dan kuartal II sebesar 4,67 persen.

Sebelumnya, Bambang mengaku besaran 4,85 persen sudah cocok lantaran kondisi perekonomian Indonesia mulai membaik. Terlebih ada dukungan dari penyerapan belanja Pemerintah yang mulai membaik.

“Ya, kan sudah 70 persen penyerapannya. Itu akibat dari government spending (membaiknya ekonomi) salah satunya,” ucap dia beberapa waktu lalu.

http://economy.okezone.com/read/2015/11/05/20/1244003/menanti-pengumuman-pertumbuhan-ekonomi-ri
Sumber : OKEZONE.COM

spiral

Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2015 sebesar 4,67 persen atau turun dari realisasi kuartal sebelumnya 4,72 persen. Hingga semester I, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7 persen, turun dari periode yang sama tahun lalu sekitar 5,17 persen.

Level tersebut melambat karena dipicu lesunya perekonomian global, termasuk negara mitra dagang Indonesia dan pelemahan harga komoditas.

“Pertumbuhan ekonomi di kuartal II ini sebesar 4,67 persen dibanding periode sama 2014 (Year on year) dan 3,78 persen secara Q to q. Dengan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2015 atas dasar harga konstan Rp 2.293,3 triliun,” kata Kepala BPS Suryamin‎ saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (5/8/2015).

Secara kumulatif, sambungnya, ekonomi Indonesia bertumbuh 4,7 persen pada semester I 2015 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. ‎”Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang semakin melambat sejak kuartal I 2011 yang terealisasi 6,48 persen,” ucap dia.

Suryamin menjelaskan, penyebab utama pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat karena kondisi serupa yang dihadapi perekonomian global sepanjang periode April-Juni 2015. Hal ini, lanjutnya, sebagai dampak rendahnya harga berbagai komoditas di pasar internasional. Komoditas yang masih mencatatkan penurunan harga‎, yakni jagung, beras, kedelai, daging sapi, bijih timah, bijih besi, dan sebagainya.

“Pemicu lainnya karena ketidakpastian kondisi pasar keuangan terkait ketidakpastian kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed Fund Rate),” terangnya.

Di samping itu, dijelaskan dia, ‎pertumbuhan ek‎onomi negara mitra dagang Indonesia cenderung stagnan bahkan melemah. Sebagai contoh Amerika Serikat dengan catatan pertumbuhan ekonomi melemah dari 2,9 persen di kuartal I 2015 menjadi 2,3 persen.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok stagnan pada posisi 7 persen. Pertumbuhan ekonomi Singapura menurun dari 2,1 persen menjadi1,7 persen. “Artinya berimbas ke ekonomi Indonesia,” tegas Suryamin.

Dia pun mengaku, harga minyak internasional di kuartal II mengalami kenaikan sedikit 19,07 persen Q to q, tapi secara Year on year turun 43,3 persen. Kalau dulu harnya US$ 100 per barel, di kuartal II anjlok sampai US$ 40 lebih per barel.

Ramalan ekonom

Sebelumnya, ekonom meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2015 berada di bawah 5 persen atau sama dengan realisasi kuartal I sebesar 4,7 persen. Perlambatan ekonomi ini disebabkan pelemahan ekspor dan impor terutama impor bahan baku.

Ekonom DBS Bank Ltd, Gundy Cahyadi memproyeksikan ekonomi Indonesia hanya akan mampu bertumbuh 4,7 persen di kuartal II ini. Angka tersebut tidak beranjak dari perolehan pertumbuhan ekonomi di periode Januari-Maret sebesar 4,7 persen.

“Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kemungkinan tetap di bawah 5 persen (YoY) di kuartal II, tepatnya 4,7 persen,” ucap dia saat dihubungi.

Menurut Gundy, penurunan ekspor dan impor menjadi penyebab utama pertumbuhan ekonomi tak sanggup mencapai lebih dari 5 persen. Pelemahan terjadi di impor barang modal.

“Impor barang modal anjlok sekira 20 persen (yoy) di kuartal II 2015 karena pertumbuhan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) alias investasi tetap sekira 4 persen atau meleset dari perkiraan sebelumnya 5,5 persen,” papar dia.

Paling parah, katanya, impor bahan baku terkontraksi secara signifikan hingga 21 persen. Sementara pertumbuhan ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih positif meski sedikit melemah. “Impor bahan baku turun 21 persen di periode ini merupakan yang terburuk sejak 2009,” ucap Gundy.

Dia memperkirakan, dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi di akhir tahun ini hanya 4,9 persen. Ramalan tersebut sudah memperhitungkan percepatan belanja pemerintah.

“Pertumbuhan ekonomi setahun ini berpotensi lebih rendah jika tidak ada perbaikan dalam penyerapan anggaran ke depan,” ucapnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk Ryan Kiryanto memproyeksikan level pertumbuhan ekonomi yang sama. “Kami perkirakan ekonomi bertumbuh 4,7-4,8 persen di kuartal II,” ujar dia.

Penopangnya, dijelaskan Ryan, berasal dari konsumsi rumah tangga 56 persen, investasi 30 persen, kontribusi belanja pemerintah sebesar 10 persen dan ekspor impor 4 persen. “Ada kenaikan konsumsi karena Idul Fitri, banyak orang mudik dan berbelanja,” tukas dia. (Fik/Ndw)

 dollar small

Wrong number?

EVERY quarter the financial markets wait eagerly for the latest estimate of the size of the American economy, dubbed gross domestic product or GDP. Politicians are judged by their ability to get this number rising; a sharp fall in GDP (a recession) is seen as a crisis.

At the beginning of the 20th century people had no way of measuring the volume of economic activity. But the great depression and the second world war made politicians realise that it was essential to generate such numbers. A brilliant and resourceful economist called Simon Kuznets devised a way of doing so. In the process, he, and those who followed him, had to decide what to measure. Understandably, they focused on monetary transactions.

In a new book, “The Little Big Number: How GDP Came to Rule ther World and What to Do About It”, Dirk Philipsen, an American economic historian and environmental advocate, argues that this approach has distorted our view of society and the economy ever since. Wash your own windows and GDP is unaffected; employ a window cleaner and output is boosted. Smash your car on the highway and the costs of repairing it add to GDP. The production of cigarettes that cause lung cancer and handguns that are used in murders are also counted as a positive in GDP terms.

These flaws have been understood for decades ; in 1968, Bobby Kennedy pointed out that the measure “does not allow for the health of our children, the quality of their education or the joy of their play”, adding that “it measures everything, in short, except that which makes life worthwhile.” A more scholarly book might have investigated other criticisms. Why are GDP calculations so frequently revised and by such large amounts? How do the calculations allow for “black economy” transactions such as drug dealing or prostitution? How do they allow for improvements to the quality of goods, such as the enhanced processing power of computers and mobile phones?

Readers in search of such debates should turn to Diane Coyle’s book “GDP: A Brief But Affectionate History”, published last year. Mr Philipsen has written a polemic, rather than a balanced analysis. In his view, the GDP measure has created a society obsessed with mindless consumerism, in which the focus on growth has obscured the damage done to natural resources. When people use oil or coal for fuel, this is treated as an economic plus but they are depleting our natural resources as well as adding carbon dioxide to the atmosphere. The author sees a parallel with Easter Island, where the inhabitants used so much timber that the trees disappeared.

His case would be more convincing if he had written a more balanced account. Economic growth and environmental degradation do not always go hand in hand; the British economy is a lot larger than it was in the 1950s but the smogs that blighted London have disappeared. Oil consumption per capita in the developed world peaked in the 1970s, because higher prices discouraged demand. Indeed, similar warnings of the finite nature of Earth’s resources were written in the 1970s but they have yet to be borne out; the author might have considered why. If countries did try to shift to greener economies by, for example, taxing fossil fuels heavily, there would be significant costs for poorer people (who spend a higher proportion of their income on energy); there would also be unemployment in the energy industries affected, and potentially a problem keeping the lights on all the time. Tackling this issue in a way that acknowledged all the hazards would have improved the book.

The author is right to say that the calculating GDP is not the same as measuring welfare, nor does it say anything about the distribution of wealth. But he does not acknowledge the improvements in life expectancy and infant mortality that have been achieved in countries that have seen their economies grow; richer countries can afford better healthcare. He also overstates his case when he writes that “the logic of GDP growth grew into the central target of post-war planning”; actually, governments in the 1950s and 1960s focused on keeping unemployment down until the mid-1970s, when tackling inflation became the priority. Even now, when central banks give forward guidance, they usually refer to unemployment levels rather than nominal GDP targets.

At the end, while he briefly considers alternative measures, the author does not plump for a single option; perhaps because all, like GDP, involve subjective judgments and difficult judgments. He writes that there is a need for a debate about “the four essential sides of our goalpost” (aren’t goalposts round?) – sustainability, equity, democratic accountability and economic viability. But surely this debate happens all the time; we do prevent development in the name of preserving the environment, and we do argue about whether raising taxes on the rich, or increasing benefits for the poor, is necessary for social cohesion.

In short, an obsessive focus on GDP might be wrong but it’s not clear that we have developed such a mania. And completely abandoning the measure would be wrong too.

TEMPO.CO, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II/2015 diproyeksi masih tetap melambat. Otoritas moneter memproyeksi laju produk domestik bruto (PDB) kuartal itu berada di level 4,9% sehingga posisi tahun ini di kisaran 5%-5,4% jauh dari asumsi dalam APBNP 2015 sebesar 5,7%.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan faktor penopang pertumbuhan masih dari pemerintah khususnya terkait belanja modal yang pada kuartal I belum dieksekusi bersamaan dengan terkontraksinya ekspor.

“Masih lemahnya permintaan global dan rendahnya harga komoditas membuat perekonomian melambat. Namun mulai kuartal II akan menunjukkan perbaikan sejalan dengan implementasi proyek,” katanya dalam rapat kerja dengan Kemenkeu, Kementerian PPN/Bappenas, dan Komisi XI DPR, Senin (8 Juni 2015).

Agus mengungkapkan akselerasi pertumbuhan ekonomi tahun ini memang hanya akan bergantung pada belanja pemerintah dan investasi swasta sejalan dengan upaya pembenahan dan pembangunan beberapa infrastruktur nasional.

Menurutnya, akan ada pergerakan positif di sisi ekspor, tapi pemerintah tidak bisa bergantung penuh menyusul masih rendahnya harga komoditas dan belum pulihanya permintaan global. Selain itu, faktor perlambatan China masih juga membayangi.

Dari sisi konsumsi, sejalan dengan kebijakan pelonggaran makroprudensial, lanjut Agus, akan ada stimulus bagi masyarakat. Walaupun demikian, Bank Indonesia tetap pada kebijakan ketat di sisi suku bunga acuan (BI Rate) yang hingga saat ini masih bertengger di 7,5%.

Tanpa menyebut proyeksi besaran laju PDB kuartal II, Menkeu Bambang Brodjonegoro mengungkapkan outlook pemerintah pada tahun ini masih di level 5,4% kendati meleset dari asumsi APBNP 2015.

Menurutnya, beberapa kebijakan yang akan diluncurkan seperti kenaikan batasan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dari Rp24,3 juta per tahun menjadi sekitar Rp36 juta serta pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) pada mebel, furniture, barang elektronik, dan aksesoris akan mampu menstimulus konsumsi masyarakat.

Kepala Ekonom BCA David Sumual juga menilai perekonomian nasional pada kuartal II juga masih akan melambat di bawah 5% (year on year) kendati pemerintah sudah menggaungkan mulai mempercepat belanja.

Menurutnya, sinyal perlambatan tersebut sebenarnya sudah terlihat dari realisasi penerimaan pajak maupun bea dan cukai posisi akhir Mei. Masih terkontraksinya pajak atau cukai atas konsumsi masyarakat menunjukan tidak ada andil yang besar dari sisi konsumsi.

“Kelihatan drop sekali, aktivitas ekonomi melemah,” katanya.

Menilik data Ditjen Pajak (DJP), pertumbuhan penerimaan pajak nonmigas posisi akhir Mei 2015 masih melambat di level 3,14% jauh di bawah periode yang sama tahun lalu 13,54%. Pertumbuhan PPh nonmigas 10,59% – masih jauh dari pertumbuhan alamiahnya tidak bisa mengompensasi penurunan di pos lainnya, terutama pos PPN dan PPnBM yang terkontraksi 6,07%.

Secara nominal, penurunan terbesar ada pada pos PPN impor yang tercatat Rp53,7 triliun atau terjun 10,72% dari posisi tahun lalu Rp60,1 triliun.

Sementara, dari penerimaan bea dan cukai, realisasi penerimaan akhir Mei yang tercatat per 3 Juni 2015 hanya senilai Rp59,05 triliun, terkontraksi sekitar 12,5% dari capaian periode yang sama tahun lalu Rp67,49 triliun.

Menurut David, pada kuartal selanjutnya, diharapkan ada kenaikan di sisi konsumsi masyakarat akibat beberapa kebijakan yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia.

BISNIS.COM

 

Bisnis.com, JAKARTA—Pertumbuhan ekonomi kuartal I/2015 hanya berada di level 4,71%, atau menurun dari periode sebelumnya. Sejumlah pejabat negara mengklaim penyebab utama berasal dari ekonomi global, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Menurut Kalla, perlambatan ekonomi kuartal pertama tahun ini terjadi karena berkurangnya daya beli masyarakat akibat pelemahan ekonomi global.

“Sejak beberapa waktu lalu sudah saya sampaikan itu akibat pengaruh daya beli, akibat pertumbuhan ekonomi menurun, tentu punya efek,”paparnya di Kantor Wakil Presiden, Selasa (5/5/2015).

Beberapa waktu lalu, Kalla pernah mengatakan perlambatan ekonomi regional menyebabkan harga komoditas turun dan pendapatan masyarakat merosot.

Dia menegaskan melesunya kinerja perusahaan nasional disebabkan masalah yang bersifat universal. Menurut dia, tak ada satu pun negara yang sanggup mengupayakan pertumbuhan ekonomi yang ekstra tinggi.

Kendati mayoritas kinerja perusahaan nasional mengalami perlambatan, pengusaha pemilik Kalla Grup itu tetap optimis bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 2015 sesuai target 5,7%.

Salah satu upaya yang dilakukan, Kalla mengimbau jajaran pemerintah mempercepat penyaluran anggaran belanja guna menstimulus pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pemerintah harus membuka jalur penerimaan investasi lebih besar dan mudah sehingga aliran dana masuk ke Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2015 hanya tercatat berada di level 4,71%. Angka ini merosot dibandingkan pertumbuhan ekonomi periode sebelumnya 5,01% pada kuartal IV/2014. Bahkan angka itu jauh lebih rendah dari pertumbuhan kuartal I/2014 yang mencapai 5,2%.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan melambatnya pertumbuhan ekonomi sejumlah negara yang menjadi mitra dagang Indonesia turut berdampak pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Seperti China yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonominya dari 7,4% menjadi 7%, dan Singapura yang mengalami perlambatan ekonomi dari 4,9% menjadi 2%.

Melemahnya pertumbuhan ekonomi juga disebabkan pelemahan harga minyak dunia yang memengaruhi harga komoditas. Selain itu, aktivitas ekspor dan impor pada kuartal pertama yang melesu juga menjadi penyebab perlambatan ekonomi.

 

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai perlambatan ekonomi Indonesia dipicu oleh melemahnya kinerja beberapa komponen. Seperti konsumsi lembaga pemerintah dan lembaga nonprofit serta investasi pada sektor bangunan.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2015 tercatat 4,71 persen (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,02 persen (yoy).

“Pelemahan pada konsumsi pemerintah terjadi akibat belum optimalnya penyerapan belanja, terutama terkait dengan APBN-P 2015 yang baru disahkan dan belum terealisirnya belanja pada sepuluh kementrian dan lembaga yang baru,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan tertulis, Selasa (5/5/2015).

Tirta menjelaskan penurunan yang terjadi pada pertumbuhan konsumsi lembaga nonprofit terutama akibat lebih rendahnya belanja pada periode ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sangat besar dengan adanya belanja pemilu (base effect).

Pada investasi bangunan, lanjutnya, pelemahan diakibatkan oleh masih adanya sikap wait and see sektor swasta dan masih belum berjalannya proyek-proyek pemerintah.

Sementara itu di sisi eksternal, kinerja ekspor juga menurun sejalan dengan masih lemahnya permintaan dan turunnya harga komoditas dunia.

“Pertumbuhan impor mengalami penurunan cukup dalam sejalan dengan melemahnya perkembangan permintaan domestik,” jelasnya.
http://economy.okezone.com/read/2015/05/05/20/1144938/bi-ekonomi-lambat-karena-konsumsi-menurun
Sumber : OKEZONE.COM

JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat membuat laju kinerja emiten perbankan diperkirakan tumbuh moderat. Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Akhmad Nurcahyadi mengatakan, laba bersih emiten perbankan sangat berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Dia bilang, Bank Indonesia telah mengungkapkan kalau pertumbuhan ekonomi menjadi indikator utama pertumbuhan kredit perbankan di dua kuartal tahun ini. Sehingga, jika Kementerian Keuangan memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2015 hanya di bawah 5%. Maka, “Prediksi konsensus untuk pertumbuhan sektor bank menjadi terlalu tinggi,” ujar Akhmad dalam risetnya, Selasa (17/3).

Meskipun perlambatan ekonomi sudah terjadi sejak semester II 2014 lalu, empat perbankan besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil membukukan kinerja tahun 2014 yang sesuai estimasi. Salah satu faktor yang akan menjadi katalis pertumbuhan industri perbankan tahun ini adalah jika ekonomi bisa tumbuh di atas 5,2%.

Akhmad mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi diikuti dengan likuiditas yang tinggi dan Non Performing Loan (NPL) rendah, sektor bank bisa tumbuh dengan baik. Ada beberapa katalis lainnya yang masih bisa mendorong pertumbuhan bank, yakni benchmark interest rate yang lebih rendah, kenaikan laba bersih perusahaan, dan ekspektasi adanya kenaikan dana murah dalam simpanan (current account saving account/CASA).

“Sembari menunggu kinerja Kuartal I 2015, dan data ekonomi makro, kami menurunkan rekomendasi sektor perbankan dari overweight menjadi neutral,” ujarnya.

Akhmad memberi rekomendasi buy untuk BBRI, BBNI, dan BMRI dengan target harga masing-masing Rp 14.500, Rp 7.880, dan Rp 12.800 per saham. Sementara BBCA direkomendasikan hold dengan target harga Rp 14.450 per saham.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/ekonomi-tumbuh-lambat-rating-saham-bank-turun
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA—Produk domestik bruto Indonesia sepanjang 2014 tumbuh paling rendah dalam 5 tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik Kamis pagi (5/2/2/2015) melaporkan PDB Indonesia pada kuartal IV/2014 naik 5,01% yang menjadikan pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 5,02%.

Pertumbuhan ekonomi tersebut adalah pertumbuhan terendah sejak ekonomi Indonesia tumbuh 4,63% pada 2009.

Data yang dikeluarkan hari ini tersebut menggunakan tahun dasar 2010 sebagai acuan.

Indonesia juga mencatatkan capaian kuartal IV terburuk dalam 10 tahun terakhir.

Pertumbuhan 5,01% adalah pertumbuhan terendah setelah pertumbuhan 4,63% pada kuartal IV/2003.

 

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

 

Tahun

%
2014

5,02
2013

5,78
2012

6,26
2011

6,49
2010

6,22
sumber: BPS

http://finansial.bisnis.com/read/20150205/9/399151/ekonomi-indonesia-pertumbuhan-2014-terendah-dalam-5-tahun-terakhir
Sumber : BISNIS.COM

JAKARTA-Ekonom senior Union Bank of Switzerland (UBS) Edward Teather memperkirakan pertumbuhan investasi pada 2015 belum akan cemerlang sesuai ekspektasi pemerintah, karena sektor riil masih dibayangi kelesuan ekonomi global dan pelambatan pembiayaan dari perbankan.

Edward pada telekonferensi jarak jauh dengan pers di Jakarta, Kamis, mengatakan lesunya permintaan ekspor sepanjang setahun terakhir kemungkinan akan berlanjut di 2015.

Hal tersebut, menurut dia, akan menahan industri untuk ekspansi, termasuk mengerem impor barang modal. Dengan adanya hal itu minat investasi dapat turun. Edward melihat beberapa sektor industri akan terkena dampak dari penurunan minat investasi itu termasuk sektor pertambangan.

“Kami melihat pertumbuhan investasi masih di bawah tekanan,” kata dia.

Edward mengatakan strategi pemerintah Indonesia yang mengandalkan investasi untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 5,8 persen sebaiknya difokuskan pada beberapa sektor prioritas.

Dia menyarankan investasi diarahkan ke sektor manufaktur, agar dapat mengembangkan industri substitusi impor.

“Memang melambat, namun tetap beberapa sektor perlu diarahkan untuk menyerap investasi,” ujar dia.

Selain lesunya ekonomi global, pelambatan pertumbuhan kredit perbankan untuk pembiayaan juga akan menurunkan minat investasi, kata Edward. Kebijakan moneter ketat oleh Bank Indonesia, kata dia, telah berdampak pada pembiayaan sektor riil selama ini.

Hal itu karena pelaku sektor riil terbebani dengan bunga kredit yang tinggi, dan dikhawatirkan menurunkan minat investasi.

Lemahnya kinerja ekspor dan pengetatan moneter telah berlangsung sepanjang 2014. Maka dari itu, Edward memperkirakan pertumbuhan investasi akan melambat dan tidak sesuai dengan target Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di 15 persen pada 2014 “Namun ada sinyal positif dengan perbaikan iklim usaha saat ini, dan jika pemerintah benar-benar mendorong industri manufaktur, itu akan mampu memperbaiki investasi,” kata dia.

BKPM sebelumnya menargetkan pertumbuhan investasi dapat mencapai 18 persen pada 2015.

Mengenai penopang pertumbuhan ekonomi lainnya, yakni konsumsi domestik Edward memperkirakan semester I 2015, daya konsumsi masih akan menunjukkan tren pelambatan, karena kenaikan harga BBM bersubsidi.(ant/hrb)

 

http://id.beritasatu.com/business/pertumbuhan-investasi-belum-cemerlang-di-tahun-mendatang/102519
Sumber : INVESTOR DAILY

sindo JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2014. Kepala BPS Suryamin menyebutkan, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2014 hanya tumbuh sebesar 5,12%. Ini lebih rendah dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I/2014 yang sebesar 5,21% year on year (yoy).

“Pertumbuhan ekonomi kuartal II/2014 sebesar 5,12% yoy. Secara quarter to quarter tumbuh 2,47%, sementara semester I/2014 dibandingkan semester I/2013 tumbuh 5,17%,” papar Suryamin dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/8/2014).

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II ini didorong oleh kinerja ekspor. Terdapat beberapa negara tujuan ekspor Indonesia yang mengalami perbaikan ekonomi, sehingga menyebabkan ekspor Indonesia pun meningkat.

“Ada negara-negara tujuan ekspor kita yang ekonominya membaik. Jepang, Uni Eropa, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Namun, ekspor ke negara-negara tetangga di kawasan ASEAN masih belum terlalu berkembang. Ini tantangan untuk pemerintah sebagai bahan evaluasi,” tutur dia.

Suryamin mengatakan, sektor pendukung pertumbuhan ekonomi ini sebesar 5,12% berasal dari perdagangan, hotel dan restoran, sebesar 4,17% dari sektor kontruksi dan 2,70% disumbang dari industri pengolahan.

“Tertinggi dari tiga sektor ekonomi yaitu perdagangan, hotel dan restoran tumbuh 4,17%, lalu konstruksi 4,16% dan industri pengolahan 2,70%,” katanya.

Suryamin menambahkan, secara tahunan pendukung pertumbuhan ekonomi tertinggi disumbang oleh pengangkutan dan komunikasi sebesar 9,53%.

“Pertumbuhan yoy tertinggi disumbang oleh pengangkutan, komunikasi sebesar 9,53% lalu konstruksi 6,59% dan keuangan real estate, jasa lainnya 6,18%,” tukas dia.

(gpr)

sindo JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II/2014. Menurut harga berlaku, pada kuartal II/2014 total PDB Indonesia mencapai Rp2.480,8 triliun.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan, separuh PDB atas dasar harga berlaku berasal dari Tiga sektor terbesar yaitu sektor industri pengolahan, sektor pertanian, sektor peternakan, kehutanan dan perikanan, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran.

“Masing-masing sektor ini memberikan kontribusi sebesar 23,75%, 14,84% dan 14,61% terhadap PDB,” ucap dia di Jakarta, Selasa (5/8/2014).

Lebih lanjut dia menerangkan, pada kuartal II/2014, memiliki peningkatan sebesar 2,47% dibanding dengan kuartal I/2014 (quarter to quarter). Pertumbuhan ini ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 1,50%.

“Sementara pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 25,39%, pembentukan modal tetap bruto 4,61%, ekspor barang dan jasa 2,14%, dan impor barang dan jasa 5,32%,” papar Suryamin.

Dengan demikian, lanjut dia, dibandingkan dengan kuartal II/2013, ekonomi Indonesia tumbuh 5,12% didukung komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,59%, komponen pembentukan modal tetap bruto yang tumbuh 4,53%.

“Sedangkan komponen pengeluaran PDB yang lain mengalami kontraksi pertumbuhan. Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh minus 0,71%, dan komponen ekspor barang dan jasa minus 1,04%,” tandasnya.

(gpr)

 

Jakarta -Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengandalkan permintaan domestik, yaitu konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Ini karena ekspor belum pulih akibat perlambatan ekonomi global.

Pada Senin (5/5/2014), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada kuartal I-2014, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dibandingkan dengan kuartal IV-2013, terdapat pertumbuhan 0,95%.

Pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh faktor domestik. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2014 tumbuh 5,61%. Sementara konsumsi pemerintah tumbuh 3,58%.

Kemudian Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) alias investasi tumbuh 5,13%. Ekspor masih terkontraksi dengan pertumbuhan -0,78%, dan impor pun mengalami kontraksi yaitu tumbuh -0,66%.

“Konsumsi rumah tangga tumbuh pada kuartal I-2014. Ini karena dampak Pileg,” kata Suryamin, Kepala BPS, saat jumpa pers di kantornya, Jl Pasar Baru, Jakarta, Senin (5/5/2014).

Sementara dibandingkan dengan kuartal IV-2014, konsumsi rumah tangga tumbuh 0,7%. Konsumsi pemerintah -44,17%, PMTB -5,62%, ekspor -11,44%, dan impor -12,93%.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga, lanjut Suryamin, juga didukung oleh momentum Pileg. Sementara konsumsi pemerintah yang tumbuh negatif disebabkan pola belanja yang memang lemah pada awal tahun dan baru melaju menjelang akhir tahun.

“Untuk PMTB, penurunannya sebenarnya mengecil. Tahun lalu -6,3% dan sekarang -5,62%,” ujar Suryamin.

(hds/dnl)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: