1nflaaa(0.2%)AA$1 … 030817

dollar small

JAKARTA, KOMPAS.com – Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2017 tercatat sebesar 0,2 persen secara bulanan (mtm).

Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi pascaLebaran dalam tiga tahun terakhir, yakni 0,2 persen (mtm).

“Inflasi Juli 2017 terkendali, sehingga mendukung pencapaian sasaran inflasi 2017 sebesar 4 plus minus 1 persen,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman dalam pernyataan resmi, Selasa (1/8/2017).

Berdasarkan komponen, inflasi yang terkendali terutama dipengaruhi inflasi kelompok administered prices (harga yang diatur pemerintah) dan kelompok volatile food (harga pangan bergejolak).

Sehingga dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK sampai dengan bulan Juli 2017 tercatat 2,60 persen secara tahun kalender (ytd) atau secara tahunan mencapai 3,88 persen (yoy).

Inflasi administered prices tercatat sebesar 0,07 persem (mtm). Angka ini menurun dibandingkan bulan lalu sebesar 2,10 persen (mtm).

“Meredanya inflasi administered prices di bulan ini lebih disebabkan telah selesainya penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan daya 900 VA nonsubsidi,” ujar Agusman.

Tarif angkutan antar kota dan kereta api tercatat mengalami deflasi. Sementara itu, tarif angkutan udara masih menyumbang inflasi seiring dengan masih berlanjutnya liburan sekolah.

Secara tahunan, inflasi administered prices mencapai sebesar 9,27 persen (yoy). Adapun inflasi volatile food tercatat sebesar 0,17 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan lalu sebesar 0,65 persen (mtm). Komoditas bawang putih, daging ayam ras, beras, dan cabai merah mengalami penurunan harga.

Sementara itu, komoditas telur ayam ras, tomat sayur, dan bawang merah mengalami kenaikan harga. Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat rendah, yaitu 1,13 persen (yoy). Inflasi inti tercatat sebesar 0,26 persen (mtm), sama dengan bulan lalu.

Inflasi inti pada periode ini lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi inti pada periode pascalebaran tiga tahun terakhir, yaitu 0,45 persen (mtm).

Kenaikan harga barang dalam kelompok ini terutama disumbang oleh uang sekolah SMA, nasi dengan lauk, kopi manis, mie, uang sekolah SD, air kemasan, mie, dan tarif bimbingan belajar.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat cukup rendah, yaitu 3,05 persen (yoy).

 

Merdeka.com – Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, membanggakan inflasi Ramadan 2017 yang rendah kepada Presiden Joko Widodo. Inflasi Ramadan 2017 menjadi yang terendah selama enam tahun terakhir.

“Bahkan secara khusus kami laporkan, inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) pada periode bulan puasa dan Lebaran Juni 2017, merupakan inflasi terendah untuk periode Lebaran selama 6 tahun terakhir,” kata Agus dalam sambutannya pada acara Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi di Hotel Grand Sahid Jaya,Jakarta, Kamis (27/7).

Capaian tersebut, lanjutnya, merupakan kinerja positif seluruh tim pengendali inflasi baik pusat maupun daerah. “Kami sangat mengapresiasi berbagai kebijakan yang ditempuh Tim Pengendali inflasi Daerah, yang saat ini jumlahnya telah mencapai 524, 34 provinsi dan 490 kabupaten kota,” ujarnya.

Agus menegaskan, peran TPID sangat penting, terutama dalam menjangkau atau menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi secara langsung kepada masyarakat. “Kinerja TPID yang positif tersebut tentu tidak terlepas dari arahan dan dukungan penuh bapak presiden,” pungkasnya.

[bim]

dollar small

JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2017 sebesar 0,69%. Angka ini di atas ekspektasi sebagian besar ekonom sebesar 0,55%-0,6%. Angka itu juga lebih tinggi dibanding inflasi Juni tahun lalu yang tercatat sebesar 0,66%.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahun kalender Januari-Juni 2017 mencapai 2,38% dan inflasi tahunan Juni 2017 mencapai 4,37% year on year (YoY).

BACA JUGA :
Inflasi Juni 2017 diyakini bakal lebih rendah
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, berdasarkan BPS di 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), 79 kota diantaranya mencatat inflasi. Sementara tiga kota sisanya mencatatkan deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 4,48% dan inflasi terendah di Merauke sebesar 0,12%. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Singaraja 0,64% dan deflasi terendah di Denpasar 0,01%.

Lebih lanjut ia mengatakan, inflasi puasa dan lebaran tahun ini lebih terkendali dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Catatan BPS inflasi puasa dan lebaran tahun 2014 yang jatuh di Juni dan Juli masing-masing 0,43% dan 0,93% sehingga total inflasi mencapai 1,36%.

Inflasi puasa dan lebaran tahun 2015 yang jatuh di Juni dan Juli masing-masing 0,54% dan 0,93% sehingga total inflasi mencapai 1,47%. Inflasi puasa dan lebaran tahun 2016 yang jatuh di Juni dan Juli masing-masing 0,66% dan 0,69% sehingga total inflasi mencapai 1,35%.

Sementara inflasi puasa dan lebaran tahun 2017 yang jatuh di Mei dan Juni masing-masing 0,39% dan 0,69% sehingga total inflasi mencapai 1,18%.

“Secara umum inflasi puasa dan lebaran 2017 jauh lebih terkendali dibanding tahun sebelumnya. Sebab pemerintah melakukan berbeagai upaya, ada satgas pangan dan sebagainya,” kata Suhariyanto, Senin (3/7).

lol

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan laju inflasi pada Mei 2017 yang mencapai 0,39 persen dibandingkan April 2017 cukup tinggi. Namun, menurut dia, angka tersebut masih aman untuk mencapai target inflasi dalam APBN 2017 sebesar 4 plus minus 1 persen.

 

“Sedikit tinggi itu walaupun tidak tinggi sekali. Artinya, untuk mencapai target di bawah 5 persen masih oke. Memang volatile food-nya,” kata Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat, 2 Juni 2017.

Baca: Mei 2017, Bahan Makanan Penyumbang Inflasi Tertinggi

Darmin berharap, walaupun laju inflasi bulan ini cukup tinggi, laju inflasi secara keseluruhan hingga akhir tahun mendekati 4 persen, tidak ke arah 5 persen. “Kalau di bawah 0,4 persen masih oke. Kesimpulannya, masih dalam range yang cukup baik tapi sudah mulai mentok.”

Baca: BPS: DKI Inflasi 0,49 Persen Menjelang Ramadan

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pada Mei 2017 terjadi inflasi sebesar 0,39 persen. Sementara itu, laju inflasi tahun kalender, yakni sepanjang Januari-Mei 2017, mencapai 1,67 persen dan laju inflasi dibandingkan Mei 2016 mencapai 4,33 persen.

Menurut data BPS, inflasi bulan ini salah satunya dipicu oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan, yakni sebesar 0,86 persen. Komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Mei 2017 antara lain bawang putih, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

ANGELINA ANJAR SAWITRI

ets-small

Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi April 2017 tercatat 0,09 persen. Adapun inflasi tahun kalender sebesar 1,28 persen dan tahun ke tahun mencapai 4,17 persen.

Bila dibandingkan pada bulan yang sama pada tahun sebelumnya, Indonesia malah mencatat deflasi pada April 2016. Deflasi tercatat 0,45 persen pada April 2016. Kondisi ini memang berbalik dibandingkan Maret 2017 yang terjadi deflasi 0,02 persen.

“Kalau dibandingkan April 2017 lebih tinggi dibandingkan April 2016. Akan tetapi, lebih rendah dibanding April 2015 yang 0,36 persen,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, di kantornya, Jakarta, Selasa (2/5/2017).

BACA JUGA
BPS: Tarif Taksi Online Lebih Mahal Berdampak Kecil ke Inflasi
Pemerintah Waspadai Dampak Kenaikan Tarif Listrik ke Inflasi
BPS: Penurunan Tarif Listrik Tak Pengaruhi Inflasi di Awal 2017
Suhariyanto menuturkan, dari 82 kota yang disurvei BPS, 53 kota alami inflasi sedangkan 29 kota alami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 1,02 persen dan terendah di Cilacap sebesar 0,01 persen.

“Deflasi tertinggi di Singaraja 1,08 persen dan terendah di DKI Jakarta dan Manado masing-masing 0,02 persen,” kata dia.

Untuk kelompok pengeluaran penyumbang deflasi antara lain bahan makanan alami deflasi 1,13 persen dengan andil minus 0,24 persen. Ia menuturkan, komoditas penurunan harga cabai merah dan rawit masing-masing turun 0,09 persen. Selain itu, bawang merah deflasi minus 0,08 persen, beras turun 0,02 persen.

“Ke depan perlu dapat perhatian untuk sumbangan inflasi kenaikan bawang putih andilnya terhadap inflasi 0,03 persen. Daging ayam ras, dan tomat 0,02 persen dan jeruk. Ini yang harus diwaspadai ke depan,” tutur dia.

Sedangkan makanan jadi, minuman rokok dan tembakau tercatat inflasi 0,12 persen. Andil inflasinya 0,02 persen. Komoditas yang menyumbang inflasi yaitu kenaikan harga rokok kretek 0,01 persen. “Yang memberikan andil deflasi penurunan harga gula pasir andilnya 0,02 persen,” kata dia.

Sedangkan perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar tercatat inflasi 0,93 persen dengan andil 0,22 persen. Sumbangan inflasi dari perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar itu dinetralisir dengan penurunan bahan makanan.

“Karena tarif listrik 900 VA tadinya subsidi sekarang dicabut. Membayarnya pasca bayar. 900 VA pelanggannya 17,18 persen pasca bayar jadi dampak kenaikan tarif dasar listrik pada April lebih besar karena pelanggan lebih besar dan rata-rata pemakaian listrik lebih besar,” jelas dia.

Sektor tarif listrik memberikan andil 0,20 persen. Adapun sektor pendorong inflasi antara lain sandang inflasi 0,49 persen dengan andil 0,03 persen. Sektor kesehatan inflasi 0,08 persen dengan andil 0,01 persen. Sektor pendidikan, rekreasi dan olahraga inflasi 0,03 persen dengan andil 0,01 persen. Untuk transportasi, komunikasi dan jasa keuangan inflasi 0,27 persen dengan andil 0,04 persen.

Ia menuturkan, hal yang menyebabkan inflasi dari transportasi yaitu kenaikan tarif angkutan udara 0,02 persen. Sedangkan bensin dan tarif pulsa menyumbang inflasi 0,01 persen.

“Inflasi pada April 0,09 persen terkendali, bahan makanan deflasi,” ujar dia.

Sebelumnya Indonesia diprediksi akan mencetak inflasi di April 2017 sebesar 0,05 persen atau lebih tinggi dari realisasi deflasi 0,02 persen pada bulan sebelumnya. Penyebab utama perkiraan inflasi di bulan keempat ini akibat kenaikan tarif dasar listrik.

“Inflasi April 2017 diproyeksikan 0,05 persen (month to month/mom) dan inflasi tahunan 4,1 persen (year on year/yoy),” kata Ekonom dari SKHA Institute for Global Competitiveness, Eric Sugandi saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta.

Eric meramalkan inflasi April 0,05 persen didorong akibat kenaikan harga atau tarif barang yang diatur pemerintah (administered‎ prices), terutama penyesuaian tarif dasar listrik. Akan tetapi, laju inflasi masih tertahan karena penurunan harga bahan pangan.

“Pendorong inflasi dari kenaikan administered prices, terutama kenaikan tarif listrik. Tapi (inflasi) masih bisa diredam oleh turunnya harga pangan karena musim panen,” jelasnya.

‎Berbeda, Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede justru memprediksi terjadi deflasi di April 2017 sebesar 0,05 persen (mom). Sementara secara tahunan, diproyeksikan inflasi 4,03 persen (yoy). Inflasi inti diprediksi stabil sebesar 3,32 persen (yoy).

ets-small

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengomentari terjadinya deflasi sebesar 0,02 persen pada Maret 2017. Menurut dia, deflasi tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya harga bahan pangan. “Terutama pangan. Bukan makanan jadi, tapi cabai, beras, bawang. Kemudian ada juga transportasi,” kata Darmin saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin, 3 April 2017.

Turunnya harga pangan, menurut Darmin, disebabkan oleh dimulainya panen pada Maret-April ini. “Yang tadinya (bahan pangan) naik harganya, dia mulai turun lagi. Kalau ke depan ya kita lihat. Itu kan baru yang terjadi di Maret,” ujarnya.

Baca :Rupiah Dibuka Melemah

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Maret 2017 terjadi deflasi sebesar 0,02 persen. Sebelumnya, inflasi pada Februari mencapai 0,23 persen dan inflasi pada Januari mencapai 0,97 persen. Dengan demikian, tingkat inflasi selama Januari-Maret mencapai 1,19 persen.

Menurut data BPS, deflasi pada Maret terjadi karena adanya penurunan harga di beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan yang sebesar 0,66 persen dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang sebesar 0,13 persen.

Baca :BI: Kredit Perbankan Tumbuh 8,4 Persen pada Februari

Adapun kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,31 persen); kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,3 persen); kelompok sandang (0,18 persen); kelompok kesehatan (0,21 persen); serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,08 persen).

ANGELINA ANJAR SAWITRI

lol
kumparan.com: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi pada Februari 2017 sebesar 0,23 persen dari bulan sebelumnya (month to month/mtm). Adapun laju inflasi dari Februari 2016-Februari 2017 (year on year/yoy) sebesar 3,83 persen.
Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, dari 82 kota IHK di Indonesia tersebut, 62 kota mengalami inflasi dan 20 kota mengalami deflasi. Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,16 persen dan inflasi terendah terjadi di Ternate sebesar 0,03 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Jambi sebesar 1,4 persen dan deflasi terendah terjadi di Bungo sebesar 0,02 persen.
“Ini merupakaian capaian yang bagus. Perkembangan inflasi Februari 2017 ini lebih rendah dari Februari 2015 sebesar 0,35 persen, namun lebih tinggi dibandingkan inflasi Februari 2016 sebesar 0,09 persen,” ujar Suhariyanto di Gedung BPS Pusat, Jakarta, Rabu (1/4).
Menurutnya, sektor perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar memiliki andil yang paling besar terhadap inflasi, yaitu 0,75 persen.
Sementara bahan makanan, yang biasanya merupakan penyebab tingginya inflasi, kali ini sektor tersebut merupakan penghambat inflasi (deflasi) Februari 2017 sebesar 0,31 persen.
“Cabai merah harganya deflasi sebesar 7,5 persen, daging ayam 6,5 persen, telur ayam 4,3 persen, dan beras 0,15 persen,” pungkasnya.
lol

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga konsumen bulanan pada Januari 2017 tercatat inflasi sebesar 0,97%.

Berdasarkan data Bloomberg, ekonomi Indonesia yang tercermin dalam indeks harga konsumen bulanan pada Januari 2017 adalah terjadi inflasi sebesar 0,97%, setelah pada bulan sebelumnya terjadi inflasi 0,42%.

Sementara itu, indeks harga konsumen tahunan (yoy) tercatat inflasi 3,49%, setelah pada bulan sebelumnya tercatat 3,02%.

Inflasi Januari 2017 tersebut lebih tinggi dari prediksi BI dan sejumlah ekonom.

Berdasarkan survei yang dilakukan Bloomberg terhadap 12 ekonom, diprediksi inflasi Januari ada di level 0,71% (MoM). Adapun, estimasi tertinggi di angka 3,33% dan estimasi terendah 0,58%.

Sementara itu, sebanyak 23 ekonom memprediksi inflasi tahunan Januari 2017 (YoY) ada di level 3,20%. Adapun, estimasi tertinggi di angka 3,60% dan estimasi terendah 2,90%.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, Juda Agung, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia menuturkan hingga pekan keempat Januari 2017, survei yang dilakukan bank sentral menunjukkan laju inflasi sekitar 0,69%. Pada keseluruhan Januari 2017, dia memproyeksikan inflasi melaju hingga 0,7% (mom).

“Pemicunya karena penyesuaian tarif listrik dan yang lainnya karena harga pangan bergejolak,” ucapnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengestimasi laju inflasi pada pekan pertama Januari 2017 sebesar 0,74% (month-to-month) atau 3,26% (year-on-year).

Inflasi (%)
Januari +0,97
Desember +0,42
November +0,47
Oktober +0,14
September +0,22

 

Sumber: Bloomberg, 2017

lol

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Inflasi pada bulan Oktober 2016 tercatat sebesar 0,1 persen secara bulanan. Bank Indonesia (BI) menyatakan pencapaian inflasi ini sejalan dengan perkiraan bank sentral.

“Inflasi IHK bulan ini tetap terkendali, sesuai dengan pola historisnya,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam pernyataan resminya, Rabu (2/11/2016).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara kumulatif atau bulan Januari hingga Oktober mencapai 2,11 persen. Adapun inflasi tahunan mencapai 3,31 persen (yoy).

Inflasi Oktober terutama bersumber dari inflasi komponen administered prices (AP). Inflasi komponen AP tercatat 0,57 persen (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi 0,17 persen (yoy).

Inflasi AP secara bulanan tersebut terutama bersumber dari kenaikan tarif listrik, harga bahan bakar rumah tangga, tarif kereta api serta harga rokok kretek filter, rokok kretek, dan rokok putih.

Sementara itu, inflasi komponen inti tercatat rendah sebesar 0,10 persen (mtm) atau 3,08 persen (yoy), sejalan masih terbatasnya permintaan domestik, terkendalinya ekspektasi inflasi, dan menguatnya nilai tukar rupiah.

Selain itu, rendahnya inflasi inti juga disebabkan oleh deflasi emasperhiasan seiring penurunan harga emas global.

Di sisi lain, kelompok volatile food (VF) tercatat mengalami deflasi sebesar 0,26 persen (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 7,54 persen (yoy).

“Deflasi VF tersebut terutama bersumber dari koreksi harga komoditas bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, kentang, ikan segar, dan cabai rawit,” jelas Tirta.

Ke depan, inflasi diperkirakan tetap terkendali dan berada di sekitar batas bawah sasaran inflasi 2016, yaitu 4 plus minus 1 persen (yoy). Koordinasi kebijakan Pemerintah dan BI dalam mengendalikan inflasi akan terus dilakukan, dengan fokus pada upaya menjamin pasokan dan distribusi, khususnya berbagai bahan kebutuhan pokok, dan menjaga ekspektasi inflasi.

lol

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-– Inflasi selama dua tahun pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) tetap rendah dan terkendali.

Berdasarkan BPS yang diolah Kantor Staf Presiden (KSP), inflasi di September 2016 sebesar 3,07% lebih rendah dibandingkan September 2015 (YoY/Year on Year) yang sebesar 6,83%.

Sedangkan inflasi dari Januari-September 2016 (Y toD/Year to Date) sebesar 1,97%. Lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi Januari-September 2015 yang sebesar 2,24%.

Selama dua tahun kepemimpinan Jokowi-JK juga terjadi pertumbuhan investasi di tanah air.

Berdasarkan data BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) yang diolah Kantor Staf Presiden (KSP), selama semester I tahun 2016, capaian investasi tumbuh sebesar 14,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Data BKPM yang diolah KSP tercatat realisasi investasi semester I-2016 mencapai Rp 298,1 triliun.

Untuk itu pula diperkirakan realisasi investasi 2016 akan lebih tinggi dibandingkan 2015 yang sebesar Rp 545,4 triliun.

Sedangkan dari sisi sumber investasi, penanaman modal asing (PMA) semester I-2016 mencapai Rp 102,6 triliun (34,4%).

Sementara, penanaman modal dalam negeri di periode yang sama mencapai Rp 195,5 triliun (65,5%).

Dengan hasil ini diperkirakan realisasi PMA dan PMDN di 2016 akan lebih tinggi dibandingkan realisasi investasi di 2015. Tahun lalu, PMA sebesar Rp 179,5 triliun (32,5%) dan PMDN Rp 365,9 triliun (67,1%).

Dari sisi tenaga kerja, investasi di semester I-2016 mampu menyerap 354.739 orang.

Diperkirakan realisasi penyerapan tenaga kerja di 2016 akan lebih tinggi dibandingkan dibandingkan 2015 yang mencapai 375.982 orang.

Berdasarkan target lokasi, investasi terbesar terjadi di luar Pulau Jawa sebear 54,7%. Sedangkan di Pulau Jawa hanya 45,3%.

Namun realisasinya di Pulau Jawa sebesar 54,5%, dan luar Jawa mencapai 45,5%.

ets-small

Jakarta kontan. Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai tingkat laju inflasi September, masih sesuai harapan. Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis laju inflasi September 2016 tercatat sebesar 0,22%.

Menurut Darmin, pola laju inflais masih sama dengan beberapa bulan terakhir, yaitu masih di level yang rendah. Dengan kondisi itu, maka ruang untuk pelonggaran moneter masih terbuka.

Oleh karenanya, Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter masih berpeluang untuk kembali memangkas suku bunga acuannya. Sebelumnya, pada September lalu BI menurunkan suku bunga acuan 7 day reverse repo ratesebesar 0,25% menjadi 5%.

Namun tidak hanya pelonggaran moneter saja. “Mestinya suku bunga bank komersial juga segera turun,” kata Darmin, Senin (3/9) di Jakarta.

Selain karena inflasi yang rendah, saat ini likuiditas di pasar keuangan cukup baik. Hal itu terutama karena adanya aliran dana dari kebijakan tax amnesty.

lol

Liputan6.com, Jakarta Realisasi deflasi 0,02 persen di Agustus 2016 atau terendah sejak 15 tahun tidak terlepas dari upaya pemerintah mengendalikan harga beberapa komoditas pangan strategis. Pemerintah akan melakukan langkah untuk menjinakkan inflasi supaya berada di level 4 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, upaya pengendalihan harga pangan sudah dimaksimalkan sejak dua bulan sebelum Lebaran tahun ini dengan tujuan menekan inflasi. Langkah tersebut terus dilakukan hingga saat ini dan ke depan.

“Jadi (deflasi) itu bagus. Tapi dalam minggu ke depan, harga daging akan kita coba tekan lagi karena tidak mau turun juga. Besok katanya di Bulog ada acara makan daging kerbau,” tutur Darmin saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (1/9/2016).

Namun Darmin menolak mengatakan jika deflasi terjadi karena permintaan maupun daya beli masyarakat turun. “Jangan dibilang itu (deflasi) berarti permintaan turun. Tidak begitu, makanya kita coba urus supply side,” jelasnya.

Pemerintah, sambungnya, akan berupaya menurunkan harga komoditas pangan strategis. Seperti contohnya harga beras sudah relatif stabil, kemudian bawang merah cenderung mulai mengalami penurunan harga, dan harga daging terus dikendalikan.

“Jadi satu per satu kita kendalikan harganya. Pemerintah bertekad betul supaya inflasi jangan tinggi. Setinggi-tingginya 4 persen, kalau bisa di bawah itu,” kata Darmin.

Terkait inflasi tahun ke tahun yang mencapai 2,79 persen, dijelaskan Darmin karena ada tekanan dari kenaikan harga bahan pangan menjelang Januari 2016 sehingga berpengaruh terhadap inflasi tahunan.

“Tapi saya sudah komunikasi dengan Menteri Perdagangan untuk sama-sama mengendalikan harga, menyiapkan langkah supaya tidak ada tekanan harga lagi,” pungkas Darmin.

rose KECIL

JAKARTA. Indeks harga konsumen bulanan pada Juli 2016 tercatat inflasi sebesar 0,69%

Berdasarkan data Bloomberg, ekonomi Indonesia yang tercermin dalam indeks harga konsumen bulanan pada Juli 2016 adalah terjadi inflasi sebesar 0,69%, setelah pada bulan sebelumnya terjadi inflasi 0,66%. Adapun secara tahunan laju inflasi tercatat 3,21% dari sebelumnya 3,45%.

Angka tersebut di bawah prediksi sejumlah ekonom yang disurvei Bisnis, yang memperkirakan inflasi pada Juli diprediksi sekitar 0,8% secara bulanan dan 3,31% secara tahunan. Pengaruh Lebaran yang diikuti oleh kenaikan harga pangan dan tarif transportasi dinilai menjadi pendorong utama inflasi pada bulan ketujuh tahun ini.

Berdasarkan catatan Bisnis, survei Bank Indonesia hingga pekan keempat Juli 2016 inflasi mencapai 0,74%, sebelumnya, pada pekan ketiga Juli 2016, hasil survei menunjukkan level hingga 1%.

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo beberapa waktu lalu mengatakan beberapa komoditas pangan masih memiliki andil dalam inflasi seperti bawang merah dan cabai merah. Sementara itu, komoditas pangan lain seperti telur ayam yang sudah terkoreksi turun.

Sementara itu, berdasarkan konsensus Bloomberg, sebanyak 10 ekonom Indonesia menyatakan estimasi perubahan inflasi bulanan pada Juli di kisaran +0,55% hingga +0,98% dengan nilai estimasi tengah (median estimate) 0,83%.

 

Pergerakan Inflasi mom

 

Inflasi

(%)
Juli

+0,69
Juni

+0,66
Mei

+0,24
April

-0,45
Maret

+0,19
Februari

-0,09
Januari

+0,51
Sumber: Bloomberg, 2016

http://finansial.bisnis.com/read/20160801/9/570760/inflasi-juli-indonesia-catat-inflasi-bulanan-069
Sumber : BISNIS.COM

ets-small

JAKARTA kontan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi Juni 2016 sebesar 0,66%. Inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2016 yang sebesar 0,24% dan dibandingkan inflasi Juni 2015 yang sebesar 0,54%.

Dengan demikian, inflasi tahun kalender 2016 sebesar 1,06%. Sementara ituinflasi tahun ke tahun Juni 2016 mencapai 3,45%.

“Inflasi ini termasuk moderat dan terkontrol sejak 2010 selama Ramadan. Dibandingkan dengan tahun-tahun lalu, ini tidak terlalu tinggi padahal ini fullbulan puasa,” kata Kepala BPS, Jumat (1/07).

Pada Juni 2016, inflasi komponen inti bulanan 0,33% dengan inflasi tahunan 3,49%. Kemudian, inflasi komponen harga yang diatur pemerintah bulan Juni sebesar 0,72% dengan deflasi 0,5% year on year (YoY).

Sementara itu, inflasi komponen harga yang bergejolak bulan Juni sebesar 1,71% dengan inflasi tahunan cukup tinggi sebesar 8,12%.

Lebih lanjut menurut Suryamin, dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diamati, semua kota mengalami inflasi. Inflasi yang tertinggi di Pangkal Pinang, Provisi Bangka Belitung sebesar 2,14%. Sementara inflasi terendah terjadi di Padang sebesar 0,1%.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok bahan makanan punya andil besar dalam inflasi, yakni 1,62%. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,58%, dan sandang 0,7%

Kemudian, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,63%, kesehatan 0,34%, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,15%, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,03%.

lol

Bisnis.com, JAKARTA–Indeks Harga Konsumen mengalami inflasi 0,24% (month to month) dan 3,33% (year on year/yoy) pada Mei 2016

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan inflasi sepanjang Mei 2016 mencapai 0,24% (month to month/mtm) dan 3,33% (year on year/yoy). Angka ini sedikit lebih tinggi dari hasil survei inflasi yang digelar Bisnis yang hanya sekitar 0,22%. Adapun tingkat inflasi tahun ke tahun sama dengan hasil survei Bisnis.

Angka inflasi kali ini jauh lebih rendah dari tingkat inflasi pada Mei tahun lalu yang mencapai 0,5%. Namun angka inflasi ini hampir sama dengan sebelum 2015 dengan rincian 2014 (0,16%), 2013 (0,03%), 2012 (0,07%), 2011 (0,12%), dan 2010 (0,29%).

“Hal ini menunjukkan permintaan tidak terganggu,” katanya di BPS, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Dari total 82 IHK, terdapat 67 kota mengalami inflasi dan 15 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pontianak sebesar 1,67% dan terendah di Singaraja dan Palangkaraya yakni 0,02%. Adapun di Sorong mengalami deflasi 0,92%.

Dari sisi penyumbang inflasi, bahan makanan menyumbang 0,3%, makanan jadi 0,58%, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik 0,02%, sandang naik 0,44%, kesehatan naik 0,27%, pendidikan naik 0,03%, dan transportasi naik 0,21%.

Menurut kelompok komponen, inflasi inti mencapai 0,23%, harga-harga yang diatur pemerintah 0,27%, harga bergejolak 0,32%, serta komponen energi mengalami deflasi 0,31%.

lol

Bisnis.com, JAKARTA – Angka inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) Mei 2016 yang mencapai 3,33% menjadi yang terendah sejak Desember 2009.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan inflasi yoy Mei 2016 hanya lebih tinggi dari inflasi Desember 2016 yang mencapai 2,78%. Capaian ini akan menentukan angka inflasi pada akhir tahun ini. Selain itu, angka inflasi inti pada Mei 2016 yang mencapai 3,41% juga menjadi yang terendah sejak 2009.

Dia menjelaskan inflasi yoy yang rendah dipengaruhi perkembangan ekonomi secara umum seperti ekspektasi inflasi dan nilai tukar rupiah serta keseimbangan penawaran dan permintaan permanen. “Angka yang menjadi peringatan itu 5%,” katanya di BPS, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Selain inflasi inti, kelompok komponen yang bergejolak mengalami inflasi tahun ke tahun sebesar 8,15%. Adapun harga-harga yang diatur pemerintah (administered price) mengalami deflasi 0,95%. Dia menyebutkan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi pendorong deflasi tersebut. Komponen energi (yoy) juga mengalami deflasi 6,94%.

Seperti diketahui, BPS mengumumkan angka inflasi sepanjang Mei 2016 mencapai 0,24% (month to month/mtm). Angka ini sedikit lebih tinggi dari hasil survei inflasi yang digelar Bisnis yang hanya sekitar 0,22%.

Angka inflasi kali ini jauh lebih rendah dari tingkat inflasi pada Mei tahun lalu yang mencapai 0,5%. Namun angka inflasi ini hampir sama dengan sebelum 2015 dengan rincian 2014 (0,16%), 2013 (0,03%), 2012 (0,07%), 2011 (0,12%), dan 2010 (0,29%)

gifi

JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,45%. Ini merupakan deflasi terbesar dalam 17 tahun terakhir.

Dengan demikian, inflasi tahun kalender 2016 sebesar 0,16%. Sementara itu inflasi tahun ke tahun mencapai 3,6%.

Adapun inflasi komponen inti April 2016 sebesar 0,15%. Dengan demikian inflasi komponen inti tahun ke tahun mencapai sebesar 3,41%.

Pada April 2016, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,33%. Sementara itu, komponen harga yang bergejolak pada April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,22%.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, deflasi April 2016 ini merupakan deflasi terendah sejak April 2000 silam. Suryamin mengatakan, deflasi April tahun ini hanya kalah dengan April 1999 yang mengalami deflasi besar sebesar 0,68%.

“April ini terjadi deflasi menujukkan perkembangan harga komoditi bahan pokok ini terkendali,” kata Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Senin (2/5).

Dari 82 kota IHK yang diamati, sebanyak kota 77 mengalami deflasi. Sedangkan lima kota sisanya mengalami inflasi.

Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,79% dan deflasi terendah terjadi di Singaraja sebesar 0,06%. Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi di Tarakan 0,45%.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,94%. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami inflasi 0,35%, dan kelompok perumahan, air listrik, gas dan bahan bakar mengalami deflasi 0,13%.

Kelompok sandang mengalami inflasi 0,22%, kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,31%, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga mengalami inflasi 0,03%, dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi tinggi sebesar 1,6%.

dollar small

Bisnis.com, JAKARTA–Inflasi Maret sebesar 0,19% (bulan ke bulan) mencatatkan angka tertinggi pada periode yang sama selama dua tahun terakhir atau sejak 2014.

Bisnis mencatat inflasi pada Maret 2014 0,08% dan Maret 2015 sebesar 0,17%. Inflasi kali ini juga tertinggi sejak dua bulan terakhir. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2016 mengalami deflasi 0,51% dan Februari 2016 deflasi 0,09%.

Realisasi inflasi 0,19% (bulan ke bulan) dan 4,45% sedikit di bawah survei Bisnis terhadap 10 lembaga ekonomi. Hasil survei Bisnis memprediksi inflasi Maret 2016 sebesar 0,25% (bulan ke bulan) dan 4,49% (tahun ke tahun).

Kepala BPS Suryamin mengatakan penyebab inflasi sebagian besar pada kelompok pangan nonberas. Bawang merah mengalami kenaikan 31,99% dengan andil inflasi 0,16%

“Karena hujan,” katanya di BPS Pusat, Jakarta, Jumat (1/3/2016).

Cabai merah mengalami kenaikan 20,37%, menyumbangkan inflasi 0,13%. Cabai rawit yang naik 31,52% menyuntikkan inflasi 0,05%. Selain itu, emas perhiasan dan bawang putih memberikan andil pada inflasi sebesar masing-masing 0,03% dan 0,02% dengan kenaikan harga masing-masing 2,46% dan 8,46%.

Di sisi lain, Suryamin menyebutkan daging dan telur ayam ras menghambat deflasi. Daging ayam turun 9,18% dengan andil 0,12. Sementara telur ayam turun 9,08% dengan andil 0,07.

Selain itu, tarif dasar listrik (TDL) mengalami deflasi 1,16% dengan andil 0,04% dan beras turun 0,56% dengan andil 0,03%.

“Karena pasokan banyak, mulai panen,” ungkapnya.

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum non-migas naik sebesar 2,02 persen pada Maret 2016. Berdasarkan data BPS, IHPB umum non-migas mengalami kenaikan sebesar 2,02 persen secara month to month menjadi 150,50.

Kenaikan tertinggi terjadi pada sektor pertanian, yaitu sebesar 11,16 persen. Sedangkan sektor industri dan sektor pertambangan naik masing-masing sebesar 0,68 persen dan 0,33 persen.

Menariknya apabila kita lihat kelompok barang ekspor non-migas dan kelompok barang impor non migas, ini mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,29 persen dan 2,99 persen.

Menurut Kepala BPS Suryamin IHPB bahan bangunan atau kontraksi juga mengalami penurunan sebesar 0,02 persen secara month to month.

“Penurunan ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas aspal sebesar 0,97 persen, genteng dan atap lainnya sebesar 0,51 persen, batu hias dan batu bangunan 0,33 persen, semen 0,27 persen dan kerikil hingga sirtu alam sebesar 0,20 persen,” kata Suryamin di kantor pusat BPS, Jakarta, Jumat (1/4/2016).

Pada sektor domestik, IHPB sektor pertanian tercatat mengalami kenaikan tertinggi, yaitu sebesar 11,16 persen dari 316,03 pada bulan lalu menjadi 351,3. Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian naik sebesar 0,33 persen menjadi 118,89. Untuk sektor industri, juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,68 persen menjadi 131,74.

Namun, pada perdagangan internasional IHPB tercatat mengalami penurunan. Sektor impor non-migas tercatat mengalami penurunan sebesar 0,29 persen menjadi 132,83. Sedangkan ekspor non-migas terjadi penurunan sebesar 0,91 persen menjadi 137,12.

http://economy.okezone.com/read/2016/04/01/20/1351239/indeks-harga-perdagangan-besar-naik-2-02
Sumber : OKEZONE.COM

Bisnis.com, JAKARTA- Inflasi sepanjang Maret 2016 mencapai 0,19%. Kelompok bahan makanan menyumbang inflasi terbesar.

Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin mengatakan inflasi Maret mencapai 0,19% dibandingkan bulan sebelumnya. Indonesia mengalami deflasi 0,09% pada Febuari.

“Inflasi tahun ke tahun sebesar 4,45%,” katanya di BPS Pusat, Jakarta, Jumat (1/4/2016).

Kelompok bahan makanan dan sandang mengalami inflasi terbesar masing-masing sebesar 0,69% dan 0,55%. Dilanjutkan dengan inflasi makanan jadi sebesar 0,36%.

“Harga rokok juga naik,” ungkapnya.

Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran juga mengalami deflasi, misalnya perumahan dan air (0,07%) serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,22%).

Inflasi komponen inti sebesar 0,21% (bulan ke bulan) dan 3,5% (tahun ke tahun). Menurut Suryamin, angka ini terbilang aman karena masih di bawah 5%.

Harga-harga yang dikendalikan pemerintah (administered prices) mengalami deflasi 0,35% (bulan ke bulan) dan 1,64% (tahun ke tahun). Volatile food inflation sebesar 0,75% (bulan ke bulan) dan 2,47% (tahun ke tahun). Selain itu, komponen energi juga mengalami deflasi 0,73% (bulan ke bulan) dan 3,72% (tahun ke tahun).

bird_bbri_unvr

JAKARTA, KOMPAS.com – Konsumen memperkirakan akan terjadi tekanan kenaikan harga pada Mei 2016. Hal ini terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang naik 6,3 poin menjadi 164,4.

Hal itu tertuang dalam Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) yang dipublikasikan kamis (3/3/2016).

“Meningkatnya tekanan kenaikan harga diperkirakan terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau seiring dengan perkiraan peningkatan permintaan yang terjadi menjelang bulan puasa pada Juni 2016,” tulis BI.Untuk kondisi 6 bulan kemudian, yakni bulan Agustus 2016, konsumen memperkirakan kenaikan jumlah tabungan tidak lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Sementara itu, kenaikan jumlah pinjaman 6 bulan yang akan datang diperkirakan lebih tinggi dari bulan sebelumnya.

Adapun untuk bulan Februari 2016 lalu, Survei Konsumen BI mengindikasikan konsumen masih memandang optimis kondisi perekonomian Indonesia. Meski Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2016 menurun dibandingkan bulan sebelumnya, atau menjadi sebesar 110 dibandingkan 112,6, angka ini masih berada dalam level optimis.

“Terjadinya sedikit penurunan pada IKK Februari 2016 tersebut disebabkan penurunan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKE), khususnya persepsi konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu,” terang BI.

Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

rose KECIL

TEMPO.COJakarta – Badan Pusat Statistik mencatat inflasi komponen inti Februari 2016 sebesar 0,31 persen. Inflasi komponen inti dari tahun ke tahun tercatat 3,59 persen.

Kepala BPS Suryamin mengatakan komponen inti dipengaruhi ekonomi secara global, antara lain suku bunga acuan dan nilai tukar rupiah. “Inflasi komponen inti cukup terkendali, ada pengendalian yang baik,” kata dia dalam konferensi di kantornya, Selasa, 1 Maret 2016.

Suryamin menyebutkan inflasi komponen inti patut diwaspadai jika di atas 5 persen. Angka inflasi komponen inti ini turun dibanding pada Januari, yang sebesar 3,62 persen.

Suku bunga acuan Bank Indonesia sejak Januari telah diturunkan dua kali dari 7,75 persen ke 7 persen. Ekonom dari Kenta Institute, Eric Sugandi, mengatakan nilai tukar rupiah memang tengah menguat. Musababnya, fundamental ekonomi Indonesia membaik dengan defisit dan inflasi yang terkendali.

Selain itu, faktor eksternal mendukung dengan belum dinaikkannya suku bunga The Fed. Negatifnya suku bunga Jepang juga turut memperkuat rupiah.

BPS mencatat terjadi deflasi 0,09 persen pada Februari 2016. Inflasi dari tahun ke tahun tercatat 4,42 persen. Suryamin mengatakan, sejak 2010, deflasi baru terjadi dua kali. Deflasi terjadi pada Februari 2015 sebesar 0,36 persen dan tahun ini. Sepanjang 2010-2014, pada Februari terjadi inflasi.

Baca: Harga Pertamax dan Pertalite Turun Per 1 Maret, Ini Daftarnya

TRI ARTINING PUTRI

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada bulan Januari 2016 sebesar 0,51 persen. Angka ini lebih kecil dari proyeksi Bank Indonesia yang mencapai 0,7 persen, ataupun konsesus pasar sebesar 0,66 persen.

Sementara itu, inflasi tahun ke tahun sebesar 4,14 persen. Inflasi komponen inti sebesar 0,29 persen, dan inflasi komponen inti tahun ke tahun sebesar 3,62 persen.

Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,82 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Padang sebesar 0,02 persen. Sementara terjadi deflasi tertinggi di Gorontalo sebesar minus 0,58 persen.

Kepala BPS Suryamin menerangkan, inflasi Januari 2016 cukup rendah dibandingkan sejak 2010, kecuali dibandingkan Januari 2015 yang mencetak deflasi sebesar minus 0,24 persen.

“Januari tahun 2015 deflasi karena ada penurunan harga BBM,” ucap dia dalam paparan Senin (1/2/2016).

Pada Januari 2010, inflasi sebesar 0,84 persen, angka ini naik tipis pada Januari 2011 menjadi sebesar 0,89 persen. Adapun inflasi Januari 2012 sebesar 0,76 persen, dan pada Januari 2013 inflasinya 1,03 persen. Pada Januari 2014, inflasi bahkan cukup tinggi mencapai 1,07 persen.

Suryamin menuturkan, penyumbang inflasi Januari 2016 terbesar yakni dari kelompok bahan makanan, dengan andil sebesar 0,46 persen.

“Bahan makanan yang mendorong inflasi yakni daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, bawang putih, beras, dan daging sapi,” jelasnya.

Kelompok lain yang mendorong inflasi yakni kelompok perumahan, listrik, air, gas, dan bahan bakar dengan andil 0,13 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dengan andil sebesar 0,09 persen; kelompok sandang dengan andil 0,02 persen; kelompok kesehatan dengan andil 0,01 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga dengan andil 0,01 persen.

“Yang mendorong ke bawah adalah kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan andil sebesar minus 0,21 persen,” kata Suryamin.

Penulis : Estu Suryowati
Editor : Erlangga Djumena

long jump icon

JAKARTA.  Laju inflasi Indonesia semakin lambat menjelang akhir tahun. Inflasi merosot ke bawah 5%, lebih rendah dari target pemerintah.

Badan Pusat Statistik melaporkan indeks harga konsumen pada November 2015 naik 0,21% dari bulan sebelumnya.

Inflasi tahunan atau year on year tersurvei sebesar 4,89% pada November, tingkat inflasi terendah sejak Oktober 2014. Adapun inflasi inti meningkat dari 2,3% pada Oktober menjadi 2,4% pada November.

Bank Indonesia menargetkan inflasi 3—5% pada 2015, sedangkan pemerintah menetapkan target inflasi 5% dalam asumsi makroekonomi RAPBN-P 2015.

 

Inflasi Indonesia 2015

 

 

Bulan

Inflasi YoY (%)

Inflasi MoM (%)
November

4,89

0,21
Oktober

6,25

-0,08
September

6,83

-0,05
Agustus

7,18

0,39
Juli

7,26

0,93

 

 

Sumber: Badan Pusat Statistik, Bloomberg.

 

http://finansial.bisnis.com/read/20151201/9/497346/ekonomi-ri-inflasi-bulanan-021.-tahunan-capai-489-di-bawah-target-pemerintah
Sumber : BISNIS.COM

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

VIVA.co.id – Bank Indonesia (BI) menyatakan, berdasarkan survei minggu pertama di bulan November, laju indeks harga konsumen (IHK) tercatat mengalami inflasi 0,13 persen.

“Pekan pertama bulan November, kami sudah dapat hasil survei untuk inflasi. Ada di kisaran 0,3 persen,” ujar Gubernur BI, Agus Martowardojo, di kompleks BI, Jakarta, Jumat, 6 November 2015.
Agus menuturkan, penopang laju inflasi pada pekan pertama ini, masih didominasi oleh sektor komoditas pangan nasional, seperti beras dan daging ayam.
“Tekanan yang kami lihat ada di daging ayam dan harga beras,” tutur Agus.
Meskipun mencetak inflasi, kata Agus, pihaknya tetap optimistis laju IHK akan tetap sesuai dengan proyeksi sebelumnya sebesar empat plus minus satu. Bahkan, berpotensi untuk berada di bawah rentang yang ditetapkan.
“Tentu kami akan lakukan koordinasi untuk menjaga itu. Saya masih lihat ini sejalan sesuai dengan target kami. Empat plus minus satu persen. Bahkan, sekarang kami optimistis bisa di bawah empat persen,” kata dia.
Sekadar informasi, dalam dua bulan terakhir, laju IHK terus mencetak deflasi. Pada September 2015, tercatat deflasi sebesar 0,6 persen. Sementara Oktober 2015, deflasi tercatat sebesar 0,9 persen.

JAKARTA kontan. Melambatnya inflasi domestik memberi amunisi bagi rupiah. Meski demikian, mata uang Garuda masih rentan terseret perlambatan China.

Kemarin (2/11), di pasar spot, rupiah menguat 0,11% ke Rp 13.669 per dollar AS. Tapi, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, rupiah melemah 0,3% menjadi Rp 13.682 per dollar AS.

Research and Analyst Divisi Tresuri Bank BNI Trian Fathria menilai, pencapaian inflasi menjadi sentimen positif rupiah. Inflasi tahunan per Oktober turun ke 6,25% dari sebelumnya 6,83%. Membaiknya inflasi seiring deflasi yang terjadi pada Oktober 2015, yaitu 0,08%.

“Pasar juga optimistis terhadap data pertumbuhan ekonomi yang akan dirilis pekan ini,” ujarnya. Namun, Albertus Christian, Senior Research and Analyst Monex Investindo Futures bilang, penurunan inflasi justru membuka peluang Bank Indonesia memangkas suku bunga.

Ini bisa menjatuhkan rupiah, sebab The Fed ingin menaikkan tingkat suku bunga. “Rupiah juga bisa terseret perlambatan aktivitas pabrik di China,” jelasnya.

Albertus menduga, hari ini, rupiah melemah di Rp 13.595-Rp 13.720 per dollar AS. Namun, Trian masih melihat peluang menguat di Rp 13.500- Rp 13.700 per dollar AS.

Oktober 2015 Kembali Deflasi 0,08%

Jakarta – Badan Pusat Statitik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) di bulan Oktober 2015 kembali menunjukkan deflasi sebesar 0,08%. Dari 82 kota IHK, 44 kota mengalami deflasi dan 38 kota mengalami inflasi.

Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan Kepala BPS, Suryamin di Jakarta, Senin, 2 November 2015. “Sehingga secara tahun kalender 2,16%, tahun ke tahun 6,25%, inflasi inti 0,23%, inflasi inti tahun ke tahun 5,02%,” ujarnya.

Menurutnya, harga bahan makanan yang mengalami penurunan menjadi kontribusi terbesar dalam mendorong deflasi yang terjadi di Oktober 2015. Selain itu, harga bahan bakar minyak (premium dan pertamax) yang turun, juga menjadi andil deflasi pada Oktober lalu.

“Selain makanan, bensin juga sedikit menyebabkan deflasi, tarif listrik juga, gas juga turut andil dalam deflasi ini,” tukas Suryamin.

IHK yang menunjukkan deflasi pada Oktober 2015, masih sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia (BI) yang menyebutkan bahwa Oktober 2015 bakal mengalami deflasi kembali.

Menurut Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo, pendorong deflasi di Oktober ini, karena rendahnya harga bahan makanan masyarakat seperti cabai, bawang merah dan beras. Dengan kondisi tersebut telah mendorong IHK menunjukkan deflasi.

“Harga bahan makanan masih cukup rendah dan semuanya memberikan bukti bahwa inflasi bukan hanya terkendali tapi juga rendah,” tutupnya. (*) Rezkiana Nisaputra

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) menyambut baik rencana pemerintah melakukan impor beras 1 juta ton dalam waktu dekat.

“Mengenai beras, pemrintah akan impor beras 1 juta ton dari Vietnam, tentu saja ini positif,” ujar Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung saat konferensi pers di Kantor BI, Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Dia menjelaskan, impor beras sangat bermanfaat karena di penghujung tahun biasanya dampak El Nino akan semakin terasa sehingga kekeringan lahan pertanian bisa semakin parah.

“Ini karena el nino sampai lahir tahun akan semakin kuat. Ini (impor beras) bisa antisipasi itu,” kata Juda.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo sempat secara khusus mewaspadai ketersediaan pangan dan distribusinya. Pasalnya, kedua faktor itu akan mempengaruhi harga pangan sehingga bisa menjadi pemacu utama inflasi.

“Secara khusus kita waspadai sektor pangan. Pangan itu selalu jadi tantangan Indonesia, kita harus sama-sama menjadi ketersediaan, distribusi dan kewajaran dari harganya,” ujar Agus di Jakarta, Kamis (7/5/2015).

Dia mengatakan, hal diatas sangat berpengaruh kepada inflasi. Padahal saat ini pemerintah sedang menjaga saya beli masyarakat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Dalam banyak kasus, pemerintah daerah tak mampu menjaga harga pangan, apalagi menjelang Ramadhan.

Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com – Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahun kalender hingga bulan September 2015 mencapai 2,24 persen. Dengan demikian, ditaksir angka inflasi hingga akhir tahun ini bisa di rentang yang ditargetkan pemerintah, yakni 3-5 persen.

Kepala BPS Suryamin menuturkan, meski baru mencapai 2,24 persen, namun ada dua komoditas yang sangat perlu mendapat perhatian pemerintah, yakni beras dan bahan bakar minyak (BBM).

Komoditas beras mempunyai bobot tertinggi dalam penghitungan inflasi, mencapai 4 persen, sedangkan BBM memiliki bobot hanya sedikit di bawahnya, yakni 3,9 persen. “Dua itu saja, kita optimistis (target inflasi tercapai),” ucap Suryamin, di Jakarta, Kamis (1/10/2015).

Suryamin mengatakan, pemantauan harga terhadap komoditas lainnya juga harus terus dilakukan. Komoditas beras menjadi prioritas, sebab pasokan bahan makanan lainnya relatif melimpah. “Kedua, tidak menaikkan harga BBM,” sambung Suryamin.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo menambahkan, meski inflasi tahun kalender hingga September baru 2,24 persen namun ada ancaman dalam pengendalian inflasi tiga bulan ke depan.

Penulis : Estu Suryowati
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

JAKARTA kontan. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menurunkan sejumlah golongan tarif pelanggan mulai September ini lantaran harga Indonesian Crude Oil (ICP) yang turun. Penurunan tarif ini bakal bisa mengurangi tekanan inflasi pada September 2015.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual berpendapat ada tiga tekanan inflasi pada September yang perlu dikhawatirkan. Pertama, hari raya idul adha. Kedua, rupiah. Ketiga, kekeringan atau El Nino.

Dengan turunnya tarif listrik setidaknya bisa membantu mengurangi tekanan pada inflasi. “Kalau dikurangi bisa lebih membantu walaupun tidak signifikan,” ujarnya, Selasa (1/9).

Penurunan tarif listrik yang dilakukan pemerintah pada September adalah kalangan menengah atas dan bukan semua segmen.

Pengaruhnya terhadap penurunan inflasi tidak besar. Kalau mau lebih besar lagi pengaruhnya terhadap inflasi adalah penurunan harga bahan bakar minyak (BBM).

Namun, karena rupiah yang melemah signifikan harga BBM memang sulit untuk turun.

Asal tahu saja, tarif listrik golongan tegangan rendah (TR) dengan daya 3.500 Volt Ampere (VA) hingga 200 kilo yang terdiri dari golongan tarif R-2 dengan daya 3.500 VA sampai 5.500 VA, golongan R-3 dengan daya 6.600 VA ke atas, dan golongan B-2 dengan daya 6.600 VA hingga 200 kilo volt ampere (kVA) mengalami penyesuaian Rp23,17 per kilo watt hour (kWh).

Penurunannya dari Rp 1.546,60 per kWhmenjadi Rp1.523,43 per kWh. Sementara itu, glongan tegangan menengah (TM) B-3 dengan daya di atas 200 kVA dan Golongan I-3 dengan daya di atas 200 kVA, tarif listriknya turun dari Rp 1.218,26 per kWh menjadi Rp 1.200,01 Rp per kWh.

Golongan I-4/Tegangan Tinggi (TT) dengan daya 30.000 kVA ke atas pun turun tarifnya dari Rp 1.086,12 per kWh menjadi Rp 1.069,85 per kWh.

Editor: Adi Wikanto.

TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan tingkat inflasi Agustus 2015 sebesar 0,39 persen. Kepala BPS Suryamin mengatakan, angka ini merupakan yang terendah sejak 2007 lalu.

“Ini menunjukkan pengendalian inflasi sudah membaik, terutama di daerah-daerah,” kata Suryamin di kantornya, Selasa, 1 September 2015. Angka inflasi ini pun menurunkan angka inflasi year on year menjadi 7,18 persen.

Bulan lalu, sebanyak 50 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi dialami Tanjung Pandan, yakni sebesar 2,29 persen dan terendah di Sumenep, Kediri, dan Probolinggo sebesar 0,25 persen.

Faktor yang mempengaruhi inflasi bulan ini dari sektor pendidikan, transportasi, dan rekreasi. Sebab, pada Agustus bertepatan dengan mulainya tahun ajaran baru di seluruh tingkat pendidikan. Untuk itulah angka inflasi sektor ini mencapai 1,71 persen.

Sementara sektor yang banyak membuat resah beberapa waktu lalu, yakni makanan, menyumbang inflasi tak mencapai 1 persen. Angka 0,91 persen untuk sektor ini pun lebih banyak disumbang oleh mahalnya harga sayuran.

“Karena bahan pokok ini mahal, jadi berimbas pula ke produk jadi. Harganya ikut naik,” kata Suryamin.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memperkirakan angka inflasi Agustus sebesar 0,3 persen. Sehingga secara year on year (yoy) inflasi diperkirakan berada di level 7,08 persen.

Pencapaian ini, menurut dia, merupakan suatu langkah yang baik untuk mencapai target inflasi 4,5 persen di akhir 2015 ini. Agus mengatakan, inflasi akan disumbang oleh daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras. Sementara deflasi terjadi untuk bawang merah dan angkutan antar kota.

URSULA FLORENE SONIA

(Mild) Peak in Inflation

n  Inflation stayed at 7.26% yoy (0.93% mom) in July 15…

n  … resulting in a rise in cumulative inflation.

n  We still expect deflation in August 2015.

n  Further cuts look unlikely; benchmark rate to stay at 7.5%.

 

Inflation accelerates. Indonesia recorded mom inflation at 0.93% in July15 (Jun 15 0.54%), continuing the upward trend that started in Mar15. This is slightly higher than Bank Indonesia’s (BI) previous inflation forecast of 0.8% mom and Bloomberg consensus of 0.74% mom (7.06% yoy) but lower than the average inflation in these periods in the past five years. On a YoY basis, consumer prices stayed at 7.26% in Jul 15, exactly at the same level as the inflation in Jun 15, still mainly spurred by volatile food prices and increase in transportation costs. Several raw food commodities – chillies, chicken meat and fish – contributed to about 30% of the total mom inflation. Furthermore, transportation contributed to 35% of total mom inflation, with air transportation accounting for the biggest share. In other categories, there was a mild increase, with yoy core inflation finally falling to 4.86% from 5.04% since Mar 15, a probable indicator of more stable economic conditions. This persistent component within the inflation movement is influenced by economic fundamentals, including the depreciation of the rupiah. This has led to cumulative core inflation in 7H15 no longer staying at the highest core inflation level of the past five years.

 

Cumulative inflation increases. Consecutive bouts of deflation in 2M15 and inflation in Mar-Jul15 resulted in 1.9% cumulative inflation in the first seven months of 2015, well below the 2.91% inflation reported for the same period in 2014. Although we expect inflation in 2015 to be around half the inflation in 2014, we believe there could be upside risks to BI’s inflation target of 3-5%, given the weakening of the Rupiah, adjusted fuel prices, and electricity adjustment tariffs. To conclude, we still expect the annual inflation rate to decline significantly in 4Q15, assuming no further significant hike of fuel prices, despite potential delays from these risks that mainly started kicking in at 2Q15.

 

Peak of inflation in 2015. In the previous month, volatile food categories (i.e. chilly, chicken meat, eggs) recorded inflation due to the fasting month as well. However, the government intervention to control inflation in fuel and transportation tariffs helped manage the inflation in Jul 15 to normal levels of the Muslim holiday of Eid. The government also decided against increasing fuel prices in Aug 15 to control the seasonal inflation that reached its peak last month, thus increasing the possibility of deflation this month. The general policy of government’s decision to let fuel prices float with the market has fed through to lower inflation in general. However, the weakening Rupiah partly offsets the impact from lower global oil prices, and in fact limits domestic fuel price adjustments.

 

Tight monetary policy still on the table. Besides a delay in slowing trend for inflation, BI is unlikely to cut its benchmark rate further also due to a weakening rupiah, current account deficit concern, and a higher global rate environment in the near future. These support our belief that the central bank will retain the BI rate at 7.5% in the upcoming mid-August meeting and maintain a tight monetary policy stance. As long as external uncertainties persist due to the normalization policy of the US, there should be less scope for rates to decline in the foreseeable future, even with the lower current core inflation.

 

Download PDF
Sumber : IPS RESEARCH

JAKARTA.  Inflasi Indonesia memuncak pada Juli 2015 mengikuti tren inflasi tinggi musiman sekitar periode Lebaran.

Badan Pusat Statistik melaporkan indeks harga konsumen pada Juli 2015 naik 0,93% dari bulan sebelumnya (MoM), sedangkan inflasi year on year tersurvei sebesar 7,26%.

Adapun inflasi inti tercatat sebesar di 4,86% YoY. Data Juli menjadikan angka inflasi year to date Januari–Juli 2015 sebesar 1,90%. 

Bank Indonesia menargetkan inflasi 3—5% pada 2015, sedangkan pemerintah menetapkan target inflasi 5% dalam asumsi makroekonomi RAPBN-P 2015.

 

Inflasi Indonesia 2015

 

Bulan

Inflasi YoY (%) Inflasi MoM (%)

Juli        7,26                         0,93
Juni       7,26                         0,54
Mei         7,15                         0,50
April

6,79

0,36
Maret

6,38

0,17

 

 

Sumber: Badan Pusat Statistik

http://finansial.bisnis.com/read/20150803/9/458716/inflasi-juli-dipacu-lebaran.-inflasi-bulanan-093-tahunan-726

 

Jakarta. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengumumkan angka inflasi Juli sebesar 0,93% Senin (3/8/2015). Dibandingkan sebulan sebulannya, terjadi kenaikan inflasi. Inflasi Juni 2014 hanya 0,54%.

Dibandingkan periode tahun lalu, terjadi stagnansi inflasi. Juli 2014 juga yang tercatat inflasi sebesar 0,93%.

Salah satu pendorong inflasi adalah kenaikan harga pangan. Bahan pangan menyumbang inflasi 0,4%.

Kementerian Perdagangan (Kemdag) mencatat sejumlah pangan memang mengalami lonjakan harga pada Juli 2015. Secara rata-rata nasional, kenaikan harga tertinggi terjadi pada cabai merah biasa naik 11,9% dari awal hingga akhir Juli. Lalu, harga cabai merah keriting tumbuh 9,92% dan daging ayam broiler naik 6,57%.

http://nasional.kontan.co.id/news/inflasi-juli
Sumber : KONTAN.CO.ID

Inflation rate picks up

 

n  Inflation picked up to 7.15% yoy (0.5% mom) in May15…

n  …reversing to cumulative inflation.

n  We expect persistent inflation to pick up in June.

n  Further cut is unlikely; Benchmark rate to stay at 7.5%.

 

Inflation accelerates. Indonesia recorded mom inflation in May15 at 0.5% (Apr15: 0.36%), continuing the upward inflation pattern that started in Mar15. This inflation rate is slightly higher than Bank Indonesia’s (BI) previous inflation forecast of 0.44% mom and Bloomberg consensus of 0.4% mom (7.01% yoy). On a YoY basis, consumer prices climbed 7.15% in May15, increasing from 6.79% in May14, mainly spurred by volatile food price hikes. The raw food category (i.e. shallot, chillies) contributes about 28% to total mom inflation, with 24% coming from chilies alone. Meanwhile, mild increases occurred in almost all groups with yoy core inflation staying at 5.04% from the two previous months. This persistent component within inflation movement is influenced by economic fundamentals, including the depreciation of the Rupiah. This situation has resulted in cumulative core inflation in 5M15 staying at the highest core inflation level in five years, even though mom core inflation has dropped.

 

Cumulative deflation ends. Consecutive bouts of deflation in 2M15 and inflation in Mar-May15 resulted in 0.43% cumulative inflation in the first five months of 2015, well below the 1.55% inflation reported for the same period in 2014. Although we expect inflation in 2015 to be less than half the inflation in 2014 and 2013, we believe there could be upside risks to BI’s inflation target of 3-5%, given the weakening of the Rupiah, monthly adjusted fuel prices, and planned electricity adjustment tariffs for two categories of household customers later this year. To conclude, we still expect the annual inflation rate to decline significantly in the 4Q15 despite potential delays from these risks that will mainly start kicking in at 2Q15.

 

Lower yoy inflation still delayed due to volatile food prices. Last month, volatile foods (i.e. shallot, chilies) recorded inflation due to the coming fasting month. The harvest season has no longer brought a deflation impact to the raw food category even though several items (i.e. rice) have still contributed a deflation. Furthermore, with the plunge in global oil prices, the government’s decision to let fuel prices float with the market has fed through to lower inflation in general. However, the weakening Rupiah partly offsets the impact from lower global oil prices, and has in fact driven domestic fuel prices higher, pushed further by the slight rebound in average mom oil prices. Starting May 2, domestic fuel price for RON 92 fuel type has increased by Rp.200/liter, which had an inflation effect in the last month. This increase is lower than the increase in Apr15 of Rp.500/liter for gasoline and diesel fuel type, which in turn limits the yoy inflation pressure last month from the transport category.

 

Tight monetary policy still on the table. As a slowing pattern of inflation has been delayed, BI is unlikely to further cut its benchmark rate, due to a weakening Rupiah, current account deficit concerns in 2Q15, and a higher global rate environment in the near future. These support our belief that the central bank will retain the BI rate at 7.5% in the upcoming mid June meeting and maintain a tight monetary policy stance. As long as external uncertainties persist due to the US’s normalization policy, there should be less scope for rates to decline in the foreseeable future.

 

 

Download PDF
Sumber : IPS RESEARCH

JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Mei 2015 sebesar 0,5%. Tingkat inflasi ini lebih tinggi dari periode sama tahun lalu yang inflasinya tercatat 0,16%. Kenaikan harga menjelang Lebaran sudah mulai terjadi.

Berdasarkan survei terbaru Bank Indonesia (BI) mengenai tingkat keyakinan konsumen menyebut, terkait persoalan harga konsumen melihat pasca Lebaran tekanan kenaikan harga bakal menurun pada Agustus 2015. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang turun 5,9 poin menjadi 173,9.

“Penurunan tekanan kenaikan harga diperkirakan terjadi pada semua kelompok komoditas seiring dengan kembali normalnya permintaan pasca Hari Raya Idul Fitri,” tulis BI dalam laporannya, Rabu (3/6).

Tekanan kenaikan harga dalam kurun 6 bulan ke depan pun diperkirakan masih akan turun. IEH 6 bulan mendatang turun 2,5 poin menjadi 171,3. Semakin lancarnya distribusi serta ketersediaan barang dan jasa menjadi faktor pendorong turunnya kenaikan harga.

Adapun Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2015 meningkat dibanding dua bulan sebelumnya. Peningkatan yang terjadi sebesar 5,4 poin menjadi 112,8. Dua unsur yang menjadi penyumbang peningkatan keyakinan konsumen ini adalah Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing naik 3,7 poin dan 7,0 poin dari bulan April.

 

http://nasional.kontan.co.id/news/bi-tekanan-kenaikan-harga-akan-menurun-di-agustus
Sumber : KONTAN.CO.ID

Jakarta, June 1, 2015 (AFP)
Indonesia’s inflation accelerated in May to its highest level in five months due to increased food prices, data showed Monday, as people stocked up before the Islamic holy month of Ramadan.

The consumer price index rose 7.15 percent year-on-year, according to the official statistics agency, faster than expected and up from a 6.79 percent increase in April. It was the highest level since 8.36 percent in December.

Inflation in Southeast Asia’s biggest economy has been edging up in recent months due mainly to higher fuel costs, after the government at the start of the year almost totally abolished huge subsidies and let petrol prices float with the market.

In May, however, the main driver was the higher cost of staples such as chicken and chilli as people stocked up ahead of the fasting month of Ramadan, which starts in mid-June.

Food prices typically rise before Ramadan as people in the world’s most populous Muslim-majority country buy more food to give away to the less fortunate during Islam’s holiest month, and for elaborate fast-breaking meals.

Higher electricity prices also caused inflation to accelerate, said statistics agency chief Suryamin, who like many Indonesians goes by one name.

The accelerating inflation presents a dilemma for Bank Indonesia, the central bank. Some economists are calling for policymakers to cut the main rate from 7.50 percent to boost slowing growth, but rising inflation limits their room for manoeuvre.

HSBC’s purchasing managers index for Indonesia meanwhile painted a gloomy picture of the manufacturing sector. It rose slightly to 47.1 in May from 46.7 in April but was still below 50, indicating a contraction.

A reading above 50 signals an expansion.

str-sr/tm/sm

<org idsrc=”isin” value=”GB0005405286″>HSBC</org>

Jakarta– Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Indonesia pada bulan Mei 2015 sebesar 0,5 persen. Ini merupakan inflasi tertinggi dalam lima tahun terakhir. “Pada tahun 2008 terjadi inflasi 1,41 persen di bulan Mei. Tahun-tahun sebelumnya juga tinggi, jadi ini bukan yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Tapi dalam lima tahun terakhir, ini yang tertinggi,” ujar Kepala BPS, Suryamin dalam jumpa pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (1/6).

Disampaikan Suryamin, inflasi tahun kalender sebesar 0,42 persen dan inflasi secara year on year sebesar 7,15 persen. Sementara inflasi komponen inti sebesar 0,23 persen dan secara year on year sebesar 5,04 persen. Kota dengan inflasi terendah, menurut Suryamin, adalah Singkawang dengan inflasi sebesar 0,03 persen. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Palu yakni di level 2,24 persen.

Dari 82 kota yang disurvei, dipaparkan Suryamin, 45 kota berada di bawah 0,5 persen. Sementara kota lainnya berada di kisaran 0,5 sampai satu persen. “Hanya Palu yang tinggi sekali. Artinya ada lebih dari 50 persen kota inflasinya di bawah 0,5 persen,” kata Suryamin. Hal tersebut menunjukkan, pengendalian inflasi di daerah sudah cukup bagus.

Menurut kelompok pengeluaran, Suryamin menjabarkan ada empat kelompok yang memberi andil besar terhadap inflasi. “Paling tinggi kelompok bahan makanan dengan inflasi sebesar 1,39 persen dan andil inflasi 0,28 persen,” katanya. Andil terbesar kedua disumbang oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau dengan inflasi Mei 0,50 persen dan andil 0,08 persen.

Sementara kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar terjadi inflasi 0,20 persen dan memberi andil inflasi 0,05 persen. “Yang keempat itu kelompok sandang dengan inflasi 0,23 persen dan sumbangan 0,02 persen,” jelas Suryamin.
Sent fr

Yohanes Harry Douglas/Margye J Waisapy/PCN

Suara Pembaruan, Investor Dail

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei sebesar 0,50 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 119,50.

Kepala BPS Suryamin membeberkan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan 1,39 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,50 persen.

Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,20 persen; kelompok sandang 0,23 persen; kelompok kesehatan 0,34 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,06 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,20 persen.

“Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Mei) 2015 sebesar 0,42 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Mei 2015 terhadap Mei 2014) sebesar 7,15 persen,” ujar dia saat konferensi pers, di Gedung BPS, Jakarta, Senin (1/6/2015).

Dia menambahkan, komponen inti pada Mei 2015 mengalami inflasi sebesar 0,23 persen; tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Mei) 2015 sebesar 1,73 persen; serta tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Mei 2015 terhadap Mei 2014) sebesar 5,04 persen.

BPS mencatat, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Mei 2015 antara lain cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, bawang putih ikan segar, tarif listrik, serta tomat sayur.

Kemudian kenaikan harga juga terjadi pada cabai rawit, sawi hijau, ayam bakar, nasi dengan lauk, gula pasir, rokok kretek, rokok kretek filter, tarif kontrak rumah, tarif sewa rumah, tarif angkutan udara, bensin, dan mobil.

“Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga yaitu beras,” pungkasnya.
AHL

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/06/01/400991/bps-harga-naik-inflasi-mei-0-50
Sumber : METROTVNEWS.COM

JAKARTA.  Laju inflasi Indonesia makin tinggi menjelang musim konsumsi tinggi Ramadhan dan libur Lebaran.

Badan Pusat Statistik melaporkan indeks harga konsumen pada Mei 2015 naik 0,50% dari bulan sebelumnya (MOM) atau naik 7,15% dari Mei 2014. Adapun inflasi inti tercatat stagnan di 5,04% YoY.

Data Mei menjadikan angka inflasi tahunan Januari&mdash;Mei sebesar 0,42%. Indeks harga konsumen naik semakin tajam setelah tingkat inflasi 0,17% pada Maret dan 0,36% pada April.

Bank Indonesia menargetkan inflasi 3&mdash;5% pada 2015, sedangkan pemerintah menetapkan target inflasi 5% dalam asumsi makroekonomi RAPBN-P 2015.

 

IInflasi Indonesia 2015

 

Bulan

Inflasi YoY (%)

Inflasi MoM (%)
Mei

7,15

0,50%
April

6,79

0,36%
Maret

6,38

0,17%
Februari

6,29

-0,36
Januari

6,96

-0,24
Sumber: Badan Pusat Statistik

http://finansial.bisnis.com/read/20150601/9/439135/inflasi-mei-jelang-lebaran-05-mom-dan-715-yoy
Sumber : BISNIS.COM

JAKARTA. kontan Tidak seperti biasanya, periode April yang cenderung mengalami deflasi pada tahun ini tercatat inflasi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 28 Maret memberikan efek pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.

Badan Pusat statistik (BPS) mencatat April 2015 terjadi inflasi 0,36%. Alhasil inflasi tahunan yang pada bulan sebelumnya 6,38% naik menjadi 6,79%. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengatakan inflasi akan kembali terjadi pada bulan ini namun bisa di bawah 0,5%.

Kenaikan tarif listrik pada Mei akan memberikan tekanan pada inflasi namun relatif terkendali. Yang perlu diwaspadai adalah Juni dan Juli karena penyebab inflasi menumpuk pada dua bulan tersebut. “Ada puasa dan liburan. Tahun ajaran baru juga mungkin di Juli,” terangnya, Senin (4/5).

Adapun, inflasi April 2015 adalah inflasi tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kepala BPS Suryamin mengatakan inflasi tertinggi pada April sebelumnya terjadi pada 2012 dengan besar 0,21%. Sementara itu pada tahun-tahun lainnya cenderung deflasi untuk April. Tahun lalu April tercatat deflasi 0,02%.

Bensin menjadi komponen penyebab inflasi yang memberikan andil tertinggi yaitu 0,22% dengan kenaikan harga mencapai 5,68%. Hal ini mengakibatkan adanya multiplier efek pada kenaikan tarif angkutan dalam kota.

 

Editor: Sanny Cicilia

Jakarta, CNN Indonesia — Kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebanyak dua kali pada November 2014 dan Januari 2015 masih memberikan efek yang sangat terasa pada angka inflasi Februari 2015. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Februari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,36 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi Barang dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo menilai deflasi tersebut merupakan hal yang jarang terjadi. Pasalnya berdasarkan catatan inflasi BPS dalam 50 tahun terakhir, deflasi pada Februari hanya pernah terjadi empat sampai lima kali saja.

Deflasi Februari 2015 yang sebesar 0,36 persen, kata Sasmito, merupakan yang kedua terbesar selama sekitar 50 tahun terakhir. Deflasi paling rendah terjadi pada Februari 1985 yang mencapai 0,5 persen.

“Selama 50 tahun atau dalam 600 bulan hanya terjadi empat sampai lima kali deflasi di bulan Februari. Ini sangat jarang terjadi,” kata Sasmito di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/3).

Sasmito mengatakan, kebijakan pemerintah yang responsif menurunkan harga BBM ketika harga minyak dunia ikut turun sangat berperan dalam meyumbang angka deflasi Februari.

“Biasanya, selama Desember-Februari angka inflasi sedang tinggi-tingginya. Akibat petani belum memasuki masa panen raya sehingga harga-harga pangan tinggi, tapi Februari malah terjadi deflasi karena harga BBM turun drastis,” kata Sasmito.

Perkiraan BPS, harga pangan akan mengalami penurunan pada bulan Maret hingga April akibat mulai memasuki masa panen raya. Sasmito juga optimistis nantinya harga beras akan kembali normal.

Prediksi Inflasi Maret

Didorong sejumlah kenaikan harga barang di awal Maret 2015, BPS juga memprediksi inflasi masih berpotensi membayangi Indonesia di bulan Maret. Kenaikan harga gas elpiji, harga premium dan pertamax hingga kenaikan tarif sejumlah tiket kereta menjadi pemicu iflasi.

Namun Sasmito berkeyakinan, adanya panen raya pada Maret-April mampu mengimbangi angka inflasi akibat kenaikan harga-harga tersebut.

“Biasanya Maret rendah karena ada indikasi harga gabah rendah dan beras juga akan mengikuti rendah, akan ada balance dari kenaikan dan penurunan tersebut, mungkin inflasi tidak sampai 0,5 persen,” ujarnya. (gen)

JAKARTA–Penyesuaian harga bahan bakar minyak jenis Premium dan Solar diperkirakan dapat membuat inflasi mendekati 0% pada Januari 2015.

Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia, mengatakan inflasi pada minggu ketiga Januari tahun ini diperkirakan mencapai 0,08%.

Inflasi nasional dapat berubah menjadi deflasi apabila terjadi koreksi harga ayam, sapi, dan telur di pasar yang sempat melonjak saat pemerintah menaikkan harga BBM.

“Januari tahun ini inflasi akan rendah, bahkan bisa deflasi, karena penyesuaian harga BBM yang dilakukan pemerintah beberapa waktu lalu,” katanya di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2015).

Agus menuturkan dengan koordinasi pengendalian inflasi yang baik, maka inflasi sepanjang tahun ini dapat mencapai 4% plus minus 1%. Apalagi harga cabai di pasar saat ini diperkirakan akan terus turun menuju harga normalnya.

Menurutnya, harga BBM sangat mempengaruhi inflasi di dalam negeri. Hal tersebut terlihat dari inflasi sepanjang tahun lalu yang mencapai 8,3%, karena pemerintah menaikkan harga BBM jenis Premium dan Solar.

“Penyesuaian harga BBM pada 2014 menyebabkan inflasi 8,3%. Akan tetapi itu untuk menyehatkan manajemen energi dan mengurangi subsidi,” ujarnya.

Dia menuturkan pemerintah tahun ini juga perlu mewaspadai inflasi pada Maret, Juni, dan September yang diperkirakan akan cukup tinggi, karena siklus tahunan.

http://finansial.bisnis.com/read/20150128/9/396061/inflasi-januari-diperkirakan-dekati-0
Sumber : BISNIS.COM

 

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memperkirakan, Inflasi pada bulan Januari 2015 akan sangat rendah, bahkan diprediksi bisa terjadi deflasi.

“Kami perkirakan untuk inflasi, di Januari ini begitu rendah, bahkan mungkin bisa deflasi,” ucap Agus di Istana Negara, Jakarta, Rabu (28/1/2015).

Menurut Agus, hal ini tidak terlepas dari penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada tanggal 1 dan 19 Januari 2015, sehingga penurunannya berdampak pada inflasi yang lebih rendah.

“Di Januari sudah akan mendekati nol inflasinya. Jadi secara inflasi saya lihat baik,” imbuhnya.

Agus menambahkan, perkiraan angka inflasi ini sudah dipantau oleh BI selama minggu ke tiga bulan Januari. “Dalam minggu ke tiga Januari diperkirakan 0,08 persen, tapi itu sudah rendah sekali. Kecuali nanti ada koreksi harga di ayam, sapi, telor bisa-bisa deflasi,” imbuhnya.

Senada dengan Agus, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pun optimistis, inflasi pada bulan Januari akan sangat rendah.

“Karena kemungkinan inflasi Januari itu hampir nol,” tukasnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/01/28/20/1098307/harga-bbm-turun-bi-ramalkan-januari-bisa-deflasi
Sumber : FINANCIALKU.COM

 

JAKARTA. Rupiah kembali menguat tipis terhadap mata uang dollar AS pada Jumat (16/1). Keputusan pemerintah yang menurunkan harga BBM mengokohkan rupiah. Di pasar spot, pasangan USD/IDR turun 0,28% ke Rp 12.590. Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia rupiah menguat 0,2% ke Rp 12.593.

Reza Priyambada, analis Woori Korindo Securities Indonesia, menilai, keputusan pemerintah memangkas harga BBM dan harga semen dinilai positif. “Sebab, bisa mendorong penurunan harga barang pokok dan menahan inflasi,” kata dia.

Menurut analis PT Harvest International Futures Tonny Mariano, data consumer price index (CPI) Desember 2014 di Amerika Serikat, yang minus 0,4%, bisa turut menopang penguatan rupiah. Sebab, angka tersebut di bawah prediksi.

Reza memperkirakan rupiah menguat di 12.589-12.605. Adapun, Tonny memproyeksikan rupiah di 12.550-12.600. na

 

http://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-dan-spekulasi-laju-inflasi

Sumber : KONTAN.CO.ID

 

JAKARTA, Jan 02, 2015 (AFP)
Indonesia’s inflation rate shot up in December and its trade balance swung to a deficit after the country’s new president hiked fuel prices by 30 percent a month earlier, data showed Friday.

December inflation jumped to 8.36 percent year-on-year from 6.23 percent in November.

Transportation cost adjustments in December that pushed up food prices during the holiday season were the main reason for the higher-than-expected inflation, the Statistics Agency said.

“Some (companies) adjusted the transportation cost only in December and this is the reason why inflation is that high,” said Statistics Agency head Suryamin, who goes by one name.

The 30 percent increase in the price of diesel and petrol was announced in November, and was aimed at cutting government subsidies that gobble up a huge chunk of the state budget and have sparked investor alarm.

The trade balance also suffered as it swung to a deficit of $425.7 million from a small surplus of $20 million in October as prices of commodities, the resource-rich country’s key exports, slumped.

“These data are surprising, the inflation is much higher than our expectation, while the trade deficit is bigger than our estimate,” David Sumual, chief economist at Indonesia’s Bank Central Asia, told AFP.

Adding to the gloomy data, manufacturing activity hit yet another low to weaken further in December as HSBC said in its Purchasing Managers’ Index for Indonesia fell to a record low of 47.6. A reading below 50 indicates contraction, while anything above signals growth.

However, economists praised new President Joko Widodo’s move this week to scrap the gasoline subsidy and fix the subsidy for diesel fuel for 2015.

Economists have long been calling for Indonesia to reduce its generous fuel subsidies which are blamed for a widening current account deficit, although attempts to cut them are often met with public anger.

Widodo, who took office in November, made reducing the payouts a key election pledge, and has vowed to divert the money to overhauling the country’s creaking infrastructure and for programmes to help the poor.

 

TEMPO.CO, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo mengatakan inflasi November 2014 meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya tapi lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia. “Inflasi IHK mencapai 1,50 persen. Meningkat dari 0,47 persen pada Oktober lalu,” kata Agus di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Selasa, 2 Desember 2014. (Baca: Terimbas BBM, Inflasi Januari Masih Akan Tinggi)

Agus mengatakan peningkatan inflasi terutama berasal dari naiknya harga kelompok barang yang terpengaruh kebijakan pemerintah (administered price) dan bahan makanan. Inflasi administered prices meningkat terutama didorong oleh kenaikan harga BBM bersubsidi, tarif angkutan darat, dan tarif tenaga listrik. November ini, inflasi administered price tercatat sebesar 4,20 persen (month to month) atau 11,39 persen (year on year). (Baca: BBM dan Cabai Kerek Inflasi November 2014)

Bank Indonesia memperkirakan dampak kenaikan harga BBM akan berlangsung secara terkendali. “Mungkin puncaknya pada Desember 2014,” ujar dia. Menurut Agus, Bank Indonesia akan memperkuat kebijakan dan meningkatkan koordinasi pengendalian inflasi dengan pemerintah. “Baik tingkat pusat maupun daerah,” ujar dia. (Baca: Kenaikan Biaya Transaksi ATM Ikut Dorong Inflasi)

Dengan kebijakan tersebut, Bank Indonesia yakin bahwa inflasi setelah kenaikan harga BBM bersubsidi tetap akan terkendali dan dapat segera kembali pada sasarannya, yaitu 4 plus-minus 1 persen pada 2015. (Baca: Inflasi November 2014 Sebesar 1,5 Persen)

ODELIA SINAGAJAKARTA, KOMPAS.com – Badan Pusat Statistik melansir indeks harga konsumen November 2014 sebesar 1,5 persen. Sementara untuk inflasi tahun kalender mencapai 5,75 persen, inflasi tahun ke tahun (YoY) sebesar 6,23 persen, inflasi komponen inti November 2014 sebesar 0,4 persen, dan inflasi inti tahun ke tahun sebesar 4,21 persen.

Kepala BPS Suryamin mengatakan dibandingkan dengan inflasi pada Juni 2013 lalu, di mana pemerintah juga menaikkan harga BBM bersubsidi, inflasi November menunjukkan waktu yang diambil pemerintah tepat.

“November biasanya deflasi, maka inflasi pun sedikit. November belum kena dampak seluruh hari. Harga 12 hari terakhir saja yang harga baru. 18 hari pertama masih harga Rp 6.500 (premium). Ini menunjukkan timing kenaikan harga BBM penting diperhatikan, terbukti inflasi November 2014 rendah,” kata Suryamin dalam paparan, Senin (1/12/2014).

Catatan BPS pada tiap November biasanya indeks harga konsumen tercatat rendah, bahkan pada November 2009 lalu mengalami deflasi 0,03 persen. Suryamin memaparkan, pada November 2010 inflasi sebesar 0,6 persen, pada November 2011 sebesar 0,34 persen, November 2012 sebesar 0,07 persen, dan pada November tahun lalu inflasi tercatat 0,12 persen.

“Sebanyak 82 kota IHK seluruhnya mengalami inflasi, karena dampak kenaikan BBM sudah tergambar. Inflasi tertinggi terjadi di Padang sebesar 3,34 persen, dan inflasi terendah ada di Manokwari 0,07 persen,” imbuh Suryamin.

Menurut kelompok pengeluaran, inflasi bahan makanan pada November 2014 tercatat cukup tinggi sebesar 2,15 persen. Bahkan lanjut Suryamin, inflasi tahun kalender untuk kelompok bahan makanan tercatat mencapai 7,12 persen, sedangkan inflasi bahan makanan dari tahun ke tahun (YoY) sebesar 7,97 persen.

“Ini walaupun menghasilkan inflasi 1,5 persen (cukup rendah), tapi komoditi bahan makanan harus hati-hati,” lanjut dia.

Inflasi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau pada November 2014 tercatat 0,71 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,49 persen, kelompok kesehatan inflasi 0,43 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga inflasi 0,08 persen.

“Kelompok sandang mengalami deflasi 0,08 persen karena harga emas perhiasan (turun). Kelompok tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi 4,29 persen, biaya ATM yang juga sudah berdampak,” ucap Suryamin.

Lebih lanjut dia menjelaskan, menurut komponennya, inflasi umum November 2014 tercatat sebesar 1,5 persen, inflasi komoditi inti sebesar 0,4 persen, inflasi akibat harga yang diatur pemerintah sebesar 4,2 persen, dan harga bergejolak sebesar 2,37 persen.

Inflasi energi yang terbentuk dari kenaikan harga bensin, solar, listrik, serta LPG sebesar 6,27 persen.

Sementara itu inflasi tahun ke tahun (YoY) menurut komponennya tercatat inflasi umum sebesar 6,23 persen. Inflasi komponen inti YoY sebesar 4,21 persen yang menunjukkan bahwa fundamental ekonomi masih cukup baik. “Inflasi komponen inti masih di bawah inflasi umum,” kata Suryamin.

Inflasi tahun ke tahun harga diatur pemerintah cukup tinggi mencapai 11,39 persen, inflasi harga bergejolak sebesar 7,06 persen, sementara inflasi YoY komponen energi mencapai 15,85 persen.


Penulis : Estu Suryowati
Editor : Erlangga Djumena

 

TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik menyatakan inflasi pada bulan November 2014 mencapai 1,50 persen. Adapun Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 116,14.

Dalam keterangan pers hari ini, Senin, 1 Desember 2014, Kepala BPS Suryamin mengatakan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Padang, Sumatera Barat, sebesar 3,44 persen dengan IHK 122,76. Sebaliknya inflasi terendah terjadi di Manokwari, Papua, sebesar 0,07 persen dengan IHK 110,63. (Baca: BBM dan Cabai Kerek Inflasi November 2014)

Suryamin menjelaskan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga dengan besaran masing-masing untuk kelompok bahan makanan meningkat 2,15 persen; makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,71 persen. Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,49 persen; kesehatan sebesar 0,43 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,08 persen; serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 4,29 persen. “Adapun kelompok sandang menurun 0,08 persen,” kata dia. (Baca:TPID Cemas Tren Kenaikan Harga Berlanjut)

Kenaikan harga juga terjadi pada beberapa komoditas sebagai dampak dari inflasi. Pada bulan November bahan makanan seperti cabai merah, cabai rawit, beras, bayam, kacang panjang, kangkung, dan sayur-mayur lainnya mengalami kenaikan. Pada sektor jasa pun tarif listrik, angkutan antarkota, biaya transfer uang, administrasi kartu ATM, turut meningkat. Bahan bakar dan bahan bangunan pun tak luput dari kenaikan.

Menurut Suryamin, penurunan harga terjadi pada beberapa barang seperti daging ayam ras, ikan segar, emas, perhiasan, dan tarif angkutan udara.

URSULA FLORENE SONIA | TRI SUSANTO

 

WE Online, Jakarta – Masyarakat mengharapkan tim ekonomi Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mampu menjaga kepercayaan pasar di tengah kondisi perekonomian global yang tidak kondusif.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan Indonesia menghadapi sejumlah tantangan di antaranya terkait dengan masalah twin deficit (defisit kembar), yaitu defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal.

“Kami melihat ada sejumlah tantangan yang perlu dihadapi, antara lain twin deficit, defisit transaksi berjalan, dan defisit fiskal,” kata Agus Martowardojo.

Agus mengatakan pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan perlu merespons neraca transaksi berjalan yang telah mengalami defisit selama kurang lebih selama 10 triwulan serta masalah fiskal, terutama terkait dengan turunnya penerimaan pajak.

“Ini perlu disikapi. Salah satunya terkait dengan kondisi repatriasi keuntungan agar tidak lari keluar negeri, penyikapan fiskal dilakukan agar investor menaruh uangnya di dalam negeri. Tantangan lainnya terkait dengan defisit neraca pendapatan dan jasa,” katanya.

Selain itu, lanjut Gubernur BI, penyikapan lainnya terkait kondisi fiskal yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah masalah kebijakan subsidi energi agar dapat lebih tepat sasaran dan implementasinya tidak lagi membebani anggaran negara.

“Dalam APBN 2015, total subsidi energi mencapai Rp 340 triliun dan itu akan sangat baik seandainya subsidi produk diubah kepada pihak yang membutuhkan. Ini memang sudah dibicarakan antara pemerintah dan BI,” kata Agus.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan perlambatan ekonomi global berpengaruh pada Indonesia yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga 2014 yang hanya tercatat 5,01 persen.

“Angka kuartal tiga melambat karena pertumbuhan ekonomi dunia sedang melambat, kecuali Amerika Serikat,” kata Mirza.

Mirza menjelaskan bahwa saat ini perlambatan terlihat dari lesunya perekonomian di negara tujuan ekspor Indonesia, seperti Tiongkok dan Jepang, serta didukung oleh harga komoditas yang sedang mengalami penurunan.

“Harga batu bara turun, kelapa sawit juga tidak meningkat. Itu pasti tercermin di ekspor komoditas kita yang melambat,” ujarnya.

Mirza memperkirakan bahwa pada triwulan keempat pertumbuhan ekonomi akan sedikit meningkat dari triwulan ketiga dengan keseluruhan angka pertumbuhan pada akhir tahun berada pada kisaran 5,1–5,2 persen.

“Saya rasa kuartal empat antara flat atau meningkat sedikit. Akan tetapi, memang tahun ini masih level 5,1–5,2 persen. Sampai kuartal satu tahun depan, saya rasa masih segitu,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2014 mencapai 5,21 persen dan pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2014 sebesar 5,12 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga hanya tercatat sebesar 5,01 persen, berarti pertumbuhan ekonomi nasional masih berada pada kisaran 5,1 persen atau jauh dari asumsi dalam APBN-Perubahan 2014 sebesar 5,5 persen.

Kondisi ini membuat pemerintah harus bekerja keras untuk mendorong perekonomian tumbuh lebih tinggi, apalagi Presiden Joko Widodo dalam janji politiknya menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,0 persen dalam beberapa tahun mendatang.

Pengamat pasar modal Reza Priyambada mengharapkan Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK, terutama tim ekonomi, memiliki visi dan misi yang sama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Tumbuhnya ekonomi Indonesia tentu akan baik dampaknya bagi industri pasar modal Indonesia,” ucapnya.

Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto juga menungkapkan adanya tantangan politik mengingat dukungan di parlemen masih cukup minim. Padahal, dukungan dari parlemen dibutuhkan untuk kelancaran pelaksanaan berbagai program dan kebijakan. (Ant)

 

JAKARTA okezone – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Oktober 2014 terjadi inflasi sebesar 0,47 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,42. Inflasi ini lebih tinggi ketimbang inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,27 persen.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks seluruh kelompok pengeluaran. Dia menambahkan, inflasi bulan ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kenaikan tarif listrik yang dilakukan bertahap.

“Penyebabnya antara lain, tarif listrik, kenaikan Elpiji, kemudian tarif angkutan udara,” kata dia di kantornya, Jakarta, Senin (3/4/2014).

Sedangkan inflasi Komponen inti pada Oktober 2014 sebesar 0,27 persen, tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Oktober) 2014 sebesar 3,46 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Oktober 2014 terhadap Oktober 2013) sebesar 4,02 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, lanjut dia, inflasi 0,47 persen ini disumbang paling tinggi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,25 persen.

 

Sekadar informasi, Dari 82 kota IHK, tercatat 74 kota mengalami inflasi dan 8 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tual 2,18 persen dengan IHK 120,13 dan terendah terjadi di Mamuju 0,06 persen dengan IHK 112,61.

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Sorong 1,08 persen dengan IHK 113,96 dan terendah terjadi di Tanjung Pandan 0,12 persen dengan IHK 120,95.

(mrt)

JAKARTA okezone – Harga fluktuatif yang dialami cabai merah dan cabai keriting ternyata ikut andil dalam inflasi bulan Oktober 2014. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan Oktober 2014 berada di level 0,47 persen.”Cabai merah ikut andil menyumbang inflasi 0,18 persen, memang ada harga yang naik hingga 40,25 persen karena produksi berkurang di 74 kota, kenaikan tertinggi di Banyuwangi yang mencapai 106 persen,” ungkap Kepala BPS, Suryamin, Senin (3/11/2014).Selain cabai merah, cabai rawit juga ikut memberikan andil pada inflasi bulan Oktober, namun besarannya tidak sebanyak cabai merah.”Kemudian cabai rawit juga, andilnya hanya 0,02 persen. Kenaikan harga mencapai 13,34 persen karena musim kemarau, seperti kenaikan di Jayapura 74 persen dan di Tegal 60 persen,” tambahnya.Meskipun begitu, yang menjadi penyebab utama inflasi masih berasal dari komponen energi yang meliputi tarif listrik dan bahan bakar rumah tangga (elpiji).”Andilnya 0,22 persen dari 0,47 persen hampir separuhnya, sementara tarif angkutan udara mempunyai andil 0,03,” tambah dia.Beras, lanjut Suryamin, juga memiliki andil 0,03 persen. Terjadi perubahan harga sekitar 0,87 persen. Memasuki masa paceklik kenaikan 46 kota IHK. Sementara itu ada dua komoditi yang menghambat inflasi. Yaitu penurunan harga daging dan telur ayam ras.”Yang menghambat inflasi, terjadi deflasi pada daging ayam ras sebanyak 0,13 persen dan deflasi pada telur ayam ras sebanyak 0,02 persen, Permintaan sudah normal sehingga harga jadi turun,” tukas dia.

(rzy)

detik Jakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi pada Agutus 2014. Bulan lalu, terjadi inflasi 0,47% secara bulanan.

Sementara dibandingkan Agustus 2013, BPS mencatat inflasi sebesar 3,99%. Lalu sepanjang 2014 (Januari-Agustus), terjadi inflasi 3,42%.

Demikian dikemukakan Suryamin, Kepala BPS, dalam jumpa pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (1/9/2014).

“Inflasi Agustus kalau dirunut ke belakang, sejak 2005 hanya kalah dari 2006 yang 0,33%. Apalagi Agustus ini masih ada sisa puasa-lebaran. Jadi pengendalian inflasi sudah terlihat bagus,” papar Suryamin.

Sebanyak 66 kota di Indonesia mengalami inflasi, dan 16 yang deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,98% dan terendah di Banjarmasin yaitu 0,02%. Sementara kota dengan deflasi tertinggi adalah Ternate sebesar minus 1,02%.

Sebelum rilis BPS, sejumlah kalangan telah memperkirakan inflasi Agustus akan relatif terkendali. Misalnya Trust Securities yang dalam risetnya menyebutkan inflasi bulan lalu cenderung bergerak normal.

“Tampaknya pemerintah menjaga agar harga-harga barang, terutama kebutuhan pokok, tidak mengalami lonjakan yang terlalu tinggi. Seharusnya pergerakan harga sepanjang Agustus dapat normal dan permintaan masyarakat dapat kembali stabil,” papar riset Trust Securities.

Bahan makanan, lanjut riset tersebut, masih akan dominan dalam menyumbang inflasi. “Namun peningkatannya sudah tidak terlalu tinggi seiring stabilnya permintaan masyarakat pada Agustus,” sebutnya.

(hds/hen)

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Juli 2014 sebesar 0,93%. Dengan demikian, sepanjang Januari-Juli 2014 inflasi mencapai 2,94%. Sedangkan tingkat inflasi tahunan (year on year) adalah 4,53%.

Angka inflasi Juli tersebut sesuai dengan perkiraan analis yang mematok angka di bawah 1%. Berdasarkan fakta stabilitnya harga barang dan jasa selama masa lebaran, mereka juga memprediksi inflasi tahun ini di bawah 5%.

Inflasi tertinggi terjadi di Bengkulu (2,92%). Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Maumere (0,13%).

Inflasi komponen inti pada Juli 2014 sebesar 0,52%. Sedangkan tingkat inflasi komponen inti periode Januari-Juli 2014 tercatat 2,40%. Sementara itu, tingkat inflasi komponen inti year on year adalah sebesar 4,64%.

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2124474/inflasi-juli-masih-di-bawah-1#.U98pvEAbbxU

Sumber : INILAH.COM

Jakarta (ANTARA News) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga bahan makanan olahan menjadi salah satu penyebab terjadinya inflasi pada Mei sebesar 0,16 persen.

“Kelompok bahan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, ikut menyumbang inflasi pada Mei,” kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Senin.

Dengan demikian, laju inflasi tahun kalender Januari–Mei 2014 tercatat sebesar 1,56 persen dan secara tahunan (yoy) mencapai 7,32 persen. Sedangkan inflasi komponen inti Mei 0,23 persen dan secara tahunan (yoy) 4,82 persen.

“Dibandingkan Mei tahun lalu yang tercatat deflasi, inflasi Mei 2014 sedikit lebih tinggi. Informasi ini bisa menjadi antisipasi pemerintah, karena ini menjelang puasa dan memasuki tahun ajaran baru,” jelas Suryamin.

Ia menjelaskan kelompok bahan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menyumbang inflasi 0,35 persen, kelompok kesehatan 0,41 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,23 persen.

Inflasi lain disumbangkan oleh kelompok sandang 0,12 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,21 persen serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,07 persen. Hanya kelompok bahan makanan yang tercatat deflasi pada Mei yaitu 0,15 persen.

Dari 82 kota IHK, BPS mencatat sebanyak 67 kota mengalami inflasi dan hanya 15 kota yang mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pematang Siantar 1,61 persen dan terendah di Tegal serta Kupang 0,01 persen.

Sementara, kota yang mengalami deflasi adalah Pangkal Pinang yang mengalami deflasi tinggi 1,27 persen dan Palembang yang terkena deflasi rendah 0,03 persen.

“Hampir seluruh kota di Jawa mengalami inflasi dibawah 0,5 persen dan relatif terkendali. Namun pengendalian inflasi diluar Jawa belum merata. Inflasi seharusnya dikendalikan di seluruh kota di Indonesia,” pungkas Suryamin (*)

 

Editor: Ella Syafputri

Jakarta (ANTARA News) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2014 sebesar 0,16 persen, dipicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Kelompok bahan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menjadi salah satu penyumbang inflasi tinggi, pada Mei,” kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Senin.

Dengan demikian, inflasi tahun kalender Januari-Mei 2014 tercatat sebesar 1,56 persen, dan secara tahunan (yoy) mencapai 7,32 persen.

 

Editor: Suryanto

JUM’AT, 02 MEI 2014 | 09:34 WIB
April Deflasi 0,02 Persen

TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik melaporkan sepanjang bulan April 2014 terjadi deflasi (penurunan harga rata-rata) sebesar 0,02 persen. Angka ini lebih rendah ketimbang inflasi (kenaikan harga rata-rata) sebesar 0,08 persen yang terjadi pada bulan Maret.

“Dari 82 kota, tercatat 39 kota mengalami deflasi dan 43 kota inflasi,” ujar Kepala BPS Suryamin, dalam konferensi pers, di kantornya, Jumat, 2 Mei 2014.

Dia menjelaskan, deflasi terjadi karena penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks beberapa kelompok pengeluaran, yaitu kelompok​ bahan pangan 1,09 persen. Selain itu, terjadi penurunan harga sandang seperti emas.

“Secara internasional harga emas memang menurun,” kata dia.

Sementara itu, kenaikan harga yang mendorong inflasi terlihat dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,43 persen. Kenaikan harga terbesar kedua ditunjukkan oleh kelompok kesehatan dengan inflasi 0,41 persen dan diikuti oleh kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan inflasi 0,24 persen.

Dengan begitu, kata Suryamin, tingkat inflasi tahun kalender sepanjang Januari-April 2014 tercatat sebesar 1,39 persen. Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (April 2014 – April 2013) sebesar 7,25 persen.

Komponen inti pada April 2014 mengalami inflasi 0,24 persen dan untuk periode Januari-April inflasi komponen inti sebesar 1,39 persen. Adapun tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (April 2014 – April 2013) sebesar 4,66 persen.

​AYU PRIMA SANDI​