BI RATE ooooops, 7 day reverse repo RATE

rose KECIL

Liputan6.com, Jakarta – Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan. Ini artinya BI telah menahan BI 7-Day Reserve Repo Rate sebesar 4,75 persen selama 10 bulan terakhir.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengatakan, langkah BI yang menahan suku bunga acuannya merupakan langkah yang tepat. Pasalnya, saat ini ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang baik sehingga BI dinilai tak perlu melakukan perubahan pada suku bunga acuan.

“Saya rasa kan Indonesia kan cukup bagus, tidak ada alasan untuk menaikkan suku bunga pada saat ini. Saya rasa itu keputusan yang tepat bahwa suku bunga ditahan tetap,” ujar dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/7/2017).

Menurut Wimboh, keputusan yang diambil BI ini akan menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Terlebih, saat ini suku bunga kredit perbankan juga mulai dipatok di bawah 10 persen.

BACA JUGA
BI Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75 Persen dalam 10 Bulan
Inflasi Terkendali, Suku Bunga Acuan BI Bakal Tetap
Suku Bunga Acuan BI Masih Bisa Redam Efek The Fed
‎”Ya coba kita lihat situasinya, kan sekarang suku bunga kan sudah relatif baik, sudah mulai single digit di beberapa bank. Sudah tinggal kita tunggu,” kata dia.

 

Namun demikian, lanjut dia, pekerjaan rumah (PR) yang harus dilakukan saat ini yaitu bagaimana mendorong pertumbuhan kredit. Dengan 7-Day Reserve Repo Rate yang tetap ini diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan kredit tersebut.

“Tapi pertumbuhan perkreditan juga belum begitu kelihatan meningkat cukup tajam. Masih sama dengan tahun lalu. Jadi mudah-mudahan ini kita bisa dengan suku bunga tidak naik ini masyarakat bisa,” tandas dia.

Untuk diketahui, Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan. Langkah BI menahan suku bunga ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Arbonas Hutabarat menjelaskan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada 19-20 Juli memutuskan untuk kembali menahan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75 persen.

Sedangkan untuk suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4 persen dan Lending Facility tetap sebesar 5,50 persen. “Keputusan ini berlaku efektif sejak 21 Juli 2017,” jelas dia di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (20/7/2017).

Ia melanjutkan keputusan dewan gubernur BI tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendorong proses pemulihan perekonomian domestik.

lol

JAKARTA, KOMPAS.com – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin.

Dengan demikian, BI 7 Day Reverse Repo Rate turun dari 5,25 persen menjadi 5 persen.

“Rapat Dewan Gubernur BI pada tanggal 21 dan 22 September 2016 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin dari 5,25 persen menjadi 5 persen,” kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Agus menjelaskan, selain menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate, bank sentral juga menurunkan suku bunga deposit facility rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen. Sementara itu, suku bunga lending facility rate juga diturunkan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Agus menyatakan, penyesuaian tersebut berlaku efektif sejak 23 September 2016. Menurut dia, pelonggaran kebijakan moneter berupa penurunan BI 7 Day Reverse Repo Rate tersebut sejalan dengan berlanjutnya stabilitas makroekonomi.

“Tercermin dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali, dan nilai tukar yang relative stabil,” ungkap Agus.

Menurut Agus, pelonggaran kebijakan moneter tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya mendorong permintaan domestik guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan terus menjaga stabilitas.

Pelonggaran kebijakan moneter tersebut pun akan memperkuat kebijakan yang ditempuh pemerintah melalui percepatan reformasi struktural.

lol

JAKARTA . Keputusan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK menetapkan formula capping bunga deposito sementara ini sama dinilai ekonom sebagai keputusan tepat.

Belum lama ini, OJK mengemukakan kendatipun suku bunga kebijakan berubah menjadi 7-day (Reverse) Repo Rate namun formula capping bunga deposito belum berubah. Otoritas menghindari perubahan terlalu mendasar dalam penetapan bunga deposito bank.

Ekonom Universitas Indonesia Destry Damayanti berpendapat selayaknya capping bunga deposito yang ada sekarang tetap mengacu kepada formula suku bunga operasi moneter 12 bulan alias BI Rate bukan tujuh hari seperti yang dianut dala 7-day Repo Rate.

“7-day Repo Rate itu suku bunga operasi moneternya lebih short, sedangkan capping deposito harusnya mengacu ke yang sifatnya jangka menengah seperti 12 bulan,” tuturnya kepada Bisnis.com, Kamis (25/8/2016).

OJK baru-baru ini menyampaikan penetapan formula capping bunga deposito yang mengacu kepada suku bunga operasi moneter 12 bulan akan dipertahankan setidaknya sampai akhir tahun. Setelah itu barulah otoritas akan mengkaji ulang guna mencari formulasi yang pas.

Kebijakan soal capping bunga deposito dirilis OJK pada Maret 2016. Peraturan ini menetapkan bank umum kegiatan usaha (BUKU) III batas atas bunga depositonya sebesar BI Rate plus 100 basis poin, sedangkan BUKU IV sebesar BI Rate plus 75 basis poin.

Pada saat OJK mensupervisi capping bunga deposito tersebut acuannya masih BI Rate. Tapi sekarang suku bunga kebijakan berubah menjadi 7-day Repo Rate. Bank Indonesia mulai memberlakukannya terhitung sejak 19 Agustus 2016.

Dengan demikian, ketentuan capping saat ini masih menggunakan formula suku bunga operasi moneter 12 bulan yang sebesar 6,5%, yaitu menjadi 7,25% untuk BUKU IV dan 7,5% untuk BUKU III. Adapun saat ini, 7 day reverse repo rate tercatat sebesar 5,25%.

OJK bisa merujuk ke 7-day Repo Rate, tetapi tidak menjadikan ini satu-satunya patokan karena Repo Rate lebih short dengan melihat likuiditas keseharian, sedangkan OJK harus melihat likuiditas keseluruhan, ucap  Destry.

http://finansial.bisnis.com/read/20160825/90/578387/belum-ubah-capping-deposito-langkah-ojk-dinilai-tepat
Sumber : BISNIS.COM

lol

Bank Indonesia (BI) meyakini kebijakan 7 Day Repo Rate dapat memangkas suku bunga kredit perbankan dan suku bunga deposito. Dibandingkan dengan BI Rate, reformulasi kebijakan ini diyakini akan berdampak langsung kepada penekanan suku bunga perbankan karena dengan tenor 7 hari yang juga menjadi favorit perbankan untuk menyimpan kelebihan dana di Bank Indonesia.

Lantas, bagaimana dengan suku bunga LPS (Lembaga Penjamin Simpanan)?

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti, mengatakan, LPS belum dapat dipastikan untuk menurunkan suku bunga atau LPS Rate. Seperti biasanya, LPS masih ingin melihat terlebih dahulu respons pasar terhadap reformulasi kebijakan moneter ini.

“LPS Rate kalau market turun dia akan turun, kita akan lihat lagi,” kata Destry di Kantor Pusat BI, Jakarta, Senin (22/8/2016).

Tak hanya LPS Rate, suku bunga kredit perbankan juga diperkirakan butuh waktu lebih lama untuk turun apabila dibandingkan suku bunga deposito. Penyebabnya adalah karena butuh waktu lebih lama bagi perbankan untuk melakukan rapat koordinasi sebelum menurunkan suku bunga kredit.

“Kredit tidak akan langsung turun, karena ada rapat koordinasi yang harus dilakukan untuk penurunan suku bunga kredit. Harus rapat dulu, jadi tidak secepat deposito turunnya,” tutup Destry.

http://economy.okezone.com/read/2016/08/22/320/1469868/7-day-repo-rate-bagaimana-dengan-suku-bunga-lps
Sumber : OKEZONE.COM

dollar small

 

Jakarta detik-Bank Indonesia (BI) mulai hari ini mengubah suku bunga acuannya, dari BI Rate menjadi 7 Days Reverse Repo Rate. Bunga acuan ini ditahan tetap 5,25%.

Demikian disampaikan oleh Gubernur BI, Agus Martowardojo, dalam keterangannya di kantor BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (19/8/2016).

“Rapat dewan gubernur Bank Indonesia hari ini memutuskan mempertahankan 7 days (reverse) repo rate 5,25%,” kata Agus.

Sementara untuk suku bunga deposit facility dipertahankan 4,5% dan lending facility diturunkan dari 7% menjadi 6%.

Agus mengatakan, kondisi inflasi hingga akhir tahun akan tetap sesuai target yang sebesar 4% plus minus 1%. “Inflasi cukup terkendali,” ujar Agus.

(wdl/wdl)

dollar small

Liputan6.com, Jakarta – Penerapan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang baru yakni 7 day reverse repo rate (7DRR) membuat suku bunga perbankan menjadi lebih mencerminkan kondisi pasar. Sebelumnya, BI menggunakan BI rate.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, BI rate sendiri mencerminkan suku bunga dengan tenor 12 bulan. Sementara 7 DRR mencerminkan suku bunga dengan tenor yang relatif pendek. Padahal, transaksi antar bank sebagian besar jangka pendek.

“Likuiditas pasar uang antar bank memang ada tenor jangka pendek, over night sampai satu bulan,” jelas dia Gedung BI, Jakarta, Jumat (19/8/2016).

Dia mengatakan, dengan ‎pemberlakuan acuan ini maka suku pasar uang antar bank akan semakin mencerminkan kondisi pasar. Dia bilang hal tersebut nanti berpengaruh pada suku bunga perbankan.

“Sehingga diharapkan memakai suku bunga tenor jangka pendek itu betul-betul mencerminkan realitas di pasar uang. Kemudian suku bunga kebijakan tersebut transmisi  suku bunga deposit dan kredit‎,” ungkap dia.

Dia mengatakan, 7 DRR  ‎sendiri merupakan contoh terbaik yang digunakan di hampir semua bank sentral di dunia.

“Memakai 7DRR itu sejalan best practise bahwa dari suku bunga kebijakan bank sentral di seluruh dunia harus bisa mencerminkan realitas di pasar uang jangka pendek. Karena kemudian lebih cepat terefleksi transmisinya ke suku bunga perbankan,” jelas dia.

Mirza mengatakan, sampai Agustus bunga deposito perbankan telah turun 91 basis poin dan suku bunga kredit 47 basis poin. Kemudian, BI rate telah turun 100 basis poin.

‎”Kalau bagi per segmen kredit modal kerja 68 basis poin, investasi 67 basis poin, konsumsi 6 basis poin. Sebenarnya modal kerja dan kredit investasi sudah turun lebih 47 basis poin,” ujar dia. (Amd/Ahm)

 lol

bisnis.com: Hal itu disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla menanggapi pemberlakukan 7-day Reverse Repo Rate sebagai suku bunga acuan mulai hari ini, Jumat (19/8/2016). Saat ini, BI Rate bertengger di 6,5%, sedangkan 7-day Reverse Repo Rate berada di level 5,25%.

“Angka 5,25% itu memang target yang kami pakai, sehingga target berikutnya untuk kredit umum semua harus single digit,” ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Jumat(19/8/2016).

Pada Juni 2017, atau sekitar 10 bulan dari sekarang, pemerintah menargetkan bunga kredit bisa berada di level 7% atau lebih rendah dari realisasi saat ini. Tak hanya itu, bunga deposito di lembaga pemerintah otomatis yang diberlakukan akan berkisar tak jauh berbeda dengan level 7-day Reverse Repo Rate.

Penurunan tingkat bunga kredit, lanjutnya, merupakan salah satu cara untuk memperbaiki ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah, terutama melalui kegiatan usaha kecil menengah (UKM).

Menurut dia, pihak yang paling dirugikan dan menjadi korban dari tingkat bunga kredit yang tinggi justru adalah UKM sekaligus masyarakat bawah, bukan korporasi atau masyarakat kelas atas.

Bahkan, penyebab tingginya gini ratio atau tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia ialah kegiatan UKM yang kurang berkembang karena terbebani oleh besarnya biaya bunga.

Seperti diketahui, perubahan suku bunga acuan itu merupakan hasil kesepakatan antara Bank Indonesia, pemerintah, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2016.

Bank Sentral memperkenalkan BI 7-Day Repo Rate agar kebijakan suku bunga dapat secara cepat memengaruhi pasar uang, perbankan, dan sektor riil. Instrumen baru itu sebagai acuan yang baru memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, serta mendorong pendalaman pasar keuangan.

lol

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) akan meresmikan penggunaan suku bunga acuan baru dari sebelumnya BI rate menjadi BI 7 Day Repo Rate. Meski demikian, keputusan penggunaan BI 7 Day Repo Rate masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan diumumkan pada Jumat 19 Agustus.

“Pasti tidak mulai pagi, pasti setelah diumumkan oleh Dewan Gubernur. Tanggal 19 Agustus akan disetujui dan berlaku efektif, tapi kan transaksinya pasti sudah sore, baru besoknya akan jalan,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo, ditemui di Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).

Dalam RDG nanti akan diputuskan jika BI rate tidak digunakan lagi dan berganti menjadi BI 7 Day Repo Rate. Menurutnya hal ini tidak akan menimbulkan masalah karena BI telah mengumumkan penggunaan BI 7 Day Repo Rate sejak pengumuman RDG di 15 April lalu.

“Pada saat diumumkan oleh Dewan Gubernur harusnya tidak ada masalah karena itu tidak diteruskannya BI rate, yang BI 7 Day Repo Rate itu masih jalan. Jadi BI 7 Day Repo Rate itu kalau besok diputus, nanti akan berlaku 19 Agustus, akan berlakunya tentu tanggal 19 Agustus, tapi sehari setelah itu,” jelas dia.

Perubahan instrumen operasi kebijakan moneter ini, lanjut Agus, tak akan mengubah stance kebijakan yang diambil oleh bank sentral. Namun demikian, dirinya tidak menutup kemungkinan jika dalam RDG nanti diputuskan adanya perubahan stance kebijakan oleh BI.

“Terapi ini tidak mengubah stance BI, kecuali akan disebutkan secara khusus bahwa stance itu berubah. Jadi kalau seandainya sekarang ini yang 12 bulan adalah 6,5 persen yang tujuh hari adalah 5,25 persen maka stance kebijakannya sama. Tapi kalau nanti diumumkan secara khusus stance kebijakannya berubah, ya berarti berubah,” pungkasnya.

http://ekonomi.metrotvnews.com/makro/3NOYv6mk-penerapan-bi-7-day-repo-rate-tunggu-keputusan-rdg
Sumber : METROTVNEWS.COM

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0026

JAKARTA KONTAN. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akhir bulan ini akan memutuskan pergantian kebijakan suku bunga yang baru menjadi BI 7-day reverse repo rate dari sebelumnya BI rate. Kebijakan yang baru ini diyakini lebih cepat transmisinya karena lebih mencerminkan kondisi pasar.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, efektivitas kebijakan ini akan tercermin pada suku bunga deposito yang dilanjutkan dengan suku bunga kredit. Meski demikian diakuinya, kecepatan transmisi kebijakan tersebut tergantung perilaku suku bunga deposito, terutama suku bunga deposito berjangka satu bulan. Selama ini suku bunga deposito berjangka satu bulan mengikuti besaran BI rate.

“Transmisi kebijakan moneter itu teorinya dari tenor jangka pendek bisa mempengaruhi suku bunga perbankan untuk deposito berjangka satu bulan yang sepertinya sulit berubah perilakunya,” kata Mirza, Senin (15/8).

Menurut Mirza, penurunan suku bunga deposito berjangka satu bulan yang lebih dalam dipengaruhi oleh keyakinan perbankan untuk tidak khawatir ditinggal para deposan karena menurunkan suku bunga deposito.

Tak hanya itu, penurunan bunga deposito juga akan tergantung pada faktor lainnya, seperti suku bunga surat berharga negara (SBN), dollar Amerika Serikat (AS), inflasi, atau suku bunga sukuk ritel. “Kami tidak bisa mengendalikan mekanisme pasar,” tambah Mirza.

Namun menurut Mirza, perbankan tidak perlu mengandalkan penerimaan deposito yang merupakan sumber dana mahal. Menurutnya, perbankan dapat memanfaatkan fasilitas kelonggaran untuk menikmati fasilitas lainnya dari fasilitas penyediaan dana oleh BI.

Sebab, suku bunga penyediaan dana rupiah atau lending facility kepada perbankan dari BI atau lending facility akan dijaga maksimal 75 basis points (bps) dari 7-day reverse repo rate. Selain itu, BI juga akan menjaga suku bunga penempatan dana rupiah atau deposit facility oleh perbankan di BI di bawah 75 basis poin dari 7-day reverse repo rate.

Ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan, saat ini perbankan mulai percaya diri untuk menurunkan suku bunga depositonya. Sebab, pemerintah telah memberikan kepastian dengan melakukan pemangkasan APBN-P 2016.

Dengan pemangkasan tersebut, perbankan tidak khawatir dengan jebolnya anggaran pemerintah yang berpotensi mengganggu likuiditas perbankan. “Dengan tambahan penerbitan SBN Rp 17 triliun pengaruhnya kecil ke suku bunga SBN,” katanya.

lol

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s