BI RATE ooooops, 7 day reverse repo RATE

rose KECIL

Liputan6.com, Jakarta – Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan. Ini artinya BI telah menahan BI 7-Day Reserve Repo Rate sebesar 4,75 persen selama 10 bulan terakhir.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengatakan, langkah BI yang menahan suku bunga acuannya merupakan langkah yang tepat. Pasalnya, saat ini ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang baik sehingga BI dinilai tak perlu melakukan perubahan pada suku bunga acuan.

“Saya rasa kan Indonesia kan cukup bagus, tidak ada alasan untuk menaikkan suku bunga pada saat ini. Saya rasa itu keputusan yang tepat bahwa suku bunga ditahan tetap,” ujar dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/7/2017).

Menurut Wimboh, keputusan yang diambil BI ini akan menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Terlebih, saat ini suku bunga kredit perbankan juga mulai dipatok di bawah 10 persen.

BACA JUGA
BI Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75 Persen dalam 10 Bulan
Inflasi Terkendali, Suku Bunga Acuan BI Bakal Tetap
Suku Bunga Acuan BI Masih Bisa Redam Efek The Fed
‎”Ya coba kita lihat situasinya, kan sekarang suku bunga kan sudah relatif baik, sudah mulai single digit di beberapa bank. Sudah tinggal kita tunggu,” kata dia.

 

Namun demikian, lanjut dia, pekerjaan rumah (PR) yang harus dilakukan saat ini yaitu bagaimana mendorong pertumbuhan kredit. Dengan 7-Day Reserve Repo Rate yang tetap ini diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan kredit tersebut.

“Tapi pertumbuhan perkreditan juga belum begitu kelihatan meningkat cukup tajam. Masih sama dengan tahun lalu. Jadi mudah-mudahan ini kita bisa dengan suku bunga tidak naik ini masyarakat bisa,” tandas dia.

Untuk diketahui, Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan. Langkah BI menahan suku bunga ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Arbonas Hutabarat menjelaskan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada 19-20 Juli memutuskan untuk kembali menahan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75 persen.

Sedangkan untuk suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4 persen dan Lending Facility tetap sebesar 5,50 persen. “Keputusan ini berlaku efektif sejak 21 Juli 2017,” jelas dia di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (20/7/2017).

Ia melanjutkan keputusan dewan gubernur BI tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendorong proses pemulihan perekonomian domestik.

lol

JAKARTA, KOMPAS.com – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin.

Dengan demikian, BI 7 Day Reverse Repo Rate turun dari 5,25 persen menjadi 5 persen.

“Rapat Dewan Gubernur BI pada tanggal 21 dan 22 September 2016 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin dari 5,25 persen menjadi 5 persen,” kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Agus menjelaskan, selain menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate, bank sentral juga menurunkan suku bunga deposit facility rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen. Sementara itu, suku bunga lending facility rate juga diturunkan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Agus menyatakan, penyesuaian tersebut berlaku efektif sejak 23 September 2016. Menurut dia, pelonggaran kebijakan moneter berupa penurunan BI 7 Day Reverse Repo Rate tersebut sejalan dengan berlanjutnya stabilitas makroekonomi.

“Tercermin dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali, dan nilai tukar yang relative stabil,” ungkap Agus.

Menurut Agus, pelonggaran kebijakan moneter tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya mendorong permintaan domestik guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan terus menjaga stabilitas.

Pelonggaran kebijakan moneter tersebut pun akan memperkuat kebijakan yang ditempuh pemerintah melalui percepatan reformasi struktural.

lol

JAKARTA . Keputusan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK menetapkan formula capping bunga deposito sementara ini sama dinilai ekonom sebagai keputusan tepat.

Belum lama ini, OJK mengemukakan kendatipun suku bunga kebijakan berubah menjadi 7-day (Reverse) Repo Rate namun formula capping bunga deposito belum berubah. Otoritas menghindari perubahan terlalu mendasar dalam penetapan bunga deposito bank.

Ekonom Universitas Indonesia Destry Damayanti berpendapat selayaknya capping bunga deposito yang ada sekarang tetap mengacu kepada formula suku bunga operasi moneter 12 bulan alias BI Rate bukan tujuh hari seperti yang dianut dala 7-day Repo Rate.

“7-day Repo Rate itu suku bunga operasi moneternya lebih short, sedangkan capping deposito harusnya mengacu ke yang sifatnya jangka menengah seperti 12 bulan,” tuturnya kepada Bisnis.com, Kamis (25/8/2016).

OJK baru-baru ini menyampaikan penetapan formula capping bunga deposito yang mengacu kepada suku bunga operasi moneter 12 bulan akan dipertahankan setidaknya sampai akhir tahun. Setelah itu barulah otoritas akan mengkaji ulang guna mencari formulasi yang pas.

Kebijakan soal capping bunga deposito dirilis OJK pada Maret 2016. Peraturan ini menetapkan bank umum kegiatan usaha (BUKU) III batas atas bunga depositonya sebesar BI Rate plus 100 basis poin, sedangkan BUKU IV sebesar BI Rate plus 75 basis poin.

Pada saat OJK mensupervisi capping bunga deposito tersebut acuannya masih BI Rate. Tapi sekarang suku bunga kebijakan berubah menjadi 7-day Repo Rate. Bank Indonesia mulai memberlakukannya terhitung sejak 19 Agustus 2016.

Dengan demikian, ketentuan capping saat ini masih menggunakan formula suku bunga operasi moneter 12 bulan yang sebesar 6,5%, yaitu menjadi 7,25% untuk BUKU IV dan 7,5% untuk BUKU III. Adapun saat ini, 7 day reverse repo rate tercatat sebesar 5,25%.

OJK bisa merujuk ke 7-day Repo Rate, tetapi tidak menjadikan ini satu-satunya patokan karena Repo Rate lebih short dengan melihat likuiditas keseharian, sedangkan OJK harus melihat likuiditas keseluruhan, ucap  Destry.

http://finansial.bisnis.com/read/20160825/90/578387/belum-ubah-capping-deposito-langkah-ojk-dinilai-tepat
Sumber : BISNIS.COM

lol

Bank Indonesia (BI) meyakini kebijakan 7 Day Repo Rate dapat memangkas suku bunga kredit perbankan dan suku bunga deposito. Dibandingkan dengan BI Rate, reformulasi kebijakan ini diyakini akan berdampak langsung kepada penekanan suku bunga perbankan karena dengan tenor 7 hari yang juga menjadi favorit perbankan untuk menyimpan kelebihan dana di Bank Indonesia.

Lantas, bagaimana dengan suku bunga LPS (Lembaga Penjamin Simpanan)?

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti, mengatakan, LPS belum dapat dipastikan untuk menurunkan suku bunga atau LPS Rate. Seperti biasanya, LPS masih ingin melihat terlebih dahulu respons pasar terhadap reformulasi kebijakan moneter ini.

“LPS Rate kalau market turun dia akan turun, kita akan lihat lagi,” kata Destry di Kantor Pusat BI, Jakarta, Senin (22/8/2016).

Tak hanya LPS Rate, suku bunga kredit perbankan juga diperkirakan butuh waktu lebih lama untuk turun apabila dibandingkan suku bunga deposito. Penyebabnya adalah karena butuh waktu lebih lama bagi perbankan untuk melakukan rapat koordinasi sebelum menurunkan suku bunga kredit.

“Kredit tidak akan langsung turun, karena ada rapat koordinasi yang harus dilakukan untuk penurunan suku bunga kredit. Harus rapat dulu, jadi tidak secepat deposito turunnya,” tutup Destry.

http://economy.okezone.com/read/2016/08/22/320/1469868/7-day-repo-rate-bagaimana-dengan-suku-bunga-lps
Sumber : OKEZONE.COM

dollar small

 

Jakarta detik-Bank Indonesia (BI) mulai hari ini mengubah suku bunga acuannya, dari BI Rate menjadi 7 Days Reverse Repo Rate. Bunga acuan ini ditahan tetap 5,25%.

Demikian disampaikan oleh Gubernur BI, Agus Martowardojo, dalam keterangannya di kantor BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (19/8/2016).

“Rapat dewan gubernur Bank Indonesia hari ini memutuskan mempertahankan 7 days (reverse) repo rate 5,25%,” kata Agus.

Sementara untuk suku bunga deposit facility dipertahankan 4,5% dan lending facility diturunkan dari 7% menjadi 6%.

Agus mengatakan, kondisi inflasi hingga akhir tahun akan tetap sesuai target yang sebesar 4% plus minus 1%. “Inflasi cukup terkendali,” ujar Agus.

(wdl/wdl)

dollar small

Liputan6.com, Jakarta – Penerapan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang baru yakni 7 day reverse repo rate (7DRR) membuat suku bunga perbankan menjadi lebih mencerminkan kondisi pasar. Sebelumnya, BI menggunakan BI rate.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, BI rate sendiri mencerminkan suku bunga dengan tenor 12 bulan. Sementara 7 DRR mencerminkan suku bunga dengan tenor yang relatif pendek. Padahal, transaksi antar bank sebagian besar jangka pendek.

“Likuiditas pasar uang antar bank memang ada tenor jangka pendek, over night sampai satu bulan,” jelas dia Gedung BI, Jakarta, Jumat (19/8/2016).

Dia mengatakan, dengan ‎pemberlakuan acuan ini maka suku pasar uang antar bank akan semakin mencerminkan kondisi pasar. Dia bilang hal tersebut nanti berpengaruh pada suku bunga perbankan.

“Sehingga diharapkan memakai suku bunga tenor jangka pendek itu betul-betul mencerminkan realitas di pasar uang. Kemudian suku bunga kebijakan tersebut transmisi  suku bunga deposit dan kredit‎,” ungkap dia.

Dia mengatakan, 7 DRR  ‎sendiri merupakan contoh terbaik yang digunakan di hampir semua bank sentral di dunia.

“Memakai 7DRR itu sejalan best practise bahwa dari suku bunga kebijakan bank sentral di seluruh dunia harus bisa mencerminkan realitas di pasar uang jangka pendek. Karena kemudian lebih cepat terefleksi transmisinya ke suku bunga perbankan,” jelas dia.

Mirza mengatakan, sampai Agustus bunga deposito perbankan telah turun 91 basis poin dan suku bunga kredit 47 basis poin. Kemudian, BI rate telah turun 100 basis poin.

‎”Kalau bagi per segmen kredit modal kerja 68 basis poin, investasi 67 basis poin, konsumsi 6 basis poin. Sebenarnya modal kerja dan kredit investasi sudah turun lebih 47 basis poin,” ujar dia. (Amd/Ahm)

 lol

bisnis.com: Hal itu disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla menanggapi pemberlakukan 7-day Reverse Repo Rate sebagai suku bunga acuan mulai hari ini, Jumat (19/8/2016). Saat ini, BI Rate bertengger di 6,5%, sedangkan 7-day Reverse Repo Rate berada di level 5,25%.

“Angka 5,25% itu memang target yang kami pakai, sehingga target berikutnya untuk kredit umum semua harus single digit,” ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Jumat(19/8/2016).

Pada Juni 2017, atau sekitar 10 bulan dari sekarang, pemerintah menargetkan bunga kredit bisa berada di level 7% atau lebih rendah dari realisasi saat ini. Tak hanya itu, bunga deposito di lembaga pemerintah otomatis yang diberlakukan akan berkisar tak jauh berbeda dengan level 7-day Reverse Repo Rate.

Penurunan tingkat bunga kredit, lanjutnya, merupakan salah satu cara untuk memperbaiki ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah, terutama melalui kegiatan usaha kecil menengah (UKM).

Menurut dia, pihak yang paling dirugikan dan menjadi korban dari tingkat bunga kredit yang tinggi justru adalah UKM sekaligus masyarakat bawah, bukan korporasi atau masyarakat kelas atas.

Bahkan, penyebab tingginya gini ratio atau tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia ialah kegiatan UKM yang kurang berkembang karena terbebani oleh besarnya biaya bunga.

Seperti diketahui, perubahan suku bunga acuan itu merupakan hasil kesepakatan antara Bank Indonesia, pemerintah, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2016.

Bank Sentral memperkenalkan BI 7-Day Repo Rate agar kebijakan suku bunga dapat secara cepat memengaruhi pasar uang, perbankan, dan sektor riil. Instrumen baru itu sebagai acuan yang baru memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, serta mendorong pendalaman pasar keuangan.

lol

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) akan meresmikan penggunaan suku bunga acuan baru dari sebelumnya BI rate menjadi BI 7 Day Repo Rate. Meski demikian, keputusan penggunaan BI 7 Day Repo Rate masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan diumumkan pada Jumat 19 Agustus.

“Pasti tidak mulai pagi, pasti setelah diumumkan oleh Dewan Gubernur. Tanggal 19 Agustus akan disetujui dan berlaku efektif, tapi kan transaksinya pasti sudah sore, baru besoknya akan jalan,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo, ditemui di Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).

Dalam RDG nanti akan diputuskan jika BI rate tidak digunakan lagi dan berganti menjadi BI 7 Day Repo Rate. Menurutnya hal ini tidak akan menimbulkan masalah karena BI telah mengumumkan penggunaan BI 7 Day Repo Rate sejak pengumuman RDG di 15 April lalu.

“Pada saat diumumkan oleh Dewan Gubernur harusnya tidak ada masalah karena itu tidak diteruskannya BI rate, yang BI 7 Day Repo Rate itu masih jalan. Jadi BI 7 Day Repo Rate itu kalau besok diputus, nanti akan berlaku 19 Agustus, akan berlakunya tentu tanggal 19 Agustus, tapi sehari setelah itu,” jelas dia.

Perubahan instrumen operasi kebijakan moneter ini, lanjut Agus, tak akan mengubah stance kebijakan yang diambil oleh bank sentral. Namun demikian, dirinya tidak menutup kemungkinan jika dalam RDG nanti diputuskan adanya perubahan stance kebijakan oleh BI.

“Terapi ini tidak mengubah stance BI, kecuali akan disebutkan secara khusus bahwa stance itu berubah. Jadi kalau seandainya sekarang ini yang 12 bulan adalah 6,5 persen yang tujuh hari adalah 5,25 persen maka stance kebijakannya sama. Tapi kalau nanti diumumkan secara khusus stance kebijakannya berubah, ya berarti berubah,” pungkasnya.

http://ekonomi.metrotvnews.com/makro/3NOYv6mk-penerapan-bi-7-day-repo-rate-tunggu-keputusan-rdg
Sumber : METROTVNEWS.COM

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0026

JAKARTA KONTAN. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akhir bulan ini akan memutuskan pergantian kebijakan suku bunga yang baru menjadi BI 7-day reverse repo rate dari sebelumnya BI rate. Kebijakan yang baru ini diyakini lebih cepat transmisinya karena lebih mencerminkan kondisi pasar.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, efektivitas kebijakan ini akan tercermin pada suku bunga deposito yang dilanjutkan dengan suku bunga kredit. Meski demikian diakuinya, kecepatan transmisi kebijakan tersebut tergantung perilaku suku bunga deposito, terutama suku bunga deposito berjangka satu bulan. Selama ini suku bunga deposito berjangka satu bulan mengikuti besaran BI rate.

“Transmisi kebijakan moneter itu teorinya dari tenor jangka pendek bisa mempengaruhi suku bunga perbankan untuk deposito berjangka satu bulan yang sepertinya sulit berubah perilakunya,” kata Mirza, Senin (15/8).

Menurut Mirza, penurunan suku bunga deposito berjangka satu bulan yang lebih dalam dipengaruhi oleh keyakinan perbankan untuk tidak khawatir ditinggal para deposan karena menurunkan suku bunga deposito.

Tak hanya itu, penurunan bunga deposito juga akan tergantung pada faktor lainnya, seperti suku bunga surat berharga negara (SBN), dollar Amerika Serikat (AS), inflasi, atau suku bunga sukuk ritel. “Kami tidak bisa mengendalikan mekanisme pasar,” tambah Mirza.

Namun menurut Mirza, perbankan tidak perlu mengandalkan penerimaan deposito yang merupakan sumber dana mahal. Menurutnya, perbankan dapat memanfaatkan fasilitas kelonggaran untuk menikmati fasilitas lainnya dari fasilitas penyediaan dana oleh BI.

Sebab, suku bunga penyediaan dana rupiah atau lending facility kepada perbankan dari BI atau lending facility akan dijaga maksimal 75 basis points (bps) dari 7-day reverse repo rate. Selain itu, BI juga akan menjaga suku bunga penempatan dana rupiah atau deposit facility oleh perbankan di BI di bawah 75 basis poin dari 7-day reverse repo rate.

Ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan, saat ini perbankan mulai percaya diri untuk menurunkan suku bunga depositonya. Sebab, pemerintah telah memberikan kepastian dengan melakukan pemangkasan APBN-P 2016.

Dengan pemangkasan tersebut, perbankan tidak khawatir dengan jebolnya anggaran pemerintah yang berpotensi mengganggu likuiditas perbankan. “Dengan tambahan penerbitan SBN Rp 17 triliun pengaruhnya kecil ke suku bunga SBN,” katanya.

lol

cadaaa($127.76 M)AAngaN dev1$4 … 080817

 

 

 

bird

Jakarta beritasatu-Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen menyebutkan, kenaikan suku bunga akan dilakukan pada waktu yang tepat dalam waktu dekat. Yellen di depan Kongres menyebutkan terlalu riskan untuk membiarkan kenaikan suku bunga atau Federal Fund Rate (FFR) dalam waktu yang terlalu lama.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Ekonom Senior dari Kenta Institut, Eric Sugandi menyarankan, Bank Indonesa (BI) untuk memupuk cadangan devisa sebisa mungkin, dan lakukan intervensi terbatas untuk memperkecil volatilitas rupiah.

“Disisi lain, pemerintah harus menjaga defisit APBN agar tidak membengkak agar investor portofolio asing tetap punya persepsi positif terhadap kemampuan pemerintah bayar utang SBN,” kata Eric kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (18/11).

Menurut dia, secara fundamental, ekonomi Indonesia tidak jelek. Hal ini terlihat dari inflasi dan cadangan devisia terkendali, begitupula dengan Growth Domestic Product (GDP) tidak jelek di tengah lemahnya harga komoditas energi.

“Pengaruh dari kenaikan FFR di US terhadap ekspor impor Indonesia ditrasmisikan melalui jalur nilai tukar rupiah. saat ini rupiah undervalued dari nilai par fundamentalnya, hitungan saya di 12.800-13.300 per USD,” katanya.

Untuk ekspor migas, lanjut dia, dampak positif pelemahan rupiah terbatas karena harga komoditas masih tertekan.

Sedangkan untuk ekspor nonmigas, bisa bantu namun tergantung demand dari negara tujuan utama ekspor indonesia. Nilai tukar rupiah yang melemah bisa menekan impor Indonesia.

“Ada kemungkinan current account deficit kita bisa membaik (mengecil) jika ekspor nonmigas meningkat dan pertumbuhan impor melambat,” katanya.

Untuk menghadapi aliran dana keluar, Eric mengatakan, Indonesia tidak bisa melakukan capital control karena ada UU 24/1999 tentang lalu lintas devisa bebas.

“Yang bisa dilakukan pemerintah bersama BI, OJK, dan LPS adalah jaga ketahanan dan stabilitas sistem finansial agar investor tetap tenang,” ujarnya.

Menurut dia, Indonesia harus manfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah ini untuk genjot ekspor nonmigas. Namun kinerja ekspor nonmigas bergantung juga pada demand dari negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia.

 

 

Imam Suhartadi/IS

Investor Daily

ets-small

JAKARTA kontan. Posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia akhir Juli 2017 tercatat US$ 127,76 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2017 yang sebesar US$ 123,09 miliar. Posisi ini kembali menjadi posisi tertinggi cadev Indonesia sepanjang masa.

Bank Indonesia menyatakan, peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerbitan global bonds pemerintah baik melalui mata uang dollar Amerika Serikat (AS) dan euro, penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.

Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Tak hanya itu, posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2017 tersebut cukup untuk membiayai 9 bulan impor atau 8,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman dalam keterangan resmi, Senin (7/8).

lol

Merdeka.com – Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2017 sebesar USD 123,09 miliar. Angka ini turun dibandingkan dengan posisi akhir Mei 2017 yang sebesar USD 124,95 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara, mengatakan, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2017 tersebut masih kuat untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” ucap Tirta seperti dikutip dari laman resmi Bank Indonesia di Jakarta, Jumat (7/7).

Menurut Tirta, penurunan cadangan devisa terjadi untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valas perbankan dalam menghadapi libur panjang Lebaran. Bank Indonesia memandang penurunan cadangan devisa bersifat temporer mengingat kebutuhan perbankan tersebut hanya untuk berjaga-jaga.

Selain itu, prospek ekspor yang baik, optimisme terhadap perekonomian domestik yang tetap positif pasca pencapaian investment grade, dan kondisi pasar keuangan global yang kondusif akan semakin mendukung penguatan cadangan devisa untuk menjaga ketahanan sektor eksternal.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.” [idr]

lol

Jakarta – Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2017 tercatat US$ 123,09 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Mei 2017 yang sebesar US$124,95 miliar.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2017 tersebut masih kuat untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Demikianlah siaran pers Bank Indonesia (BI) yang dikutip detikFinance, Jumat (7/7/2017).

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Penurunan cadangan devisa pada Juni 2017 terutama untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valas perbankan dalam menghadapi libur panjang lebaran. Penurunan cadangan devisa bersifat temporer mengingat kebutuhan perbankan tersebut hanya untuk berjaga-jaga.

Selain itu, prospek ekspor yang baik, optimisme terhadap perekonomian domestik yang tetap positif pasca pencapaian investment grade, dan kondisi pasar keuangan global yang kondusif akan semakin mendukung penguatan cadangan devisa untuk menjaga ketahanan sektor eksternal. (mkj/hns)

lol

Jakarta detik- Cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$ 124,95 miliar per akhir Mei 2017 tercatat sebagai rekor tertinggi. Posisi tertinggi terakhir kalinya pernah diraih pada Agustus 2011.

“Cadangan devisa juga sekarang ini memegang rekor tertinggi. Karena rekor tertinggi terakhir Agustus 2011,” ungkap Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di kantornya, Jakarta, Jumat (9/6/2017).

Posisi cadangan devisa per akhir Mei 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Besarnya cadangan devisa, maka menjadi bukti daya tahan yang kuat pada perekonomian Indonesia. Terutama bila ada gejolak dari eksternal.

“Itu salah satu bentuk daya tahan kami. Nilai tukar juga stabil,” ujarnya.

Salah satu tantangan dalam waktu dekat adalah kemungkinan naiknya suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) oleh Bank Sentral Federal Reserve (The Fed). Dijadwalkan kenaikan terjadi pada pertengahan Juni.

“Kami akan jaga fundamental ekonomi kita. Kami lihat khususnya setelah Indonesia dapat investment grade dari Standard and Poor’s itu confident terhadap Indonesia terus terbangun,” tandasnya.

Baca juga: Naik Lagi, Cadangan Devisa RI Akhir Mei Jadi US$ 124,9 Miliar
(mkj/ang)

lol

JAKARTA kontan. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia akhir April 2017 sebesar US$ 123,2 miliar. Angka tersebut naik tipis sebesar US$ 1,4 miliar dibanding akhir Maret 2016 yang sebesar U$ 121,8 miliar.

Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Posisi cadev per akhir April 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadev itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, Senin (8/5).

lol

JAKARTA, KOMPAS.comBank Indonesia (BI) melaporkan, posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Maret 2017 tercatat sebesar 121,8 miliar dollar AS. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan posisi pada akhir Februari 2017 yang mencapai 121,8 miliar dollar AS.

Bank sentral menyebut, peningkatan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah, penerbitan global bonds pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.

“Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo,” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam pernyataan resmi, Jumat (7/4/2017).

Tirta menjelaskan, posisi cadangan devisa per akhir Maret 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, cadangan devisa itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” ungkap Tirta.

ets-small

Liputan6.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa (Cadev) Indonesia‎ pada akhir Februari 2017 naik sekitar US$ 3 miliar menjadi US$ 119,9 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara menjelaskan cadangan devisa Indonesia akhir Februari 2017 tercatat menjadi US$ 119,9 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Januari 2017 yang sebesar US$ 116,9 miliar.

“Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas,” kata Tirta, Selasa (7/3/2017).

Tirta menuturkan, penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Posisi cadangan devisa per akhir Februari 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (Yas)

lol

JAKARTA okezone – Bank Indonesia (BI) mencatatkan adanya kenaikan cadangan devisa pada akhir tahun lalu. Tercatat, cadangan devisa Indonesia pada 2016 mencapai USD116,4 miliar.

Dalam keterangan tertulisnya, BI memaparkan cadangan devisa Indonesia mengalami kenaikan USD4,9 miliar dibandingkan dengan posisi akhir November 2016 sebesar USD111,5 miliar.

Peningkatan tersebut dipengaruhi penerimaan cadangan devisa, antara lain berasal dari penerbitan global bonds dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan devisa migas, yang melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Posisi cadangan devisa per akhir Desember 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,8 bulan impor atau 8,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

BI pun menilai, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

(mrt)

lol

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia akhir November 2016 sebesar USD111,5 miliar. Posisi ini lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Oktober 2016 yang sebesar USD115,0 miliar.

Direktur Departemen Komunikasi BI Arbonas Hutabarat mengatakan, meskipun mengalami penurunan, posisi cadangan devisa per akhir November 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,5 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Cadangan devisa juga berada di atas standar kecukupan internasional sekira tiga bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut tetap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

“Penurunan cadangan devisa pada November 2016 terutama disebabkan oleh kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (7/12/2016).

Bank Indonesia memperkirakan bahwa penurunan cadangan devisa bersifat temporer, terutama didukung oleh optimisme terhadap perekonomian domestik yang tetap positif, kinerja ekspor yang membaik, dan perkembangan kondisi pasar keuangan global yang kembali kondusif. Bank Indonesia akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

(rai)

lol

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa per akhir Oktober 2016 sebesar US$ 115 miliar atau turun US$ 700 juta dibandingkan jumlah akhir September US$ 115,7 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, meskipun turun, dosis perubahan jumlah cadangan devisa tersebut relatif stabil.

Jumlah cadangan devisa per akhir Oktober 2016 tersebut, kata Tirta, cukup untuk membiayai 8,8 bulan impor atau 8,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Perkembangan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerimaan devisa seperti penerimaan pajak dan penerbitan Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas yang masih cukup untuk menutupi kebutuhan devisa antara lain untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo,” kata Tirta dalam keterangan resmi BI, Senin (7/11).

Bank sentral menilai, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Pada kesempatan terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan kondisi ekonomi domestik cukup kuat dan mampu menahan potensi arus dana keluar, meskipun ada tekanan dari dinamika politik domestik dan juga ketidakpastian ekonomi global.

Kokohnya ekonomi domestik, kata Perry, ditandai dengan modal asing yang masuk (capital inflow) ke pasar modal dan obligasi sebesar Rp 157 triliun hingga pekan terakhir Oktober 2016. Jumlah itu jauh lebih besar dibanding dana asing yang masuk pada 2015 sebesar Rp 55 triliun.

Pada, kuartal IV 2016, Perry melihat, potensi dana luar negeri masuk akan semakin besar. Salah satu penyebabnya adalah realisasi dari repatriasi dana program amnesti pajak yang selama ini mengendap di luar negeri.

Perry memperkirakan, hingga akhir Desember 2016, dana repatriasi akan menambah Rp 100 triliun ke total modal asing yang masuk (capital inflow). Perkiraaan angka tersebut dari catatan dana repatriasi di periode pertama amnesti pajak sebesar Rp 143 triliun, yang akan disalurkan dengan jangka waktu hingga akhir Desember 2016.

Namun, Perry mengakui, gejolak di pasar keuangan global masih membayangi. Jika tidak hati-hati, alih-alih dana masuk, sebaliknya bisa saja terjadi dana keluar. (ks)

 

loading…

 

/GOR

Investor Daily

lol

 

TEMPO.CO, Jakarta –  Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa pada akhir Oktober 2016 sebesar 115 miliar dolar AS atau turun 700 juta dolar AS dari jumlah akhir September 2016 sebesar 115,7 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, mengatakan, meskipun turun, dosis perubahan jumlah cadangan devisa tersebut masih “relatif stabil”.

Jumlah cadangan devisa per akhir Oktober 2016 tersebut, kata Tirta, cukup untuk membiayai 8,8 bulan impor atau 8,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Perkembangan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerimaan devisa seperti penerimaan pajak dan penerbitan Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas yang masih cukup untuk menutupi kebutuhan devisa antara lain untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo,” kata Tirta.

Bank sentral menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

ANTARA

ets-small

WE: Bank Indonesia (BI) mencatatkan posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2016 sebesar US$ 115,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2016 sebesar US$ 113,5 miliar.

Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan cadangan devisa, antara lain berasal dari penerimaan pajak dan devisa migas, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, yang melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

” Posisi cadangan devisa per akhir September 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,”demikian dikutip Warta Ekonomi dalam keterangan tulis BI.

Sebelumnya BI juga mencatatkan posisi cadangan devisa Indonesia akhir Agustus 2016 tercatat sebesar US$ 113,5 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2016 sebesar US$ 111,4 miliar. Posisi cadangan devisa per akhir Agustus 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,7 bulan impor atau 8,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” seperti tertulis.

lol

Bisnis.com, JAKARTA –  Bank Indonesia melaporkan peningkatan posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2016 sebesar US$2,1 miliar. Posisi cadangan devisa akhir Agustus tercatat sebesar US$113,5 miliar atau lebih tinggi dari posisi Juli 2016 senilai US$111,4 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Sagara mengatakan peningkatan itu dipengaruhi oleh penerimaan cadangan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa migas, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, yang melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Posisi cadangan devisa itu diklaim mampu membiayai 8,7 bulan impor atau 8,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” katanya, Rabu (7/9/2016).

Sebelumnya, Gubernur BI Agus D.W Martowardojo secara singkat menyatakan cadangan devisa dalam kondisi yang baik. Sentimen positif dari kebijakan amnesti pajak juga semakin membuat investor yakin terhadap kondisi perekonomian domestik.

 

Jakarta detik-Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juli 2016 tercatat sebesar US$ 111,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2016 sebesar US$ 109,8 miliar.

Naiknya cadangan devisa ini ditopang oleh derasnya aliran dana asing masuk ke Indonesia, baik melalui Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) berdenominasi valas, devisa migas, maupun portofolio melalui saham.

“Kalau cadangan devisa di Juni naik tinggi karena pemerintah nerbitin euro dan samurai bonds. Kalau sekarang karena banyak instrumen valas di BI, SBI valas, lelang hasil migas, jadi BI nggak perlu banyak intervensi,” ujar Ekonom BCA David Sumual kepada detikFinance, Jumat (5/8/2016).

Sepanjang Juli 2016, dana asing masuk melalui bonds dan saham tercatat sekitar US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 25 triliun. Hari ini saja, dana asing masuk melalui pasar saham mencapai Rp 1,476 triliun.

Saking banyaknya dana asing masuk, bahkan di beberapa perbankan sampai kelebihan likuiditas.

“Beberapa bank likuiditas berlimpah, dana asing banyak masuk,” ucap dia.

Informasi saja, posisi cadangan devisa per akhir Juli 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,5 bulan impor atau 8,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

(drk/feb)

lol

 

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2016 sebesar USD109,8 miliar atau setara Rp1.437 triliun (kurs Rp13.090/USD). Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi pada akhir Mei 2016 sebesar USD103,6 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara mengatakan, peningkatan tersebut dipengaruhi penerimaan cadangan devisa, antara lain berasal dari penerbitan global bonds pemerintah, hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, penerimaan pajak dan devisa migas.

“Selain itu, penarikan pinjaman pemerintah yang jauh melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta SBBI valas yang jatuh tempo,” kata Tirta, Kamis (14/7/2016).

Dia menerangkan, posisi cadangan devisa per akhir Juni 2016 cukup untuk membiayai 8,4 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” paparnya.

Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2016 sebesar USD103,6 miliar, mengalami penurunan dibandingkan posisi pada akhir April 2016 sebesar USD107,7 miliar. Meskipun mengalami penurunan, jumlah cadangan devisa tersebut masih cukup untuk membiayai 7,9 bulan impor atau 7,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Penurunan cadangan devisa pada Mei 2016 tersebut terutama dipengaruhi penyediaan valas untuk kebutuhan pembayaran kewajiban valas penduduk sesuai pola musimannya yang mengakibatkan penempatan valas perbankan di BI menjadi lebih rendah. Di samping itu, penurunan cadangan devisa juga dipengaruhi penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

Sekretaris Perusahaan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Samsu Adi Nugroho mengungkapkan, cadangan devisa Indonesia diprediksi dapat mencapai USD104,4 miliar pada akhir 2016. Angka tersebut diproyeksi dapat tercapai jika ada potensi pelebaran defisit neraca berjalan pada 2016 yang bersumber dari ekspektasi penurunan surplus neraca perdagangan.

“Kami melihat adanya perbaikan pada neraca modal dan finansial di tahun 2016, sejalan dengan turunnya ketidakpastian di pasar keuangan global setelah the Fed menaikkan suku bunga,” ujar Samsu.

Atas perkembangan ini, cadangan devisa pada akhir 2016 diprediksi mencapai USD104,4 miliar.

BI juga memperkirakan defisit neraca berjalan 2016 dari USD20,6 miliar (2,2% PDB) menjadi USD20,8 miliar (2,3% PDB). Sementara pada 2017, defisit neraca berjalan diprediksi meningkat ke USD25,1 miliar (2,5% PDB).

(dmd)

dollar small

Jakarta detik -Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2016 tercatat sebesar US$109,8 miliar. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Mei 2016 sebesar US$103,6 miliar.

Demikian disebutkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (14/7/2016).

“Jadi ada kenaikan US$ 6 miliar lebih. Sebab ada kenaikan itu, ada dua kali penarikan global bondpemerintah US$ 4 miliar, penerimaan dari penjualan migas, penarikan pinjaman dari pemerintah, dan dari stabilisasi sistem keuangan yang dilakukan Indonesia,” kata Agus.

Posisi cadangan devisa per akhir Juni 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,4 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Agus menilai hal tersebut dapat mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

“Kita sambut baik 109,8 ekuivalen 8,4 bulan impor. Padahal sebetulnya cukup diatur itu tidak kurang dari 3 bulan tapi Indonesia bisa mencapai 8,4 bulan jadi suatu kondisi yang baik,” tukasnya.

(mkl/drk)

lol

Jakarta kontan. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (cadev) per akhir Mei 2016 sebesar US$ 103,6 miliar. Angka tersebut turun US$ 4,1 miliar dari posisi akhir bulan sebelumnya.

Ekonom Maybank Juniman mengatakan, penurunan cadev per akhir Mei tersebut disebabkan oleh penarikan valas oleh korporasi untuk pembayaran dividen yang akan dilakukan Juni. Ia juga menyebut, masyarakat juga melakukan penarikan valas untuk persiapan liburan di Juli mendatang.

Tak hanya itu, penurunan cadev tersebut juga dipengaruhi oleh adanya arus modal asing keluar (capital outflow) di pasar obligasi sebesar Rp 4,5 triliun dan di pasar saham sebesar US$ 122 juta. Kondisi tersebut pun menyebabkan pelemahan rupiah bulan lalu yang hampir menembus Rp 13.700 per dollar Amerika Serikat (AS).

Keluarnya arus modal asing tersebut terjadi menjelang keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) mengenai suku bunga The Fed pada pertengahan bulan ini. “BI melakukan itervensi hingga rupiah tidak tebus di atas Rp 13.700,” kata Juniman, Selasa (7/6).

 

lol

 

JAKARTA okezone– Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2016 sebesar USD103,6 miliar, lebih rendah daripada posisi akhir April 2016 sebesar USD107,7 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, meskipun mengalami penurunan, jumlah cadangan devisa tersebut masih cukup untuk membiayai 7,9 bulan impor atau 7,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta lebih tinggi daripada standar kecukupan cadangan devisa yang berlaku secara internasional sekitar tiga bulan impor.

“Bank Indonesia menilai jumlah cadangan devisa tersebut tetap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa (7/6/2016).

Penurunan cadangan devisa pada Mei 2016 tersebut terutama dipengaruhi penyediaan valas untuk kebutuhan pembayaran kewajiban valas penduduk sesuai pola musimannya yang mengakibatkan penempatan valas perbankan di Bank Indonesia menjadi lebih rendah.

Di samping itu, penurunan cadangan devisa juga dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

Bank Indonesia memperkirakan bahwa penurunan cadangan devisa yang terjadi pada Mei 2016 tersebut bersifat temporer. Hal ini didukung oleh kondisi pasar keuangan global yang saat ini sudah kembali kondusif sebagaimana tercermin pada kembali meningkatnya ketersediaan valas di pasar valas domestik.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” jelas Tirta.

(mrt)

lol

JAKARTA okezone– Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2016 sebesar USD103,6 miliar, lebih rendah daripada posisi akhir April 2016 sebesar USD107,7 miliar.

Meski mengalami penurunan cadangan devisa, namun mata uang Garuda nampaknya tidak terpengaruh. Pada penutupan perdagangan hari ini, Rupiah kembali menguat. (Baca Juga: Bayar Utang Luar Negeri, Cadangan Devisa RI Turun USD4,1 Miliar)

Melansir Bloomberg Dollar Index, Rupiah pada perdagangan di pasar spot exchange rate Asia, naik 107 poin atau 0,80 persen ke Rp13.263 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah, berada pada angka Rp13.249-Rp13.396 per USD.

Sementara Yahoofinance mencatat Rupiah berhasil menguat 67 poin atau 0,50 persen ke Rp13.270 per USD. Yahoofinance mencatat Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp13.245-Rp13.385 per USD.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) kewat kurs Jakarta Interspot Dollar Exchange atau Jisdor mencatat Rupiah menguat dari Rp13.478 per USD menjadi Rp13.375 per USD.

Adapun harga jual yang ditawarkan BI adalah Rp13,442 per USD, dengan harga beli berada di angka Rp13.308 per USD.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, meskipun mengalami penurunan, jumlah cadangan devisa tersebut masih cukup untuk membiayai 7,9 bulan impor atau 7,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta lebih tinggi daripada standar kecukupan cadangan devisa yang berlaku secara internasional sekitar tiga bulan impor.

(mrt)

ezgif.com-resize

Jakarta detik-Posisi cadangan devisa Indonesia akhir April 2016 tercatat sebesar US$ 107,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2016 yang sebesar US$ 107,5 miliar.

Peningkatan tersebut dipengaruhi penerimaan cadangan devisa yang terutama berasal dari hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) dan penerimaan lainnya. Penerimaan tersebut melampaui kebutuhan devisa, yang antara lain digunakan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi cadangan devisa per akhir April 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,1 bulan impor atau 7,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” kata Direktur BI, Arbonas Hutabarat, dalam keterangan tertulis, Selasa (10/5/2016).

(ang/dnl)

gifi

TEMPO.COJakarta – Analis LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, berpendapat naiknya cadangan devisa Indonesia sebesar 2,34 persen atau mencapai US$ 104,5 miliar pada Februari 2016 tidak signifikan.

“Masih jadi importir. Ibaratnya, mengaku punya banyak uang di dompet, tapi hasilnya dari barang impor,” ujar Lucky, Rabu, 9 Maret 2016. Dia menuturkan, uang dalam bentuk devisa tersebut merupakan selisih dari penjualan luar negeri.

Menurut Lucky, naiknya cadangan devisa akibat impor tidak akan mengubah apa-apa. “Kecuali dari hasil ekspor,” katanya. Dia menyarankan seharusnya produk-produk dari Indonesia dijual ke luar negeri lalu uangnya dijadikan devisa. “Pemerintah harus tekan impor dan mendorong ekspor.”

Selain tidak signifikan, kenaikan cadangan devisa ini dianggap tidak berdampak pada pertumbuhan sektor. Menurut Lucky, yang memberikan dampak pada pertumbuhan sektor bukanlah cadangan devisa, melainkan rupiah dan suku bunga.

 

Bank Indonesia menyatakan jumlah cadangan devisa hingga akhir Februari 2016 mencapai US$104,5 miliar atau naik 2,34 persen dibanding posisi Januari 2016 yang sebesar US$102,1 miliar.

Peningkatan tersebut dipengaruhi penerimaan devisa migas, penarikan pinjaman pemerintah, dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) berdenominasi valas.

Posisi cadangan devisa per akhir Februari 2016 itu cukup untuk membiayai 7,6 bulan impor, atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah tersebut berada di atas standar kecukupan internasional, yakni cadangan devisa setara dengan kebutuhan tiga bulan impor.

Dengan peningkatan ini, otoritas moneter menilai posisi cadangan devisa mampu mendukung ketahanan dari gejolak sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.

BAGUS PRASETIYO

long jump icon

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Indonesia melaporkan cadangan devisi akhir Februari 2016 mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar US$2,4 miliar atau Rp32,4 triliun menjadi US$104,5 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam situs resmi BI menuliskan peningkatan dipengaruhi penerimaan cadangan devisa yang berasal dari devisa migas.

Selain itu, peningkatan cadangan devisa juga berasal dari penarikan pinjaman pemerintah dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas

“Penerimaan devisa migas dan penarikan pinjaman pemerintah serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, yang jauh melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah,” tulisnya, Senin (7/3/2016).

Posisi cadangan devisa pada Februari 2016 cukup untuk membiayai 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” imbuhnya.

double arrow pic

JAKARTA ID – Bank Indonesia menyatakan jumlah cadangan devisa hingga akhir Februari 2016 mencapai 104,5 miliar dolar AS atau naik 2,34 persen dibanding posisi Januari 2016 yang sebesar 102,1 miliar dolar AS.

Peningkatan tersebut dipengaruhi penerimaan devisa migas, penarikan pinjaman pemerintah, dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) berdenominasi valas. Demikian dijelaskan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (7/3).

“Peningkatan dan posisi ini jauh melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ucap Tirta.

Tirta mengatakan posisi cadangan devisa per akhir Februari 2016 itu cukup untuk membiayai 7,6 bulan impor, atau 7,3 bulan impor, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah tersebut berada di atas standar kecukupan internasional yakni cadangan devisa setara dengan kebutuhan tiga bulan impor.

Dengan peningkatan ini, otoritas moneter menilai posisi cadangan devisa mampu mendukung ketahanan dari gejolak sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. (ID/ths)

 

bird

INILAHCOM, Jakarta – Agar cadangan devisa tak terus jeblok maka perlu ditambah dari ekspor. Untuk itu, akan dibuat aturan khusus mengenai ekspor.

Kata Wakil Presiden Jusuf Kalla, naiknya ekspor bisa memberikan dampak positif kepada banyak hal. Salah satunya adalah menjaga cadangan devisa (cadev).

“Ekspor kita kan memang sedang menurun, jadi nanti kita perbaikilah. Agar ekspor bisa naik, sehingga devisanya bisa bagaimana masuk(cadangan devisa),” kata Wapres Kalla di Jakarta, Jumat (12/2/2016).

Kalla menjelaskan, merosotnya cadev di Januari 2016, kemungkinan disebabkan oleh besarnya kebutuhan untuk membayar utang. Di mana, banyak perusahaan harus memenuhi kewajiban utangnya.

“Memang biasanya awal tahun atau akhir tahun itu, banyak perusahaan yang mau bayar utang. Atau juga, pemerintah ingin menyelesaikan transaksi dengan luar negeri,” jelas Kalla.

Sekedar mengingatkan, beberapa waktu lalu, Bank Indonesia merilis cadev sampai akhir Januari 2016 sebesar US$ 102,1 miliar. Apabila di banding dengan posisi cadev akhir Desember 2015 sebesar US$ 105,9 miliar, terjadi penyusutan yang signifikan. Tergerus US$ 3,8 miliar dalam rentang waktu kira-kira sebulan.

Terjadinya penurunan cadev sebesar US$ 3,8 miliar, memang mengejutkan. Pasalnya, angkanya tidaklah kecil. Dengan kurs Rp 13 ribu per US$ saja, penurunan cadev Januari 2016 setara dengan Rp 49,4 triliun.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Arbonas Hutabarat mengatakan, pengurangan cadev itu disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah, termasuk cicilan pokok dan bunga global bond yang jatuh tempo. [tar]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2273687/cadangan-devisa-nyungsep-wapres-kalla-gelisah#sthash.oR4cdCSp.dpuf

rose KECIL

Jakarta kontan. Menjelang pengumuman data cadangan devisa (cadev) Indonesia Februari 2016 yang akan dirilis Bank Indonesia (BI) esok, penurunan di Indonesia edisi Januari 2016 lalu merupakan yang terdalam di antara lima negara Asia Tenggara. Thailand dan Malaysia malah mencatatkan pertumbuhan cadev yang positif.

Per Januari 2016, cadev Indonesia berkurang hingga 2,64% dari US$ 105,93 miliar menjadi US$ 103,13 miliar. Menemani Indonesia, ada Philipina dan Singapura yang juga mencatatkan penurunan cadev. Philipina berkurang 0,56% sedangkan Singapura turun sebesar 0,61%.

Sedangkan Thailand pada Januari tahun ini memiliki cadev senilai US$ 160,11 miliar atau naik 2,30% dari bulan sebelumnya yang hanya US$ 156,51%. Begitu juga dengan negari Jiran Malaysia yang tumbuh 0,21% dari US$ 95,30 miliar menjadi US$ 95,50 miliar.

Dari sisi kepemilikan cadev, Singapura masih di urutan teratas yakni US$ 249,19 miliar. Disusul Thailand, Indonesia, Malaysia dan Philipina.

bird

Merdeka.com – Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia akhir Januari 2016 tercatat sebesar USD 102,1 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2015 sebesar USD105,9 miliar.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Arbonas Hutabarat mengatakan, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan devisa, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah, termasuk pembayaran pokok dan bunga global bond yang jatuh tempo.

“Posisi cadangan devisa per akhir Januari 2016 tersebut masih cukup membiayai 7,5 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” kata Arbonas seperti dikutip dari situs BI, Minggu (7/2).

Menurut bank sentral, posisi cadangan devisa masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

[idr]

rose KECIL

Jakarta – Posisi cadangan devisa Indonesia akhir November 2015 tercatat sebesar US$ 100,2 miliar. Angka ini turun US$ 500 juta dibanding posisi akhir Oktober 2015 sebesar US$ 100,7 miliar.

Bank Indonesia (BI) menjelaskan, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain dari penerimaan migas dan penarikan pinjaman Pemerintah.

“Angka tersebut masih cukup untuk menutupi kebutuhan devisa, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam rilis yg diterima Investor Daily, Senin (7/11).

Menurut BI, dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa per akhir November 2015 masih cukup membiayai 7,1 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Investor Daily

Nasori/NAS

Investor Daily

TEMPO.CO, Jakarta – Bank Indonesia menyebutkan cadangan devisa pada akhir September lalu mencapai US$ 101,7 miliar. Jumlah tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan cadangan devisa di akhir Agustus  sebesar US$ 105,3 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menjelaskan turunnya cadangan devisa sebesar US$ 3,6 miliar karena untuk membayar utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Mata uang rupiah kini menguat ke posisi 14.065 dari sebelumnya di kisaran 14.709 per dolar Amerika Serikat.

Menurut Tirta, langkah tersebut sejalan dengan komitmen BI yang terus berada di pasar untuk menstabilkan  nilai tukar rupiah. “Sesuai dengan fundamentalnya guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Tirta dalam keterangan persnya di laman resmi Bank Indonesia, Rabu, 7 Oktober 2015.

Meski berkurang, Tirta memastikan, cadangan devisa itu cukup untuk membiayai 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“BI menilai cadangan devisa itu mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” katanya.

Agustus lalu, Bank Indonesia menunjukkan hingga enam bulan pertama tahun ini, utang luar negeri mencapai US$ 304,3 miliar atau naik 6,3 persen sepanjang tahunan. Sebagian besar utang tersebut berasal dari utang sektor swasta sebesar US$ 169,7 miliar atau 55,8 persen dari total utang.

SINGGIH SOARES

Jakarta detik -Jumlah cadangan devisa Indonesia terus mencatatkan penurunan. Per hari ini, jumlahnya sekitar US$ 103 miliar, turun dari posisi akhir Agustus 2015 yang sebesar US$ 105,3 miliar.

Demikian disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, saat rapat dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/9/2015).

“Posisi cadangan devisa US$ 103 miliar per hari ini. Tapi ini masih akan dalam penghitungan karena akan melihat ekspor kita dan jumlah utang yang mesti dibayar,” jelas Agus.

Belakangan ini, cadangan devisa digunakan BI untuk upaya stabilisasi nilai tukar rupiah guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

(dnl/hen)

JAKARTA kontan. Bank Indonesia (BI) mencatatkan posisi cadangan devisa Indonesia akhir Agustus 2015 sebesar US$105,3 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2015 sebesar US$107,6 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara menyatakan, penurunan cadev tersebut disebabkan oleh peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Berkurangnya cadev tersebut juga lantaran digunakan dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

“Hal tersebut sejalan dengan komitmen BI yang telah dan akan terus berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Tirta dalam keterangan resmi, Senin (7/9).

Sementara itu kata Tirta, kenaikan penerimaan devisa yang terutama bersumber dari penerbitan Samurai Bonds pemerintah sebesar ¥ 100 miliar mampu menahan penurunan lebih lanjut.

Menurut Tirta, posisi cadangan devisa per akhir Agustus 2015 masih cukup membiayai 7,1 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI juga menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Cadangan devisa tahun 2015

Agustus US$ 105,3 miliar
Juli US$ 107,6 miliar
Juni US$ 108,03 miliar
Mei US$ 110,77 miliar
April US$ 110,87 miliar
Maret US$ 111,55 miliar
Februari  US$ 115,53 miliar
Januari US$ 114,25 miliar

Sumber: Bank Indonesia

Editor: Sanny Cicilia.

BANDUNG – Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia masih cukup untuk pembayaran hingga 6,8 bulan impor dan kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut lebih tinggi dibanding standar kecukupan yang ditetapkan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).”Cadangan devisa hingga Juli 2015 sebesar USD107,6 miliar. Kami menilai angka tersebut masih cukup kalau kita bandingkan dengan standar kecukupan yang ditetapkan oleh IMF itu menggariskan tiga bulan impor, angka yang kita miliki masih sangat baik,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Grup Pengelolaan Relasi BI, Arbonas Hutabarat dalam acara Journalist Training di Trans Luxury Hotel, Bandung, Sabtu (5/9/2015).

Menurutnya, hal tersebut menegaskan bahwa kondisi fundamental Indonesia berada pada posisi yang masih terbilang aman meski tengah dilanda gejolak ekonomi global.

Selain itu, dia mengatakan bahwa BI juga memiliki beberapa skema dalam rangka menjaga dari kondisi terburuk seperti bilateral swap arrangements dengan beberapa negara dan juga ada bilateral currency swap. Hal tersebut sebagai strategi untuk menjaga kecukupan cadangan devisa Indonesia.

Dia menambahkan, baiknya fundamental Indonesia terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2015 sebesar 4,67 persen (yoy). Serta belanja pemerintah pun lebih baik di semester II-2015.

“Kalau kita sampai kuartal II 4,67 persen dan angka ini tinggi karena rata-rata dunia itu dua hingga tiga persen, kita empat. Negara lain gonjang ganjing. Kita masih lebih baik,” ujarnya.

 

Selain cadangan devisa, perbankan Indonesia juga masih terbilang sangat sehat hingga saat ini. Kondisi perbankan hingga Juni 2015 memiliki coverage ratio sebesar 101 persen, Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 20,1 persen dan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 88,6 persen.

“Perbankan kita, kami pastikan sangat sehat. Jaman dulu LDR kita sampai 120 persen, artinya cekak. Karena tidak ada kelonggaran, jumlah simpanan uangnya lebih kecil dari kredit. Kalau sekarang, jika bank menyalurkan kredit, bank masih punya kelonggaran 1-2 persen,” tutupnya.

(mrt)

 

Bank Indonesia (BI) menyebutkan posisi cadangan devisa (cadev) pada akhir Juli 2015 mencapai US$ 107,6M. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2015 sebesar US$ 108M.  perkembangan tersebut karena adanya peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, penggunaan devisa untuk stabilitas nilai tukar rupiah seusai dengan fundamentalnya. Dengan posisi saat ini, cadev per akhir Juli masih cukup membiayai 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah
Sumber : IPS RESEARCH

JAKARTA kontan. Seiring tekanan berat yang mengikis nilai tukar rupiah, cadangan devisa (cadev) Indonesia pun ikut tergerus. Berdasar data yang dirilis Bank Indonesia (BI), cadev di akhir Juli 2015 sebesar US$ 107,6 miliar, turun US$ 400 juta dibandingkan posisi akhir Juni 2015 yang mencapai US$ 108 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menjelaskan, cadangan devisa tergerus akibat peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu cadev juga menyusut karena digunakan untuk stabilitas nilai tukar rupiah untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.

Di sisi lain, kata Tirta, kenaikan penerimaan devisa yang bersumber dari penerbitan Euro Bond pemerintah, mampu menahan penurunan lebih lanjut.

Jumlah cadangan devisa per akhir Juli 2015 masih cukup untuk membiayai 7 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah ini berada di atas standar kecukupan internasional, sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” jelas Tirta di Jakarta, Jumat (7/8).

 

Editor: Mesti Sinaga

INILAHCOM, Jakarta – Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2015 tercatat sebesar 108 miliar dolar AS turun 2,8 miliar dolar AS dari posisi akhir Mei 2015 sebesar 110,8 miliar dolar AS.

“Perkembangan tersebut didorong oleh peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Selasa (7/7/2015).

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa per akhir Juni 2015 masih cukup membiayai 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Tirta.

Sebelumnya, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2015 lalu tercatat 110,8 miliar dolar AS, turun 100 juta dolar AS dibandingkan April 2015 yang masih berjumlah 110,9 miliar dolar AS.

Perkembangan saat itu dipengaruhi oleh kenaikan kebutuhan devisa, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

Meskipun demikian, saat itu penerimaan devisa dari penerbitan sukuk global pemerintah mampu menahan penurunan lebih lanjut. [tar] – See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2220410/cadangan-devisa-juni-turun-us28-miliar#sthash.aKaOuAzO.dpuf

 

JAKARTA.  Bank Indonesia menyatakan posisi cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2015 tercatat senilai US$110,8 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara mengatakan cadangan devisa Indonesia pada Mei 2015 sedikit lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir April 2015 senilai US$110,9 miliar.

“Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan kebutuhan devisa, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (5/6/2015).

Meskipun demikian, penerimaan devisa dari penerbitan sukuk global pemerintah mampu menahan penurunan lebih lanjut.

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa per akhir Mei 2015 masih cukup membiayai 7,1 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

http://finansial.bisnis.com/read/20150605/11/440606/bank-indonesia-cadangan-devisa-hingga-mei-us1108-miliar
Sumber : BISNIS.COM

 

JAKARTA. Cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2015 tercatat kembali turun menjadi US$110,9 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2015 sebesar US$111,6 miliar.

“Peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya mendorong turunnya posisi cadangan devisa tersebut,” ujar Direktur Departemen Komunikasi Peter Jacobs seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (8/5/2015).

Namun demikian, tuturnya, posisi cadangan devisa per akhir April 2015 masih cukup membiayai 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” jelasnya.

Penurunan cadangan devisa ini berlanjut setelah pada Maret 2015 sempat merosot dari posisi Februari 2015 sebesar US$115,5 miliar. Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat Bank Indonesia melakukan intervensi agar tidak bergejolak terlalu tajam.

http://finansial.bisnis.com/read/20150508/9/431378/cadangan-devisa-kembali-melorot
Sumber : BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA–Anjloknya cadangan devisa Indonesia sebesar US$3,9 miliar pada akhir Maret 2015 disebabkan intervensi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia di pasar keuangan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menuturkan Bank Indonesia selalu ada di pasar dengan serius untuk mengintervensi pergerakan kurs dalam batas yang wajar. Intervensi dilakukan dengan menggelontorkan cadangan devisa ke pasar valas.

“Sudah intervensi. Bank Indonesia selalu ada di pasar dengan serius,” ujar Mirza di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (8/4/2015).

Pada hari ini, Bank Indonesia mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2015.

Cadangan devisa melorot US$3,9 miliar dari US$115,5 miliar pada akhir Februari menjadi US$111,6 miliar pada 31 Maret 2015.

Menurut Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Peter Jacobs, penurunan posisi cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamental.

Meskipun mengalami penurunan, posisi cadangan devisa per akhir Maret 2015 masih cukup membiayai 6,9 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” katanya.

Kendati sudah menguras devisa sekitar Rp50,7 triliun, kurs tengah rupiah yang dirilis BI pada Rabu (8/4) pagi masih menyentuh Rp13.002 per dolar AS atau turun dari Rp12.982 pada 7 April 2015.

Mirza menjelaskan depresiasi rupiah disebabkan penguatan dolar terhadap semua mata uang di dunia. Pelemahan rupiah sebesar 4%-5% year-to-date dinilai relatif kecil dibandingkan depresiasi mata uang lain, salah satunya Euro yang merosot 15%.

“Jadi tidak harus terlalu kita khawatirkan. Yang penting pemerintah pada track yang benar untuk mengurangi defisit transaksi berjalan. Kalau defisit berkurang pasti rupiahnya akan lebih stabil atau bahkan bisa menguat,” ujar Mirza.

JAKARTA okezone – Bank Indonesia (BI) meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak panik menghadapi gejolak Rupiah yang terjadi saat ini. Pasalnya, cadangan devisa saat ini masih dinilai aman.”Sekarang cadangan devisa USD115 miliar, untuk sampai akhir Maret belum bisa kita sampaikan, saya kasih tahu yang namanya cadangan devisa bisa lebih dari lima sampai enam bulan impor dan itu menunjukkan bahwa kita dalam keadaan baik dan terjaga,” ungkap Gubernur BI Agus Martowardojo, Jumat (13/3/2015).Untuk itu, Agus meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir tentang Rupiah. Terutama jika melihat Rupiah terdepresiasi 5 persen, tahun sebelumnya hanya 1,8 persen.“Jangan membuat kondisi panik,” sebutnya.Dia juga mengatakan BI akan selalu ada di pasar untuk menjaga dan memberikan likuditas jika diperlukan.”Secara umum penempatan BI di perbankan Indonesia itu lebih dari Rp350 triliun, artinya kita dalam kondisi perbankan likuid dan di bidang valuta asing BI akan menjaga stabilitas nilai tukar, kalau perlu kita akan melakukan intervensi untuk meyakinkan stabilitas terjaga,” tandasnya.

(rzk)

ID-MANADO- Pengamat ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Dr Joubert Maramis mengatakan Indonesia harus memiliki cadangan devisa khususnya dolar, sehingga saat terjadi depresiasi kita mampu mengantisipasinya.

“Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa diturunkan misalnya sampai Rp10.500 per dolar, namun untuk mencapai hal tersebut jika kita memiliki cadangan devisa khususnya dolar sebesar ratusan miliar dolar untuk operasi pasar,” kata Joubert, di Manado, Senin.

Dia mengatakan, namun apa kita punya? Apakah sangguh diperoleh dari ekspor? Mengapa yuan (mata uang Tiongkok) dapat stabil? Karena cadangan devisa dolar mereka sangat sangat banyak, kenapa cadangan devisa mereka banyak? Karena produk ekspor global mereka merajai dunia saat ini,” jelas Joubert.

Itu artinya, kata Joubert, produk industri mereka memiliki keunggulan bersaing sangat tinggi di dunia. Jangan salahkan faktor pasar atau resiko sistematis untuk pelemahan rupiah saat ini, tapi salahkan faktor resiko unik atau resiko faktor fundamental ekonomi kita yang tidak berorientasi ekspor.

Solusinya adalah jangan menaruh beban 100 persen untuk stabilisasi kurs rupiah kita pada Bank Indonesia saja, itu hanya jangka pendek, tapi pada seluruh kementerian saling kerja sama untuk menciptakan industri kita yang berbasis ekapor dengan daya saing serta value added yang tinggi di dunia.

“Jika ini terjadi maka cadangan valas khususnya dolar kita akan mampu menstabilkan abnormal pasar jangka pendek karena fundamental ekonomi dan industri serta daya saing global produk kita tinggi,” jelasnya.

Pemerintahan Jokowi, katanya, harus melihat dengan perpektif jangka panjang terhadap daya saing produk global kita, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) harus digenjot misalnya, jangan hanya fokus pada masalah-masalah pragmatis jangka pendek saja.(ant/hrb)

 

JAKARTA kontan. Posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Februari 2015 naik dibanding Januari 2015. Pundi-pundi cadangan devisa Indonesia tercatat US$ 115,5 miliar, naik US$ 1,3 miliar dari posisi akhir Januari yang sebesar US$ 114,2 miliar.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah mengatakan posisi cadev Februari naik menjadi US$ 115,5 miliar. “Saya pastikan itu naik,” ujarnya yang dijumpai di Kementerian Keuangan (Kemkeu), Jumat (6/3).

Mengenai penyebab posisi cadev bisa naik, dirinya tidak menjelaskan lebih lanjut. Adapun BI akan mengumumkan posisi cadev  pada akhir Februari 2015 secara resmi pada sore hari ini (6/3).

Editor: Sanny Cicilia

 

INILAHCOM, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca peragangan Indonesia pada periode Januari 2015 mengantongi surplus sebesar 709,3 juta dolar Amerika Serikat, sementara pada Januari 2014 lalu, tercatat mengalami defisit 443,9 juta dolar AS.

“Pada Januari 2015, neraca perdagangan mengantongi surplus sebesar 709,3 juta dolar AS,” kata Kepala BPS, Suryamin, dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (16/2/2015).

Suryamin mengatakan, surplus neraca perdagangan pada awal tahun yang dipicu oleh surplus sektor non-migas kurang lebih sebesar 740 juta dolar AS, sementara neraca perdagangan sektor migas defisit kurang lebih sebesar 30 juta dolar AS. “Surplus awal tahun tersebut diharapkan menjadi awal yang baik untuk kinerja ekspor Indonesia kedepan,” ujar Suryamin.

Dari sisi volume, pada Januari 2015 neraca volume perdagangan Indonesia mengalami surplus 30,64 juta ton. Hal tersebut didorong oleh surplusnya neraca sektor non-migas sebesar 30,70 juta ton walaupun sektor migas mengalami defisit 0,06 juta ton.

Nilai ekspor Indonesia, pada Januari 2015 mencapai 13,30 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 9,03 persen jika dibandingkan dengan ekspor Desember 20114 lalu yang tercatat sebesar 14,6 miliar dolar AS, dan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu mengalami penurunan sebesar 8,09 persen.

Untuk ekspor non-migas pada Januari 2015 mencapai 11,22 miliar dolar AS, atau menurun sebesar 8,51 persen juka dibandingkan Desember tahun lalu yang tercatat sebesar 12,22 miliar dolar AS, dan menurun 6,24 persen jika dibandingkan Januari 2014 lalu.

Penurunan terbesar ekspor non-migas Januari 2015 dibanding Desember 2014 terjadi pada lemak dan minya hewan nabati sebesar 162,6 juta dolar AS atau mencapai 9,55 persen. Sementara untuk peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan permata sebesar 293,4 juta dolar AS atau mencapai 61,77 persen.

Dari sisi impor, nilai impor Indonesia Januari 2015 mencapai 12,59 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 12,77 persen dibandingkan Desember 2014 yang tercatat sebesar 14,43 miliar dolar AS, dan jika dibandingkan dengan Januari 2014 lalu mengalami penurunan sebesar 15,59 persen.

Sementara impor non-migas Januari 2015 mencapai 10,48 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 5,15 persen yang tercatat sebesar 11,04 miliar dolar AS, dan jika dibandingkan Jaanuari 2014 lalu maka penurunan mencapai 7,83 persen.

Untuk impor migas, pada Januari 2015 mencapai 2,11 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 37,59 persen dibandingkan Desember 2014 yang mencapai 3,38 miliar dolar AS. [tar] – See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2179528/bps-neraca-perdagangan-januari-2015-surplus#sthash.ZvPRTdcc.dpuf

JAKARTA- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis kinerja ekspor Januari 2015 mengalami penurunan sebesar 9,03 persen atau tercatat sebesar 13,30 miliar dolar Amerika Serikat, sementara pada Desember 2014 lalu kinerja ekspor mencapai 14,62 miliar dolar AS.

“Nilai ekspor Januari 2015 sebesar 13,30 miliar dolar AS, atau mengalami penurunan sebesar 9,03 persen jika dibanding Desember 2014, dan bila dibandingkan dengan Januari 2014 lalu juga mengalami penurunan sebesar 8,09 persen,” kata Kepala BPS, Suryamin, dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Suryamin mengatakan, untuk ekspor non-migas pada Januari 2015 mencapai 11,22 miliar dolar AS, atau menurun sebesar 8,51 persen juka dibandingkan Desember tahun lalu yang tercatat sebesar 12,22 miliar dolar AS, dan menurun 6,24 persen jika dibandingkan Januari 2014 lalu.

Penurunan ekspor tersebut disebabkan menurunnya ekspor non-migas sebesar 8,51 persen dari sebelumnya 12,26 miliar dolar AS menjadi 11,22 miliar dolar AS, demikian juga untuk ekspor migas turun sebesar 11,75 persen dari 2,35 miliar dolar AS menjadi 2,07 miliar dolar AS.

Penurunan terbesar ekspor non-migas Januari 2015 dibanding Desember 2014 terjadi pada lemak dan minya hewan nabati sebesar 162,6 juta dolar AS atau mencapai 9,55 persen. Sementara untuk peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan permata sebesar 293,4 juta dolar AS atau mencapai 61,77 persen.

Berdasarkan sektor, ekspor non-migas hasil industri pengolahan untuk periode Januari 2015 mengalami penurunan sebesar 4,69 persen, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2014 lalu, sementara hasil tambang dan lainnya juga mengalami penurunan 16,34 persen, dan ekspor hasil pertanian naik 8,88 persen.

Ekspor non-migas ke Amerika Serikat pada Januari 2015 mencapai angka terbesar yaitu 1,25 miliar dolar AS, diikuti Jepang sebesar 1,15 miliar dolar AS dan Tiongkok sebesar 1,08 miliar dolar AS.

“Kontribusi ketiga negara mencapai 31,10 persen, sementara ekspor ke Uni Eropa dengan 27 negara sebesar 1,18 miliar dolar AS,” ujar Suryamin.

Sementara neraca peragangan Indonesia pada periode Januari 2015 mengantongi surplus sebesar 709,3 juta dolar Amerika Serikat, sementara pada Januari 2014 lalu, tercatat mengalami defisit 443,9 juta dolar AS.

Surplus neraca perdagangan pada awal tahun yang dipicu oleh surplus sektor non-migas kurang lebih sebesar 740 juta dolar AS, sementara neraca perdagangan sektor migas defisit kurang lebih sebesar 30 juta dolar AS.

http://id.beritasatu.com/home/bps-ekspor-januari-2015-turun-903-persen/108322
Sumber : INVESTOR DAILY

Jakarta detik -Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV-2014 mencatat surplus sebesar US$ 2,4 miliar. Surplus NPI ini ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar US$ 7,8 miliar yang melampaui defisit transaksi berjalan sebesar US$ 6,2 miliar (2,81% PDB).

Mengutip siaran resmi Bank Indonesia (BI), Surplus NPI triwulan IV-2014 tersebut pada gilirannya mendorong kenaikan posisi cadangan devisa dari US$ 111,2 miliar pada akhir triwulan III 2014 menjadi US$ 111,9 miliar pada akhir triwulan IV-2014. Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 6,4 bulan. Pada Januari 2015, posisi cadangan devisa kembali meningkat menjadi US$ 114,2 miliar.

Di tengah proses pemulihan global yang lebih lambat dari perkiraan, kinerja transaksi berjalan membaik. Defisit transaksi berjalan triwulan IV-2014 lebih rendah dibandingkan dengan defisit US$ 7 miliar (2,99% PDB) pada triwulan III-2014. Perbaikan kinerja transaksi berjalan tersebut terutama didukung oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan barang seiring naiknya surplus neraca perdagangan non migas dan menurunnya defisit neraca perdagangan migas.

Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat karena pertumbuhan ekspor (1,4% qtq) yang melampaui pertumbuhan impor (0,2% qtq). Pertumbuhan ekspor non migas ditopang oleh kenaikan permintaan, khususnya minyak nabati dan produk manufaktur, yang terjadi di saat tren penurunan harga komoditas.

Di sisi migas, meskipun volume impor minyak meningkat, defisit neraca perdagangan migas menyusut sebagai dampak dari terus melemahnya harga minyak mentah dunia. Meski membaik dari triwulan sebelumnya, defisit transaksi berjalan triwulan IV-2014 tercatat lebih besar dibandingkan dengan defisit sebesar US$ 4,3 miliar (2,05% PDB) pada periode yang sama pada 2013 terutama karena melemahnya kinerja ekspor nonmigas. Selain itu, di tengah turunnya harga minyak, defisit neraca migas triwulan IV-2014 juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya karena lebih rendahnya lifting migas yang disertai meningkatnya volume impor minyak.

Sementara itu, persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan imbal hasil yang tetap menarik mendorong aliran masuk modal asing yang cukup besar dan mampu membiayai defisit transaksi berjalan. Pada triwulan IV-2014, surplus transaksi modal dan finansial didukung oleh aliran masuk investasi langsung asing (FDI) dan surplus investasi lainnya yang berasal dari penarikan simpanan penduduk di luar negeri dan penarikan pinjaman luar negeri korporasi.

Namun demikian, surplus transaksi modal dan finansial ini masih lebih rendah dibandingkan dengan surplus triwulan III-2014 sebesar US$ 14,7 miliar karena keluarnya dana asing dari instrumen portofolio rupiah pada Desember 2014 yang dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terkait rencana kenaikan Fed Fund Rate akibat rilis data perbaikan ekonomi AS.

Jakarta detik -Cadangan devisa (cadev) Indonesia di akhir Januari 2015 tercatat sebesar US$ 114,2 miliar, meningkat dari posisi akhir Desember 2014 sebesar US$ 111,9 miliar. Ada beberapa faktor yang bikin cadev meningkat.

Bank Indonesia (BI) dalam keterangan tertulisnya menyebut, peningkatan cadangan devisa tersebut berasal dari penerbitan surat utang (global bonds) Pemerintah, simpanan deposito valuta asing bank-bank di BI, dan hasil ekspor migas Pemerintah.

Selain itu, penerimaan pemerintah lainnya dalam valuta asing yang melebihi pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Ppemerintah juga turut menyumbang tambahan devisa.

“Posisi cadangan devisa per akhir Januari 2015 dapat membiayai 6,8 bulan impor, atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs, Jumat (6/2/2015).

Cadangan devisa itu juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai level cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

(ang/dnl)

TEMPO.CO, Jakarta – Bank Indonesia melansir cadangan devisa berada pada level US$ 111,9 miliar pada akhir Desember 2014. Angka ini lebih tinggi dibanding posisi cadangan devisa bulan sebelumnya sebesar US$ 111,1 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara mengatakan peningkatan cadangan devisa disebabkan oleh penerimaan valas yang lebih besar daripada pembayaran utang valas serta kebutuhan valas untuk intervensi nilai tukar. (Baca: Tahan Dolar, Indonesia dan Cina Kuras Devisa)

“Peningkatan cadangan devisa, terutama, dipengaruhi oleh penerimaan devisa hasil ekspor migas, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan penerimaan pemerintah lainnya dalam valuta asing lebih besar daripada pembayaran utang luar negeri serta kebutuhan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Tirta di Bank Indonesia, Kamis, 8 Januari 2015. (Baca: Tiga Cara Bappenas Jaga Stabilitas Rupiah)

Di samping itu, menurut Tirta, simpanan valas dan swap bank-bank dengan bank sentral juga meningkat menjelang akhir 2014. Sepanjang 2014, posisi cadangan devisa meningkat US$ 12,5 miliar dari posisi pada akhir 2013 sebesar US$ 99,4 miliar.

Tirta menepis bahwa peningkatan cadangan devisa disebabkan oleh BI yang tak banyak lakukan intervensi kurs. “BI mengintervensi karena rupiah mengalami volatilitas tajam,” tuturnya. (Baca: Resep Bank Indonesia Mengatasi Loyonya Rupiah)

Sebagai catatan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus merosot. Mengacu pada referensi kurs Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan pada level Rp 12.264 per dolar AS pada 1 Desember 2014. Kurs rupiah terus merosot hingga mencapai Rp 12.900 per dolar AS pada 16 Desember 2014, sebelum kemudian menguat pada akhir Desember ke level Rp 12.440 per dolar AS.

Posisi cadangan devisa Desember ini diklaim BI mampu membiayai 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. “Di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor,” ujar Tirta.

MARTHA THERTINA

 

kontan JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa menurun 0,90% menjadi US$ 111,1 miliar per November 2014, dibandingkan posisi sebelumnya sebesar US$ 112,0 miliar per akhir Oktober 2014.

Tirta Segara, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, mengatakan, penurunan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan penggunaan devisa untuk pengendalian moneter oleh BI.

Lanjutnya, posisi cadangan devisa per akhir November 2014 dapat membiayai 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai level cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Editor: Hendra Gunawan

unnews.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2014 mencapai 111,2 miliar dollar AS, atau sama dengan posisi pada bulan sebelumnya.

Bank Indonesia menilai cadev September relatif stabil dari posisi akhir bulan sebelumnya. Bank Indonesia menilai, cadev September positif terhadap upaya memperkuat ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan resmi, Senin (6/10/2014), menyatakan stabilitas cadev dipengaruhi oleh kenaikan kebutuhan devisa, diantaranya untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan intervensi valas dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, lanjut Tirta, penerimaan devisa juga meningkat terutama berasal dari penerbitan sukuk global dan hasil ekspor migas pemerintah. Selain itu cadev September 2014 disokong pula oleh kenaikan simpanan deposito valas bank-bank di Bank Indonesia.

“Posisi cadangan devisa per akhir September tersebut dapat membiayai 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” ujar Tirta.
(Estu Suryowati)

 

detik Jakarta -Hingga akhir Agustus 2014, jumlah cadangan devisa Indonesia naik menjadi US$ 111,2 miliar, dari posisi Juli 2014 yang sebesar US$ 110,5 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengatakan, peningkatan cadangan devisa ini paling tinggi berasal dari penerimaan devisa hasil ekspor migas pemerintah, yang melampaui pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Posisi cadangan devisa per akhir Agustus tersebut dapat membiayai 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” ujar Tirta dalam keterangannya, Jumat (5/9/2014).

BI menilai, kenaikan cadangan devisa berdampak positif terhadap upaya memperkuat ketahanan sektor eksternal, dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Berikut perkembangan cadangan devisa Indonesia sepanjang tahun ini:

  • Januari: US$ 100,651 miliar
  • Februari: US$ 102,741 miliar
  • Maret: US$ 102,6 miliar
  • April: US$ 105,6 miliar
  • Mei: US$ 107 miliar
  • Juni: US$ 107,7 miliar
  • Juli: US$ 110,5 miliar
  • Agustus: US$ 111,2 miliar

(dnl/dnl)

JAKARTA – Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2014 mencapai USD110,5 miliar, meningkat USD2,8 miliar. Jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Bulan Juni 2014 yang sebesar USD107,7 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Tirta Segara mengatakan, peningkatan jumlah cadangan devisa tersebut terutama berasal dari penerbitan Euro Bonds dan penerimaan devisa hasil ekspor migas Pemerintah yang melampaui pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

“Selain itu, penerimaan devisa sebagai dampak dari aliran masuk modal asing juga berpengaruh positif terhadap peningkatan posisi cadangan devisa Juli 2014,” ucap Tirta dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (9/8/72014).

Menurut Tirta, posisi cadangan devisa per akhir Juli tersebut dapat membiayai 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

BI menilai, kenaikan cadangan devisa ini berdampak positif terhadap upaya memperkuat ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (rzy)

 

JAKARTA – Intervensi Bank Indonesia yang terbatas membuat cadangan devisa Juni naik saat permintaan dolar Amerika Serikat justru memuncak pada pertengahan tahun.

BI sebelumnya mengumumkan cadangan devisa Juni US$107,7 miliar, naik US$630 juta dari bulan sebelumnya di tengah volatilitas rupiah yang sangat tinggi — naik 39 basis poin menjadi 11,65% menurut data yang dikompilasi Bloomberg.

Nilai tukar rupiah bulan itu sempat melampaui Rp12.000 per dolar AS seiring kebutuhan valuta asing yang tinggi dan ketidakpastian politik di dalam negeri.

Kenaikan cadangan devisa Juni itu pun berkebalikan dengan kondisi dua tahun terakhir. Cadangan devisa Juni 2012 turun US$5 miliar menjadi US$106,5 miliar, sedangkan cadangan devisa Juni 2013 menyusut US$7,1 miliar menjadi US$98,1 miliar, seiring dengan kebutuhan valas yang tinggi untuk membayar utang luar negeri swasta dan repatriasi laba mereka ke perusahaan induk di luar negeri.

“Kalau melihat pergerakan kurs bulan lalu yang sangat cepat, intervensi BI rasanya terbatas. Karena intervensi berapapun, pasti diserap, tapi tidak berefek banyak. Kita cuma kehilangan cadangan devisa. Untuk intervensi, BI tampaknya menunggu sampai volatilitasnya agak reda,” kata ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, Senin (14/7/2014).

Kendati demikian, Lana menduga tambahan datang dari transaksi foreign exchange swap (fx swap) sehingga memperkuat posisi cadangan devisa.

Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menuturkan langkah BI yang mengurangi intervensi dibarengi dengan arus modal masuk (capital inflow) membuat cadangan devisa Juni tahun ini berbeda dengan kondisi sebelumnya.

Di pasar obligasi pemerintah, terjadi inflow Rp6,7 triliun sepanjang bulan lalu, sedangkan di pasar saham Rp2,7 triliun.

“Tahun lalu, kita naikkan harga BBM. Ada inflasi di situ yang menjadi sentimen negatif sehingga capital inflow-nya pun berkurang,” jelasnya.

http://finansial.bisnis.com/read/20140715/9/243260/cadangan-devisa-bi-minim-intervensi-cadangan-devisa-juni-naik
Sumber : BISNIS.COM

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Juni 2014 mencapai US$ 107,7 miliar. Angka ini meningkat US$700 juta jika dibandingkan dengan posisi akhir Mei 2014 sebesar US$ 107,0 miliar. Mengutip dari situs resmi Bank Indonesia, Selasa (8/7/2014), peningkatan jumlah cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi transaksi penerimaan devisa hasil ekspor migas Pemerintah yang melampaui kebutuhan pembayaran utang luar negeri. Selain itu, kebutuhan devisa untuk intervensi valuta asing dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah dapat diimbangi dengan kenaikan simpanan deposito valuta asing bank-bank di Bank Indonesia. Adapun posisi cadangan devisa per akhir Juni tersebut dapat membiayai 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Posisi cadangan devisa ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Bank Indonesia menilai kenaikan cadangan devisa berdampak positif terhadap upaya memperkuat ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (Ahl)   http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/07/08/262610/juni-cadangan-devisa-indonesia-tembus-us-107-7-miliar Sumber : METROTVNEWS.COM

bbri agro +73% … 160713_ +32.5% (030717)

JAKARTA kontan. Anak usaha bank pelat merah terus memacu rapor kinerja. Meski berukuran mini, anak usaha bank BUMN terbukti tahan banting di tengah laju perlambatan pertumbuhan yang membayangi industri perbankan.

Coba tengok rapor kinerja PT Bank BRI Agroniaga dan PT Bank Mantap. Dua bank yang merupakan anak usaha dua bank besar ini mencatatkan kinerja kinclong hingga akhir Mei 2017.

Merujuk laporan keuangan bulanan perseroan, BRI Agro mencatat pertumbuhan kredit yang melesat sebesar 32,75% secara tahunan (year on year /yoy) menjadi Rp 8,63 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 38,54% menjadi Rp 10,44 triliun.

Direktur Keuangan BRI Agroniaga Zainuddin Mappa mengatakan, peningkatan kredit terjadi hampir di seluruh sektor, khususnya sektor agribisnis yang menjadi andalan BRI Agro.

“Yang agak menurun hanya di sektor konsumtif,” katanya kepada KONTAN, Minggu (2/7). Hingga akhir 2017 BRI Agro menargetkan DPK naik sebesar 19,1%.

Sedangkan kredit dipatok tumbuh sebesar 22,7%. Hingga akhir Mei 2017, tercatat laba bersih BRI Agro mencapai Rp 50,44 miliar atau tumbuh 14,9%.

Pendorong kenaikan laba bersih perseroan berasal dari pendapatan bunga yang tumbuh sebesar 19,12% menjadi Rp 187,58 miliar. Mappa menambahkan, pihaknya optimis laba perseroan hingga akhir tahun dapat mencapai angka Rp 120 miliar.

Bank Mantap juga mencatatkan pertumbuhan bisnis drastis. Di akhir Mei 2017, anak usaha Bank Mandiri ini mencatatkan lonjakan kredit 185,7% jadi Rp 7,15 triliun.

Pada periode yang sama DPK perseroan tumbuh sebesar 158% menjadi Rp 7,74 triliun. Pertumbuhan DPK ini didorong oleh kenaikan simpanan berjangka atau deposito yang mencapai 163,17% menjadi Rp 6,63 triliun.

Dus, laba bersih Bank Mantap tumbuh signifikan menjadi Rp 54,17 miliar per Mei 2017. Pencapaian ini melonjak 168,96% secara tahunan.

Hal ini ditopang kenaikan pendapatan bunga perseroan yang tumbuh 116,73% menjadi Rp 210,17 miliar per akhir Mei. Direktur Utama Bank Mantap Josephus K. Triprakoso bilang, pihaknya masih akan mengandalkan segmen pensiunan untuk mendorong laju kredit perseroan.

Untuk mendukung ekspansi kredit, Bank Mantap akan menerbitkan emisi obligasi hingga Rp 3 triliun di tahun ini.

ets-small

 

Kredit BRI Agro melesat 73,9%
Oleh Annisa Aninditya Wibawa – Senin, 15 Juli 2013 | 12:58 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) berhasil meraih pertumbuhan cukup baik di awal tahun ini. Bank yang merupakan anak perusahaan dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ini mencatat pertumbuhan kredit hingga 73,9%.

Pada semester pertama tahun lalu, kredit yang BRI Agro salurkan yakni Rp 1,7 triliun. Jumlah tersebut lalu meningkat jadi Rp 3 triliun pada semester pertama tahun ini.

“Tapi kalau pertumbuhan dari Desember biasa saja kok,” aku Direktur Utama BRI Agro, Heru Sukanto, kepada KONTAN, Senin, (15/7).

Pada akhir 2012 lalu, kredit yang BRI Agro salurkan yakni 2,5 triliun. Jumlah tersebut naik 38,8% dari Rp 1,8 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain kredit yang bertumbuh cukup baik, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) BRI Agro tercatat menurun. Pada Juni 2012, NPL BRI Agro berada di angka 3,54%. Angka tersebut kemudian menurun jadi 3% di semester satu tahun ini.