labA bnii … :) : 121113_050617

lol

JAKARTA kontan. Bank besar mencatat kinerja yang cukup bagus pada awal kuartal II 2017. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan laba bersih 10 bank besar sampai April 2017 sebesar Rp 29,7 triliun.

Perolehan laba ini lebih baik dibandingkan periode yang sama 2016. Pada April 2016 perolehan laba 10 bank besar sebesar Rp 15,18 triliun atau turun 2,69% secara tahunan atau year on year (yoy).

BACA JUGA :
Aset bank kalah, tapi laba bisa bersaing di ASEAN
Bank Ina targetkan laba Rp 33 miliar, naik 80,92%
KONTAN mencatat perolehan laba 10 bank besar ini utamanya disebabkan karena kenaikan pendapatan bunga bersih yang cukup bagus. Sampai April 2017 pendapatan bunga bersih 10 bank besar tercatat Rp 75,9 triliun atau naik 6,23% secara tahunan atau year on year (yoy).

Dari 10 bank besar tercatat mayoritas memang mencatat perbaikan kinerja dibanding periode yang sama 2016. Berdasarkan data, dari 10 bank hanya 4 bank yang mencatat pertumbuhan laba yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Empat bank ini adalah BNI, CIMB, BTN dan Maybank Indonesia. Permata bank jika pada April 2016 masih mencatat kerugian pada 2017 ini sudah mengalami perbaikan dengan mencatat laba.

Selain itu Bank Mandiri yang mencatat penurunan laba pada April 2016, pada tahun ini sudah mencatat perbaikan kinerja dengan kenaikan laba.

Sukarela Batunanggar, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK mengatakan pertumbuhan laba perbankan yang membaik sampai April 2017 ini disebabkan karena kondisi ekonomi yang membaik.

“Hal ini salah satunya disebabkan karena harga komoditas yang sudah membaik yang membuat perbaikan di debitur bermasalah,” ujar Sukarela, ketika ditemui setelah acara penandatangan LoI antara OJK dengan bank negara Filipina, Senin (4/6).

Pada kuartal 2 2017 ini, OJK optimis kinerja perbankan akan lebih baik. Hal ini ditunjukkan salah satunya dengan pertumbuhan laba bersih yang diproyeksi akan mengalami perbaikan.

 lol

JAKARTA kontan. Industri perbankan menunjukkan ototnya meski perlambatan ekonomi masih membayangi. Sejumlah besar bank melaporkan rapor kinerja positif. Tak terkecuali bagi bank umum kegiatan usaha (BUKU) II, yakni PT Bank QNB Indonesia Tbk.

Di kuartal I-2017, QNB Indonesia (BKSW) mencetak laba bersih sebesar Rp 21,35 miliar. Perolehan laba ini melompat drastis ketimbang rugi bersih Rp 22,15 miliar di Maret-2016 (year on year/yoy).

Mengutip laporan keuangan, laba QNB Indonesia bersumber dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp 162,57 miliar, naik 2,8%. Meski pendapatan bunga naik tipis, QNB Indonesia mampu meraup pendapatan operasional dari transaksi spot dan derivatif sebesar Rp 56,47 miliar, melonjak lima kali lipat dari Rp 8,59 miliar. Bank juga mampu menekan beban operasional menjadi Rp 104,69 miliar dari Rp 179,93 miliar.

Bank kategori BUKU II adalah perbankan dengan modal Rp 1 triliun sampai di bawah Rp 5 triliun.

Senada, PT Maybank Indonesia Tbk (BNII) mencatatkan laba sebesar Rp 490,1 miliar, tumbuh 10,4% secara tahunan. Kenaikan laba bersih bank berkode BNII ini disumbang pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 8,13% menjadi Rp 1,7 triliun.

Taswin Zakaria, Presiden Direktur Maybank Indonesia mengatakan, pada kuartal I 2017 lalu, laba juga dikontribusikan dari pengelolaan biaya dan pertumbuhan kredit, khususnya korporasi. Kami akan menggenjot pertumbuhan bisnis kredit korporasi dan ritel pada tahun ini, ujar Taswin, Kamis (27/4).

Maybank menyalurkan kredit sebanyak Rp 114,2 triliun atau naik 5,7% pada kuartal I 2017. Kredit korporasi tumbuh sebesar 20,8% menjadi Rp 26 triliun. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 3,7%, turun tipis dari 3,72% di kuartal I 2016.

Rapor kinerja kinclong juga dicatat PT Pan Indonesia (Bank Panin). Laba bersih bank berkode saham PNBN ini pada tiga bulan pertama tahun 2017 mencapai Rp 760,41 miliar atau tumbuh 26,9%. Kenaikan laba berasal dari pendapatan bunga bersih yang meningkat 4,2% menjadi Rp 2,08 triliun. Serta dari pendapatan komisi alias fee based income yang melonjak 69,3% menjadi Rp 553,41 miliar.

Bank Panin mencatat realisasi penyaluran kredit Rp 206,7 triliun atau naik 12,7% di kuartal I. Kami berusaha meningkatkan produk dan jasa terpadu dan inovatif melalui cross selling dengan perusahaan anak, ujar Herwidayatmo, Direktur Utama Bank Panin.

lol

Jakarta kontan. PT Bank Maybank Indonesia Tbk telah melaporkan kinerja keuangan tidak diaudit kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan informasi keterbukaan BEI yang dilaporkan pada Minggu 23 Oktober 2016, Thila Nadason, Direktur Keuangan Maybank Indonesia mengatakan, pihaknya melaporkan keuangan konsolidasi Maybank per 30 September 2016.

Mengutip laporan keuangan tersebut, kredit Maybank Indonesia sebesar Rp 104,10 triliun per September 2016 atau hanya tumbuh 1,96% dibandingkan posisi Rp 102,33 triliun per Desember 2015. Jika tanpa selisih cadangan kerugian, kredit senilai Rp 106,53 triliun per September 2016.

Meskipun kredit tumbuh tipis, namun laba periode berjalan tercatat tumbuh 123% secara year on year (yoy) atau menjadi Rp 1,31 triliun per September 2016 dibandingkan posisi Rp 587,37 miliar per September 2015. Laba ini berasal dari pendapatan bunga dan syariah neto sebesar Rp 5,49 triliun per September 2016.

ets-small

Jakarta kontan. Beberapa bankir memprediksi sampai kuartal 3 2016 kinerja perbankan terutama laba akan lebih baik dari tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor pelonggaran kebijakan ekonomi dan moneter seperti relaksasi aturan LTV dan GWM.

Selain itu, bankir optimistis walaupun pada Juli kredit sedikit melambat nantinya sampai akhir September 2016, penyaluran kredit baru akan membaik. Hal ini seiring dengan penurunan suku bunga pinjaman.

Salah satu indikator mulai membaiknya kinerja perbankan ini bisa dilihat dari data 10 bank besar yang sudah mempublikasikan laporan keuangan bulanan Juli 2016. Tercatat rata-rata kenaikan laba bersih 10 bank besar pada Juli 2016 yaitu 52,96% yoy lebih tinggi dari kenaikan pada Juni 2016 yaitu 37,45% yoy.

Meskipun demikian, pada Juli 2016, kenaikan kredit agak melambat dari Juni. Pada Juli 2016 kenakan kredit sebesar 6,15% yoy atau lebih rendah dari bulan Juni 2016 sebesar 7,51% yoy. Para bankir tetap optimis, sampai kuartal 3 2016, penyaluran kredit baru akan lebih tinggi utamanya di sektor UMKM dan konsumer.

Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI, memperkirakan penyaluran kredit sampai kuartal 3 akan membaik. Beberapa sektor penyaluran kredit yang diperkirakan akan membantu adalah sektor UMKM.

“Strateginya adalah tumbuh ekspansif secara selektif mengandalkan mikro dengan berupaya menekan NPL,” ujar Haru kepada KONTAN, Jumat, (2/9).

Pada laporan bulanan Juni 2016, laba BRI tumbuh tipis 0,83% yoy menjadi Rp 13,85 triliun atau melambat dibanding pertumbuhan Juni 2016 1,13% yoy. Tumbuh tipisnya laba ini disebabkan karena beban operasional yang naik sebesar 31,24 yoy melebihi pertumbuhan pendapatan bunga bersih 16,99% yoy.

Haru mengatakan, tumbuh tipisnya laba di Juli 2016 disebabkan karena rasio provisi yang dijaga di 150%. Beban operasional yang tinggi ini salah satunya disebabkan karena CKPN yang dianggarkan sebesar Rp 21,1 triliun atau naik 23,72% yoy.

Untuk kredit sampai Juli 2016 tercatat tumbuh cukup tinggi di atas rata-rata industri yaitu 16,46% yoy menjadi Rp 587,2 triliun. Angka ini agak melambat dari Juni, yakni 17,3% yoy. NPL Juli 2016 BRI menurut Haru tercatat sebesar 2,3%.

PT Bank Permata Tbk juga optimistis kinerja bank berkode emiten BNLI ini bisa lebih baik di kuartal 3. Direktur Wholesale Banking Bank Permata Anita Siswadi mengatakan, pada sisa akhir tahun ini, bank akan berupaya untuk memperkuat dan mempercepat recovery NPL.

“Restrukturisasi tetap menjadi langkah yang terus kami lakukan,” ujar Anita kepada KONTAN, Sabtu, (3/9).

Sampai Juli 2016 Bank Permata mencatakan rugi bersih Rp 838 miliar. Namun tercatat nilai kerugian pada Juli sudah agak membaik dibandingkan Juni 2016. Dari sisi kredit tercatat Bank Permata sampai Juli masih mencatatkan penurunan sebesar 9,47% yoy. Penuruan Juli tercatat sedikit membaik dibandingkan Juni.

Anita mengatakan kinerja sampai Juli yang agak membaik ditopang dari pendapatan bunga dan fee based. Dari sisi kredit, pembiyaaan SME ikut membantu pembiyaaan sampai Juli 2016.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk juga memprediksi kuartal 3 2016 kinerja perbankan dari sisi permintaan kredit dan volume transaksi akan meningkat setelah lebaran.

“Pada Juli 2016, secara yoy kinerja memang terlihat naik signifikan, namun secara mom tidak sesignifikan yoy karena Juli ada puasa dan libur panjang lebaran dimana volume transaksi drop banyak,” ujar Direktur Utama Maybank Indonesia, Taswin Zakaria, Jumat, (2/9).

Sampai Juli 2016, tercatat, laba Maybank Indonesia naik cukup signifikan secara yoy yaitu sebesar 224,2% yoy menjadi Rp 843 miliar. Sedangkan untuk pertumbuhan hanya naik tipis 0,39% yoy menjadi Rp 93,2 triliun.

dollar small

PT BANK MAYBANK INDONESIA Tbk (BNII) membukukan laba bersih pada Quarter 2 2016 sebesar 858,4 miliar. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015 sebesar 388,2 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 12.79 per lembar.

Berikut Laporan keuangan BNII Quarter 2 2016 :

Account Quarter 2 2016
Last Price 420
Share Out 67,1 B
Market Cap. 28.168,6 B
Balance Sheet
Cash 2.041,7 B
Total Asset 161.791,6 B
S.T Debt 1.099,3 B
L.T Debt 142.529,1 B
Total Equity 18.163,2 B
Income Statement
Revenue 7.349,5 B
Gross Profit 7.349,5 B
Operating Profit 1.157,8 B
Net. Profit 858,4 B
EBITDA 1.457,9 B
Interest Exp. 0,0
Ratio
EPS 12,79
PER 32,84x
BVPS 270,82
PBV 1,55x
ROA 0,53%
ROE 4,73%
EV/EBITDA 116,43
Debt/Equity 7,91
Debt/TotalCap 0,89
Debt/EBITDA 98,51
EBITDA/IntExp. 0,00

Sumber : IPS RESEARCH

 dollar small

JAKARTA sindonews – PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) mencatatkan laba bersih pada periode 9 bulan menjadi Rp592 miliar atau naik 70,7% dari Rp347 miliar pada periode sama 2014.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia dan Chairman Grup Maybank, Tan Sri Dato Megat Zaharuddin bin Megat Mohd Nor menuturkan, pendapatan bunga bersih meningkat 10,5% dari Rp4,3 triliun menjadi Rp4,8 triliun per September 2015 dengan Marjin Bunga Bersih (NIM) mencapai 4,82%.

Sementara fee based income juga mengalami kenaikan sebesar 12,4% menjadi Rp1,6 triliun dari Rp1,4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

“Peningkatan fee based income terutama didukung fee dari advisory activities, asuransi dan transaksi valuta asing,” ungkapnya di Jakarta, Senin (2/11/2015).

Kredit Perbankan Ritel mengalami pertumbuhan 12,3% dari Rp39,8 triliun menjadi Rp44,7 triliun. Sementara kredit Perbankan Bisnis meningkat 12,2% dari Rp38,9 triliun menjadi Rp43,6 triliun.

Dia mengungkapkan, meskipun kredit perbankan global masih menunjukkan penurunan 10,4% (secara tahunan), secara kuartalan kredit perbankan global tumbuh 8,4% pada kuartal ketiga mencapai Rp23,2 triliun per September 2015.

Menurutnya, perbankan ritel memberikan kontribusi sebesar 40% dari total kredit bank, sementara perbankan bisnis berkontribusi sebesar 39% dan Perbankan Global sebesar 21%.

Selain itu, KPR (kredit pemilikan rumah) juga tumbuh 15,7% menjadi Rp17,8 triliun. “Pinjaman tanpa agunan meningkat 12,5% dengan KTA (kredit tanpa agunan) naik 26,3% dan tagihan Kartu Kredit naik 6,3%,” paparnya.

Di samping itu, kredit komersial juga mengalami peningkatan dari Rp22,6 triliun per September 2014 menjadi Rp25,1 triliun per September 2015. Pertumbuhan juga terjadi pada kredit mikro mencapai 62,7% atau menjadi Rp1,2 triliun.

Meski kredit mengalami pertumbuhan, namun non-performing loan/NPL atau kredit bermasalah masih cukup tinggi di angka 4,34% (gross) dan 2,79% (net).

“Bank terus menurunkan eksposur dari beberapa portofolio koporasi yang menyebabkan naiknya NPL. Tapi, kami akan tetap hati-hati dengan kualitas kredit sehubungan beberapa bisnis, yang masih terkena dampak perlambatan ekonomi dan pelemahan rupiah,” tandasnya.
(dmd)

source: http://ekbis.sindonews.com/read/1058317/178/laba-bersih-maybank-tumbuh-70-1446477705

bird

JAKARTA kontan. PT Bank Maybank Indonesia Tbk sampai September 2015 tahun ini tercatat mengalami kenaikan laba sebesar 70,7% dari setahun lalu menjadi Rp 592 miliar.

Hal ini antara lain karena membaiknya pendapatan bunga bersih (NII), marjin bunga bersih (NIM) yang lebih baik, pendapatan imbal jasa (fee based income) yang lebih tinggi, pertumbuhan likuiditas yang lebih solid terutama pada giro, dan kinerja syariah.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria mengatakan pendapatan bunga bersih meningkat 10,5% dari Rp 4,3 triliun per September 2014 menjadi Rp 4,8 triliun per September 2015.

NIM membaik menjadi 4,82% dari 4,63%. “Ini karena pengelolaan pendanaan yang aktif,” ujar Taswin dalam keterangan resmi, Kamis, (29/10).

Pendapatan operasional lain mencatat peningkatan sebesar 12,4% menjadi Rp 1,6 triliun.

Hal ini terutama didukung fee dari advisory activities, asuransi dan transaksi valuta asing.

Dari bisnis syariah, penyaluran pembiayaan tumbuh 56,0% menjadi Rp 8,1 triliun.

Jumlah ini memberikan kontribusi sebesar 7,3% dari total portofolio kredit bank.

Laba bersih syariah melonjak pesat dari Rp 41 miliar menjadi Rp 239 miliar.

rose KECIL

JAKARTA kontan. Satu per satu, 10 bank besar di Indonesia merilis hasil kinerjanya pada 2014 lalu. Dari bank-bank yang sudah merilis kinerja, Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi satu-satunya bank dengan pertumbuhan laba tertinggi, sementara sisanya melambat bahkan ada yang menurun.

Beberapa daftar bank yang keuntungannya menurun adalah Bank CIMB Niaga dan Bank Danamon dengan penurunan laba masing-masing 49,13% dan 36%. Yang terbaru, Bank International Indonesia (BII) juga masuk dalam daftar bank besar yang mencatat penurunan laba.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/2), BII hanya membukukan laba konsolidasi Rp 752,68 miliar. Angka itu merosot hingga 65% jika dibandingkan perolehan laba di akhir 2013 yang mencapai Rp 1,24 triliun.

Penurunan laba BII seiring dengan peningkatan beban operasional selain bunga bersih yang menjadi Rp 4,85 triliun atau meningkat 42,23% dibanding akhir 2013 yang mencapai Rp 3,41 triliun. Pos tersebut menggerus pendapatan bunga bersih BII yang hanya tumbuh 7,62% dari Rp 5,51 triliun di 2013 menjadi Rp 5,93 triliun.

Meski begitu, bank yang terafiliasi grup Maybank ini mencatat pertumbuhan aset sebesar 2% dari Rp 140,71 triliun menjadi Rp 143,42 triliun. Aset BII tumbuh sejalan dengan pertumbuhan kredit yang juga naik 2% menjadi Rp 100,62 triliun dari Rp 98,57 triliun.

Sayangnya, level kredit macet alias non performing loan (NPL) bank dengan sandi saham BNII ini juga ikut meningkat. NPL gross BII menjadi 1,32% dari 1,05% dengan NPL net 2,23% dari 2,11%.

Sementara itu, modal inti konsolidasian BII juga meningkat dari Rp 10,51 triliun menjadi Rp 13,2 triliun. Taswin Zakaria, Direktur Utama BII belum merespons pertanyaan yang diajukan KONTAN terkait kinerja bank yang dipimpinnya.

Editor: Hendra Gunawan
long jump icon

PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) membukukan laba bersih pada Quarter 3 2014 sebesar Rp 339,7 miliar. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013 sebesar Rp  1,10 triliun. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 5.62 per lembar.

 

Berikut Laporan keuangan BNII Quarter 3 2014 :

Account Quarter 3 2014
Last Price          292
Share Out 60,4 B
Market Cap. 17.625,8 B
Balance Sheet
Cash               1.793,1 B
Total Asset 144.377,4 B
S.T Borrowing 46,0 B
L.T Borrowing 20.296,0 B
Total Equity 12.781,2 B
Income Statement
Revenue           9.898,1 B
Gross Profit 0,0
Operating Profit 0,0
Net. Profit        339,7 B
EBITDA         0,0
Interest Exp. 0,0
Ratio
EPS                 5,62
PER                 51,96x
BVPS                 211,74
PBV                 1,38x
ROA                 0,24%
ROE                 2,66%
EV/EBITDA 0,00
Debt/Equity 1,59
Debt/TotalCap 0,61
Debt/EBITDA 0,00
EBITDA/IntExp. 0,00

Sumber : IPS RESEARCH

dollar small

JAKARTA. Bank International Indonesia (BII) kembali harus gigit jari. Pasalnya, kinerja bisnis bank terafiliasi grup Maybank ini belum juga membaik.

Hingga September lalu, BII hanya membukukan laba bersih sebesar Rp 372,84 miliar atau turun 52,89% dari periode yang sama tahun lalu Rp 791,52 miliar. Angka tersebut tertuang dalam publikasi laporan keuangan yang disampaikan BII kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (22/10).

Pencapaian ini tidak jauh berbeda dengan kondisi yang terjadi di semester I lalu. Saat itu, laba bank dengan kode saham BNII anjlok 50% menjadi Rp 344,97 miliar dari periode enam bulan pertama tahun 2013 yang mencapai Rp 690,07 miliar.

Penurunan laba BII tidak lepas dari pendapatan operasional yang juga turun 69%. Di periode ini, pendapatan operasional BII hanya mencapai Rp 476,83 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,68 triliun.

Meski begitu, BII masih membukukan pertumbuhan kredit. Dalam sembilan bulan tahun ini, kredit BII mencapai Rp 95,84 triliun, naik 13,7% dari Rp 84,29 triliun. Pun begitu dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). DPK BII naik 7,32% menjadi Rp 103,58 triliun dari Rp 96,51 triliun.

Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (NPL) konsolidasian BII per tanggal 30 September 2014, 31 Desember 2013 dan 2012 sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011 (dihitung secara bruto) masing-masing adalah 2,55%, 2,11% dan 1,70% dan NPL rasio (dihitung secara bersih) masing-masing adalah 1,79%, 1,55% dan 0,81%.

Editor: Hendra Gunawan
long jump icon

Laba bersih BII triwulan III capai Rp 1,1 triliun
Oleh Dea Chadiza Syafina – Senin, 11 November 2013 | 21:21 WIB

kontan

JAKARTA. PT Bank Internasional Indonesia Tbk berhasil membukukan laba bersih setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (PATAMI) hingga kuartal III-2013 sebesar Rp 1,1 triliun. Nilai keuntungan bisnis itu tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam keterangan resmi tertulisnya, Presiden Komisaris BII Tan Sri Megat Zaharuddin Megat Mohd Nor mengungkapkan, laba sebelum pajak meningkat 22% mencapai Rp 1,6 triliun dibandingkan Rp 1,3 triliun pada posisi yang sama tahun sebelumnya.

“Ini merupakan pertama kali BII membukukan laba di atas Rp 1 triliun untuk kinerja sembilan bulanan,” kata Tan Sri Megan pada Senin (11/11).

Peningkatan kinerja terutama didukung oleh pertumbuhan yang solid pada semua core business BII. Pertumbuhan yang kuat pada simpanan nasabah, perbaikan siginifikan pada profitabilitas anak perusahaan Bank, dan peningkatan berkelanjutan dari keseluruhan proses operasional Bank.

Simpanan nasabah meningkat signifikan sebesar 21% pada sembilan bulan pertama 2013 mencapai Rp 96,5 triliun dari Rp 79,8 triliun pada periode yang sama 2012 lalu. Porsi terkuat simpanan nasabah adalah pada porsi tabungan sebesar 35%.

Sementara itu, untuk pertumbuhan penyaluran kredit, kinerja BII triwulan III-2013 berhasil tumbuh sebesar 21% per September 2013 mencapai Rp 91,7 triliun dari Rp 75,9 triliun per September 2012 ditengah kondisi pasar yang penuh tantangan. Untuk aset bank, tumbuh 23% menjadi Rp 129,8 triliun.

Lebih lanjut, Tan Sari mengungkapkan, kualitas aset terus membaik dengan tingkat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 1,74% dibandingkan 2,08% per September 2012.
Rasio Kecukupan Modal dengan memperhitungkan risiko kredit, operasional dan pasar (bank saja) tercatat sebesar 13,86% dibandingkan 12,44% tahun lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s