R(p)edenomina$1, lage … 081211_270517

ets-small

KUTA ID– Bank Indonesia (BI) menyatakan siap untuk melakukan redenominasi rupiah pada kuartal II-2017. Kesiapan tersebut juga disambut baik oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter (DKEM) BI Dody Budi Waluyo menjelaskan, persiapan impelementasi rupiah memakan waktu sekitar tujuh tahun. Dalam kurun waktu tersebut, pihaknya berharap implementasi redenominasi rupiah bisa berjalan sesuai harapan.

Menurut Dody, pada tahap awal implementasi akan ada masa transisi sebelum redenominasi benar-benar dilakukan. “Akan ada dua price tag untuk satu barang, yakni ada harga lama dan harga baru,” kata dia di Kuta, Badung, Bali, Senin (23/5).

Masa transisi ini bertujuan agar masyarakat tidak berpikir redenominasi sama dengan sanering. Padahal, redenominasi adalah memotong dua desimal terakhir dari sebuah harga. “Misalnya Rp 1.000 menjadi Rp 10. Redenominasinya tidak mengubah harga, tidak mengubah nilai uang ataupun harga suatu barang,” ujar dia.

Chief Economist SKHA Institute of Global Competitiveness Eric Sugandi menambahkan, dalam kondisi saat ini, BI bisa saja melakukan redenominasi. Pasalnya, inflasi terjaga dalam kondisi rendah, nilai tukar rupiah juga menguat dan kondisi ekonomi stabil. “Kuncinya adalah di sosialisasi ke masyarakat, khususnya waktu pakai system dua tag harga,” ujar dia.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR I Gusti Agung Rai Wirajaya mengatakan, DPR sudah siap untuk mendukung implementasi redenominasi rupiah. “Kalau BI sudah siap, kami juga siap,” kata dia.

Sebelumnya, mantan Deputi Gubernur BI Ronald Waas mengungkapkan, untuk mengimplementasikan redenominasi rupiah maka perekonomian domestik dan kondisi politik harus stabil. Pihaknya pun sudah membentuk pansus dengan DPR agar implementasi redenominasi tidak simpang siur.

Lebih lanjut, dia mengakui, persiapan redenominasi memang memakan waktu lima hingga tujuh tahun. Persiapan tersebut menyangkut pencatatan uang, desain uang, hingga sosialisasi dan edukasi ke seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau mau impelementasikan, kondisi perekonomian dan politik harus stabil serta mendapat komitmen dari semua pihak,” kata dia.

Sementara itu, terkait kondisi perekonomian saat ini, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, perekonomian Indonesia sudah memasuki fase peningkatan. Sebelumnya, pada 2013-2015 perekonomian Indonesia mengalami kemerosotan akibat penyesuaian kebijakan suku bunga Amerika Serikat. (gtr)

lol

Redenominasi atau penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilainya mulai dibahas di 2012. Redenominasi dengan menghilangkan 3 angka nol dalam mata uang rupiah nantinya akan berkaca pada kisah sukses redenominasi dari negara Turki.

“Kita belajar dari Turki yang sukses melakukan redenominasi,” ungkap Juru Bicara BI Difi Johansyah kepada detikFinance, Kamis (8/12/2011).

Redenominasi dilakukan, sambung Difi setelah Turki menjaga inflasinya dibawah 10%. Indonesia sendiri menurutnya tingkat inflasi terjaga dibawah 5%.

“Hal ini menjadi bekal kedepan. Adanya disiplin fiskal RI dan rendahnya inflasi menjadi modal proses redenominasi bisa sukses,” jelasnya.

Turki tercatat pernah sukses melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.

Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Seperti dikutip dari situs bank sentral Turki, beberapa waktu lalu, kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.

Sebagai dampak dari inflasi tinggi ini juga, setiap 2 tahun sekali sejak 1981, bank sentral Turki selalu menerbitkan mata uang kertas pecahan baru yang lebih besar. Bahkan ada mata uang yang mencapai 20 juta lira, atau merupakan mata uang dengan nominal terbesar di dunia. Hal ini pula yang menyebabkan kredibilitas mata uang Turki menurun.

Pecahan nominal yang besar ini menyulitkan masalah dalam sistem pencatatan akuntansi dan statistik di negara tersebut. Hal inilah yang menjadi latar belakang redenominasi dilakukan.

Bank sentral Turki memberlakukan redenominasi mulai 1 Januari 2005 dengan memberlakukan mata uang baru yaitu ‘New Turkish Lira’ (YTL), dan uang logamnya dengan satuan ‘New Kurus’ (YKr). Jadi 1 YTL sama dengan 100 YKr.

Masa transisi dari mata uang lama ke mata uang baru ini dilakukan selama 1 tahun. Dan dalam periode transisi tersebut, mata uang lama tetap berlaku dan ditarik perlahan-lahan hingga 2006. Jadi nilai 1 YTL sama dengan 1.000.000 lira (mata uang lama).

Proses transisi berjalan mulus. Masyarakat Turki juga tidak perlu perlu berebutan dan mengantre untuk menukarkan uangnya ke dalam mata uang baru, sebab uang lama tetap berlaku. Sehingga pertukaran antara mata uang lama dan baru dilakukan secara alami.

Proses redenominasi yang dilakukan secara perlahan ini sukses dilakukan serta tidak membuat nilai mata uang mereka bergejolak. Bahkan perkembangan suku bunga perbankan pun terlihat stabil dengan kebijakan redenominasi tersebut.

Dengan redenominasi yang diberlakukan, maka nilai nominal mata uang Turki yang baru adalah pecahan 1, 5, 10, 20, 50, dan 100 YTL. Sementara mata uang logamnya adalah 1, 5, 10, 20, 50 YKr, dan 1 YTL.

Redenominasi ini juga sukses menekan laju inflasi di negara tersebut. Pada 2008, laju inflasi Turki mencapai 10,1%, dan terus menurun sampai di bawah 10% pada tahun 2009. Padahal pada tahun 1981, inflasi di Turki pernah tembus 100%.

Sumber: detikcom

dollar small

Rabu, 07/12/2011 16:13 WIB
DPR Siap Ubah Rp 1000 menjadi Rp 1, Asal…
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – DPR menyambut rencana pengajuan RUU Redenominasi oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tahun depan. DPR siap membantu merealisasikan perubahan Rp 1.000 menjadi Rp 1.

Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR Kemal Azis Stamboel dalam pernyataannya yang dikutip, Selasa (7/12/2011).

“Karena wacananya sudah berkembang pesat di publik, tentu DPR akan responsif untuk membahas RUU ini kalau diajukan. Tetapi tentunya tidak otomatis bisa digaransi tahun depan selesai. Karena harus melalui pertimbangan dan perdebatan yang matang tentunya, sehingga bisa disahkan. Prinsipnya silakan segera diajukan,” paparnya.

Menurut anggota Fraksi PKS ini ada empat syarat yang harus dilakukan agar redenominasi ini sukses yaitu inflasi yang rendah dan stabil, adanya jaminan stabilitas harga, kondisi perekonomian yang stabil, dan didasarkan atas kebutuhan riil masyarakat atau adanya dukungan pemahaman masyarakat.

“Inflasi tahun ini memang sudah rendah, tetapi perlu dipertimbangkan apakah angka inflasi yang rendah saat ini bisa dipertahankan berkelanjutan ke depan. Selain itu kita juga menghadapi risiko krisis dan resesi ekonomi global tahun depan yang perlu diwaspadai ketika menjalankan kebijakan ini,” kata Kemal.

Dukungan publik menurut Kemal sangat penting karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar dengan sebaran geografis yang luas. Faktor-faktor tersebut tentunya tidak sama dengan negara-negara lain yang telah menjalankan kebijakan ini.

Selain pemenuhan berbagai prasyarat tersebut, menurutnya, timing dan jangka waktu pelaksanaan proses redenominasi juga harus dikaji secara mendalam.

“Apakah tahun 2013, pasca pemilu, atau kapan? Dengan mempertimbangkan dinamika sosial politik, apakah yang terbaik 10 tahun, 5 tahun atau lebih cepat. Oleh karena itu harus dilakukan evaluasi secara mendalam dan objektif terkait dengan pemenuhan prasyarat, penentuan timing yang tepat dan masalah jangka waktunya. Kita tentu juga concern agar redenominasi rupiah tidak menyebabkan pencetakan rupiah yang eksesif oleh otoritas. Ini semua tentu akan menjadi pertimbangan penting dalam pembahasan RUU itu,” tukas Kemal.

(dnl/hen)

long jump icon

Kamis, 08/12/2011 08:44 WIB
Beda RI dan Zimbabwe dalam Mengganti 1.000 Menjadi 1
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Indonesia merencanakan untuk melakukan redenominasi mata uang dari Rp. 1000 menjadi Rp. 1. Hal ini dilakukan sebagai bentuk efisiensi dan proses penyederhanaan rupiah agar lebih bernilai.

Negara Zimbabwe sendiri ternyata sudah melaksanakannya mulai 1 Agustus 2010. Tak tanggung-tanggung, Bank Sentral Zimbabwe meredenominasi dengan mengubah uang 10 miliar dolar Zimbabwe menjadi 1 dolar Zimbabwe atau menghilangkan 10 angka nol. Apa beda RI dan Zimbabwe?

Juru Bicara BI Difi Johansyah mengungkapkan terdapat perbedaan kasus redenominasi yang dilakukan Zimbabwe dan RI.

“Zimbabwe ini terjadi hyperinflation yang buruk dimana bank sentral dipaksa mencetak uang berlebih,” ungkapnya kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (8/12/2011).

Jumlah uang beredar yang tinggi, sambung Difi mengakibatkan spiral efek dimana masyarakatnya tidak nyaman memegang uang sebagai alat tukar. Oleh sebab itu dilakukanlah redenominasi. “Namun apa yang terjadi yakni ternyata negara tersebut gagal dalam melakukan redenominasi,” tegasnya.

“Bagaimana Indonesia? Kita melakukan studi redenominasi bukan karena hyperinflation. Justru karena inflasi yang membaik dan didukung oleh stabilitas perekonomian matang,” terangnya.

BI yakin redenominasi rupiah tidak akan mengalami nasib tragis layaknya dolar Zimbabwe. Kegagalan negara Zimbabwe dalam melakukan redenominasi beberapa waktu yang lalu disebabkan oleh tidak terkendalinya tingkat inflasi.

“Disiplin fiskal tinggi sekali di Indonesia. Saat ini uang dicetak sesuai dengan kondisi perekonomian sesungguhnya tidak berlebih,” kata Difi.

Seperti diketahui Gubernur Bank Sentral Zimbabwe Gideon Gono beberapa waktu lalu mengatakan kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk membantu masyarakat keluar dari hiper inflasi yang terjadi di negara tersebut.

“Dolar Zimbabwe diredenominasi menjadi 1 sampai 10 dolar, yang artinya menghilangkan 10 angka nol dalam nilai nominal uang. Jadi uang 10 miliar dolar Zimbabwe diubah menjadi 1 dolar Zimbabwe mulai 1 Agustus 2010,” tutur Gideon seperti dikutip dari Reuters.

Namun para analis merasa pesimistis dengan rencana ini. Mereka menilai kebijakan redenominasi ini tidak akan bisa mengakhiri kehancuran ekonomi negara tersebut yang disebabkan inflasi maha tinggi yaitu sebesar 2,2 juta persen. Ini merupakan inflasi tertinggi di dunia karena keterbatasan suplai makanan dan uang valas.

“Kebijakan ini (redenominasi) hanya sebuah jalan keluar untuk menghilangkan banyaknya angka nol dalam mata uang mereka. Namun kebijakan ini tidak mengatasi akar dari masalah,” ujar konsultan ekonomi John Robertson.

Menurutnya, permasalahan yang dihadapi oleh negara tersebut adalah kelangkaan arus dana masuk atau investasi dari luar.

Di Zimbabwe tiap hari harga terus meroket, dan inilah yang menyebabkan inflasi di negara tersebut sangat tinggi. Ini yang mendorong bank sentral Zimbabwe mengeluarkan uang kertas pecahan 100 miliar dolar Zimbabwe.

Gideon Gono pada pertengahan 2006 pernah melakukan kebijakan redenominasi dengan menghilangkan 3 angka nol pada mata uangnya. Hal ini dilakukan hanya untuk mempermudah masyarakat agar tidak perlu membawa tumpukan besar uang untuk belanja. Namun langkah ini ternyata mendorong kenaikan harga barang yang sangat tajam.

Bahkan yang lebih mencengangkan, pada bulan Juli lalu, pemerintah Zimbabwe diam-diam menaikkan gaji para pekerja menjadi rata-rata 2 triliun dolar Zimbabwe. Untuk menaikkan daya beli masyarakatnya. Tapi ternyata gaji tersebut hanya cukup untuk membiayai ongkos 10 kali perjalanan mereka bekerja atau hanya untuk membeli delapan potong roti saja.

(dru/qom)
Rabu, 07/12/2011 12:01 WIB
Negara-negara Ini Sukses ‘Menyulap’ 1000 Menjadi 1
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indonesia akan segera menerapkan redenominasi rupiah dengan menghilangkan 3 angka nol di mata uangnya. Sejumlah negara terhitung pernah sukses melakukan redenominasi mata uangnya, baik dengan menghilangkan angka nol, maupun menambahkannya.

Salah satu negara yang sukses melakukan redenominasi mata uangnya adalah Turki. Turki tercatat pernah sukses melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.

Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Seperti dikutip dari situs bank sentral Turki, Kamis (5/8/2010), kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.

Indonesia memang pernah mengalami hiperinflasi, namun tidak pernah melakukan redenominasi. Yang terjadi hanyalah nilai rupiah yang merosot tajam. Menurut studi dari Departemen Ilmu Politik Universitas North Carolina, Indonesia pernah hiperinflasi tinggi yakni pada tahun 1962 (131%), 1963 (146%), 1964 (109%), 1965 (307%), 1966 (1136%), 1967 (106%), dan 1968 (129%).

Banyak negara yang mengalami hiperinflasi dan akhirnya melakukan redenominasi. Nah, untuk redenominasi yang akan dilakukan Indonesia nanti tidak dikarenakan hiperinflasi, namun semata-mata untuk menyederhanakan saja.

Berikut daftar beberapa negara yang sukses melakukan redenominasi mata uangnya, baik dengan menambah ataupun mengurangi angka nol dalam pecahan uangnya yang dikutip detikFinance dari berbagai sumber, Rabu (7/12/2011).

Afghanistan: menghilangkan 3 angka nol
Turki: mengurangi 6 angka nol.
Zimbabwe: menghilangkan 3 angka nol
Ghana: menghilangkan 4 angka nol
Brasil: menghilangkan 18 angka nol, melalui 6 kali operasi pada 1967, 1970, 1986, 1989, 1993 dan 1994.
Argentina: menghilangkan 13 angka nol melalui 4 kali operasi pada 1970, 1983, 1985, 1992.
Israel: menghilangkan 9 angka nol melalui 4 kali operasi pada 1980 dan 1985.
Bolivia: menghilangkan 9 angka nol melalui 2 kali operasi tahun 1963 dan 1987.
Peru: menghilangkan 6 angka nol melalui 2 kali operasi pada thaun 1985 dan 1991.
Ukraina: menghilangkan 5 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1996.
Polandia: menghilangkan 4 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1995.
Meksiko: menghilangkan 3 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1993.
Rusia: menghilangkan 3 angka nol dalam 3 kali operasi pada tahun 1947, 1961 dan 1998.
Islandia: menghilangkan 2 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1981.

Sementara sejumlah negara justru sukses melakukan redenominasi dengan menambah angka nol. Contohnya adalah:

Afrika Selatan (1961)
Sierra Leone (1964)
Ghana (1965)
Australia (1966)
Bahama (1966)
Selandia Baru (1967)
Fiji (1969)
Gambia (1971)
Malawi (1971)
Nigeria (1973).

(qom/dnl)
Proses menghilangkan 3 angka nol dalam mata uang rupiah yang menjadi tujuan dari redenominasi sebenarnya sudah mulai terjadi di masyarakat. Di berbagai restoran atau kafe, kuotasi tiket pesawat, 3 angka nol sudah terbiasa dihilangkan untuk mempermudah.

Jika kita berkunjung ke sebuah coffee shop di mal ataupun kafe sudah banyak yang menghilangkan satuan ribu atau tiga angka nol dibelakang nilai sebuah barang atau makanan. Bahkan di seputaran Bali seperti di Legian, Kuta hingga Sanur sudah sangat lumrah hal ini terjadi.

Ekonom Drajad Wibowo meyakini menghilangkan tiga nol itu sangat bisa dan bukan merupakan hal mustahil. Secara psikologis, sebenarnya masyarakat sudah menganggap tiga angka nol hilang.

“Bahkan dalam banyak kasus restoran dan cafe, atau kuotasi tiket peswat, secara psikologis tiga nol tersebut sudah dianggap hilang. Dalam kuotasi tersebut angka ribuan ratusan dan satuannya dibuat lebih kecil dari angka puluhan ribu atau ratusan ribunya,” ungkap Drajad ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Rabu (7/12/2011).

Contohnya, Rp 100.000 ditulis menjadi Rp 100 K atau Rp 25.000 menjadi Rp 25 K. “Jadi dianggap hilang, dengan kata lain, dalam sebagian masyarakat sebenarnya sudah terjadi redenominasi de facto,” paparnya.

Karena itu, Drajad menyampaikan redenominasi sebenarnya bisa direalisasikan lebih cepat. Tinggal sekarang bagaimana BI mengintensifkan edukasi kepada masyarakat yang lebih luas bahwa redenominasi ini bukan sanering atau penurunan nilai mata uang.

“Selain itu perlu dibuat sistem monitoring agar selama masa transisi redenominasi, tidak ada inflasi yang tidak perlu. Maksudnya, dengan redenominasi bisa saja sebagian produsen dan pedagang mencuri-curi menaikkan harga dengan berlindung dibalik pembulatan,” jelas Dradjad.

“Contohnya, harga barang awalnya Rp 1.260 dengan redenominasi, teorinya harga dibulatkan menjadi Rp 1.30. Jadi sudah ada inflasi di sini. Tapi bisa saja
pembulatannya malah menjadi Rp 1.50. Akibatnya terjadi inflasi yang tidak perlu, nah Kemkeu dan BI perlu menyiapkan langkah antisipasi untuk menekan inflasi yang tidak perlu ini,” imbuhnya.

Proses redenominasi alias penyederhanaan nilai mata uang rupiah dengan menghilangkan beberapa angka nol segera masuk dalam pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bank sentral telah mengungkapkan bahwa proses redenominasi yang akan dilakukan teknisnya akan menghilangkan tiga angka nol dalam rupiah. Misalkan saja Rp. 1000 akan menjadi Rp 1.

Sumber: detikcom
Bank Indonesia (BI) dan pemerintah tengah merumuskan Undang-Undang mengenai Redenominasi (penyederhanaan nilai mata uang rupiah). Namun sudah dapat dipastikan penyederhanaan rupiah akan mengurangi tiga angka nol.

UU sedang disusun memang tidak mudah tetapi untuk penyederhanaan rupiah sudah bisa dipastikan mengurangi 3 angka nol,” kata Ketua Tim Pengaturan Sistem Pembayaran BI, Puji Atmoko kepada detikFinance di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (5/12/2011).

Menurut Puji, dalam pembahasan bersama pemerintah ada yang meminta angka nol dikurangi sampai empat digit. Tetapi sudah mengerucut hingga hanya 3 angka nol.

“Jadi ketika Rp. 1000 nanti akan menjadi Rp. 1,” tuturnya.

Dijelaskan Puji, dalam penyusunan UU Redenominasi perlu studi khusus yang memang masih dilakukan bank sentral. Dalam UU tersebut nantinya proses sosialisasi jadi langkah inti dalam pelaksanaan redenominasi.

Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan BI bersama pemerintah telah menyelesaikan harmonisasi pasal-pasal dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Redenominasi Rupiah. Setelah harmonisasi selesai, bank sentral bersama pemerintah akan mengajukan RUU tersebut ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk dimasukkan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas).

“Redenominasi sedang dalam proses pengajuan RUU-nya. Ya itu nanti kan masuk dalam Prolegnas terlebih dahulu, namun proses harmonisasi sudah selesai,” ungkap Darmin.

Menurutnya, proses pengajuan RUU ini memang tidak mudah karena harus berdiskusi di bawah Wakil Presiden RI langsung. “Tetapi ini kan harus dilakukan harmonisasi terlebih dahulu yang itu sudah selesai karena memang harmonisasi itu harus ada,” jelasnya.

Sebelumnya, Darmin berjanji sebelum masa pensiunnya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) selesai, proses redenominasi rupiah sudah berjalan. Masa jabatan Darmin akan berakhir di 2013.

“Sebelum masa jabatan habis saya ingin membuat BI itu lebih baik. Banknya beres, moneter beres termasuk redenominasi,” ujar Darmin beberapa waktu lalu.

Proses redenominasi saat ini koordinator pelaksananya berada di tangan Wakil Presiden RI. Darmin optimistis, sebelum masa jabatannya berakhir di 2013, proses penyederhanaan mata uang rupiah ini akan berjalan lancar.

Redenominasi merupakan proses penyederhanaan nilai mata uang rupiah. Dalam kajian sebelumnya, redenominasi akan menghilangkan 3 nol dalam nominal rupiah sekarang, namun tidak akan mengurangi nilainya. Misalnya adalah uang Rp 1.000.000 nantinya menjadi Rp 1.000 namun nilainya tidak berkurang.

BI beberapa kali menegaskan, redenominasi bukanlah sanering karena nilai rupiah tidak akan berkurang setelah redenominasi. BI memperkirakan proses redenominasi akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Tahapan pertama yang dilakukan bank sentral yakni sosialisasi yang semula dilaksanakan di tahun ini.

Sumber: detikcom

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s