bbri PALING EFI$1EN … 220611_030517

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

Liputan6.com, Jakarta – Sejumlah bank besar yang dilihat berdasarkan aset sudah menyampaikan kinerja keuangan kuartal I 2017. Bank-bank tersebut mencatatkan laba pada kuartal I 2017.

Analis menilai, kinerja keuangan positif itu didukung dari ada penurunan biaya pencadangan dan efisiensi.

Mengutip sejumlah laporan keuangan perseroan dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yang ditulis Selasa (2/5/2017), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan laba bersih naik 21,03 persen menjadi Rp 594,38 miliar. Pendapatan bunga naik 9,2 persen menjadi Rp 4,38 triliun.

Pendapatan bunga bersih perseroan tumbuh 13,47 persen menjadi Rp 1,99 triliun hingga kuartal I 2017.
Selain itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat laba naik 8,83 persen menjadi Rp 3,25 triliun hingga kuartal I 2017 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,98 triliun.

Perseroan mencatatkan pendapatan bunga bersih menguat 12,3 persen menjadi Rp 7,75 triliun pada kuartal I 2016 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 6,90 triliun. Pendapatan non bunga naik 14,2 persen menjadi Rp 2,23 triliun hingga kuartal I 2017.

Dua bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya juga mencetak kinerja positif pada tiga bulan pertama 2017. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba naik 6,9 persen menjadi Rp 4,1 triliun.

Kenaikan laba didorong pertumbuhan kredit 14,2 persen. Kredit Bank Mandiri tumbuh menjadi Rp 656,2 triliun hingga kuartal I 2017.

Sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencetak laba bersih naik 5,5 persen menjadi Rp 6,47 triliun hingga kuartal I 2017. Perseroan mencatatkan pertumbuhan kredit 16,4 persen menjadi Rp 653 triliun.

Tak hanya bank BUMN, sejumlah bank swasta juga mampu dulang laba hingga kuartal I 2017. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba naik 10,7 persen menjadi Rp 5 triliun. Perolehan laba didorong dari pendapatan bunga bersih dan operasional lainnya yang naik 5,3 persen menjadi Rp 13,5 triliun pada kuartal I 2017.

Outstanding kredit perseroan tumbuh 9,4 persen menjadi Rp 409 triliun pada akhir Maret 2017.

PT Bank CIMB Niaga Tbk membukukan laba bersih naik 138,02 persen menjadi Rp 639,54 miliar pada kuartal I 2017. Pendapatan bunga bersih perseroan naik 9,14 persen menjadi Rp 3,09 triliun. Dengan melihat kondisi itu, laba per saham perseroan naik menjadi 25,45 pada kuartal I 2017 dari periode sama tahun sebelumnya 10,69.

PT Bank Permata Tbk (BNL) pun akhirnya mencatatkan untung Rp 452,64 miliar pada kuartal I 2017 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 376,25 miliar.

Kinerja perseroan yang membaik ini didukung dari upaya perseroan menurunkan non performing loan (NPL) atau rasio kredit macet, pendapatan dari bisnis utama yang tetap berjalan baik.

Perseroan mencatatkan npl gross 6,4 persen per 31 Maret 2017. Ini turun dari 8,8 persen pada Desember 2016. Sedangkan rasio npl net tetap di kisaran 2,2 persen.

Perseroan yang masih fokus meningkatkan pengelolaan risiko dan npl sebagai upaya kurangi risiko dan menata kembali portofolio kredit, membuat penyaluran kredit melambat. Tercatat kredit turun 22 persen menjadi Rp 95,4 triliun.

Bank Permata juga meningkatkan saldo current account dan saving account (CASA) atau komposisi dana murah 13 persen sehingga CASA naik menjadi 46 persen pada kuartal I 2017 dibandingkan 38 persen pada tahun lalu.

Penurunan kredit perseroan menjadi penyebab utama dari net interest margin (NIM) lebih rendah menjadi 3,5 persen.

Analis PT NH Korindo Securities Bima Setiaji menuturkan, laba bank swasta naik di tengah penyaluran kredit melambat. Bima menuturkan, NPL secara industri hingga Maret 2017 turun jadi 3,04 persen dibandingkan Februari 2017 sebesar 3,16 persen. Ia menilai, kenaikan laba bank swasta ini didorong penurunan biaya pencadangan dan efisiensi.

“Kalau dilihat rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) menyusut jadi 81,7 persen dari 84,2 persen,” kata Bima saat dihubungi Liputan6.com.

Senada dengan Bima. Harry menuturkan, laba bank meningkat didorong dari biaya pencadangan yang menyusut. Sisi lain biaya kredit juga turun. “Ini menetralisir tren penurunan net interest margin (NIM), dan mendorong kenaikan laba,” kata Harry.

Sedangkan laba bersih bank BUMN, menurut Bima didorong dari penyaluran kredit bank BUMN mencapai dua digit. Ini ditopang dari proyek-proyek pemerintah.

Bima perkirakan, penyaluran kredit bank masih positif pada kuartal II 2017. Ini didukung dari penyaluran kredit karena ada efek Lebaran. Namun, Bima prediksi laba bank stagnan.

“Ini alasannya karena biaya dana untuk tahun ini akan naik karena ketatnya likuiditas di pasar. Kenaikan biaya dana ini kalau saya lihat tidak biasa diimbangi dari pertumbuhan pendapatan bunga kredit,” kata Bima.

Untuk rekomendasi saham, Bima menyatakan beli saham PT Bank Tabungan Negara Tbk dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. “Target harga saham PT Bank Tabungan Negara Tbk sebesar Rp 2.690 dan PT Bank CIMB Niaga Tbk sebesar Rp 1.360,” ujar dia.

lol

JAKARTA kontan. Perbankan nasional pada awal tahun 2017 ini mencatat kinerja yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan realisasi laba bersih 10 bank besar pada Februari 2017 senilai Rp 13,58 triliun atau naik 11,96% secara tahunan atau year on year (yoy).

Berdasarkan rekapitulasi KONTAN terhadap laporan keuangan bulanan 10 bank besar, tercatat kenaikan laba bersih pada Februari 2017 ini lebih tinggi dari kenaikan pada Februari 2016 sebesar 0,66% yoy.

Jika dilihat lebih detail, laba bersih 10 bank besar ini hampir 84% disumbang oleh bank BUKU IV. Tercatat laba bersih kelompok bank BUKU IV pada Februari 2017 hampir Rp 11,4 triliun.

Dari empat bank BUKU IV, Bank BRI mencatat laba tertinggi yaitu Rp 4,12 triliun. Nomor dua yaitu BCA sebesar Rp 3,14 triliun, ketiga adalah Bank Mandiri sebesar Rp 2,46 triliun. Sedangkan nomor empat adalah BNI sebesar Rp 1,68 triliun.

Perolehan laba yang cukup baik pada Februari 2017 ini didorong oleh pendapatan bunga bersih sebesar Rp 37,4 triliun atau naik 6,96% yoy. Sedangkan beban operasional selain bunga bersih tercatat sebesar Rp 20,1 triliun naik 0,31% yoy.

Pada Februari 2017, jumlah cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang dialokasikan 10 bank besar tercatat sebesar Rp 113,5 triliun atau naik 33,8% yoy. Kenaikan CKPN pada Februari 2017 ini lebih rendah dibandingkan Februari 2016 sebesar 34% yoy.

Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA mengatakan kinerja perbankan pada awal tahun ini didukung oleh pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) yang cukup baik.

“Namun secara umum, kami mencatat permintaan kredit pada awal tahun ini masih lemah, belum ada sektor penyaluran kredit yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi,” ujar Jahja kepada KONTAN, Selasa (4/4).

ets-small

 

JAKARTA kontan. Otoritas Jasa Keuangan or Financial Services Agency (FSA) will release OJK Regulation which requires all domestic systemically important banks (D-SIBs) to create recovery plan.

Commissioner of OJK for Banking Affairs Nelson Tampubolon said, recovery plan shall include bank’s plan to cope with financial, liquidity, and capital issues. In this case, bank may take three steps in coping with those issues.

First, controlling shareholders can inject additional capitals. Second, the controlling shareholders may invite strategic investors to increase the capital.

Third, the bank may convert certain debts into capitals.

Nelson added, OJK has conducted preliminary discussions with the D-SIBs.

“There are 12 major banks under the category of D-SIB, which will be required to create recovery plan,” Nelson said.

The requirement is in accordance with the Law on Crisis Prevention and Management of Financial System (PPKSK). The law will take into effect after the issuance of POJK. “We will issue the POJK no later than the end of March 2017,” Nelson added.

As information, the recovery plan, which will be proposed to OJK, has to be approved and signed by president director, president commissioner, and the controlling shareholders. The plan has also to be approved by general meeting of shareholders.

The future POJK will include recovery options. These options would be determined by the banks to respond financial stress in maintaining or recovering financial conditions, as well as bank’s viability.

President Director of PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja said, the bank has prepared the contingency plan, which is related to capital and liquidity matters.

The contingency plan includes the establishment of a committee to quickly respond emergency situation. According to Parwati, the future recovery plan can be included under contingency plan.

Financial Director of PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) said that the bank always prepares plan to respond the risks. To date, BRI is maintaining capital adequacy ratio at minimum of 16% to anticipate capital related issues.

BRI has prepared contingency funding plan by including the parameter of liquidity risks limit. The parameter is regularly monitored. “BRI is periodically conducting stress test related to capital and liquidity adequacy,” Haru said. (Muhammad Farid/Translator)

ets-small

Direktur Utama Bank BRI Asmawi Syam mengimbau, kepada masyarakat terutama para investor untuk tidak menelan mentah-mentah isu gerakan penarikan uang secara besar-besaran alias rush money.

Adapun, aksi tersebut akan dilakukan pada 25 November 2016 atau bersamaan dengan rencana aksi demonstrasi kedua kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Iya kita menghimbau masyarakat bahwa kalau ini ada isu seperti ini jangan langsung percaya, artinya fundamentalk ekonomi kita bagus. Perbankan sehat dan fundamentan perbankan kita di Indonesia sehat. jadi jangan sampai masyarajat itu terlalu mudah percaya gosip seprti itu,” kata Asmawi di Komplek Istana, Jakarta, Jumat (18/11/2016).

Asmawi memastikan, fundamental perekonomian nasional dalam kondisi yang sehat dan solid. Bahkan, perbankan nasional sudah mulai transparan dengan melantai di bursa saham Indonesia. “Sehingga dengan demikian kita justru berharap masyarakat ini tidak terpengaruh, apalagi percaya,” tambahnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/11/18/320/1545072/bos-bri-imbau-masyarakat-tak-percaya-isu-rush-money
Sumber : OKEZONE.COM

 lol

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah menurunkan tingkat bunga penjaminan untuk simpanan dalam mata uang Rupiah serta valuta asing. Kini, suku bunga penjaminan simpanan di bank umum dipatok 6,25 persen atau turun sebesar 50 basis poin. Adapun bunga penjaminan pada simpanan Rupiah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ditetapkan sebesar 8,75 persen.

Lalu, bagaimana penurunan suku bunga LPS ini terhadap suku bunga perbankan?

Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengatakan, suku bunga deposito secara otomatis akan turun berkat penurunan suku bunga LPS ini. Hanya saja, saat ini BRI masih akan menghitung berapa basis poin suku bunga deposito yang akan diturunkan.

“Ya itu kan kait mengait, otomatis kalau semua turun, suku bunga juga akan turun. Ya nanti dihitung,” kata Asmawi di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/9/2016).

Hanya saja, selain suku bunga LPS, banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk menurunkan suku bunga deposito. Untuk itu, BRI akan melihat segala aspek sebelum menurunkan tingkat suku bunga LPS.

“Ya menurunkan suku bunga kan komponennya bukan hanya LPS. LPS (hanya) sebagai acuan. Kita harus cari juga data, menghitung cost of fund kita, menghitung juga gimana dana murah, dana mahal, komposisi dan sebagainya,” tutupnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/09/16/320/1490725/bri-bakal-turunkan-suku-bunga-deposito
Sumber : OKEZONE.COM

lol

JAKARTA kontan. Bank Indonesia (BI) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan kredit perbankan tahun ini menjadi 7%-9% dari proyeksi sebelumnya 11%-13% yoy (year-on-year). Penurunan ini dikarenakan masih rendahnya realisasi kredit di semester I 2016.

Gubernur BI, Agus Martowardojo, mengatakan di kuartal IV 2016 nanti saluran kredit dapat bergerak lebih cepat sesuai target meski pada Agustus 2016 pertumbuhan kredit masih di bawah 3% (year to date/YTD).

“Sebelumnya, kami memperkirakan dua digit, setelah dikaji kami memperkirakan menjadi single digit,” ujar Agus di sela-sela konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) (19/8).

BI juga mengumumkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada akhir triwulan II 2016 mengalami penurunan dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2016 sebesar 6,4% (yoy) menjadi 5,9 (yoy).

Direktur PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Sis Apik Wijayanto mengatakan meski proyeksi BI menurun, bank pelat merah ini mengaku tetap akan konsisten mengikuti Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah diatur.

Sis Apik juga mengharapkan sektor ritel dapat tumbuh, baik untuk DPK maupun pinjaman. “Karena kita (BRI) mengacu pada target pertumbuhan CASA antara 58%-60%. Harapannya, dengan payment dan digitalisasi nantinya DPK ritel khususnya tabungan akan naik,” tuturnya kepada KONTAN (19/8). Hal ini menurutnya disebabkan oleh masih adanya beberapa sektor di Indonesia yang belum stabil.

Sekadar informasi, meski pertumbuhan DPK perbankan mengalami penurunan, BRI justru mengalami peningkatan 14,5% (yoy) pada semester I 2016. BRI berhasil menghimpun dana sebesar Rp 656,1 triliun dengan mayoritas didominasi oleh dana murah (CASA) yang tumbuh 56,9% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 54,1%.

lol

JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sampai semester I-2016, pencadangan perbankan masih naik. Salah satu penyebabnya adalah rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) Gross sebelum dikurangi pencadangan, yang relatif masih meningkat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, walaupun Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) bank masih naik pada paruh pertama tahun ini 2016, namun secara umum pencadangan bank masih dibatas normal. “Sektor yang menyumbang kenaikan CKPN adalah dari pertambangan,” ujar Nelson, Minggu (24/7).

Nelson mengatakan, dengan kredit yang mulai tumbuh pada Juni 2016, diharapkan NPL mengalami penurunan. Berdasarkan data OJK sampai Mei 2016, tercatat CKPN yang telah dibentuk bank naik 37,38% yoy menjadi Rp 130,34 triiun. Pencadangan yang dibentuk sampai Mei 2016 ini sejalan dengan kenaikan NPL sebesar 20,37bps menjadi 3,11%.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menyebut, sampai semester I-2016, pencadangan BRI sebesar 150%. CKPN sampai Juni 2016 naik 900 bps year on year (yoy). “Jadi kami memprioritaskan pencadangan untuk mengantisipasi kenaikan NPL,” ujar Haru, Jumat, (24/7).

Sebagai informasi, sampai kuartal I 2016, total dana yang dianggarkan bank berkode BBRI ini untuk CKPN sebesar Rp 18,65 triliun.

 lol

JAKARTA kontan. Bank besar mempersiapkan diri berebut limpahan dana pengampunan pajak (tax amnesty). Tak hanya bank milik pemerintah (BUMN), sejumlah bank asing dikabarkan berpeluang menjadi bank penampung dana pengampunan pajak.

Sumber KONTAN di lingkungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berbisik, sejumlah bank asing asal Singapura semisal UOB Indonesia, DBS Indonesia, OCBC NISP, dan Bank Danamon juga memperoleh restu untuk menerima aliran dana repatriasi.

Alasannya, “Bank milik investor Singapura memiliki ragam produk sophisticated, khususnya produk private banking untuk tampung dana itu,” jelas sumber tersebut.

Sejauh ini, hanya bank besar atau kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV yang disebut-sebut berhak menampung dana. Mereka adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BCA).

Pemilihan bank kelompok BUKU IV karena telah mengantongi izin trustee.

Ketua Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, pihaknya segera merilis aturan main bank tentang dana pengampunan pajak. “Dana ini akan memperkuat likuiditas, permodalan dan fee based income,” ujar Nelson kepada KONTAN, Rabu, (29/6).

Mochammad Doddy Arifianto, Kepala Subdivisi Risiko Perekonomian dan Sistem Perbankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai, bank akan menarik danatax amnesty lewat instrumen surat utang semisal obligasi dan medium term notes(MTN).

Hitungan LPS, aliran masuk dana pengampunan pajak membuat dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh dobel digit di akhir tahun. “Kredit berpotensi tumbuh 13%-15%,” ujar Doddy.

Siapkan instrumen

Bank tengah mematangkan penerbitan instrumen yang bisa menarik dana tax amnesty. Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo bilang, Bank Mandiri akan meluncurkan MTN dan sertifikat deposito (NCD) di semester II.

“Kami mempunyai infrastruktur seperti Mandiri Manajemen Invetasi (MII) dan Mandiri Sekuritas. Produk yang ada sekarang masih bisa untuk menampung dana itu,” ujar Kartika.

Direktur Tresuri dan Internasional BNI Panji Irawan mengatakan, pihaknya menyiapkan produk seperti deposito, reksadana dan obligasi. BNI akan memanfaatkan infrastruktur kantor cabang di luar negeri dan anak usaha untuk menampung dana.

Direktur Konsumer BRI Sis Apik Wijayanto mengatakan, BRI akan merilis surat berharga dan deposito valas khusus tax amnesty. “Kami tidak bisa memprediksi target dana, karena ini baru. Kami masih pelajari,” timpal Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Bank milik Singapura pun sudah siap bersaing. Direktur Utama Bank OCBC NISP NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, pihaknya berencana menerbitkan surat utang di semester II 2016 dan 2017. Namun,

“Hal ini disesuaikan dengan kondisi pasar dan kebutuhan bank,” ujar Parwati. Per April 2016, perbankan telah menerbitkan surat utang Rp 62,5 triliun.

 lol

ID: KOUROU, GUYANA—Setelah dua kali tertunda akibat kerusakan teknis pada roket peluncur, Ariane 5, satelit BRI atau BRIsat diluncurkan di Kourou, Guyana, Jumat (17/6), pukul 17.30-18.30 waktu setempat atau Sabtu (18/6) dini hari, pukul 03.30-04.30 WIB. BRI bukan saja menorehkan sejarah baru bagi dirinya, melainkan juga bagi industri finansial dunia.

 

“Saya bahagia dengan peluncuran BRIsat. Karena dengan memiliki satelit sendiri, kami sudah menancapkan tonggak sejarah baru bagi industri finansial,” kata Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk Asmawi Syam di Kourou, Guyana, Jumat (17/6) siang, beberapa jam menjelang peluncuran BRIsat.

 

Peluncuran BRIsat sempat dua kali ditunda. Rencana awalnya, peluncuran BRIsat dilangsungkan Rabu (8/6). Namun, setelah diundur ke Kamis (16/6), pihak Arianespace menyatakan penundaan lagi selama 24 jam.

 

Memiliki sendiri satelit, kata mantan Dirut BRI Iwan Prawiranata, sudah menjadi mimpinya sejak di Bank Exim pada era 1980-an.

 

Waktu itu, ia sudah memperkirakan besarnya ketergantungan industry finansial terhadap teknologi telekomunikasi. Ketika memimpin BRI tahun 1992-1993, mimpi kian kuat karena penggunaan teknologi komunikasi oleh perbankan dan industry keuangan lainnya kian besar.

 

“Saya senang karena hari ini, mimpi itu sudah menjadi kenyataan,” kata Iwan yang bersama mantan Dirut BRI Djokosantosi Moeljono ikut juga dalam rombongan ke Kourou. (bersambung)

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/satu-satunya-bank-di-dunia-miliki-satelit/145438

 animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

JAKARTA kontan. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) akan meluncurkan satelit bernama BRIsat. Pemakaian satelit BRIsat akan menjangkau wilayah yang selama ini masih belum terlayani layanan BRI.

Setelah BRIsat beroperasi, BRI optimistis bisa menambah 10 juta nasabah. Sampai kini, BRI memiliki 50 juta-60 juta nasabah. Saat ini, BBRI masih menyewa satelit dengan biaya Rp 500 miliar per tahun.

Dengan satelit sendiri, BRI bisa melakukan efisiensi dan memangkas biaya. Haru Koesmahagyo, Direktur Keuangan BRI, beberapa waktu lalu mengatakan biaya akan turun 40% bila satelit sudah digunakan. Satelit menghabiskan anggaran senilai Rp 3,4 triliun.

Lucky Bayu Purnomo, Analis Danareksa Sekuritas, melihat, pada dasarnya sentimen negatif masih menghantui BRIsat karena keterlambatan peluncuran. Tapi di jangka menengah, BRIsat akan berdampak positif. Sebagai bank komersial yang memiliki jaringan nasabah terluas di Indonesia, BBRI dapat melakukan optimalisasi dengan inovasi tersebut.

“Upaya ini akan memberikan kualitas perolehan laba fundamental BRI lebih baik dan margin yang cenderung tumbuh karena meningkatnya nasabah,” kata Lucky.

Menurut dia, sektor keuangan masih menunggu Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), dengan potensi tertahannya suku bunga di 6,75%. Akibatnya, sektor perbankan menjadi kurang menarik.

Dari sisi global, dollar AS masih mendominasi rupiah. “Potensi pelemahan rupiah akan menjadi sentimen negatif bagi kinerja harga BBRI,” kata Lucky.

Di jangka panjang, Lucky melihat, BBRI memiliki kualitas fundamental lebih solid dibandingkan BMRI dan BBNI, karena penyebaran nasabah relatif tinggi dan produk kredit BRI mengarah ke ekonomi kredit kerakyatan.

Lucky memprediksi, margin laba bersih BBRI di 13% tahun ini. Suria Dharma, Analis Buana Capital, mengungkapkan, BRI bisa melakukan efisiensi dan memangkas biaya dengan satelit milik sendiri. “Jadi tak perlu membayar satelit lagi dan di jangka panjang bagus untuk BRI,” kata Suria, kepada KONTAN.

Sejak pemerintah menerapkan suku bunga kredit single digit, BBRI menurunkan suku bunga kredit menjadi 9,75%. Tapi, Suria mengungkapkan perseroan masih dapat merasakan sisi positif. BRI akan mendapat perhatian debitur bank kecil.

BBRI terhitung gencar mengucurkan kredit usaha rakyat (KUR). BBRI juga berpotensi meningkatkan kualitas pinjaman kredit kelas kecil maupun menengah. Menurut Christian Saortua Analis Minna Padi Investama, BRI bisa menghemat biaya sewa satelit sampai 50% per tahun.

Dampak lain adalah BRI akan memiliki infrastruktur kuat untuk menggenjot digital banking dan program laku pandai. “Ini sesuai dengan strategi BBRI yang menjangkau ke daerah yang infrastruktur komunikasi konvensional belum memadai,” kata Christian.

Christian merekomendasikan hold saham BBRI dengan target harga Rp 11.200 per saham. Suria merekomendasikan buy dengan target harga Rp 11.500. Lucky merekomendasikan buy saham BBRI dengan target harga sebesar Rp 10.800 hingga penutupan tahun 2016.

lol

Bisnis.com, JAKARTA— PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. meyakini dengan satelit (BRISat) yang diluncurkan itu dapat meningkatkan efisiensi perseoran.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan perseroan dapat menghemat biaya hingga 40% dengan memiliki satelit sendiri.

Dia menjelaskan selama ini perseroan menyewa transponder untuk melancarkan usaha perbankannya. Menurutya, dalam setahun, biaya yang digunakan untuk sewa transponder ini senilai Rp500 miliar.

“Kalau dengan satelit, bisa lebih menghemat 40%, biayanya berkurang dari Rp500 miliar jadi Rp300 miliar setahun,” ujarnya, Selasa (31/5/2016).

Haru mengatakan perseroan mengeluarkan biaya investasi sebesar US$250 juta atau setara dengan Rp3,375 triliun untuk peluncuran satelit ini. Dibandingkan dengan sewa, biaya investasi tersebut masih lebih kecil.

Pasalnya, masa pakai satelit dapat mencapai 17 tahun. Hingga 17 tahun mendatang, bila masih melakukan sewa transponder, BRI setidaknya harus mengeluarkan biaya hingga US$4,25 miliar.

Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengatakan kebutuhan transponder tiap tahunnya selalu meningkat. Sementara suplai transponder tidak bertambah. “Jadi harganya pun berpotensi terus naik,” katanya.

BRISat dijadwalkan akan meluncur ke orbit menggunakan roket Ariane 5 milik perusahaan Arianespace pada 8 Juni 2016 pukul 20.30 UTC di Kourou, French Guiana, Amerika atau bertepatan dengan 9 Juni 2016 pukul 03.30 WIB.

BRISat diperkirakan akan mulai beroperasi pada 15 Agustus 2016.

Asmawi mengatakan berbagai pihak terkait memastikan bahwa persiapan telah dilakukan matang beserta seluruh operasional pendukungnya. Satelit control facility yang bersifat primarydan back up pun sudah dapat beroperasi dengan baik.

Tim BRISat yang berjumlah 53 orang pun sudah ditempatkan di posisinya masing-masing untuk mengelola 45 transponder. Adapun dari 45 transponder tersebut, 4 transponder diserahkan ke pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika.gifi

JAKARTA okezone- Enam perusahaan asal Indonesia masuk ke dalam daftar Forbes Global 2.000 tahun 2016. Global 2.000 merupakan perusahaan yang dilihat dari besarnya aset, laba, pendapatan hingga kapitalisasi pasar.

Seperti dilansir Forbes, Jakarta, Kamis (26/5/2016), dari enam perusahaan Indonesia yang masuk ke dalam Forbes Global 2.000 didominasi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor perbankan.

Pertama adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Bank pelat merah ini bercokol di posisi 429 dengan nilai penjualan mencapai USD7,1 miliar, dengan keuntungan USD1,9 miliar, aset BRI pun mencapai USD63,7 miliar dan kapitalisasi pasar mencapai USD20,4 miliar.

Menyusul BRI, perusahaan pelat merah lainnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masuk ke dalam jajaran Global 2.000 versi Forbes di peringkat 462. Bank Mandiri mencatat nilai penjualan mencapai USD7,5 miliar, dengan keuntungan Bank Mandiri mencapai USD1,5 miliar, aset Bank Mandiri mencapai USD66 miliar dan kapitalisasi pasar Bank Mandiri USD17,6 miliar.

Tak hanya perbankan pelat merah, nama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang notabene bank swasta pun masuk ke dalam Global 2.000 versi Forbes di urutan 620. Penjualan BCA tercatat sebesar USD4,4 miliar dengan keuntungan sebesar USD1,3 miliar. Aset BCA pun mencapai USD43,1 miliar serta kapitalisasi pasar BCA sebesar USD24,5 miliar.

BUMN lainnya yang masuk Global 2.000 versi Forbes adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) di urutan 659. Telkom mencatat penjualan sebesar USD7,8 miliar dengan keuntungan USD1,2 miliar. Aset Telkom mencapai USD13,3 miliar dengan kapitalisasi pasar menyentuh USD27,4 miliar.

Tidak mau ketinggalan, BUMN perbankan lainnya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) pun masuk Global 2.000 versi Forbes di peringkat 1.063. BNI mencatat penjualan USD3,6 miliar dengan keuntungan USD680 juta. Aset BNI mencapai USD38,4 miliar dan kapitalisasi pasar BNI mencapai USD6,9 miliar.

Perusahaan terakhir asal Indonesia yang masuk ke dalam Global 2.000 versi Forbes adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM) di peringkat 1.387. Gudang Garam mencatat penjualan USD5,3 miliar dengan keuntungan USD480 juta. Aset Gudang Garam mencapai USD4,6 miliar serta kapitalisasi pasar mencapai USD9,8 miliar.

(dni)

gifi

JAKARTA id– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merampungkan aturan terkait insentif berupa pelonggaran alokasi modal inti dalam pembukaan kantor cabang, bagi bank yang dapat menurunkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dan beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). OJK akan merilis aturan tersebut pekan ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad menuturkan, pihaknya telah merampungkan ketentuan terkait insentif bagi bank yang dapat menurunkan NIM ataupun BOPO. Selain kelonggaran alokasi modal inti, lanjut dia, bank yang dapat memenuhi rasio NIM dan BOPO tertentu yang dinilai cukup efisien akan diberikan bantuan antara lain pelatihan bagi sumber daya manusia (SDM) bank tersebut.

“Ketentuan ini sudah diputuskan di RDK (rapat dewan komisioner) OJK, tinggal drafting. Karena berupa insentif, ini boleh dimanfaatkan dan boleh juga tidak. Tapi memang harus cukup mendorong minat agar efisiensi bank tercapai,” ujar Muliaman di Jakarta, Senin (25/4).

Sebelumnya, Muliaman menjelaskan, dalam ketentuan tersebut bank dapat memperoleh potongan alokasi modal inti untuk pembukaan kantor cabang hingga 40-50% dari ketentuan yang ada saat ini. Menurut dia, semakin besar bank dapat menurunkan NIM dan BOPO, maka akan semakin besar pula kelonggaran yang akan diperoleh bank dalam membuka kantor cabang.

“Jadi nanti ada formula diskon untuk alokasi modal inti bagi bank yang bisa menurunkan NIM maupun BOPO-nya, persyaratannya bisa 40-50% lebih longgar dibandingkan aturan yang berlaku saat ini,” terang dia.

Aturan terkait insentif NIM dan BOPO tersebut merupakan langkah OJK untuk mendorong penurunan suku bunga Perbankan dibawah 10%. Muliaman optimistis target suku bunga perbankan pada level satu digit dapat terealisasi tahun ini. Dalam peraturan OJK Nomor 6/ POJK.03/2016 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti, disebutkan OJK mempertimbangkan pencapaian tingkat efisiensi bank dalam menyetujui jumlah jaringan kantor yang direncanakan dibuka oleh bank sesuai rencana bisnis bank (RBB). Pencapaian tingkat efisiensi bank diukur melalui rasio BOPO dan rasio NIM atau rasio net operating margin (NOM).

Dalam memper timbangkan ketersediaan alokasi modal inti dalam pembukaan kantor bagi perbankan, OJK membagi zona dengan mempertimbangkan tingkat kejenuhan bank dan pemerataan pembangunan yang terdiri atas zona 1 (paling jenuh) hingga zona (paling tidak jenuh), koefisien masing-masing zona dan biaya investasi pembukaan kantor bank untuk masing-masing kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU).

Ketentuan mengenai tata cara perhitungan alokasi modal inti diatur dengan Surat Edaran OJK yang saat ini belum tersedia. Adapun ketentuan perhitungan alokasi modal inti dalam rangka pembukaan jaringan kantor bank masih menggunakan ketentuan yang diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/7/DPNP terkait Pembukaan Jaringan Kantor Bank Umum Berdasarkan Modal Inti.

Dalam ketentuan tersebut, bank memperhitungkan alokasi modal inti sesuai dengan lokasi dan jenis kantor yang sudah ada dan pembukaan jaringan kantor yang baru. Perhitungan alokasi modal inti diperoleh dari hasil perkalian antara koefisien zona dengan biaya investasi pembukaan jaringan kantor sesuai BUKU. Dalam ketentuan tersebut, koefisien zona ditetapkan sebesar 5 untuk zona 1, 4 untuk zona 2, 3 untuk zona 3, 2 untuk zona 4, 1 untuk zona 5, dan 0,5 untuk zona 6.

Sedangkan biaya investasi pembukaan kantor cabang untuk kantor cabang dan kantor wilayah yang bersifat operasional ditetapkan sebesar Rp 8 miliar untuk BUKU I dan II, dan Rp 10 miliar untuk BUKU III dan IV. Kantor cabang pembantu dan kantor fungsional ditetapkan sebesar Rp 3 miliar untuk BUKU I dan II, serta Rp 4 miliar untuk BUKU III dan IV.

Kantor kas dan kantor lain yang bersifat operasional di luar negeri atau kantor per wakilan apabila melakukan kegiatan operasional ditetapkan sebesar Rp 1 miliar untuk BUKU I dan II, serta Rp 2 miliar untuk BUKU III dan IV.

Untuk membuka kantor cabang, bank harus memperhitungkan ketersediaan alokasi modal inti dengan perhitungan total inti yang dimiliki bank dikurangi perkalian jumlah kantor cabang pada suatu zona dan jumlah alokasi modal inti di suatu zona. Jika hasilnya positif, bank masih memiliki kapasitas untuk membuka jaringan kantor.

gifi

Jakarta detik -Bank Indonesia (BI), Arifin Panigoro, dan sebanyak 22 perusahaan wajib pajak menerima penghargaan dari Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai pembayar pajak terbesar selama 2015.

Penghargaan ini langsung diberikan oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang didampingi oleh Dirjen Pajak Ken Dwijugeastiadi.

“Saya ucapkan selama kepada seluruh wajib pajak. Termasuk saya berikan apresiasi kepada Pak Arifin Panigoro. Karena pak Arifin bukan sebagai owner Medco. Karena diberikan penghargaan sebagai individu,” ungkap Bambang dalam sambutannya di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Selasa (5/4/2016).

Berikut rinciannya:
PT Bank Central Asia Tbk (BCA)
PT Astra Sedaya Finance
The Hongkong and Sanghai Banking Corp Ltd
PT Adaro Indonesia
PT Kaltim Prima Coal
PT Newmont Nusa Tenggara
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
PT Astra Daihatsu Motor
PT Unilever Indonesia Tbk
PT Krama Yudha Tiga Berlianmotors
PT Samsung Electronics Indonesia
PT Jawa Power
PT Pertamina persero
PT Semen Indonesia Tbk
PT Biofarma persero
PT Kimia Farma Tbk
PT Pupuk Indonesia
PT Perkebunan Nusantara III
Bank Indonesia (BI)
PT Telekomunikasi Seluler
PT Bank Mandiri Tbk
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI)
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI)
Arifin Panigoro

dollar small

sindonews JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI terpilih sebagai Best Bank in Indonesia 2016 dalam ajang Worlds Best Emerging Markets Banks in Asia Pacific 2016, yang dilakukan Global Finance. Sebagai informasi, Global Finance merupakan salah satu media terkemuka di dunia dengan pembahasan isu-isu seputar aktivitas keuangan internasional.

“Hingga saat ini, Bank-bank di seluruh dunia masih terus menghadapi berbagai macam tantangan, di antaranya risiko geopolitik, kondisi ekonomi dan pasar yang tidak menentu serta rezim kebijakan yang berubah-ubah. Kami menghormati bank-bank yang unggul dalam menyikapi kebutuhan nasabah, dan menunjukkan komitmen tinggi terhadap pasar di mana mereka beroperasi, terlepas dari kondisi ketidak pastian yang tengah mereka hadapi,” ujar Joseph D Giarraputo, penerbit sekaligus direktur editorialGlobal Finance dalam siaran pers, Kamis (31/3/2016).

Media yang berbasis di New York, Amerika Serikat ini melakukan penilaian dengan melibatkan juri yang berlatar belakang sebagai analis industri, eksekutif perusahan dan konsultan perbankan dalam menentukan pemenang tingkat regional dan tingkat domestik di 25 negara kawasan Asia Pasifik. Selain melibatkan juri yang kompeten di bidangnya, penilaian juga dilakukan melalui polling untuk memastikan hasil yang lebih akurat dan terpercaya dengan beberapa indikator meliputi,

  • tingkat pertumbuhan aset dan laba,
  • hubungan strategis,
  • pelayanan,
  • penawaran yang kompetitif, serta
  • inovasi produk.

Para pemenang dalam ajang pemilihan tersebut akan mendapatkan kehormatan dalam sebuah seremoni penghargaan Global Finances Worlds Best Banks 2016 Awards Ceremony, yang akan berlangsung saat pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) atau World Bank pada 8 Oktober mendatang di The National Press Club, Washington DC, Amerika Serikat.

Sebagai informasi, penilaian ini merupakan bagian dari review tahunan ke-23 yang dilakukan media Global Finance terhadap bank-bank terbaik di seluruh dunia termasuk di emerging markets (Asia Pasifik, Afrika, Asia Pasifik, Eropa Tengah dan Timur, Amerika Latin dan Timur Tengah).

Corporate Secretary Bank BRI, Hari Siaga mengatakan, hasil penilaian dalam pemilihan Worlds Best Emerging Markets Banks in Asia Pacific 2016 tersebut menunjukkan, daya saing Bank BRI terus meningkat dari tahun ke tahun. “Selama 5 tahun terakhir ini, kinerja Bank BRI tumbuh sehat dan berkesinambungan, dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) atau rata-rata pertumbuhan tahunan sebanyak double digit di atas 10% sejak tahun 2011,” ujarnya.

Secara umum, kinerja Bank BRI dalam kurun waktu 5 tahun yang berakhir pada Desember 2015, laba bersih tercatat sebesar Rp25,2 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebanyak 13,7%. aset berada di posisi Rp846,0 triliun, atau tumbuh rata-rata 16,7% per tahun. Di mana lebih dari 85% nya merupakan asset produktif.

Kemudian dari sisi funding, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun tumbuh sebesar 14,6% per tahun, dengan posisi terakhir mencapai 642,8 triliun serta rasiocurrent account saving account (CASA) atau dana murah yang juga terus meningkat. Sementara itu, total kredit yang sudah disalurkan mencapai Rp558,4 triliun atau tumbuh rata-rata 18,5% per tahun, di mana kenaikan penyaluran kredit terjadi di semua segmen bisnis.

Hari mengatakan, penghargaan yang diterima BRI bukan kali ini. Sepanjang 2015, BRI telah menerima banyak penghargaan bergengsi. Penghargaan tersebut merupakan wujud apresiasi dari berbagai pihak atas kinerja positif BRI. Di antaranya, dari The Asian Banker berupa Best Microfinance Business 2015; The Best Domestic Bank in Indonesia 2015 dari penghargaan Asiamoney Award 2015; serta Bank of The Year 2015 Indonesia dari The Banker London.

(dmd)

bird_bbri_unvr

Oleh Prof Rhenald Kasali
@Rhenald_Kasali

KOMPAS.com – Adakah perusahaan nasional yang usianya di atas seratus tahun?

Pertanyaan itu sering diajukan para akademisi kepada saya. Susah juga mencarinya. Di negara-negara industri, itu sudah biasa.

Di Finlandia misalnya ada Nokia (150 tahun). Tetapi Nokia hanya menekuni bisnis gadget ponsel sekitar 21 tahun. Selebihnya perusahaan berumur panjang itu produk dan misi usahanya sudah jauh berubah.

Di Amerika Serikat (AS), pernah ada Kodak, tapi kini sudah mati. Juga ada WR Grace. Perusahaan ini berlokasi di Columbia, Maryland, AS, dengan bisnis utama bahan-bahan kimia.

Semuanya juga berubah, mengikuti zaman. Di Jepang ada Mitsui. Kalau di Jerman, persisnya di Munich, mungkin Anda cukup familiar dengan nama Siemens.

Adakah di Indonesia? Tentu ada. Hanya saja kebanyakan sudah terseok-seok dimakan usia. Misalnya, beberapa pabrik gula warisan Belanda.

Kalau Pertamina yang minggu lalu berulang tahun, baru merayakan usia ke 58. Meski belum seabad, lumayan menghibur karena ia sudah ada di Fortune 500 dan cukup sehat.

Jadi, siapa yang sudah lebih dari 100 tahun dan masih sehat?

Sengaja tulisan ini saya turunkan hari ini, karena hari ini ada perusahaan nasional yang merayakan usia ke-120, namun tetap gesit berinovasi. Bahkan bidang usahanya tak bergeser dari misi semula: microfinancing.

Seorang ilmuwan Amerika pernah mengatakan, harusnya yang diganjar hadiah Nobel bukan Moh Yunus, melainkan mendiang Raden Aria Wirya Atmadja. Sebab itulah tonggak awal sejarah microfinance yang mengilhami Yunus.

Tonggak sejarah itu berawal pada tanggal 16 Desember 1895, saat Raden Aria Wirya Atmadja dan kawan-kawannya mendirikan “De Poerkertosche Hulp – en Spaarbank der Inlandsche Hoofden” (Bank penolong dan tabungan bagi priyayi Poerwokerto) disingkat menjadi “Bank Priyayi Poerwokerto”.

Bank Penolong

Itulah cikal bakal dan misi gerakan microfinancing Indonesia: menolong keuangan rakyat. Sedemikian powerful-nya menolong ekonomi rakyat di sekitar Purwokerto, sampai-sampai ia ditakuti Belanda karena dianggap mampu menggerakkan kekuatan untuk melawan kolonialisme. Wajar kalau dalam perjalanannya ia pernah diambil Belanda.

Tak heran kalau itu pulalah yang mengantarkan masa kecil presiden ke 44 Amerika Serikat, Barack Obama berkenalan dengan Indonesia.

Ibunya, Ann Dunham datang ke Indonesia antara lain untuk meneliti tentang peranan microfinance dan bank penolong rakyat ini.

Kini bank penolong yang didirikan Raden Arya Wiryaatmaja itu dikenal sebagai PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) .

Anda tentu bisa menyaksikannya dari dekat, karena dialah satu-satunya bank yang ada di hampir setiap desa di tanah air, bahkan mungkin ada di setiap pasar tradisional. Perusahaan ini masih sangat sehat bukan tanpa alasan. Lihat saja kinerjanya.

Sepanjang 2014, BRI membukukan laba bersih Rp 24,2 triliun. Kalau salah satu ukuran kinerjanya adalah besarnya angka penyaluran kredit, tahun lalu kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp 490,41 triilun.

Untuk tahun 2015, di tengah kinerja perekonomian nasional yang kurang menggembirakan, BRI masih menargetkan penyaluran kreditnya Rp503,6 triliun.

Baiklah, saya tak mau mengajak Anda terlalu repot membaca angka-angka. Intinya, sampai kuartal III-2015, semuanya tumbuh menggembirakan.

Pengakuan soal kinerja ini juga datang dari majalahThe Banker yang diterbitkan The Financial Times yang pada awal Desember 2015 memberikan penghargaan Bank of The Year 2015 Indonesia.

Kuncinya Inovasi dan SDM

Minggu lalu dalam Forum BUMN-Kompas, saya dipercaya memoderatori sesi yang diisi oleh jagoan-jagoan inovasi BUMN.

Di situ ada Pertamina dan BRI. Dan kepada audience, Asmawi Syam, Dirut BRI menyampaikan pertanyaannya kepada pihak pemberi award (The Financial Times) mengapa mereka memilih BRI. Inilah jawaban mereka:

Pertama, ternyata belum ada di dunia ini bank yang menggunakan satelit selain BRI melalui BRISat.

Kedua, The Financial Times mengaku belum pernah melihat ada bank yang mengapung di laut menjemput nasabah- nasabahnya. Dan itu hanya ada di bank ini yang mengembangkan konsep Teras Kapal.

Ketiga, mereka belum pernah melihat ada bank yang berhasil menyalurkan kredit sebanyak 624.000 orang dalam tiga bulan. Birokrasi dipangkas, sistem dibangun, teknologi diperkuat, dan SDM diperbaiki sehingga bank bergerak lincah.

Saya tertegun mendengarkannya. Apalagi tahun depan BRI akan meluncurkan Microfinance institute bekerjasama dengan salah satu institusi pendidikan di Amerika Serikat.

Bahkan sedang dipersiapkan Innovation Center untuk menampung gagasan-gagasan inovasi dari para stakeholder-nya.

Itulah yang membuat perusahaan di usia lanjut tak berubah menjadi tua dan renta seperti layaknya kita, manusia. Dan saya kita kita bisa banyak belajar dari BRI yang kuncinya adalah SDM.

Di negara kita, banyak perusahaan yang usianya belum lagi mencapai 30 tahun, kinerjanya sudah seperti orang jompo.

Jalannya lambat, terseok-seok. Kesannya, mati segan hidup tak mau. Setiap rapat manajemen, yang dibahas melulu bagaimana melakukan penghematan biaya atau pemangkasan anggaran. Bukan membahas bagaimana memperbesar pangsa pasar, cara masuk ke segmen-segmen baru, atau melahirkan produk-produk yang inovatif.

BRI tidak begitu. Malah sebaliknya, semakin tua semakin lincah. Nah, supaya ini bisa menjadi pembelajaran, saya lihat ada beberapa faktor.

Pertama, jelas inovasi seperti yang saya contohkan di atas.

Kedua, inovasi itu basisnya adalah pengembangan SDM. Meski nasabah BRI kebanyakan wong cilik, karyawan yang melayani adalah tenaga-tenaga berpendidikan.

Mereka terus dilatih, dan sebagian di antaranya dikirimkan ke lembaga-lembaga pendidikan, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk melanjutkan pendidikannya.

Ketiga, Innovation Centre. Anda tahu, inovasi atau ide-ide bisnis tak harus selalu datang dari lingkungan internal. Ia bisa datang dari lingkungan eksternal, atau saya sering menyebut inovasi yang datang dari ekosistem bisnisnya.

Inilah yang dilakukan BRI dengan Innovation Centre-nya. Unit inilah yang menampung masukan, saran dan ide-ide dari stakeholders BRI, seperti para petani dan nelayan, serta nasabah lainnya.

Contohnya, untuk melayani nasabah nelayan—dan sesuai dengan masukan dari mereka, BRI mengembangkan bank terapung yang saya ceritakan tadi.

Dengan cara seperti ini, produk atau jasa yang dikeluarkan BRI selalu nyambung dengan kebutuhan nasabahnya. Sebab, idenya memang datang langsung dari mereka.

Keempat, teknologi. Anda tahu, BRI adalah bank pertama di dunia yang memiliki satelit. Dengan satelit ini, BRI bakal memiliki akses untuk melayani nasabah-nasabah yang berada di daerah-daerah terpencil. Ini akan membuat BRI semakin sulit disaingi oleh bank-bank lain.

Saya berharap ulasan tentang BRI ini bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan-perusahaan nasional yang ingin usianya menembus 100 tahun, atau lebih.

Sudah terlalu sering kita bahas perusahaan asing, kini saatnya menghargai kemampuan bangsa sendiri.

Menurut perkiraan Arie de Geus dalam bukunya The Living Company, rata-rata harapan hidup perusahaan adalah dua sampai -tiga abad. Dan BRI, saya yakin, bakal lebih.

bird_bbri_unvr

Jakarta detik -Perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini mengoperasikan 55.804 mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di seluruh Indonesia. ATM tersebut dibeli dan dikelola secara sendiri-sendiri oleh 4 bank BUMN.

“Kita ketahui, ATM Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) ada 55.804 atau kuasai 64% ATM di Indonesia. Ini cukup besar,” kata Direktur Utama BRI, Asmawi Syam sata peluncuran ATM Himbara di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (21/12/2015).

Ia tak menampik perbankan BUMN harus menanggung biaya investasi dan operasional yang cukup tinggi akibat pengoperasian mesin ATM secara sendiri-sendiri.

Alhasil, Ia menyambut positif dengan adanya ATM Himbara karena adanya penghematan yang besar terhadap pengoperasian ATM ‘merger’ dari 4 BUMN. Tahap awal, ATM Himbara tersebut baru diluncurkan sebanyak 50 unit di Jabodetabek.

“Ini efisiensi dari ATM Himbara. Ini kontribusi cost efisiensi terhadap transaksi keuangan di Indonesia.

Selain adanya penghematan untuk investasi dan operasional, nasabah juga memperoleh manfaat dengan turunnya biaya transaksi.

Bila bertransaksi di ATM Himbara, nasabah perbankan BUMN akan dikenakan tarif Rp 0 untuk menecek informasi saldo, Rp 500 untuk tarik tunai dan Rp 4.000 untuk transfer antar rekening Bank BUMN.

“Dampak ke nasabah, biaya yang dikeluarkan nasabah jadi lebih murah daripada sebelum sinergi,” sebutnya.

(feb/ang)

rose KECIL

London  – PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali meraih penghargaan sebagai Bank of The Year 2015 Indonesia dalam ajang Bank of The Year Awards 2015 dari The Banker, majalah khusus perbankan internasional.

Sebagaimana diketahui, The Banker merupakan majalah bulanan berbahasa Inggris yang dimiliki oleh The Financial Times Ltd serta membahas masalah-masalah keuangan internasional sejak pertama kali diterbitkan pada Januari 1926 oleh Brendan Bracken (Financial News).

Direktur Utama Bank BRI, Asmawi Syam mengatakan, penghargaan Bank of The Year 2015 Indonesia dari The Banker yang penilaiannya dilakukan secara independen oleh The Banker terasa sangat spesial. Mengingat, The Banker menjadi referensi utama perbankan dan keuangan dunia, dibaca di lebih dari 180 negara dan merupakan sumber utama data dan analisis untuk industri keuangan.

“Kami bangga dengan penghargaan yang diberikan The Banker ini. Penghargaan tersebut menjadi kado bagi Bank BRI dan seluruh pekerja, yang pada tgl 16 Desember nanti merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) nya yang ke 120,” kata Asmawi di London, Kamis (3/12/2015).

Menurut Asmawi, penghargaan dari The Banker merupakan bukti nyata kerja keras BRI dalam memberikan layanan dan kinerja keuangan terbaik di Tanah Air.

“Kami berharap penghargaan ini mampu memacu Bank BRI untuk terus meningkatkan kinerja sehingga menjadi lebih baik, tidak hanya di level nasional, namun juga regional untuk menuju The Most Valuable Bank di Indonesia,” ucap Asmawi.

Asmawi menjelaskan, penghargaan The Banker atas BRI tak lepas dari kinerja perseroan. Hingga akhir September 2015, perseroan berhasil membukukan total income atau total pendapatan sebesar Rp 70,5 triliun, tumbuh sebesar 14,9 persen yoy, dengan laba bersih sebesar Rp 18,3 triliun.

Sementara itu berdasarkan laporan keuangan BRI yang telah terpublikasi, total kredit yang sudah disalurkan oleh Bank BRI sepanjang Januari-September tahun 2015 mencapai Rp 519,0 triliun, tumbuh 11,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan kredit tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan kredit mikro yang melesat lebih tinggi dibandingkan kredit BRI secara keseluruhan, di mana kredit di segmen mikro mencatat pertumbuhan sebesar 14,7 persen yoy menjadi Rp 170,2 triliun, dengan jumlah debitur mencapai 7,6 juta nasabah serta tingkat Non Performing Loan (NPL) yang hanya sebesar 1,4% (gross).

Lebih lanjut Asmawi mengungkapkan, penghargaan yang diterima oleh BRI bukan kali ini saja. Sepanjang tahun 2015 Bank BRI telah menerima banyak penghargaan bergengsi. Penghargaan tersebut merupakan wujud apresiasi dari berbagai pihak atas kinerja positif BRI.

“Di antaranya, penghargaan bergengsi dari The Asian Banker berupa Best Microfinance Business 2015 dan The Best Domestic Bank in Indonesia 2015 pada penghargaan Asiamoney Award 2015,” pungkas Asmawi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2257153/bri-sabet-bank-of-the-year-2015
Sumber : INILAH.COM

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

13 Bank Paling Efisien di Indonesia
Dari 120 bank yang dinilai, sebanyak 78 layak menjadi nominasi.
Rabu, 22 Juni 2011, 14:07 WIB
Syahid Latif, Sukirno

VIVAnews – Sebanyak 13 bank di Indonesia dinilai layak menjadi bank paling efisien dibandingkan bank-bank lain di kategorinya masing-masing. Kategori itu adalah bank asing dan campuran, bank umum swasta nasional, bank syariah dan Bank Pembangunan Daerah, serta bank umum atau bank BUMN.

Temuan ini diperoleh dari hasil Banking Efficiency Award 2011 (BEA 2011) yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia Intelligence Unit (BIIU).

“Ke-13 bank dimaksud tersebar atas dua bank BUMN, empat bank umum swasta nasional devisa, satu bank perkreditan rakyat, dua bank campuran, tiga bank asing, dan satu bank umum swasta nasional devisa syariah,” kata Peneliti Madya BIIU, Anton Hermansyah, dalam acara Banking Efficiency Award 2011, di Ballroom Hotel Nikko, Jakarta, Rabu, 22 Juni 2011.

Dalam BEA 2011 terjadi peningkatan jumlah bank yang masuk kategori bank efisien. Pada BEA tahun lalu, bank yang tergolong efisien hanya berjumlah tujuh.

Selain itu, BEA menilai sebaran bank yang masuk kategori efisien saat ini jauh lebih merata. Hal itu mengindikasikan terjadinya peningkatan efisiensi dalam operasional bank di hampir semua jenis kategori bank.

Objek penelitian BEA 2011 kali ini difokuskan pada bank-bank yang beroperasi di Indonesia pada 2010. Terdapat 120 bank yang beroperasi di Indonesia berdasarkan laporan keuangan yang diterima hingga perhitungan pada Desember 2010.

BEA menggunakan indikator penilaian bank sesuai dengan kriteria akuntansi dan rasio-rasio lainnya. Selama ini, penilaian efisiensi bank biasanya dilakukan dengan membandingkan antara biaya overhead (seperti aktiva tetap dan biaya tenaga kerja) dibandingkan dengan jumlah jasa (financial services) yang dihasilkan oleh bank. Analisis lain adalah perbandingan antara beban operasional terhadap pendapatan operasional atau lazim disebut rasio BOPO.

“Penelitian ini membatasi pada bank-bank yang mempunyai kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di bawah lima persen, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di atas 12 persen, dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) di atas 50 persen,” ungkap Anton.

Setelah dilakukan saringan kriteria NPL, CAR, LDR, dan BOPO, panitia memperoleh 78 bank yang layak menjadi nominasi yang akan melalui proses decision making unit (DMU). Melalui sebuah software DEAP 2.1 menggunakan metodologi VRS, panitia memperoleh 13 bank yang memiliki angka efisiensi optimal atau sempurna.

Dalam menilai bank paling efisien di Tanah Air, BEA 2011 kali ini menggunakan pendekatan DEA untuk mengukur efisiensi bank. Metode ini dianggap lebih mengakomodasi banyak input dan output.

Selain itu, panitia menggunakan metodologi nonparametrik yang tidak memerlukan banyak asumsi pada input dan output, sehingga besarnya perbedaan nilai input-output antara bank satu dengan bank lainnya tidak menjadi masalah.

Untuk melakukan uji statistik, BEA menggunakan penelitian melalui uji Mann-Whitney. Teknik ini diharapkan bisa mengukur perbedaan media antara dua kelompok.

Berikut ini adalah daftar bank yang dianggap paling efisien dibandingkan perbankan lain yang beroperasi di Indonesia:

Kategori Bank Asing dan Campuran:
1. Bank of China Limited
2. Deutsche Bank AG
3. The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ LTD
4. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia

Kategori Bank Umum Swasta Nasional:
1. PT Bank Bukopin Tbk
2. PT Bank Pan Indonesia Tbk
3. PT Bank CIMB Niaga Tbk
4. PT Bank Central Asia Tbk
5. PT Bank OCBC Indonesia a/n OCBC NISP

Kategori Bank Syariah dan BPD:
1. PT Bank Jabar Banten Syariah
2. Bank BPD Sumatera Barat (Bank Nagari)

Kategori Bank Umum atau Bank BUMN:
1. PT Bank Mandiri Tbk
2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk

(art)
• VIVAnews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s