bbri BERLABa (RORWA) @Rp13,4 T … 231013_290116 (reVALUAsi aset)_04082017 (dividen@)

dollar smallJakarta –

detik: Bank milik pemerintah atau bank BUMN, pada semester I-2017 mencatatkan kinerja yang baik. Contohnya dari sisi pertumbuhan laba bersih yang masih double digit.
Sepanjang semester I-2017 jumlah laba bersih yang diraup oleh bank BUMN tembus Rp 30,5 triliun. Direksi perseroan menyebutkan, peningkatan laba bersih ditopang dari penyaluran kredit yang mulai mencatatkan pertumbuhan.
Antara lain PT Bank Mandiri Tbk yang mencatatkan laba bersih Rp 9,5 triliun atau tumbuh 33,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang mencatatkan laba bersih Rp 13,4 triliun atau tumbuh 10,4%.
Lalu PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) yang mencatatkan laba bersih Rp 1,2 triliun atau tumbuh 21,95% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Terakhir PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dengan laba bersih Rp 6,41 triliun atau tumbuh 46,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekonom The Institute for Developmwnt pf Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan kinerja bank BUMN hingga paruh tahun ini terbantu oleh proyek-proyek infrastruktur yang digulirkan oleh pemerintah.
“Ini terlihat dari tingginya penyaluran kredit di sektor konstruksi secara umum pada portofolio kredit bank BUMN,” kata Bhima saat dihubungi detikFinance, Kamis (3/8/2017).
Dia menyebutkan sampai akhir tahun diprediksi kinerja bank BUMN akan tetap cemerlang. Namun bank juga harus terus mencermati beberapa sektor yang rentan mengalami kenaikan risiko seperti properti dan ritel.
“Intinya bank harus mengatur kembali portofolio kreditnya semester II ini karena kondisi global maupun domestik yang masih penuh tantangan,” ujarnya.
Bhima menyebutkan di sisi lain, penyaluran kredit ke sektor konsumsi dan komoditas belum pulih jika dibandingkan dengan kondisi 3 tahun sebelumnya. Dia menjelaskan beberapa bank BUMN juga masih membersihkan kredit macet.

“Semakin cepat membersihkan kredit macet maka potret laporan keuangannya tentu semakin baik,” jelasnya.

(dna/dna)

lol

 

Jakarta, CNN Indonesia — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk membagikan keuntungan dari laba (dividen) sebanyak Rp10,47 triliun atau 40 persen dari perolehan laba tahun lalu yang sebesar Rp26,195 triliun kepada para pemegang saham. Pembagian dividen tertuang dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Rabu (15/3).

Wakil Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan, porsi dividen tahun buku 2016 naik dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 30 persen dari laba tahun buku sebelumnya.

“Sementara, 60 persen dari laba bersih atau Rp16,72 triliun akan digunakan sebagai saldo laba ditahan. Laba konsolidasi ini terdiri dari laba BRI beserta lima anak perusahaan,” ujar Sunarso, Rabu (15/3).

Kendati membagikan dividen hingga 40 persen, Sunarso mengklaim, permodalan bank spesialis penyalur kredit usaha rakyat (KUR) itu tetap kuat. Usai pembagian dividen, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih tercatat di atas 20 persen. Kecukupan modal ini dinilai mencukupi untuk membiayai ekspansi BRI kedepannya.

“Untuk ekspansi satu hingga dua tahun ke depan tanpa hitung ada laba ditahan lagi, masih cukup. CAR BRI sangat memadai untuk ekspansi atau penuhi ketentuan minimal modal,” terang dia.

Tahun ini, lanjut Sunarso, bank pelat merah tersebut akan fokus menyalurkan KUR sesuai mandat pemerintah, yaitu sebesar Rp71 triliun. Adapun, sektor yang akan difokuskan adalah produktif.

“Tahun lalu, kami capai target, tahun ini kami yakin capai target,” imbuh dia.

Akhir tahun lalu, BRI membukukan rasio kredit macet (nonperforming loan/NPL) secara gross berada di kisaran 2 persen dan nett sebesar 1 persen. (bir)

ets-small

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) meraih laba bersih Rp26,2 triliun per 31 Desember 2016 dari Rp25,4 triliun pada periode yang sama tahun 2015.

Perseroan pada periode ini mencatat pendapatan bunga dan syariah sebesar Rp94,7 triliun dari Rp85,4 triliun. Pendapatan tersebut dari pendapatan bunga sebesar Rp92,1 triliun dari Rp83 triliun. Pendapatan syariah menjadi Rp2,6 triliun dari Rp2,4 triliun.

Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Kamis (2/2/2017). Perseroan mengeluarkan beban diantaranya beban bunga menjadi Rp26,1 triliun dari Rp26,1 triliun. Beban syariah sebesar Rp1,03 triliun dari Rp1,01 triliun. Jadi beban bunga dan syariah menjadi Rp27,2 triliun dari Rp27,1 triliun.

Untuk penapatan operasional lainnya menjadi Rp17,2 triliun dari Rp13,8 triliun. Beban penyisihan kerugian penurunan nilai ats aset keuangan menjadi Rp13,7 triliun dari Rp8,8 triliun. Laba operasional menjadi Rp3,3,9 triliun dari Rp31,9 triliun.

Pendapatan sebelum pajak menjadi Rp33,9 triliun dari Rp32,4 triliun. Untuk beban pajak menjadi Rp7,7 triliun dari Rp7,08 triliun. Laba bersih menjadi Rp26,2 triliun dari Rp25,4 triliun.

Perseroan mencatat total aset menjadi Rp1.003 triliun per 31 Desember 2016 dari Rp878,4 triliun per 31 Desember 2015. Total liabilitas menjadi Rp856,8 triliun dari Rp765,2 triliun.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2357051/bri-catat-laba-jadi-rp262-t
Sumber : INILAH.COM

ets-small

tren-harga-bbri-bull-281016_261016_-1yr_12125

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan laba bersih pada Quarter 3 2016 sebesar 18,95 triliun. Naik bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015 sebesar 18,42 triliun. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 776.67 per lembar.

Berikut Laporan keuangan BBRI Quarter 3 2016 :

Account Quarter 3 2016
Last Price 12125
Share Out 24,4 B
Market Cap. 296.122,5 B
Balance Sheet
Cash 23.076,6 B
Total Asset 931.693,4 B
S.T Debt 14.377,2 B
L.T Debt 776.375,2 B
Total Equity 140.941,0 B
Income Statement
Revenue 70.576,8 B
Gross Profit 70.576,8 B
Operating Profit 22.228,5 B
Net. Profit 18.950,9 B
EBITDA 23.139,0 B
Interest Exp. 0,0
Ratio
EPS 776,67
PER 15,61x
BVPS 5.770,95
PBV 2,10x
ROA 2,03%
ROE 13,45%
EV/EBITDA 45,97
Debt/Equity 5,61
Debt/TotalCap 0,85
Debt/EBITDA 34,17
EBITDA/IntExp. 0,00

Sumber : IPS RESEARCH

ets-small

Jakarta. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mencatatkan kinerja yang cukup baik pada Agustus 2016. Hal ini bisa dilihat dari laba bersih bank berkode emiten BBRI ini yang naik 2,86% yoy menjadi Rp 16,1 triliun atau lebih tinggi dari kenaikan Juli 2016 sebesar 0,83% yoy.

Kenaikan laba bersih ini disebabkan karena pendapatan bunga bersih tumbuh 15,65% yoy. Namun beban operasional pada periode sama juga naik 24,71% yoy.

Dari sisi kredit, tercatat BRI masih mencatatkan kenaikan sebesar 17,07% yoy menjadi Rp 594,05 triliun. Kenaikan kredit pada Agustus 2016 ini lebih tinggi dari Juli 2016 sebesar 16,46% yoy.

Namun kenaikan penyaluran kredit ini masih dibayangi kenaikan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar 24,5% yoy menjadi Rp 21,3 triliun. Tercatat NIM BRI sampai Agustus 2016 masih cukup besar yaitu 8,2% atau naik dari tahun lalu sebesar 7,9%.

Kenaikan NIM ini disebabkan karena turunnya cost of fund sebesar 37 bps dan kenaikan yield aset 6 bps dalam satu tahun terakhir.

http://keuangan.kontan.co.id/news/laju-laba-bersih-bri-agustus-naik-pesat-dari-juli
Sumber : KONTAN.CO.ID

lol

Jakarta infobank– Retail Research-Technical Analyst Mandiri Sekuritas, Hadiyansyah menuturkan saat ini tren pergerakan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sedang bullish (naik) pada jangka pendek.

Ia mengatakan support-resistance saham BRI berada pada Rp10.200-Rp10.700. Pada perdagangan sesi I siang ini saham BRI berada di level Rp10.375.

“Kami masih tetap merekomendasi neutral untuk saham BBRI dengan target price baru Rp11.300 setelah memangkas prediksi laba mereka sebesar 2%-3% untuk proyeksi kinerja 2016-2017,” kata Hadiyansyah dalam risetnya, Jumat, 10 Juni 2016.

Target price itu sendiri turun dari Rp12,000. Revisi tersebut didasari valuasi rasio harga saham per nilai buku (P/BV) 2x P/BV (menggunakan Gordon Growth Model/GGM) untuk rerata 2016-2017.

Proyeksi ini mengacu pada prediksi penyaluran kredit dan simpanan dana pihak ketiga (DPK) perseroan untuk 2016-2017 yang mencerminkan permulaan yang lambat tahun ini serta menetapkan kembali asumsi pinjaman tidak lancar (NPL).

Ia mengatakan pihaknya telah menurunkan asumsi pertumbuhan kredit emiten satu ini menjadi 13,5% dan 14,8% dari 15,3% dan 15,9% masing-masing untuk 2016-2017. Pertumbuhan kredit nonkonsolidasi perseroan dibukukan 17% YoY per Apr 2016, tetapi hanya naik 0,3% YTD karena tingginya dasar penghitungan pada Desember 2015.

“Kami juga menurunkan proyeksi pertumbuhan simpanan menjadi menjadi 11,1% dari 13,8% untuk 2016 tetapi tetap menjaga proyeksi pada 13,3% pada 2017. Sebagai pembanding, pertumbuhan 12,5% yoy (-2,9% ytd) per Apr 2016,” jelasnya.

Terkait level pinjaman tidak lancar (NPL) yang tercatat sebesar 2,22% pada Mar 2016, naik dari 2,02% pada Desember 2015 diprediksi akan naik lagi menjadi 2,43% pada pertengahan tahun dan mengakhiri tahun ini pada level 2,37%.

Angka itu masih di bawah NPL industri saat ini 2,84%. Dari sisi segmen, kredit menengah (berukuran Rp5 miliar-Rp50 miliar) membukukan kenaikan NPL tertinggi yaitu 6,68%, sedangkan kredit mikro (33,8% dari total kredit) memiliki NPL 1,54%.

Sedangkan penundaan rencana peluncuran BRIsat pada 9 Jun16 oleh Arianespace karena masalah teknis diniai tidak adanya dampak material. BBRI sendiri memprediksi dapat menghemat dana secara substansial yaitu Rp400 miliar dari beban komunikasi tahunan.

“Kami memangkas proyeksi laba 2%-3% untuk 2016-2017 karena ekspektasi pertumbuhan kredit. Margin bunga bersih (NIM) diprediksi akant urun dari 7,8% pada 2015 menjadi 7,5% pada 2016 dan 7,2% pada 2017,” tambahnya. (*) Dwitya Putra

Editor : Apriyani K

lol

JAKARTA ID – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) membukukan laba bersih sepanjang tahun 2015 sebesar Rp 25,2 triliun, tumbuh sekitar 4 persen (year on year/yoy) dari sebelumnya Rp 24,2 triliun. Pertumbuhan laba tersebut ditopang kenaikan pendapatan.

“Tahun lalu kami bukukan laba sebesar Rp 25,2 triliun,” ujar Direktur Utama BRI Asmawi Syam dalam paparan kinerja 2015 BRI di Jakarta, Rabu (3/2).

Perolehan laba tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan sebesar 14,56 persen (yoy) menjadi Rp 96,39 triliun dari periode yang sama tahun 2014. Pendapatan bunga perseroan pada tahun lalu tumbuh 13,46 persen (yoy) menjadi Rp 82,2 triliun. Sedangkan pendapatan non bunga tumbuh 21,3 persen (yoy) menjadi Rp 14,2 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Tahun lalu, kredit BRI tumbuh 13,9 persen (yoy) menjadi Rp 558, 4 triliun. Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan tumbuh 7,1 persen (yoy) menjadi Rp 600,4 triliun. (Investor Daily/agustiyanti)

Di tengah bisnis perbankan yang sedang lesu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) optimis
akan membukukan laba bersih lebih tinggi di tahun 2015. Haru Koesmahargyo, Direktur
Keuangan BRI mengklaim, pihaknya masih mencatat kenaikan laba di tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan, bank berpelat merah ini membukukan laba sebesar
Rp 22,68 triliun per November 2015 atau hanya naik 0,34% dibandingkan posisi Rp 22,60
triliun per November 2014. (Kontan/nlt)
read more….

bird_bbri_unvr

JAKARTA – Empat bank BUMN memutuskan melakukan revaluasi aset tahun ini untuk meningkatkan permodalan. Melalui revaluasi aset tersebut, rasio permodalan (capital adequacy ratio/CAR) bank-bank BUMN rata-rata akan meningkat sekitar 2% dari posisi saat ini.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan Kementerian BUMN Gatot Trihargo menuturkan, keempat bank BUMN akan melakukan revaluasi aset tahun ini. Revaluasi aset untuk meningkatkan permodalan khususnya modal inti atau Tier 1 masing-masing perseroan, dan memanfaatkan insentif pemerintah berupa pemotongan tarif pajak penghasilan (Pph). “Rencananya semua bank BUMN akan revaluasi aset. Dengan revaluasi aset, CAR mereka akan naik rata-rata sekitar 2%,” ujar Gatot kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Menurut Gatot, bank-bank BUMN akan mengajukan pemohonan revaluasi aset kepada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Dengan demikian, bank-bank BUMN diharapkan dapat memperoleh insentif berupa pemotongan tarif PPh final menjadi 3% dari selisih kenaikan revaluasi aset.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoamodjo menuturkan, pihaknya memutuskan untuk melakukan revaluasi aset dan akan mengajukan pemohonan revaluasi aset pada DJP pada akhir tahun ini, dengan perkiraan sementara kenaikan aset setelah revaluasi.

“Perkiraan kami kenaikan nilainya (aset) sekitar Rp 15 triliun. Hasil dari KJPP (kantor jasa penilai publik) baru keluar pada Maret 2016 karena objek yang harus dinilai lebih dari 1.000,” ujar dia. Adapun dengan revaluasi aset tersebut, menurut Kartika, rasio kecukupan modal Bank Mandiri akan meningkat dari saat ini sekitar 17,8% menjadi di atas 19%.

Direktur Treasury and Asset Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Iman Soeko Nugroho mengaku, pihaknya memutuskan untuk melakukan revaluasi aset sekaligus melakukan konversi dana Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan (BPU PPP) dari giro menjadi obligasi subordinasi. Revaluasi aset itu diharapkan dapat meningkatkan modal inti (Tier 1).

Sedangkan konversi dana BLU PPP akan meningkatkan modal pelengkap (Tier 2) perseroan. “Dalam rapat direksi minggu ini kami akhirnya putuskan untuk melakukan keduanya sekaligus. Pemohonan revaluasi kami masukan tahun ini, tapi apprasial (penilaian) asetnya dilakukan pada semester I-2016,” terang Iman.

Dengan revaluasi aset, menurut Iman, modal inti BTN akan meningkat dari Rp 11,03 triliun menjadi Rp 12,33 triliun, sehingga CAR Tier 1 BTN diperkirakan mencapai 1,61%. Adapun posisi CAR tier 1 BTN per September 2015 sebesar 13,67%.

“Untuk konversi dana BLU, kami sudah perbaiki surat permohonan kepada kementerian terkait dan juga OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Realisasi persetujuannya tentu tergantung kepada prioritas masalah ini di kementerian terkait dan OJK,” terang dia.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Rico Rizal Budidarmo menuturkan, pihaknya juga berencana mengajukan pemohonan dan mulai melakukan revaluasi aset tahun ini. Melalui revaluasi aset tersebut, diperkirakan akan terdapat kenaikan aset BNI sekitar Rp 10-12 triliun.  “Dengan revaluasi aset, CAR kami akan naik sekitar 3%,” terang dia.

Adapun hingga September 2015, CAR Tier 1 BNI tercatat sebesar 14,68%. Sedangkan total CAR BNI 17,43%. Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo juga memastikan, BRI akan mengajukan pemohonan revaluasi aset tahun ini. Dengan revaluasi aset, modal perseroan akan lebih kuat untuk menghadapi sejumlah ketentuan permodalan berdasarkan ketentuan Basel III yang mulai berlaku pada tahun depan.

Perlakuan Khusus

Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 191/PMK.010/2015 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk Tujuan Perpajakan atau yang dikenal revaluasi aset, wajib pajak yang mengajukan permohonan untuk melakukan revaluasi aset sebelum 31 Desember 2015 akan memperoleh perlakukan khusus berupa pemangkasan pajak penghasilan yang bersifat final.

Pemohonan yang diajukan sejak PMK tersebut diundangkan pada 20 Oktober 2015 hingga 31 Desember 2015 akan dikenakan PPh final sebesar 3%. Pemohonan yang diajukan sejak 1 Januari 2016 hingga Juni 2016 akan dikenakan PPh final 4% dan pemohonan yang dajukan pada 1 Juli 2016 hingga 31 Desember 2016 akan dikenakan PPh final sebesar 6%. Adapun PPh final tersebut dikenakan dari selisih lebih nilai tetap hasil revaluasi aset atau hasil perkiraan revaluasi aset, di atas nilai sisa buku fiskal semula.

Adapun nilai aset tetap hasil perkiraan revaluasi oleh wajib pajak harus dilakukan penilaian kembali, dan ditetapkan oleh kantor jasa penilai publik (KJPP) atau ahli penilai yang memperoleh izin pemerintah.

Penilaian oleh KJPP tersebut paling lambat 31 Desember 2016 untuk pemohonan yang diajukan hingga 31 Desember 2015. Pemohonan yang diajukan pada 1 Januari-30 Juni 2016 paling lambat pada 30 Juni 2017. Sedangkan untuk pemohonan yang diajukan sejak 1 Juli-31 Desember 2016 paling lambat pada 31 Desember 2017. (ID)

bird

JAKARTA kontan. Sampai Oktober 2015, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp 20,47 triliun. Secara bulanan, laba yang dikantongi bank pelat merah tersebut tercatat tumbuh 11,9% dari bulan sebelumnya, yakni Rp 18,28 triliun.

Namun, secara laju tahunan (year to date), pencapaian laba sampai Oktober ini masih tumbuh negatif 15,4% ketimbang posisi akhir tahun lalu yang sebesar Rp 24,20 triliun. Perlambatan pertumbuhan laba ini sudah terasa sejak awal tahun ini.

Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI memang telah memprediksi pertumbuhan secara tahunan akan suam-suam kuku. “Hingga Oktober 2015, laba kami sudah Rp 20,4 triliun. Target laba sampai akhir tahun tumbuh 1% – 3% karena perekonomian yang melambat,” ujarnya kepada KONTAN, Rabu (25/11).

Maklum, bisnis bank umum di tahun kambing kayu ini diwarnai dengan risiko kredit yang mengancam kenaikan rasio kredit bermasalah atawa nonperforming loan/NPL. Mengantisipasi kenaikan laju kredit bermasalah ini, BRI menggemukkan penyisihan pencadangan kerugian alias CKPN hingga 150%.

Pada kuartal ketiga tahun ini, NPL gross perseroan tercatat sebesar 2,24% dan 0,59% secara net. Angka ini tercatat meningkat apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni 1,89% untuk NPL gross dan 0,46% untuk NPL net.

Di sisi lain, pendapatan bunga bersih dan operasional yang dihimpun perseroan tertekan oleh beban bunga dan beban operasional. Pendapatan bunga bersih perseroan mencapai Rp 46,52 triliun pada Oktober 2015, sedangkan pendapatan operasionalnya tembus Rp 23,84 triliun.

rose KECIL

JAKARTA okezone- Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Asmawi Syam menyambut baikPaket Kebijakan Ekonomi Paket V, khususnya adanya dorongan untuk melakukan revaluasi aset. Menurutnya dengan melakukan revaluasi, nilai aset dari perusahaan bisa meningkat sehingga bisa menumbuhkan modal perusahaan.

“Ini kan opportunity yang bagus. Bagi kami khususnya perbankan untuk melakukan revaluasi dan mendapatkan kenaikan aset. Berarti kan menaikkan modal,” tuturnya di Kawasan Berikat Nusantara, Jakarta, Jumat (23/10/2015).

Asmawi juga yakin rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI akan meningkat setelah melakukan revaluasi aset. Menurut data terakhir yang dikeluarkan perseroan, CAR BRI sudah mencapai 20,59 persen.

“Saya belum hitung kemungkinan kenaikannya. Nambah CAR- nya mungkin di 1-2 persen,” pangkasnya

Seperti diketahui, melalui Paket Kebijakan Ekonomi Jilid V, pemerintah mengimbau agar BUMN dapat melakukan revaluasi aset. Pemerintah memberikan insentif berupa pengurangan pajak penghasilan (PPh) revaluasi aset menjadi 3 persen.

(rzk)

bird_bbri_unvr

Bisnis.com, JAKARTA – Produktivitas laba bersih terhadap aset berisiko sejumlah bank badan usaha milik negara (BUMN) pada semester I/2014 terlihat menurun dibandingkan periode yang sama pada 2013.

Dari perhitungan Bisnis.com, hanya PT Bank Mandiri Tbk yang kualitas return on risk weighted assets (RORWA) stabil dibandingkan semester I/2013. RORWA Bank Mandiri per Juni 2014 mencapai 2,2%, sama dengan Juni 2013.

RORWA merupakan rasio antara laba setelah pajak dan total aset tertimbang menurut risiko (ATMR) baik untuk risiko kredit, risiko operasional maupun risiko pasar.

Meskipun masih di atas Bank Mandiri, RORWA PT Bank Rakyat Indonesia Tbk per Juni 2014 lebih rendah dibandingkan dibandingkan periode yang sama 2013. Pada Juni 2014 RORWA BRI sebesar 2,6%, sedangkan Juni 2013 2,7%.

Kondisi serupa juga terjadi di PT Bank Negara Indonesia Tbk. Pada Juni 2014 RORWA BNI 1,5%, lebih rendah ketimbang Juni 2013 yang mencapai 1,6%.

PT Bank Tabungan Negara Tbk yang pada semester I/2014 mencatatkan penurunan laba bersih, juga mengalami penurunan RORWA.

Pada Juni 2014 RORWA BTN 0,7%, lebih rendah dibandingkan semester I/2013 yang mencapai 1,09%.

RORWA merupakan rasio antara laba setelah pajak dan total aset tertimbang menurut risiko (ATMR) baik untuk risiko kredit, risiko operasional maupun risiko pasar.

Kepala Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN), Agustinus Prasetyantoko mengatakan apa yang terjadi di bank BUMN tersebut merupakan gejala industri.

Dia justru menilai sejumlah bank BUMN masih memiliki cukup sumber daya untuk memacu kinerja mereka. Menurutnya, pertumbuhan profitabilitas juga ditunjukkan oleh bank swasta yang diwakili oleh PT Bank Central Asia Tbk.

“Bank BUMN punya kelebihan kualitas, mampu mencari dana murah dari masyarakat lebih baik. Kalau BTN saat ini memang dana mahal sehingga profitabilitas turun,” ujarnya.

Dia mengatakan secara struktural pertumbuhan kredit masih lebih besar ketimbang penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

Pertumbuhan kredit sejauh ini mencapai 16%, sedangkan DPK hanya di kisaran 12%.

Agustinus menambahkan, cairnya likuiditas pasca Lebaran tidak akan berdampak signifikan. “Tahun ini strukturnya masih sama, kredit lebih besar dari DPK.”

Pada semester I/2014, BRI mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp11,72 triliun, naik 17,11% year on year. BRI mengklaim pencapaian tersebut cukup positif di tengah kondisi politik dan ekonomi domestik yang kurang kondusif.

Pertumbuhan kredit BRI pada hingga kuartal II/2014 mencapai 17,19% year on year, dari Rp391,77 triliun pada triwulan II/2013 lalu menjadi Rp459,13 triliun. Rasio kredit bermasalah berada di level 0,57%.

Editor : Yusran Yunus

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp 11,72 triliun pada semester I-2014. Capaian tersebut tumbuh sebesar 17,11 persen secara year on year (yoy).

“Pencapaian laba bersih tersebut merupakan hal yang sangat positif di tengah kondisi politik dan ekonomi domestik yang kurang kondusif,” kata Direktur Jaringan dan Layanan BRI Suprajarto dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (22/7/2014).

Pertumbuhan kredit perseroan mencapai 17,19 persen yoy menjadi Rp 459,13 triliun pada kuartal II tahun 2014 dari Rp 391,77 pada periode sama tahun lalu. Adapun rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tetap dapat terjaga pada posisi 0,57 persen.

“Dari sisi pendanaan, BRI juga berhasil menumbuhkan dana pihak ketiga (DPK). Per akhir kuartal II 2014 total DPK BRI mencapai Rp 488,45 triliun, tumbuh 11,27 persen yoy,” ujar Suprajarto.

Dari capaian tersebut, kontribusi sumber dana murah (tabungan dan giro) dijaga pada level 57,3 persen. Adapun pertumbuhan tabungan mencapai 14,49 persen dibandingkan pertumbuhan industri sebesar 10,12 persen.

“Konsistensi BRI dalam mempertahankan pertumbuhan bisnisnya juga tercermin dari capaian Fee Based Income yang meningkat sebesar 20,8 persen yoy. Pertumbuhan fee based income tertinggi berasal dari transaksi e-banking sebesar 55,9 persen yoy, begitu pula porsinya yang naik dari 12,5 persen menjadi 16,1 persen,” jelas Suprajarto.

long jump icon

Laba Bersih BRI Capai Rp 5,9 Triliun pada Kuartal 1 2014
Rabu, 23 April 2014 19:06 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat laba bersih pada Kuartal I 2014 sebesar Rp5,9 trilun. Hal ini meningkat 17,86 persen dari periode yang sama pada 2013 yang sebesar Rp 5,01 triliun.
Direktur Keuangan BRI, Achmad Baiquni mengatakan bahwa konsistensi kinerja BRI tercermin pula pada penyaluran kredit yang meningkat 19,70 persen secara year on year menjadi Rp432,4 triliun di triwulan I-2014.
“Pertumbuhan kredit tersebut juga dibarengi dengan prinsip kehati-hatian sehingga tingkat kredit bermasalah (NPL) dapat dijaga di 0,47 persen,” jelasnya saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (25/4/2014).
Selain itu, kredit mikro BRI tumbuh sebesar 21,01 persen (yoy), meningkat dari Rp112,24 triliun triwulan I tahun lalu menjadi sebesar Rp135,83 triliun. Pertumbuhan kredit mikro BRI tersebut bahkan melebihi pertumbuhan total kredit BRI.
Sejalan dengan hal itu tercatat bahwa DPK BRI kian meningkat. Tercatat bahwa DPK pada kuartal 1 2014 mencapai Rp470,02 triliun atau tumbuh 16,6 persen (yoy) dari tahun lalu yang mencapai Rp403 triliun.
Adapun kontribusi sumber dana murah atau CASA sebesar 60 persen.
Rizal Ramli: Kinerja Mandiri Melorot, Kalah dari BRI dan BNI
Minggu, 20 April 2014 | 12:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Mantan menteri BUMN Rizal Ramli menilai akusisi Bank Tabungan Negara oleh Bank Mandiri hanya cara mudah Bank Mandiri memperbaiki kinerjanya. Sebab, dalam beberapa tahun belakangan ini, dia menilai kinerja Bank Mandiri jeblok.

“Kinerja Bank Mandiri semakin melorot, kalah dari BRI dan BNI. Salah satu cara yang termudah adalah dengan mengambil alih BTN, untuk melipatgandakan jumlah aset,” kata Rizal saat memberikan orasi kepada ribuan karyawan BTN yang mengadakan aksi unjuk rasa, di Menara BTN, Jakarta, Minggu (20/4/2014).

Meski demikian, Rizal mengatakan bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini, jumlah kredit macet di BTN terkait program kredit perumahan rakyat (KPR) semakin meningkat. Namun, tetap saja opsi akuisisi bukan pilihan terbaik. Karena itu, ia meminta Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk membatalkan rencana tersebut.

“Jika ingin membesarkam Mandiri, bukan dengan cara mengakuisisi sesama bank pemerintah. Lebih baik mengakuisi bank swasta,” ujar pria yang menjabat di era Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Dalam aksi unjuk rasa yang dipusatkan di halaman kantor mereka tersebut, para demonstran mengenakan pakaian hitam-hitam. Mereka membawa sejumlah spanduk yang bertuliskan penolakan terhadap rencana akuisisi tersebut, diantaranya “Akuisisi = Kapitalis = Penjajah”, “Save BTN”, dan “Akuisisi adalah Neo-Liberalisme”.

Selain itu, para demonstran juga membawa sebuah pocong yang bertuliskan “Kubur Akuisisi”, yang dipasangi foto Dahlan. Mereka juga membawa gambar-gambar Dahlan yang diberi tulisan “Go To Hell”. Tak hanya Dahlan, Direktur Utama BTN Maryono juga turut menjadi sasaran kemarahan para karyawan.

Selain para karyawan, aksi tersebut dihadiri oleh sejumlah petinggi BTN, baik yang berasal dari kantor pusat maupun dari daerah, seperti dari Makassar, Semarang, Pekalongan, dan Yogyakarta. Turut hadir pula Direktur Utama BTN periode 1988-1994 yang juga penggagas KPR, Asmuadji. Aksi berlangsung sekitar 2,5 jam. Dimulai pukul 09.00 WIB, dan berakhir pukul 11.30 WIB.
Perbankan masih menjadi sektor utama penopang pertumbuhan industri keuangan Indonesia,
dan mencatat laba tertinggi di dunia.

“Sekarang saja BRI (Bank Rakyat Indonesia) profit 2013 sebesar Rp 21 triliun, itu yang
tertinggi. Bank Mandiri Rp 18 triliun dan BCA Rp 14 triliun. Kalau dibandingkan dengan
domestik, tidak ada yang lebih tinggi,” kata Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN)
Agustinus Prasetiantoko Hotel Grand Sahid Jaya, Senin (14/4/2014). Perolehan laba perbankan
Indonesia yang sangat besar tersebut, lanjut Pras, menunjukkan profitabilitas. (Kompas/nlt)

Cetak Laba Rp21 T, BRI Bagi Dividen Rp6,35 T
Rabu, 26 Maret 2014 12:32 wib | Dani Jumadil Akhir – Okezone

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menetapkan 49 persen atau sekira Rp10,37 triliun sebagai laba ditahan dari laba bersih tahun buku 2013 sebesar Rp21,16 triliun.

Penetapan ini setelah para pemegang saham menyetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diadakan perseroan di Gedung BRI, Jakarta, Rabu (26/3/2014).

Direktur Utama BBRI Sofyan Basir mengatakan, pemegang saham juga menetapkan dividen pay-out ratio sebesar 30 persen dari laba bersih tahun buku 2013 atau sekira Rp6,35 triliun, dan sebesar 21 persen atau sekitar Rp4,44 triliun akan digunakan sebagai cadangan yang bertujuan untuk mendukung investasi.

“Besaran dividen pay-out ratio dan laba ditahan berdasarkan pertimbangan pentingnya perseroan melakukan ekspansi usaha dan kredit guna menangkap peluang BRI di segmen UMKM,” ucap Sofyan.

Sofyan menambahkan, nilai pembagian dividen yang dibagikan dalam empat tahun terakhir terus mengalami peningkatan.

Di 2010 nilai dividen BRI Rp93,01 per lembar saham, 2011 Rp122,28 per lembar saham, di 2012 Rp225,3320 per lembar saham dan di 2013 Rp257,3271 per lembar saham.

“Sebagai pemegang saham mayoritas, total dividen yang diterima oleh pemerintah dari laba bersih tahun buku 2013 menjadi sekitar Rp3,6 triliun,” jelasnya.

Sementara itu, rasio kecukupan modal BRI hingga 2013 tercatat masih sangat kuat yakni sebesar 16,99 persen, setelah memperhitungkan risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional. Meski demikian, perseroan perlu memperkuat struktur permodalan guna menopang ekspansi kredit maupun usaha perusahaan serta semakin memberikan benefit yang optimal dan pemegang saham. (rzk)
2013, Laba BRI Tembus Rp 21 Triliun

Kamis, 23/01/2014 – 15:49
JAKARTA, (PRLM).- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI pada 2013 meraih laba bersih sebesar Rp 21,16 triliun atau meningkat 14,2% dibanding tahun 2012. Untuk tahun 2014, BRI akan tetap fokus dalam usaha penguatan dana ritel, yang disertai dengan upaya-upaya penguatan fee based income.

“Penguatan laba tersebut berasal dari kenaikan pendapatan operasional yang tercatat Rp 65,4 triliun atau tumbuh 16,2% selama tahun 2013, terdiri dari pendapatan bunga Rp 57,3 triliun dan pendapatan non bunga Rp 8,1 triliun,” kata Dirut Bank BRI Sofyan Basir saat paparan kinerja di Jakarta.

Menurut dia, kinerja yang kuat tersebut merupakan hasil nyata dari strategi yang diterapkan selama 2013. Antara lain dengan memperkuat fokus pada segmen UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) dengan tetap mengedepankan kebijakan prudential banking, memperluas jaringan unit kerja dan e-channel.

Selain itu, juga melakukan pengembangan e-banking, termasuk produk & layanan berbasis IT (teknologi informasi) lainnya yang menghasilkan Fee Based Income. Hal ini terlihat dalam pertumbuhan kredit BRI yang mencapai 23,7% secara year on year (YoY), dari Rp 348,23 triliun pada Desember 2012 menjadi Rp 430,62 triliun pada akhir 2013.

“Yang menggembirakan, kualitas kredit dapat terjaga bahkan membaik, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) per Desember 2013 sebesar 0,31% (nett), menurun dari posisi di akhir Desember 2012 yang tercatat sebesar 0,34% (nett), bahkan rasio ini terendah dalam delapan tahun terakhir,” kata Sofyan.

Direktur Keuangan BRI Ahmad Baiquini mengatakanisnis mikro BRI juga terus memperlihatkan momentum pertumbuhan yang menggembirakan. Kredit mikro BRI dalam periode yang sama tumbuh sebesar 23,7% yoy, atau naik dari Rp 106,8 triliun (Desember 2012) menjadi Rp 132,1 triliun (Desember 2013).

Dikatakan, dengan pengetahuan yang mendalam tentang karakteristik bisnis mikro, pertumbuhan yang tinggi tersebut dapat dibarengi dengan penjagaan kualitas kredit, seperti tercermin dari tingkat NPL kredit mikro yang sebesar 0,38% (nett). Pertumbuhan kredit mikro BRI tidak hanya menghasilkan peningkatan outstanding pinjaman, tetapi juga menghasilkan peningkatan jumlah nasabah. Hingga akhir Desember 2013, jumlah debitur mikro BRI mencapai 6,5 juta orang.

Dari sisi pendanaan, BRI juga berhasil menumbuhkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang per akhir tahun 2013 total DPK mencapai Rp 486,4 triliun atau tumbuh 11,5% year on year. Peningkatan DPK ini didominasi kenaikan produk tabungan yang mencapai 15%, hal ini mencerminkan BRI berhasil mempertahankan dominasi sumber dana murah dalam komposisi dana pihak ketiganya.

Sementara itu, lanjut Baiquni, jumlah rekening simpanan per akhir Desember 2013 mencapai sekitar 40 juta rekening. Pertumbuhan funding yang sehat ikut menjaga tingkat likuiditas BRI, tercermin dari rasio LDR per akhir Desember 2013 yang tercatat sebesar 88,54%.

Disebutkan, nasabah UMKM BRI per Desember 2013 mencapai 8 juta orang, meningkat dari Desember 2012 lalu yang tercatat 6,8 juta orang, atau naik 18,6%, dengan outstanding pinjamannya yang ikut naik dari Rp 260,42 triliun menjadi Rp 320,4 triliun.

Begitupun penyaluran KUR, BRI adalah yang terbesar di antara bank penyalur KUR lainnya. Hingga 31 Desember 2013, posisi KUR BRI sudah menembus Rp 87 triliun, dengan jumlah debitur mencapai 9,2 juta nasabah, sementara nasabah KUR BRI yang bermigrasi ke kredit komersial telah berjumlah lebih dari 850 ribu debitur dengan plafon pinjaman mencapai Rp 13.6 triliun.

Saat ini kontribusi Bank BRI terhadap pendapatan negara juga terbilang besar terlihat dari besaran pajak dan dividen yang dibayarkan BRI kepada negara sebagai pemegang saham terbesar, yang mencapai Rp 9,3 triliun. (A-78/A-147)***
Laba BRI tembus Rp 15,2 triliun di kuartal tiga
Oleh Dyah Megasari – Rabu, 23 Oktober 2013 | 18:24 WIB

kontan

JAKARTA. Laba PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di kuartal III 2013 tembus ke Rp 15,2 triliun. Secara year on year, nilai ini naik 17,01%.
Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) bank mencapai Rp 30,3 triliun atau naik sebesar 16,6% yoy. Sedangkan Net Interest Margin (NIM) ada di level 8,25%, lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya di 8,08%.
Kredit BRI berhasil tumbuh di atas proyeksi BI untuk bank umum yakni hingga 29,96% dan rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) BRI sebesar 0,43%. Catatan saja, BI memprediksi kredit perbankan hanya akan tumbuh antara 20%-23%.
Kredit mikro BRI melesat 26,86% (yoy), dari Rp 101,1 triliun menjadi sebesar Rp 128,22 triliun. Pertumbuhan kredit mikro BRI tersebut tidak hanya menghasilkan peningkatan outstanding pinjaman, tetapi juga menghasilkan peningkatan jumlah debitur.
“Hingga akhir September 2013, jumlah debitur mikro BRI mencapai 6,1 juta orang. Dalam pengembangan bisnis mikronya, BRI berhasil menjangkau lebih banyak pengusaha kecil dan terdepan dalam usaha peningkatan financial inclusion di Indonesia,” demikian pernyataan BRI melalui rilis yang diterima KONTAN.

BRI Targetkan Laba 2013 Capai Rp 20 Triliun
Rabu, 23 Oktober 2013 | 20:35
investor daily
JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menargetkan laba bersih perseroan pada 2013 sebesar Rp 20 triliun atau meningkat sekitar 51 persen dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya senilai Rp 13,173 triliun.

“Dengan posisi laba bersih sampai dengan triwulan III sebesar Rp 15,2 triliun, harapannya laba bisa mencapai sekitar Rp 20 triliun hinga akhir tahun ini,” ujar Direktur Keuangan BRI, Ahmad Baiquni di Jakarta, Rabu (23/10).

Ia mengemukakan bahwa target perseroan itu sudah memperhitungkan terhadap kenaikan suku bunga Bank Indonesia, inflasi serta faktor-faktor ekonomi lainnya.

“Kenaikan suku bunga memang akan berdampak, kita akan menyesuaikan namun perseroan juga melihat dampak terhadap kredit bermasalah (non performing loan/NPL),” katanya.

Ia menambahkan BRI tetap akan memprioritaskan pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Terkait kinerja keuangan Bank Rakyat Indonesia periode triwulan III 2013, tercatat laba bersih naik 17,01 persen menjadi Rp 15,2 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya.

“Pencapaian laba bersih merupakan hal positif di tengah kondisi makro ekonomi global dan domestik yang kurang kondusif yang tercermin pada tren kenaikan suku bunga dan inflasi,” ujar Ahmad Baiquni.

Menurut dia, solidnya kinerja BRI itu juga terlihat dari pencapaian pendapatan bunga bersih sebesar Rp 30,30 triliun atau naik 16,6 persen. Peningkatan itu juga tampak dari net interest margin (NIM) BRI sebesar 8,25 persen di triwulan III 2013, meningkat dari periode yang sama tahun lalu sebesar 8,08 persen.

“Capaian tersebut, terutama bersumber dari pengelolaan aktiva produktif, yang menghasilkan peningkatan pendapatan bunga dan pengelolaan liabilitas agar biaya dana tetap terjaga,” katanya.

Ia menambahkan transformasi bisnis BRI yang dilakukan dalam dua tahun terakhir berhasil meletakkan fundamental bisnis yang kokoh, terlihat dari pertumbuhan kredit BRI yang naik 29,96 persen secara year on year, dengan tetap menjaga kredit bermasalah (NPL) yang rendah sebesar 0,43 persen (nett).

Dikemukakan, kredit mikro BRI tumbuh 26,86 persen menjadi Rp 128,22 triliun pada triwulan III tahun ini dibanding periode sama tahun sebelumnya yang Rp 101,1 triliun.

“Pertumbuhan kredit mikro tidak hanya menghasilkan peningkatan outstanding pinjaman, tetapi juga menghasilkan peningkatan jumlah debitor,” kata Ahmad Baiquni.

Hingga akhir September 2013, tercatat jumlah debitur mikro BRI mencapai 6,1 juta orang. (ID/tk/ant)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s