10 besar BANK indon : 290910_210316_050617

bird_bbri_unvr

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Beberapa bank di Indonesia masih belum menunjukkan tajinya di level Asia Tenggara (ASEAN). Hal ini dapat dilihat dari data Forbes terbaru 2017.

Dalam daftar 2000 perusahaan yang masuk di Forbes 2017, bank terbesar di Indonesia yaitu Bank Mandiri masih tertinggal dengan bank di Singapura, Malaysia dan Thailand.

Dari total aset, tiga bank di Indonesia yaitu Mandiri, BRI dan BCA tercatat hanya mempunyai aset sebesar US$ 77,1 miliar, US$ 74,5 miliar dan US$ 50,2 miliar.

Hal ini sangat jauh tertinggal jika dibandingkan bank di Singapura. DBS misalnya mempunyai total aset sebesar US$ 333,5 miliar atau 4,3 kali total aset bank terbesar di Indonesia yaitu Bank Mandiri.

Dibandingkan dengan Malaysia, bank di Indonesia juga masih tertinggal. Sebagai contoh, CIMB Grop Holding tercatat mempunyai US$ 108,3 miliar atau 1,4 kali bank Mandiri.

Jika melihat Thailand, Indonesia juga masih kalah. Bangkok Bank tercatat mempunyai total aset sebesar US$ 82.2 miliar atau 1.06 kali aset bank Mandiri.

Jika dibandingkan Filiphina, Indonesia masih cukup kompetitif.

Padahal, PDB (produk domestik bruto) Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN. Berdasarkan IMF ( International Monetary Fund) Januari 2017, PDB Indonesia sebesar US$ 1020 miliar.

Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA mengatakan penyebab aset bank di Indonesia masih kalah dengan beberapa negara ASEAN adalah karena pendapatan per kapita masih belum terlalu besar

“Pendapatan per kapita kita (masih) kalah dengan Singapura, Malaysia dan (Thailand),” ujar Jahja kepada KONTAN, Selasa (30/5/2017).

Jika melihat data IMF Januari 2017, memang PDB per kapita Indonesia hanya US$ 3895 atau masih kalau dibanding Singapura US$ 51431 Malaysia US$ 9623 dan Thailand US$ 6265.

Untuk mengejar ketertingalan aset, saat ini bank berkode BBCA ini sudah mempunyai strategi. Namun menurut Jahja, jika hanya sekadar mengejar aset tapi profit tergerus memang kurang bagus.

Oleh karena itu, BCA kedepan mempunyai strategi yaitu tetap mengejar aset namun dengan memperhatikan kualitas kredit dan profitabilitas yang bagus. Hal ini tercermin dari kapitalisasi pasar BCA yang beberapa waktu lalu sempat melewati DBS.

Dalam jangka panjang, menurut Jahja, BCA menargetkan pertumbuhan aset sejalan dengan pertumbuhan PDB yaitu 5% sampai 7% secara konservatif. Sampai kuartal 1 2017, total aset BCA tercatat naik sebesar 10.2% secara tahunan atau year on year (yoy).

Reporter: Galvan Yudistira

ets-small

JAKARTA bisnis.com—Lansekap pemeringkatan perbankan dilihat dari sisi kepemilikan aset, menunjukkan perubahan posisi. Kondisi ini mencerminkan persaingan ketat terutama di lini bank papan tengah.

Posisi lima bank peringkat teratas tidak tergoyahkan, dengan pertumbuhan aset yang terjaga di tengah tren pelemahan pertumbuhan kredit perbankan—suatu industri yang masih mengandalkan ukuran sebagai salah satu indikator kredibilitas.

Di sisi lain, bank-bank lapis kedua mengalami konsolidasi, seiring dengan penurunan aset beberapa bank dan keberhasilan beberapa bank lainnya yang justru dapat mengambil momentum untuk memoles kinerja.

Segmen bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV mencatatkan pertumbuhan aset yang cukup tinggi, melampaui rata-rata pertumbuhan aset bank umum secara keseluruhan yang pada tahun lalu tercatat tumbuh 10,40%.

Bahkan, secara konsolidasi, aset PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) dan PT Bank Mandiri Tbk. (Bank Mandiri) telah menembus lebih dari Rp1.000 triliun.

Sementara itu, dari lini tengah, kelompok BUKU III saling sundul-menyundul dalam menghimpun aset.

PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN), yang sepanjang tahun lalu membukukan kenaikan aset hingga 24,64%, mampu naik satu tingkat ke peringkat enam menggantikan posisi PT Bank Permata Tbk. (Bank Permata), yang turun dua tingkat ke peringkat delapan.

Menyusul di belakangnya, PT Bank Pan Indonesia Tbk. (Bank Panin) yang naik ke peringkat tujuh, dengan dukungan kenaikan aset sebesar 8,61% pada tahun lalu.

Sekretaris Perusahaan BRI Hari Siaga Amijarso mengatakan pada dasarnya perseroan tidak akan sekadar membesarkan aset dalam mendorong pertumbuhan.

“Kami mengembangkan asset yang produktif yaitu dari sisi dana akan terus meningkatkan CASA agar memperoleh biaya dana yang rendah sehingga dapat menyalur kredit dengan bunga yang bersaing,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (5/3).

Namun, menurut dia, tak menutup kemungkinan perseroan memperbesar aset dengan melakukan pertumbuhan secara nonorganik, yakni aksi akuisisi, karena secara konsolidasi masih ada ruang untuk diperbesar.

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistyaningsih menilai persaingan peringkat perbankan jika dilihat dari sisi aset terbilang cukup sengit di kelompok bank papan tengah, tetapi tidak akan merembet hingga ke bank-bank yang berada di posisi empat teratas yakni BRI, Mandiri, BCA, dan BNI.

RESTRUKTURISASI

Di sisi lain, menurut Lana, persaingan dalam hal penghimpunan aset akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan bank untuk menyelesaikan kredit bermasalah dan ekspansi kredit.

Sepanjang 2016, aset sejumlah bank cenderung menyusut karena bank menambah pencadangan guna mengantisipasi kredit bermasalah yang naik drastis akibat terseret oleh penurunan di sektor komoditas.

“Posisi akan cenderung status quo kecuali ada lompatan yang signifikan dalam hal penyaluran kredit atau sampai urusan cuci-cuci NPL ini selesai,” ujar Lana.

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur PT Bank Permata Tbk. (Bank Permata) Ridha D.M. Wirakusumah mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk mengelola kualitas aset bank, di antaranya melalui proses restrukturisasi dan rehabilitasi, serta mulai berjalannya proses likuidasi dan tindakan hukum terhadap sebagian dari portofolio NPL bank.

Emiten perbankan berkode saham BNLI itu juga melakukan perombakan jajaran manajemen senior, dengan ditunjuknya Direktur Utama dan Direktur Risiko baru uang diharapkan mampu mengelola bank dengan lebih baik.

“Fokus kami pada tahun ini adalah untuk melakukan turn-around atau kembali profitable dengan menjadi bank terdepan dalam segmen yang telah kami tentukan, sehingga aspirasi jangka panjang kami untuk memasuki BUKU IV tercapai,” ujar Ridha melalui keterangan tertulis kepada Bisnis, Jumat (3/3).

Dihubungi terpisah, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN) Maryono mengatakan pihaknya berupaya terus meningkatkan aset melalui strategi menggenjot program pembangunan satu juta rumah.

“Kami lakukan transformasi dan percepatan program pembangunan satu juta rumah,” ujarnya.

Bank penyalur kredit perumahan itu melancarkan sejumlah strategi untuk menggenjot penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Di antara program terbaru yang ditawarkan adalah KPR Mikro, yang menyasar masyarakat berpendapatan rendah tetapi tidak termasuk dalam kelompok penerima bantuan fasilitas FLPP.

 bird_bbri_unvr

JAKARTA, KOMPAS.com – Kinerja perbankan agak lesu dalam dua tahun terakhir akibat lemahnya perekonomian. Tahun 2017, kinerja perbankan diperkirakan lebih baik seiring mulai menggeliatnya perekonomian domestik dan global.

Karena itu, menurut AVP Investor Relation PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Dedi Arianto, harga saham bank di bursa efek berpotensi naik sehingga bisa menjadi salah satu pilihan untuk berinvestasi.

“Kalau ditanya investasi di saham bank, bank apa? Memang dalam kondisi seperti ini yang kami lihat bank yang memiliki total aset cukup besar, atau bank yang memiliki pangsa pasar besar,” kata Dedi dalam diskusi “Nabung di (Saham) Bank, dari dan untuk Masyarakat” di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/2/2017).

Dedi lebih lanjut mengatakan, bank-bank yang masuk dalam kategori BUKU IV umumnya direkomendasikan untuk dibeli (buy) oleh sebagian besar analis pasar modal. Bank Umum Kategori Usaha IV (BUKU IV) ialah bank yang memiliki modal inti di atas Rp 30 triliun.

“BNI, BRI, BCA, Mandiri,” kata Dedi menyebutkan contoh bank-bank besar. Adapun untuk kategori di bawahnya, atau bank BUKU III, Dedi melihat ada rekomendasi yang beragam. Beberapa saham bank BUKU III direkomendasikan beli, tetapi yang lainnya tidak.

Aset BNI pada 2016 mencapai Rp 603,3 triliun atau tumbuh 18,6 persen dibandingkan 2015 yang sebesar Rp 508,59 triliun. Aset BRI pada 2016 mencapai Rp 1.003,6 triliun atau tumbuh 14,3 persen dibandingkan 2015 yang senilai Rp 878,4 triliun. Adapun aset Mandiri pada 2016 mencapai Rp 1.000 triliun atau naik 9,9 persen dibandingkan aset 2015 yang sebesar Rp 910 triliun.

Jakarta detik- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatatkan aset di akhir 2016 sebesar Rp 1.003,6 triliun. Aset tersebut naik 14,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2015 sebesar Rp 878,4 triliun.

Direktur Utama BRI, Asmawi Syam, mengungkapkan aset yang sudah menembus di atas 1.000 triliun tersebut merupakan rekor baru, selain itu bank pelat merah tersebut juga mencatatkan sebagai bank dengan laba terbesar di Indonesia selama 12 tahun berturut-turut.

“Judulnya aset BRI sekarang sudah tembus di atas Rp 1.000 triliun, dengan aset konsolidasi sebesar Rp 1003,6 triliun, atau naik 14,3% dibandingkan periode yang sama 2015 sebesar Rp 878,4 triliun,” kata Asmawi saat paparan kinerja triwulan IV 2016 di kantor pusat BRI, Jakarta, Selasa (31/1/2017).

Sementara untuk laba bersih 2016, sambungnya, naik tipis dari tahun sebelumnya. Laba bank yang fokus pada sektor UMKM ini di 2016 sebesar Rp 25,7 triliun, sementara di 2015 sebesar Rp 25,2 triliun.

“Laba bersih ini sebesar 25,7 triliun, meningkat dari 2015. Ini artinya konsisten pertumbuhan laba bersih selama 12 tahun terakhir, dan setiap tahun sebagai bank pencetak laba terbesar,” papar Asmawi.

Asmawi mengatakan, pencapaian tersebut tak lepas dari kinerja penyaluran kredit yang dilakukan perseroan selama tahun 2016. Pada akhir tahun lalu, portofolio kredit BRI sebesar Rp 635,3 triliun, meningkat 13,8% dibandingkan periode 2015 yang nilainya Rp 558,4 triliun.

“Ini lebih tinggi dari pertumbuhan kredit industri per November 2016 sebesar 8,46% yoy,” ujar Asmawi.

Menurut Asmawi, pertumbuhan kredit ini ditopang oleh oleh kredit mikro yang memiliki proporsi kredit 33,3% dari total penyaluran kredit BRI.

“Kredit mikro tumbuh 18,2% yoy dari 178,9 triliun di tahun 2015, menjadi 211,5 triliun di tahun 2016. Porsi kredit UMKM di akhir 2016 ini sebesar 72,1%, dibandingkan dengan proporsi kredit ke korporasi sebesar 27,9%.(idr/hns)

ets-small

JAKARTA kontan. Sampai November 2016, sepuluh bank besar mencatatkan total laba bersih sebesar Rp 72,23 triliun. Realisasi laba ini meningkat 2,03% secara tahunan atau year on year (yoy).

Sepuluh bank besar ini adalah Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, CIMB Niaga, Bank Permata, Bank Panin, Bank BTN, Bank Danamon dan Maybank Indonesia.

Data laba bersih ini diambil dari laporan keuangan bulanan terbaru yang diunggah di laman web masing masing bank.

Jika dibandingkan kenaikan laba bulan Oktober 2016 lalu, tercatat kenaikan laba November 2016 ini lebih rendah. Sebagai gambaran, kenaikan laba 10 bank yang sama pada Oktober 2016 adalah sebesar 2,95% yoy.

Kenaikan laba November 2016 yang lebih rendah dibanding Oktober 2016 ini disebabkan karena pendapatan bunga bersih bank yang hanya tumbuh 13,22% yoy menjadi Rp 204,4 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan kenaikan bunga bersih Oktober 2016 sebesar 13,87% yoy.

Selain itu, jika dilihat dari masing-masing bank. Kenaikan laba yang lebih rendah dibanding bulan sebelumnya ini disebabkan laba beberapa bank pada November 2016 yang turun cukup besar.

Ambil contoh Bank Mandiri, sampai November 2016 mencatatkan penurunan laba sebesar 24,43% yoy menjadi Rp 13,5 triliun.

Selain itu ada pula Bank Permata yang sampai November 2016 mengalami rugi bersih Rp 1,9 triliun atau atau lebih tinggi dari kerugian bulan Oktober 2016 sebesar Rp 1,3 triliun. Sebagai catatan pada November 2015 tahun lalu bank berkode BNLI ini masih keuntungan Rp 527 triliun.

Jika dilihat beban operasional 10 bank ini pada November 2016 tercatat naik 21,08% yoy. Kenaikan ini sedikit lebih rendah dibanding Oktober 2016 yang naik 21,42% yoy. Masih naiknya beban operasional ini karena alokasi biaya pencadangan bank besar ini sampai November 2016 sebesar Rp 104,8 triliun atau naik 35,55% yoy.

Sedangkan dari sisi intermediasi, sampai November 2016, penyaluran kredit 10 bank besar ini tercatat naik 10,02% yoy. Kenaikan kredit ini November ini lebih tinggi dari Oktober 2016 yaitu 9,33% yoy.

 

 ets-small

JAKARTA. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengharapkan dengan terpilihnya Kartiko Wirjoatmodjo bisa membawa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebagai pemain di pasar global.

Menteri BUMN Rini Soemarno membenarkan jika Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri itu terpilih menjadi Direktur Utama Bank Mandiri setelah melalui proses Rapat Umum Pemegang Saham Terbatas (RUPST).

“Saya harap pak Tiko bisa membawa Mandiri untuk berkompetisi di ranah terbuka, secara global, dan terus mengembangkan Mandiri sebagai bank terbesar,” katanya di Kompleks Istana Negara, Senin (21/3/2016).

Dia mengungkapkan jika dilihat dari sisi aset, Bank Mandiri memang bank BUMN terbesar, tetapi dari sisi keuntungan masih kalah dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya berharap sosok Tiko bisa meningkatkan efisiensi Bank Mandiri dan juga mengembangkan perseroan dengan adanya aktivitas di luar negeri.

“Ini sangat penting jika ingin mengembangkan Mandiri ke ranah global,” katanya.

Menurutnya, Tiko merupakan sosok yang sangat baik.

Pasalnya, sebagai pemimpin, dia memiliki visi yang jelas dan pengetahuan perbankan yang sangat detail, termasuk pengalamannya sebagai anggota dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

http://finansial.bisnis.com/read/20160321/90/530180/ini-harapan-rini-ke-dirut-baru-mandiri
Sumber : BISNIS.COM

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

JAKARTA kontan. Dua bank penguasa pasar perbankan Indonesia terus membiakkan aset. Tahun lalu, predikat jawara aset (bank only) masih dipeluk Bank Rakyat Indonesia (BRI). Tapi, aset Bank Mandiri dan seluruh anak usaha masih lebih tinggi ketimbang BRI.

Tahun lalu, aset konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp 910,06 triliun sementara aset BRI Rp 878,42 triliun. Yang jelas, perseteruan aset antara dua bank pelat merah ini bakal seru di tahun ini.

Sebab, keduanya berambisi mengerek aset lewat aksi akuisisi dan pertumbuhan kredit. Menurut Wakil Direktur Utama BRI Sunarso, aset BRI ditargetkan tumbuh 10% menjadi Rp 900 triliun di 2016. Strateginya, memacu kenaikan penyaluran kredit sebesar 12% – 14% menjadi Rp 63,6 triliun-Rp 62,5 triliun.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan, aset ditargetkan tembus Rp 1.000 triliun atau tumbuh 12%-14% secara konsolidasi. Bank Mandiri akan fokus menumbuhkan pinjaman. “Terutama kredit infrastruktur dan mikro, termasuk di dalamnya kredit usaha rakyat (KUR),” ujar Rohan kepada KONTAN, Minggu (6/3).

Selain itu, lanjut Rohan, pihaknya akan menggelar ekspansi anorganik di sektor kredit ritel. Alasannya, kredit ritel berkontribusi 32,7% dari total kredit.

Sementara, “Kami masih mengkaji akuisisi seluruh saham multifinance BTMU-BRI Finance” ujar Sunarso. BTMU-BRI Finance memiliki aset sebesar Rp 2,7 triliun.

rose KECIL
March 4, 2016 11:30 pm JST

Indonesia’s top 3 lenders log slowest growth in 3 years

ERWIDA MAULIA, Nikkei staff writer

JAKARTA — Indonesia’s three biggest banks posted their weakest profit growth in three years in 2015, citing difficult economic conditions. Analysts, meanwhile, are taking a cautious approach to predicting the banks’ performance in 2016, due to a planned interest rate cap.

Bank Central Asia’s net profit grew 9.3% in 2015, down from 15.7% in 2014.

     Bank Central Asia, which recently overtook Singapore’s DBS Group Holdings as Southeast Asia’s largest lender by market value, was the last of the big three to report its full-year earnings. The bank on Thursday said its net profit grew 9.3% to 18 trillion rupiah ($1.36 billion).

That beat the 2.3% profit growth at Bank Mandiri, Indonesia’s largest lender by assets, and the 5% rise at Bank Rakyat Indonesia, the No. 2 player by the same metric.

Nevertheless, like the figures of the two state lenders, BCA’s result paled in comparison to its performance the previous two years. The private lender’s profit rose 21% in 2013 and 15.7% in 2014.

By value, BRI finished as the top earner last year, securing 25.4 trillion rupiah in net profit — followed by Mandiri at 20.3 trillion rupiah.

BCA said its profit growth was supported by an “expanding loan portfolio and lower cost of funds.” It said it handed out 387.6 trillion rupiah worth of loans last year, up 11.9% from 2014.

Credit grew “across all segments,” with the corporate sector booking the highest increase, at 17%. Commercial and small and medium enterprise credit, as well as consumer credit, grew around 9% each. BCA said that toward the end of the year, an improving economic situation and a pickup in the consumption cycle contributed to the increases.

“Difficult to predict”

BCA’s net nonperforming loan ratio last year came to just 0.2%, unchanged from 2014. Mandiri’s rose to 0.9%, while BRI’s hit 0.52%.

Mandiri’s increasing nonperforming loan ratio forced the bank to more than double its provisions, hurting profit.

bird

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sejauh ini mencatatkan kinerja yang paling kinclong di antara bank-bank BUMN.

Beberapa indikatornya di antaranya adalah nominal laba bersih per kuartal III-2015, BRI masih yang tertinggi dibandingkan dengan bank BUMN lainnya.

Hingga akhir September, bank yang fokus pada penyaluran kredit UMKM ini berhasil membukukan keuntungan bersih sebesar Rp 18,42 triliun (naik 1,98 persen year on year/YoY) mengungguli seluruh bank BUMN Indonesia.

(Baca: BRI Catatkan Laba Rp 18,3 Triliun per Kuartal III-2015)

Bank Mandiri misalnya, pada periode tersebut mencatatkan laba bersih sebesar Rp 14,58 triliun atau stagnan dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan laba bersih Rp 5,99 triliun atau justru turun 21,19 persen YoY serta BTN meraup laba bersih Rp 1,22 triliun atau naik 61 persen.

Dari sisi kapitalisasi pasar, BRI juga masih berada di posisi teratas di antara bank-bank BUMN. Hingga akhir pekan lalu, kapitalisasi pasar saham berkode BBRI ini mencapai Rp 263,96 triliun.

Adapun Bank Mandiri (BMRI) masih berada di bawah BRI yaitu sebesar Rp 209,4 triliun. Kapitalisasi pasar BNI (BBNI) sebesar RP 89,79 triliun dan BTN (BBTN) mencapai Rp 12,11 triliun.

Wakil Direktur Utama BRI Sunarso menuturkan perseroan akan mengincar predikat sebagai perusahaan yang paling bernilai dari sisi kapitalisasi pasar.

“Karena kaitalisasi pasar mencerminkan respon pasar atau pemegang saham terhadap yang dikerjakan oleh manajemen. Untuk meningkatkan kapitalisasi pasar, kami harus sehat di sisiliabilities, aset, serta income. Hal itu juga diimbangi income darifee based,” ujar Sunarso pekan lalu.

“Sekali bankir menyatakan bahwa value dari banknya adalah kapitalisasi pasar, maka dia harus mati-matian untuk mencapaimarket capitalization sebagai nilai utama dari perusahaan. Yang penting konsisten,” lanjut dia.

Berikut peringkat perolehan laba bersih dan kapitalisasi pasar di antara bank-bank BUMN

Laba Bersih Bank-bank BUMN per kuartal III-2015

1. Bank Rakyat Indonesia — Rp 18,42 triliun
2. Bank Mandiri — Rp 14,58 triliun
3. Bank Negara Indonesia — Rp 5,99 triliun
4. Bank Tabungan Negara — Rp 1,22 triliun

Kapitalisasi Pasar Bank-bank BUMN per 6 November 2015

1. Bank Rakyat Indonesia — RP 263,96 triliun
2. Bank Mandiri — Rp 209,4 triliun
3. Bank Negara Indonesia — Rp 89,79 triliun
4. Bank Tabungan Negara — Rp 12,11 triliun

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

rose KECIL

JAKARTA, KOMPAS.com — Hingga kuartal ketiga tahun 2015, kinerja perbankan memang melambat seiring pelemahan ekonomi nasional. Namun, di tengah kondisi ini, bank kelas kakap masih bisa menggenjot pertumbuhan aset.

Ambil contoh, Bank Rakyat Indonesia (BRI). Hingga September tahun ini, total aset konsolidasi bank pelat merah ini termasuk anak usahanya mencapai Rp 802,2 triliun

Jumlah tersebut tumbuh sebesar 13,75 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. BRI menempati posisi kedua sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia.

Pada posisi pertama masih ditempati oleh Bank Mandiri, dengan total aset mencapai Rp 905,76 triliun atau tumbuh 13,48 persen dibanding periode sama tahun 2014 yang mencapai Rp 798,16 triliun.

Adapun posisi ketiga ditempati Bank Central Asia (BCA) yang membukukan aset senilai Rp 584,4 triliun. Jumlah ini naik 8,7 persen dibandingkan tahun lalu.

Berikut 10 bank dengan aset terbesar hingga September 2015:

1. Bank Mandiri                    Rp 905,76 triliun
2. BRI                                   Rp 802,30 triliun
3. BCA                                 Rp 584,44 triliun
4. BNI                                  Rp 456,46 triliun
5. Bank CIMB Niaga             Rp 244,28 triliun
6. Bank Danamon                Rp 195,01 triliun
7. Bank Permata                  Rp 194,49 triliun
8. Bank Panin                      Rp 182,23 triliun
9. BTN                                 Rp 166,04 triliun
10. Bank Maybank Indonesia  Rp 153,92 triliun
sumber: laporan keuangan September 2015

Editor : Erlangga Djumena
Sumber : KONTAN

Summer sports icons - long jump icon

Selasa, 28/09/2010 21:17 WIB
Bank Terus Gemukkan Laba
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Laba yang berhasil diraup bank umum nasional terus naik hingga Juli 2010. Bank umum nasional hingga Juli 2010 berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 34,336 triliun, naik 26,53% dibandingkan Juli 2009 yang sebesar Rp 27,136 triliun.

Menurut data statistik perbankan yang dikutip dari Bank Indonesia, Selasa (28/9/2010), bank umum berhasil mencetak kenaikan pendapatan operasional hingga 12,3% menjadi Rp 200,06 triliun pada Juli 2010.

Untuk laba operasional juga melesat hingga 26,95% dari Rp 22,534 triliun pada Juli 2009 menjadi Rp 28,608 triliun pada Juli 2010.

Namun perbankan juga sulit menekan beban operasionalnya, yang terlihat naik dari Rp 155,614 triliun pada Juli 2009 menjadi Rp 171,452 triliun pada Juli 2010.

CAR bank umum juga mengalami kenaikan dari Juli 2009 yang sebesar 17,34% menjadi 18,29% pada Juli 2010. Sementara LDR naik tipis dari 74,07% pada Juli 2009 menjadi 76,39% pada Juli 2010.

Untuk posisi 10 bank umum dengan aset terbesar di Juli 2010 adalah:

Bank Mandiri: Rp 371,211 triliun (13,93%)
BRI: Rp 308,173 triliun (11,48%)
BCA: Rp 295,519 triliun (11,05%)
BNI: Rp 218,114 triliun (8,13%)
Bank CIMB Niaga: Rp 125,973 triliun (4,69%)
Bank Danamon Indonesia: Rp 99,515 triliun (3,71%)
Bank Panin: Rp 89,114 triliun (3,32%)
BII: Rp 65,766 triliun (2,45%)
Bank Permata: Rp 63,541 triliun (2,37%)
BTN: Rp 62,455 triliun (2,33%).

(dnl/dnl)

Summer sports icons - long jump icon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s