bnii BERAKSI KREDIT, bo … 010511_140217 (hepi hari Valentine :) )

long jump icon

JAKARTA kontan. Indonesia masih menarik di mata dunia. Ini terlihat dari sejumlah akuisisi yang dilakukan pihak-pihak asing.

Belum sampai penutupan kuartal I-2017, sinyal finalisasi akuisisi Star Energy atas dua aset milik Chevron muncul. Aset tersebut merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang ada di Indonesia dan Filipina.

Dikabarkan jika perusahaan yang didirikan dan dikuasai Prajogo Pangestu melalui Grup Barito Pacific itu baru saja memperoleh kepastian memperoleh pinjaman hingga US$ 660 juta dari sejumlah bank untuk mendanai akuisisitersebut. Pinjamannya merupakan pinjaman sindikasi yang berasal dari sejumlah bank seperti Credit Suisse, DBS, dan Maybank

Sebelumnya, Star Energy juga memperoleh pinjaman US$ 1,25 miliar dari sejumlah bank tidak lama setelah sale and purchase agreement aksi korporasi ini diteken mendekati akhir tahun lalu.

Dengan tambahan US$ 660 juta memunculkan sinyal akuisisi akan segera tuntas. Berdasarkan catatan KONTAN, manajemen Star Energy menargetkan pelunasan transaksi dan serah terima aset berlangsung akhir kuartal I-2017.

Sebelumnya juga ada kabar akusisi PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) oleh FIC Properties Sdn Bhd yang merupakan anak usaha Federal Land Development Authority (Felda) mendekati tahap finalisasi. Akuisisi senilai US$ 505,4 juta itu hanya tinggal meneruskan urusan administrasi.

Jika dicermati, akuisisi yang ramai terjadi sejak awal tahun ini sejatinya merupakan rencana lama. BWPT malah butuh waktu menahun sebelum progress akuisisinya terlihat signifikan.

“Tapi closing yang baru ramai pada kuartal I ini mengindikasikan jika ketidakpastian sudah mulai berkurang,” ujar analis Koneksi Kapital Alfred Nainggolan kepada KONTAN, Senin (13/2).

Jika selama ini Donald Trump selalu menjadi pesakitan adanya ketidakpastian, tapi sentimen itu sudah mulai berkurang. Perlahan ia mengeluarkan kebijakan dan data yang selama ini dinanti. Karena hal ini, investor sudah bisa mulai mengukur arah dan risiko investasinya.

Analis Panin Sekuritas Frederik Rasali bilang, ramainya akuisisi juga sering terjadi justru di saat kondisi ekonomi sedang kurang kondusif. Memang, sepanjang tahun lalu banyak distorsi ekonomi yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri.

Kondisi ini membuat sejumlah kinerja perusahaan tertekan. Sehingga, nilai perusahaan pun menurun dan saat inilah asing masuk karena melihat harganya sudah terdiskon. Apalagi, jika perusahaan yang jadi pihak pembeli ingin berekspansi dengan cepat, melalui cara anorganik seperti akuisisi.

Ekonomi tahun ini diprediksi lebih baik, tapi belum sepenuhnya maksimal. Artinya, masih ada peluang terdiskonnya nilai perusahaan berlanjut. Sehingga, tren akuisisi oleh asing tahun ini diprediksi akan lebih ramai.

“Apalagi jika mempertimbangkan fundamental Indonesia yang sangat menarik terutama di sektor riil,” jelas Frederik.

 ets-small

Jakarta IB– PT Bank Maybank Indonesia Tbk mencatat, sepanjang 2015 lalu perseroan telah menyalurkan kreditnya sebesar Rp112,5 triliun atau mengalami pertumbuhan 5,9% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp106,3 triliun.

Menurut Direktur Keuangan Maybank Indonesia, Thilagavathy Nadason, sektor perbankan bisnis dan perbankan ritel masih menunjukkan pertumbuhan kredit yang kuat. Sementara perbankan global tetap fokus pada re-profiling dan re-alligning portofolio korporasi, dengan strategi memberikan layanan kepada BUMN dan nasabah top tier.

“Kredit perbankan bisnis pertumbuhan 12,5% dari Rp40,8 triliun menjadi Rp45,9 triliun, kredit perbankan ritel meningkat sebesar 9% dari Rp41,5 triliun menjadi Rp45,2 triliun dan kredit perbankan global menurun 10,7% dari Rp24,0 triliun menjadi Rp21,5 triliun,” ujarnya di Jakarta, Selasa, 23 Februari 2016.

Sedangkan kredit dari perbankan bisnis, kata dia, telah memberikan kontribusi sebesar 41% dari total kredit bank. Kredit perbankan ritel sebesar 40% dan perbankan global sebesar 19%. “Kami akan memperhatikan kualitas kredit sehubungan beberapa bisnis, yang masih terkena dampak perlambatan ekonomi serta pelemahan mata uang Rupiah,” tukasnya.

Di tengah pertumbuhan kredit perseroan yang mengalami pertumbuhan 5,9% menjadi Rp112,5 triliun di akhir 2015 ini, rasio kredit bermasalah (NPL) mengalami peningkatan. NPL (gross) bank tercatat mengalami kenaikan dari 2,24% pada 2014 menjadi 3,81% di 2015. Sedangkan NPL (net) naik dari 1,5% menjadi 2,55%.

“Bank terus menurunkan eksposur portofolio koporasi yang menjadi penyebab meningkatnya NPL, bank telah secara aktif melakukan restrukturisasi portofolio tersebut dan berharap lebih jauh dapat melihat perbaikan pada 2016,” tutup Taswin. (*) Rezkiana Nisaputra

Jakarta IB–Bank Indonesia kembali menurunkan BI rate. Pihak perbankan pun menyambut baik atas keputan ini. Seperti disampaikan oleh Asmawi Syam, Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia kepada Infobank dalam acara peluncuran Pameran Foto Mendorong Perekonomian Bangsa Melalui UMKM.

“Perbankan menyambut sebagai kelongaran di likuiditas. Jadi ini bisa juga menjadi indikator untuk menurunkan suku bunga kita kedepan” ujar Asmawi.

Asmawi menambahkan, penyaluan kredit BRI tahun ini sesuai dengan target yakni tumbuh15%. Tentunya, lanjut dia, BRI akan memerlukan likuiditas, disamping itu juga memerlukan penurunan suku bunga.

“Sekarang suku bunga KUR 9%, dengan suka bunga turun diharapkan pelaku UKM bisa berusaha dengan lebih mudah, sehingga animo UKM untuk berusaha bisa lebih tinggi” harapnya.

Dengan penurunan BI rate, ujarnya, akan dihitung kembali penuruan suku bunganya.  Sebab, tambahnya, ini terkait dengan suku bunga simpanan yang turun, dan GWM turun. “Jadi komponennya banyak sekali” ujarnya lagi.

Dengan KUR 9% ini, terang Asmawi, akan mendorong kredit -kredit lain akan turun. Ia berharap semua pihak akan bersama -sama menurunkan suku bunga.

“Kalau prediksi kita lihat penurunan suku bunga ini secara gradual, bertahap turun. Kita harapkan kita bisa berkompetisi dengan negara-negara yang ada di ASEAN.  Harapannya, kita bisa berkompetisi dengan bank-bank ASEAN” kata dia.

Asmawi  menerangkan, tabungan deposito diharapkan akan turun, otomatis bunga kredit juga akan turun. Kalau Cost of fund  turun, otomatis interest rate juga akan turun. “Nanti secara gradual. Ada orang depositonnya jatuh tempo, nanti kita hitung lagi” tegasnya.

Selain itu, OJK kini juga tengah menyusun untuk menekan Net Interest Margin (NIM) 3%-4%. Terkait hal itu, BRI mengaku sedang menggodok wacana kebijakan tersebut. “Kita harapkan semua bisa turun, secara gradual. Sesuai dengan penurunan komponen suku bunga simpanan, kita juga akan turunkan biaya bunga, interest rate” jelasnya.

Sebab, tambahnya, menurunkan NIM ini banyak komponennya, tidak bisa sendiri-sendiri, melainkan harus bersama-sama turun, dan secara gradual. “Tidak bisa ada orang nabung di deposito tiba-tiba kita turunkan (bunganya), kan ga bisa” pungkasnya. (*)

Makin banyak bank yang menawarkan suku bunga kredit satu digit untuk memacu
bisnis kredit pemilikan rumah (KPR). Terbaru, Maybank Indonesia yang akan merilis
KPR dengan bunga di bawah 10%.

Direktur Business Banking Maybank Indonesia Jenny Wiriyanto mengatakan, penurunan
suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) membuat peluang pemangakasan suku bunga
KPR semakin besar. Namun, kata Jenny, detail produk tersebut bisa diungkap saat ini.
Produk baru KPR Maybank ini akan ditawarkan bulan depan. Yang jelas, produk bunga KPR
single digit Maybank Indonesia tersebut memiliki tenor jangka menengah. (Kontan/nlt)

Jakarta detik -PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menurunkan suku bunga kredit dan simpanan deposito sebesar 25 basis poin (0,25%). Penurunan suku bunga ini berlaku mulai Februari 2016.

Demikian dikatakan Direktur Utama BRI Asmawi Syam di Gedung BRI, Jakarta, Rabu (3/2/2016).

“Jadi suku bunga ini kita turunkan, bulan ini 0,25% atau 25 basis poin. Jadi penurunan suku bunga ini berlaku Februari,” sebut dia.

Terkait dengan target kerja di tahun 2016, BRI berencana akan tetap meningkatkan portofolio kreditnya secara selektif dan prudent sesuai dengan kondisi perekonomian dengan kisaran target pertumbuhan sebesar 13%-15%. Ada pun penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tetap menjadi prioritas, dengan target penyaluran sebesar Rp 67,5 triliun, yang dialokasikan untuk KUR Mikro sebesar Rp 65 triliun, KUR ritel sebesar Rp 6 triliun dan KUR TKI sebesar Rp 500 miliar. Untuk tingkat suku bunga sesuai dengan ketentuan dari pemerintah, di mana per 1 Januari 2016 tingkat suku bunga KUR di semua sektor ditetapkan menjadi sebesar 9% per tahun atau turun dari tahun 2015 yang sebesar 12% per tahun dan 22% per tahun 2014.

Selain itu, BRI juga akan tetap fokus dalam usaha penghimpunan DPK murah, disertai dengan upaya-upaya penguatan fee based income dan pengembangan infrastruktur seperti launching BRISat di pertengahan tahun, ekspansi unit kerja di Timor Leste serta peningkatan jumlah agen BRILink hingga 75.000 agen di 2016. Untuk rasio, di tahun 2016 ini, BRI menargetkan NPL berada di level 2,1-2,4%, LDR di kisaran 85-90% dan CAR di posisi 20,18%.

Selanjutnya dengan modal kinerja yang sehat, stabil dan berkelanjutan serta didukung dengan jaringan unit kerja yang optimal, BRI optimistis dapat mencapi pertumbuhan net profit atau laba perseroan di kisaran 3-5% di tahun 2016 ini.

Upaya peningkatan Current Account Saving Accoubt (CASA) atau dana murah seperti giro, tabungan britama dan simpedes juga turut berpengaruh pada funding structure BRI.

Hingga akhir tahun 2015 CASA BRI tumbuh sebesaar 18,4% atau menjadi Rp 380,6 triliun dengan kontribusi terhadap DPK yang juga meningkat dari 53,5% di akhir tahun 2014 menjadi 59,2%. Peningkatan rasio CASA tersebut tentunya memberikan efek positif yaitu penurunan Cost Of Fund (COF) dari yang sebelumnya 4,4% di tahun 2014 menjadi 4,2% di tahun 2015.

Tak hanya itu, BRI juga berhasil mempertahankan posisi neraca yang solid dengan posisi likuiditas dan permodalan yang sehat serta rasio profitabilitas yang relatif stabil. Rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di level yang rendah, NPL netto tercatat sebesar 0,5% dan NPL gross sebesar 2,0% dengan NPL coverage ratio sebesar 151,1%. Ada pun rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) tercatat sebesar 86,9%, sementara rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 20,6% pada akhir tahun 2015, sedangkan Return of Asset (ROA) tercatat di level 4,2% serta Return on Equity (ROE) di level 29,9%.

Sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan bisnisnya, BRI terus mengembangkan jaringan unit kerja konvensional, e-channel, dan layanan branchless banking, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Sepanjang tahun 2015 ini, Bank BRI telah menambah sedikitnya 216 unit kerja konvensional, baik itu dalam bentuk Kantor Wilayah, Kantor Cabang, hingga Teras BRI keliling. Hingga akhir tahun 2015, BRI telah memiliki 10.612 jaringan kerja konvensional, yang terdiri dari 8.539 jaringan mikro, termasuk Teras BRI dan Teras BRI Keliling, 983 Kantor Kas, 603 KCP, 467 Kantor Cabang, serta 19 Kantor Wilayah yang kesemuanya terhubung real time online

Sementara itu, peningkatan jumlah jaringan e-channel didominasi oleh pertambahan Electronic Data Capture (EDC) sebesar 56.554 menjadi 187.758 unit, Automatic Teller Machine (ATM) bertambah 2.000 menjadi 22.792 unit serta Cash Deposit Machine (CDM), bertambah 500 menjadi 892 unit.

Layanan branchless banking BRI yang populer disebut BRILink juga meningkat secara signifikan, baik dari segi jumlah agen, jumlah transaksi maupun volume transaksi. Hingga akhir tahun 2015, jumlah agen BRILink tumbuh sebesar 247% dari periode yang sama tahun lalu atau menjadi 50.259 agen yang tersebar di seluruh pelosok tanah air, sedangkan jumlah transaksi yang dilayaninya pun terus meningkat dengan pesat, dari 1,06 juta transaksi di akhir tahun 2014 menjadi 65,87 juta transaksi di akhir tahun 2015 atau tumbuh sebesar 6,216%. Nilai transajsubta telah mencapai Rp 34,85 triliun atau meningkat 3,684% daru Rp 973 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

(drk/drk)

Jakarta detik -PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menargetkan bisa menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di tahun 2016 sebesar Rp 67 triliun. Untuk bisa menembus target tersebut, perseroan mencari sedikitnya 3.000 orang untuk ditempatkan khusus mengurus KUR.

“Jadi tahun 2016 target KUR kita adalah Rp 67 triliun. Tahun ini BRI nggak PHK tapi menambah pekerja, silakan yang mau melamar ke BRI,  mencari 3.000 lebih orang untuk ngurusin KUR, kalau mau ngelamar sumbernya dari mana saja, tahun lalu ada anak pedagang pasar,” ujar Direktur Utama BRI Asmawi Syam di Gedung BRI, Jakarta, Rabu (3/2/2016).

Dia menjelaskan, di tahun lalu, BRI telah menciptakan banyak lapangan kerja dengan adanya KUR. Setidaknya dalam waktu 4 bulan, BRI sudah merekrut 1,9 juta orang khusus untuk menangani KUR.

“Kalau tahun lalu penerima KUR selama 4 bulan 900 ribu orang, dan BRI secara tidak langsung menciptakan lapangan kerja secara informal 1,9 juta orang 4 bulan,” sebut dia.

Secara keseluruhan, BRI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 15-20% di tahun 2016. Sepanjang tahun 2015, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 558,4 triliun

“Pertumbuhan kredit 15 sampai 20% di 2016,” sebut dia.

(drk/drk)

JAKARTA kontan. PT Bank Maybank Indonesia Tbk mulai merespons kebijakan penurunan suku bunga acuan atau Bank Indonesia (BI rate) dengan pemangkasan suku bunga simpanan. Ujungnya, langkah pemangkasan suku bunga simpanan ini akan memberikan dampak pada rencana pengguntingan suku bunga kredit bank seperti bunga kredit pada konsumsi.

Taswin Zakaria, Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk mengatakan, pihaknya akan menurunkan bunga kredit sesuai dengan penurunan suku bunga simpanan yang mengacu pada BI rate yaitu 25 basis points (bps). “Kami akan menurunkan bunga kredit sekitar 3 bulan-6 bulan kedepan,” kata Taswin, kepada KONTAN, Jumat (15/1).

Misalnya, bank asal Malaysia ini akan memangkas suku bunga kredit untuk konsumsi karena perusahaan ingin menggenjot pertumbuhan kredit di sektor ini. Namun, ia belum dapat menyampaikan secara detail sektor kredit konsumsi apa yang akan memperoleh penurunan bunga karena perlu memperhitungkan kondisi likuiditas kedepan.

JAKARTA kontan. Banyak jalan ke Roma, pun banyak cara perbankan memoles kinerja.  Yang terbaru, Otoritas Jasa  Keuangan (OJK) memberi lampu hijau pada perbankan untuk membentuk aset manajemen unit (AMU).

Tugas AMU mirip Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) tapi dalam skala kecil. AMU bertugas menampung dan mengelola kredit bermasalah atau non performimg loan (NPL) bank.

Bank boleh menjual dan mentransfer kredit macet ke AMU. Unit ini selanjutnya membereskan kredit macet, menagih kewajiban debitur,  hingga menjual hak tagih tersebut ke pihak lain.

Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, berkeyakinan, AMU meringankan tugas bank mengurus NPL sehingga bisa fokus ekspansi kredit.

“Ini bisa menurunkan NPL sampai 50% dan bank mendapatkan likuiditas dari penjualan aset bermasalah,” kata Irwan Lubis, Deputi Dewan Komisioner Bidang Perbankan OJK.

Bahkan pasca transfer NPL, neraca keuangan bank otomatis lebih bersih. Selain bebas dari kredit bermasalah, pos laba bank dipastikan terdongkrak karena beban pencadangan kerugian bakal susut.

Tak heran, bank berlomba-lomba memiliki AMU. “Beberapa bank berminat,” kata Nelson, kemarin.

Sejauh ini, OJK baru mengizinkan Bank J-Trust Indonesia dan Bank CIMB Niaga untuk membentuk AMU.

Menurut Direktur Utama Bank J Trust Indonesia Ahmad Fajar, bank ini sudah mentransfer NPL senilai Rp 800 miliar ke PT JTrust Investments Indonesia (JTII).

“Diharapkan NPL turun drastis menjadi 2,9% ,” ujar Ahmad kepada KONTAN.

Bank CIMB Niaga juga sudah memanfaatkan fasilitas ini dengan mengalihkan aset bermasalah senilai US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,76 triliun.

“Unit itu dipegang oleh grup. Kami tidak ada saham di situ,” kata  Wan Razly, Direktur Keuangan Bank CIMB Niaga.

Per September 2015, NPL gross CIMB Niaga turun menjadi 3,17% dari 4,28%.

Di luar dua bank tadi, Maybank Indonesia juga melirik  peluang pembentukan AMU.

“Kami sedang berkoordinasi dengan induk Maybank Group Malaysia,” ungkap Taswin Zakaria, Direktur Utama Maybank Indonesia.

Per September 2015, NPL gross Maybank Indonesia tercatat 4,21%.

Pengamat pasar keuangan Budi Frensidy menilai, praktik ini rentan moral hazard, utamanya dalam penentuan harga transfer NPL. AMU terafiliasi dengan bank sehingga  harga penjualan berpotensi hanya menguntungkan bank.

“Jadi tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya. OJK harus mengatur lebih jelas,” tandas Budi.

Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, menampik bakal terjadinya penyimpangan.

“Sudah biasa kredit dijual, seperti KPR. Kalau transaksinya abal-abal ya kami periksa. Transaksi harus mendapat persetujuan OJK, tidak sembarangan,” ujar dia. Lagi pula, OJK mensyaratkan bank hanya boleh memiliki saham maksimal 20% dan bukan pengendali di aset manajemen unit.

Lihat infografik selengkapnya di halaman 1 Kontan edisi Jumat, 4 Desember 2015. (Untuk melihat Kontan edisi digital (e-paper), klik di sini)  

JAKARTA okezone PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memposisikan diri untuk mendorong penyaluran kredit atau consumer landing. Tahun depan diperkirakan pertumbuhan kredit BRI bisa mencapai 15-17 persen.Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengatakan tahun ini kondisi perekonomian sedang tidak stabil. Namun BRI berhasil memperoleh pertumbuhan kredit sebesar 11,8 persen, naik dari Rp464,2 triliun menjadi Rp518,9 triliun.

“Ya mudah-mudahan kondisi (ekonomi) kita ini kan sudah mulai membaik. Rupiah juga mulai stabil dan saham juga mulai naik, diharapkan tahun depan mungkin bisa balik target semula di 15-17 persen,” tuturnya di Kawasan Berikat Nusantara, Jakarta, Jumat (23/10/2015).

Asmawi mengatakan, dengan pertumbuhan kredit yang meningkat, emiten berkode BBRI ini akan lebih giat dalam penghimpunan dana murah yang diandalkan bukan hanya dari Dana Pihak Ketiga (DPK) saja. Tercatat pada kuartal III-2015 DPK BRI sudah mencapai Rp611,3 triliun, meningkat 12,3 persen.

“DPK kami ini karena kemarin kami mencari dana murah CASA (Current Account Saving Account). Karena perlambatan ekonomi kemarin ini dana mahal kita lepas dulu. Tapi kalau nanti pertumbuhan kreditnya naik lagi, tentunya kita akan mencari sumber pendanaan lagi. Apalagi kan sumber pendanaan tidak hanya dari DPK, dari fund lain,” pungkasnya.

Sekadar catatan, dari total penyaluran kredit BRI sebesar Rp518,9 triliun, porsi terbesar untuk sektor mikro dengan kontribusi sebesar 32,8 persen. Tingkat kredit macet ataunon performing loan (NPL) nett BRI juga berkurang menjadi 0,2 persen dan NPL gross sebesar 2,2 persen.

(rzk)

Wakil Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan, pertumbuhan kredit ini terjadi di seluruh segmen kredit,terutama kredit mikro yang bertumbuh sebesar 14,7% ke angka Rp 170,2 triliun, termasuk kredit usaha rakyat (KUR) yang kendati baru diluncurkan pada Agustus 2015, namun sampai kuartal III-2015 tercatat sudah mencapai Rp 3,1 triliun. “Kalau terhitung sampai saat ini, sudah mencapai Rp 5 triliun,” ujar dia.

 

Pertumbuhan yang tinggi di segmen mikro ini diikuti pula oleh segmen yang lainnya. Di segmen korporasi misalnya, segmen kredit yang berkontribusi 12,72% terhadap total kredit ini, bertumbuh dari Rp 52,9 triliun pada kuartal III-2014 menjadi Rp 65,99 triliun pada kuartal III-2015.

 

Selanjutnya, kredit untuk segmen ritel. Kredit yang berkontribusi 36,52% ini meningkat menjadi Rp 189,5 triliun, sebelumnya pada kuartal III-2014 hanya tercatat Rp 170,43 triliun. Sedangkan untuk kredit segmen menengah dan BUMN, masing-masing mencapai Rp 19,5 triliun dan Rp 73,74 triliun.

 

Di balik pertumbuhan kredit yang meningkat ini, kualitas kredit menjadi lebih rendah karena kondisi perlambatan ekonomi nasional. Begitu pula di BRI, sampai kuartal III-2015, NPL gross tercatat naik ke angka 2,24%, setelah sebelumnya pada kuar tal III-2014 sebesar 1,89%.

 

Namun berkat pencadangan yang dilakukan perseroan, NPL nett perseroan tercatat hanya 0,6% pada kuartal III-2015, naik tipis dibandingkan kuartal III-2014 yang sebesar 0,46%.

 

Dari sisi pendanaan, BRI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang signifikan sebesar 12,3% ke angka Rp 611,3 riliun. Dilihat dari komposisi pendanaan, perseroan mencatat komposisi CASA mencapai 56,2%. Pertumbuhan CASA ini mencapai 18,3%. Sementara itu, untuk deposito, pertumbuhannya hanya sebesar 5,5% dengan komposisi 43,8%. “Pertumbuhan CASA ini ditopang oleh pertumbuhan giro nasabah korporasi,” ujar Sunarso.

 

Peningkatan CASA ini, lanjut Sunarso, menyebabkan penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) dari 4,3% menjadi 4,2%. Dampak dari penurunan laba ini, menurut dia, juga menjadi penyebab pertumbuhan laba BRI hanya sebesar 1,4%. (ID/gor)

 

http://id.beritasatu.com/moneyandbanking/pertumbuhan-kredit-bri-terjadi-di-seluruh-segmen/130513
Sumber : INVESTOR DAILY

JAKARTA. Lembaga pembiayaan asal Negeri Sakura, Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) membentuk kemitraan untuk memberikan fasilitas pinjaman dua tahap kepada PT Japan Indonesia Economic Center (JIAEC).

Skema kemitraan ini yakni, sumber pendanaan dari JICA melalui program Private Sector Investment Finance, kemudian BII menyediakan pinjaman berjangka sebesar ¥ 80 juta kepada PT JIAEC dengan dengan jangka waktu selama 10 tahun.

Adapun, PT JIAEC akan menggunakan pinjaman ini untuk membiayai pembangunan gedung pusat pelatihan yang berada di Depok Jawa Barat. “Penyediaan fasilitas pinjaman ini untuk penyediaan akses kepada generasi muda bangsa,” kata Jenny Wiriyanto, Direktur Business Banking BII, Jumat (12/6).

Lanjutnya, BII akan terus melayani komunitas internasional, termasuk komunitas warga Jepang yang mengembangkan bisnis di Indonesia, dengan membentuk unit International Strategic Business (ISB) Japan Desk, yang menyediakan layanan perbankan mulai dari konsumer hingga korporasi.

Informasi saja, PT JIAEC bergerak di bidang pelatihan tenaga kerja dan agen bagi tenaga kerja non-terampil (umumnya lulusan sekolah teknik menengah) yang akan dilatih di Jepang sebagai tenaga pelatihan, dimana sebagian besar akan bekerja di beberapa pabrik di Jepang.

 

Editor: Sanny Cicilia

INILAHCOM,Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melaporkan realisasi penyaluran kredit sebanyak Rp472,9 triliun sepanjang kuartal pertama 2015.Wakil Direktur Utama BBRI, Sunaso mengatakan penyaluran kredit didominasi segmen mikro. “Segmen mikro masih mendominasi dengan pertumbuhan sebesar 19,9 persen menjadi Rp157,5 triliun,” ujarnya di Jakarta, Kamis (30/4/2015).

Ia mengatakan, penyaluran kredit berdasarkan jumlah nasabah yang naik dari 6,7 juta orang triwulan pertama 2014 menjadi 7,4 juta orang.

“Pertumbuhan kredit di awal tahun ini dibarengi dengan posisi neraca yang likuid, dimana rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) tercatat sebesar 80,5 persen di akhir Maret 2015. Pada kuartal I-2015, kualitas aset perseroan tetap terjaga dengan baik, terlihat pada rasio kredit bermasalah (NPL) netto sebesar 0,6 persen dan gross sebesar 22 persen,” papar dia.

Ia mengatakan, posisi permodalan yang solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 20,1 persen pada Maret 2015, bila dibandingkan 18,2 persen pada kuartal I-2014. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan berhasil tumbuh 25,04 persen menjdi Rp587,7 triliun di akhir Maret 2015, dari posisi DPK sebesar Rp470 triliun di kuartal I-2014.

“Dari Total DPK, current account & saving account (CASA) atau dana murah BRI juga mengalami pertumbuhan dengan presentase sebesar 12,2 persen atau lebih tinggi jika dibandingkan rata-rata pertumbuhan CASA industri perbankan nasional yang mencapai 6,3 persen per Februari 2015,” katanya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2200457/kuartal-i-2015-bri-kucurkan-kredit-rp4729-t#sthash.qmulAFJN.dpuf

 

JAKARTA kontan. Ekonomi yang melambat mulai berimbas ke kinerja perbankan. Beberapa bank besar membukukan perlambatan laba di kuartal pertama tahun ini.

Ambil contoh, Bank Mandiri. Pada kuartal pertama tahun ini, bank beraset terbesar itu hanya mampu mencetak pertumbuhan laba 4,3% menjadi Rp 5,1 triliun, dari periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp 4,9 triliun. Sebagai perbandingan, pada tiga bulan pertama tahun lalu, Bank Mandiri masih bisa mencetak kenaikan laba sebesar 14,5%.

Laba Bank Mandiri melambat lantaran rasio kredit bermasalah alias non performing loan  (NPL) meningkat sebanyak 200 basis poin menjadi 0,89%.  Ini membuat Bank Mandiri menyiapkan provisi alias pencadangan sebesar Rp 1,5  triliun, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 1,2 triliun.

Saat bersamaan, cost of fund Bank Mandiri meningkat 35,3% menjadi Rp 6,85 triliun. Akibatnya, “Net interest margin (NIM) kami tergerus 0,3% menjadi 5,62%,” ujar Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri, Jumat (24/4).

Padahal, dari sisi pendapatan, Bank Mandiri masih mencatatkan pertumbuhan lumayan. Di kuartal satu lalu, pendapatan bunga Bank Mandiri naik 19,6% menjadi Rp 17,12 triliun. Pendapatan fee based income pun mekar 9,9% menjadi Rp 3,87 triliun. Begitu pula penyaluran kredit Bank Mandiri masih bertumbuh 13,3% menjadi Rp 532,8 triliun.

Sebelumnya, Bank Danamon juga tertekan di awal-awal tahun ini. Laba bank milik  Temasek  itu  turun  21% menjadi Rp 687 miliar pada kuartal satu 2015.

Bank CIMB Niaga lebih apes. Bank ini membukukan penurunan laba hingga 43,91% menjadi Rp  83 miliar. Sama seperti Bank Mandiri, CIMB harus menyisihkan provisi lebih besar, yakni Rp 7,37 triliun atau naik 80,6%.

Penyebabnya tak lain adalah rasio NPL gross yang membengkak dari 2,57% menjadi 4,07%. Nasib baik masih berpihak pada Bank Negara Indonesia (BNI). Di kuartal I 2015, laba bersih BNI naik 17,7% menjadi Rp 2,82 triliun. Periode sama tahun lalu, laba BNI tumbuh 15,46%.

Tekanan juga dialami Bank Internasional Indonesia (BII) lantaran penyaluran kredit masih seret. Taswin Zakaria, Presiden Direktur BII menyatakan, kucuran kredit BII selama kuartal I 2015 hanya tumbuh di bawah 11%.

Editor: Hendra Gunawan

NERACA

Jakarta – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama bridging loan facility dengan prinsip musyarakah (Syariah) bersama BII-Maybank senilai US$ 100 juta atau Rp1,3 triliun (Rp13.000/US$). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (24/3).

Disebutkan, kerja sama pembiayaan tersebut dilaksanakan dengan jangka waktu pendanaan selama satu tahun dalam bentuk pembiayaan talangan (bridging loan facility) berkaitan dengan rencana pendanaan dan pengembangan perusahaan ke depan melalui penerbitan obligasi sukuk international sebesar US$ 500 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia M. Arif Wibowo mengatakan, kerja sama ini merupakan bentuk kepercayaan mitra perusahaan terhadap perseroan, yang sejalan dengan membaiknya kinerja GIAA sepanjang awal 2015,”Peningkatan tersebut tidak terlepas dari keberhasilan Garuda melaksanakan program Quantum Leap yang menjadikan Garuda sebagai global player dengan predikat Maskapai Bintang Lima (5-Star Airline), menempati peringkat ketujuh airline dunia, serta menjadi anggota aliansi global SkyTeam,” kata Arif.

Berbagai pencapaian Garuda dalam 10 tahun terakhir tersebut menjadi pondasi utama bagi pengembangan perusahaan ke depannya untuk dapat bersaing di level international, khususnya di tengah kondisi perekonomian global yang semakin cepat berubah, iklim industri yang semakin kompetitif, dan siklus bisnis yang semakin pendek.

Sementara Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Ari Askhara Danadiputra menambahkan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari strategi Quick Wins Garuda untuk menunjang rencana pembiayaan perusahaan ke depan, yaitu financial reprofiling sambil menunggu momentum yang tepat bagi perseroan untuk menerbitkan global sukuk bond,”Garuda melaksanakan strategi jangka pendek Quick Wins untuk rebound di tahun 2015 di tengah kondisi industri penerbangan bukan saja domestik, namun juga global yang dewasa ini sedang mengalami turbulensi,” paparnya.

Kerja sama antara Garuda dengan BII-Maybank telah terjalin cukup baik dalam berbagai bidang, antara lain fasilitas sindikasi, fasilitas pinjaman bilateral, dan transaksi pertukaran mata uang asing. Sebelumnya, BII-Maybank juga memberikan fasilitas pembiayaan sebesar US$ 100 juta pada tahun 2014 untuk program pengembangan bisnis dan operasional Garuda.

Selain itu, pemegang saham utama BII-Maybank, Malayan Banking (Maybank) Berhad, akan turut berpartisipasi dalam rencana penerbitan obligasi sukuk internasional sebesar US$ 500 juta melalui perusahaan terafiliasinya di Malaysia, yaitu Maybank Investment Bank Berhad, yang nantinya akan bertindak sebagai joint lead managers & joint bookrunners. (bani)

 

http://www.neraca.co.id/article/51938/Garuda-Kantungi-Pinjaman-Rp-13-Triliun
Sumber : NERACA.CO.ID

 

Kredit Konsolidasi BII Kuartal I-2011 Tumbuh 41%
Sabtu, 30 April 2011 | 23:26
Dirut PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Ridha Wirakusumah (tengah) saat bersama Komisaris BII Putu Antara (kiri), dan Direktur Perbankan Konsumer BII Stephen Liestyo (kanan) memberi angpao kepada barongsai di sela BII Customer Gathering di Jakarta, Februari lalu. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA Dirut PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Ridha Wirakusumah (tengah) saat bersama Komisaris BII Putu Antara (kiri), dan Direktur Perbankan Konsumer BII Stephen Liestyo (kanan) memberi angpao kepada barongsai di sela BII Customer Gathering di Jakarta, Februari lalu. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Berita Terkait

Garuda-BII Kerjasama Pembayaran Tiket

HUT ke-2 Tabungan Woman One, BII Bagi Hadiah

Bisnis Inti Menguat, BII Kembali Cetak Laba

BII Buka Platinum Access untuk Kemudahan Nasabah

JAKARTA- PT Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk kuartal pertama 2011 mencatat pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 41% dibandingkan kuartal pertama 2010, jauh melampaui pertumbuhan industri sebesar 24%.

Direktur utama dan CEO BII Ridha Wirakusumah kepada pers di Jakarta, Sabtu mengatakan, total portofolio kredit naik menjadi Rp56,7 triliun dari Rp40,3 triliun pada periode sama 2010.

Kredit Korporasi memberikan kontribusi pertumbuhan tertinggi sebesar 48%, diikuti kredit konsumer dan kredit usaha kecil dan mikro & Komersial yang masing?masing tumbuh sebesar 39% dan 38%.

“Kredit Korporasi memberikan kontribusi sebesar 23% terhadap total kredit, sedangkan Kredit UKM & Komersial dan Kredit Konsumer memberikan kontribusi masing-masing 36% dan 41%,” ujarnya.

Ridha Wirakusumah mengatakan, BII dapat meraih kembali momentum pertumbuhan. Investasi melalui ekspansi jaringan, infrastruktur Teknologi Informasi (TI) dan juga human capital telah membangun landasan yang kokoh bagi BII untuk fokus pada pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

“Proses penerbitan obligasi subordinasi sebesar Rp600 miliar akan meningkatkan kemampuan pendanaan dan memberikan tambahan modal untuk ekspansi operasional yang lebih besar,” tuturnya.

Total simpanan nasabah naik sebesar 29% menjadi Rp60,2 triliun dari Rp46,6 triliun . Giro tumbuh 35% menjadi Rp10,6 triliun, Tabungan naik sebesar 21% menjadi Rp14 triliun dan Deposito naik sebesar 31% menjadi Rp35,5 triliun dari Rp27,2 triliun.

Ridha mengatakan, BII akan melanjutkan upaya untuk memperbaiki komposisi pendanaan dengan menawarkan progam loyalitas yang inovatif dan program pemasaran untuk produk tabungan. Loan to deposit ratio (LDR) sebesar 93,75%.

Chairman Maybank dan Presiden Komisaris BII, Tan Sri Megat Zaharuddin Megat Mohd Nor mengatakan bahwa bank telah berada pada jalur pertumbuhan yang benar dengan rencana ekspansinya yang agresif yang berjalan dengan baik.

“Kami sangat senang dengan pertumbuhan bisnis yang terus menguat pada kuartal pertama, hal ini menunjukkan fundamental yang kuat yang akan memberikan hasil dalam upaya kita meningkatkan pangsa pasar,” katanya.

Menurut dia, kekuatan dan kemampuan perbankan syariah BII akan terus dipadukan dalam bisnis dan ia optimistis akan potensi kinerja yang lebih baik pada kuartal mendatang. (gor/ant)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s