bbri G4L1 utanK … baru: 010413_260615_121016

JAKARTA bisnis.com — Dengan asumsi empat BUMN bakal merealisasikan rencananya pada kuartal IV/2016, jumlah penerbitan obligasi oleh BUMN sepanjang tahun ini akan melampaui jumlah penerbitan obligasi BUMN sepanjang 2014-2015.

Sejauh ini, empat BUMN berencana menerbitkan obligasi senilai total Rp12,5 triliun pada kuartal terakhir 2016. Mereka antara lain PT Hutama Karya (Persero) dengan rencana penerbitan obligasi Rp1 triliun, PT Angkasa Pura I (Persero) Rp3 triliun, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Rp1,5 triliun, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Rp7 triliun.

Dengan tambahan Rp12,5 triliun tersebut, jumlah obligasi perusahaan pelat merah di bawah koordinasi Kementerian BUMN sepanjang 2016 berpotensi dapat mencapai Rp35,4 triliun, setelah enam BUMN menerbitkan obligasi senilai total Rp22,9 triliun sepanjang Januari-September 2016.

Sepanjang dua tahun sebelumnya, jumlah total penerbitan obligasi oleh BUMN (tidak termasuk BUMN di bawah Kementerian Keuangan) mencapai Rp26,45 triliun yang terdiri dari Rp19,5 triliun pada 2015 dan Rp5,15 triliun pada 2014.

Sejauh ini, PNM telah mulai menawarkan obligasinya pada awal bulan ini. BUMN lainnya, Hutama Karya, telah mengantongi izin dari Kementerian BUMN untuk menerbitkan obligasi dengan kupon maksimal 8,75%.

Selain itu, apabila BRI merealisasikan rencana penerbitan obligasi itu, bank nasional berlaba terbesar itu akan menjadi BUMN penerbit obligasi dengan nominal terbesar hingga Rp16 triliun sepanjang 2016.

Pada kuartal I dan kuartal II, BRI telah menerbitkan obligasi masing-masing senilai Rp4,65 triliun dan Rp4,35 triliun, sebagai bagian dari upaya perseroan mendapatkan sumber pendanaan alternatif selain dari dana pihak ketiga.

Bank BUMN lainnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., juga telah menerbitkan obligasi bernilai besar masing-masing senilai Rp5 triliun dan Rp3 triliun pada kuartal III/2016.

Head of Fixed Income PT Manulife Asset Manajemen Ezra Nazula mengatakan permintaan terhadap obligasi korporasi, termasuk BUMN, relatif tinggi di tengah penurunan suku bunga perbankan.

Seperti diketahui, bank sentral menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5% (setelah sempat mencapai 5,5% pada April 2016) dengan suku bunga deposit facilityturun 25 bps menjadi 4,25% pada September lalu.

Investor mencari instrumen investasi dengan imbal hasil yang lebih menarik daripada instrumen seperti deposito. Sejauh ini, ujar Ezra, situasi penerbitan obligasi korporasi masih relatif kondusif.

Demand-nya cukup bagus. Dari nama-nama BUMN yang issue bond, rating-nya juga bagus, investor cukup yakin. Obligasi yang di-issue oleh BUMN juga biasanya selalu oversubscribed,” kata Ezra ketika dihubungi pekan lalu.

 

EKSPANSI

 

Akuntino Mandhany, analis PT BNI Asset Management, memperkirakan sejumlah BUMN tengah bersiap menghadapi situasi perekonomian yang hendak pulih. Oleh karena itu, sejumlah BUMN menerbitkan obligasi sebagai bagian dari peningkatan belanja modal.

Menurutnya, obligasi BUMN masih tetap menarik di mata investor karena pemilik dana menganggap BUMN bakal mendapatkan dukungan dari pemerintah. “Kalau proyeknya enggak jalan, pemerintah biasanya bisa ambil alih,” katanya ketika dihubungi.

Di samping itu, Akuntino menambahkan obligasi bisa menjadi salah satu instrumen investasi alternatif dengan risiko lebih rendah daripada saham. Pada saat ini, ujarnya, peningkatan harga saham sejumlah emiten relatif cukup kencang.

Di sisi lain, kinerja sejumlah emiten itu belum begitu bagus. Salah satu kekhawatirannya adalah risiko volatilitas saham ketika emiten mengumumkan kinerja keuangan kuartal III/2016. “Investor bisa kecewa lalu melepas sahamnya,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan nilai obligasi yang diterbitkan tersebut lebih rendah dari rencana awal karena BRI ingin menjaga likuiditas dan harga obligasi.

“Jadi potongan yang pas. Titik temu yang pas mungkin kira-kira kami turunkan sedikit supaya harga tetap bisa murah,” katanya ketika ditemui di Gedung Kementerian BUMN.

Obligasi Rp7 triliun itu akan diterbitkan dalam 4 seri yang terdiri dari seri bertenor 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun dan 7 tahun. Menurutnya, obligasi tersebut merupakan bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi senilai Rp20 triliun yang diterbitkan pada akhir 2016 dan 2017.

Haru mengatakan BRI mengantongi izin penerbitan obligasi sampai 2017. “Kami sudah menggunakan buku audited Juni, jadi masih bisa pakai sampai dengan Desember ya. Setelah Desember, tahun 2017 kami pakai audited 2016,” paparnya.

ets-small

JAKARTA kontan. Ingin sumber dana dengan tenggat longgar, emiten keuangan pun mencari pendanaan dalam bentuk surat utang. Dalam waktu yang berdekatan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) akan menerbitkan surat utang bernilai Rp 4,47 triliun.

Rencananya, BBRI akan mengeluarkan obligasi berkelanjutan I sebesar Rp 12 triliun. Untuk tahap pertamanya, nilai pokok penerbitan obligasi bank pelat merah tersebut adalah Rp 3 triliun.

Obligasi ini memiliki 3 seri. Nah, seri A memiliki jumlah pokok Rp 655 miliar dengan bunga 8,4% dan jangka waktu 370 hari. Lalu pokok yang ditawarkan untuk seri B adalah Rp 925 miliar dengan bunga 9,2% dan tenor 3 tahun. Terakhir, seri C bernilai Rp 1,42 triliun dengan bunga 9,5% dan tenor 5 tahun.

“Ini merupakan sumber dana alternatif. Karena tenornya lebih panjang ketimbang Dana Pihak Ketiga (DPK),” sebut Direktur Keuangan BBRI Haru Koesmahargyo, kepada KONTAN, Jumat, (26/6).

Kemudian, ADMF akan mengeluarkan penerbitan surat utang bernilai Rp 9 triliun. Rinciannya yakni obligasi berkelanjutan III sebesar Rp 8 triliun dan sukuk mudharabah berkelanjutan II senilai Rp 1 triliun.

Pada tahap pertama, emiten pembiayaan anak usaha PT Bank Danamon Tbk (BDMN) ini akan mengeluarkan Rp 979 miliar. Rinciannya, obligasi seri A bernilai Rp 741 miliar dengan bunga 9,5% dan tenor 3 tahun. Lalu obligasi seri B yaitu Rp 238 miliar dengan bunga 10,25% dan tenor 5 tahun.

Kemudian, tahap pertama sukuk bernilai Rp 500 miliar. Sukuk seri A yaitu Rp 441 miliar dengan nisbah 72,917% dari pendapatan atau ekuivalen bagi hasil 8,75%. Tenor sukuk seri A adalah 370 hari. Kemudian, sukuk seri B memiliki nilai Rp 59 miliar. Nisbahnya 79,167% dari pendapatan dengan bagi hasil 9,5%. Sukuk seri B ini bertenor 3 tahun.

Surat utang BBRI dan ADMF mendapat peringkat cukup oke. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melabelkan AAA kepada keduanya.

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai bahwa BBRI dan ADMF menyiapkan pendanaan agar ketika kredit meningkat, mereka telah siap mengucurkan. Lebih lanjut, ia mencermati adanya kemungkinan BBRI menerbitkan obligasi karena akan mengucurkan kredit dalam jumlah besar. Sementara posisi likuiditasnya saat ini tak lagi mencukupi sebagai sumber dana kredit tersebut.

“Ada kecenderungan untuk kredit infrastruktur. Maka butuh pendanaan besar dalam jangka panjang,” ucapnya.

Kiswoyo memandang prospek positif BBRI. Sedangkan menurutnya, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) yang digelontorkan ADMF rawan kredit macet. Ia menyarankan hold ADMF dengan target harga Rp 5.000 dan merekomendasikan beli BBRI dengan target harga Rp 14.500.

Editor: Hendra Gunawan
bird_bbri_unvr

JAKARTA kontan. Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan penyaluran kredit, Bank Rakyat Indonesia (BRI) siap untuk menerbitkan obligasi senilai Rp 12 triliun mulai tahun 2016 mendatang. Obligasi tersebut akan diterbitkan secara bertahap hingga 3 tahun atau sampai tahun 2019.

Menurut Haru Kusmahargyo, Direktur BRI, obligasi tersebut akan berdenominasi rupiah dan merupakan obligasi senior. “Jadi, ini obligasi berkelanjutan. Akan diterbitkan secara bertahap mulai dari tahun 2016,” terang Haru, Kamis (19/3).

Haru menyebut, kemungkinan besar porsi obligasi tersebut akan dibagi rata setiap tahunnya. Artinya, BRI bisa menerbitkan obligasi sebesar Rp 4 triliun per tahun.

Selain untuk kebutuhan kredit, Haru juga bilang, penerbitan obligasi juga merupakan bagian dari diversifikasi liablities BRI. Tidak hanya itu, lanjut Haru, langkah itu pun merupakan bagian dari upaya BRI untuk memperdalam pasar keuangan.

Sebenarnya, rencana obligasi BRI akan dilakukan tahun ini. Cuma, Haru menuturkan, “Tahun ini, kebutuhan pendanaan belum terlalu tinggi. Apalagi, loan to deposit ratio (LDR) kami masih rendah.”

Sejalan dengan rencana penerbitan obligasi itu, Haru memprediksi, pertumbuhan rata-rata kredit BRI mulai 2016 hingga 2019 akan berada pada kisaran 15%. BRI sendiri akan tetap fokus untuk menyalurkan kredit ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

 

Editor: Hendra Gunawan

lol

Obligasi Global BRI Oversubscribed 5,3 Kali
Minggu, 31 Maret 2013 | 22:34
investor daily

JAKARTA – Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyatakan, penerbitkan obligasi global senilai 500 juta dolar AS jangka waktu lima tahun mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 5,3 kali.

“Obligasi global yang diterbitkan 28 Maret 2013 itu memiliki fixed rate coupon sebesar 2,950 persen dan akan jatuh tempo 28 Maret 2018,” kata Sekertaris Perusahaan BRI Muhamad Ali dalam siaran pers di Jakarta, Minggu.

Ia menambahkan obligasi itu merupakan penawaran Senior Unsecured Bonds dengan mata uang dolar AS pertama yang dikeluarkan BRI di pasar obligasi internasional.

Pihaknya meyakini kupon dan yield untuk Obligasi BRI itu merupakan yang terendah di antara semua obligasi dalam mata uang dolar AS yang telah diterbitkan oleh perusahaan Indonesia di pasar obligasi internasional. “Hal itu mencerminkan fundamental keuangan BRI yang kuat,” katanya.

Penawaran Obligasi itu, kata dia, diberikan kepada investor-investor institusional maupun investor-investor private banking.

Ia menambahkan, selama masa penawaran, BRI telah menerima pesanan dari 165 investor dengan nilai yang mencapai 2,65 Miliar dolar AS atau terdapat kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 5,3 kali. Obligasi itu dapat ditawarkan dengan imbal hasil 3,125 persen atau 25 basis poin dibawah panduan penawaran harga awal.

Disebutkan BRI akan menggunakan dana bersih yang dihasilkan untuk keperluan pendanaan umum serta memperkuat struktur pendanaan BRI.

Obligasi BRI itu memperoleh peringkat “Baa3” dari Moody’s dan BBB- dari Fitch serta akan dicatatkan di Bursa Efek Singapura pada tanggal 2 April 2013.

BRI menunjuk Citigroup Global Markets Limited dan Standard Chartered Bank sebagai Joint Bookrunners dan PT Bahana Securities sebagai co-manager untuk menangani Penawaran obligasi tersebut. (Investor Daily/tk/ant)

dollar small

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s