BI RATE (no more): “TURUN” itu PENGUAT PERTUMBUHAN EKONOMI TINGGI (jad1 lah PAHLAWAN, bank ku Indonesia)

TURUNken BI RATE SKARANG juga, YANG KURANG BERPENGALAMAN MONETER SEBAEKNYA NURUT DENGAN YANG SUPER SENIOR DI BANK SENTRAL2 GLOBAL lah

AYO BANTU RAKYAT dengan PENGURANGAN BEBAN BIAYA, BI RATE AMAT STRATEGIS DALAM EKONOMI KITA, jangan ANGGAP REMEH imbasnya

BI RATE TINGGI, berarti BEBAN DANA PERBANKAN TINGGI, berarti BEBAN BIAYA DANA INDUSTRI n BISNIS kita TINGGI, amat membebani daya angkat pertumbuhan ekonomi kita

ALASAN RUPIAH LEMAH TIDAK FUNDAMENTAL kok, JUSTRU YANG PALING AZASI: PDB kita yang MELAMBAT

OJK emang TUNTUTAN KONSTITUSI, EMANG MEMBATASI BI, tapi OJK BANTU PEMERINTAH, sewajarnya BI JUGA BANTU lah

GEJALA GLOBAL: disinflasi dan deflasi, ARTINYA TIDAK ADA MANFAATNYA (malah gede mudharatnya) BI RATE TINGGI

bank sentral sebaeknya berfungsi SECARA MAKSIMAL DALAM KONDISI KRUSIAL, yaitu MENDORONG PEREKONOMIAN MENJADI LEBE SEHAT, bukan malah MEMBEBANI PERBANKAN n RAKYAT LEWAT KEBIJAKAN ANTI-INFLASI yang KELIRU BESAR SAAT DISINFLASI, DEFLASI n PERLAMBATAN PERTUMBUHAN EKONOMI YANG SEDANG TERJADI 

Indonesia Economy Slows to 3.21% QoQ in Q3

Indonesia’s GDP expanded by 3.21 percent in the third quarter of 2015, slowing from a 3.78 percent growth in the previous three months and below market expectations. A faster increase in private consumption and investment were unable to offset a significant slowdown in government spending and a slightly fall in exports.

On the expenditure side,
private consumption grew 3.66 percent, accelerating from a 1.10 percent expansion in the preceding quarter.
Government spending rose 9.27 percent, slowing from a 32.05 percent expansion in the June quarter.
Private non-profit spending also grew by 3.64 percent, after registering a 2.39 percent rise in the previos three months.
Investment expanded by 3.38 percent, accelerating from a 3.10 percent.
Exports slightly fell by 0.02 percent from a 1.79 percent growth
Imports also dropped by 4.40 percent from a 1.04 percent increase in the preceding quarter
On the production side, expansion were seen for:
agriculture and forestry sector (+5.09 percent),
mining and quarrying (+1.90 percent),
manufacturing (+0.54 percent),
water and waste management (+2.81 percent),
construction (+4.88 percent),
wholesale and retail trading (+1.38 percent),
transport and warehouse (+3.69 percent),
accommodation and good & beverages (+1.57 percent),
information and communication (+3.15 percent),
finance & insurance (+7.03 percent),
real estate (+1.21 percent),
education (+1.95 percent),
health and social services (+3.76 percent) and
other services (+2.14 percent).
In contrast,
electricity and gas contracted by 0.85 percent.

Year-on-year, the economy advanced by 4.73 percent, following a 4.67 percent growth in the second quarter of 2015.

Statistics Indonesia l Rida Husna | rida@tradingeconomics.com

INILAHCOM, Denpasar – Bank Indonesia menyatakan bahwa penurunan suku bunga kredit dari beberapa perbankan dinilai akan menggairahkan kembali sektor ekonomi setelah bank sentral itu menurunkan suku bunga acuan menjadi 6,75 persen.

“Penurunan itu melengkapi apa yang kami proyeksikan pertumbuhan ekonomi ke depan karena dengan murahnya biaya, barangkali banyak usaha menggeliat dan tumbuh,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Dewi Setyowati ditemui usai penukaran uang logam di Renon, Denpasar, Minggu (17/4/2016).

Menurut dia, dengan penurunan suku bunga kredit perbankan itu merupakan saat yang tepat memacu pertumbuhan ekonomi di Bali.

Ia bahkan optimistis proyeksi pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata yang mencapai 6,89 persen tahun 2016 bisa tercapai.

“Apalagi didukung harga bahan bakar minyak yang turun. Ini saatnya kami pacu pertumbuhan ekonomi dari tahun 2015 sempat lesu,” imbuhnya.

Sebelumnya BI sebanyak tiga kali berturut-turut menurunkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin hingga menyentuh angka 6,75 persen.

Beberapa bank khususnya bank BUMN kemudian mengikuti penurunan itu dengan menurunkan suku bunga kredit.

BNI misalnya menurunkan suku bunga kredit menjadi 9,95 persen bagi yang berjenis kredit kecil yang bernilai sampai dengan Rp5 miliar.

Dewi menambahkan Bank Mandiri juga menurunkan suku bunga kredit untuk perumahan mencapai sembilan persen selama dua tahun.

Untuk itu, ia optimistis penurunan suku bunga kredit dua bank itu akan diikuti oleh bank lainnya. “Karena satu dua bank (suku bunga kredit) turun, maka akan diikuti bank lain,” katanya. [tar]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2288900/bi-suku-bunga-bank-turun-ekonomi-gairah#sthash.6Mj76x3n.dpuf

Bisnis.com, JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa Bank Indonesia merupakan bagian dari negara yang dipimpin oleh Presiden dengan tujuan sama mencapai masyarakat Indonesia adil dan makmur.

Oleh karena itu JK menyebut hubungan BI dengan pemerintah adalah independen dengan musyawarah. Hal ini dikatakan JK mengacu pada UU Bank Indonesia yang sudah direvisi yakni UU No 3 Tahun 2004 pada pasal 7 bahwa dalam pelaksanaan kebijakan BI yakni kebijakan moneter harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.

Di lain pihak dijelaskan pemerintah wajib meminta pandangan BI dalam menjalankan kebijakannya dan wajib mengundang BI hadir dalam sidang kabinet.

“Jadi hubungannya luar biasa. Satu wajib mendengarkan pemerintah, satu wajib mengundang BI ke sidang kabinet. Sehingga yang dimaksud independen ialah independen dengan musyawarah, tidak lepas, begitu isi UU,” ujar JK dalam sambutan acara “Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2015” di JCC, Selasa (24/11/2015).

Dijelaskan Wapres bahwa ukuran keberhasilan antara BI dengan pemerintah berbeda. BI selalu mengukur keberhasilan dalam mengukur nilai tukar dan inflasi tetapi pemerintah mengukur keberhasilannya dalam pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

“Bagaimana menyeimbangkan dua hal ini. Stabilitas makro dan inflasi pada saat yang sama harus meningkatkan pertumbuhan dan memperluas lapangan kerja. Disitulah letaknya kita saling berkoordinasi,” jelasnya.

JK menambahkan bahwa masing-masing pihak tidak bisa bekerja sendiri karena dalam UU yang baru sudah dijelaskan antara pemerintah dan BI harus saling mendengarkan. Memang dalam UU sebelumnya diatur bahwa jika siapapun yang mencampuri urusan BI dikenakan denda Rp2 miliar.

“Sering dikatakan BI independen karena dulu berat sekali siapa mencampur BI mesti bayar denda Rp2 miliar. Sekarang UU yang baru tidak lagi, saling mendengarkan,” ucap wapres.

Saat ini pemerintah juga semakin banyak berkoordinasi dengan lembaga yang berjalan bersama BI yakni Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan. Menurut JK, semuanya menjalankan tugas dengan tujuan yang sama meningkatkan kesejahteraan, mendorong pertumbuhan dan meningkatkan lapangan kerja.

“Apabila ada hal-hal yang keluar dari persetujuan bersama tentu kita saling koreksi, pemerintah tidak boleh bertindak sampai inflasi naik, tapi BI harus menjalankan kebijakannya agar pertumbuhan naik, agar lapangan kerja tercapai jangan sampai saling melanggar tujuan itu, saya katakan tadi independen dengan musyawarah,” kata JK.

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia sebelumnya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2015 bisa mencapai 4,85%. Hal itu sejalan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 4,7% hingga 5,1% sepanjang 2015.Namun, data Badan Pusat Statistik hari ini, Kamis (5/11/2015), menyebutkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2015 hanya 4,67%. Padahal sehari sebelumnya Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo meyakini pertumbuhan ekonomi akan membaik pada kuartal III/2015 dan berada pada sekitar 4,85%.

“Perkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal III/2015 ada di kisaran 4,85%, kita perkirakan pertumbuhan secara keseluruhan akan berada di antara 4,7%-5,1%. Kita lihat kuartal IV, kita harapkan mempunyai perbaikan. Dan sejalan dengan pola dari ekonomi indonesia selama ini. Ada peningkatan kuartal III dan kuartal IV,” ujarnya di Hotel Borobudur, Rabu (4/11/2015).

Meskipun meleset, bank sentral masih optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2015 akan lebih baik meskipun pada kuartal III tidak sesuai harapan.

Deputi Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Andiwiana mengatakan pertumbuhan ekonomi meningkat pada kuartal III/2015 dan diperkirakan akan terus meningkat pada kuartal IV/2015.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal III/2015 tercatat 4,73% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar 4,67% (y-o-y),” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (5/11/2015).

Peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut sejalan dengan berbagai indikator yang dipantau oleh Bank Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini, lanjutnya, juga menunjukkan semakin kuatnya momentum pertumbuhan ekonomi ke depan.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2015 yang meningkat terutama didorong oleh peran pemerintah yang lebih kuat, baik dalam bentuk konsumsi maupun investasi pemerintah.

“Hal ini sejalan dengan kemajuan proyek infrastruktur pemerintah yang signifikan di tengah sikap menunggu (wait and see) investor swasta. Konsumsi rumah tangga juga masih cukup kuat,” katanya.

Di sisi eksternal, tambah Andiwiana, masih rendahnya harga komoditas dan masih lemahnya pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang, seperti Amerika Serikat, China, dan Singapura menyebabkan ekspor masih terkontraksi lebih dalam.

Sementara itu, pertumbuhan impor sedikit tertahan sejalan dengan perbaikan permintaan domestik.

Otoritas Moneter ini memandang perbaikan ekonomi Indonesia akan terus berlanjut pada kuartal IV/2015.

Peran Pemerintah diperkirakan semakin kuat antara lain melalui akselerasi pelaksanaan proyek infrastruktur Pemerintah yang mampu mendorong kinerja investasi yang lebih baik.

“Investasi swasta diharapkan juga akan meningkat sejalan dengan rangkaian paket kebijakan pemerintah, termasuk berbagai deregulasi yang mendukung iklim investasi,” ucap Andiwiana.

Sementara itu, kinerja konsumsi diperkirakan membaik seiring dengan pelaksanaan Pilkada serentak pada bulan Desember 2015.

Selain itu, pelonggaran kebijakan makroprudensial juga diperkirakan akan mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi pada kuartal IV/2015.

Bank Sentral berjanji akan terus memonitor berbagai perkembangan baik domestik maupun eksternal, sekaligus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah.

Hal itu perlu dilakukan untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan tetap menjaga stabilitas makro ekonomi.

“Dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga, perekonomian Indonesia akan dapat tumbuh pada tingkat yang lebih tinggi secara berkesinambungan,” tutur Andiwiana.

UANG BEREDAR kok MAKIN TURUN tuh, beneran RAKYAT MALES blanja gara2 BI RATE AMAT TINGGI (cuma gara2 CEMAS DOLAR, padahal fenomena dolar mah biasa2 aza tuh, lom punya pengalaman seh tuh para DEWAN GUBERNUR BI)

bird

double arrow pic

 

Jakarta – Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah relatif terbatas dikarenakan Bank Indonesia masih menjaga fluktuasinya sesuai dengan fundamentalya.

“Nilai tukar rupiah masih stabil, apalagi ada penjagaan Bank Indonesia yang juga didukung dari fundamental ekonomi yang relatif masih baik,” katanya di Jakarta, Senin (22/8/2016).

Bank Indonesia pada Jumat (19/8) mempertahankan tingkat bunga acuan moneter baru yakni bunga transaksi surat utang berketetapan dengan jangka waktu tujuh hari (7-Day Reverse Repo Rate) sebesar 5,25 persen, dengan penurunan bunga “Lending Facility” sebesar 100 basis poin menjadi 6 persen.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak melemah tipis sebesar satu poin menjadi Rp13.164, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp13.163 per dolar AS.

“Bank Indonesia mempertahankan suku bunga baru. Pelonggaran moneter yang tertunda bisa membuat pelemahan rupiah di tengah penguatan dolar AS di pasar global,” kata ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta secara terpisah.

Ia menambahkan bahwa Bank Indonesia juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2016 juga turut mempengaruhi laju mata uang domestik.

Dari eksternal, lanjut dia, dolar AS mulai menguat semenjak pernyataan wakil gubernur bank sentral Amerika Serikat (The Fed) Stanley Fischer yang cukup percaya diri bahwa perekonomian Amerika Serikat sudah mulai membaik.

Di sisi lain, lanjut dia, spekulasi pembatasan produksi minyak mentah oleh anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), mendorong harga minyak mentah dunia turun sehingga mempengaruhi mata uang komoditas, seperti rupiah.

Terpantau, pada Senin pagi ini harga minyak jenis WTI Crude melemah 1,20 persen menjadi 47,94 dolar AS per barel, dan Brent Crude turun 1,51 persen menjadi 50,11 dolar AS per barel.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2318832/kebijakan-bi-jaga-pergerakan-rupiah
Sumber : INILAH.COM

dollar small

 

BATAM, KOMPAS.com – Dalam hitungan hari, Bank Indonesia (BI) akan segara menggunakan 7-day Repo Rate sebagai suku bunga acuan baru atau reformulasi suku bunga kebijakan.

Kebijakan tersebut sekaligus akan menggantikan suku bunga acuan yang sudah akrab di telinga masyakarat yakni BI Rate.

“Jadi yang namanya BI Rate mulai tanggal 19 Agustus 2016 tidak lagi kita gunakan. Kita akan gunakan 7-day Repo Rate,” ujar Gubenur BI Agus Martowardojo di Batam.

BI mengambil keputusan menggunakan 7-day Repo Rate lantaran BI Rate tidak lagi ampuh mengendalikan pasar uang antar bank seperti pada 2008-2010.

Kebijakan quantitative easing yang diambil bank sentral Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi penyebab tumpulnya BI rate.

Kedua acuan suku bunga itu tentunya memiliki perbedaan. Saat ini BI Rate berada pada posisi 6,5 persen atau setara dengan suku bunga 12 bulan.

Sementara 7-day Repo Rate berada pada level 5,25 persen atau setara dengan suku bunga operasi moneter 7 hari.

“Jadi tentu BI akan menjaga bahwa tingkat 5,25 persen itu dekat dengan bunga di pasar uang antar bank jangka pendek,” kata Agus.

“Dengan 7-day Repo Rate, transmisi kebijakan dari Bank Indoensia ke pasar uang dan bank akan lebih efektif,” lanjut Agus.

lol

BATAM okezone – Pada 19 Agustus mendatang, Bank Indonesia (BI) akan mulai menggunakan 7 Day Repo Rate sebagai suku bunga acuan. Kebijakan ini diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena rendahnya suku bunga kredit perbankan berkat program ini.

“Suku bunga selama ini kita turunkan agar daya beli masyarakat meningkat. Termasuk saat ini dengan adanya 7 Day Repo Rate. Sehingga kita dapat capai pertumbuhan ekonomi hingga 5,4 persen,” kata Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo di Politeknik Negeri Batam, Jumat (12/8/2016).

Selama ini, masalah kredit perbankan masih menjadi persoalan bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Sebab, perbankan sangat sulit untuk menurunkan suku bunga kredit dan pencairan kredit pada saat ini.

[Baca juga: Di Depan Pejabat Fed, Agus Marto Pamer 7 Days Repo Rate]

“Perbankan biasanya kalau ekonomi baik kreditnya kencang kalau ekonomi sulit kreditnya rendah,” jelasnya.

Hanya saja, 7 Day Repo Rate diperkirakan belum mampu sepenuhnya menyelamatkan Indonesia dari kenaikan harga pangan. Sebab, keadaan ini bersifat monumental dan hanya dapat diatasi oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah.

“Tapi kalau harga naik seperti pangan tidak bisa diatasi oleh suku bunga. Tapi ini tanggung jawab tim pengendali inflasi daerah,” tutupnya.

(rai)

lol

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Indonesia memastikan akan memberlakukan Bank Indonesia 7 Days Repo Rate sebagai suku bunga acuan baru mulai Agustus 2016.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menegaskan Rapat Dewan Gubernur pada 19 Agustus 2016 mendatang akan menetapkan suku bunga acuan yang berdasar pada BI 7 Days Repo Rate, tak lagi menggunakan BI Rate.

“Jadi semua persiapan reformulasi atau rekalibrasi BI Rate ini akan difinalkan pada RDG 19 Agustus ini,”ujarnya di Gedung DPR RI, Senin(25/7/2016).

Nantinya, suku bunga acuan Bank Indonesia akan ekuivalen pada level 5,25%. Dengan adanya perubahan dasar suku bunga itu, Agus mengharapkan transmisi kebijakan moneter akan semakin efektif untuk mempengaruhi kondisi interbank interest rate.
 
Bank Sentral, lanjutnya, juga ingin meyakinkan para pemangku kepentingan ekonomi baik di dalam maupun di luar negeri terhadap kondisi fundamental ekonomi makro nasional.

Jakarta, CNN Indonesia — Center of Reform on Economics (Core) memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menurunkan suku bunga acuannya (BI rate) bulan ini. Saat ini, BI mematok suku bunganya sebesar 6,5 persen.

“Kalau tanya ke saya, kalau tanya ke semua analis semestinya BI rate turun,” tutur Direktur Eksekutif Core Hendri Saparini, Rabu (20/7).

Menurut Hendri, BI masih memiliki ruang lebar untuk menurunkan suku bunga acuannya. Untuk bulan ini, BI rate setidaknya bisa turun sebesar 25 basis poin seperti bulan lalu.

“Ruangnya masih luas (untuk menurunkan BI rate) walaupun itu tidak menentukan 100 persen untuk menurunkan BI rate,” ujarnya.

Hendri memaparkan ada dua faktor pendorong utama penyebab turunnya BI rate. Pertama, rendahnya ekspektasi inflasi hingga akhir tahun. Per akhir Juni, realisasi inflasi tahun berjalan hanya sebesar 1,06 persen. Hingga akhir tahun, angka inflasi diperkirakan ada di kisaran 3 persen.

Selanjutnya, turunnya suku bunga juga akan memberikan sentimen positif di pasar.

“Ekspektasi inflasi yang rendah kemudian membutuhkan sentimen positif dari sisi suku bunga yang bisa menggerakkan (industri),” ujarnya.

Menurut anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional ini, penurunan BI rate merupakan bentuk koordinasi antara sektor moneter dan fiskal yang ingin menekan tingkat bunga domestik.

Pasalnya, turunnya BI rate juga harus diiringi oleh upaya pengendalian harga oleh pemerintah untuk menjaga tingkat inflasi.

Sebagai informasi, BI rate Juli akan diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar hari ini hingga esok, 21 Juli 2016. (gen)

 lol

Bisnis.com, Jakarta– Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 6,5%.

Deposit facility juga turun 25 basis poin menjadi 4,5% dan lending facility turun 25 basis poin menjadi 7,0% berlaku mulai 17 Juni 2016.

Sementara itu, BI 7-day Repo Rate mengalami penurunan yang sama 25 basis poin menjadi 5,25%. Dengan bgeitu, term structure operasi moneter BI untuk 7 hari sebesar 5,25%, 2 minggu sebesar 5,45%, 1 bulan sebesar 5,7%, 3 bulan sebesar 6,10%, 6 bulan 6,30%, 9 bulan 6,4%, dan12 bulan 6,50%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Sagara mengatakan pemulihan ekonomi global berlangsung lambat dan tidak merata. Risiko pasar keuangan global sedikit mereda karena ekonomi Amerika Serikat belum terlalu menguat, di antaranya disebabkan investasi nonresidensial yang masih lambat.

“Kondisi ini akan mendorong The Fed hati-hati menyesuaikan suku bunga The Fed,” katanya dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (16/6/2016).

Kondisi global juga Eropa dibayangi referendum Breexit, sedangkan Jepang juga masih lemah karena ekspornya turun dan deflasi meningkat serta China masih tertekan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi domestik kuartal II/2016 diperkirakan membaik meskipun tidak sekuat sebelumnya, konsumsi rumah tangga meningkat karena penjualan eceran yang naik ditopang tunjangan hari raya.

Di sisi lain, pertumbuhan investasi nonbangunan belum signifikan dan ekspor tumbuh terbatas meskipun mulai mengalami peningkatan.

 lol

JAKARTA ID – Bank Indonesia memprediksi modal asing masuk ke pasar keuangan domestik akan semakin deras di tiga triwulan mendatang, salah satunya karena penurunan divergensi atau perbedaan kebijakan moneter negara-negara maju, yang dapat menyebabkan peralihan modal asing ke negara berkembang.

“Dana masuk setelah pada triwulan I-2016 terus tumbuh, kedepan kami perkirakan masih terus terjadi. Pelebaran atau divergensi sikap (stance) moneter global semakin menipis,” kata Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung saat paparan mengenai rencana peluncuran Laporan Perekonomian 2015 di Jakarta, Selasa (26/4).

Juda melihat ketahanan ekonomi domestik masih akan dibayangi gejolak ekonomi global pada tahun ini. Namun, namun tekanannya faktor eksternal tersebut lebih mereda dibanding 2015.

Berkurangnya divergensi kebijakan moneter negara-negara maju itu ditandai dengan pernyataan Gubernur The Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat, Janet Yellen, yang menyiratkan tidak akan menaikkan suku bunga acuan secara agresif pada 2016.

Dengan begitu, perubahan rezim kebijakan moneter AS dari melonggar menuju kebijakan yang ketat diyakini tidak akan teralisasi dalam waktu dekat. Sementara, bank sentral negara-negara maju, seperti Europan Central Bank dan Bank Of Japan masih mempertahankan pelonggaran kebijakan moneternya.

“Maka divergensi yang sebelumnya pada 2015 melebar, kini kita lihat semakin kecil karena The Fed semakin berhati-hati menaikan Fed Rate, ” ujarnya.

Faktor global lainnya yang menunjukkan sentimen positif adalah penurunan harga komoditas yang diperkirakan tidak setajam ekspetasi awal bank sentral.

Juda memperbarui proyeksi BI untuk penurunan harga komoditas global menjadi 9 persen dari proyeksi awal tahun sebesar 11 persen.

Selain karena faktor global, Juda melihat dana asing bisa terus masuk, jika melihat prospek pemulihan pertumbuhan ekonomi domestik pada triwulan II-2016. Pendorong utama pemulihan pertumbuhan itu adalah realisasi belanja modal pemerintah yang pada triwulan I 2016 saja tumbuh 160 persen jika dibandingkan triwulan I 2015.

Untuk triwulan I-2016, Bank Sentral memasang perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1-5,2 persen.

“Kita akan kelola dana asing yang masuk ini, agar tidak menyebabkan volatilitas tinggi kepada kurs rpiah,” kata Juda seperti dikutip Antara.

Merujuk data triwulan I-2016, modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia sebesar 4,9 miliar dolar AS. Pasokan modal asing itu telah mendorong apresiasi nilai tukar rupiah sebesar 3,96 persen (year to date/YTD) ke level Rp 13.260 per dolar AS. (ID/ths)

ezgif.com-resize

JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyambut baik kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mengubah acuan moneter dari BI Rate menjadi BI 7-Days Repo Rate. Hal tersebut terlihat dari sudah turunnya tingkat suku bunga kredit beberapa sektor oleh salah satu BUMN perbankan terbesar di Indonesia itu.

Director of Finance and Treasury PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Pahala N Mansury mengatakan, tidak dipungkiri akan ada peluang untuk kembali menurunkan tingkat suku bunga kredit sektor lainnya, asalkan semu persyaratan terpenuhi, baiknya kondisi perseroan, dan diiringi dengan banyaknya transaksi pada sektor tersebut.

“Tentunya dengan beberapa persyaratan, kondisi perusahaan baik, transaksi cukup banyak, saya rasa ruangnya ada,” katanya saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis. (21/4/2016).

Sejauh ini, perseroan memang sudah menurunkan tingkat suku bunga kredit di beberapa sektor prioritas. Seperti sektor produktif di segmen korporasi, komersial dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebesar 25 basis poin yang berlaku per 1 April 2016.

Selain itu, perseroan juga sejalan dengan keinginan pemerintah dan otoritas terkait dengan menurunkan tingkat suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga 50 basis poin.

“Saya rasa ruangnya ada, memang kita lakukan segmen tertentu, beberapa segmen yang prioritas misalnya segmen korporasi terlibat pembangunan infrastruktur, sektor perumahan KPR kemarin sudah turunkan,” jelas dia.

Sekadar informasi, Bank Indonesia (BI) mengganti instrumen suku bunga acuan atau BI Rate menjadi suku bunga reverse repo tenor tujuh hari dari sebelumnya yang berpedoman pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor 12 bulan.

http://economy.okezone.com/read/2016/04/21/20/1368823/mandiri-yakin-7-days-repo-rate-turunkan-kredit-sektor-lain

long jump icon
Sumber : OKEZONE.COM

Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menilai adanya transaksi Repo harian kisaran Rp11 triliun menandakan bank sudah mulai tertarik mengandalkan Repo sebagai likuiditas daripada mengharapkan deposito berbiaya mahal.

Head of Treasury BCA Branko Windoe mengatakan, dana segar tersebut untuk likuiditas BCA sebagai penjamin jika deposito bunganya turun, deposan kabur.

“Nantinya akan ada likuiditas turun, mereka butuhkan repo ada sekitar Rp11 triliun di pasar harian untuk repo karena itu untuk pelaku pasar mereka mau lakukan,” ujar dia di Jakarta, Kamis (21/4/2016).

Selain itu, lanjut dia Repo bagi perbankan akan lebih secure sebab Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah melaunching Repo sebagai instrumen keuangan. “Bank – bank tidak ada alasan lagi berdagang di pasar karena uangnya secure,” jelas dia.

Oleh sebab itu, lanjut dia, Repo harus tetap didukung regulator agar tetap bergairah transaksi di pasar uang. “Untuk menggairahkan itu perlu ada penggairah permintaan uang. Kalau permintaan uang banyak, tentunya banyak transaksi di pasar,” ucap dia.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2289951/ada-repo-bca-tak-kawatir-deposan-hengkang

 

long jump icon
Sumber : INILAH.COM

Liputan6.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) merubah acuan suku bunga dalam kebijakan moneter dari yang sebelumnya bunga dengan tenor 12 bulan menjadi bunga dengan tenor 7 hari. Dengan adanya perubahan acuan suku bunga ini‎ maka nantinya nama suku bunga acuan tidak lagi BI Rate, melainkan Bank Indonesia Seven Days Reserve Repo Rate. Kebijakan ini akan berlaku mulai 19 Agustus 2016.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menjelaskan‎, kebijakan ini ditempuh untuk memperdalam pasar keuangan Indonesia dan menyesuaikan dengan apa yang diterapkan bank sentral di beberapa negara maju di dunia.

“Di periode 2008-2010 Bank Indonesia rate itu bisa mempengaruhi suku bunga overnightperbankan sangat efektif. Pada periode itu, BI rate naik bunga antar bank naik, begitu sebaliknya. Tapi setelah itu, keduanya terpisah,” terang Mirza di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (15/4/2016).

Dengan kata lain, sejak 2010, BI Rate kurang bisa mengendalikan suku bunga antar bank. Hal tersebut terjadi karena adanya kebijakan quantitative easing yang dijalankan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Sebagai negara berkembang, Indonesia menjadi salah satu negara yang kebanjiran dana akibat pelonggaran kebijakan moneter oleh AS tersebut.

Apa yang dialami Indonesia selama ini, terutama mengenai kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia kurang mengikuti best practice yang diterapkan bank-bank sentral di berbagai negara maju di dunia.

Mirza menjelaskan, selama kurun waktu 5 tahun ini, kebijakan makro ekonomi Indonesia belum terlalu stabil. Hal ini dilihat dari Current Account defisit yang melebar, inflasi yang masih tinggi dan masih besarnya subsidi di APBN.

“Saat ini menurut kami, saat yang tepat Bank Indonesia kembali kepada best practice itu karena saat ini outlook inflasi masih dalam kontrol , salah satu komponen subsidi di dalam APBN sudah kecil, dulu sampai 30 persen APBN, saat ini hanya 10 persen APBN,” terang Mirza. (Yas/Gdn)‎

dollar small

bloomberg : Bank Indonesia signaled it may pause its monetary policy easing cycle as it assesses the effects of this year’s interest-rate cuts on Southeast Asia’s largest economy.

“We want to see the impact on growth and inflation before we do the next cut,” Senior Deputy Governor Mirza Adityaswara told investors at a conference organized by Credit Suisse Group AG in Hong Kong on Thursday. Governor Agus Martowardojo told reporters in Jakarta on Friday that the bank must be careful in considering further easing.

The central bank has reduced its policy rate at every meeting this year, lowering it by a total of 75 basis points to 6.75 percent as inflation stayed within the target range of 3 percent to 5 percent. Bank Indonesia has come under pressure from the government to help spur the economy, with President Joko Widodo saying in an interview on Feb. 11 that he wanted interest rates to “fall, fall, fall, fall and keep falling.”

At its March meeting, the central bank said it “would be more careful in deciding on any further easing” and that the short-term focus would be on ensuring the recent cuts were transmitted effectively. The bank will announce its next rate decision on April 21.

The government this month lowered retail fuel and public transport costs, easing pressure on inflation as it edged up to 4.45 percent in March. The economy is set to expand 5.3 percent this year, according to the government’s budget forecast, after growing last year at the slowest pace since the global financial crisis.

double arrow pic

JAKARTA okezone– Bank Indonesia (BI) sepanjang 2016 telah menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebanyak tiga kali. Kini, BI Rate tercatat secara 6,75 persen atau turun 75 basis poin dari awal tahun lalu sebesar 7,5 persen.

Menurut Deputi Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo, penurunan BI Rate saat ini telah memberikan dampak pada peningkatan investasi pada berbagai sektor di Indonesia. Kendati demikian, kebijakan ini belum memberikan dampak langsung terhadap kenaikan konsumsi masyarakat.

“Kalau investasi memang meningkat. Tapi untuk konsumsi hingga saat ini belum,” kata Sasmito saat ditemui di kantor pusat BPS, Jakarta, Jumat (1/4/2016).

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, penurunan BI Rate ini juga turut berkontribusi terhadap kestabilan inflasi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari terkendalinya inflasi komponen inti, baik secara month to month maupunyear on year.

“Saat ini sudah ada pengaruh terhadap komponen inti yang terkendali. Meskipun seharusnya biaya perusahaan juga menurun karena bunga pinjaman bank yang turun,” tukasnya.

Untuk diketahui, BPS mencatat inflasi komponen inti secara month to month pada Maret 2016 sebesar 0,21 persen. Sementara itu, inflasi komponen inti year on yeartercatat sebesar 3,5 persen. Artinya, hingga saat ini inflasi berada di bawah target APBN sebesar 4 persen plus minus 1 persen.(rai)

(rhs)

bird_bbri_unvr

JAKARTA, KOMPAS.com — Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin pada posisi 6,75 persen. Sebelumnya, BI Rate berada pada posisi 7 persen.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 16 dan 17 Maret 2016 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,75 persen,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Kamis (17/3/2016).

Adapun suku bunga deposit facility berada pada posisi 4,75 persen, dan lending facility sebesar 7,25 persen. Angka-angka baru ini akan berlaku efektif pada 18 Maret 2016.

“Keputusan ini sejalan dengan masih terbukanya ruang kebijakan moneter seiring dengan stabilnya makroekonomi, menurunnya tekanan inflasi, dan meredanya ketidakpastian global,” kata Tirta.

Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

bird_bbri_unvr

JAKARTA kontan. Bank Indonesia (BI akan kembali menetapkan BI rate melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini (16-17/3). Sejumlah ekonom melihat ada peluang bagi Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) dari 7% menjadi 6,75%.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, ruang pelonggaran kebijakan moneter BI masih ada. Hal itu didukung adanya ekspektasi inflasi yang terkendali serta nilai tukar rupiah yang cenderung menguat selama tiga pekan terakhir berturut-turut.

Di dua bulan pertama 2016, inflasi tergolong rendah. Pada Januari 2016, inflasi bulanan sebesar 0,51%, sementara inflasi inti tercatat 0,29%. Pada Februari 2016, terjadi deflasi 0,09%. Di bulan yang sama inflasi inti rendah 0,31%. BI memproyeksikan pada bulan ini laju inflasi akan rendah. Survei harga pekan kedua BI, inflasi Maret 0,05%.

Sementara itu nilai tukar rupiah selama tiga tiga pekan terakhir menunjukkan penguatan cukup signifikan. Referensi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan pada 19 Februari 2016, kurs rupiah di level Rp 13.549 per dollar AS lalu turun jadi Rp 13.087 per dollar kemarin (15/3).

Dari sisi global, Josua menyatakan, outlook suku bunga Bank Sentral AS (The Fed rate) dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 Maret 2016 diperkirakan bertahan. Dengan demikian saat ini adalah momentum baik bagi BI melonggarkan lagi kebijakan moneter. “Saya perkirakan BI rate turun 25 bps ke 6,75%,” katanya, Selasa (15/3).

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, selain ekspektasi inflasi rendah, neraca perdagangan diperkirakan cukup terjaga hingga akhir tahun. “Risiko ekonomi global masih ada. Namun dengan inflasi yang rendah, real interest rate masih sangat menarik. Jadi tekanan capital inflows harusnya terjaga,” kata Andry. Menurutnya, BI rate akan dipangkas menjadi 6,5% pada tahun ini.

Ekonom Bank Pembangunan Singapura atau Development Bank of Singapore (DBS) Gundy Cahyadi memproyeksikan, BI akan memangkas suku bunganya sebesar 25 bps menjadi 6,75%. Walau dalam jangka menengah tren inflasi mengarah sekitar 5%, mendekati batas atas target bank sentral, namun jika biaya logistik turun, inflasi akan tetap terjaga.

Gundy melihat penguatan rupiah memberikan ruang bagi BI menurunkan suku bunga. Namun tidak ada jaminan rupiah terus menguat atau stabil. “Ruang pelonggaran kebijakan lebih lanjut, terbatas. Namun pemotongan suku bunga 25 bps, kemungkinan terjadi bulan ini,” katanya.

rose KECIL

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) tidak ingin likuiditas perbankan terganggu. Ini menjadi pertimbangan lembaga moneter tersebut, menjawab permintaan pemerintah agar bank menurunkan bunga kredit menjadi single digit.Â

Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan, dengan suku bunga kreduit rendah, maka permintaan akan kredit akan meningkat. Namun, kebijakan ini akan mengorbankan bunga deposito dan mengancam minat masyarakat menyimpan uang di deposito.

Padahal, ketika meningkatkan penyaluran kredit, bank harus memiliki dukungan likuiditas yang memadai.Â

“Kalau pertumbuhan kredit tinggi, tapi deposito terbatas, kita akan lihat likuiditasnya,” kata Juda, Kamis (25/2) di Jakarta.

Juda mengaku, BI bisa saja kembali menurunkan kembali giro wajib minimum (GWM) primer agar likuiditas bank lebih longgar. Namun, kebijakan itu akan diambil setelah BI melihat perkembangan pertumbuhan kredit.

Dari catatan Juda, rata-rata bunga deposito perbankan pada Januari 2016 turun 0,06%. Dia mengakui, penurunan tersebut masih sangat kecil.

Perbankan mulai menurunkan bunga deposito setelah bunga acuan BI (BI rate) turun sebesar 25 basis poin Januari lalu. Nah, BI akan melihat dampak respon perbankan atas penurunan BI rate yang menjadi 7% Februari lalu.

http://nasional.kontan.co.id/news/bunga-single-digit-bi-khawatirkan-likuiditas-bank
Sumber : KONTAN.CO.ID

long jump iconJAKARTA – Kembali diturunkannya suku bunga acuan ke level 7 persen dipercayai akan memiliki dampak panjang bagi nilai tukar Rupiah. Bahkan hal itu diperkirakan dapat membawa Rupiah ke level Rp13.300 per USD.

Kepala Riset NH Korindo Securities, Reza Priyambada, memprediksikan nilai tukar Rupiah hari ini pasca-kenaikan suku bunga akan berada di level support Rp13.485 per USD dan resistance Rp13.300 per USD.

“Laju Rupiah diharapkan dapat menguat terhadap dolar AS seiring dengan RDG-BI yang memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga. Sehingga kami harapkan agar Rupiah mampu untuk menjaga kestabilan nya menuju 13.300 sebagai resisten berikutnya,” kata Reza dalam risetnya, Jumat (19/2/2016).

Reza menjelaskan, kembali dipangkasnya BI rate sebesar 25 basis poin ternyata langsung direspons cukup positif di perdagangan valas. Hal itu yang membuat mata uang Garuda tengah dalam jalur penguatan yang berlanjut.

“Pergerakan positif ini di atas perkiraan kami di mana penurunan suku bunga biasanya akan direspons negatif oleh pergerakan valasnya,” imbuhnya.

Kendati begitu menurut Reza, penurunan suku bunga dalam kurun waktu dua bulan secara berturut-turut, memberikan sinyal psikologis kepada pada bahwa perekonomian Indonesia kian pulih di tengah keadaan global yang masih dilanda ketidakpastian.

http://economy.okezone.com/read/2016/02/19/278/1316101/rupiah-ditaksir-menguat-pasca-penurunan-bi-rate
Sumber : OKEZONE.COM

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0026

JAKARTA – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf menuturkan penurunan BI rate akan berdampak dalam persaingan investor lokal dengan investor asing.

“Itu akan membantu pengusaha di dalam negeri dari sisi cost of capital, biaya modal lebih rendah,” ujar Syarkawi kepada Okezone di Jakarta.

Syarkawi mencontohkan, bila ada perusahaan perkebunan dari Malaysia yang bersaing dengan perusahan perkebunan Indonesia. Maka dengan dengan suku bunga tinggi yang dimiliki Indonesia maka tak akan kompetitif.

“Dengan kita bunga tinggi, dia (Malaysia) bunga rendah yah ga kompetitif lah. Karena dari sisi biaya modal saja sudah kalah,” ujarnya.

Contoh lainnya, Ia menuturkan persaingan antara perusahaan Chief Data Officer (CDO) Malaysia yang masuk ke Turki dengan perusahaan CDO Indonesia yang juga masuk ke Turki. Maka dengan suku bunga Indonesia yang lebih tinggi, Indonesia sudah terlebih dahulu kalah.

“Dari sisi biaya bunga saja kita sudah kalah, belum yang lain-lain. Itulah penting BI rate diturunkan dan bank-bank pelaksana itu juga turut menurunkan bunga kredit,” tutupnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/02/18/20/1315750/penurunan-bi-rate-buat-indonesia-kian-kompetitif
Sumber : OKEZONE.COM

ID: Hans Kwee mengatakan, indeks telah break pekan lalu. Pasar saham saat ini dalam kondisi bullish. ANALIS PROF membenarkan bahwa PEKAN LALU (pra Imlek): ihsg BREAKOUT k BULLISH, sesuai ekspektasi gw per tgl 04 Feb 2016

 

“Optimisme investor timbul karena ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI rate). Saat ini, selisih antara inflasi dan suku bunga masih cukup tinggi. Pemerintah juga cenderung bisa mengendalikan inflasi tahun

ini. Investor juga merespons positif paket kebijakan ekonomi pemerintah yang dikeluarkan tahun lalu dan tahun ini. Selain itu, harga minyak rendah dan rupiah belakangan juga cenderung bergerak menguat terhadap dolar AS,” kata dia.

 

Bullish tersebut akan didukung masuknya kembali modal asing (capital inflow) ke pasar saham Indonesia. Hal itu tidak terlepas dari negatifnya suku bunga beberapa Negara seperti Jepang dan melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

 

Dia optimistis, capital inflow tahun ini akan positif hingga Rp 20 triliun, asalkan proyek infrastruktur Indonesia berjalan dengan baik dan mampu membuat kebijakan yang mempermudah perizinan usaha di Tanah Air.

 

Dia memprediksi pasar saham akan bullish hingga April tahun ini. Saat memasuki Mei, dia meminta investor untuk berhati-hati karena pada bulan itu IHSG diprediksi cenderung terkoreksi. Namun demikian, saat koreksi ini, investor dapat mengakumulasi saham-saham pilihan untuk portofolionya.

 

“Saat ini, investor memperhatikan laporan keuangan emiten tahun lalu, di mana mayoritas emiten berhasil membukukan kinerja di atas ekspektasi investor. IHSG diperkirakan terus bullish hingga April. IHSG pada akhir kuartal I-2016 dapat mencapai 4.850,” ujarnya. (fik/b1/sumber lain/en/gor)

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/ihsg-kemungkinan-tembus-4800-akhir-februari/139613

Bisnis.com, JAKARTA –  Wakil Presiden Jusuf Kalla mengemukakan, tingkat bunga kredit yang tinggi yang masih dipraktikkan oleh berbagai bank di Indonesia berpotensi membuat orang malas berusaha.

“Dengan bunga yang tinggi, orang senang untuk makan riba dan mengajak orang malas,” kata Wapres dalam acara pembukaan Rakernas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Jakarta, Rabu (10/2/2016).

Menurut dia, dengan suku bunga yang tinggi maka orang-orang yang memiliki kelebihan uang cenderung untuk hidup menempatkan uang di bank dan mengambil keuntungan bunga yang tinggi.

Namun, lanjutnya, hal itu berdampak negatif kepada orang-orang yang ingin bekerja atau membuka lapangan pekerjaan karena ongkosnya yang mahal karena dibebani pinjaman berbunga tinggi.

Untuk itu, ia mengemukakan bahwa pemerintah bakal mendorong agar aktivitas perekonomian dan pembukaan lapangan kerja dapat lebih ditingkatkan.

“Kalau tahun ini bunga kredit 9 persen, tahun depan insya Allah 7 persen,” kata Jusuf Kalla.

Sebagaimana diwartakan, Pemerintah berupaya menurunkan suku bunga empat bank milik negara untuk menggenjot kegiatan industri dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

“Ini supaya kita punya daya saing. Kalau keadaan ekonomi kita begini terus, tidak punya daya saing dan bunga makin tinggi, maka ujung-ujungnya industri perdagangan kita mahal,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Jumat (5/2).

Jika suku bunga perbankan tidak diturunkan, ujar dia, maka dapat mengakibatkan industri perdagangan menjadi mahal dan tidak dapat bersaing dengan perusahaan asing.

Sebelumnya, Bank Indonesia masih mengkaji kemungkinan dikeluarkannya kebijakan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI rate) dengan mempertimbangkan faktor ekonomi global.

“Kami melihat masih ada ruang pelonggaran moneter dan tentu kondisi global perlu kita perhatikan,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat ditemui di sela-sela gelaran Mandiri Economic Forum di Jakarta, Selasa (27/1).

Agus juga menambahkan, kebijakan pelonggaran moneter tidak hanya semata-mata dilakukan melalui penyesuaian BI rate, melainkan juga dapat dalam bentuk pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) yang sebelumnya juga telah dilakukan oleh BI.

 

Bisnis.com, JAKARTA – Ramalan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan atas penyaluran kredit sepanjang 2015 meleset. Sepanjang tahun lalu, kalangan perbankan nasional hanya membukukan pertumbuhan kredit di level 10,1% secara tahunan.

Adapun, posisi pertumbuhan tersebut berada lebih rendah dari batas bawah yang diproyeksikan bank sentral dan regulator industri keuangan yakni di level 11%-13% pada 2015.

Dari data Uang Beredar (M2) yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI) menerakan pertumbuhan kredit pada Desember tahun lalu mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya. Bank sentral menyebut, kredit di Desember 2015 tumbuh sebesar 10,1% secara tahunan (y-o-y) dari 9,5% (y-o-y) di November 2015.

Peningkatan laju kredit, tulis bank sentral, terjadi pada kredit produktif yakni kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI). “Pada Desember 2015, KMK dan KI tercatat senilai Rp1.914,3 triliun atau tumbuh 8,4% (y-o-y) dan 14,6% (y-o-y), naik dari bulan sebelumnya yang tumbuh 7,6% (y-o-y) dan 12,5% (y-o-y),” tulis BI dalam laporannya yang dikutip Bisnis.com, Selasa (2/2/2016).

Secara sektoral, peningkatan pertumbuhan fungsi intermediasi terpantau pada industri pengolahan serta perdagangan, hotel, dan restoran. Rinciannya, kredit di industri pengolahan pada KMK dan KI masing-masing tumbuh 11,5% (y-o-y) dan 21,7% (y-o-y). Posisi tersebut, lebih tinggi dari laju pada November 2015 yang naik 10,7% (y-o-y) dan 18,6% (y-o-y).

Sementara itu, kredit perdagangan, hotel, dan restoran di KMK dan KI naik masing-masing dari 8% (y-o-y) dan 13,1% (y-o-y) pada November 2015 menjadi 10,3% (y-o-y) dan 13,9% (y-o-y).

Selain dua sektor tersebut, bank sentral juga merekam kredit ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta properti pun mengalami peningkatan. Per Desember 2015, pinjaman UMKM naik 10,1% y-o-y dari 9,2% di November 2015. Peningkatan tersebut ditopang kenaikan pada kredit di skala mikro dan kecil.

Kemudian, kredit properti naik 11,8% (y-o-y) di Desember 2015 dari 11,5% (y-o-y) di November 2015. Penopangnya, sebut bank sentral, yakni peningkatan kredit konstruksi, kredit pemilikan rumah (KPR), dan kredit pemilikan apartemen (KPA).

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mendapat sorotan karena pernyataan ada ruang untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Dalam forum yang diadakan Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Iluni) UI, seorang mahasiswa menanyakan mengenai peluang turunnya suku bunga acuan BI atau BI rate ke level 7 persen.

Atas pertanyaan tersebut, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara membenarkan, sejak Oktober 2015 BI mengakui adanya ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Namun, pelonggaran itu tidak hanya soal BI rate, bisa juga dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) primer.

“BI pada waktu Rapat Dewan Gubernur 14 Januari menurunkan BI Rate dan di pers rilis BI, BI katakan masih ada ruang pelonggaran kebijakan moneter subject to situasi global, pasar keuangan,” paparnya di Graha Niaga, Jumat (29/1/2016).

Dia mengatakan, selama situasi ekonomi global dan dalam negeri stabil, ruang pelonggaran moneter selalu terbuka. Tapi sebelum melakukan pelonggaran, pihaknya mengaku terus memantau kondisi ekonomi global.

Mirza menyatakan, Indonesia yang memiliki utang luar negeri (ULN) yang besar, mau tidak mau bergantung pada ekonomi global.

“The Fed, China, dua faktor dominan dari ekonomi global, kenapa kita mengacu ekonomi global? Karna funding negara ini banyak sekali dari luar, APBN, korporasi, jadi kita enggak bisa tutup mata dengan apa yang terjadi di global,” tukasnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/01/29/20/1299977/ditanya-suku-bunga-bakal-turun-ke-7-ini-jawaban-bi
Sumber : OKEZONE.COM

Jakarta (ANTARA News) – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 7,25 persen dari sebelumnya 7,5 persen pada Kamis.

Selain itu Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menetapkan suku bungaDeposit Facility 5,25 persen dan Lending Facility pada level 7,75 persen.

“Keputusan ini sejalan dengan pernyataan Bank Indonesia sebelumnya, bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dengan terjaganya stabilitas makroekonomi, serta mempertimbangkan pula meredanya ketidakpastian pasar keuangan global pascakenaikan Fed-Fund Rate (FFR), ” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara.

Editor: Maryati

 

Bisnis.com, JAKARTA–Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NIM industri perbankan nasional cenderung terus mengalami peningkatan selama 10 bulan pada tahun lalu.

Per Oktober 2015 NIM perbankan sebesar 5,34% atau meningkat 110 basis poin dibandingkan Oktober 2014 (year-on-year) yang berada di level 4,24%.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Moch. Doddy Ariefianto mengatakan besaran NIM industri perbankan tahun ini dipengaruhi arah kebijakan bisnis yang diambil.

Doddy menyebutkan ada 2 arah yang bakal dituju bank, yakni mengejar volume bisnis bank atau mengejar profit margin yang besar. Apabila bank lebih memilih untuk mencapai target volume bisnis bank, maka margin bunga bersih bank dapat menurun asalkan target penyaluran kredit bank terpenuhi.

“Proyeksi saya tahun ini bank lebih cenderung mengejar volume bisnis, apalagi saat ini berada di posisi paling lemah,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (12/1/2016).

Sementara itu, Businerss Medium and Corporate Director PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (Bank Jatim) Su’udi mengatakan untuk tahun ini pihaknya menargetkan dapat meningkatkan rasio NIM perseroan dari 6,41% menjadi 7,53%.

Su’udi menyebut salah satu upaya yang dilakukan Bank Jatim untuk mencapai target tersebut adalah dengan memperbaiki kredit bermasalah. Sepanjang 2015 rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) emiten berkode saham BJTM ini berada di level 4,2%.

“Kami akan turunkan hingga 2,8% tahun ini. Dari situ akan memperbaiki kredit kami, suku bunga kredit juga bisa lebih baik ,” katanya.

Jakarta detik -Kondisi perekonomian domestik dinilai sudah cukup mendukung untuk mendorong Bank Indonesia (BI) melonggarkan kebijakan moneternya melalui penurunan suku bunga acuan atau BI rate.

Angka inflasi sebagai salah satu indikator BI dalam menurunkan BI rate dinilai sudah dalam posisi rendah. Namun, BI masih dilema untuk menetapkan suku bunga acuannya ke depan.

“Kita menyadari dilema. Di satu sisi terjadi perlambatan ekonomi tapi satu sisi risiko eksternal cukup besar. Tapi dilihat lainnya, inflasi sudah sangat menurun,” ujar Direktur Grup Departemen Kebijakan Riset Ekonomi BI Yoga Affandi dalam Seminar “Economic and Capital Market Outlook 2016” di Assembly Hall, Plaza Bapindo, Jakarta, Senin (7/12/2015).

Memang, kata dia, posisi BI rate saat ini di level 7,5% sudah cukup tinggi dan dengan melihat berbagai indikator makro ekonomi saat ini, ada ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Namun, inflasi bukan satu-satunya indikator yang menjadi ukuran bank sentral dalam mengambil kebijakan moneternya.

Ada nilai tukar rupiah yang saat ini sedang dalam kondisi volatile. Ini harus dijaga tetap stabil, terlebih akan ada kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Antara pertumbuhan dan stabilitas menjadi dua hal yang cukup dilematis bagi BI.

“Dengan 7,5% BI rate, suku bunga riil sudah sangat besar, harusnya sudah cukup untuk melonggarkan kebijakan moneter. Tapi BI harus jaga stabilitas karena sumbangan stabilitas tertinggi itu ada di nilai tukar,” jelas dia.

Menurutnya, kebijakan moneteer BI ini harus dilihat dalam jangka panjang, bukan hanya saat ini. Penurunan suku bunga acuan BI akan banyak berdampak pada naiknya yield obligasi. Sementara untuk pasar saham dan kredit perbankan semua akan tergantung pada sisi permintaan.

“Mengenai saham, penurunan suku bunga mungkin mendorong saham, tapi survei kita itu justru berpengaruh ke yield. Jadi sisi ini harus dilihat longterm, jadi kita konsistensi kebijakan. Jadi kalau harusnya turun ya turun jangan sampai sudah turun ada gejolak politik malah naik lagi, jadi jangan sampai kelonggaran tersebut menimbulkan gejolak,” pungkasnya.

(drk/ang)

JAKARTA kontan. Laporan suplemen terbaru Bank Pembangunan Asia (ADB) mengenai proyeksi perekonomian pada 2015 kembali merevisi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,9% menjadi 4,8% pada akhir tahun.

“Pelambatan lunak dialami Indonesia, negara dengan tingkat perekonomian terbesar di kawasan Asia Tenggara, karena penyerapan anggaran yang tidak sesuai harapan dan kinerja ekspor yang melambat,” sebut laporan suplemen ADB akhir tahun “Outlook Update 2015” yang diterima di Jakarta, Jumat (4/12).

Laporan menyebutkan, tingkat pencairan belanja modal pada akhir 2015 diproyeksikan hanya mencapai kisaran 80%- 85%, sehingga sedikit membatasi pertumbuhan ekonomi pada semester kedua.

Padahal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan tiga sudah stabil pada angka 4,7% (year on year) dan belanja pemerintah meningkat signifikan tumbuh 6,6% (year on year) jauh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya.

Selain itu, perekonomian Indonesia telah didukung oleh ekspansi sektor investasi yang didukung percepatan proyek infrastruktur, konsumsi rumah tangga yang kuat serta kontribusi ekspor yang positif.

Laporan tersebut juga menyebutkan, pada 2016 kondisi akan lebih baik dan pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan bisa mencapai 5,3%, meskipun sedikit mengalami revisi turun karena pemulihan sektor ekspor yang masih tertunda.

Laporan tersebut juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara pada 2015 mampu mencapai 4,4% dan sedikit meningkat pada 2016 yaitu mencapai 4,9%.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia masih berada di jalur yang benar dan memiliki ketahanan untuk mencatatkan pertumbuhan ekonomi pada 2015 sebesar 5,8% dan 6,0% pada 2016, meskipun beberapa negara industri sedang mengalami perlemahan.

Laporan ADB juga memperlihatkan revisi naik bagi proyeksi pertumbuhan ekonomi di Tiongkok menjadi 6,9% dari sebelumnya 6,8% di 2015, meskipun nantinya sedikit melambat menjadi 6,7% di 2016.

Sementara, kebanyakan negara industri utama serta negara di kawasan Asia Tengah dan Pasifik mengalami revisi pertumbuhan ekonomi turun sebagai imbas pelemahan harga komoditas dunia yang terjadi sejak awal tahun.

“Meskipun ada pelambatan di beberapa negara, secara keseluruhan proyeksi untuk kawasan ini masih tumbuh kuat. Pertumbuhan di kawasan masih didukung oleh sektor konsumsi di Tiongkok, serta peningkatan produksi di India,” kata Kepala Ekonom ADB Shang Jin Wei.

Wei menambahkan negara yang perekonomiannya bergantung pada sumber daya alam akan mengalami kerugian dari turunnya harga komoditas global, sedangkan pemulihan ekonomi yang lambat di Amerika Serikat dan kontraksi di Jepang masih membebani kinerja sektor ekspor.

JAKARTA sindonews. Kondisi industri manufaktur Indonesia kembali memburuk pada November. Pabrik-pabrik di Tanah Air mengerem pembelian bahan baku menghadapi kelesuan permintaan.

Nikkei Indonesia Manufacturing PMI yang diterbitkan Selasa (1/12/2015) turun dari 47,8 pada Oktober menjadi 46,9 pada November.

Data PMI menggambarkan perkembangan kinerja industri manufaktur dengan angka 50 atau lebih menunjukkan ekspansi. Indeks manufaktur Tanah Air telah berkontraksi selama 14 bulan berturut-turut.

Rilis dari Markit menyatakan data yang paling signifikan pada survei November adalah penurunan tajam pada aktivitas pembelian bahan baku. Penurunan volume pembelian bahan baku ada di level paling rendah sejak survei dimulai.

Pabrik mengerem pembelian bahan baku karena penumpukan stok barang hasil produksi. Responden menyatakan kenaikan stok barang jadi karena penurunan pesanan dari dalam dan luar negeri.

“Penurunan kinerja manufaktur makin intens pada November. Penurunan hasil produksi tercatat paling tajam sejak April 2011. Inflasi harga bahan baku masih lebih tinggi daripada kenaikan harga barang jadi yang membuat marjin makin ciut,” kata Pollyna de Lima, ekonom dari Markit Economics.

Nikkei Indonesia Manufacturing PMI

Bulan

Indeks PMI
November

46,9
Oktober

47,8
September

47,4
Agustus

48,4
Juli

47,3
Sumber: Markit Economics

 

http://finansial.bisnis.com/read/20151201/9/497345/indeks-manufaktur-indonesia-kembali-memburuk-pada-november
Sumber : BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA — “Uang itu bukan kekayaan, uang hanya ukuran kekayaan. kekayaan adalah aset, sawah, lahan, pabrik, itu kekayaan.”

Kalimat itu dilontarkan dengan sangat berapi-api oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI), Selasa malam (25/11/2015).

Sejak menjabat sebagai Wakil Kepala Negara pada Oktober 2014 lalu, mungkin ini kali pertama Kalla meluapkan nada tinggi yang terurai panjang sejak awal hingga akhir pidato.

Mantan pengusaha itu seperti hendak mencurahkan berbagai kegundahan yang membuatnya gemas terhadap ketidakadilan sistem keuangan nasional.

Dia mengingatkan otoritas moneter, bankir, dan para praktisi sektor keuangan lain agar tak terkecoh memaknai kekayaan, lalu keliru mengambil kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

Kalla berusaha menyadarkan khalayak bahwa kekayaan utama sebuah negara adalah aset sumber daya alam yang perlu mendapat perlindungan dan pengelolaan optimal. Dengan begitu, hasilnya akan menjadi sumber kekuatan ekonomi bangsa.

“Tidak ada satu pertumbuhan ekonomi dengan kebijakan moneter, karena di dunia ini hanya produktivitas,” tegasnya.

BI sebagai otoritas moneter independen diminta mensinkronkan kebijakan keuangan yang mendukung produktifitas sektor riil. Jangan malah berjalan terpisah dengan pemerintah seperti memiliki negeri sendiri.

Meski ditetapkan sebagai lembaga independen, menurut dia, BI tetap harus bermitra dengan pemerintah berdasarkan azas musyawarah. Pasalnya, kedua pihak memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan perekonomian negeri ini.

Pelaksanaan kebijakan moneter harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah bidang perekonomian. Di lain pihak, pemerintah wajib meminta pandangan BI dalam menjalankan kebijakannya.

“Sekarang harus saling mendengarkan. Itulah makna kedua hubungan, supaya kita tidak salah paham,” tuturnya.

Beberapa waktu terakhir, hubungan pemerintah dan Bank Indonesia memang sedikit meregang pascaperbedaan pandangan keduanya terkait level suku bunga acuan yang mempengaruhi kinerja sektor riil.

BI dan pemerintah memiliki ukuran keberhasilan ekonomi yang berbeda. Otoritas moneter mengukur keberhasilan dari pergerakan nilai tukar rupiah dan inflasi, sementara pemerintah mengukur keberhasilan berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

“Bagaimana menyeimbangkan keduanya? Di sana letaknya kita harus selalu berkoordinasi, tidak bisa masing-masing pihak menjalankan secara independen karena diikat UU,” ucap Kalla.

Kebijakan moneter yang paling disoroti Kalla ialah level suku bunga acuan (BI Rate) yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain di Asia. Dia mendesak BI menurunkan BI Rate agar lebih kompetitif.

Dia menyebutkan Indonesia memiliki tiga kelemahan dalam bersaing dengan negara lain, yakni biaya tinggi di sektor keuangan, sektor logistik yang belum efisien, dan rumitnya birokrasi.

Sektor logistik dan birokrasi menjadi tugas pemerintah yang kini sedang terus diperbaiki. Dia menjamin peningkatan pembangunan infrastruktur dan reformasi birokrasi dapat membawa perubahan.

Kini harapannya, BI bisa mengambil kebijakan yang lebih berani demi menopang sektor riil. Terlepas dari deraan ekonomi eksternal yang memaksa BI menahan pelonggaran moneter.

“Kita tak perlu alasan apapun, The Fed menaikkan bunga atau apapunlah, untuk menolong negeri ini,” ungkapnya.

Menurut dia, The Fed menaikkan suku bunga, dan BI Rate menurun, Indonesia tetap menjadi tempat berinvestasi menggiurkan para pemilik modal.

“Suku bunga Indonesia masih baik walau diturunkan. Jangan dimain-mainkan Republik ini, jangan terlalu bermain seperti itu,” urainya dengan nada geram.

Mungkin pemilik konglomerasi Kalla Grup ini enggan negerinya terlampau dikendalikan Paman Sam, hingga terlambat menyelamatkan apa yang seharusnya dipertahankan.

Dia tak ingin Negeri Katulistiwa terlanjur kehilangan kekayaan karena minimnya produktivitas, ketika tiba masanya seluruh negeri berperang memperebutkan sumber kehidupan, atau ketika rakyat baru menyadari bahwa uang tak bisa ditelan.

 

Bandung detik-Kalangan pengusaha mendesak pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menekan bunga bank agar tak terlampau tinggi. Sebab, dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun depan, bunga tinggi membuat pengusaha dalam negeri bakal semakin sulit bersaing dengan negara tetangga.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengungkapkan, salah satu cara mendorong perbankan menurunkan bunga adalah menekan lembaga-lembaga pemerintah yang memegang dana skala besar yang ditempatkan di bank domestik.

“Harus diawali dulu dari lembaga-lembaga pemerintah kaya BPJS atau (dana) pensiun. Mereka ini salah satu pemilik dana besar, tapi nuntut bunga deposito tinggi terus,” kata Suryo ditemui di Munas Kadian ke-VII di Hotel Trans, Bandung, Senin (23/11/2015).

Dia menilai, dengan menekan lembaga negara pemegang dana jumbo tersebut, bisa jadi stimulus perbankan nasional menurunkan tingkat bunga saat ini.

“Pemerintah bisa minta yang pemilik dana deposito yang besar-besar ini janganlah tuntut bunga tinggi-tinggi. Kalau seperti ini terus kapan bank kita kasih bunga wajar. Saya kira kalau mereka nggak minta bunga tinggi, bunga bisa turun dan bank lain akan ikuti,” jelas Suryo.

Suryo menuturkan, meski tingkat bunga tak bisa ditekan seperti negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, setidaknya bunga bank bisa ditekan di bawah 10%.

“Negara lain 1-1,5%, kalau bisa kita di bawah double digit sudah cukup. Janganlah tuntut bunga tinggi, kalau yang besar saja mau terima yield bunga nggak terlalu tinggi, ini akan dorong bank-bank turunkan bunga,” ujarnya.

(dnl/dnl)

Merdeka.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyindir suku bunga acuan bank sentral yang hingga kini ogah diturunkan olehBank Indonesia (BI). Menurutnya, selama BI Rate masih tinggi, maka kinerja investasi saham sulit menanjak.

Wapres menilai tidak mungkin pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat terjadi tanpa investasi.

“Kalau nabung di bank berarti memberikan kredit kepada perusahaan untuk menginvestasikannya melalui 3 jalur. Sekarang langsung jalur investasi, tapi tentu dengan harapan ekonomi baik dan berjalan sehingga harga saham dan yield lebih baik dari tabungan di bank,” papar JK saat meresmikan peluncuran kampanye ‘Yuk Nabung Saham’ di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (12/11).

Wapres JK menjelaskan, sektor investasi di pasar modal tidak akan menarik selama suku bunga tabungan dan deposito perbankan masih tinggi. Salah satu pengacu besaran bunga deposito ialah BI Rate.

“Jadi untuk investasi ingin baik, ya bunga turun, tentu perbankan semua tahu rumus sederhana itu. Jadi apabila ingin menaikkan investasi saham, jangan naikkan bunga perbankan, nah itu saja rumusnya yang harus dikerjasamakan oleh mereka,” papar JK.

Wapres memberi contoh kondisi pasar saham di Singapura dan China yang sudah maju. Menurut JK, di kedua negara tersebut suku bunga tabungan dan deposito sangat kecil, hanya berkisar 1-3 persen. Sementara imbal hasil di pasar modal bisa mencapai 10 persen.

“Tapi kalau di Indonesia, deposito 10 persen, saham baru naik 5-6 persen, ya buat apa beli saham, apalagi ada risikonya. Ini semua hal yang dunia keuangan harus ada suatu policy yang seimbang. Jadi OJK, bank Indonesia, kita semua harus melihat itu sebagai suatu kesatuan upaya untuk meningkatkan investasi,” papar JK.

JK mengatakan, tabungan atau investasi masing-masing memiliki keunggulan dan risiko. Untuk imbal hasil yang tinggi tentu risiko pun tinggi, ini berlaku di pasar saham. Namun, untuk imbal hasil yang relatif stagnan dengan risiko minim, berlaku di tabungan dan deposito.

“Tidak ada juga orang yang berdeposito langsung kaya, pasti tidak ada juga,” ujar JK.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 7,5 persen bulan ini. Hal ini tidak terlepas akan fokus BI terhadap kenaikan suku bunga the Fed.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo enggan menjawab apakah di sisa bulan 2015 akan ada penurunan suku bunga BI. Pasalnya, dalam RDG, BI akan melihat data dan informasi relevan terkait pemutusan BI Rate.

“Enggak bisa. Itu enggak bisa dijawab. Kita akan memutuskan pada saat nanti analisis semua data dan informasi yang ada,” ujar Agus di Bank Indonesia,Jakarta, Jumat (20/11/2015).

Dirinya mengatakan, dalam RDG lalu, adanya penyasaran posisi moneter di mana memberikan pelonggaran dalam bentuk penyesuaian Giro Wajib Minimum. Dengan hal tersebut tentu memberikan respons yang menunjukkan perbaikan di domestik dengan inflasi menurun dan defisit transaksi berjalan turun.

“Kita melakukan kebijakan moneter dengan menyesuaikan GWM. Meskipun untuk menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian kita harus tetap waspada,” tandasnya.
http://economy.okezone.com/read/2015/11/20/20/1252912/gubernur-bi-sinyalkan-suku-bunga-takkan-turun-tahun-ini
Sumber : OKEZONE.COM

 

Jakarta Globe. Indonesian Vice President Jusuf Kalla said on Tuesday the central bank, which is about to begin its monthly policy meeting, should cut its benchmark interest rate.

“There is no country that raises its rates in times of crisis. Don’t let that happen again, rates must go down,” Kalla told an economic seminar.

“There wouldn’t be any investment when interest rate is high,” he added.

Economists in a Reuters poll said Bank Indonesia will hold its rate at 7.50 percent, where it has been since February, in the wake of rising expectations of a rate hike in the United States next month.

BI has said it sets policy independently from the government.

Reuters

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) tetap mematok BI rate di posisi 7,5 persen. Hal itu sesuai dengan ekspektasi pasar yang memproyeksikan BI rate takkan bergerak.

“RDG pada 17 November memutuskan untuk mempertahankan BI rate 7,5 persen,” ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, usai memimpin Rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (18/11/2015).

Penetapan BI rate di level 7,5 persen sudah berlangsung sejak Februari 2015. Sebelumnya, BI Rate berada di posisi 7,25 persen, atau naik 25 basis poin sejak November 2013.

Berikut ini pergerakan BI Rate sejak 2013.

15 Oktober 2015 7,50 persen

17 September 2015 7,50 persen

18 Agustus 2015 7,50 persen

14 Juli 2015 7,50 persen

18 Juni 2015 7,50 persen

19 Mei 2015 7,50 persen

14 April 2015 7,50 persen

17 Maret 2015 7,50 persen

17 Februari 2015 7,50 persen

15 Januari 2015 7.75 persen

11 Desember 2014 7.75 persen

18 Nopember 2014 7.75 persen

13 Nopember 2014 7,50 persen

7 Oktober 2014 7,50 persen

11 September 2014 7,50 persen

14 Agustus 2014 7,50 persen

10 Juli 2014 7,50 persen

12 Juni 2014 7,50 persen

8 Mei 2014 7,50 persen

8 April 2014 7,50 persen

13 Maret 2014 7,50 persen

13 Februari 2014 7,50 persen

9 Januari 2014 7,50 persen

12 Desember 2013 7,50 persen

12 Nopember 2013 7,50 persen

8 Oktober 2013 7,25 persen

12 September 2013 7,25 persen

29 Agustus 2013 7,00 persen

15 Agustus 2013 6,50 persen

11 Juli 2013 6,50 persen

13 Juni 2013 6,00 persen

14 Mei 2013 5,75 persen

11 April 2013 5,75 persen

7 Maret 2013 5,75 persen

12 Februari 2013 5,75 persen

10 Januari 2013 5,75 persen

(rzk)

JAKARTA ID – Bank Indonesia (BI) hari ini akan melakukan rapat dewan gubernur (RDG) hari ini. Dalam rapat tersebut, akan diputuskan mengenai besaran tingkat suku bunga acuan (BI rate).

Ekonom BCA, David Sumual, menyatakan sejauh ini kesabaran BI dalam menahan BI rate pada angka 7,5 persen telah membuahkan hasil. Hal ini terbukti dari sisi inflasi yang cukup terkendali hingga Oktober lalu.

“Inflasi masih di atas 6 persen. Tapi faktor base effect akan membuatnya ke arah 4 persen, dan pada Desember ke 3 persen,” kata dia kepada Okezone, Jakarta, Selasa (17/11/2015).

Selain itu, neraca transaksi berjalan juga diakui David telah berada di bawah dua persen dari PDB. Sehingga, membuat BI sebenarnya memiliki ruang untuk menurunkan BI rate. Sayangnya, faktor eksternal masih menghantui nilai tukar Rupiah. Hal ini yang sepertinya membuat BI masih ragu dalam menurunkan BI rate.

“Fed akhir tahun kemungkinan akan mengumumkan suku bunganya. Jadi nunggu itu. Ekonomi China juga masih belum membaik. Volatilitilas masih meningkat. Kalau menurunkan sekarang agak susah. Jadi ini kita belum tau dampaknya ke maket,” lanjut dia.

Namun, jika defisit transaksi neraca berjalan dan inflasi terus membaik, dapat membuat kemungkinan turunnya BI rate pada tahun mendatang. Sebab, tidak ada lagi ketidakpastian yang datang dari faktor eksternal nantinya.

Sekedar informasi, BI sudah cukup lama menahan BI Rate. Sebelumnya pada RDG 18 November 2014 BI memutuskan untuk menaikan suku bunga BI rate sebesar 25 bps menjadi 7,75 persen dan kembali menurunkan pada 17 Februari 2015 menjadi 7,5 persen hingga RDG Oktober 2015 lalu.
http://economy.okezone.com/read/2015/11/17/20/1250614/dihantui-sentimen-luar-negeri-akankah-bi-rate-turun
Sumber : OKEZONE.COM

Bisnis.com, YOGYAKARTA — Sektor industri Indonesia disebut membutuhkan penurunan suku bunga kredit agar bergairah di tengah kondisi ekonomi global yang melambat. Hal itu akan mendukung industri yang saat ini menuju proses hilirisasi untuk mengurangi ketergantungan ekonomi dari sektor komoditas.

Saleh Husen, Menteri Perindustrian, berpendapat suku bunga kredit di Indonesia saat ini masih terlalu tinggi sehingga kurang kompetitif dibandingkan dengan negara di ASEAN lainnya. Akhirnya, banyak perusahaan di sektor industri yang meminjam uang dari perbankan di luar negeri.

“Saya tidak bilang suku bunga kredit harus turun, agar bisa kompetitif. Kita bisa lihat suku bunga di Singapura sekarang sekitar 5%,” ujarnya setelah rapat koordinasi pemerintah, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia pada Jumat (13/11/2015).

Sampai saat ini suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) masih berada di 7,5%.

Dengan suku bunga yang kompetitif pun disebut akan mendukung rencana pemerintah terkait mendorong industri hulu ke hilir. Selain itu, pemerintah juga menargetkan penurunan impor bahan baku.

“Industri akan didorong untuk mengambil atau membuat bahan baku di dalam negeri saja. Jadi, dengan begitu akan menguntungkan industri sektor hulu dan intermedien,” sebutnya.

JAKARTAsindonews – Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga properti residensial melambat pada kuartal IV 2015. Hal ini terlihat dari indeks harga properti residensial secara kuartalan (qtq) yang melambat dibandingkan kenaikan harga rumah pada kuartal III 2015.

“Kenaikan harga properti residensial yang melambat juga diprediksi terjadi secara tahunan (yoy),” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara di Jakarta, Kamis (12/11/2015).

Berdasarkan survei harga properti residensial Bank Indonesia, pertumbuhan indeks harga properti residensial pada kuartal III mengalami perlambatan baik secara kuartalan maupun secara tahunan, masing-masing sebesar 0,99% (qtq) dan 5,46%(yoy).

Menurut Tirta, kenaikan harga bahan bangunan, upah pekerjaan, dan kenaikan harga bahan bakar minyak merupakan faktor utama penyebab kenaikan harga properti residensial.

Secara tahunan (yoy), lanjut dia, harga properti residensial juga mengalami kenaikan yang melambat. Pertumbuhan harga properti residensial secara tahunan tercatat sebesar 5,46% (yoy), melambat dibandingkan kenaikan harga pada kuartal II tahun 2015 sebesar 5,95% (yoy).

Di samping itu, perlambatan kinerja properti juga terlihat dari melambatnya pertumbuhan penjualan properti residensial, dari 10,84% (qtq) pada kuartal II 2015 menjadi 7,66% (qtq) pada kuartal III tahun 2015. “Perlambatan penjualan diduga karena konsumen menunda pembelian properti terkait kondisi fundamental perekonomian yang melambat,” terangnya.

Dari sisi supply, kata Tirta, ada aturan LTV terbaru yang mengharuskan adanya jaminan tambahan dari pengembang dirasa memberatkan cashflow perusahaan.

Sementara itu, perlambatan penjualan properti juga tercermin dari melambatnya penyaluran KPR dan KPA pada kuartal III 2015 sebesar 1,08% (qtq).

Meski demikian, penggunaan KPR masih menjadi sumber pembiayaan dominan bagi konsumen dalam pembelian properti residensial, dengan suku bunga rata-rata antara 9% sampai 12%. “Sedangkan itu dari sisi developer, dana internal perusahaan yang berasal dari laba ditahan masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial,” tandasnya.
(dmd)

source: http://ekbis.sindonews.com/read/1061109/179/kenaikan-harga-properti-diperkirakan-melambat-1447335895

JAKARTA kontan. Seperti janji pemerintah, perekonomian nasional akan semakin menggeliat mulai kuartal III 2015.

Setelah melambat pada kuartal II, ekonomi Indonesia mampu bergerak lebih cepat pada triwulan III.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat,  ekonomi Indonesia pada kuartal III 2015 tumbuh sebesar 4,73% dibandingkan dengan periode sama tahun 2014 atau secara year on year (yoy).

Angka ini juga naik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II yang sebesar 4,67%.

Namun, apa iya, roda ekonomi bisa bergerak lebih kencang lagi pada sisa tahun ini, sehingga realisasi pertumbuhan tak meleset jauh dari target tahunan yang awalnya sebesar 5,3%.

Memang, pemerintah pun memperkirakan target pertumbuhan ekonomi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015 sulit tercapai.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, menyebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini hanya akan berkisar 4,9%-5,1%.

Dengan demikian, berkaca pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal sebelumnya yang di bawah 4,7%, maka pada triwulan akhir ini, pertumbuhan ekonomi harus melejit di atas 5%.

Darmin berkeyakinan, angka 4,9%-5,1% adalah paling realistis.

Hal itu mendasarkan pada belanja pemerintah pusat yang akan terus meningkat.

Pada kuartal III, belanja pemerintah berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang sempat lesu pada kuartal sebelumnya.

BPS melaporkan, belanja barang pemerintah pada kuartal III 2015 tumbuh 34,28% dibanding kuartal sebelumnya.

Sementara belanja modal meningkat sekitar 58,10% dibandingkan dengan belanja kuartal sebelumnya.

Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, realisasi belanja negara hingga akhir September 2015 mencapai Rp 1.248,9 triliun atau 62,9% dari alokasi dana.

Dengan demikian, jika pemerintah ingin menggunakan semua alokasi dana tersebut, masih tersisa anggaran sekitar Rp 699,2 triliun.

Selain dari belanja pemerintah, Darmin meyakini sektor investasi juga akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

“Sampai September lalu, realisasi investasi cukup besar loh,” kata Darmin, kamis (5/11) di Istana Negara, Jakarta.

Memang, dua sektor itu berpotensi mendongkrak pertumbuhan ekonomi di sisa akhir tahun ini.

Namun, bisa jadi pertumbuhan ekonomi tidak akan melejit seperti perhitungan pemerintah.

Salah satu penyebabnya adalah kemampuan belanja pemerintah yang tak optimal.

Oke, pemerintah masih punya sisa alokasi dana yang belum terpakai sebanyak 36,1% dari APBN Perubahan 2015.

Namun, apa artinya sisa alokasi dana yang besar jika sumber pendapatan pemerintah tak mampu mencukupinya.

Data Kemkeu mencatat, realisasi penerimaan negara dan hibah hingga September 2015 mencapai Rp 989,8 triliun atau  56,2%.

Penerimaan pajak dalam negeri yang jadi sumber terbesar hanya mampu menyumbang Rp 775,3 triliun atau terealisasi 53,8% dari target.

Masalahnya, pemerintah pesimistis target pendapatan negara dan hibah tahun ini sebesar Rp 1.761,6 triliun bisa tercapai seluruhnya.

Selisih kekurangan (shortfall) penerimaan pajak tahun ini diperkirakan akan mencapai Rp 160 triliun.

Artinya, jika pemerintah tak mau memperbesar utang, dana belanja juga harus dikurangi sesuai jumlah shortfall tersebut.

Nah, kemungkinan nilai shortfall pajak akan lebih besar lagi.

Data terbaru Ditjen Pajak menunjukkan, per 4 November 2015, penerimaan pajak hanya mencapai Rp 774,5 triliun atau 59,8% dari target.

Angka ini juga lebih rendah 0,23% dibandingkan dengan penerimaan pada periode yang sama tahun lalu.

Walhasil, daya dongkrak belanja negara terhadap pertumbuhan ekonomi bakal melemah.

Tabel Realisasi APBN Perubahan 2015 (Rp triliun)

Uraian Target APBNP 2015 Realisasi APBNP
A. Pendapatan Negara & Hibah 1.761,6 989,8
I. Penerimaan Dalam Negeri 1.758,3 989,3
1. Penerimaan Perpajakan 1.489,3 800,9
a. Pajak Dalam Negeri 1.440 776,3
b. Pajak Perdagangan Internasional 49,3 25,7
2. PNBP 269,1 188,4
II. Hibah 3,3 0,4
B. Belanja Negara 1.984,1 1.248,9
I. Belanja Pemerintah Pusat 1.319,5 737,7
1. Belanja Pegawai 293,1 212,6
2. Belanja Barang 238,8 108,2
3. Belanja Modal 275,8 76,8
4. Pembayaran Kewajiban Utang 155,7 122,8
5. Subsidi 212,1 148,8
6. Belanja Hibah 4,6 0,4
7. Bantuan Sosial 107,7 66,1
8. Belanja Lainnya 31,7 2
II. Transfer Ke Daerah & Dana Desa 664,6 511,2
1. Transfer ke Daerah 643,8 494,6
2. Dana Desa 20,8 16,6
Surplus/Defisit Anggaran -222,5 -259,2

Sumber: Kemkeu

Dari sisi investasi, memang masih ada peluang kegiatan penanaman modal akan terus menggiat di seluruh Indonesia.

Namun, apakah kontribusinya bisa langsung terasa ke pertumbuhan ekonomi?

Untuk melihat lebih jelasnya, patut dicermati data impor bahan baku/penolong dan barang modal yang merupakan penyumbang pembentukan modal tetap bruto (PMTB).

Sudah dua tahun terakhir, impor barang modal dan bahan baku/penolong dalam tren melemah (lihat tabel).

Tabel Perkembangan Impor Bahan Baku dan Barang Modal Periode 2010-2015.

Tahun Impor Bahan Baku (US$ miliar) Impor Barang Modal (US$ miliar)
2010 98.75 26.92
2011 130.93 33.11
2012 140.13 38.15
2013 141.96 31.53
2014 136.21 29.30
2015* 81.56 18.37

Keterangan: * Hingga September 2015                                            Sumber: BPS

Dan menjelang akhir tahun ini, impor barang modal dan bahan baku/penolong juga kembali dalam tren melemah (lihat tabel).

Tabel Perkembangan Impor Bahan Baku dan Barang Modal Tahun 2015.

Bulan Impor Bahan Baku (US$ miliar) Impor Barang Modal (US$ miliar)
Januari 9.62 2.21
Februari 8.76 1.96
Maret 9.33 2.35
April 9.68 2.03
Mei 8.71 1.95
Juni 9.77 2.18
Juli 7.68 1.69
Agustus 9.27 2.04
September 8.66 2.03

Sumber: BPS

Pelemahan impor barang modal dan bahan baku/penolong bisa menjadi pertanda industri dalam negeri kembali lesu.

Ini sejalan dengan hasil survei kegiatan dunia usaha oleh Bank Indonesia terbaru, yang memperkirakan kinerja sektor industri pengolahan masih akan mengalami tekanan kontraksi pada kuartal IV 2015.

Hal ini tercermin dari nilai promp manufacturing index (PMI) triwulan IV hanya sebesar 47,86%.

Industri pengolahan akan ekspansi jika PMI di atas 50%.

Dengan PMI masih di bawah 50%, jangan kontribusi PMTB terhadap pertumbuhan ekonomi bisa melonjak.

Padahal, pada kuartal III 2015, PMTB merupakan sumber pertumbuhan ekonomi terbesar kedua setelah konsumsi rumah tangga.

Konsumsi rumah tangga menyumbang 2,67%, PMTB sebesar 1,47%, belanja pemerintah 0,54% dan konsumsi lembaga non profit rumah tangga (LNPRT) 0,07%.

Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi menjelaskan, pertumbuhan dari sisi investasi cukup mengkhawatirkan.

Pertumbuhan investasi yang potensinya bisa mencapai 8% pada tahun ini akan sulit dicapai.

Proyeksi DBS, pertumbuhan investasi hanya akan berada di kisaran 3,5%.

Penyebab utamanya yaitu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Sebanyak 60% bahan produksi yang masih mengandalkan impor, membuat investor enggan memperluas investasinya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menganalisa, pertumbuhan ekonomi pada sisa akhir tahun ini memang sulit melejit sesuai harapan pemerintah.

Selain karena efek investasi yang minim, rendahnya pertumbuhan ekonomi juga akibat pelemahan daya beli konsumen.

Ekonom Bank Danamon, Dian Ayu Yustina, menyatakan, pemerintah memang punya keterbatasan menggunakan dana anggaran.

Namun, masih ada peluang untuk mengoptimalkan penggunaan dana belanja demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

“Realisasi belanja memang tidak bisa 100%, pemerintah harus optimalkan dana yang ada untuk pertumbuhan ekonomi,” jelas Dian, Jumat (13/11).

Caranya, dengan mengutamakan penggunaan dana untuk proyek infrastruktur.

“Proyek infrastruktur akan mendorong perekonomian lebih cepat,” tandas Dian.

Namun, Dian memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tak bisa meleset hingga 5% lebih.

Jika hal itu tercapai, Dian menghitung pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini hanya akan mencapai 4,8%.

“Tapi dengan kondisi yang ada, angka 5% (pertumbuhan ekonomi kuartal IV) sulit tercapai, sehingga target 4,8% (tahunan) juga berat didapatkan,” terang Dian.

Josua memproyeksikan, ekonomi Indonesia hanya tumbuh di bawah 5%.

“Kemungkinan ekonomi hanya tumbuh 4,75%-4,8%,” katanya.

Ekonomi masih bisa naik lagi asalkan pemerintah berupaya menaikkan daya beli.

Salah satunya dengan menurunkan harga BBM.

Apalagi harga minyak belum akan naik dari US$ 50 per barel.

INILAHCOM, Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia masih mengeluhkan masih tingginya suku bunga kredit. Belum lagi persyaratan yang rumit.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perbankan & Finansial, Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, bunga pinjaman perbankan nasional masih terbilang tinggi. Hal ini dipengaruhi tingkat efisiensi lembaga keuangan dan perbankan di Indonesia masih rendah di banding lima negara anggota di Asean.

“Tingkat net interest margin (NIM) di Indonesia masih di atas 4,5 persen, sedangkan NIM di lima negara ASEAN di kisaran angka 3 persen,” kata Rosan di Jakarta, Senin (9/11/2015).

Rosan bilang, tingginya NIM perbankan di Indonesia, berdampak kepada biaya dan tingkat suku bunga perbankan masih tinggi. Saat ini, suku bunga di Indonesia di kisaran 12%, jauh di atas Thailand yang besarnya 6,5%, Filipina 5,5%, Singapura 5% dan Malaysia 4,5%.

“Hal ini berimbas pada dunia usaha, terutama dalam konteks pembiayaan. Kondisi ekonomi yang sudah berefek pada capital flight, naiknya harga-harga barang impor, dan meningkatnya hutang, akan semakin sulit bagi dunia usaha jika kredit perbankan pun ikut menjadi beban,” ucap Rosan.

Sementara itu, Yukki Hanafi, Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) memandang poin-poin pemaparan Rosan sangat positif bagi dunia usaha.

Yukki menilai, Rosan layak memimpin Kadin karena dianggap piawai dalam membangun komunikasi yang efektif dengan setiap poros bisnis-industri di Tanah Air. “Figur seperti itu kita temukan pada diri Rosan,” kata Yukki. [ipe]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2251257/suku-bunga-kredit-indonesia-termahal-se-asean#sthash.QZijeHig.dpuf

Jakarta detik -Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, siang ini menyambangi kantor Menko Perekonomian, Darmin Nasution. Pertemuan ini membicarakan paket kebijakan ekonomi jilid II yang diluncurkan beberapa waktu lalu, yaitu penurunan hingga pembebasan pajak deposito.

Kebijakan tersebut dibuat untuk mendorong eksportir menyimpan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri, dalam bentuk deposito di perbankan.

“Pelaksanaan DHE yang mau dikonversi jadi deposito dan akan diberikan insentif,” ungkap Agus, saat meninggalkan kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/11/2015)‎

Agus datang sekitar pukul 14.00 WIB dan mengikuti pertemuan kurang lebih satu setengah jam. Dalam pertemuan, Agus mengakui masih ada perlunya harmonisasi antara beberapa lembaga untuk mengeksekusi kebijakan.

“Bagaimana penyelarasan di antara lembaga-lembaga, nanti akan dijelaskan,” imbuhnya.

Peserta pertemuan lainnya adalah dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang diwakili oleh Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Penerimaan, Astera Primanto Bhakti. Astera menyebutkan pentingnya pertemuan agar kebijakan bisa berjalan efektif.

“Kan kita bicara implementasinya. Iya gimana supaya efektif, kan ini ada kaitan dengan BI dan lembaga lain,” tambah Astera pada kesempatan yang sama.

Berikut rincian pajak deposito dalam bentuk dolar AS:

  • deposito satu bulan pajaknya 10%
  • deposito tiga bulan pajaknya 7,5%
  • deposito enam bulan pajaknya 2,5%
  • deposito di atas enam bulan pajaknya 0%

Sementara pajak deposito dalam bentuk rupiah:

  • deposito satu bulan pajaknya 7,5%
  • deposito tiga bulan pajaknya 5%
  • deposito enam bulan ke atas pajaknya 0%

(mkl/dnl)

Selasa, 10/11/2015 Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan bahwa aspek pembiayaan merupakan kunci dalam perkembangan dunia industri di Tanah Air. Sayangnya, tingkat bunga pinjaman perbankan nasional saat ini masih terhitung tinggi.

NERACA

“Hal ini dipengaruhi oleh tingkat efisiensi lembaga keuangan dan perbankan di Indonesia masih rendah bila dibandingkan lima negara besar di ASEAN,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P Roeslani dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (9/11).

Menurut dia, tingkat Net Interest Margin (NIM) di Indonesia berada di atas 4,5%, sedangkan NIM di lima negara ASEAN dikisaran tiga persen. Tingginya NIM industri perbankan di Indonesia mengakibatkan biaya dan tingkat suku bunga perbankan masih tinggi.

Lebih lanjut, Rosan mengatakan tingkat suku bunga yang masih tinggi membuat industri nasional enggan melakukan ekspansi. Dibandingkan lima negara ASEAN lainnya, tingkat suku bunga Indonesia merupakan yang tertinggi yaitu pada kisaran 12%. Sedangkan Thailand 6,5%, Filipina 5,5%, Singapura 5% dan Malaysia sebesar 4,5%.

“Hal ini berimbas pada dunia usaha, terutama dalam konteks pembiayaan. Kondisi ekonomi yang sudah berefek pada capital flight, naiknya harga-harga barang impor, dan meningkatnya utang, akan semakin sulit bagi dunia usaha jika kredit perbankan pun ikut menjadi beban,” ujanya.

Sebelumnya Direktur Utama Bank Mandiri Budi G. Sadikin mengatakan, penurunan suku bunga perbankan tergantung pada tingkat suku bunga acuan (BI Rate) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI). Jika BI Rate diturunkan, maka suku bunga bank otomatis akan mengikutinya.

“Kalau kita akan mengikuti BI Rate. Jadi saya rasa harusnya inflasi sudah turun pasti nanti ada ruang BI untuk turunkan BI Rate,” ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Dia menjelaskan bila kebijakan menurunkan BI Rate ini ada di tangan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, utamanya di tangan Gubernur BI Agus Martowardojo. Meski penurunannya belum diketahui pasti namun Budi meyakini bila cepat atau lambat BI Rate akan diturunkan.

“Kalau itu call-nya ada di beliau (Gubernur BI). Tapi kalau kita merasa pasti (BI Rate) suatu saat akan turun,” ujar Budi.

Lebih dari itu, lanjut Budi, penurunan suku bunga kredit tidak akan dipengaruhi oleh penurunan suku bunga deposito bank. Dirinya menegaskan, penurunan tersebut hanya akan terjadi bila BI Rate diturunkan.

“Bunga deposito diturunkan itu enggak besar room-nya (menurunkan suku bunga bank). Itu akan terbuka kalau BI rate-nya turun,” ujarnya.

Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan pelonggaran kebijakan moneter yang akan dilakukan bank sentral belum tentu selalu terkait dengan kebijakan penurunan suku bunga acuan (BI Rate).

“Kebijakan moneter itu tidak harus dilihat hanya suku bunga, bisa saja instrumen lain dari kebijakan moneter,” kata Mirza, seperti dikutip dari Antara di Surabaya, belum lama ini.

Mirza tidak menyebutkan instrumen lain dari kebijakan moneter selain penyesuaian suku bunga acuan. Namun, ia memastikan adanya ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter melihat laju inflasi serta kinerja defisit transaksi berjalan hingga akhir tahun.

“Ruang pelonggaran moneter karena dua faktor utama. Satu, inflasi kita kita bisa di bawah empat persen tahun ini. Kedua, CAD atau defisit transaksi berjalan kita itu terkendali di bawah 2,5% dan bisa di 2,1%,” ujarnya.

Terkait penurunan cadangan devisa, Mirza mengatakan, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena kondisi itu juga terjadi di berbagai negara berkembang lainnya sebagai antisipasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).

“Memang kita harus mengatasi gejolak di negara berkembang terkait dengan penguatan suku bunga Amerika. Tapi cadangan devisa kita masih di atas 6,5 bulan impor dan juga untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jadi tidak harus khawatir,” ujarnya.

Ruang untuk menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) makin lebar, seiring dengan inflasi yang mengarah di bawah 4% hingga akhir tahun.

Dalam dua bulan terakhir, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis indeks harga konsumen mencetak deflasi, masing-masing 0,05% pada September dan 0,08% pada Oktober.

“Sebetulnya dilihat dari (deflasi) itu, ada ruang untuk turunkan tingkat bunga. Kenapa BI belum menurunkan, saya juga enggak ngerti kenapa kira-kira. Dia (mungkin) masih takut sama goyang-goyang rupiah,” kata Menko bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Jakarta (2/11).

Darmin menjelaskan, dengan inflasi hingga akhir tahun yang diprediksikan mencapai 3,6%, artinya Real Interest Rate (RIR) makin jauh. RIR ini adalah selisih antara BI Rate dengan inflasi.

“Nanti akhir tahun inflas kita 3,6%. Padahal BI Rate 7,5%. Selisihnya hampir 4%. Biasanya bedanya 1%,” ujarnya.

Lantas apa yang bisa dilihat dari RIR yang lebar ini? Darmin mengatakan, orang-orang bakal lebih senang menyimpan uang, daripada meminjam uang dari bank. Namun yang pasti, Darmin menyerahkan sepenuhnya urusan moneter kepada Agus DW Martowardojo beserta pertimbangannya.

“Kalau impact RIR-nya 4 % tanya BI lah. Tapi intinya adalah kenapa dia enggak turunkan juga? Karena dia melihat kurs masih ada volatile. Kalau soal The Fed, itu urusan nanti,” ujarnya.

Bangun Sinergitas

Kadin Indonesia juga menilai asosiasi-asosiasi usaha merupakan pelaku-pelaku riil di berbagai sektor bisnis-industri. Maka itu, Kadin terus membangun sinergi lintas asosiasi agar mampu mensosialisasikan kebijakan pemerintah demi membangun perekonomian Indonesia di tengah keterpurukan.

Menurut Rosan, UU Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kadin menyebutkan bahwa Kadin merupakan organisasi dunia usaha yang mewadahi komunikasi dan konsultasi antarpengusaha dan antara pengusaha dengan pemerintah yang berkaitan dengan masalah perdagangan, perindustrian dan jasa. Peran ini penting, salah satunya untuk meminimalkan ego-sektoral.

“Dalam kondisi saat ini (perlambatan laju ekonomi global-nasional) Kadin bersama asosiasi perlu menjembatani dunia usaha sebagai mitra dialog strategis pemerintah. Tujuannya, supaya paket-paket ekonomi yang dikeluarkan pemerintah benar-benar selaras dengan kepentingan dunia usaha,” ujarnya. bari/mohar/fba

 

http://www.neraca.co.id/article/61267/suku-bunga-bank-masih-tinggi-penilaian-kadin-indonesia
Sumber : NERACA.CO.ID

JAKARTA okezone– Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang PS Brodjonegoro meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 sebesar 4,8 persen. Angka ini berada di bawah prediksi sebelumnya yaitu lima hingga 5,2 persen.

“Sampai akhir tahun 4,8 persen,” kata dia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (6/11/2015).

Angka ini berarti sama dengan prediksi Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution yang juga menyatakan pertumbuhan di kisaran 4,8 persen pada tahun ini. Padahal, sebelumnya Bambang sempat yakin pertumbuhan berada di angka lima persen.

Sekedar informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2015 sebesar 4,7 persen, kuartal II-2015 sebesar 4,67 persen dan kuartal III-2015 sebesar 4,73 persen. Hal ini berarti cukup sulit untuk mencapai angka lima persen hingga akhir tahun.

Sementara itu, pada kuartal IV-2015, Bambang memprediksi pertumbuhan ekonomiakan sebesar 4,9 hingga lima persen. “Yah sekitar 4,9 sampai lima persen lah,” tandas dia.

Menkeu Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2015

(mrt)

 

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, bertambah 320.000 orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 7,24 juta jiwa.
Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik (BPS) Razali Ritonga menuturkan pertambahan pengangguran tersebut akibat meningkatnya jumlah angkatan tenaga kerja seiring dengan melemahnya daya serap tenaga kerja dari beberapa industri.
“Ya memang ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan daya serap yang agak menurun sehingga pengangguran meningkat. Jadi ada new entry yang pencari kerja baru tidak terserap ditambah sebagian ada PHK sehingga ada missmatch,” ujarnya di kantor pusat BPS, Jakarta, Kamis (5/11/2015).
Sebagian industri yang melakukan PHK, lanjutnya, merupakan industri yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Pasalnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut menambah beban biaya produksi sektor industri tersebut.
“Kebanyakan memang yang bergantung dengan impor. Terjadi penghematan ongkos produksi, salah satunya mengurangi tenaga kerja. Akibat nilai tukar naik, yang impor rugi, yang ekspor untung,” kata Razali.
Seperti diketahui, BPS melaporkan angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2015 sebanyak 122,4 juta orang.
Kkeadaan ketenagakerjaan di Indonesia pada Agustus 2015 menunjukkan adanya penurunan jumlah angkatan kerja sebanyak 5,9 juta orang dibanding Februari 2015.
Namun, bila dibandingkan pada Agustus 2014, keadaan ketenagakerjaan di Indonesia pada Agustus 2015 mengalami pertambahan 510.000 orang.
Penduduk bekerja pada Agustus 2015 tercatat sebanyak 114,8 orang, berkurang sebanyak 6 juta orang dibandingkan Februari 2015 dan bertambah sebanyak 190.000 orang dibandingkan Agustus 2014.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2015 sebesar 6,18% meningkat dibanding TPT Februari 2015 yang sebesar 5,81% dan TPT pada Agustus 2014 yang sebesar 5,94%.
Jumlah penganggur pada Agustus 2015 meningkat sebanyak 110.000 orang dibanding Februari 2015 dan bila dibanding Agustus 2014 naik sebanyak 320.000 orang.
Sementara, jumlah angkatan kerja dalam setahun terakhir mengalami peningkatan berbanding terbalik dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) yang menurun sebesar 0,84%.

JAKARTA – Deflasi yang melanda Indonesia membuat Bank Indonesia (BI) seharusnya memiliki ruang untuk menurunkan suku bunganya (BI rate). Namun, hingga saat ini BI masih tetap mempertahankan BI rate di kisaran 7,5 persen.

Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, inflasi 2015 diprediksi di kisaran 3,6 persen. Hal ini membuat selisih antara inflasi dan BI rate atau real interest rate (RIR) masih cukup besar.

“Nanti akhir tahun inflasi kita 3,6 persen kira-kira. Padahal BI rate 7,5 persen, selisih empat persen. Biasanya enggak pernah sebesar itu, paling selisih hanya satu persen. Sebetulnya dilihat dari itu mustinya ada ruang nurunkan BI Rate,” kata Darmin saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (2/11/2015).

Namun, Darmin mengaku paham dengan alasan BI yang hingga saat ini belum berani menurunkan BI rate. Hal ini disebut lantaran BI menjaga Rupiah dari kegoncangan.

“Kenapa BI belum turunkan? Saya mengerti dia masih takut sama goyang-goyangnya Rupiah. BI melihat kursnya masih volatil,” ujar dia.

Dengan belum diturunkannya BI rate, menurut Darmin juga akan berpengaruh pada tingkat kredit di Indonesia. Pasalnya, orang-orang akan lebih senang menyimpan uangnya dibandingkan dengan melakukan pinjaman.

“Sebetulnya orang jadi lebih senang menyimpan daripada meminjam,” tandas dia.

(rzk)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s