surplus selalu menarik, walo lom tentu nikmat … 150510_130816

dollar small

lol

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) melaporkan, neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2016 surplus 2,2 miliardollar AS. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan NPI kuartal I 2016 yang defisit 300 juta dollar AS.

Surplus ini didorong menurunnya defisit transaksi berjalan dan meningkatnya surplus transaksi modal dan finansial.

Bank sentral menyebut, perkembangan ini menunjukkan keseimbangan eksternal perekonomian yang semakin baik dan turut menopang terjaganya stabilitas makroekonomi.

Defisit transaksi berjalan turun menjadi 4,7 miliar dollar AS atau 2 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Sebelumnya pada kuartal I 2016 defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 2,2 persen dari PDB atau 4,8 miliar dollar AS.

“Defisit transaksi berjalan menurun didorong oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas. Penurunan tersebut ditopang kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas akibat peningkatan ekspor nonmigas yang lebih besar dari peningkatan impor nonmigas,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara Jumat (12/8/2016).

Surplus transaksi modal dan finansial meningkat, didukung persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik dan meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Surplus transaksi modal dan finansial pada kuartal II 2016 mencapai 7,4 miliar dollar AS, lebih besar dibandingkan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar 4,6 miliar dollar AS, terutama ditopang aliran masuk modal investasi portofolio.

Aliran masuk modal investasi portofolio neto meningkat signifikan mencapai 8,4 miliar dollar AS pada kuartal II 2016, sebagian besar didukung penerbitan obligasi global pemerintah dan net inflows dari investor asing yang melakukan pembelian di pasar saham serta pasar SBN rupiah.

“Selain itu, surplus investasi langsung juga tercatat meningkat menjadi 3 miliar dollar AS dari 2,7 miliar dollar AS pada kuartal I 2016, seiring dengan positifnya prospek ekonomi domestik,” terang Tirta.

Perkembangan NPI tersebut pun memperkuat cadangan devisa. Posisi cadangan devisa meningkat dari 107,5 miliar pada dollar ASakhir kuartal I 2016 menjadi 109,8 miliar dollar AS pada akhir kuartal II 2016.

Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.

 dollar small

JAKARTA bisnis.com – Performa neraca perdagangan sepanjang paruh pertama tahun ini atau semester I/2016 dipandang masih berisiko tertekan kendati masih mencetak surplus. Surplus diperkirakan tergerus dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Neraca perdagangan Juni bahkan berisiko defisit tipis. Kebijakan impor bahan pangan pemerintah dinilai ikut menjadi pemicu di tengah lesunya ekspor nasional.

Direktur Penelitian Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menuturkan jika melihat tren sepanjang tahun ini, dia memprediksi surplus neraca perdagangan pada paruh pertama tahun ini akan tergerus sekitar 40%—60% dari posisi periode yang sama tahun lalu, atau menjadi sekitar US$2,24 miliar—US$2,68 miliar.

“Selama semester I tahun ini, neraca perdagangan kita akan cenderung menurun, walaupun masih tetap surplus. Salah satu faktornya adalah konsumsi barang impor jelang Ramadan, sedangkan ekspor komoditas walaupun meningkat tetap tidak signifikan,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis (14/7).

Dia melanjutkan, neraca perdagangan Juni berisiko defisit. Pasalnya, surplus neraca perdagangan pada Mei juga sudah tipis dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Padahal, pembukaan keran impor kian gencar pada Juni sehingga besar kemungkinan posisi impor akan jauh lebih besar dibandingkan dengan ekspor.

Namun demikian, dilihat dari struktur impor Indonesia, Faisal menekankan sebenarnya porsi barang konsumsi jauh lebih kecil dibandingkan dengan bahan baku dan barang modal. Walau demikian, ekspor juga tak menunjukkan perbaikan sehingga kebijakan impor pada akhirnya turut memberatkan kinerja neraca dagang.

Dia menambahkan, performa neraca perdagangan sebenarnya terbantu oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kendati di sisi lain, apresiasi rupiah ini justru cenderung menekan ekspor.

Secara terpisah, peneliti Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus memperkirakan neraca perdagangan masih akan surplus meski tergerus, yakni sekitar US$2,9 miliar—US$3,1 miliar.

“Namun, surplus yang terjadi cenderung tidak sehat karena ekspor juga turun. Ke depan, seharusnya surplus ditopang oleh penguatan ekspor,” tuturnya.

Menurutnya, secara keseluruhan sektor nonmigas masih bisa menopang performa migas yang turun cukup dalam karena depresiasi harga minyak dunia. Meski demikian, dia menekankan pemerintah perlu mewaspadai penurunan ekspor yang mengindikasikan gejala pelemahan produksi industri dalam negeri.

Mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan semester I/2015 tercatat surplus US$4,47 miliar. Jumlah ini melambung tajam dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana neraca dagang justru defisit  US$1,13 miliar.

Adapun, sepanjang Januari-Mei 2016 surplus neraca perdagangan sudah menunjukkan pelemahan secara year-on-year (yoy) di mana surplus tergerus 31,56% dari US$3,94 miliar menjadi US$2,69 miliar.

BPS pun sudah memprediksi impor akan cukup menekan performa neraca perdagangan. Pasalnya, volume impor barang konsumsi, termasuk bahan pangan, cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Secara terpisah, Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan kebijakan impor pemerintah takkan berpengaruh signifikan terhadap performa neraca perdagangan.

“Porsi bahan pangan dalam impor biasanya tidak terlalu tinggi. Apalagi impor yang dilakukan masih terus dikendalikan melalui kuota,” ungkapnya.

Di sisi lain, sejumlah pihak memang mengkhawatirkan tren porsi impor barang konsumsi yang naik sedangkan impor bahan baku dan barang modal yang bersifat produktif justru kian turun.

“Ini yang menjadi concern kita. Impor bahan baku dan capital yang terus menurun. Ini mengindikasikan bahwa investasi dan industri ke depan belum menunjukkan perkembangan yang berarti,” kata peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia I Kadek Dian Sutrisna.

 bird_bbri_unvr

Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor Indonesia pada Juni ini meningkat 12,18 persen sebesar US$ 12,92 miliar dibanding Mei 2015 yang terealisasi US$ ‎11,5 miliar. Pencapaian tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juli 2015.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, laju ekspor di bulan keenam ini sebesar US$ 12,92 miliar ‎naik 12,18 persen ketimbang realisasi Mei lalu. Jika dibanding Juni 2015 yang sebesar US 13,51 miliar, pencapaian ekspor Juni lalu masih terkontraksi 4,42 persen.

Ekspor minyak dan gas (migas) mengalami peningkatan 23,92 persen dari US$ 960 juta di Mei lalu menjadi US$ 1,19 miliar, sedangkan non migas naik 11,12 persen dari US$ 10,56 miliar menjadi US$ 11,73 miliar.

“Ekspor Juni ini US$ 12,92 miliar merupakan yang tertinggi sejak Juli 2015. Juli tahun lalu, nilai ekspor kita US$ 11,4 miliar, Agustus tahun lalu US$ 12,7 miliar, dan bulan-bulan selanjutnya yang hanya di kisaran US$ 11 miliar-US$ 12 miliar,” ujar dia saar Rilis Neraca Perdagangan Juni di kantor BPS, Jakarta, Jumat (15/7/2016).

Secara total, kata Suryamin, ekspor Indonesia ke berbagai negara masih mengalami penurunan 11,37 persen dari Januari sampai Juni 2016 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara ekspor non migas di semester I ini turun 7,92 persen menjadi US$ 63,61 miliar.
Share terbesar masih komoditas lemak dan hewan nabati dengan ekspor senilai US$ 7,92 miliar, serta bahan bakar mineral US$ 6,47 miliar. ‎”Mudah-mudahan kinerja ekspor Juni ini menjadi gambaran yang lebih baik ke depan,” harap Suryamin.

Tiga negara yang menjadi pangsa pasar terbesar ekspor Indonesia, disebutkan dia, yakni Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar US 7,88 miliar (12,5 persen), kemudian disusul ke Jepang US$ 6,42 persen (10,19 persen), dan China diurutan ketiga ada China US$ 6,08 miliar (9,65 persen).

“Ekspor non migas Indonesia ke negara ASEAN mencapai US 13,7 miliar (21,78 persen) dan ke Uni Eropa sebesar US 7,03 miliar (11,16 persen),” pungkas Suryamin.

bird

koran sindo

Badan Pusat Statistik (BPS) siang ini merilis data mengenai neraca perdagangan sepanjang Mei 2016. Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan tercatat surplus sebesar USD 375,6 juta dengan nilai ekspor sebesar USD11,51 miliar dan nilai impor sebesar USD11,14 miliar.

Namun, surplus neraca perdagangan ini ternyata di luar dugaan. Pasalnya, BPS sebelumnya memperkirakan neraca perdagangan RI pada bulan Mei 2016 akan mengalami defisit seiring peningkatan impor bahan kebutuhan pangan.

“Surplus di luar dugaan karena bulan-bulan ini biasanya defisit,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo, saat ditemui di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Menurut Sasmito, surplus neraca perdagangan ini didorong oleh peningkatan nilai ekspor batu bara sepanjang bulan Mei. Selain itu, hal ini juga didukung oleh kenaikan ekspor minyak mentah yang mencapai 30,22 persen.

“Kenaikan impor memang lebih tinggi dari kata ekspor. Tapi untung ekspor tetap tinggi. Kita khawatir akan terjadi defisit. Tapi untung saja batu bara juga surplus. Kita juga bagus di ekspor minyak,” kata Sasmito.

BPS pun memperkirakan Indonesia akan kembali mengalami surplus pada Juli mendatang. Hanya saja, hal ini tergantung pada harga komoditas global sepanjang bulan Ramadan.

“Kita masih berpeluang untuk surplus. Tapi ini tergantung harga komoditas karena kita kan masih bergantung dengan ekspor komoditas seperti batu bara,” tutupnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/06/15/320/1415768/bps-kaget-neraca-perdagangan-ri-mampu-surplus-jelang-ramadan
Sumber : OKEZONE.COM

lol

Jakarta Globe. Indonesia’s trade surplus increased in April due to a larger-than-expected drop in imports, the statistics bureau said on Monday.

The bureau said the country had a $670 million surplus last month, compared to the median forecast in a Reuters poll of a $190 million surplus and March’s surplus of $497 million.

Exports declined for the 19th consecutive month on a yearly basis in April, by 12.65 percent, to $11.45 billion.

Analysts had expected a slower pace of decline.

Meanwhile imports, which have also contracted for as long, fell 14.62 percent from a year ago to $10.78 billion.

Low commodity prices have pressured Indonesia’s overseas sales for years and falling exports revenue hurt purchasing power and investment, which in turn took a toll on imports.

As the decline in imports has been deeper than exports at times, the overall trade balance has improved and the current account deficit has shrunk from few years ago.

Below are details of Indonesia’s trade in April:

Exports: $11.45 billion (-12.65% y/y) Imports: $10.78 billion (-14.62% y/y) Trade balance: +$0.67 billion

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0026

JAKARTA okezone – Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2016 mencatat nilai ekspor sebesar USD11,79 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 4,25 persen dibandingkan Februari sebesar USD11,31 miliar.

Deputi Distribusi dan Jasa BPS Hadi Sasmito mengatakan, secara kumulatif ekspor Indonesia Januari-Maret 2016 mencapai USD33,59 miliar atau turun 14 persen yoy. Sementara itu, Hadi mengatakan untuk nilai impor April 2016 mencapai USD10,78 atau turun 4,62 persen dibandingkan Maret 2016.

“Penurunan impor dialami oleh pangan dan gandum turun 69 persen, garam turun 10 persen, plastik turun 2 persen kemudian migas,” tuturnya di gedung BPS, Jakarta, Senin (15/5/2016).

Menurut Hadi, penurunan impor plastik karena dampak dari kebijakan plastik berbayar, sehingga produsen antisipasi dengan cepat antisipasi berkurang bahan baku impor pun berkurang. Gandum, gula turun karena faktor musim yang membuat pembuatan roti sereal masih cukup stoknya.

“Pada April dia belum (penurunan impor). Kemungkinan besar pada bulan Mei alami peningkatan stoknya. Kemudian yang perlu diperhatikan bahwa kondisi lain impor garam turun April 2016,” tuturnya.

Total impor Januari-April USD42,73 miliar turun 13,44 (yoy), impot non migas Januari-April 2016 USD37,4z miliar, turun 8,44 persen (yoy). “Share terbesar mesin dan peralatan mekanik sebesar USD6,81 miliar, mesin dan peralatan listrik USD4,79 miliar,” terangnya.

(mrt)

gifi

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia selama Maret 2016 mengalami surplus sebesar USD497 juta. Raihan ini akibat nilai ekspor yang mencapai USD11,79 miliar berbanding dengan nilai impor sebesar USD11,30 miliar.

Namun sayangnya, jika dibandingkan capaian surplus bulan sebelumnya, surplus neraca perdagangan Maret 2016 lebih rendah USD653 juta. Surplus neraca perdagangan pada Februari mencapai USD1,15 miliar.

“Untuk yang surplus bulanannya memang agak menurun meskipun setiap bulannya kita terus surplus. Kalau dibanding 2015 dan 2014 dengan periode sama, surplus kita kalah. Tapi kalau dibandingkan 2013 dan 2012, surplus kita lebih baik,” ujar Suryamin, dalam Konferensi Pers di Kantor BPS Pusat, Jalan dr Sutomo, Jakarta Pusat, Jumat (15/4/2016).

Dia menjelaskan, surplus ini dipicu oleh tingginya selisih ekspor-impor perdagangan nonmigas yang surplus USD797,7 juta. Meski terjadi defisit pada selisih ekspor-impor untuk perdagangan migas sebesar USD300,7 juta, namun total neraca perdagangan secara keseluruhan surplus USD497 juta.

“Ekspor nonmigas kita USD10,56 miliar dengan impornya USD9,76 miliar, artinya kita di sini surplus USD797,7 juta. Namun di ekspor migas kita hanya USD1,23 miliar atau lebih rendah dari impornya sebesar USD1,53 miliar,” imbuh dia.

Sementara untuk neraca perdagangan kumulatif pada Januari-Maret 2016 mengalami surplus sebesar USD1,65 miliar. Capaian kumulatif ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di mana pada periode Januari-Maret 2015 mencatat surplus sebesar USD2,43 miliar.

“Secara kumulatif kita hanya kalah dibanding capaian Januari-Maret tahun 2015. Tapi kita menang dibanding capaian kumulatif 2014 dengan USD1,07 miliar. Apalagi dibanding capaian 2013 yang defisit USD67,5 juta,” pungkas Suryamin.

http://ekonomi.metrotvnews.com/makro/zNPo6lWK-neraca-perdagangan-maret-surplus-usd497-juta
Sumber : MEDIA INDONESIA

 bird_bbri_unvr

JAKARTA – Kinerja neraca pedagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Februari 2016 sebesar US$ 1,14 miliar. Ini karena nilai ekspor yang mencapai US$ 11,30 miliar dan impor US$ 10,16 miliar.

Surplus pada Februari 2016 naik signifikan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$ 50,6 juta dan merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Perkembangan kinerja perdagangan ini menunjukkan ada perbaikan pada perekonomian dalam negeri. Namun, pemerintah jangan terlena karena surplus perdagangan masih dibarengi peningkatan impor barang konsumsi yang cukup besar, dan di sisi lain terjadi penurunan impor bahan baku/penolong dan barang modal.

Surplus pada Februari dipicu oleh ekspor yang meningkat 7,8% secara month to month (mtm) 7,8% dari US$ 10,48 miliar menjadi US$ 11,30 miliar. Dukungan ekspor tersebut berasal dari kinerja non minyak dan gas (non migas) yang naik 8,67% dari US$ 9,37 miliar menjadi US$ 10,19 miliar, dan migas meningkat tipis 0,47% menjadi US$ 1,11 miliar.

“Neraca perdagangan pada Februari 2016 mencapai surplus US$ 1,14 miliar merupakan yang tertinggi sejak lima tahun terakhir, mudah-mudahan ini berlanjut,” kata Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (15/3).

Suryamin menjelaskan, pada 2012 terjadi surplus US$ 828,6 juta, pada 2013 defisit US$ 297,7 juta, pada 2014 surplus US$ 843,4 juta, dan pada 2015 mengantongi surplus US$ 662,7 juta. (fik/ian/jn)

http://id.beritasatu.com/home/februari-neraca-perdagangan-surplus-us-114-miliar/141223
Sumber : INVESTOR DAILY

rose KECIL

Jakarta detik -Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV-2015 mencatat surplus sebesar US$ 5,1 miliar, setelah pada triwulan sebelumnya mencatat defisit sebesar US$ 4,6 miliar.

Surplus NPI ini ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar US$ 9,5 miliar yang melampaui defisit transaksi berjalan sebesar US$ 5,1 miliar (2,39% PDB).

Surplus NPI triwulan IV-2015 tersebut pada gilirannya mendorong kenaikan posisi cadangan devisa dari US$ 101,7 miliar pada akhir triwulan III-2015 menjadi US$ 105,9 miliar pada akhir triwulan IV-2015.

Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 7,4 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Demikian disampaikan Direktur Departemen Komunikasi BI Arbonas Hutabarat dalam keterangan resminya, Jumat (12/2/2016).

Defisit transaksi berjalan meningkat di tengah proses perbaikan perekonomian Indonesia. Defisit transaksi berjalan triwulan IV-2015 tersebut lebih besar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar US$ 4,2 miliar (1,94% PDB).

Kenaikan defisit transaksi berjalan tersebut bersumber dari penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas karena impor nonmigas tumbuh 7,5% (qtq) seiring dengan meningkatnya permintaan domestik pada triwulan IV-2015.

Peningkatan impor terbesar terjadi pada kelompok barang modal, diikuti oleh kelompok barang konsumsi dan bahan baku. Sementara itu, ekspor nonmigas terkontraksi 4,2% (qtq) dipengaruhi oleh permintaan global yang masih lemah dan terus menurunnya harga komoditas.

Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas menyusut seiring turunnya volume impor minyak dan harga minyak mentah dunia. Meski mengalami peningkatan defisit dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, kinerja transaksi berjalan triwulan IV-2015 membaik dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014 yang mencatat defisit sebesar US$ 6,0 miliar (2,70% PDB).

Surplus transaksi modal dan finansial meningkat signifikan seiring menurunnya ketidakpastian di pasar keuangan global dan membaiknya keyakinan terhadap prospek perekonomian Indonesia. Surplus transaksi modal dan finansial triwulan IV-2015 lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar US$ 0,28 miliar.

Kenaikan surplus transaksi modal dan finansial tersebut terutama didukung oleh kembali meningkatnya arus masuk investasi portofolio pada obligasi pemerintah, termasuk global bond.

Selain itu, kenaikan surplus transaksi modal finansial didukung pula oleh kenaikan investasi lainnya dan aliran masuk investasi langsung asing (FDI). Kenaikan investasi lainnya disebabkan antara lain oleh meningkatnya penarikan simpanan di luar negeri dan penarikan pinjaman luar negeri terkait meningkatnya realisasi proyek infrastruktur pemerintah.

Sementara itu, kenaikan aliran masuk investasi langsung asing (FDI) terutama pada sektor pertambangan, keuangan, dan manufaktur sejalan dengan perbaikan investasi domestik. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan IV-2015 tersebut relatif sama besar dengan surplus yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan tahun, NPI 2015 mengalami tekanan di tengah dinamika perkembangan ekonomi global dan domestik. NPI 2015 mengalami defisit US$ 1,1 miliar setelah tahun sebelumnya mencatat surplus US$ 15,2 miliar.

Tekanan terhadap kinerja NPI tersebut bersumber dari penurunan surplus transaksi modal dan finansial yang tidak dapat sepenuhnya membiayai defisit transaksi berjalan.

Namun demikian, defisit transaksi berjalan sebesar US$ 17,8 miliar (2,06% PDB), lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 27,5 miliar (3,09% PDB). Perbaikan tersebut disebabkan penurunan impor yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspornya, serta perbaikan kinerja neraca jasa dan neraca pendapatan.

Penurunan impor diakibatkan melemahnya permintaan domestik sebagai dampak dari melambatnya pertumbuhan ekonomi pada 2015. Sementara itu, penurunan ekspor didorong oleh melemahnya permintaan eksternal akibat melambatnya perekonomian dunia serta berlanjutnya penurunan harga komoditas global.

Di sisi lain, surplus transaksi modal dan finansial tahun 2015 turun menjadi US$ 17,1 miliar dari sebelumnya US$ 45,0 miliar pada 2014. Hal tersebut terutama didorong oleh aliran masuk modal investasi langsung dan kebutuhan pendanaan korporasi melalui pinjaman luar negeri yang menurun seiring dengan melambatnya perekonomian domestik.

Selain itu, penurunan transaksi modal finansial juga disebabkan oleh penurunan aliran masuk modal portofolio asing dan investasi lainnya. Penurunan aliran masuk modal portofolio asing yang cukup signifikan disebabkan oleh tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global, meskipun ketidakpastian di pasar keuangan global sudah mereda pada triwulan IV-2015.

Sementara itu, penurunan investasi lainnya diakibatkan oleh kenaikan simpanan sektor swasta di bank luar negeri akibat persepsi pelaku ekonomi terhadap perekonomian domestik yang sempat melemah.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai perkembangan global, khususnya risiko terkait perlambatan ekonomi Tiongkok dan terus menurunnya harga komoditas, yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan.

Namun, Bank Indonesia meyakini kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, khususnya dalam mendorong percepatan reformasi struktural.

(drk/drk)

long jump iconJAKARTA kontan. Sepanjang 2015, Indonesia mencatat neraca perdagangan surplus US$ 7,51 miliar. Indonesia masih mencapai surplus meski pada bulan Desember tercatat defisit US$ 235,8 juta.

“Neraca perdagangan tahun 2015 secara akumulasi paling tinggi setelah tahun 2011,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam konferensi persnya di Jakarta, Jumat (15/1).

Sekadar mengingatkan, neraca dagang Indonesia pada tahun 2014 tercatat defisit US$ 1,89 miliar.

Pada bulan Desember, neraca non-migas surplus US$ 262,7 juta namun tak bisa menutup neraca migas yang defisit US$ 498,5 juta.

long jump icon

Jakarta detik -Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan nilai impor Indonesia selama Januari-Desember 2015 sebesar US$ 142,74 miliar. Nilai impor ini mengalami penurunan sebesar 19,89% dibandingkan periode yang sama tahun 2014.

“Kumulatif nilai impor Indonesia Januari-Desember 2015 sebesar US$ 142,73 miliar atau turun US$ 35,43 miliar (19,89%) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,” papar Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Jumat (15/1/2016).

Suryamin menjelaskan, penurunan terjadi baik pada impor migas maupun non migas. Impor migas menurun sampai US$ 18,84 miliar atau 43%, sedangkan impor non migas anjlok US$ 16,59 miliar atau 12,32%.

“Penurunan impor migas disebabkan oleh turunnya seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah US$ 5 miliar (38,32%), hasil minyak US$ 12,82 miliar (46,87%), dan gas US$ 1,01 miliar (33,45%),” ujarnya.

Selama 13 bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada Desember 2014 dengan nilai mencapai US$ 3,38 miliar dan terendah terjadi di November 2015, yaitu US$ 1,64 miliar. Sementara nilai impor non migas tertinggi tercatat di Desember 2014, yaitu US$ 11,04 miliar, dan terendah di Juli 2015 dengan nilai US$ 7,78 miliar.

‎Impor barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama 2015 turun masing-masing sebesar 14,16%, 21,35%, dan 15,56%.

Tiga negara asal barang impor non migas terbesar pada 2015 adalah China dengan nilai US$ 29,22 miliar (24,73%)‎, Jepang US$ 13,23 miliar (11,2%), dan Singapura US$ 8,97 miliar (7,6%).

Adapun total nilai ekspor Indonesia pada Januari-Desember 2015 mencapai US$ 150,25 miliar sehingga neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari-Desember 2015 mengalami surplus hingga US$ 7,52 miliar.

(hns/hns)

long jump icon

JAKARTA kontan. Sesuai perkiraan, menjelang akhir tahun ini nilai impor terus meningkat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin mengumumkan nilai impor pada November 2015 mencapai US$ 11,51 miliar.

Jumlah itu berasal dari komoditas minyak dan  gas (migas) US$ 1,64 miliar  dan non migas US$ 9,87 miliar.

Secara keseluruhan, impor November naik 2,62% dari Oktober, tapi turun 18,03% dari periode sama tahun lalu.

Impor migas turun 6,95%, non migas naik 5,6% dari Oktober 2015.

long jump icon

JAKARTA-Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa neraca perdagangan pada November 2015 tercatat mengalami defisit sebesar 346,4 juta dolar Amerika Serikat, dimana defisit tersebut merupakan yang pertama kali terjadi pada tahun 2015.

“Ini defisit pertama kali selama 2015, baru terjadi pada November. Sementara untuk bulan lainnya mengantongi surplus,” kata Kepala BPS Suryamin dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.

Menurut Suryamin, defisit yang pertama kali terjadi pada 2015 tersebut dipicu oleh defisit sektor migas sebesar 0,06 miliar dolar AS dan nonmigas sebesar 0,29 miliar dolar AS. Untuk nilai impor pada November 2015 tercatat sebesar 11,51 miliar dolar AS, sementara ekspor sebesar 11,16 miliar dolar AS.

Suryamin menambahkan, jika dilihat dari sisi volume perdagangan, neraca volume perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar 28,37 jut ton. Hal tersebut didorong oleh surplus neraca sektor migas sebesar 0,56 juta ton dan nonmigas sebesar 27,81 juta ton.

Menurut Suryamin, jika dilihat kinerja ekspor impor berdasarkan negara, untuk di wilayah ASEAN, khususnya dengan Thailand, Indonesia mengantongi defisit sebesar 250,6 juta dolar AS pada November 2015.

Dengan Uni Eropa, defisit hanya terjadi dengan Jerman sebesar 71,4 juta dolar AS. Namun, dengan negara utama lainnya, khususnya Tiongkok, defisit perdagangan mencapai 1,5 miliar dolar AS pada November 2015, sementara sepanjang tahun 2015 hingga bulan yang sama mencapai 14,42 miliar dolar AS.

“Dalam satu bulan saja, defisit dengan Tiongkok mencapai 1,5 miliar dolar AS,” ujar Suryamin.

Secara kumulatif untuk periode Januari–November 2015, neraca perdagangan Indonesia masih mengantongi surplus sebesar 7,81 miliar dolar AS dengan nilai ekspor pada periode yang sama, mencapai 138,42 miliar dolar AS, sementara impor sebesar 130,61 miliar dolar AS.(ant/hrb)

http://id.beritasatu.com/macroeconomics/bps-neraca-perdagangan-defisit-us364-juta/135366
Sumber : INVESTOR DAILY

long jump icon

Bisnis.com, JAKARTA- Badan Pusat Statistik melaporkan neraca nilai perdagangan Indonesia di Oktober 2015 mencatatkan surplus US$1,01 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan neraca perdagangan Indonesia di Oktober 2015 yang surplus US$1,01 miliar menurun dibandingkan pada surplus neraca perdagangan Indonesia pada bulan September 2015 yang senilai US$1,03 miliar.

Namun, mengalami peningkatan dibandingkan bulan Oktober 2014 yang neraca nilai perdagangan Indonesia surplus US$0,02 miliar.

Secara kumulatif pada Januari-Oktober 2015, neraca perdagangan Indonesia surplus US$8,16 miliar. Angka ini meningkat dibanding periode Januari hingga Oktober 2014 yang mengalami defisit US$1,65 miliar.

“Ini termasuk angka surplus yang cukup besar bila dibandingkan dengan 2011 surplus US$1,424 miliar, 2012 defisit US$1,89 miliar, 2013 surplus US$24,3 juta, dan 2014 defisit US$23,5 juta,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Senin (16/11/2015).

Surplusnya neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2015 yang senilai US$1,01 miliar disebabkan oleh nilai ekspor yang tercatat senilai US$12,8 miliar dan impor yang senilai US$11,07 miliar.

Secara kumulatif, surplusnya neraca nilai perdagangan Indonesia ditopang nilai ekspor yang senilai US$127,22 miliar dan nilai impor senilai US$119,05 miliar pada Januari hingga Oktober 2015.

Sementara itu, neraca volume perdagangan Indonesia per Oktober tercatat 31,21 juta ton meningkat dari Oktober 2014 yang tercatat 30,53 juta ton dan September 2015 yang tercatat 28,61 juta ton.

“Secara kumulatif, neraca volume perdagangan dari Januari hingga Oktober tercatat 302,78 juta ton,” kata Suryamin.

long jump icon

JAKARTA – Perjalanan neraca perdagangan RI pada Oktober dari 2011 hingga 2015 memang diwarnai hasil yang berbeda-beda. Meskipun sempat surplus sebesar USD1,24 miliar di Oktober 2011, namun pada 2012 neraca perdagangan RImengalami defisit USD1,89 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, pada Oktober 2013 neraca perdagangan RI kembali mengalami surplus USD24,3 juta, sedangkan Oktober 2014, neraca perdagangan RI kembali defisit USD35,2 juta.

“Di Oktober 2015 surplus USD1,01 miliar,” jelas dia saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (16/11/2015)..

Di sisi lain, secara akumulasi neraca perdagangan Januari-Oktober 2011 mengalami surplus USD23,6 miliar, sedangkan di Oktober 2012 mengalami defisit USD863 juta. “Di 2013 akumulasi necara perdagangan defisit USD6,38 miliar, 2014 juga defisit USD1,7 miliar. Tapi secara akumulasi di 2015 surplus USD8,16 miliar,” tukasnya.

Seperti yang diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai neraca perdagangan Indonesia Oktober 2015 mengalami surplus USD1.01 miliar. Walaupun surplus, capaian ini lebih rendah dibandingkan neraca perdagangan pada September 2015 sebesar USD1,02 miliar.

(mrt)

long jump icon

JAKARTA.   Surplus neraca perdagangan meningkat signifikan pada September, terdorong oleh penurunan drastis nilai impor.

Badan Pusat Statistik melaporkan aktivitas perdagangan internasional Indonesia sepanjang September menghasilkan surplus devisa US$1.020 juta, naik dari surplus US$433,8 juta pada Agustus.

Nilai ekspor Indonesia sepanjang September merosot 17,98% dibandingkan tahun lalu, sedangkan nilai impor turun 25,95%.

Selisih perdagangan Indonesia melebar meski mayoritas ekonom memperkirakan penurunan surplus. Median estimasi 12 ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan surplus September senilai US$400 juta.

 

Neraca Perdagangan Indonesia 2015 (US$ juta)

 

Bulan

Nilai
September

+1.020
Agustus

+433,8
Juli

+1.383,90
Juni

+528
Mei

+1.076,60
Sumber: Bloomberg

 

http://finansial.bisnis.com/read/20151015/9/482323/neraca-perdagangan-surplus-melebar-di-september-impor-turun-25
Sumber : BISNIS.COM

long jump icon

JAKARTA – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, nilai neraca perdagangan Indonesia September 2015 mengalami surplus USD1,02 miliar, meskipun nilai ekspor dan impor September 2015 mengalami penurunan.

“Ini dipicu oleh surplus sektor nonmigas USD1,48 miliar, walaupun sektor migas defisit USD0,46 miliar,” kata Suryamin di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Suryamin menyebutkan, sisi volume perdagangan pada September 2015 neraca volume perdagangan Indonesia mengalami surplus 28,28 juta ton. Hal tersebut didorong oleh surplusnya neraca sektor nonmigas 28,58 juta ton. Sebaliknya, sektor migas defisit 0,30 juta ton.

Untuk ekspor, pada September 2015 mencapai USD12,5 miliar atau menurun 1,55 persen dibandingkan ekspor Agustus 2015. Demikian juga dibanding September 2014 menurun 17,98 persen. Ekspor nonmigas September 2015 mencapi USD11,1 miliar atau turun 1,06 persen dibanding Agustus 2015, demikian juga dibanding ekspor September 2014 turun 12,45 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari sampai September 2015 mencapai USD115,1 miliar atau menurun 13,29 Persen dibanding periode yang sama 2014, demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD100,7 miliar atau menurun 7,87 persen.

Sedangkan untuk impor, September 2015 impor Indonesia mencapai USD11,51 miliar atau turun 7,16 persen jika dibandingkan impor Agustus 2015. Demikian pula jika dibandingkan September 2014 turun 25,95 persen. Impor nonmigas September 2015 mencapai USD9,60 miliar atau turun 6,72 persen jika dibandingkan Agustus 2015 dan turun 19,29 persen jika dibandingkan September 2014.

Impor migas September 2015 mencapai USD1,91 miliar atau turun 9,29 persen jika dibandingkan Agustus 2015. Demikian pula apabila dibandingkan September 2014 turun 47,63 persen.

Secara kumulatif, nilai impor Januari sampai September 2016 mencapai USD107,94 miliar atau turun 19,67 persen dibanding periode yang sama pada 2014. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas USD19,41 miliar atau turun 41,21 persen dan nonmigas USD88,53 miliar atau turun 12,65 persen.
http://economy.okezone.com/read/2015/10/15/20/1232140/ekspor-impor-turun-neraca-perdagangan-surplus-usd1-02-miliar
Sumber : OKEZONE.COM

Jakarta detik -Indonesia harus mengurangi ketergantungan impor. Mulai dari bahan pangan hingga produk sandang seperti sepatu dan tas banyak diimpor. Sehingga industri dalam negeri tidak berkembang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, impor pangan Indonesia sangat besar. Dia memaparkan, di 2014 lalu, jumlah impor gandum mencapai 7,4 juta ton, gula 3,2 juta ton, dan jagung 3,3 juta ton.

“Kalau semua produk-produk seperti ini, gula, kedelai, jagung, garam semua impor. Bahkan buah-buahan dan beras, inilah yang menyebabkan keguncangan neraca perdagangan, dan karena ketergantungan ini membeli barang impor harus memakai dolar. Ini salah satu yang menyebabkan dolar seperti sekarang, meski faktor terbesar adalah eksternal,” papar Jokowi.

Pernyataan ini disampaikan Jokowi, di acara Rakernas Partai Nasdem, di Jakarta Convention Center, Senayan, Senin (21/9/2015).

Jokowi mengatakan, kepala daerah memiliki tugas memproduksi bahan-bahan pangan sehingga Indonesia bisa mengurangi impor bahan pangan.

Tak hanya pangan, impor sandang, mulai dari sepatu sampai tas juga banyak dipenuhi dari barang impor. Bahkan jam tangan impor juga banyak diimpor ke dalam negeri.

“Kita ini masih senang dengan yang namanya produk impor. Sepatu kalau tidak impor tidak senang, tas ibu-ibu kalau tidak impor malu memamerkan. Jam kalau tidak impor, impor pun yang mahal. Tidak usah nengok tanganlah. Sekarang tidak apa-apa, tapi besok jangan. Ini yang mengkondisikan produk-produk kita,” tuturnya kepada para peserta.

Jokowi menyatakan, Indonesia dengan 250 juta penduduk, harusnya bisa memanfaatkan hasil industri dalam negeri sebagai pasar yang besar. Tidak perlu impor dan masyarakat mencintai produk-produk buatan bangsa sendiri.

(dnl/hen)

TEMPO.CO, Jakarta -Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan Agustus 2015 ini mengalami surplus sebanyak US$ 6,2 miliar. Namun Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong mengaku tidak terlalu gembira dengan angka itu.

Jika dilihat dari bulan ke bulan, kondisinya belum stabil. “Jangan terlalu gembira. Masih terjadi kenaikan dan penurunan,” kata dia saat konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Rabu, 16 September 2015.

Ia mengatakan bahwa pertumbuhan ekspor dan impor juga harus dilihat dari sisi trend secara fundamental. “Kalau dilihat dari trend, kita masih prihatin dan harus waspada,” ujar Lembong.

Lembong mengatakan, dalam 30 tahun terakhir, pertumbuhan perdagangan selalu berada jauh di atas pertumbuhan ekonomi. “Pertumbuhan ekonomi sekitar 3-4 persen, kalau pertumbuhan perdagangan bisa mencapai 8-10 persen,” kata dia.

Saat ini yang terjadi adalah sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi global saat ini 3 persen, tapi pertumbuhan perdagangan global masih 1 hingga 2 persen. “Kondisi perdagangan global masih berat,” ujar dia.

Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin mengatakan ekspor bulan Agustus 2015 mengalami kenaikan dibanding dengan bulan Juli 2015. “Namun angkanya turun bila dibandingkan Agustus tahun lalu,” katanya saat press konferens di kantor BPS, Selasa, 15 September 2015.

Dibandingkan dengan Agustus 2014, nilai ekspor nonmigas pada Agustus 2015 menurun sebanyak 5,99 persen. Hal yang sama juga terjadi pada sektor migas yang mengalami penurunan sebanyak 41,08 persen.

Sementara itu ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode Januari hingga Agustus 2015 turun 7,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 9,15 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian naik 1,77 persen.

Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia dari Januari hingga Agustus 2015 mencapai US$ 102,52 miliar dolar AS, atau menurun 12,70 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2014. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$ 89,6 miliar dolar AS atau menurun 7,3 persen.

Sedangkan pada sektor provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari hingga Agustus 2015 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 17,06 miliar dolar AS (16,64 persen), diikuti Kalimantan Timur US$ 12,92 miliar dolar AS (12,60 persen) dan Jawa Timur US$ 11,40 miliar dolar AS (11,12 persen).

MAYA AYU PUSPITASARI

Jakarta detik -Neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus di Agustus 2015, capaiannya US$ 433,8 juta. Ekpsor tercatat US$ 12,7 miliar dan impor US$ 12,27 miliar‎.

“Neraca perdagangan pada Agustus surplus US$ 433,8 juta dengan migas yang defisit US$ 577,2 juta dan non migas surplus US$ 1,01 miliar,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (15/9/2015)

Ekspor Agustus 2015 sebesar US$ 12,7 miliar, naik 10,79% dibanding Juli 2015. Ekspor migas naik 7,57% dari US$ 1,42 miliar menjadi US$ 1,53 miliar, sementara non migas naik 11,23% dari US$ 10,42 miliar menjadi. US$ 11,17 miliar

“Dibandingkan Agustus 2014 ada penurunan 12,28% dari US$ 14,48 miliar,” katanya.

Sepanjang periode Januari-Agustus 2015, ekspor RI tercatat US$ 102,52 miliar atau turun 12,70% secara tahunan. Ekspor non migas sebesar US$ 89,60 miliar atau turun 7,50%.

Kontribusi ekspor terbesar adalah Lemak dan Minyak Hewan Nabati sebesar US$ 12,61 miliar, turun 8,45%. Selain itu ada ekspor Bahan Bakar Mineral US$ 11,30 miliar, juga turun 22,01%.

Ekspor terbanyak Indonesia adalah ke Amerika Serikat (AS) dengan nilai US$ 10,33 miliar, disusul China dengan nilai US$ 8,87 miliar. Di urutan berikutnya ada Jepang US$ 8‎,78 miliar, ASEAN US$ 18,31 miliar, dan Uni Eropa US$ 10,01 miliar

Kinerja Impor

Sementara impor Indonesia di Agustus tercatat senilai 12,27 miliar dolar, naik 21,69% dibandingkan Juli 2015. Impor migas adalah US$ 2,11 miliar, turun 8,12% dari US$ 2,29 miliar di Juli. Sedangkan impor non migas Agustus adalah US$ 10,16 miliar, naik 30,48% dari US$ 7,79 miliar bulan lalu.

“Dibandingkan Agustus 2014 masih menurun 17,06% dari US$ 14,79 miliar,” ujarnya.

Sepanjang Januari-Agustus 2015, impor turun 18,96% menjadi US$ 96,3 miliar. Impor non migas juga turun 11,92% menjadi US$ 78,80 miliar.

Kontribusi impor terbesar adalah pembelian Mesin dan Peralatan‎ Mekanik sebesar US$ 14,79 miliar, juga Mesin dan Peralatan Listrik US$ 10,18 miliar.

China masih menjadi negara tujuan impor tersebut Indonesia dengan nilai US$ 19,02 miliar. Selanjutnya ada Jepang US$ 9,15 miliar dan Singapura 5,81 miliar.

Sementara impor dari ASEAN tercatat sebesar ASEAN US$ 17,28 miliar, dan Uni Eropa US$ 7,52 miliar.

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir nilai ekspor bulan Agustus 2015 mencapai 12,7 miliar dollar AS atau naik 10,79 persen dibandingkan ekspor bulan sebelumnya (month to month/mtm), Juli 2015.

Namun jika dibandingkan ekspor Agustus 2014 yang mencapai 14,48 miliar dollar AS, nilai ekspor Agustus 2015 turun 12,28 persen.

Kepala BPS Suryamin menuturkan, terjadi kenaikan nilai ekspor untuk barang-barang migas maupun non-migas masing-masing 7,67 persen dan 11,23 persen. Pada Agustus 2015 ekspor migas tercatat 1,53 miliar dollar AS, sedangkan ekspor non-migas tercatat 11,17 miliar dollar AS.

“Untuk migas, kenaikan terjadi karena ekspor minyak mentah naik 45,01 persen dari bulan sebelumnya, dan minyak olahan naik 12,69 persen (mtm). Sedangkan, ekspor gas turun 11,47 persen (mtm),” kata Suryamin dalam paparan, di Jakarta, Selasa (15/9/2015).

Sementara itu, kenaikan ekspor non-migas didorong kenaikan beberapa komoditas seperti perhiasan dan permata yang naik tajam 121,75 persen (mtm), karet dan barang dari karet yang naik 16,75 persen (mtm), mesin dan peralatan mekanik yang naik 37,26 persen (mtm), mesin dan peralatan listrik yang naik 11,89 persen (mtm), kopi, teh, dan rempah-rempah yang naik 49,06 persen (mtm), serta kendaraan dan bagiannya yang naik 41,01 persen (mtm).

Meski begitu, ada pula komoditas non-migas yang ekspornya turun, seperti lemak dan minyak hewan/nabati yang turun 4,32 persen (mtm), serta bahan bakar mineral yang turun 2,13 persen (mtm).

“Secara kumulatif, nilai ekspor dari Januari-Agustus 2015 mencapai 102,52 miliar dollar AS, atau turun 12,7 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 117,43 miliar dollar AS,” imbuh Suryamin.

Nilai ekspor non-migas mencapai 89,6 miliar dollar AS atau turun 7,3 persen. Nlai ekspor lemak dan minyak hewan/nabati mencapai 12,61 miliar dollar AS, sedangkan bahan bakar mineral mencapai 11,30 miliar dollar AS.

Ekspor barang industri pengolahan turun 7,63 persen dari 77,96 miliar dollar AS pada Januari-Agustus 2014 menjadi 72,21 miliar dollar AS. Ekspor barang pertanian naik 1,77 persen, dari 3,65 miliar dollar AS pada Januari-Agustus 2014 menjadi 3,72 miliar dollar AS pada Januari-Agustus 2015.

Adapun ekspor barang tambang dan lainnya juga turun 9,15 persen, dari 15,04 miliar dollar AS pada Januari-Agustus 2014 menjadi 13,67 miliar dollar AS pada Januari-Agustus 2015. Ekspor migas turun tajam 37,81 persen, dari 20,78 miliar dollar AS pada Januari-Agustus 2014 menjadi 12,92 miliar dollar AS pada Januari-Agustus 2015.

Penulis : Estu Suryowati
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Trade surplus widens

n  Continuing consecutive trade surplus of US$955mn..

n  …on the back of higher non oil & gas surplus.

n  We expect the trade surplus to continue.

n  Revised rate is unlikely; Maintain BI rate at 7.5%.

 

Welcoming the growing surplus. The trade surplus amounted to US$955mn in May15; it came from the non oil & gas account, which surplus reached the highest level in 2015. This fourth consecutive surplus followed a US$0.64bn, US$0.66bn, USid=”mce_marker”.02bn, and US$0.48bn surplus in Jan15, Feb15, Mar15, and Apr15, respectively, which in turn took the cumulative trade surplus total to US$3.75bn in 5M15, compared to US$0.86bn deficit in the corresponding period a year ago. This is the second highest monthly surplus this year which is above the market’s consensus of US$661mn and Bank Indonesia’s estimate of US$900mn. Exports still down by 3.87% mom (-15.24% yoy) in May15, whereas imports decreased by 8.05% mom (-21.4% yoy). As exports dropped to USid=”mce_marker”2.56bn in May15, mainly driven by a significant drop in CPO, mineral fuels, and oil products, imports also fell to USid=”mce_marker”1.61bn in May15 with crude oil, mechanical machineries, and iron & steel as one of the steepest slides. Therefore, raw material imports decreased at 10% mom and capital goods fell by 4% mom, respectively, while consumption goods imports increased slightly by 3.76%. In contrast with declining consumption goods imports in Apr15, consumer demand has rebounded last month which might be affected by the preparation of holiday period and fasting month in June15.

 

Trade surplus has settled down. The improvement of the trade balance in May15 came from a bigger non-oil & gas surplus of USid=”mce_marker”.66bn, higher than the USid=”mce_marker”.36bn surplus in Apr15. As a result of tight monetary policy, the non oil & gas imports slid more than exports and reached the lowest value in 21 months, which in turn, saved the trade surplus. Trade balance also recorded an improvement in the oil & gas account as falling world oil prices have reduced imports.

 

Trade surplus to continue. Without ignoring a sign of slowing domestic demand, we expect a further improvement in trade balance that may come from both the oil & gas sector and the non-oil & gas sector in 2015. We believe Indonesia is reaping the benefit of a lower world oil price, which in turn will reduce the deficit in the oil & gas account in 2015 and revise the worsening deficit pattern that was seen in 2014. Oil imports fell in 5M15, and thus may help limit the pressure on current account deficit ahead, including in this 2Q15 with around USid=”mce_marker”bn lower deficit or approaching 3% of GDP. Compared to India, Indonesia’s goods trade balance has performed better and returned to surplus. However, India has significantly reduced its CA deficit, leaving Indonesia, among other net oil importers and emerging markets, to struggle with this issue.

 

Revised rate is unlikely. Especially with the volatility in the market affected by the upcoming FOMC’s meeting next week, we believe Bank Indonesia is unlikely to further cut its benchmark rate. Although there is a slower GDP growth and lower pattern of inflation in 4Q15, BI rate will still be maintained due to a weakening Rupiah and current account deficit concerns. These support our belief that the central bank will retain the BI rate at 7.5% in the upcoming meeting next Thursday and maintain a tight monetary policy stance. As long as external uncertainties persist due to the US’s normalization policy, there is less scope for rates to decline in the foreseeable future. Hence, the possibility of a later increase will be higher, once the Fed Fund rate is hiked.

 

Download PDF
Sumber : IPS RESEARCH

 

BI Catat Surplus Neraca Pembayaran US$ 6,6 M
“Sampai akhir tahun kami optimistis surplus, hanya berapanya saya tidak bisa kasih tahu.”
SABTU, 15 MEI 2010, 16:15 WIB
Umi Kalsum, Syahid Latif

VIVAnews – Bank Indonesia (BI) mencatat neraca pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang triwulan I-2010 mengalami surplus sebesar US$ 6,6 miliar. Pencapaian ini lebih tinggi dibanding posisi triwulan sebelumnya yang hanya mencapai US$ 4 miliar.

“Sampai akhir tahun kami optimistis surplus, hanya berapanya saya tidak bisa kasih tahu,” kata Pjs Gubernur BI Darmin Nasution di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, baru-baru ini.

Catatan BI menunjukan peningkatan NPI tersebut didorong surplus pada transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial. Pada transaksi berjalan BI mencatat surplus sebesar US$ 1,6 miliar atau menurun dibandingkan pada triwulan IV/2009 yang mengalami surplus US$ 3,6 miliar.

Penurunan itu disebabkan menurunnya kinerja neraca perdagangan akibat adanya peningkatan impor minyak bumi dan gas (Migas) dan nonmigas. Kenaikan impor nonmigas tidak hanya terjadi pada barang konsumsi namun juga pada kelompok bahan baku dan barang modal, seiring dengan meningkatnya kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri.

Kenaikan juga terjadi pada impor minyak akibat dari akselerasi kegiatan ekonomi domestik. Di sisi lain, ekspor nonmigas tumbuh lebih tinggi dari perkiraan semula yang ditopang oleh pemulihan ekonomi dunia. Sayangnya pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 35,5 persen secara year on year masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan impor nonmigas sebesar 44,5 persen. Kinerja transaksi berjalan masih mencatat surplus yang cukup tinggi, salah satunya karena menurunnya defisit neraca jasa terkait berkurangnya jumlah kunjungan orang Indonesia ke luar negeri.

Pada komponen transaksi modal dan finansial selama triwulan I-2010, BI mencatat surplus sebesar US$ 4,3 miliar meningkat dibandingkan surplus US$ 1,3 miliar pada triwulan IV-2009. Kenaikan surplus terutama bersumber dari perbaikan kinerja investasi langsung dan investasi portofolio. Peningkatan investasi langsung itu didorong iklim investasi dan makroekonomi yang lebih baik, serta semakin kemudahan prosedur investasi yang ditawarkan pemerintah.

Kondisi likuiditas global yang lebih baik dan tingkat imbal hasil yang relatif menarik, mendorong arus masuk investasi portofolio oleh investor asing dan penerbitan obligasi valas oleh pemerintah. Di samping itu, surplus transaksi modal dan finansial juga ditopang oleh penarikan utang luar negeri swasta yang relatif tinggi karena membaiknya akses perusahaan Indonesia dalam mencari pembiayaan di pasar keuangan internasional.

BI juga mengumumkan, jumlah cadangan devisa pada akhir triwulan I-2010 meningkat menjadi US$ 71,8 miliar atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Sementara hingga posisi 30 April 2010, jumlah cadangan devisa mencapai US$ 78,6 miliar setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. (umi)

• VIVAnews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s