Rupiaaa(11.357-11.800, time2hedge NOW)AAh … 030614_180616

10% @ BI RATE, daripada +7.5% bo …

long jump icon

JAKARTA okezone – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat. Rupiah dibuka menguat di level Rp13.300-an per USD.

Melansir Bloomber Dollar Index, Rupiah pada perdagangan Spot Exchange Rate di pasar Asia, bergerak menguat 27 poin atau 0,2 persen ke Rp13.348 per USD. Pergerakan harian Rupiah tercatat di kisaran Rp13.346-Rp13.367 per USD.

Analis Samuel Securities Rangga Cipta mengatakan, BI pangkas BI rate, rupiah bisa lanjut menguat. Rupiah menguat hingga penutupan Kamis sore sejalan dengan pelemahan beberapa kurs di Asia.

“Pelemahan dolar index yang kembali serta optimisme dari pemangkasan BI rate yang disertai peluncuran makroprudensial bisa kembali meminta rupiah yang lebih kuat hari ini,” ujarnya dalam riset, Jakarta, Jumat (17/6/2016).

Akan tetapi, lanjutnya, turunnya harga komoditas berpeluang membatasi ruang penurunan. Pembahasan APBN-P serta tax amnesty masih jadi fokus.

Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 32 poin atau 0,24 persen menjadi Rp13.350 per USD. Yahoo mencatat Rupiah bergerak di angka Rp13.350 per USD hingga Rp13.383 per USD.

(rzy)

lol

JAKARTA. nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih terus menguat, Rabu (8/6). Mengutip data Bloomberg, pada pukul 11.03 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan posisi 13.233 per dollar AS.

Dengan demikian, rupiah menguat 0,2% dibanding level penutupan kemarin di level 13.263.

Penguatan juga terlihat pada kurs rupiah berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang hari ini menguat 1% ke level 13.241 per dollar AS. Kemarin, posisi kurs JISDOR rupiah berada di level 13.375 per dollar AS.

Analis SoeGee Futures Nizar Hilmy bilang dollar jatuh setelah AS mengumumkan angka non-farm payroll (NFP) bulan Mei ternyata di bawah proyeksi. Hal ini mengindikasikan The Fed sulit menaikkan suku bunga.

Gubernur The Fed Janet Yellen mengakui data NFP mengecewakan dan tidak akan menaikkan suku bunga sampai ketidakpastian ekonomi hilang. “Ini menunjukkan sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah,” lanjut Nizar.

Rupiah juga masih didukung perbaikan iklim investasi dan infrastruktur dalam negeri. Hari ini, Nizar menghitung rupiah akan menguat di kisaran Rp 13.200–Rp 13.300.

http://investasi.kontan.co.id/news/keperkasaan-rupiah-masih-berlanjut
Sumber : KONTAN.CO.ID

lol

JAKARTA okezone– Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seperti roller coaster, yang naik dan turun sewaktu-waktu dan sulit untuk diprediksi. Apalagi, Rupiah jika melawan dolar AS selalu tidak lepas dari sentimen global dan dalam negeri.

Kita sudah tahu, Rupiah akan terkapar jika sudah membicarakan kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Di satu sisi, Rupiah akan menguat jika data-data ekonomi dalam negeri bagus maupun adanya stimulus dari pemerintah, seperti paket kebijakan ekonomi yang sudah diluncurkan hingga 12 paket.

Memasuki akhir bulan Mei 2016, pergerakan Rupiah kembali menembus level Rp13.550 per USD. Tentu saja, ini sontak menimbulkan kekhawatiran di tengah rencana kenaikan suku bunga The Fed.

Pelemahan Rupiah ini bisa dilihat dalam beberapa waktu terakhir. Padahal, level nyaman Rupiah pada kala itu sebesar Rp13.100-Rp13.200 per USD. Namun, sekarang Rupiah kembali terjun bebas ke level Rp13.500 per USD, bahkan hampir menyentuh level Rp13.600 per USD.

Rupiah sudah menjauh dari level nyamannya pada Kamis, 19 Mei 2016. Pada pembukaan perdagangan, Rupiah melemah dan dibuka Rp13.450 per USD.

Analis MNC Securities Vistoria Venny mengatakan, pelemahan Rupiah dikarenakan imbas sinyal kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), Fed Fund Rate. Sehingga, banyak pihak yang beralih ke dolar.

“Jadi semakin banyak permintaan dolar, Rupiahnya jadi melemah,” jelas dia kepadaOkezone di Jakarta, Kamis, 19 Mei 2016.

Dia menambahkan, sentimen pergerakan Rupiah juga datang dari penantian hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Namun, menurut Venny, kali ini BI tetap menahan suku bunganya.

Melansir Bloomberg Dollar Index, dalam perdagangan Spot Exchange Rate di Asia, Rupiah bergerak melemah 70,5 poin atau 0,53 persen ke Rp13.450 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah, berada di kisaran Rp13.439-13.466 per USD.

Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah melemah 0,02 persen atau 2,5 poin di level Rp13.475 per USD. Yahoofinance mencatat level tertinggi Rupiah berada di angka Rp13.440 per USD, dengan level terendahnya di Rp13.475 per USD.

Tak lama kemudian, Rupiah pada perdagangan siang harinya menembus Rp13.500 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Rupiah pada perdagangan spot exchange rate di pasar Asia melemah 148 poin atau 1,1 persen menjadi Rp13.528 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah, berada di Rp13.439-Rp13.550 per USD.

Sementara yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 77 poin atau 0,57 persen ke Rp13.550 per USD. Rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp13.440 per USD hingga Rp13.550 per USD.

Sayangnya, pelemahan Rupiah ini juga pernah dirasakan pada akhir 2015. Bahkan, kala itu, Rupiah sempat menembus level Rp15.000 per USD dan membuat pelaku pasar panik. Lagi-lagi, Rupiah terkapar oleh dolar AS disebabkan sentimen global yakni menanti kenaikan suku bunga The Fed.

Alhasil, setelah Rupiah dilevel psikologisnya, pemerintah bergegas dengan mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang kini sudah terdiri dari 12 paket. Salah satu fungsi paket kebijakan tersebut adalah menguatkan nilai tukar Rupiah.

Cara pemerintah akhirnya berhasil dan mampu meredam penguatan dolar AS, yang di satu sisi, ketidakpastian kenaikan suku bunga The Fed akhirnya terjawab. Rupiah berangsur pulih ke level Rp13.000an per USD, bahkan hampir nembus ke level Rp12.000an per USD.

Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menilai fundamental ekonomi Indonesia masih belum membaik, meski kondisi Rupiah sudah mulai membaik.

“Meskipun Rupiah menguat selama seminggu ini, sama halnya waktu Rupiah anjlok itu faktor eksternal, kalau secara fundamental saya bilang posisi Indonesia sangat rawan dan memprihatinkan,” paparnya dalam Rapat Kerja Nasional Kadin Indonesia bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional di Hotel Pullman, Senin 19 Mei 2015.

Tom sapaan akrab dirinya pun menceritakan, penurunan kondisi perekonomian memang sudah terjadi sejak 2012, ketika harga komoditas anjlok. Alhasil, setiap tahunnya ekonomi Indonesia pun melambat.

Dirinya juga tak menyangka nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada kuartal-III 2015 sempat medekati Rp15.000 per USD.

“Saya yang baru menjabat tiga bulan, melihat itu sesuatu yang mengerikan,” ujar Tom dalam acara Economic Outlook 2016 di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Mei 2016.

Meski begitu, Lembong meyakini 2016 pertumbuhkan ekonomi akan recover, walaupun pertumbuhan ekonomi di kuartal-I 2016 masih di bawah perkiraan 5-5,1 persen.

“Saya lebih optimistis di 2016. Triwulan-I tahun ini, Rupiah mulai recover dan normal dan awal tahun kita punya kejutan, karena awalnya kita khawatir Rupiah melemah tapi ternyata tidak,” ujarnya.

(dni)

gifi

JAKARTA kontan. Di tengah membengkaknya defisit anggaran pemerintah, Bank Indonesia (BI) justru mendulang untung gede. Laporan keuangan tahunan BI tahun 2015 (unaudited) menyebutkan, net surplus BI setelah pajak selama 2015 mencapai Rp 58,98 triliun. Sedangkan surplus sebelum pajak Rp 79,22 triliun.

Nilai net surplus itu melonjak lebih dari 40% dibandingkan tahun 2014 yang sebesar Rp 41,23 triliun. Surplus ini didapat dari pos penghasilan sebesar Rp 117,99 triliun, naik 26,73% dari tahun 2014.

Sedangkan pengeluaran naik tipis 2,2% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 38,77 triliun. Kontribusi penghasilan terbesar berasal dari selisih kurs transaksi valuta asing dan pendapatan bunga, masing-masing naik 49,88% dan 10,06% dibandingkan 2014.

Sedangkan beban bunga terkait kebijakan moneter turun 5,87%. Walau turun, beban bunga kebijakan moneter tetap menjadi pengeluaran terbesar BI.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menjelaskan, kinerja BI sebagai otoritas moneter dilihat dari nilai tukar rupiah yang stabil, pengendalian inflasi, dan angka-angka makro. “Tidak bisa dari laporan keuangannya, karena laporan keuangan BI bukan laporan keuangan korporasi atau perbankan,” katanya, kepada KONTAN, Selasa (10/5).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menjelaskan, surplus BI diperoleh dari operasi moneter. Jika nilai tukar rupiah melemah melebihi fundamental, BI akan melakukan intervensi dengan menambah suplai valuta asing di pasar.

“Kurs melemah, artinya lebih tinggi dari waktu BI beli valas. Jadi BI surplus dari penjualan valas,” katanya.

Saat BI jual valas ke pasar, BI akan mendapat rupiah dan mengurangi likuiditas di pasar. Setelah itu, BI harus menetralisir dengan mengembalikan likuiditas, antara lain membeli SUN dari pasar. “Jadi BI memperoleh pendapatan sehingga anggaran BI bisa surplus,” katanya.

Ekonom Samuel Asset Manajemen Lana Soelistyaningsih mengatakan, selain selisih kurs saat rupiah melemah terhadap dollar AS, surplus BI juga bisa berasal dari operasi pencetakan uang.

“Ada gap antara biaya operasional pencetakan, dengan nominal yang dikeluarkan,” katanya.

gifi

Bisnis.com, MEDAN–Bank Indonesia mencatatkan sekurangnya telah ada 90% dari 2.500 korporasi yang memiliki utang luar negeri menggunakan transaksi lindung nilai (hedging).

Manajer Analis Ekonomi Divisi Asesmen Sektor Eksternal dan Nilai Tukar Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Olga Desiani mengatakan telah sekitar 90% kalangan korporasi yang telah memenuhi rasio hedging.

Menurutnya, hedging dilakukan untuk mengurangi currency mismatch.

“2017, hedging harus di Indonesia dan perbankan harus sudah siap,” ungkapnya di Medan, Kamis (28/4/2016).

Dia mengungkapkan debt servise ratio (DSR) utang luar negeri pun mengalami peningkatan dibanding utang publik. Menurutnya, peningkatan DSR itu dalam beberapa tahun terakhir telah menciptakan kerentanan kondisi makroekonomi.

Adapun Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 16/21/PBI/2014 tentang Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Nonbank terdapat rasio hedging minimum 25% dari selisih negatif antara aset valas dan kewajiban valas.

Hingga kini korporasi bisa melakukan hedging di bank-bank asing. Namun dalam beleid tersebut mengatur pada 2017 penggunaan produk hedging harus melalui perbankan domestik.

Tahun ini, kata Olga, menjadi tahun terakhir yang diberikan kepada kalangan perbankan untuk meningkatkan kemampuan transaksi lindung nilai dan korporasi yang memiliki ULN pun diwajibkan untuk melakukan hedging.

JAKARTA okezone – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin menguat. Hal ini tidak terlepas dari Paket Kebijakan Ekonomi XII yang sudah diluncurkan. Tercatat, pada perdagangan akhir pekan ini, Rupiah tidak lagi bergerak di level Rp13.200 per USD.

Melansir Yahoofinance, Jumat (29/4/2016), Rupiah bergerak di level Rp13.185 per USD atau menguat 10 poin atau 0,08 persen. Rupiah dibuka pada level Rp13.185 dan sebelumnya ditutup di Rp13.195 per USD.

Yahoofinance mencatat, pagi ini pergerakan Rupiah berada pada kisaran Rp13.185-Rp13.190 per USD.

(Baca Juga: Rupiah Rp13.189, Menguat di Pasar Asia)

Sementara Bloomberg Dollar Index, pada perdagangan Stock Exchange Rate di Pasar Asia, Rupiah bergerak menguat 7,50 poin atau 0,06 persen menjadi Rp13.182 per USD. Dalam pergerakannya, Rupiah sempat menyentuh level tertinggi di Rp13.174 per USD, namun sempat menyentuh level terendah di Rp13.189 per USD.

Sekedar informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan paket kebijakan ekonomi XII yang berisi memudahkan UMKM. Jokowi pun mengumpulkan redaktur ekonomi sejumlah media massa di Istana Negara kemarin sore saat pengumuman paket kebijakan.

(dni)

rose KECIL

Jakarta kontan. Volume transaksi lindung nilai atau hedging utang luar negeri (ULN) terus meningkat. Bank Indonesia (BI) mencatat, volume hedging ULN 2015 di semua korporasi meningkat sekitar 13% dibandingkan dengan tahun 2014.

Deputi Gubernur BI Hendar mengatakan, hal itu akan semakin memberikan kepercayaan terhadap mata uang rupiah. Sebab, semakin besar jumlah ULN yang di-hedging, akan mengurangi risiko atas ketidakpastian nilai tukar.

Sementara itu, untuk ULN perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) yang telah di-hedging meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2015 lalu menjadi US$ 1,84 miliar dari US$ 548 juta pada tahun sebelumnya. “Dampaknya bisa dilihat dari angka current account deficit yang turun menjadi 2% di akhir 2015,” ujar Hendar, Senin (28/3) di Jakarta.

Beberapa BUMN besar yang telah melakukan transaksi lindung nilai antara lain PT Garuda Indonesia, PT Pertamina, dan PT Perusahaan Listrik Negara. Namun demikian, BI akan terus memantau pelaksanaan hedging oleh perusahaan ini.

Untuk itu Ia berharap tingkat kepatuhan perusahaan untuk melaporkan aktivitas hedging terus ditingkatkan. Nah, supaya program ini berjalan dengan baik, mulai tahun ini BI akan mulai memberlakukan hukuman.

Perusahaan yang tidak patuh melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam mengajukan pinjaman dalam bentuk valas. Hukuman itu akan berupa teguran secara administratif.

Dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait pelaksanaan hedging, setiap perusahaan harus melakukan lindung nilai untuk utang valas hingga tiga bulan ke depan sebanyak 20% terhadap total utang valasnya. Selain itu, perusahaan juga wajib memiliki dana valas sebanyak 50% dibandingkan total utang.

Untuk mendapatkan pinjaman valas dari luar negeri, perusahaan juga wajib memiliki peringkat utang dari lembaga yang diakui minimal BB-.

Sebagai catatan, jumlah perusahaan yang melaporkan kegiatan penerapan prinsip kehati-hatian pada tahun 2015 dalam tiga kuartal terus meningkat. Pada kuartal III 2015 ada sekitar 2.166 perusahaan atau 85% dari 2.543 perusahaan yang wajib lapor ke BI.

dollar small
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Selasa, 29/03/2016 15:02 WIB
Penampakan Lonjakan Dolar AS Hari Ini, Tembus Rp 13.420Foto: Reuters

Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak naik terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam tersebut menyentuh level baru hari ini di Rp 13.400.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, Selasa (29/3/2016), dolar AS melesat ke level tertingginya di Rp 13.424.

Naiknya dolar AS ke level tersebut tak lama berselang setelah dolar AS menembus level Rp 13.410.

Mata uang Paman Sam itu memang bergerak agresif hari ini. Padahal, pembukaan pagi tadi, dolar AS masih bergerak di level Rp 13.316.

Hingga pukul 14.50 WIB, dolar AS masih belum bergerak dari level tertingginya di Rp 13.424.

(drk/ang)

dollar small

neo: In its quest for world domination, which the White House has been pursuing for more than a century, it relied on two primary tools: the US dollar and military might. In order to prevent Washington from establishing complete global hegemony, certain countries have recently been revising their positions towards these two elements by developing alternative military alliances and by breaking with their dependence on the US dollar.

Until the mid-twentieth century, the gold standard was the dominant monetary system, based on a fixed quantity of gold reserves stocked in national banks, which limited lending. At that time, the United States managed to become the owner of 70% of world’s gold reserves (excluding the USSR), therefore it pushed its weakened competitor, the UK, aside resulting to the creation of the Bretton Woods financial system in 1944. That’s how the US dollar became the predominant currency for international payments.

But a quarter century later this system had proven ineffective due to its inability to contain the economic growth of Germany and Japan, along with the reluctance of the US to adjust its economic policies to maintain the dollar-gold balance. At that time, the dollar experienced a dramatic decline but it was saved by the support of rich oil exporters, especially once Saudi Arabia began to exchange its black gold for US weapons and support in talks with Richard Nixon. As a result, President Richard Nixon in 1971 unilaterally ordered the cancellation of the direct convertibility of the United States dollar to gold, and instead he established the Jamaican currency system in which oil has become the foundation of the US dollar system. Therefore, it’s no coincidence that from that moment on the control over oil trade has become the number one priority of Washington’s foreign policy. In the aftermath of the so-called Nixon Shock the number of US military engagements in the Middle East and other oil producing regions saw a sharp increase. Once this system was supported by OPEC members, the global demand for US petrodollars hit an all time high. Petrodollars became the basis for America domination over the global financial system which resulted in countries being forced to buy dollars in order to get oil on the international market.

Analysts believe that the share of the United States in today’s world gross domestic product shouldn’t exceed 22%. However, 80% of international payments are made with US dollars. As a result, the value of the US dollar is exceedingly high in comparison with other currencies, that’s why consumers in the United States receive imported goods at extremely low prices. It provides the United States with significant financial profit, while high demand for dollars in the world allows the US government to refinance its debt at very low interest rates.

Under these circumstances, those hedging against the dollar are considered a direct threat to US economic hegemony and the high living standards of its citizens, and therefore political and business circles in Washington attempt by all means to resist this process.This resistance manifested itself in the overthrow and the brutal murder of Libyan leader Muammar Gaddafi, who decided to switch to Euros for oil payments, before introducing a gold dinar to replace the European currency.

However, in recent years, despite Washington’s desire to use whatever means to sustain its position within the international arena, US policies are increasingly faced with opposition. As a result, a growing number of countries are trying to move from the US dollar along with its dependence on the United States, by pursuing a policy of de-dollarization. Three states that are particularly active in this domain are China, Russia and Iran. These countries are trying to achieve de-dollarization at a record pace, along with some European banks and energy companies that are operating within their borders.

The Russian government held a meeting on de-dollarization in spring of 2014, where the Ministry of Finance announced the plan to increase the share of ruble-denominated contracts and the consequent abandonment of dollar exchange. Last May at the Shanghai summit, the Russian delegation managed to sign the so-called “deal of the century” which implies that over the next 30 years China will buy $ 400 billion worth of Russia’s natural gas, while paying in rubles and yuans. In addition, in August 2014 a subsidiary company of Gazprom announced its readiness to accept payment for 80,000 tons of oil from Arctic deposits in rubles that were to be shipped to Europe, while the payment for the supply of oil through the “Eastern Siberia – Pacific Ocean” pipeline can be transferred in yuans. Last August while visiting the Crimea, Russia’s President Vladimir Putin announced that “the petrodollar system should become history” while “Russia is discussing the use of national currencies in mutual settlements with a number of countries.” These steps recently taken by Russia are the real reasons behind the West’s sanction policy.

In recent months, China has also become an active member of this “anti-dollar” campaign, since it has signed agreements with Canada and Qatar on national currencies exchange, which resulted in Canada becoming the first offshore hub for the yuan in North America. This fact alone can potentially double or even triple the volume of trade between the two countries since the volume of the swap agreement signed between China and Canada is estimated to be a total of 200 billion yuans.

China’s agreement with Qatar on direct currency swaps between the two countries are the equivalent of $ 5.7 billion and has cast a heavy blow to the petrodollar becoming the basis for the usage of the yuan in Middle East markets. It is no secret that the oil-producing countries of the Middle Eastern region have little trust in the US dollar due to the export of inflation, so one should expect other OPEC countries to sign agreements with China.

As for the Southeast Asia region, the establishment of a clearing center in Kuala Lumpur, which will promote greater use of the yuan locally, has become yet another major step that was made by China in the region. This event occurred in less than a month after the leading financial center of Asia – Singapore – became a center of the yuan exchange in Southeast Asia after establishing direct dialogue regarding the Singapore dollar and the yuan.

The Islamic Republic of Iran has recently announced its reluctance to use US dollars in its foreign trade. Additionally, the President of Kazakhstan Nursultan Nazarbayev has recently tasked the National Bank with the de-dollarization of the national economy.

All across the world, the calls for the creation of a new international monetary system are getting louder with each passing day. In this context it should be noted that the UK government plans to release debts denominated in yuans while the European Central Bank is discussing the possibility of including the yuan in its official reserves.

Those trends are to be seen everywhere, but in the midst of anti-Russian propaganda, Western newsmakers prefer to keep quiet about these facts, in particular, when inflation is skyrocketing in the United States. In recent months, the proportion of US Treasury bonds in the Russian foreign exchange reserves has been shrinking rapidly, being sold at a record pace, while this same tactic has been used by a number of different states.

To make matters worse for the US, many countries seek to export their gold reserves from the United States, which are deposited in vaults at the Federal Reserve Bank. After a scandal of 2013, when the US Federal Reserve refused to return German gold reserves to its respective owner, the Netherlands have joined the list of countries that are trying to retrieve their gold from the US. Should it be successful the list of countries seeking the return of gold reserves will double which may result in a major crisis for Washington.

The above stated facts indicate that the world does not want to rely on US dollars anymore. In these circumstances, Washington relies on the policy of deepening regional destabilization, which, according to the White House strategy, must lead to a considerable weakening of any potential US rivals. But there’s little to no hope for the United States to survive its own wave of chaos it has unleashed across the world.

Vladimir Odintsov, political commentator, exclusively for the online magazine “New Eastern Outlook”
http://journal-neo.org/2015/02/02/rus-dedollarizatsiya-i-ssha

minu$$

De-Dollarization Accelerates: Iran-Russia “New Trade Agreements” to Drop US Dollar

Global Research, December 26, 2015
Silent Crow News 25 December 2015

 

The threat of war against Iran is not just about its natural resources, strategic control and supposedly to protect Israel, it is also about the US dollar being used for its oil trades. Iran is moving forward to replace US dollars for its foreign trade with Russia in rials and Russian rubles. This past January, Iran made a significant move by “stopping mutual settlements in dollars with foreign countries.”

According to RT news

“the Central Bank of Iran (CBI) has said. “In trade exchanges with foreign countries, Iran uses other currencies, including Chinese yuan, euro, Turkish lira, Russian ruble and South Korean won,” Gholamali Kamyab, CBI deputy head, told the Tasnim state news agency. Iranian and Russian delegates have met to discuss new trade agreements. The Iran Daily just published a report that Iran and Russia are in the process of “establishing a joint bank account with Russia to facilitate trade between the two countries in their own currencies.”The Central Bank of Iran (CBI) governor Valiollah Seif stressed the importance of connecting their banking sectors to bolster trade between Iran and Russia. Seif says that a special committee is needed to overcome any obstacles (U.S. sanctions) and to provide lines of credit.

The Iran Daily reported what Iran’s ambassador had said in January regarding Iran and Russia’s trade in their own currencies:

Iran’s Ambassador to Russian Mehdi Sanaei said in late January that Tehran and Moscow are working on a plan to switch their bilateral trade to national currencies for which he said the two countries will create a joint bank or a mutual account. “Both sides plan to create a joint bank, or joint account, so that payments may be made in Rubles and Rials and there is an agreement to create a working group [for this],” said Sanaei

This past March, Iran and Russia signed an agreement to jointly create a regulation committee to“oversee interbank financial transactions between the two countries.” The positive outcome of the agreements is to avoid any future sanctions Washington and its crony allies use as a financial weapon against its adversaries. The Iran daily concluded what the outcome would achieve in the long term:

The agreement – that was signed between the Iranian and Russian central banks – took both countries one step closer toward the establishment of the promised joint bank – which is believed to have been specifically designed to help dodge the effects of US-led sanctions on the two countries

That is why Washington is desperate to overthrow the Assad government and that is to weaken Iran’s influence in the region. If Assad is successfully removed, Israel would then concentrate on Hezbollah with an all-out attack. If Syria and Hezbollah is defeated militarily, then Iran would be threatened with a joint Israel-US led war possibly with nuclear weapons especially if Hillary Clinton or most of the Republican front-runners were to become president. Iran is sure making Washington very nervous.

The Currency War on Oil producing countries: Iraq, Venezuela and Libya

Iraq, Venezuela and Libya tried to drop US dollars for oil trades but were met with resistance from Washington. Before the 2003 invasion of Iraq, Saddam Hussein (a former U.S. ally) decided he wanted to use Euros instead of US dollars for oil transactions. That was one of the main reasons that the Bush regime wanted to remove Saddam Hussein in the first place, not because of the fabricated “Weapons of Mass Destruction (WMDs)” story published by the New York Times author Judith Miller which was the justification for the U.S. invasion of Iraq (codename ‘Operation Iraqi Freedom’). The U.S. government and its big oil companies control world oil-markets with its dollar as the “fiat” international trading currency, but Iraq’s President Saddam Hussein defied the U.S. and it dollar supremacy by replacing it with the Euro. In 2006, Former Texas congressman Ron Paul explained Washington’s real motives behind their WMD lies against Iraq and the coup attempt against Venezuelan President Hugo Chavez by the Bush regime concerning the US dollar before the U.S. House of Representatives:

In November 2000 Saddam Hussein demanded Euros for his oil. His arrogance was a threat to the dollar; his lack of any military might was never a threat. At the first cabinet meeting with the new administration in 2001, as reported by Treasury Secretary Paul O’Neill, the major topic was how we would get rid of Saddam Hussein– though there was no evidence whatsoever he posed a threat to us. This deep concern for Saddam Hussein surprised and shocked O’Neill.

It now is common knowledge that the immediate reaction of the administration after 9/11 revolved around how they could connect Saddam Hussein to the attacks, to justify an invasion and overthrow of his government. Even with no evidence of any connection to 9/11, or evidence of weapons of mass destruction, public and congressional support was generated through distortions and flat out misrepresentation of the facts to justify overthrowing Saddam Hussein

One of the main reasons of the invasion of Iraq was about Saddam Hussein’s goal to eliminate the US dollar and replacing it with the Euro for Iraq’s oil sales, but that did not stop there. Ron Paul also mentioned Venezuela under the leadership of President Hugo Chavez at the time:

In 2001, Venezuela’s ambassador to Russia spoke of Venezuela switching to the Euro for all their oil sales. Within a year there was a coup attempt against Chavez, reportedly with assistance from our CIA. After these attempts to nudge the Euro toward replacing the dollar as the world’s reserve currency were met with resistance, the sharp fall of the dollar against the Euro was reversed. These events may well have played a significant role in maintaining dollar dominance

Iran is a long term goal for regime change. However, with Russia and China in the picture, it seems very“less likely” to happen. Russia and China are major obstacles for the pentagon war planners. The US has hopes that the Islamic state can create more chaos in the region allowing ISIS to target Iran within its borders but that is a long shot. Iran is leading the charge in the Middle East to replace the US dollar with other currencies and Washington is panicking. Syria, Hezbollah and Russia stand in the way as the US dollar loses its dominance. Washington’s call for war will get louder as more countries around the world seek to replace the US dollar. Washington wants to make Iran an example to let the world knows what happens if you abandon their currency, just like they did to Iraq, Venezuela and even Libya. Libyan President Muammar Gaddafi’s planned a “single African currency” linked to gold that would have dethroned US dollars and the Euro for African oil trades and possibly other transactions which was the reason why Washington ordered US-NATO forces to remove Gaddafi from power.

Will Washington force Iran to use its dollars for its oil transactions with the threat of war? With major powers backing the Islamic republic, it will be an impossible task to accomplish. As more countries demand less US dollars, a decline in the “exchange value” will result in a weaker dollar. Usually when countries demand a certain currency on the foreign exchange markets, the value of that particular currency increases. So will the US war machine attempt to force countries such as Iran to use its dollars for its oil trades to keep the dollar afloat? There is a “currency war” currently being waged by Iran and Russia. Who can blame them? Washington started this war with its economic sanctions on Iran and Russia because they do not comply with its demands as Imperial power that makes all the rules for the world to follow. Now Iran and Russia will finish it by dropping the US dollars for their business transactions, a solution long overdue.

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (8/3) pagi ini di Bank Rakyat Indonesia (BRI) terpantau melemah.

Berdasarkan situs resmi BRI pukul 09.00 WIB, rupiah berada pada posisi kurs beli Rp 13.035 per dolar AS, sementara posisi kurs jual Rp 13.185 per dolar AS.

Dibandingkan Senin (7/3) pukul 09.00 WIB, posisi kurs beli Rp 12.955 per dolar AS atau melemah 80 poin, sementara posisi kurs jual Rp 13.105 per dolar AS atau melemah 80 poin. (B1)

Sementara itu nilai tukar rupiah dengan mata uang lain tercatat sebagai berikut:

– Dolar Australia : kurs beli Rp 9.665,26; kurs jual Rp 9.865,40.
– Dolar Singapura : kurs beli Rp 9.409,32; kurs jual Rp 9.579,24.
– Yen Jepang : kurs beli Rp 114,18; kurs jual Rp 118,46.
– Euro Eropa : kurs beli Rp 14.310,49; kurs jual Rp 14.576,48.

http://id.beritasatu.com/moneyandbanking/rupiah-melemah-80-poin-ke-level-rp-13185us/140851

Sumber : INVESTOR DAILY

rose KECIL

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terus mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah dibuka menguat di level Rp13.032 per USD.

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menyatakan, perbaikan eksternal dan internal membayangi pergerakan Rupiah. Tercatat, sejak pekan lalu, Rupiah berhasil menguat kurang lebih 1,9 persen.

“Adanya sentimen kenaikan fed fund rate yang diprediksi masih lama, jadi ada aksi jual dolar dulu. Apalagi dolar ini juga melemah terhadap mata uang besar lainnya,” jelas dia kepada Okezone di Jakarta, Senin (7/3/2016).

Bloomberg Dollar Index mencatat, Rupiah pada perdagangan Spot Exchange Rate di pasar Asia menguat 95,5 poin atau 0,73 persen ke Rp13.036 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp12.984-Rp13.052 per USD.

Bahkan, nilai tukar Rupiah sempat menyentuh Rp12.998 per USD sekira pukul 08.05 tadi. Namun, lima menit kemudian Rupiah kembali di level Rp13.000.

Sementara itu, Yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 35 poin atau 0,27 persen ke Rp13.040 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak dengan angka tertinggi di Rp13.045 per USD, sementara angka terendahnya berada di Rp13.005 per USD.(rai)

(rhs)

rose KECIL

JAKARTA okezone- Nilai tukar Rupiah saat ini kembali mengalami penguatan. Rupiah dibuka menguat di level Rp13.152 per USD.

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menyatakan, Rupiah akan bergerak menguat hari ini. “Rupiah bergerak dengan range Rp13.160-Rp13.290 per USD,” ungkap dia dalam risetnya, Jumat (4/3/2016).

Bloomberg Dollar Index mencatat, Rupiah pada perdagangan Spot Exchange Ratedi pasar Asia menguat 69,5 poin atau 0,53 persen ke Rp13.162 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp13.145-Rp13.187 per USD.

Sementara itu, Yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 15 poin atau 0,11 persen ke Rp13.165 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak dengan angka tertinggi di Rp13.185 per USD, sementara angka terendahnya berada di Rp13.150 per USD.(rai)

(rhs)

rose KECIL

JAKARTA Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini dibuka menguat. Bahkan, Rupiah berhasil turun dari level Rp13.300 per USD di perdagangan Asia.

Bloomberg Dollar Index mencatat, Rupiah pada perdagangan Spot Exchange Rate di pasar Asia menguat 46 poin atau 0,35 persen ke Rp13.255 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp13.241-Rp13.282 per USD.

Sementara Yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 30 poin atau 0,22 persen ke Rp13.255 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak dengan angka tertinggi di Rp13.285 per USD, sementara angka terendahnya berada di Rp13.250 per USD.

Adapun nilai tukar Rupiah di empat bank besar di Indonesia, yakni:

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada pukul 08.22 WIB

Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp13.175 per USD, dan kurs jual sebesar Rp13.350 per USD.

Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.377 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.614 per dolar Singapura.

Yen Jepang, dengan kurs beli sebesar Rp114 per yen, dan kurs jual sebesar Rp118 per yen.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada pukul 08.30 WIB

Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp13.175 per USD, dan kurs jual sebesar Rp13.325 per USD.

Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.415 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.584 per dolar Singapura.

Yen Jepang dengan kurs beli sebesar Rp115 per yen, dan kurs jual sebesar Rp117 per yen.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada pukul 08.23 WIB

Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp13.110 per USD, dan kurs jual sebesar Rp13.390 per USD.

Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.374 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.624 per dolar Singapura.

Yen Jepang, dengan kurs beli sebesar Rp115 per yen, dan kurs jual sebesar Rp118 per yen.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada pukul 07.22 WIB

Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp13.125 per USD, dan kurs jual sebesar Rp13.425 per USD.

Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.382 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.604 per dolar Singapura.

Yen Jepang dengan kurs beli sebesar Rp113 per yen, dan kurs jual sebesar Rp120 per yen.

(mrt)

rose KECIL

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) melemah terhadap sebagian besar mata uang utama di perdagangan New York pada Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB), meskipun data ekonomi yang keluar dari negara itu positif.

Mengutip Antara, Kamis 3 Maret, lapangan kerja sektor swasta AS meningkat sebesar 214.000 pekerjaan pada Januari-Februari, disesuaikan secara musiman, menurut laporan ketenagakerjaan nasional ADP (Automated Data Processing).

Angka ADP diawasi ketat sebagai pre-indikator untuk laporan penggajian nonpertanian yang akan dirilis pada Jumat. Data ekonomi AS keluar bervariasi baru-baru ini.

Asosiasi Agen Perumahan Nasional AS (NAR) mengatakan pada Senin bahwa Indeks Penjualan Pending Home (rumah yang pengurusannya belum selesai) di AS turun 2,5 persen menjadi 106,0 pada Januari dari revisi naik 108,7 pada Desember. Angka terbaru ini di bawah konsensus pasar naik 0,5 persen.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,16 persen menjadi 98,191 pada akhir perdagangan Rabu.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,0866 dolar dari 1,0865 dolar pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,4076 dolar dari 1,3962 dolar. Dolar Australia naik ke 0,7295 dolar dari 0,7181 dolar.

Dolar dibeli 113,46 yen Jepang, lebih rendah dari 114,06 yen di sesi sebelumnya. Greenback melemah menjadi 0,9965 franc Swiss dari 0,9980 franc Swiss, dan naik tipis menjadi 1,3435 dolar Kanada dari 1,3394 dolar Kanada.

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2016/03/03/493171/usd-melemah-meski-data-ekonomi-positif
Sumber : METROTVNEWS.COM

rose KECIL

JAKARTA – Penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) alias BI Rate ke 7 persen, nampaknya tidak direspons cukup baik bagi pasar valas. Akibatnya, pagi ini nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan.

Melansir yahoofinance, Jumat (19/2/2016), Rupiah melemah 30 poin atau 0,22 persen menjadi Rp13.560 per USD. Pagi ini, angka tertinggi Rupiah berada pada Rp13.565 per USD, dan angka terendahnya di Rp13.530 per USD.

Sementara Bloomberg Dollar Index, dalam Spot Exchange Rate di Asia, melemah 51 poin atau 0,38 persen menjadi Rp13.553 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp13.507-Rp13.565 per USD.

Sekadar informasi, BI telah memutuskan untuk menurunkan tingkat suku bunga (BI Rate) sebesar 25 basis poin di level 7 persen. Ini kedua kalinya BI telah menurunkan suku bunga di tahun ini.

Dalam RDG yang digelar dua hari tersebut, diputuskan BI Rate turun 25 basis poin menjadi 7 persen. Sementara suku bunga deposit facility 5 persen dan lending facility pada level 7,5 persen.

http://economy.okezone.com/read/2016/02/19/278/1316132/rupiah-rp13-560-bi-rate-tak-mampu-tahan-pelemahan
Sumber : OKEZONE.COM

bird

Bisnis.com, JAKARTA – Kurs beli Bank Indonesia menguat ke Rp13.266 per dolar AS pada Selasa (16/2/2016) di saat rupiah menguat sendirian di pasar spot Asia.

Bank Indonesia menetapkan kurs tengah di Rp13.333 per dolar AS, menguat 143 poin atau terapresiasi 1,06% dari kurs tengah kemarin.

Kurs jual ditetapkan di Rp13.400 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp13.266 per dolar AS. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah Rp134.

Rupiah menguat sendirian di pasar spot Asia. Mata uang Garuda diperdagangkan menguat 0,09% atau 12 poin ke Rp13.367 per dolar AS pada pukul 11.06 WIB setelah sempat menguat hingga 84 poin ke Rp13.295 per dolar AS.

Kurs Asia lain tertekan oleh penguatan dolar AS. Indeks telah menguat 0,81% ke level 96,716 per dolar AS pada pukul 10.57 WIB. Won Korea Selata melemah palin gdalam, tertekan 0,73%, diikuti oleh dolar Taiwan yang turun 0,56%.

 

Kurs Transaksi Bank Indonesia (Rupiah)

16 Februari Rp13.333
15 Februari Rp13.476
12 Februari Rp13.471
11 Februari Rp13.369
10 Februari Rp13.538

Sumber: Bank Indonesia

bird

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelemahan dollar AS sepanjang pekan ini yang cukup signifikan mampu mendorong rupiah menutup catatan sepekan dengan penguatan.

Disinyalir peluang penguatan ini pun bisa bertahan di pekan depan.

Di pasar spot, Jumat (12/02/2016) valuasi rupiah melemah 0,20 persen ke level Rp 13.490 per dollar AS dibanding hari sebelumnya.

Namun dalam sepekan terakhir rupiah sudah terangkat 0,98 persen.

Sejalan, di kurs tengah Bank Indonesia posisi rupiah merosot 0,76 persen di level Rp 13.471 per dollar AS dengan penguatan 1,33 persen dalam sepanjang pekan ini.

Albertus Christian, Senior Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, rupiah membuka pekan ini dengan hasil yang cemerlang.

Pendorongnya, yakni data pertumbuhan ekonomi kuartal empat 2015 yang memuaskan pasar dan terjaganya cadangan devisa di atas level 100 miliar dollar AS.

“Kedua sentimen domestik ini jadi kekuatan bagi rupiah untuk melesat,” kata Christian.

Ditambah lagi di pertengahan pekan, posisi dollar AS ambruk.

Setelah Janet Yellen, Gubernur The Fed memberikan sinyal pertumbuhan ekonomi AS terjegal oleh perlambatan ekonomi global.

Hal ini memicu kekhawatiran pasar akan peluang kenaikan suku bunga The Fed yang lajunya akan lebih lambat dari yang sebelumnya diperkirakan pasar.

Tekanan tinggi bagi USD ini dimanfaatkan rupiah untuk melesat unggul.

Apalagi setelah nilai yen naik tajam.

Karena kekacauan perbankan di Eropa serta dugaan perlambatan ekonomi China yang meningkat pamor safe haven.

“Ketika yen gemilang, rupiah sebagai sesama mata uang regional Asia ikut berpendar,” jelas Christian.

Belum lagi, besarnya arus hot money yang masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia.

“Terdorong oleh daya tarik Indonesia yang menawarkan yield yang tinggi,” tambah Christian. (Namira Daufina)

Penulis : Aprillia Ika
Editor : Aprillia Ika
Sumber : KONTAN

bird

JAKARTA kontan. Sinyal penundaan kenaikan suku bunga The Fed menguntungkan rupiah. Dari dalam negeri, mata uang Garuda minim katalis.

Kamis (28/1), di pasar spot, rupiah menguat tipis 0,02% ke Rp 13.873 per dollar AS. Namun, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, rupiah masih melemah 0,12% ke Rp 13.889 per dollar AS.

Research and Analyst Monex Investindo Futures Faisyal menyebut, otot dollar mengendur. Pemicunya, hasil rapat FOMC menyebut The Fed akan terus memantau risiko akibat gejolak ekonomi global. Ini memunculkan spekulasi The Fed akan menunda kelanjutan kenaikan suku bunga.

“Momentum ini dimanfaatkan rupiah untuk menguat. Dari dalam negeri nyaris tidak ada faktor penggerak,” ujarnya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menduga, penguatan rupiah bisa bertahan selagi harga minyak dan China stabil. Apalagi, hasil FOMC masih akan menekan dollar. Prediksi Josua, Jumat (29/1), rupiah menguat ke rentang Rp 13.800- Rp 13.950 per dollar AS.

Tapi, Faisyal melihat, rupiah bisa melemah jika klaim pengangguran dan penjualan rumah di AS membaik. Rupiah bisa melemah ke Rp 13.780- Rp 13.900 per dollar AS.

Jakarta detik -Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, mengingatkan perusahaan nasional dengan jumlah utang luar negeri besar agar berhati-hati. Karena masih ada pelemahan nilai tukar rupiah akibat arus modal keluar.

“Utang luar negeri korporasi masih mengkhawatirkan dan rentan terhadap risiko global,” ungkap Agus, pada acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2016 dengan tema Optimizing Private Sector and Local Goverment Contribution, di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Bila berkaca pada krisis 1997-1998, peningkatan utang luar negeri perusahaan menjadi salah satu risiko yang mengancam kondisi stabilitas keuangan dan perekonomian secara keseluruhan. Nilai tukar rupiah yang melemah tentu akan menambah berat pembayaran utang luar negeri dalam dolar.

Agus menjelaskan, isu global yang masih menjadi perhatian investor adalah terkait rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), yaitu Federal Reserve (The Fed), serta sentimen negatif akibat pelemahan ekonomi China.

“Isu naiknya Fed Fund Rate atau nada negatif China memicu outflow dana, dan membebani mata uang termasuk rupiah,” ujarnya.

BI akan selalu berada di pasar untuk menjaga kestabilan nilai tukar. Berbagai langkah akan ditempuh agar bisa menyeimbangkan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan kestabilan nilai tukar ke depannya.

“BI harus terus melihat stabilitas makro ekonomi dan akomodasi permintaan domestik. Dalam konteks tersebut ini tidak bida ditentukan dari awal, tapi berdasarkan data terakhir. Kita juga terus jauhkan dari padangan keberpihakan untuk kredibilitas BI,” terang Agus.

(mkl/wdl)

bird

Bisnis.com, JAKARTA— Bloomberg Dollar Index mengemukakan saat dibuka hari ini, Jumat (15/1/2016) rupiah menguat 40 poin atau 0,29% ke Rp13.867/US$.

Pada Kamis, rupiah ditutup melemah 72 poin atau 0,52% ke Rp13.907 per dolar AS.

Rupiah tertekanan pada perdagangan kemarin. Sejumlah sentimen eksternal mebayangi gerak kurs global, termasuk rupiah.

Apalagi di dalam negeri terjadi ledakan bom di kawasan Thamrin, sehingga rupiah tertekan ke atas level 13.900.

Sewaktu Bank Indonesia mengumumkan memangkas BI Rate, rupiah sempat meninggalkan level 13.900. Namun akhirnya menyerah ditutup ke 13.907.

bird

JAKARTA kontan. Rupiah hari ini diprediksi melemah karena ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI). Di pasar spot, Rabu (13/1), rupiah menguat 0,54% terhadap dollar Amerika Serikat (AS) ke level Rp 13.835.

Sebaliknya, kurs tengah rupiah di BI melemah 0,18% menjadi Rp 13.861.

Rully Arya Wisnubroto, Analis Pasar Uang Bank Mandiri, menjelaskan, membaiknya kinerja mata uang garuda di hadapan dollar AS dipicu harapan pelaku pasar bahwa BI bakal memangkas suku bunga acuan yang saat ini di level 7,5%.

Hal ini akan ditentukan pada Rapat Dewan Gubernur BI pada 13-14 Januari 2016. “Berdasarkan konsensus analis, besar peluang BI rate turun 25 bps menjadi 7,25%,” jelasnya.

Pasar optimistis pelonggaran kebijakan moneter BI berdampak positif bagi ekonomi dalam negeri dalam jangka panjang.

Analis SoeGee Futures Nizar Hilmy menambahkan, kondisi pasar global yang mulai stabil juga memberikan katalis positif bagi rupiah. Apalagi pemerintah berencana memangkas pajak deposito hasil ekspor.

Namun prediksi Nizar, hari ini (14/1) rupiah berpeluang terkoreksi. Sebab, jika suku bunga acuan dipangkas sesuai harapan pasar, dalam jangka pendek ada dampak negatif bagi rupiah.

Rully memprediksi rupiah berpotensi tertekan. Hitungan dia, rupiah hari ini bergulir di kisaran Rp 13.815-Rp 13.950. Nizar memperkirakan rupiah bergerak di kisaran di Rp 13.750-Rp 13.900.

Jakarta detik -Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) sore ini melemah terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam jatuh hingga ke kisaran Rp 13.900.

Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Jumat (18/12/2015), dolar AS pagi tadi dibuka sempat menguat di Rp 14.001 dibandingkan posisi pada perdagangan kemarin sore Rp 13.997.

Setelah ada kejelasan mengenai suku bunga AS, The Greenback malah melemah secara perlahan-lahan. Setelah seharian berada di atas Rp 14.000, dolar AS pun akhirnya bisa turun hingga ke titik terendahnya hari ini di Rp 13.910.

Pada sore hari ini dolar AS akhirnya berada di level 13.913. Sepanjang 2015 ini, rupiah masih melemah 11% terhadap dolar AS.

Berikut penampakan pergerakan dolar AS hari ini.

(ang/hns)

bird

 

JAKARTA. Nilai tukar Rupiah kemarin berhasil ditutup menguat tipis ke level Rp14.000 per USD. Namun diyakini mata uang Garuda masih belum lepas dari tekanan.

Analis Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, mengatakan selama The Fed masih belum mengumumkan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), maka Rupiah masih akan tertekan. Oleh karena itu dirinya memprediksi Rupiah akan bergerak pada level support Rp14.000-Rp13.940 dan resistance Rp14.090 – Rp14.160

“Apa lagi kenaikan Fed fund rate semakin dekat. Jadi tentu Rupiah masih tertekan,” tuturnya saat dihubungi Okezone.

Hans menjelaskan, penguatan Rupiah yang terjadi kemarin diperkirakan karena adanya sentuhan dari Bank Indonesia (BI), yang melakukan intervensi di pasar. Pasalnya dirinya menilai saat ini belum ada sentimen positif yang mampu mendorong pergerakan Rupiah.

“Tentu sudah biasa ketika Rupiah tertekan biasanya BI melakukan intervensi untuk menstabilkannya,” imbuhnya.

Selain itu menurut Hans, Rupiah juga tertolong dengan adanya pelemahan dolar terhadap mata uang lainnya di dunia. Hal itu tentu membuat Rupiah kembali menguat.

“Karena komoditas sendiri mulai stabil. Jadi setiap kali komoditas turun dolar pasti menguat, tapi yang terjadi sebaliknya,” pungkasnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/12/15/278/1268341/rupiah-tak-tenang-sebelum-keputusan-the-fed

Â
Sumber : OKEZONE.COM

bird

Jakarta detik -Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) sore ini tiba-tiba menguat drastis terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam melonjak tinggi hingga tembus Rp 14.000.

Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Selasa (8/12/2015), dolar AS pagi tadi dibuka sudah menguat di Rp 13.866 dibandingkan posisi pada perdagangan kemarin sore Rp 13.844.

Dolar AS sempat melemah sebentar sebelum akhirnya kembali menguat di kisaran Rp 13.800-an. Setelah penutupan perdagangan saham sore tadi, The Greenback pun tiba-tiba melonjak tinggi.

Dolar AS langsung mencapai titik tertingginya di Rp 14.047. Hingga menjelang pukul 19.00 WIB ini dolar AS berada di kisaran Rp 14.019.

Rencana The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga masih jadi faktor yang bikin dolar AS menguat. Ditambah lagi dengan makin lesunya harga minyak dunia.

Berikut penampakan lonjakan dolar AS sore ini.

(ang/dnl)

long jump icon
Summer sports icons – long jump icon

JAKARTA. Rupiah mencoba untuk kembali bangkit di hadapan dollar Amerika Serikat (AS), Selasa (1/12). Pasca kemarin Senin (30/11) terpuruk.

Mengacu data Bloomberg pukul 10.30 WIB, di pasar spot rupiah berada di level Rp 13.797 per dollar AS. Sementara, kemarin rupiah berada di level Rp 13.841 per dollar AS

“Mata uang dolar AS memangkas kenaikannya terhadap sebagian nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Pandangan pasar terhadap ekonomi Indonesia yang relatif stabil menjadi salah satu penopang nilai tukar rupiah,” kata analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong dikutip dari Antara.

Ia menambahkan bahwa pelaku pasar uang domestik juga diproyeksikan sudah mengantisipasi langkah bank sentral Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunga acuannya.

“Aliran dana investor asing masih akan masuk ke dalam negeri, imbal hasil investasi di Indonesia dinilai masih dapat bersaing meski Amerika Serikat menaikkan suku bunganya,” ucapnya.

Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia yang masih prospektif ke depannya akan menjaga laju nilai tukar rupiah bergerak stabil, apalagi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan didukung oleh paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan pemerintah.

“Diharapkan dampak dari paket kebijakan pemerintah segera terasa sehingga penguatan rupiah tidak rentan terhadap koreksi,” ujarnya.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan bahwa laju mata uang rupiah cenderung terbatas menyusul masih maraknya penilaian pasar terhadap bank sentral Eropa (ECB) yang akan melonggarkan kebijakan keuangannya, kebijakan itu bertolak belakang dengan bank sentral AS.

Di sisi lain, lanjut dia, laju mata uang rupiah diperkirakan juga masih nisbi terbatas menanti rilis data-data makroekonomi Indonesia. Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati sentimen baik dari eksternal maupun domestik.

http://investasi.kontan.co.id/news/ini-penyebab-rupiah-menguat-pagi-ini
Sumber : KONTAN.CO.ID

bird

JAKARTA sindonews – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerima tawaran China untuk menambah plafon nilai dari bilateral currency swap arrangement (BCSA) menjadi USD20 miliar atau Rp270 triliun (kurs Rp13.500/USD) dari sebelumnya USD15 miliar.

Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan, tambahan demand tersebut bisa digunakan seluruhnya untuk dukungan likuiditas.

“‎Hasil pertemuan Presiden kita dengan Presiden Xi Jin Ping adalah komitmen China meningkatkan investasi di sektor riil dan kemungkinan investasi di portfolio. China sudah menyampaikan dukungannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” katanya dalam teleconference di Antalya, Turki kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/11/2015).

Dana tersebut akan digunakan untuk penguatan cadangan devisa dan bersifat stand by. Dana tersebut baru akan digunakan jika Bank Indonesia (BI) memerlukan untuk penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Dalam pertemuan tersebut, kata dia, para pemimpin negara anggota G20 juga mendiskusikan soal potensi kenaikan tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Rate). Para anggota G20 mendiskusikan langkah antisipasi serta perkiraan besaran dan waktu kenaikan tingkat suku bunga AS tersebut.‎

“Karena kebetulan dalam summit tidak ada kehadiran Gubernur Bank Sentral AS dan The Fed maka diskusinya mengenai antisipasi dunia terutama anggota G20 menghadapi kemungkinakn kenaikan fed rate. Jadi antisipasi kapan dan besarannya,” tandas Bambang.‎
(izz)

source: http://ekbis.sindonews.com/read/1062323/33/ri-terima-tawaran-bilateral-swap-dari-china-rp270-triliun-1447756795

bird

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) mengungkapan, masih ada 320 perusahaan yang belum memenuhi ketentuan lindung nilai atau hedging dalam pinjaman luar negerinya. Bank sentral Indonesia itu meminta perusahaan-perusahaan tersebut segera mematuhi ketentuan BI.

“Sekitar 400 perusahaan itu memang perlu memenuhi kewajibanhedging, kurang lebih 20 persen sudah berhasil memenuhi kebutuhan kewajiban minimun, dan masih ada kira-kira 320 perusahaaan yang belum memenuhi kewajiban minimum hedging,” ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Kantor BI, Jakarta, Jumat (16/10/2015).

Dunia internasional, ucap Agus, menyoroti korporasi di negara-negara berkembang lantaran banyak memperoleh dana kredit murah yang berisiko memunculkan kredit bermasalah. Di Indonesia, kata dia, sudah ada 1.600 perusahaan yang memiliki utang luar negeri dan mesti hati-hati terhadap kemunculan kredit bermasalah.

“Dari 1.600 perusahaan 74,8 persen sudah patuh dengan kewajiban minimum melakukan hedging. Dan itu yang paling banyak karena aktiva dalam valuta asingnya lebih banyak dari pasiva dalam valasnya. Jadi yang 74,8 persennya itu kan mereka l sudah memenuhi persyaratan,” kata Agus.

Menurut dia, dalam pertemuan IMF, Bank Dunia, dan negara G20 di Peru beberapa waktu lalu, banyak negara berkembang yang ingin mendalami dan ingin memahami bagaimana bisa mengeluarkan aturan terkait kebiasaan perusahaan tersebut.

Hal itu sebagai respons kekhawatiran bila dunia usaha melakukan ULN secara terlalu agresif dan akhirnya membahayakan perusahannya serta membahayakan keuangan nasional.

Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Erlangga Djumena
bird
Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia menyebut masih ada 320 perusahaan yang belum memenuhi kewajiban minimum hedging atau transaksi lindung nilai.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakaan baru 74,8% dari 1.600 perusahaan memiliki utang luar negeri yang telah memenuhi peraturan terkait kehati-hatian dalam melakukan pinjaman luar negeri.
“Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin itu sudah melihat laporan ada 1.600 perusahaan yang punya ULN harus memenuhi aturan terkait kehati-hatian dalam pinjaman luar negeri. Dari 1600 perusahaan, 74,8% sudah patuh dengan kewajiban minimum melakukan hedging,” ujarnya di Kompleks BI, Jumat (16/10/2015).
Perusahaan yang telah melakukan prinsip kehatian-hatian atau hedging untuk pinjaman luar negeri tersebut, lanjutnya, paling banyak perusahaan itu meniliki aktiva dalam bentuk valuta asing lebih banyak dari passivanya.
Sementara itu, sekitar 400 perusahaan lainnya memng perlu memenuhi kewajiban hedging dan kurng lebih 20% dari jumlah tersebut sudah berhasil memenuhi kebutuhan kewajiban minimun
“Masih ada kira-kira 320 perusahaan yang belum mememenuhi kewajiban minimum hedging,” katanya.
Agus berharap kedepannya para perusahaan memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi untuk melakukan hedging.
“Kita di Indonesia itu termasuk negara yang secara proaktif meminta dunia usaha swasta untuk taat melakukan ULN dengan hati-hati,” ucapnya.
Dia menceritakan dalam pertemuan internasional yang dilakukan di Peru kemarin, banyak negara bverkembang yang ingin mendalami dan memahami bagaimana bisa mengeluarkan aturan yang sbtulnya merespons kekhawatiran apabila dunia usaha melakukan ULN secara terlalu agresif.
Pasalnya, ULN yang terlalu agresif ini dinilai akan membahayakan perushaannya dan akhirnya membahayakan nasional.
bird

ID_JAKARTA– Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi bergerak menguat sebesar 256 poin menjadi Rp13.985 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp14.241 per dolar AS.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Rabu mengatakan bahwa beredarnya spekulasi Kebijakan Ekonomi Jilid III yang akan diluncurkan lebih mengedepankan pada pembenahan kondisi makroekonomi yang lebih konkret dan disertai dengan optimisme Presiden Joko Widodo yang meyakini pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2015 akan lebih baik dibandingkan periode sebelumnya menopang nilai tukar rupiah.

“Harapan fundamental ekonomi nasional yang positif otomatis akan mengangkat mata uang rupiah terhadap mata uang asing, seperti dolar AS,” katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, kebijakan pemerintah sebelumnya mengenai pengurangan pajak bunga deposito bagi para eksportir yang menempatkan dana hasil ekspor di dalam negeri menambah likuiditas peredaran dolar AS di dalam negeri.

Dari eksternal, ia menambahkan bahwa sentimen terkait kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed fund rate) yang cenderung mulai mereda menambah aset-aset dalam mata uang berisiko kembali dilirik investor dikarenakan imbal hasil yang ditawarkan masih cukup menggiurkan.

Di sisi lain, lanjut dia, adanya pertemuan antara Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok untuk membahas langkah-langkah strategis dalam mengatasi perlambatan ekonomi di kawasan itu turut menambah sentimen positif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan, sinyal kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat yang mereda menyusul melambatnya beberapa data ekonomi AS yang menjadi indikator the Fed untuk menaikan suku bunga membuat sebagian pelaku pasar beropini bahwa Fed kemungkinan baru akan menaikan suku bunga acuannya pada tahun depan.

“Proyeksi kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang ditunda membuat dolar AS menjadi kurang menarik bagi investor pasar uang,” katanya. (ant/gor)

bird

Jakarta detik -Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal pekan ini mengalami pelemahan. Pagi tadi mata uang Paman Sam sempat menyentuh Rp 14.170.

Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Selasa (6/10/2015), pagi tadi dolar AS dibuka naik tipis di posisi Rp 14.456 dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 14.452.

Namun tak lama setelah itu dolar AS langsung menukik tajam ke posisi terendahnya hari ini di Rp 14.170. Dolar AS pun masih terus melemah. Seperti terlihat dalam grafik di bawah ini.

Menjelang siang ini, dolar AS bergerak di kisaran Rp 14.295 alias menguat lagi tapi masih lebih rendah dibandingkan posisi pada perdagangan kemarin.

Sepanjang tahun 2015 ini, mata uang Garuda masih melemah 14% terhadap dolar AS. Tren melemahnya dolar AS diakibatkan spekulasi pelaku pasar atas The Fed yang tidak akan naikkan suku bunga tahun ini.

(ang/hen)

bird

JAKARTA okezone – Pagi ini nilai tukar Rupiah kembali menghajar dolar AS. Pada perdagangan hari ini mengarah ke level Rp14.200-an per USD.Analis Pasar Modal Maxi Liesyahputra menilai penguatan nilai tukar Rupiah hari ini bisa menjadi awal yang baik bagi Indonesia. Terutama bagi pengusaha yang selama ini mengandalkan impor untuk memasok bahan baku.

“Ini sebenarnya awal yang baik, cukup memberikan angin segar bagi bisnis di Indonesia, terutama mereka yang impor,” paparnya di iBCM, Selasa (6/10/2015).

Tidak hanya itu, penguatan rupiah juga positif bagi perusahaan yang masih memiliki utang luar negeri. Meskipun masih berada di level Rp14.000an, setidaknya beban miss match nilai tukar berkurang.

Maxi menilai, penguatan rupiah terjadi lantaran daya tarik dolar AS menurun. Hal ini seiring dengan tarik ulurnya Yellen dalam menaikkan suku bunga The Fed.

“Adanya spekulasi Fed (naikkan suku bunga) akan molor, daya tarik dolar AS agak cenderung turun,” tukasnya.

Melansir Yahoofinance, Rupiah berhasil menguat 379 poin atau 2,5 persen ke Rp14.250 per USD. Pagi ini Rupiah bergerak di kisaran Rp14.200-Rp14.634 per USD.

(rzk)

double arrow pic

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan-perusahaan di Indonesia yang memiliki kewajiban dalam bentuk dolar Amerika Serikat saat ini tengah mencari alternatif untuk melakukan lindung nilai terhadap utang-utang mereka.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan, dan mendekati nilai terlemah dalam 17 tahun terakhir. Ini menyebabkan biaya lindung nilai untuk mengantisipasi dampak pelemahan nilai tukar semakin meningkat.

“Biaya hedging sudah melambung sekarang,” ucap Christopher Chan, Presiden Direktur PT Gajah Tunggal seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (23/9/2015).

Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra mengatakan biaya hedging untuk dua bulan menggunakan skema cross currency interest rate swap sekitar 9,5%.

Devaluasi Yuan yang terjadi bersamaan dengan pelemahan harga komoditas ekspor Indonesia dan mulai berkurangnya kepercayaan publik terhadap agenda reformasi Presiden telah melemahkan rupiah sebesar 15,5% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Perlemahan nilai tukar rupiah menjadikannya mata uang terburuk di Asia selain ringgit Malaysia.

Rupiah juga menjadi mata uang yang menduduki peringkat kedua dalam hal tingkat volatilitas tertinggi di Asia.

“Biaya hedging terpengaruh oleh volatilitas dan ini akan lebih mahal, terutama saat rupiah volatilitasnya sangat tinggi,” ucap Chan.

Lebih lanjut Chan mengungkapkan pihaknya tengah mencoba untuk merestrukturisasi bisnis perusahaan dan fokus dalam kegiatan ekspor.

Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan pendapatan dalam bentuk dolar AS untuk menyeimbangkan kewajiban yang berbentuk dolar AS, alih-alih menambah transaksi lindung nilai.

Sedangkan Danadiputra mengatakan pihaknya telah mengeluarkan biaya sekitar US$100 juta untuk membayar suku bunga dan biaya transaksi hedging setiap bulan untuk menutupi biaya operasional perusahaan.

“Untuk straight hedging obligasi dalam mata uang dolar AS sampai jatuh tempo lebih mahal. Lebih murah jika kami menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran yang berbeda jenis mata uangnya,” ucapnya.

Sementara itu, produsen makanan ternak Japfa Comfeed berencana meningkatkan harga untuk memitigasi risiko perlemahan nilai tukar. Perusahaan ini telah  melakukan hedging US$60 juta dari obligasi dolar senilai US$225 juta.

Japfa meyakini pendapatan operasional akan sama atau terkoreksi tipis pada tahun ini dibandingkan tahun lalu. Perusahaan mengimpor sekitar 55% hingga 60% bahan mentah.

Chief Financial Officer Japfa Comfeed Kevin Monteiro mengatakan pihaknya tidak melakukan hedging untuk keseluruhan surat utang dalam bentuk dolar AS. Sebagai gantinya, perusahaan melakukan lindung nilai terhadap biaya operasional dengan nilai lebih dari US$100 juta setiap tahun.

“Ini nilainya hampir sama dengan meng-hedge seluruh obligasi,” ucapnya.

Monteiro juga menuturkan lebih dari separo pendapatan Japfa berupa rupiah.

long jump icon

INILAHCOM, Jakarta – Bank Indonesia (BI) menilai utang luar negeri swasta yang melebihi utang pemerintah dan 80%-nya belum hedging tidak akan menghawatirkan. Mengapa?

Total utang luar negeri mencapai US$303,7 miliar. Sebesar 55,7% atau US$169,2 miliar di antaranya merupakan utang swasta nonbank.

Kepala Departemen Statistik BI Hendy Sulistiowati mengatakan, utang swasta tak mengkhawatirkan karena lebih banyak jangka panjang. “Utang swasta meningkat dan tentunya berperan banyak bagi pembangunan ekonomi,” ujar dia di Jakarta, Jumat (18/9/2015).

Ia menyebutkan, utang swasta yang di-hedging adalah utang luar negeri untuk jangka pendek sampai tiga bulan. Aksi lindung nilai tersebut baru mencapai 20%. “Tentunya berbagai laporan tahu anatomi mana yang mesti dikuatkan, supaya prudent, supaya hedging sebagai solusi,” katanya.

Dengan meningkatknya utang luar negeri swasta nonbank ini, lanjut dia, agar swasta berutang dengan melihat likuiditas perseroan. Tujuannya, agar utang dijaga pembayarannya. “Akan naik utang swasta dengan cara hati-hati,” katanya. [jin] – See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2238694/utang-swasta-mayoritas-tanpa-lindung-nilai#sthash.7fgHJqF0.dpuf

long jump icon

JAKARTA-PT Indosat Tbk dalam menghadapi tren depresiasi rupiah yang berlangsung sejak 2013 melakukan lindung nilai dan mengurangi porsi hutang dolar AS sebagai strategi perusahaan dalam menghadapi pemelahan mata uang Indonesia itu.

“Pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi belakangan ini memang mengakibatkan perusahaan perlu mengambil sejumlah langkah agar kondisi keuangan tak terlalu terganggu,” kata Divison Head Investor Communication PT Indosat Tbk Andromeda H. Tristanto kepada pers di Jakarta, Jumat.

Dikatakan, dalam melakukan lindung nilai, kebijakan risiko yang dianbil adalah rasio lindung nilai minimum 35 persen dari total nilai hutang dalam mata uang asing.

Per 30 Juni 2015 Indosat mempunyai 609,5 juta dolar AS kontrak lindung nilai atau 52,24 persen dari total pinjaman bank dan obligasi dalam dolar AS.

Mengenai pengurangan utang utang dolar AS, dikatakan, saat ini perusahaan mengutamakan sumber pendanaan rupiah dengan tetap memperhitungkan keuntungan optimal yang diperoleh perusahaan.

Selain itu sejak 2014 perusahaan sudah merencanakan pelunasan dipercepat untuk obligasi sebesar 650 juta dolar AS yang jatuh tempo di tahun 2020 dan menyiapkan sumber pendanaan. “Pelunasan telah dilakukan pada Juli 2015,” katanya.

Menurutnya, terjadi peningkatan jumlah hutang perusahaan sebesar Rp5 triliun dari bulan Maret 2015 sebesar Rp23,3 triliun menjadi Rp28,4 triliun pada Juni 2015.

Disamping itu juga terjadi kenaikan jumlah hutang dalam dolar AS sebesar 280 juta dolar AS dibulan JUni 2015 sebesar 1,17 miliar dolar AS dibanding Maret 2015 sebesar 890 juta dolar AS.

“Kenaikan jumlah hutang perusahaan di Juni 2015 dikarenakan perusahaan menarik fasilitas pinjaman yang dimiliki sebagai persiapan melakukan pelunasan dipercepat obligasi sebesar 650 juta dolar AS pada Juli 2015,” katanya.

Setelah pelunasan dipercepat dilakukan pada Juli 2015, jumlah hutang Indosat turun menjadi Rp23,4 triliun dan jumlah utang dolar AS turun dari 1,17 miliar dolar AS pada Juni 2015 menjadi 676 juta dolar AS pada Juli 2015.

Sementara pada Agustus 2015, perusahaan kembali menurunkan porsi hutang dolar AS sehingga jumlah hutangnya menjadi 515 juta dolar AS atau 30 persen dari total hutang.

Dibandingkan posisi Maret 2015, katanya, profit hutang perusahaan juga membaik yang rata-rata tertimbang jatuh tempo naik dari 2,4 tahun (Maret 2015) menjadi 3,2 tahun (Agustus 2015) dan rata-rata tertimbang suku bunga turun dari 8,07 persen (Maret 2015) menjadi 6,5 persen (Agustus 2015).(ant/hrb)

long jump icon

JAKARTA. Rupiah tak berdaya di hadapan dollar Amerika Serikat (AS). Mengacu data Bloombergs, Senin (24/8) di pasar spot akhirnya rupiah tembus ke Rp 14.004 per dollar AS melemah 0,45% dari sebelumnya Rp 13.941 per dollar AS pukul 11.33 WIB.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, laju dollar AS menguat kembali terhadap mayoritas mata uang Asia pagi ini menyusul kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunganya pada bulan September 2015.

“Meski masih ada keragu-raguan The Fed menaikkan suku bunga menyusul ekonomi global yang masih melambat, hal itu tetap mendorong pelaku pasar melakukan akumulasi dollar AS,” katanya dikutip dari Antara.

Reza Priyambada mengharapkan kebijakan upaya Bank Indonesia menahan pelemahan nilai tukar rupiah lebih dalam dengan beberapa kebijakannya dapat direspons positif oleh pasar sehingga rupiah tidak tertekan lebih dalam.

Beberapa kebijakan yang dilakukan BI, kata dia, di antaranya melakukan intervensi di pasar valas untuk mengendalikan volatilitas rupiah, melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dengan tetap memperhatikan dampaknya pada ketersediaan SBN bagi inflow, dan likuiditas pasar uang.

Lalu, memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah, melalui operasi pasar terbuka (OPT) guna mengalihkan likuiditas ke tenor yang lebih panjang, menyesuaikan frekuensi lelang foreign exchange (FX) swap dari dua kali sepekan menjadi satu kali sepekan. Mengubah mekanisme lelang “term deposit” valas dari “variable rate tender” menjadi “fixed rate tender”, menyesuaikan harga (pricing) dan memperpanjang tenor sampai tiga bulan.

Kemudian, menurunkan batas pembelian valas dengan pembuktian dokumen underlying dari yang berlaku saat ini sebesar 100.000 dollar AS menjadi 25.000 dollar AS per nasabah per bulan dan mewajibkan penggunaan nomor pokok wajib pajak (NPWP). Selain itu, melakukan koordinasi dengan pemerintah dan bank sentral lainnya untuk memperkuat cadangan devisa.

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta memperkirakan kebijakan stabilisasi oleh Bank Indonesia bisa membantu mencegah penurunan aset rupiah terlalu dalam walaupun dana keluar asing sulit terbendung. “Untuk beberapa saat rupiah diperkirakan masih dalam tekanan,” katanya.

Sementara, mengacu kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) rupiah berada di Rp 13.998 per dollar AS melemah 0,74% dari sebelumnya Rp 13.895 per dollar AS.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-tembus-rp-14004-per-dollar-as
Sumber : KONTAN.CO.ID

long jump icon

JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memiliki strategi untuk mengantisipasi efek dari melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, sejak kuartal pertama 2015 Garuda Indonesia melakukan kerjasama lindung nilai melalui transaksi Cross Currency Swap dengan beberapa bank, atas obligasi Rupiah ke mata uang dolar AS senilai Rp2 triliun.

“Melalui cross currency swap Garuda dapat menghindari atau mengurangi resiko melonjaknya biaya operasional jika dibayarkan dalam mata uang Rupiah karena pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar,” kata Arif di Pacific Place, Jakarta, Rabu (29/8/2015).

Arif mengungkapkan, cross currency swap sangat penting dilakukan mengingat biaya operasional penerbangan seperti pembelian spare parts, maintanance serta sewa pesawat dibayarkan dalam mata uang dolar.

Menurut Arif, saat ini manajemen Garuda Indonesia masih melihat perkembangan pasar di mana pada saat yang tepat akan melakukan kegiatan lindung nilai dengan skema yang sudah dipersiapkan.

“Ini merupakan bagian dari manajemen risiko perusahaan yang dijalankan berdasarkan kehati-hatian,” tambahnya.

Selain itu, sambung Arif, pelaksanaan rutin transaksi lindung nilai terhadap eksposure penerimaan IDR dan biaya dolar serta bahan bakar, menambah kinerja manajemen risiko yang di tengah kondisi perekonomian yang melemah baiki di global maupun nasional.

http://economy.okezone.com/read/2015/07/29/278/1187259/cara-garuda-indonesia-antisipasi-anjloknya-kurs-rupiah
Sumber : OKEZONE.COM

long jump icon

Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan terus menguat seiring dengan normalisasi kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan tingkat suku bunganya.

Untuk mengantisipasi tingginya risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menyempurnakan 3 Peraturan BI (PBI) terkait transaksi valas terhadap rupiah dan Posisi Devisa Neto (PDN) bank umum.

Direktur Task Force Program Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah mengatakan, semakin terintegrasinya perekonomian Indonesia dengan global, maka stabilitas rupiah perlu didukung oleh pasar valas yang efisien dan berdaya tahan terhadap gejolak.

BI sebagai lembaga yang diberi mandat untuk mencapai dan memelihara stabilitas nilai tukar terus berupaya untuk mempercepat pendalaman pasar valuta asing domestik.

“Risiko global, maka akan mendorong dolar AS menguat, untuk antisipasi risiko ke depan yang semakin tinggi, perlu adanya penyempurnaan aturan,” kata dia saat konferensi pers di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Senin (1/6/2015).

Nanang menjelaskan, pendalaman pasar valas domestik itu akan dilakukan BI melalui peningkatan fleksibilitas pelaku pasar dalam melakukan transaksi valas.

Hal ini diharapkan bisa mendukung kegiatan ekonomi dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan

Dia menyebutkan, salah satu langkah konkret BI dalam melakukan percepatan pendalaman pasar valas melalui penyempurnaan ketentuan terkait transaksi valuta asing terhadap rupiah dan Posisi Devisa Neto (PDN) bank umum melalui penerbitan 3 PBI.

Ketiga PBI yang diterbitkan hari ini tersebut adalah yang pertama, PBI No. 17/ /PBI/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/16/PBI/2014 tentang Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank Dengan Pihak Domestik.

Aturan ini menjelaskan, kredit atau pembiayaan bank untuk kegiatan perdagangan dan investasi dapat menjadi underlying transaksi derivatif valas/IDR dalam rangka lindung nilai oleh nasabah.

“Ada potensi peningkatan, ada kekuatan yang buat volume transaksi derivatif meningkat, itu akan memaksa dunia usaha yang memiliki ULN akan masuk ke transaksi hedging, perusahaan-perusahaan yang punya utang valas didorong untuk hedging sehingga volume transaksi hedging meningkat, prediksi saya menjelang akhir tahun akan meningkat,” jelas dia.

Aturan kedua adalah PBI No. 17/PBI/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/17/PBI/2014 tentang Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank Dengan Pihak Asing.

Aturan ini menjelaskan, melalui perluasan instrumen transaksi derivatif berupa cross currency swap (CCS) valas terhadap rupiah, kredit atau pembiayaan sebagai underlying dan perluasan cakupan underlying transaksi yang meliputi perkiraan pendapatan maupun perkiraan biaya kegiatan perdagangan dan investasi.

“Dari 72 perusahaan, yang aktif 25, itu bisa lakukan transaksi derivatif termasuk CCS, ini mewakili 70% dari pelaku valas, sejauh ini jumlahnya terus meningkat termasuk Garuda Indonesia, pinjaman dari luar negeri yang jangka panjang biasanya menggunakan CCS, ini umumnya sifatnya multiyears untuk mitigasi risiko kurs dan bunganya, ini lebih pruden, menghadapi 2 risiko, kurs dan bunganya,” sebut dia

Selain itu, jelas Nanang, dalam upaya memberikan kepastian bagi pihak asing untuk mengoptimalkan instrumen-instrumen derivatif sebagai instrumen hedging atas investasinya di Indonesia, maka dilakukan penghapusan persyaratan jangka waktu minimum transaksi derivatif satu pekan untuk pihak asing.

Menurut Nanang, penyesuaian pengaturan transaksi valas terhadap rupiah itu dilakukan secara prudent dan tetap memperhatikan dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan dengan mewajibkan bank untuk memenuhi sejumlah pengaturan terkait mitigasi risiko.

“Di masa lalu, transaksi derivatif jangka pendek ini dilakukan untuk spekulasi,” katanya.

Peraturan ketiga adalah PBI No. 17/PBI/2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/13/PBI/2003 tentang Posisi Devisa Neto (PDN) Bank Umum.

Untuk aturan PDN, kata Nanang, diterbitkan untuk membatasi gap antara aset dan kewajiban per mata uang asing yang dimiliki bank sehingga risiko akibat pergerakan mata uang menjadi terkendali.

PDN dibatasi maksimal 20% dari modal dan penghapusan kewajiban bank untuk memelihara rasio PDN 30 menit dihapus.

Dengan dihapuskannya PDN 30 menit, bank diharapkan memiliki fleksibilitas dalam mengelola risiko nilai tukar dengan tetap menjalankan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.

“Risiko bagi bank apabila US$ menguat maka bank akan mengalami kerugian karena memiliki gap,” jelas dia.

long jump icon

JAKARTA. Posisi rupiah kian terpojok di hadapan dollar Amerika Serikat. Mengacu kurs tengah Bank Indonesia (BI), kemarin, rupiah menyusut 0,05% menjadi Rp 13.192 per dollar AS. Di pasar spot, rupiah terkoreksi 0,25% ke Rp 13.220 per dollar AS.

Sejak awal tahun hingga kemarin atau year-to-date (ytd), rupiah jeblok 6,72%. Kondisi ini menekan nyaris semua perusahaan. PT Indosat Tbk (ISAT), misalnya, menderita rugi kurs Rp 688,42 miliar pada kuartal I-2015. Sementara PT XL Axiata Tbk menelan rugi kurs Rp 1,05 triliun, dari sebelumnya untung selisih kurs  Rp 477 miliar. Pun sejumlah korporasi lain menghadapi nasib serupa.

Celakanya, prediksi Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada, kerugian kurs masih mengancam emiten di kuartal kedua tahun ini. “Jika sampai Juni rupiah terus melemah, emiten masih menderita kerugian kurs,” ucap dia, kemarin.

Analis First Asia Capital David Sutyanto melihat, apabila The Fed mengerek suku bunga acuan, rupiah semakin terpuruk. Efeknya, rugi kurs berpotensi membesar.

Beberapa emiten memang telah melakukan lindung nilai atau hedging. Namun, hedging tak bisa maksimal karena porsi komponen valuta asing yang dilindungi hanya beberapa persen. Posisi nilai tukar saat hedging  menentukan rugi atau laba kurs. Sudah begitu, hedging juga memerlukan biaya yang tak sedikit.

Direktur Keuangan PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) Kent Carson sempat mengungkapkan mahalnya biaya hedging di Indonesia. Demi melindungi laporan keuangannya dari tekanan fluktuasi valuta, SMCB mengurangi porsi utang valasnya.

Tahun lalu, porsi utang valas SMCB mencapai 70%. Tahun ini, porsinya berkurang menjadi 36%. Akhir tahun depan, SMCB ingin menguranginya lagi menjadi 20%.

Strategi lain menangkal rugi kurs adalah mengurangi eksposur valuta asing. Misalnya menggunakan bahan baku lokal. Masalahnya, tak semua bahan baku tersedia di dalam negeri.

Dus, Managing Partner Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai, beberapa emiten masih menderita rugi kurs meski telah hedging. “Jika demikian, berarti perusahaan tak melakukan hedging di semua beban atau utang dengan mata uang asing,” ujar dia.

Prediksi David, hingga akhir tahun nanti, rupiah berada di  level Rp 13.500, sementara  proyeksi Reza rupiah di level Rp 13.800 per dollar AS.

Melemahnya rupiah jelas menjadi pukulan ganda bagi korporasi pada saat ini. Sebab selain terpukul kurs, mereka juga harus menghadapi kelesuan bisnis, serta melemahnya penjualan. Naga-naganya ekonomi kita bakal menghadapi turbulensi lagi. Jadi sebaiknya bersiap siagalah.

http://investasi.kontan.co.id/news/pelemahan-rupiah-merobek-korporasi
Sumber : KONTAN.CO.ID

long jump icon

JAKARTA. Tren perlambatan pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2015, tampaknya, belum akan berpengaruh negatif pada neraca perdagangan. Sebab,  Badan Pusat Statistik (BPS) masih optimistis, surplus neraca perdagangan akan berlanjut hingga bulan Mei 2015.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo memproyeksikan, tren impor pada bulan Mei masih akan mengalami peningkatan, khususnya pada impor bahan baku dan barang modal. Hal tersebut sejalan dengan rencana pembangunan infrastruktur pemerintah yang akan dimulai pada kuartal kedua tahun ini.

Kendati demikian, walaupun impor bahan baku dan barang modal akan mengalami peningkatan, impor secara total diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya karena adanya tekanan pada impor barang konsumsi. Menurut Sasmito, tekanan tersebut terjadi akibat adanya perang harga pada barang golongan mesin dan peralatan listrik serta mesin dan peralatan mekanik, seperti ponsel, televisi, dan peralatan listrik.

Apalagi saat ini, produsen ponsel di ASEAN semakin banyak sehingga mereka bersaing dari sisi harga demi mendapatkan ceruk pasar. Sebab itu, para produsen ponsel berani memberikan harga rendah walaupun nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap mata uang lainnya sedang menguat. Akibatnya, impor golongan tersebut pada bulan Mei akan mengalami penurunan ketimbang bulan April sebelumnya.

“Yang mengalami perang harga adalah Vietnam karena produksi elektroniknya juga banyak. Kemudian Tiongkok yang terkadang harganya tidak masuk akal, sebab harga dari produk buatannya berbeda jauh dengan dengan produk serupa,” kata Sasmito, Jumat (15/5).

Sementara itu dari sisi ekspor, BPS memperkirakan ekspor migas masih tertekan. Selain itu, ekspor batubara juga tertekan karena harganya masih melempem. Kendati demikian, tekanan ekspor migas akan diimbangi dengan peningkatan volume ekspor non migas, khususnya pada Crude Palm Oil (CPO) dan karet. Maklum, BPS memperkirakan rata-rata harga CPO pada bulan Mei ini meningkat.

Selain itu, BPS yakin risiko perang harga pada komoditas CPO dan karet sangat kecil,  mengingat Indonesia sebagai salah satu pengeskpor terbesar dua komoditas tersebut. Indonesia dan beberapa negara bisa menjaga harga komoditas unggulan agar stabil. “Indonesia bisa kompak dengan Malaysia karena menguasai produk CPO hampir 90%. Kemudian karet, Indonesia bisa kompak dengan Malaysia, Vietnam, Thailand,” tambah Sasmito.

Di sisi lain, ekspor produk manufaktur seperti tekstil dan sepatu juga diperkirakan mengalami peningkatan pesat pada bulan Mei ini.

Surplus Lebih Kecil

Kendati demikian, surplus pada bulan Mei 2015 diperkirakan lebih kecil dibandingkan dengan surplus pada bulan April yang mencapai US$ 454,4 juta. Data BPS menunjukkan, surplus neraca perdagangan pada bulan April 2015 terjadi akibat nilai ekspor yang lebih tinggi, yakni US$ 13,08 miliar, ketimbang impor sebanyak US$ 12,63 miliar.

Kendati demikian, ekspor pada April 2015 mengalami penurunan sebesar 4,04% dibandingkan dengan ekspor bulan Meret lalu. Penurunan terjadi akibat turunnya ekspor migas sebesar 26,68% ketimbang Maret 2015, yang utamanya disebabkan oleh anjloknya ekspor batubara.

Selain itu, untuk ekspor non migas, terjadi pula penurunan sebesar 0,17% dibandingkan dengan ekspor Maret 2015. Meski ekspor non migas turun, ekspor untuk golongan lemak minyak hewan dan nabati malah naik sebesar US$ 270,8 juta dibandingkan dengan Meret 2015.

Sedangkan dari sisi impor, nilai impor pada April 2015 mengalami kenaikan 0,16% dibandingkan impor Maret 2015 dan mengalami penurunan 22,31% dibandingkan impor April 2014 lalu. Selama April 2015 lalu, impor golongan mesin dan peralatan mekanik mengalami penurunan tertinggi untuk impor non migas sebesar 9,90% dibandingkan Maret lalu akibat adanya perang harga, terutama pada produk ponsel.

Sedangkan dilihat dari golongan penggunaan barang, selama April 2015 impor barang konsumsi turun 2,1% menjadi US$ 910,8 juta. Sementara itu impor barang modal juga melempem menjadi US$ 2,027 miliar.

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih sependapat bahwa peluang surplus di bulan Mei masih ada. Kendati demikian, surplus tersebut disebabkan  masih terjadinya penurunan impor dan ekspor yang juga masih belum menggeliat.

Selain itu, penurunan impor di bulan April lalu kemungkinan berlanjut. Sebab, masyarakat masih menahan diri untuk tidak berkonsumsi menjelang musim puasa, lebaran, dan menjelang tahun ajaran baru. “Tapi surplusnya tidak sehat sebab terjadi karena impor yang menurun,” kata Lana.

Sementara dari sisi ekspor pun belum bisa diandalkan. Mengingat ekspor Indonesia masih bergantung pada komoditas. Selain itu, kinerja ekspor Indonesia juga masih bergantung pada kondisi ekonomi China. Perlambatan ekonomi di China membuat harga komoditas melemah dan permintaan menurun.

Pemerintah hanya punya satu pertolongan untuk memperbaiki kualitas neraca perdagangan melalui realisasi pembangunan infrastruktur. Dengan jalannya rencana tersebut, pemerintah akan membantu impor barang modal dan bahan baku. “Mungkin bisa defisit, namun defisit yang berkualitas tidak apa-apa,” tambah Lana.

Sebab, pemerintah juga tidak bisa mengandalkan pengusaha dalam melakukan impor barang modal dan bahan baku untuk kegiatan produksinya. Diperkirakan, pengusaha masih akan menunggu perbaikan kondisi ekonomi hingga kuartal ketiga dan keempat tahun ini.

Sementara itu, untuk mendorong ekspor dan melepas ketergantungan ekspor komoditas, pemerintah harus memiliki terobosan dalam memasuki pasar ekspor manufaktur, misalnya melalui produk-produk yang high  end. Sebab, produk-produk menengah dalam negeri masih kalah bersaing dengan produk-produk dari China.

http://nasional.kontan.co.id/news/surplus-dagang-akan-berlanjut-mei
Sumber : KONTAN.CO.ID

long jump icon

 

Bisnis.com, JAKARTA – Bank badan umum milik negara (BUMN) berkomitmen untuk memberikan lindung nilai atau hedging senilai US$7,8 miliar atau Rp101,4 triliun kepada perusahaan pelat merah maupun swasta.

Bank pelat merah tersebut yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan perseroan berencana untuk memberikan fasilitas hedging sepanjang tahun ini senilai US$3 miliar.

“Delapan korporasi sudah mulai hedging, ekspektasi volume hedging 2015 senilai US$3 miliar, jumlah BUMN yang ditargetkan untuk difasilitasi tahun ini ada 10 masih konservatif, kita akan pelan,” ujar di Gedung BI, Rabu (13/5/2015).

Fasilitas hedging ini, lanjutnya, memperkuat perusahaan BUMN menghadapi tekanan volatilitas rupiah dan secara nasional dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Direktur Keuangan BNI Rico Rizal Budidarmo menuturkan perseroan menargetkan bisa memberikan fasilitas lindung nilai kepada sembilan perusahaan pelat merah senilai US$3 miliar sepanjang tahun ini.

“Nanti corporate swasta hedging US$1,5 miliar dan BUMN US$1,5 miliar. 50:50 untuk corporate dan BUMN,” ucapnya.

Sementera itu, Bank BRI juga akan memberikan fasilitas hedging. Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menuturkan BRI akan memberikan fasilitas hedging kepada 12 BUMN sebesar US$1,8 miliar tahun ini.

“Rencananya kami akan beri US$1,4 miliar ke BUMN dan swasta US$400 juta. Total BUMN yang diberi fasilitas rencananya 12 BUMN di tahun ini,” katanya.

long jump icon

 

JAKARTA kontan. Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus berkomitmen mendongkrak layanan transaksi lindung nilai (hedging). Sebab langkah ini untuk mendukung kebijakan pemerintah agar meminimalkan risiko keuangan nasabah akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Menurut Asmawi Syam, Direktur Utama BRI, hingga kini nilai fasilitas hedging yang telah diberikan kepada nasabah perusahaan di BRI sudah mencapai US$ 1,85 miliar. Jumlah tersebut sebagian besar diberikankepada kalangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) senilai US$ 1,38 miliar. “Sementara sisanya US$ 475 juta merupakan fasilitas hedging yang kami berikan pada pelaku usaha swasta,” kata Asmawi di Jakarta, Rabu (13/5).

Asmawi menegaskan bahwa komitmen BRI untuk memberikan layanan transaksi lindung nilai akan terus ditingkatkan. Salah satunya melalui kerja sama dengan memberikan fasiltias hedging pada Pertamina yang perjanjiannya ditanda tangani hari ini. “Fasiltas hedging yang kami berikan pada Pertamina sebesar US$ 750 juta,” ujar Aswawi.

Selain BRI, Pertamina juga menggandeng Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia (BNI) untuk mendapatkan fasilitas hedging. Nilai hedging yang didapatkan dari 3 Bank BUMN tersebut mencapai US$ 2,5 miliar. Adapun sebesar US$ 1 miliar diantaranya diperoleh dari Bank Mandiri.

“Kami menyambut baik kerjasama 3 bank BUMN tersebut dengan Pertamina ini. Ini menjadi bagian upaya manajemen resiko perusahaan agar mampu mengelola bisnis dengan lebih efisien. Perjanjian layanan transaksi lindung nilai ini akan membantu kami menghadapi resiko akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah,” pungkas Dwi Sutjipto, Direktur Utama Pertamina dalam kesempatan yang sama.

Editor: Sanny Cicilia
long jump icon

JAKARTA – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai fluktuasi yang terjadi pada Rupiah membuat pusing para pengusaha Indonesia.”Kalau dari pengusaha sih sebenarnya kenaikan dari Rp9.000, Rp10.000, sampai Rp13.000, ini sudah agak sedikit puyeng-puyeng,”tutur Ketua Umum Hipmi, Bahlil Lahadahlia, di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (11/5/2015).

Dia menuturkan, kondisi pengusaha saat ini tidak lagi memikirkan untung, tapi lebih pada kondisi bertahan.

“Kita bertahan saja sudah bagus, enggak mikirin untung, dan enggak mem-PHK orang saja sudah bagus untuk kondisi saat ini,”tuturnya.

Jika melihat kondisi seperti ini, maka diperlukan intervensi Bank Indonesia (BI). “Ya walaupun Rp13.000 saya pikir masih landai-landai saja, tapi ketika sudah di Rp14.000 kea tas sudah harus di intervensi BI,”katanya.

Menurutnya, semua itu bergantung pada analisa makro ekonomi dari BI dalam menentukan sikap mengintervensi atau tidak.

“Kita lihat saja ke depannya, jika kita mengusulkan sektor apa saja yang BI bisa Intervensi, belum tentu kajiannya sama dengan BI,”tuturnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/05/11/320/1148021/kondisi-rupiah-buat-pengusaha-pusing
Sumber : OKEZONE.COM

long jump icon

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan lindung nilai atau hedging,saat melakukan pinjaman atau utang dalam dolar.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan perusahaan pelat merah maupun swasta yang memiliki kewajiban valuta asing atau ini berisiko besar kegagalan pembayaran utang.

Risiko kegagalan pembayaran utang valas semakin meningkat sehingga berdampak terhadap stabilitas perekonomian Indonesia.

Salah satu langkah untuk meredam risiko tersebut yakni dengan melakukan lindung nilai atau hedging sehingga kerugian akibat selisih mata uang pun semakin kecil.

“Yang kita inginkan, jangan sampai BUMN kemudian jadi rugi besar hanya karena tidak lakukan pengelolaan risiko nilai tukar dengan hedging,” ujarnya di Gedung BI, Kamis (7/5/2015).

Saat ini, baru ada sekitar 3 perusahaan pelat merah yang melakukan hedging yakni Perusahaan Listrik Negara (PLN), Garuda Indonesia, dan Krakatau Steel.

“Kami meyakinkan semua perusahaan khususnya BUMN yang punya tagihan dalam valuta asing harus bisa mengelola risiko dengan baik,” katanya.

Agus khawatir dengan besaran utang luar negeri yang dilakukan BUMN dan swasta. Pasalnya, hanya 26% saja yang telah dilakukan hedging, sisanya 74% utang tersebut tak dilakukan lindung nilai.

Padahal, rerata utang valas swasta dan BUMN hanya berjangka waktu pendek yakni hanya 1-3 tahun saja. Tanpa melakukan hedging, Agus, perusahaan yang semula berada dalam kondisi keuangan yang sehat atau solvent dapat seketika menjadi insolvent akibat perubahan nilai tukar.

Menurutnya, BUMN dan perusahaan swasta perlu berkaca dari pengalaman krisis tahun 1997-1998, di mana banyak perusahaan yang terpukul akibat memiliki pinjaman jangka pendek dalam bentuk valasdan tidak melakukan transaksi lindung nilai.

“Pengalaman kita pada 1998, perusahaan yang pendapatannya rupiah, berutang dalam valas itu tidak lakukan lindung nilai tapi juga pengembaliannya pendek, yaitu 1-3 tahun. Padahal pinjaman pemerintah itu 20 tahun. Jadi itu sangat berisiko karena dampaknya bisa ke stabilitas keuangan dan ekonomi Indonesia,” tutur Agus.

Dia berharap agar perusahaan pelat merah mau melakukan transaksi lindung nilai sehingga dapat menjadi contoh bagi perusahaan swasta yang bertransaksi dalam bentuk valas untuk ikut melaksanakan hedging.

“Kami ingin BUMN berikan contoh bagaimana kelola valas. Supaya swasta bisa contoh dalam melakukan praktek manajemen risiko yang baik, konsisten, akuntabel,” ujar Agus.

http://finansial.bisnis.com/read/20150508/9/431143/ingatkan-krisis-1998-bi-imbau-bumn-dan-swasta-lakukan-hedging
Sumber : BISNIS.COM

long jump icon

detik Jakarta -Bank Indonesia (BI) memperingatkan pemerintah akan adanya ancaman arus dana keluar alias capital outflow hingga Rp 130 triliun. Salah satu pemicunya adalah membaiknya kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS).

Agus menerangkan, ancaman tersebut timbul karena sejak tahun 2009 sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia telah menerima aliran dana yang cukup besar dari AS. Dalam 4 tahun terakhir ekonomi AS sudah mencoba bangkit melalui program pemberian stimulus ekonomi yang diberikan bank sentralnya, The Federal Reserve.

“Selama paling tidak 4 tahun, ketika Amerika memberikan stimulus moneter, itu memang menjadi formula sehingga mempengaruhi nilai tukar yang lebih kuat di negara berkembang termasuk Indonesia,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (3/6/2014).

Ancaman tersebut, lanjut Agus, setidaknya mulai terlihat sejak tahun 2013 lalu ketika bank sentral AS melakukan perubahan kebijakan dengan mengurangi stimulus ekonominya, mengaharuskan pelaku pasar di AS menarik dananya yang sebelumnya ditanamkan di sejumlah negara-negara berkembang.

Akibatnya, nilai tukar mata uang di sejumlah negara mengalami depresiasi yang cukup dalam. Termasuk juga mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Kami melihat, ancaman dari Amerika juga kan disertai ancaman akan ada peningkatan tingkat suku bunga karena anggapan mulai membaiknya kondisi ekonomi di negara tersebut. Akan bisa mengancam dana yang ada di Indonesia,” papar dia.

“Rp 130 triliun apabila kondisi global menunjukkan negara Amerika Serikat semakin kuat, tentu ini akan menjadi ancaman outflow yang luar biasa bagi Indonesia,”simpulnya.

Dana asing memang sudah mengalir masuk ke tanah air dalam jumlah besar. Sejak awal tahun ini, di Bursa Efek Indonesia (BEI) saja dana asing sudah ‘parkir’ Rp 41,9 triliun.

Selain masuk ke pasar modal, dana asing ini juga terserap ke berbagai surat utang, baik itu pemerintah maupun swasta.

(ang/ang)

long jump icon

Jakarta —  Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin pagi (2/6), melemah sebesar 26 poin menjadi Rp11.700, dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.674 per dolar AS.

“Rupiah kembali tertekan seiring dengan ekspektasi Bank Indonesia bahwa neraca transaksi berjalan Indonesia akan kembali mengalami defisit,” kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Senin (2/6).

Kendati demikian, lanjut dia, di sisi lain pelaku pasar masih mengharapkan bahwa data neraca transaksi berjalan Indonesia yang akan dipublikasikan pada Senin siang ini mencatatkan surplus.

Selain itu, ia menambahkan bahwa inflasi Mei 2014 ini juga diekspektasikan masih tetap akan stabil meski secara historis laju inflasi pada Mei cenderung meningkat.

“Dalam tiga tahun terakhir, hanya pada 2012 yang menunjukkan angka penurunan inflasi. Untuk inflasi Mei tahun ini, estimasi kami berada pada kisaran 0,05-0,17 persen,” katanya.

Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova menyatakan bahwa menjelang pengumuman data ekonomi Indonesia pada awal pekan ini, pelaku pasar cenderung menempatkan dananya dalam bentuk dolar AS untuk mengantisipasi jika data tidak sesuai yang diharapkan.

Menurut dia, jika data ekonomi domestik sesuai dengan ekspektasi pasar maka peluang rupiah untuk kembali menguat ke level Rp11.500 per dolar AS dapat kembali terbuka.

http://www.imq21.com/news/read/232035/20140602/104504/Data-Ekonomi-Tekan-Rupiah-di-Rp11-700.html
Sumber : IMQ21.COM

long jump icon

Jakarta -Penggunaan mata uang asing tidak hanya terjadi di wilayah perbatasan Indonesia, namun juga di kota-kota besar. Beberapa hotel berbintang masih menerima transaksi dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam Undang-undang No 7 Tahun 2011 tentang mata uang, pada pasal 33 disebutkan ketentuan pidana bagi setiap orang yang tidak menggunakan rupiah dalam setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran, penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang dan transaksi lainnya.

Apalagi ada pelanggaran maka sanksi pidana kurungan akan diberikan paling lama 1 (satu tahun) dan pidana denda paling banyak Rp 200 juta.

Pelaku dunia usaha seperti perhotelan dibolehkan menerapkan patokan harga tarif kamar dengan menggunakan mata uang asing seperti dolar AS. Namun untuk transaksinya, harus tetap menggunakan rupiah. Pihak hotel harus menyediakan jasa penukaran uang di lokasi hotel.

“Seharusnya kalau di hotel itu quotation (kutipan) saja boleh pakai dolar, bayar tetap rupiah. Kalau pembayarannya pakai dolar itu nggak boleh,” ungkap Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Peter Jacobs kepada detikFinance, Rabu (28/5/2014)

Ia menuturkan, rupiah adalah lambang dari kedaulatan Negara Indonesia. Untuk itu, UU Mata Uang mengatur bahwa transaksi yang diperbolehkan di Indonesia adalah menggunakan rupiah, bukan mata uang asing.

“Agar berdaulat ya rupiah harus diakui di daerah kita sendiri. Makanya diatur dalam UU,” kata Peter.

(mkl/hen)

long jump icon

tren usdVRUP 2yr may 2014

ikon analisis gw

… coba simak di grafik tren kurs dolar/rupiah yang paling bawah: pada 2004, 2008-2009, n 2013-2014 terjadi gejolak PELEMAHAN RUPIAH … selalu bersinggungan dengan periode PEMILU ya (pe-pilu: pembuat pilu tuh … :P) … kondisi pelemahan saat ini tampaknya mulai reda seh … semoga bisa balek ke bawah 10K youw … 🙂

long jump iconJAKARTA,KOMPAS.com – Ekonom Faisal Basri menilai, akibat tidak menerapkan kebijakan penjaminan penuh (blanket guarantee) Indonesia minim penerapan penanganan krisis.

Akibatnya, banyak masyarakat yang memindahkan uangnya ke negara yang menerapkan blanket guarantee, pada saat krisis, agar lebih aman.

“Analis Singapura membeberkan tahun 2008 ada aliran modal begitu derasnya ke bank-bank yang ada di Singapura berasal dari Indonesia,” ungkap Faisal saat memberikan kesaksian dalam kasus Bank Century dengan terdakwa Mantan Deputy Gubernur BI Budi Mulya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Menurut Faisal, Banking Pressure Index (BPI) yang dirilis oleh Danareksa Research Insitute menginformasikan adanya kekeringan likuiditas pada saat itu. Dia kemudian juga mengatakan, prinsip yang di pakai Indonesia, yakni uang mengalir bebas dari dalam ke luar maupun sebaliknya.

“Tidak ada aturan berapa jumlah yang harus dipindahkan. Ketika krisis, pemodal memindahkan uangnya ke negara-negara yang memberikan blanket guarantee,” paparnya.

Menurut Faisal, uang tak mengenal nasionalisme. Buktinya, hingga saat ini tercatat 100 miliar dollar AS uang milik orang Indonesia berada di Singapura. Di sisi lain, penjaminan terhadap nasabah oleh bank di Indonesia hanya sebesar Rp 2 milyar berdasarkan Perppu.

Menurutnya, itu tidaklah cukup. Sehingga banyak nasabah yang menarik dananya yang berada di bank dan menimbulkan keringnya likuiditas.

“Penjaminan di bawah Rp 2 miliar mencakup 95 persen nasabah di Indonesia, tetapi uang nasabah tersebut hanya sebesar 10 persen dari jumlah uang yang ada di perbankan nasional. Ketimpangan di Indonesia sangat jelek,” kata Faisal.

Dalam keterangannya, Faisal menyebut, satu-satunya orang yang menolak blankeet guarantee adalah Jusuf Kalla. “Sejauh yang saya ketahui, para menteri, BI dan instansi terkait menyetujui penerapan blankeet guarantee. Tetapi JK memiliki hak Veto untuk menolak. JK bukan ahli keuangan, bukan ahli perekonomian, namun businessman dan politisi,” tegas Faisal.

long jump icon

JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengingatkan bahwa kerugian yang menimpa beberapa perusahaan Indonesia pada 2013 akibat utang luar negeri berdenominasi mata uang asing alias valas, patut disayangkan.

Menurut Agus, kejadian yang memberikan kinerja buruk bagi perusahaan tersebut, lebih dikarenakan tidak menggunakan fasilitas transaksi lindung nilai alias hedging yang sudah diberikan oleh Bank Indonesia.

Karena itu, kata Agus, sangat menyayangkan jika terdapat korporasi yang pada 2012 mendapatkan profit sebesar Rp 3 triliun, namun pada tahun berikutnya justru mengalami kerugian mencapai Rp 19 triliun, hanya karena tidak mampu merespons pelemahan rupiah lantaran tidak menggunakan fasilitas transaksi hedging.

Lebih lanjut Agus mengungkapkan, fasilitas lindung nilai yang telah diberikan oleh bank sentral tersebut bahkan juga kurang dimanfaatkan oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Padahal perusahaan pelat merah tersebut, memiliki ketergantungan terhadap utang luar negeri terkait ekspansi yang dilakukan.

“Masih banyak BUMN yang tidak melakukan hedging. Saya menyambut baik beberapa bank besar yang menganjurkan untuk melakukan hedging kepada beberapa nasabah korporasi yang dimilikinya. Tapi itu belum banyak,” ucap Agus di Gedung BI, Jakarta, Senin (26/1).

Untuk itu, mantan Menteri Keuangan ini menghimbau kepada para pelaku bank devisa di Indonesia untuk lebih aktif dalam memberikan pendampingan dan saran kepada nasabah guna menjaga likuiditasnya. Dengan begitu, diharapkan transaksi keuangan di Indonesia akan dapat meningkat dan menjaga utang luar negeri Indonesia, yang saat ini posisinya membengkak mencapai Rp 3.138,55 triliun.

“Kami harap bank dapat menghubungi nasabahnya dan mengingkatkan supaya melakukan hal yang terbaik bagi perusahaan, salah satunya dengan lindung nilai,” ujarnya.

Editor: Hendra Gunawan
long jump icon

Jakarta -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah menunjukkan tren menguat dalam dua pekan terakhir. Optimisme investor akan Pemilihan Presiden (Pilpres) berjalan satu putaran jadi sentimen positif.

Pagi tadi dolar AS dibuka melemah di posisi Rp 11.350 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 11.430 per dolar AS.

Ini merupakan posisi dolar AS terendah sejak satu bulan lalu atau tepatnya 10 April 2014. Dana asing masuk semakin deras ke pasar keuangan, baik itu melalui pasar saham maupun obligasi.

Hingga pukul 14.40 WIB, rupiah terus menekan dolar AS hingga ke level Rp 11.357 per dolar AS. Posisi terendah dolar AS hari ini ada di level Rp 11.338 per dolar AS.

Menurut Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, pelaku pasar melihat akan adanya perubahan di ekonomi Indonesia sejalan dengan bergantinya pemerintahan.

Jika tren positif ini berlanjut, kata Reza, maka dolar AS akan terus melemah sampai ke kisaran Rp 10.900-11.000 per dolar AS.

“Market ini ekspektasinya dengan adanya pemerintahan baru maka kondisi ekonomi Indonesia akan lebih baik. Tapi jalan menuju ke sana harus dibarengi dengan terjaganya nilai ekspor dan impor,” ujarnya kepada detikFinance, Senin (19/5/2014).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini memang masih rendah tapi jika dibandingkan negara lain masih dalam tahap wajar. Jika pertumbuhan ekonomi ini terus terjaga dan ditingkatkan oleh presiden baru pilihan pasar, maka rupiah bisa makin kuat lagi.

Dari dua calon calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang maju dalam pilpres, Joko Widodo dan Jusuf Kalla (JK) cenderung jadi pilihan favorit pelaku pasar modal.

(ang/dnl)

long jump icon

Rabu, 14 Mei 2014, 15:03 WIB

PDI-P Deklarasikan Koalisi, Kurs Rupiah Melonjak ke Rp11.452/US$

Gita Arwana Cakti

 

Bisnis.com, JAKARTA — Menjelang penutupan perdagangan Rabu (14/5/2014), nilai tukar rupiah semakin menguat terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah menguat tajam 0,74% ke Rp11.452 per dolar AS pada pukul 14.04 WIB.

Pada awal perdagangan, kurs rupiah dibuka menguat 0,29% ke level Rp11.505 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya Rp11.538 per dolar AS.

Selanjutnya kurs rupiah menguat 0,48% ke level Rp11.482 per dolar AS pada pukul 09.07 WIB. Adapun pada pukul 11.10 WIB, rupiah menguat 0,58% ke level Rp11.471 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi saat dolar AS ditransaksikan beragam terhadap sebagian besar mata uang Asia.

Siang ini, PDI-Perjuangan juga baru saja mendeklarasikan koalisi partai dengan Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk mendukung calon presiden PDI-P Joko Widodo (Jokowi).

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia Rabu, 14 Mei 2014

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB

Yen

102,15

-0,11%

14:08:02

$Hong Kong

7,75

-0,00%

14:08:29

$Singapura

1,25

-0,26%

14:08:37

$Taiwan

30,14

-0,13%

14:08:14

Won

1.027,8

+0,55%

13:59:59

Peso

43,58

-0,53%

14:06:59

Rupiah

11.452

-0,74%

14:04:32

Rupee

59,67

-0,63%

16:29:59

Yuan

6,22

-0,01%

14:08:49

Ringgit

3,22

-0,41%

14:08:12

Baht

32,42

-0,57%

14:08:09

Sumber: Bloomberg.

Editor : Ismail Fahmi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s