rup(1????)aaAH (2) (…. MAEN MATA dengan $10 MILIAR spekulator…?)

kita dah lewati BERKALI-KALI KRISIS EKONOMI GLOBAL yang MENGODZILLA, tapi ternyata INVESTASI REKSA DANA SAHAM panin dana maksima MEMBERI +75 kali lipat sejak 1997

dollar index 260815post PBOC cuts… tren dollar index sebenarnya TURUN, tapi NAPA RUPIAH MALAH MELEMAH TERUS?????

bird

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

New York, March 17, 2016 (AFP)
The US dollar continued to sink Thursday after the Federal Reserve surprised markets with a dovish rate stance.

The greenback slid 0.9 percent against the euro, adding to Wednesday’s 1.0 percent loss after the Fed halved its projections for interest rate increases this year, citing the slower global economy and turmoil in markets.

Analysts had expected the Fed to be more bullish at the end of its policy meeting.

At 2100 GMT the dollar was at $1.1317 per euro, and had also lost 1.2 percent at 111.44 yen.

The British pound, bolstered by an austere budget proposal with 3.5 billion pounds ($5.0 billion) in spending cuts, added 1.6 percent at $1.4479 after the Bank of England held its key interest rate unchanged, faced with a weak growth outlook at home and abroad.

“Given the Fed’s adjusted forward guidance signals an even more gradual path higher in US interest rates than previously anticipated we expect that the US dollar could continue to consolidate lower in the near term,” said Eric Viloria of Wells Fargo Securities.

“Meanwhile, we see an eventual resumption of US dollar strength over time as the Fed moves closer to resuming policy tightening.”
<pre> 2100 GMT Thursday Wednesday
</pre>
EUR/USD 1.1317 1.1226

EUR/JPY 126.12 126.37

EUR/CHF 1.0947 1.0961

EUR/GBP 0.7816 0.7867

USD/JPY 111.44 112.57

USD/CHF 0.9673 0.9764

GBP/USD 1.4479 1.4271

bird_bbri_unvr

Jakarta detik -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatannya. Mata uang Paman Sam tersebut perlahan meninggalkan level Rp 13.000.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, Senin (14/3/2016), dolar AS pagi ini dibuka melemah ke Rp 12.966, dibandingkan posisi akhir pekan lalu di Rp 13.064.

Dolar AS mencoba bergerak naik hingga balik ke level Rp 13.000. Posisi dolar AS tertinggi pagi ini di Rp 13.025.

Mata uang Paman Sam tersebut terus bergerak naik-turun.

Hingga pukul 09.40 WIB, dolar AS bertengger di posisi Rp 13.015. Secara kumulatif, rupiah masih menunjukkan tren penguatan.

(drk/drk)

rose KECIL

New York, Feb 26, 2016 (AFP)
The dollar strengthened Friday after a key US inflation indicator rose, underpinning the Federal Reserve’s plan to raise interest rates this year, and fourth-quarter economic growth was stronger than expected.

US core inflation, as measured by the personal consumption expenditures price index, was up 1.7 percent year-on-year in January, nudging closer to the Fed’s 2.0 percent target.

“Core inflation is showing clear signs of accelerating,” said Jim O’Sullivan, chief US economist at High Frequency Economics.

The dollar also got a lift from an upward revision to US economic growth in the fourth quarter that was much better than expected, at a 1.0 percent annual pace instead of the initial estimate of 0.7 percent.

While that still marked a slowdown from the third quarter’s growth, analysts had expected the rate would be cut to 0.4 percent.

“Despite mixed internals (consumption slowed slightly), market participants are taking the data as a sign that some of the near-term pessimism regarding the US economy may be overblown,” said Christopher Vecchio of Daily FX in a client note.

The euro fell to a session low of $1.0912, its lowest in more than three weeks, before recovering slightly to $1.0935 around 2200 GMT, down 0.8 percent from Thursday.

The greenback jumped 0.9 percent against the Japanese currency at 113.97 yen.

Vecchio said that expectations the Fed would raise its benchmark federal funds rate this year had firmed up slightly after the data.

Investors also kept an eye on the Group of 20’s two-day meeting of finance chiefs that opened Friday in Shanghai amid a slowing global economy and weak commodity prices.

With the yuan currency, also known as the renminbi, under pressure from speculation of a looming devaluation, the governor of the People’s Bank of China sought to reassure markets, saying that China’s economic fundamentals “remain strong”.

“There is no basis for persistent renminbi depreciation from the perspective of fundamentals,” Zhou Xiaochuan said. “We will not resort to competitive devaluations to boost our advantage in exports.”

The Chinese currency continued to fall against the dollar, to 6.5404 yuan per dollar from 6.5317 yuan the prior day.
<pre> 2200 GMT Friday Thursday
EUR/USD 1.0935 1.1023
EUR/JPY 124.63 124.51
EUR/CHF 1.0896 1.0914
EUR/GBP 0.7883 0.7898
USD/JPY 113.97 112.95
USD/CHF 0.9963 0.9902
GBP/USD 1.3873 1.3955
</pre>

long jump icon

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks dolar Amerika Serikat melemah perlahan dalam dua hari perdagangan terakhir dan tetap bertahan di level 97.

Indeks dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (25/2/2016) melemah 0,18% ke level 97,287.

Kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Kamis atau Jumat pagi WIB, seperti dikutip Antara, karena data ekonomi yang dirilis bervariasi.

Pesanan baru AS untuk barang tahan lama manufaktur pada Januari meningkat US$11,1 miliar atau naik 4,9% menjadi US$237,5 miliar dolar AS, jauh di atas konsensus pasar, seperti dirilis Departemen Perdagangan AS pada Kamis.

Sebaliknya Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis dalam pekan yang berakhir 20 Februari, angka pendahuluan untuk klaim pengangguran meningkat 10.000 dari tingkat direvisi minggu sebelumnya menjadi 272.000, lebih tinggi dari konsensus pasar 270.000.

Posisi indeks dolar AS

25 Februari

 

 97,287

(-0,18%)

24 Februari 97,458

(-0,02%)

23 Februari  97,481

(+0,20%)

Sumber: US Dollar Index Spot Rate, 2016

long jump icon

per tgl 12 Feb 2016, dollar index @95.69 (pasca ocehan Yellen di depan DPR amrik):
dollar index 120216_95

per tgl 05 Februari 2016: dollar index @ 96.51 : dollar index 050216_96

ternyata TREN RUPIAH MENGUAT per 1 bulan s/d 5 Feb 2016 (yahoo finance): dollar index 050216_rup13660

long jump icon

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolarAS pada perdagangan awal pekan ini, Senin (22/2/2016) bergerak di zona hijau.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di buka menguat 29 poin ke level Rp 13.479 dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya Rp 13.508 per dolar AS.

Seiring mulai waktunya perdagangan, rupiah semakin bergerak menguat pada pukul 08.48 WIB ke level Rp 13.433 per dolar AS.

Analis PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, ‎sentimen positif yang dihasilkan dari pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) ternyata tertutupi oleh aksi panik investor, terkait rencana intervensi pemerintah terhadap suku bunga dan marjin perbankan.

Menurut Rangga, secara umum dolar AS masih akan mendapatkan momentum penguatan di Asia seiring dengan pelemahan harga minyak mentah serta naiknya inflasi AS.

“Akan tetapi rupiah berpeluang tetap stabil dengan dorongan penguatan paling tidak untuk mengoreksi kepanikan yang terjadi pada perdagangan Jumat lalu,” ujar Rangga.

Jakarta detik-Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 13-14 Januari 2016 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,25%, dengan suku bunga Depocit Facility 5,25% danLending Facility pada level 7,75%.

Penurunan BI rate ini rupanya memberikan dampak langsung terhadap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah saat ini terpantau menguat dan dolar AS langsung anjlok.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, Kamis (14/1/2016), dolar AS bergerak turun ke level terendahnya di Rp 13.810.

Padahal, beberapa waktu lalu, dolar AS sempat melesat ke level tertingginya di angka Rp 13.960.

Mata uang Paman Sam tersebut memang terus naik-turun dengan sangat cepat bak roller coaster.

Selain faktor dalam negeri, pergerakan rupiah juga dipengaruhi faktor eksternal.

Perlambatan ekonomi China dan terus merosotnya harga minyak dunia menekan laju rupiah.

Ditambah, belum adanya kepastian dari bank sentral AS The Federal Reserve (the Fed) untuk menaikkan tingkat suku bunganya secara gradual di tahun ini.

Berikut penampakan pelemahan dolar AS:

(drk/hns)

long jump icon

JAKARTA-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (20/11) pagi ini dibuka menguat. Rupiah pagi ini terpantau menguat 39 poin atau naik 0,28 persen ke level Rp 13.736 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah dibuka di level Rp 13,725 per dolar AS kemudian melemah sebelum kembali menguat ke level Rp 13.736.

Nilai tertinggi yang dicapai rupiah pagi ini berada di kisaran Rp 13.710 per dolar AS. Sedangkan, nilai terendah yang dicapai adalah Rp 13.755 per dolar AS.

Sementara itu, pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup di level Rp 13.775 per dolar AS.(B1)

http://id.beritasatu.com/moneyandbanking/rupiah-menguat-39-poin-ke-level-rp-13736dolar-as/133054
Sumber : INVESTOR DAILY

JAKARTA kontan. Oktober lalu bisa menjadi bulan terbaik sepanjang tahun 2015 dalam catatan angka tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Tengok saja, ada 271.000 tenaga kerja (non farm payroll) bertambah di bulan lalu, jauh lebih besar ketimbang perkiraan pasar yaitu penambahan 185.000.

Tak hanya itu, tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam itu turun menjadi 5% atau berada di level terendah sejak 2008. Padahal, sebelum kabar baik ini dirilis Jumat (6/11) kemarin, kekhawatiran terhadap dampak perlambatan ekonomi global mulai dirasakan mempengaruhi AS. “Ini adalah yang terbaik atas laporan pekerjaan tahun ini,” kata Andrew Chamberlain, Kepala Ekonom Glassdorr dikutip dari CNN Money.

Sinyal perbaikan perekonomian AS bisa dilihat dari tanda-tanda jumlah orang Amerika yang bekerja paruh waktu karena pelemahan ekonomi turun menjadi 5,7 juta di bulan Oktober.

Head of Global Strategy Andrew Milligan menuturkan, penurunan pekerja paruh waktu menunjukkan bahwa pemilik usaha cukup percaya diri terhadap perekonomian untuk mengambil lebih banyak karyawan penuh waktu. “Perekonomian AS kembali ke tren yang cukup positif,” kata Milligan.

Positifnya data ekonomi memiliki implikasi besar bagi Federal Reserve alias Bank Sentral AS. Para petinggi yang dipimpin oleh Gubernur Janet Yellen sangat mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga di bulan Desember mendatang.

Pertama kalinya dalam periode hampir satu dekade ini. Di mana The Fed telah mempertahakan suku bunga acuannya di level nol sejak tahun 2008 lalu.

Laporan yang lebih baik dari perkiraan saat ini meningkatkan kemungkinan The Fed untuk mengambil kebijakannya di bulan mendatang. “Mereka akan mengambil keputusan di Desember,” ujar Brad McMillan, Chief investment Officer Commonwealth Financial Network.

Suramnya ekonomi global

Sebenarnya, Rabu (4/11) Gubernur The Fed Janet Yellen sudah memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan federal open market committee (FOMC) Desember nanti.  Yellen optimisme perekonomian AS semakin kuat.

Dia mencontohkan perbaikan di pasar tenaga kerja, belanja konsumen dan juga mulai mendorong inflasi ke arah yang ditargetkan The Fed sebesar 2,0%. “Pada titik ini, saya melihat ekonomi AS sebagai berkinerja baik,” kata Yellen.

Sudah cukup lama, suku bunga acuan The Fed dikunci di level nol yang tujuannya mendorong laju pertumbuhan pasca resesi 2008.  Tetapi, sekalipun Amerika telah perlahan-lahan pulih dari resesi besar, pertumbuhan global yang lebih lambat telah membuat kenaikan suku bunga pertama ditunda, karena The Fed mempertimbangkan risiko-risiko yang sedang berlangsung terhadap ekonomi AS.

Asal tahu saja, ada tiga hal pokok, menurut Goldman Sachs, yang dapat dipertimbangkan sebagai faktor penentu kenaikan suku bunga (liftoff) seperti yang terjadi September lalu. Yakni, pertumbuhan upah, jebloknya harga minyak, dan suramnya perekonomian global.

Terlepas dari itu, spekulasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed di Desember meningkat menjadi 72%. Di mana, sebelum komentar Yellen peluangnya hanya 56% atau jauh lebih besar dari bulan lalu hanya 36%.

Nah, meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga The Fed langsung ,menguatkan otot dollar AS. Pasangan EUR / USD turun ke level terendah sejak April lalu yakni berada di level 1.0707, Sabtu (7/11).

Kembali sentuh level Rp 14.000

Lalu bagaimana nasib rupiah?. Asal tahu saja, rupiah mulai kehabisan tenaga pada pengujung pekan kemarin. Testimoni Gubernur The Fed menggerogoti kekuatan mata uang Garuda.

Jumat (6/11), di pasar spot, rupiah melemah 0,16% ke level Rp 13.564 per dollar AS. Meski demikian, penguatan yang berlangsung sejak awal pekan masih menyelamatkan posisinya.

Alhasil, sepekan rupiah masih unggul 0,87%. Sementara, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, kemarin, rupiah terapresiasi 0,38% ke posisi Rp 13.550 per dollar. Adapun, sepekan, penguatan mencapai 0,65%.

Research and Analyst Fortis Asia Futures Sri Wahyudi menyebutkan, pekan kemarin, data domestik menjadi amunisi rupiah. Wajar, dua bulan berturut-turut, Indonesia mencatatkan deflasi. Ini memberi optimisme target inflasi tahunan bisa tercapai. Selain itu, pertumbuhan domestik bruto (PDB) kuartal III lebih baik dari kuartal sebelumnya.

Namun, kekuatan rupiah mulai terkikis pada akhir pekan. Yellen optimistis akan peluang kenaikan suku bunga acuan pada akhir tahun ini. “Dollar AS lebih kuat, sehingga mempersempit penguatan rupiah,” ujar Wahyudi.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto menduga, peluang penguatan rupiah mengecil pada pekan depan. Apalagi, rilis data tenaga kerja Paman Sam cukup solid. “Data tersebut bisa meningkatkan optimisme kenaikan suku bunga AS,” jelasnya.

Di sisi lain, domestik minim sentimen pada pekan depan. Hanya ada rilis data neraca berjalan di akhir pekan. Namun, kata Rully, jika defisit neraca berjalan mengecil, bisa sedikit menopang rupiah.

Prediksinya, rupiah rentan melemah ke kisaran Rp 13.485–Rp 13.800 per dollar AS. Wahyudi menebak, pekan depan, rupiah bergulir antara Rp 13.410–Rp 13.650 per dollar AS.

Sementara itu, ekonom BII Juniman bilang, rupiah justru bisa kembali menyentuh level Rp 14.000-Rp 14.500 per dollar AS. Di samping faktor eksternal seiring spekulasi The Fed, faktor internal pun kian menekan.

Kebutuhan dollar akhir tahun akan naik karena pembayaran utang luar negeri termasuk bunga serta dividen. Di sisi lain, cadangan devisa terus tergerus.

Saat ini, cadangan devisa Oktober mencapai US$ 100,7 miliar, turun US$ 1 miliar dari posisi US$ 101,7 miliar. “Turunnya cadangan devisa akibat kenaikan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta stabilisasi rupiah,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara.

Untuk meredam tekanan rupiah, ekonom Bank Permata Josua Pardede menyarankan BI tetap harus masuk pasar karena masih ada tekanan net sellsenilai US$ 300 juta. Di samping itu, butuh langkah lain meredam tekanan rupiah yang bisa dilakukan oleh pemerintah.

Jakarta detik-Wakil Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sunarso menyebut pinjaman China ke perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia bisa memperkuat posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pinjaman China Development Bank (CDB) kepada 3 Bank BUMN berbentuk dolar AS dan yuan China itu bisa membuat pasokan valas di tanah air berlebih sehingga membuat nilai tukar rupiah terus menguat.

“Kurs dipengaruhi supply and demand. Bila supply kurang dan demand tinggi, maka harga naik. 3 bank turunkan kurs dengan pinjaman bilateral pihak bank luar (CDB). Jawabannya dolar akan masuk, maka supplybanyak dan akan banyak. Demand bisa terpenuhi dari supply,” kata Sunarso saat press conference laporan keuangan triwulan III di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Karena masuknya dana pinjaman dari China berbentuk dolar AS, membuat para pemegang dolar di tanah air mulai melepas dolar. Alasannya, mereka khawatir dolar AS yang saat ini dipegang terus menurun.

“Banyak dolar masuk, mereka akan lepas dolar,” jelasnya.

Seperti diketahui, 3 perbankan pelat merah yakni BRI, BNI dan Bank Mandiri memperoleh fasilitas pinjaman US$ 3 miliar dari China Development Bank (CDB). Setiap bank memperoleh alokasi US$ 1 miliar.

(feb/ang)

JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia (BI) mengatakan, penguatan rupiah yang terjadi hampir sepekan ini dominan disebabkan banyaknya pihak yang melepas dollar AS. Oleh karena itulah, BI mengajak pihak yang masih memegang dollar AS melepaskan mata uang Amerika Serikat (AS) itu sehingga penguatan rupiah terus terjadi. “Kita hanya bantu dorong sedikit saja. Jadi memang banyak orang cut loss dollar. Jadi yang pada masih pegang dollar, baik individu maupun korporasi, sebaiknya dijual dollarnya!” ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Jakarta, Jumat (9/10/2015).

Selama ini, kata dia, banyak orang yang merasa ragu dengan asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2016 sebesar 13.900. Mirza mengatakan, hal itu diakibatkan karena tekanan ekonomi saat itu.

Namun, kata dia, seharusnya bila melihat situasi saat ini, pihak-pihak yang meragukan asumsi rupiah itu bisa lebih yakin. “Saya tegaskan 13.900 itu asumsi dalam APBN 2016,” katanya.

Menurut hemat Mirza, kurs rupiah terhadap dollar AS terbilang masih sangat kompetitif untuk mendorong ekspor manufaktur dan pengendalian inflasi. Pasalnya, kenaikan harga dari barang impor akan bertahap.

Catatan Mirza menunjukkan, inflasi sampai dengan akhir tahun mencapai 4,3 persen. Sementara defisit pada akhir tahun ada di angka dua persen. “Ini sangat sehat,” katanya.

Menjawab pertanyaan apakah volatilitas rupiah yang tajam tak bermasalah, Mirza menjawab, “Tidak.”

Alasannya, saat pelemahan rupiah beberapa waktu lalu, importir juga sudah sangat tertekan. Dengan penguatan rupiah saat ini, tekanan terhadap importir akan berkurang.

Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Josephus Primus

Tokyo, Sept 30, 2015 (AFP)
Asian currencies from the South Korean won to Malaysian ringgit picked up against the dollar Wednesday with confidence returning to trading floors as regional equity markets rose after a global rout.

But the greenback losses were likely to be short lived as the Federal Reserve readies to lift the near-zero federal funds rate for the first time in almost a decade, analysts said.

“It’s hard to see how any Asian currency will post sustained, substantial gains in the fourth quarter, with losses versus the US dollar likely to be the norm,” Sean Callow, a senior currency strategist at Westpac Banking in Sydney, told Bloomberg News.

“We expect volatility to remain elevated as Asian policymakers struggle with regional deceleration in growth, and yet more weeks and months of debate over the Fed policy outlook.”

Dealers will pay attention to a speech by US central bank head Janet Yellen later in the day for cues on the direction of US monetary policy, her first since indicating last week that a hike in interest rates remains on the table for 2015.

Washington will release September unemployment figures on Friday, with the improving labour market a key factor in favor of the Fed’s plan to raise interest rates.

A strong reading will add to calls on the Fed to move, putting pressure on emerging economies as investors withdraw their cash to seek better returns in the US.

The yen, considered a safe haven asset in times of turmoil and uncertainty, broadly weakened against its peers on Wednesday as investors’ risk tolerance rose.

The greenback strengthened to 119.82 yen from 119.75 yen Tuesday in New York, while the euro gained to 134.90 yen against 134.77 yen.

“Yesterday, the yen strengthened beyond the mid-119 level to the dollar as stocks sold off, so today, with stocks rebounding, there’s an unwind of risk-off trades,” said Akira Moroga, manager of currency products at Aozora Bank in Tokyo.

In other trading, the won rose more than a percent against the US unit, the Taiwan dollar was up 0.72 percent, and the ringgit was 0.32 percent higher.

The Indonesian rupiah gained 0.25 percent, the Singapore dollar rose 0.18 percent, and the Thai baht was up 0.19 percent.

The Australian dollar rose 0.30 percent, trading at 70.06 US cents up from 69.73 cents Tuesday in Tokyo.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengatakan, tenggelamnya nilai tukar rupiah hari ini hingga menembus level 14.800 per dollar AS disebabkan faktor ekonomi dan faktor non-ekonomi.

Faktor non-ekonomi yang memperpuruk nilai tukar mata uang garuda terhadap dollar AS antara lain faktor politik, faktor sosial, dan faktor psikologis. “Faktor yang kedua ini (non-ekonomi) semakin besar sehingga pemerintah kebobolan,” ucap Didik kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (29/9/2015).

Didik menengarai, banyaknya pejabat di kalangan internal yang berkelahi satu sama lain menunjukkan faktor kepemimpinan di negeri ini lemah. “Terlalu banyak bos di negeri ini sehingga komando kebijakan tidak turun secara efektif,” kata dia.

Faktor non-ekonomi lain adalah kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Didik mengatakan, saat ini rumah tangga sudah mulai menggeser portofolionya ke mata uang dollar AS.

“Daripada rupiah jeblok, lebih baik tidak dapat suku bunga tinggi, tetapi aman pegang valuta dollar AS. Ini faktor psikologis,” ujar Didik.

Dia menyebutkan, faktor psikologis tersebut tak ayal menambah masalah yang seharusnya tidak terjadi.

Terakhir, Didik juga menyampaikan, saat ini pasar melihat bahwa modal sosial tim pemerintah rendah. Hal tersebut ditunjukkan dalam perkelahian internal satu sama lain. “Satu tim kolektif saling tidak percaya, mana mungkin menghasilkan kebijakan yang efektif,” ucap Didik.

Yang pasti, di luar faktor non-ekonomi tersebut, ada pula faktor ekonomi yang menekan nilai tukar rupiah. Beberapa di antaranya, Didik menyebutkan, perkembangan ekspor yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan, inisiatif otoritas moneter yang kurang, serta paket kebijakan yang dikeluarkan terlambat.

Sebagaimana diberitakan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali terpuruk pada awal perdagangan di pasar spot, Selasa (29/9/2015). rupiah menembus kisaran 14.800 sehingga menjadi level terendah setelah tahun 1998 silam.

Berdasarkan data Bloomberg, pukul 09.00 WIB, mata uang garuda merosot ke posisi Rp 14.811 per dollar AS, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya pada 14.674. Tercatat pada tanggal 17 Juni 1998, rupiah pernah berada di puncak rekor terlemah di posisi Rp 16.650 per dollar AS. (Baca: Kembali Merosot, Rupiah Tembus Rp 14.800 Per Dollar AS)

Hingga pukul 12.00 WIB ini, rupiah berada di posisi 14.809, setelah sempat menipiskan kerugian hingga berada di bawah level 14.800.

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) kembali mengubah rentang asumsi kurs rupiah di Rancangan APBN 2016 dengan menaikkan batas bawah sehingga menjadi Rp13.700-Rp13.900 per USD dari sebelumnya di rentang Rp13.400-Rp13.900 per USD.

Gubernur BI Agus Martowardojo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (21/9/2015) malam, seperti dikutip dari Antara, memperkirakan tekanan pada defisit transaksi finansial karena ketidakpastian ekonomi global masih akan berlanjut setidaknya hingga kuartal I-2016.

“Kita melihat kondisi kuartal I-2016 masih Rp14 ribu per USD setelah tertekan terus di kuartal III-2015 karena ekspektasi suku bunga The Fed. Namun ada penguatan sedikit di kuartal II-IV 2016 di Rp13.700-Rp13.900 per USD,” ujar dia.

Agus mengatakan dinamika perekonomian global karena spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral AS The Fed, devaluasi Yuan Tiongkok, dan penurunan harga komoditi akan memicu tekanan terhadap aliran modal ke dalam negeri. Sebaliknya, tekanan itu pula rentan mendorong dana keluar.

Secara tahun kalender berjalan hingga 18 September 2015, kata Agus, dana asing yang masuk ke pasar modal dan obligasi pemerintah turun menjadi hanya sekitar Rp39 triliun dari periode sama di 2014 sebesar Rp170 triliun.

“Namun kita juga meyakini tertekannya transaksi finansial ini karena gejolak ketidakpastian suku bunga The Fed. Setelah tekanan mulai mereda, kami lihat sampai 2016 bisa jadi lebih baik,” tambahnya.

Menurut Agus, dalam pernyataan hasil sidang Komite Pasar Terbuka The Fed pekan lalu, terdapat indikasi bahwa bank sentral AS baru akan menaikkan suku bunganya jika inflasi di kisaran 2,0 persen. Dengan salah satu indikator itu, terdapat perkiraan suku bunga The Fed baru akan dinaikkan pada 2017.

“Jadi ada indikasi sulit dicapai, kemungkinan akan ditunda di 2017, ketidakpastian akan terus berjalan,” paparnya.

Meskipun masih terdapat tekanan pelebaran defisit untuk transaksi finansial, secara umum, Agus menilai defisit transaksi berjalan akhir 2015 dapat ditekan hingga 2,2 persen dari Produk Domestik Bruto. Angka itu turun dibanding defisit pada 2014 yang masih dekat di kisaran tiga persen terhadap PDB.

“Hingga kuartal II-2014, defisit 4,2 persen terhadap PDB. Sekarang 2,1 persen. Ini bagus,” kata dia singkat.

Sementara itu, BI mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia di rentang 5,2-5,6 persen pada 2016. Adapun pemerintah menurunkan asumsinya menjadi 5,3 persen dari 5,5 persen di 2016.
AHL

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/09/22/172327/bi-kembali-ubah-asumsi-kurs-jadi-rp13-700-rp13-900-usd
Sumber : METROTVNEWS.COM

JAKARTA kontan. Tenaga rupiah kembali terkuras pada transaksi perdagangan pagi ini (16/9). Mengutip data Bloomberg, pada pukul 09.47 WIB, nilai tukar rupiah berada di posisi 14.442 per dollar AS. Ini merupakan posisi terlemah indeks sejak 24 Juni 1998 silam. Pada waktu itu, posisi rupiah berada di level 14.650 per dollar AS.

Dengan demikian rupiah melemah 0,2% dari posisi penutupan kemarin yang berada di level 14.408.

Tonny Mariano, Analis Esandar Arthamas Berjangka, menilai, secara psikologis, rupiah masih lemah. Pelaku pasar belum melihat bukti perbaikan ekonomi. Dus, mereka berlindung memegang dollar, apalagi mengantisipasi keputusan suku bunga The Fed. “Ini yang memicu rupiah rentan melemah,” ujarnya.

Tonny menduga, hari ini, rupiah di antara Rp 14.350- Rp 14.425.

Catatan saja, posisi terlemah rupiah di sepanjang sejarah terjadi pada 17 Juni 1998 yakni saat rupiah bertengger di level 16.650 per dollar AS.

Editor: Barratut Taqiyyah.

JAKARTA.   Pemerintah mengakui besarnya impor yang dilakukan Indonesia menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan pelambatan ekonomi di dalam negeri.

Ari Dwipayana, Tim Komunikasi Presiden, mengatakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi menekankan impor Indonesia tidak hanya dilakukan untuk barang elektronik. Saat ini, Indonesia juga masih kebanjiran produk sayur dan buah dari luar negeri.

&ldquo;Presiden menyebut barang-barang impor itu tidak melulu barang elektronik, tetapi juga tidak sedikit sayuran yang masih perlu diimpor, seperti jagung, bawang merah, gua, dan garam,&rdquo; katanya, Selasa (15/9/2015).

Ari menuturkan pemerintah saat ini berupaya mengembangkan ekonomi yang berbasiskan produksi. Dengan cara tersebut diharapkan Indonesia dapat mengurangi impor produk-produk tertentu, karena sudah dapat diproduksi di dalam negeri.

Menurutnya, Presiden juga telah memerintahkan Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk meningkatkan produksi beras, kedelai, dan jagung dalam tiga tahun.

Selain itu, Presiden juga memerintahkan peningkatan produksi gula dalam lima tahun, serta menyiapkan peningkatan produksi daging di dalam negeri.

&ldquo;Presiden menekankan yang kami kejar saat ini adalah subtitusi dari barang impor,&rdquo; ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ari juga menyampaikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini masih lebih baik dibandingkan dengan pelemahan nilai tukar mata uang beberapa negara.

&ldquo;Dolar Amerika Serikat saat ini memang berada level Rp14.000, tetapi Presiden mengingatkan saat ini masih lebih baik, karena pada 1998 dolar Amerika Serikat melonjak dari Rp1.800 menjadi Rp15.000,&rdquo; ucapnya.

 

http://industri.bisnis.com/read/20150915/12/472488/impor-dituding-jadi-penyebab-pelemahan-rupiah-kelesuan-ekonomi
Sumber : BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi ini, Senin (14/9/2015) bergerak melemah.

Indeks dolar AS seperti dikutip dari Bloomberg, pada perdagangan hari ini, Senin (14/9/2015) dibuka melemah 0,02% ke 95,178. Pada Jumat, indeks dolar ditutup melemah 0,27% ke 95,194.

Pada pk. 06:12 WIB, indeks jadi melemah 0,04% ke 95,155, dan bergerak di kisaran 95,056—95,199.

Mata uang dunia  memonitor kemungkinan kenaikan suku bunga AS. Mengingat Federal Reserve akan menggelar rapatnya pada 16—17 September 2015.

“The Fed akan melakukan banyak untuk mencegah kemungkinan volatilitas pasar jika suku bunga dinaikkan,” kata Gemma Wright-Casparius, Pengelola Investasi Vanguard Group Inc seperti dikutip Bloomberg, Senin (14/9/2015).

 

Posisi indeks dolar AS

 

Pk.06:12 WIB

(14 September)

 95,155

(-0,04%)

Buka

(14 September)

95,178

(-0,02%)

 11 September  95,194

(-0,27%)

 

 

 

 

 

 

Sumber: US Dollar Index Spot Rate, 2015

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) mengklaim kebijakan moneter yang selama ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sudah efektif. Bahkan hasilnya kata BI, sudah sesuai dengan tujuan operasi moneter tersebut.

“Itu sudah efektif. Di pasar uang itu sudah ada yang positif terhadap bunga, terhadap likuiditas, sudah sesuai dengan tujuan kita untuk memperkuat operasi moneter,” ujar ujar Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung di Kantor BI, Jakarta, Jumat (11/9/2015).

Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah kian melemah terhadap dollar AS. Pada awal perdagangan tadi pagi, rupiah sedikit menguat hingga berada di bawah level 14.300, setelah kemarin terpuruk.

rupiah dibuka di level 14.298,4, menguat dibanding penutupan kemarin pada 14.332,5.

Dalam beberapa kesempatan, BI selalu mengatakan pelemahan rupiah itu disebabkan faktor eksternal yaitu ketidakpastian kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan perkembangan perekonomian Tiongkok yang sedang mengalami pelemahan.

BI juga menyatakan akan selalu ada di pasar uang untuk melakukan intervensi terhadap rupiah. Intervensi di pasar uang itu memiliki konsekuensi logis yaitu keluarnya gelontoran miliaran dollar dari cadangan devisa (cadev) Indonesia.

Berdasarkan data BI akhir Agustus 2015, vadangan devisa Indonesia sebesar 105,34 miliar dollar AS atau turun sebesar 2,21 miliar dollar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara menyatakan, penurunan cadangan devisa tersebut disebabkan oleh peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Pengurangan cadangan itu juga terjadi karena dana digunakan dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) ikut mengambil bagian dalam paket kebijakan ekonomi yang digulirkan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang saat ini tengah menghadapi tekanan.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyebutkan ada lima paket yang dijalankan BI selaku otoritas moneter terkait dengan upaya pemerintah untuk mendorong perekonomian. Lima paket itu adalah memperkuat pengendalian inflasi dari sisi suplai, menguatkan stabilisasi rupiah, pengelolaan likuiditas rupiah, memperkuat suplai dan permintaan valuta asing, serta memperdalam pasar uang.

Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Erlangga Djumena

infofbank: Potensi rupiah untuk kembali menguat cukup besar, karena nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah dianggap di posisi atas. Dwitya Putra

Jakarta – Analis pasar uang PT BRI Syariah, Rahmat wibisono meyakini pelemahan mata uang rupiah tidak akan lama. Pasalnya, saat ini fundamental ekonomi Indonesia dinilai kuat dan tidak ada masalah.

“Saya pikir tidak akan lama lah, mudah-mudahan kita bisa recover kembali,” kata Rahmat di Bursa Efek Indonesia Jakarta, Rabu, 9 September 2015.

Ia mengungkapkan satu-satunya yang menyebabkan rupiah terdepresiasi adalah pergerakan mata uang dolar AS, dan juga reaksi mata uang dunia terhadap kebijakan cina. Rahmat pun tak manampik tren pergerakan rupiah saat ini masih dalam fase penurunan. Namun sampai kapan penurunan ini akan berakhir? ia mengatakan tidak ada yang tahu kondisi krisis seperti ini, karena kondisi ini tidak terjadi hanya di Indonesia saja.

“Mari kita lihat seberapa cepat respon perbaikan-perbaikan yang banyak dilakukan banyak negara, bukan hanya Indonesia, dan itu akan menolong mata uang regional kita,” jelasnya.

Namun Ia sendiri optimis nilai tukar rupiah bisa kembai menguat, hingga akhir tahun ini ke Rp13.000. Karena kalau liat trendnya, posisi rupiah sudah ada di atas. Sehingga potensi untuk kembali menguat cukup besar.”Kita lihatlah, bisa seperti itu. Karena trennya memungkinkan,” ucapnya. (*)

Jakarta &mdash;  Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi (7/9) bergerak melemah sebesar 48 poin menjadi Rp14.220 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp14.172 per dolar AS.

“Nilai tukar rupiah kembali berada di area negatif terhadap dolar AS setelah data kerja Amerika Serikat yang dirilis beragam itu, menimbulkan ketidakjelasan di kalangan pasar kapan Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya,” kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Senin.

Menurut dia, data tenaga kerja AS (NFP) meningkat namun masih di bawah estimasi, sementara tingkat pengangguran bulan Agustus turun.

Di sisi lain, lanjut dia, pelemahan sejumlah indeks manufaktur di sejumlah negara Asia seperti Tiongkok dan Korea Selatan menambah sentimen negatif bagi mata uang di negara berkembang.

Dari dalam negeri, ia mengatakan pelaku pasar juga masih bersikap menunggu terhadap rilis data neraca perdagangan Indonesia periode Agustus yang akan dirilis pada peryengahan bulan September ini sehingga membuat laju rupiah tertahan kenaikannya.

“Minimnya sentimen positif baik dari dalam negeri maupun eksternal membuat laju rupiah masih mengalami tekanan,” katanya.

Sementara itu, ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan, melemahnya nilai tukar domestik akan mengurangi daya tarik aset investasi berdenominasi rupiah, situasi itu akan mempengaruhi investor asing di dalam negeri.

Selain itu, lanjut dia, pelaku pasat juga sedang menanti data cadangan devisa pada pekan ini. Meski Bank Indonesia menyatakan level cadangan devisa saat ini cukup aman tetapi jika turun dapat mempengaruhi kenyamanan investor asing.

http://www.imq21.com/news/read/320578/20150907/112158/Data-Tenaga-Kerja-AS-Ikut-Tekan-Rupiah-ke-Rp14-220.html
Sumber : IMQ21.COM

JAKARTA kontan. Nilai tukar rupiah menuju penurunan pekan kedelapan. Pelemahan ini dipicu langkah pemerintah yang menunda paket kebijakan stimulus yang bertujuan menghidupkan kembali perekonomian.

Menteri koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan Presiden Joko Widodo telah meminta menteri untuk fokus pada merevisi peraturan yang menghambat investasi sebelum mengeluarkan paket kebijakan.

Sebelumnya, pemerintah mengatakan stimulus akan dirilis pekan ini untuk meningkatkan investasi asing, meningkatkan kegiatan ekonomi dan memperkuat rupiah. Di sisi lain, pasar tengah menanti data nonfarm AS-payrolls yang dirilis Jumat (4/9) untuk dapat memberikan petunjuk pada waktu kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

“Eksportir masih memegang dollar masing-masing mengantisipasi pelemahan rupiah dalam akibat dampak kenaikan suku bunga The Fed,” ekonom PT BNI Securities Heru Irvansyah.

Nilai tukar rupiah melemah 1,4 % dari 28 Agustus ke 14.185 dolar per 10:51 di Jakarta, ditetapkan untuk jangka terpanjang penurunan mingguan sejak Oktober, harga dari bank lokal menunjukkan. Mata uang turun 0,1 % pada Jumat dan turun menjadi 14.188, level terendah sejak Agustus 1998. Hal ini telah anjlok 13 % tahun ini, kinerja terburuk di Asia setelah ringgit Malaysia.

Pelemahan rupiah terdalam sejak Agustus dipicu kejutan China mendevaluasi mata uang yuan yang memicu gejolak pasar global. Standard & Poor menyebutkan Indonesia dan Malaysia mengalami penurunan cadangan devisa. Asal tahu saja, China ada mitra dagang terbesar Indonesia.

Editor: Yudho Winarto.
SUMBER: BLOOMBERG

Jakarta detik -Di tengah penguatan dolar AS yang mencapai Rp 14.000, Indonesia harus perlahan meninggalkan mata uang negeri paman sam itu. Dalam perdagangan ekspor-impor, Indonesia bisa mulai mengurangi pemakaian dolar AS.

“Makanya perdagangan antar negara Asia, misalnya Indonesia dengan Jepang bisa dibayar dengan yen. Itu akan bantu, iya kan. Maka kalau impor dari Jepang bisa pakai yen,” ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (31/8/2015).

Bila ini dilakukan, lanjut Mirza, tekanan pelemahan rupiah ke perekonomian dalam negeri bisa berkurang.

“Jadi memang effort (usaha) jangka menengah panjang adalah ‎mendiversifikasi pembayaran perdagangan tidak pada dolar saja, pasti akan lebih baik,” kata Mirza.

Selain itu juga, dalam perdagangan dengan China, Indonesia juga bisa menggunakan yuan sebagai alat pembayaran.

“Usaha itu harus dilakukan bersama. Jadi ya pembelinya harus bisa menempatkan yuannya. Terus terang dapatkan yen lebih gampang daripada renminbi (yuan). Kan renminbi belum fully comfortable dibandingkan yen,” tukasnya.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki perjanjian Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) yang digunakan untuk meningkatkan kerjasama perdagangan bilateral dan memperkuat kerjasama keuangan antara kedua negara, serta mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS.

Saat ini BI telah memiliki BCSA dengan China dan Korea. Nilai kerja sama dengan Korea: KRW (won) 10,7 triliun atau Rp 115 triliun (ekuivalen US$ 10 miliar), sementara dengan Bank Sentral China (PBoC) adalah CNY (yuan) 100 miliar atau setara Rp 175 triliun.

(mkl/dnl)

Bisnis.com, JAKARTA—  Kurs rupiah ditutup pada hari ini kian lemah, mencapai Rp14.096/US$. Kurs rupiah di pasar spot  melemah 0,03% atau 4 poin ke level Rp14.054/US$.

Hal yang lebih mengejutkan adalah rupiah justru melemah sendirian di Asia Tenggara terhadap dolar Amerika Serikat. Sejumlah analis menyebutkan hal ini akibat dari intervensi Bank Indonesia.

Bloomberg Dollar Index mengemukakan saat dibuka hari ini, Selasa (25/8/2015) rupiah melemah 6 poin atau 0,04% ke Rp14.056/US$.

Pada pukul 08.08 WIB, rupiah jadi melemah 13 poin atau 0,09% ke Rp14.063/US$, dan bergerak di kisaran Rp14.048—Rp14.066.

jakarta post -Finance Minister Bambang Brodjonegoro attempted to steady the market on Friday afternoon, following the rupiah’s slide to another record low in the morning, saying that the currency was not the only one that had been under global pressures.

“Our rupiah’s exchange rate is under pressure, though [that pressure] is not only happening in Indonesia, but also to other currencies,” Bambang said, as quoted by Antara news agency.

Bambang said that the government was cooperating with the central bank, Bank Indonesia, to avoid the exchange rate getting worse.

The rupiah exchange rate traded in Jakarta on Friday morning had weakened by 29 points to Rp 13,914 per US dollar, down from Rp 13,885.

NH Korindo Securities Indonesia head of research Reza Priyambada said the rupiah had continued to depreciate against the dollar because investors preferred to cling to the greenback because of the market’s uncertainty regarding the US Federal Reserve’s plan to increase its rate.

Reza also said that, under current conditions, any strengthening of the rupiah would only be temporary.

However, he expected that the central bank’s policy would stop the rupiah from depreciating further. (edn/ika)(++++)

– See more at: http://www.thejakartapost.com/news/2015/08/21/rupiah-under-pressure-it-s-not-alone-says-minister.html#sthash.cL1pBKTI.dpuf

 

TEMPO.CO, Jakarta – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan warga Kota Pahlawan tidak banyak terdampak penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah. “Kenapa warga Surabaya tidak peduli dolar mau naik atau tidak, karena kekuatan kita ada di ekonomi mikro. Mereka tidak terpengaruh terhadap dolar,” katanya saat menyampaikan sambutan di Festival Pasar Rakyat di Pasar Kembang, Surabaya, Sabtu 22 Agustus 2015.

Risma mengatakan 90 persen kegiatan perdagangan di Surabaya dilakukan oleh pelaku usaha menengah dan mikro. Hal itu membuat perekonomian di Surabaya cukup kuat menghadapi dampak krisis moneter seperti yang terjadi pada 1998.

Risma menuturkan saat krisis moneter 1998 dia terlibat dalam satu proyek studi di Indonesia yang dipimpin oleh peneliti Belanda. “Saat itu di Jakarta mal-mal mulai sepi, tapi dia bingung ketika masuk kampung di Surabaya kenapa orang kampung masih bisa tersenyum,” ujar Risma yang mengaku masih mempelajari kekuatan ekonomi mikro sampai sekarang.

Selain itu, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya itu menambahkan, jurang pemisah antara yang kaya dan miskin juga tidak terlalu tinggi di Surabaya.

 

ANTARA

JAKARTA. Intervensi Bank Indonesia (BI) pada Selasa (18/8) mampu menopang kinerja rupiah. Kemarin, rupiah versus dollar AS di pasar spot menguat tipis 0,16% menjadi 13.800. Namun kurs tengah rupiah di BI melemah 0,5% ke 13.831.

Gusti Putu, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, mengatakan, rupiah kemarin sempat melemah tapi ditutup menguat setelah bank sentral mengeluarkan kebijakan baru untuk mencegah rupiah jatuh terlalu dalam.

BI mengubah pengetatan transaksi valuta asing yang harus memakai underlying aset dari batas semula minimum US$ 100.000 per bulan menjadi US$ 25.000 per bulan. “Kebijakan itu bisa menahan laju rupiah, tapi tidak signifikan kecuali ekonomi di Indonesia membaik,” ujar Putu.

Rully Arya Wisnubroto, Analis Pasar Uang Bank Mandiri menambahkan efek surplus neraca perdagangan karena impor turun masih menekan rupiah. Apalagi jika data ekonomi AS positif. Rabu (19/8), Rully menduga nilai rupiah akan melemah ke Rp 13.775-13.850 per dollar AS. Prediksi Putu, rupiah di 13.740-13.880.

Editor: Barratut Taqiyyah

INILAHCOM, Jakarta – Setelah digerus devaluasi yuan, kurs rupiah terancam suku bunga acuan The Fed (The Fed rate). Naga-naganya, rupiah bakal melemah dalam jangka panjang. Apa yang sudah dikerjakan BI?

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengklaim telah melakukan segala daya upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. “Setiap hari, BI menggelar operasi moneter, bisa kita yang menyerap atau menambah likuiditas. Semuanya untuk menjaga kecukupan sistem keuangan kita,” kata Mirza di Jakarta, Selasa (18/8/2015).

Mirza menjelaskan, operasi moneter tersebut dalam konteks bank sentral mengamati ada-tidaknya kelebihan likuiditas valas untuk jangka pendek. BI tak menginginkan terjadinya kelebihan likuiditas dipergunakan untuk pembelian valas atau kegiatan spekulatif. Yang pada akhirnya melemahkan nilai tukar rupiah.

“Intinya, dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar, maka instrumen operasi moneter seperti reverse repo, SBI, dan sebagainya, akan kami optimalkan,” ujar Mirza.

Berdasarkan data JISDOR BI, rupiah pada Selasa ini, melemah menjadi Rp 13.831 per dolar AS di bandingkan Jumat lalu Rp 13.763 per dolar AS. Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menilai, pelemahan rupiah, secara fundamental memang sudah cukup dalam akibat sentimen global. Kurs rupiah semestinya tidak separah ini, karena angka defisit transaksi berjalan dan inflasi yang relatif rendah.

“BI itu tidak hanya khawatir, kita itu sudah mati-matian menjaga rupiah. Hari ini kita putuskan untuk perkuat langkah-langkah kita untuk menjaga stabilitas rupiah,” ujar Perry.

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi, terutama dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pada triwulan II 2015, rupiah rata-rata melemah 2,47% (qtq) ke level Rp 13.131 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah pada triwulan II itu dipengaruhi antisipasi investor atas rencana kenaikan suku bunga AS (FFR), dan Quantitative Easing ECB, serta dinamika perundingan fiskal Yunani.

Dari sisi domestik, meningkatnya permintaan valas untuk pembayaran utang dan dividen sesuai pola musiman pada triwulan II 2015. Namun, tekanan tersebut tertahan oleh sentimen positif terkait kenaikan outlook rating Indonesia oleh S&P dari stable menjadi positif dan meningkatnya surplus neraca perdagangan.

Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa, sejalan dengan reaksi pasar global terhadap keputusan Tiongkok yang melakukan depresiasi mata uang Yuan, hampir seluruh mata uang dunia, termasuk Rupiah, mengalami tekanan depresiasi. [tar] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2230587/rupiah-melemah-terus-apa-kabar-bi#sthash.61yXG5YD.dpuf

JAKARTA. Penguatan dollar Amerika Serikat (AS) semakin tidak terbendung terhadap rupiah. Mengacu data Bloomberg, Selasa (18/8) di pasar spot rupiah kembali melemah ke Rp 13.849 per dollar AS atau 0,14% dari sebelumnya Rp 13.822 per dollar AS pukul 11.00 WIB.

Sementara mengacu kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah tenggelam ke Rp 13.831 per dollar AS atau 0,49% dari sebelumnnya Rp 13.763 per dollar AS.

Pagi ini, dollar AS tertopang oleh peningkatan kepercayaan di sektor perumahan AS. Data ini kian mengindikasikan perekonomian negeri Paman Sam ini kian membaik.

Greenback naik menjadi 1,1078 dollar per euro dan menjadi 124,41 yen, belakangan sedikit terpukul oleh data pada Senin yang menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi 0,4 % pada kuartal kedua.

Dollar, yang juga meningkat ke 1,5586 dollar per pound, menguat karena indeks sentimen pembangunan dari Asosiasi Pengembang Perumahan AS naik ke tingkat tertinggi baru sejak resesi berakhir pada 2009.

http://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-kian-tenggelam-ke-rp-13849-per-dollar-as
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA ID- Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa pekan terakhir sudah terlalu dalam (overshoot).

“Kami melihat bahwa pelemahan rupiah akhir-akhir ini telah terlalu dalam (overshoot), sehingga telah berada jauh di bawah nilai fundamentalnya (undervalued),” kata Gubernur BI, Agus Martowardojo, di Jakarta, Rabu.

Agus menuturkan, menyikapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia telah dan akan terus berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Bank Indonesia akan mengoptimalkan bauran kebijakan dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah dan otoritas lainnya,” ujar Agus.

Berdasarkan kurs JISDOR BI, nilai tukar rupiah pada Rabu ini mencapai Rp13.758 per dolar AS, melemah dibandingkan hari sebelumnya Rp13.541 per dolar AS.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara meyakini pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir hanya bersifat sementara.
“Kami melihat bahwa saat ini rupiah undervalued (di bawah nilai fundamentalnya) dan dari dalam negeri sendiri saat ini kami memandang rupiah sudah cukup kompetitif terhadap ekspor manufaktur dan mampu mendorong turis masuk ke Indonesia,” ujar Mirza.

Mirza juga menilai perkembangan rupiah juga dipengaruhi oleh pembayaran utang dan dividen secara musiman, khususnya di Triwulan III 2015.

Ia menuturkan, Bank Indonesia akan selalu memonitor perkembangan rupiah dan terus menerus di pasar untuk menjaga volatilitas rupiah.  (ant/gor)

Soon everybody will be scared about ‘currency war’ again – we should be celebrating

With the dollar continuing to strengthen and now the Japanese yen starting to take off as well central bankers in the US and Japan are likely increasingly becoming worried about the deflationary tendencies of stronger currencies and recent comments from both countries’ central banks indicate that they will not allow their currencies to strengthen dramatically if it where to become deflationary.

This has in recent days caused some to begin to talk about the “risk” of a new global “currency war” where central banks around the world compete to weaken their currencies. Most commentators seem to think this would be horrible, but I would instead argue – as I have often done in recent years – that a global race to ease monetary policy is exactly what we need in a deflationary world.(analisis sederhana gw SUPAYA BISNIS TETAP MAJU, yaitu PENURUNAN BI RATE k 6%)

If we lived in the high-inflation days of the 1970s we should be very worried, but we live in deflationary times so global monetary easing should be welcome and unlike most commentators I believe a global currency war would be a positive sum game.

Over the last couple of years I have written a number of posts on the topic of currency war. The main conclusions are the following:

  1. Currency war is a GREAT THING and is VERY POSITIVE – if indeed we think of it as a global competition to print money. This is what we need in a deflationary world.
  2. As long as we are seeing commodity prices decline and inflation expectations we can’t really say that the currency war is on yet.
  3. Currency war is NOT a zero sum game. It is a positive sum game in a deflationary world.
  4. Don’t think of monetary easing/currency depreciation to primarily work through a “competitiveness channel”, but rather through a boost to domestic demand. Therefore, we are likely to actually see the trade balance WORSEN for countries, which undertakes aggressive monetary easing. The US in 1933 is a good example. So is Argentina in 2001-2 and Japan recently. Sweden versus Denmark since 2008.

I don’t have much time to write more on the topic this morning, but I am sure I will return to the topic soon again. Until then have a look at my previous posts on the topic (and related topics):

Bernanke knows why ‘currency war’ is good news – US lawmakers don’t

‘The Myth of Currency War’

Don’t tell me the ‘currency war’ is bad for European exports – the one graph version

The New York Times joins the ‘currency war worriers’ – that is a mistake

The exchange rate fallacy: Currency war or a race to save the global economy?

Is monetary easing (devaluation) a hostile act?

Fiscal devaluation – a terrible idea that will never work

Mises was clueless about the effects of devaluation

Exchange rates and monetary policy – it’s not about competitiveness: Some Argentine lessons

The luck of the ‘Scandies’

Jakarta detik -Langkah China melemahkan mata uang yuan pada hari ini, dan menggegerkan pasar keuangan dunia. Nilai rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) ikut jatuh.

Pada hari ini, dolar ditutup di Rp 13.610, sementara IHSG turun 2,6%. Menanggapi kondisi ini, Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melakukan rapat.

Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo, yang memimpin rapat itu mengatakan, pelemahan yuan membuat IHSG turun dan rupiah melemah. FSSK membahas soal stabilitas sistem keuangan menanggapi kondisi ini, baik dari pasar modal, perbankan, atau pun asuransi.

Namun, kondisi APBN-P 2015 menurut Mardiasmo masih aman dan tidak terganggu kondisi yang terjadi.

“Seberapa jauh mempengaruhi APBN, kita punya PNBP (penerimaan negara bukan pajak), kita punya utang bunga, intinya jadinya kan kita membayar kewajiban, kita punya PNBP, kita saling mengisi, jadi masih relatif aman dan netral,” jelas Mardiasmo usai rapat FSSK, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (11/8/2015).

Pada Kamis lusa, pemerintah, BI, OJK, dan LPS akan melakukan jumpa pers bersama terkait program stimulus ekonomi yang akan dikeluarkan dalam menghadapi tantangan ekonomi yang berat saat ini.

Soal kondisi terkini, FSSK melakukan uji tekanan (stress test) melihat dampak tekanan ekonomi ke sektor keuangan. Hasilnya masih aman.

“Masih aman dong, relatif aman tapi waspada supaya tidak terus menurun, jadi istilahnya menjaga stabilitas keamanan, menahan tidak semakin bergejolak,” kata Mardiasmo.

(dnl/ang)

newsmax: With regards to the impact of the rising U.S. dollar on other countries, it may be positive for the Europe and Japan in the short run, since weaker euro and yen may boost their exports (it seems that the depreciation of euro and yen is responsible for the current ‘economic growth momentum’ in the Eurozone and Japan). However, the impact on the emerging markets, as we have already pointed out, may be much worse, due to large indebtedness in the U.S. dollar, in which over half of all the global cross-border deposits and lending are transacted. We hope that you remember how the “taper tantrum” hit the emerging markets.UTANG PEMERINTAH INDONESIA saat ini

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia diminta untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan atau BI rate.

Permintaan tersebut karena melihat angka inflasi pada Juli yang rendah yakni 0,93% dan relatif terkendali.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan saat ini pelemahan nilai tukar rupiah membuat ruang untuk bank sentral menurunkan tingkat suku bunga menjadi terbatas.

Sebab, untuk menurunkan BI Rate tidak semata-mata hanya mempertimbangkan angka inflasi saja tetapi ada faktor lain yang turut mempengaruhi yakni seperti nilai tukar rupiah.

“Untuk sinyal dari suku bunga memang kami akan terus memonitor, mengantisipasi berbagai perkembangan yang memang inflasinya akan turun. Tapi beberapa faktor khususnya dari tekanan rupiah yang selama ini memang ruang untuk menurunkan suku bunga masih terbatas,” ujarnya, Selasa (4/8/2015).

Melemahnya nilai tukar rupiah yang dipengaruhi faktor global dan domestik menjadi salah satu alasan kuat bank sentral tidak merespon rendahnya inflasi dengan penurunan BI rate yang saat ini berada di level 7,5%.

Pihaknya tidak memungkiri tingkat inflasi domestik memang menjadi pertimbangan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dalam menentukan tingkat suku bunga.

Kendati demikian, bank sentral juga memperhatikan tingkat suku bunga negara lain, seperti rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Fed Fund Rate untuk menentukan BI rate.

“Kami terus berkomitmen untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa harus menurunkan BI rate, yakni dengan cara melonggarkan kebijakan makroprudensial seperti pelonggaran loan to value yang telah kami lakukan,” kata Perry.

Jakarta – Apa jadinya kalau nilai tukar rupiah terus terperosoknya sampai Rp 15 ribu atau Rp 16 ribu per US$? Yang jelas, pemerintah harus punya strategis khusus kalau itu terjadi.

Kata mantan Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS, tidak bisa di pandang sepele. Saat ini, penguatan dolar AS bukan dipisu hukum ekonomi supply and demands. Namun lebih karena faktor ekternal yakni membaiknya perekonomian AS dan rencana penaikan suku bunga The Fed.

“Disinilah yang mesti hati-hati. Jangan sampai rupiah terus terperosok sampai Rp 15 ribu atau Rp 16 ribu per dolar AS. Dampaknya bisa kemana-mana,” papar Aviliani kepada INILAHCOM di Jakarta, Senin (3/8/2015).

Kalau itu terjadi, kata Aviliani, pukulan bagi sektor industri termasuk perbankan. Karena, industri terpaksa menaikkan harga di tengah cekaknya daya beli masyarakat. Kondisi ini bisa memicu kenaikan kredit macet (Non Performing Loan/NPL) di perbankan. “Inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi bisa enggak mencapai target,” papar Aviliani.

Aviliani mengingatkan tentang Tiongkok yang semakin membuka diri bagi masuknya investasi. Langkah yang sama dilakukan Thailand. Sejumlah insentif disiapkan untuk menarik investor. “Kalau pemerintah tidak antisipasi, keadaan bisa semakin memburuk,” kata Aviliani.

Selanjutnya, Aviliani menyarankan pemerintah untuk menetapkan cadangan uang dalam bentuk dolar AS. Untuk jaga-jaga agar pergerakan dolar AS tidak semakin liar. “Sumber dana cadangan itu bisa dari utang luar negeri,” pungkas Aviliani.

Sayangnya, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro bukannya memaparkan strategi dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah. Dia malah menunjuk Bank Indonesia (BI) yang harus bertanggung jawab atas anjloknya rupiah. “Kebijakannya ada di Bank Indonesia. Nilai tukar bukan tanggung jawab kita, utamanya adalah tanggung jawab Bank Indonesia,” kata Bambang.

Bambang bilang, pelemahan rupiah tidak banyak berdampak kepada fiskal negara. Dalam hal ini, sektor riil yang paling terkena dampaknya. “Kita enggak pernah biarkan, segala macam. Tanyalah BI, arahnya bagaimana,” pungkas Bambang.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2227027/ketika-dolar-as-tembus-rp-15-ribu
Sumber : INILAH.COM

JAKARTA okezone – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah tidak ingin menguatkan nilai tukar mata uang Rupiah dengan menggunakan Cadangan Devisa (Cadev).

Sofyan menyebutkan, Rupiah yang terus tergerus dalam beberapa waktu belakangan ini dikarenakannya adanya isu The Fed atau Bank Central Amerika yang ingin menaikan suku bunga.

Dengan adanya isu tersebut, banyak pelaku pasar yang berspekulasi dan isu tersebut juga mempengaruhi mata uang yang bergantung terhadap dolar.

“Tetapi apa yang dilakukan pemerintah dalam hal itu ada beberapa negara melakukan intervensi di pasar, kita tidak mau menghabiskan devisa cuma gara-gara itu,” kata Sofyan di Ritz Charlton Hotel Mega Kuningan, Jakarta, Sabtu (1/8/2015).

Sofyan menilai, pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar juga akan bergerak fluktuasi sampai dengan The Fed benar-benar merealisasikan suku bunga.

Selain itu, sambung Sofyan, upaya memperbasiki sistem ekonomi, mendorong kinerja ekspor juga belum tentu bisa menjamin pergerakan nilai tukar di esok harinya.

“Tetapi tidak usah mengkhawatirkan dan kait-kaitan dengan 98, itu ekonomi dari Rupiah 2.300 ke 13.000 jadi beratus-ratus persen lemah, tetapi dibandingkan negara lain juga sama. Yang tidak melemah Singapura karena lebih mampu memperbaiki infrastruktur dengan baik,” tandasnya.

(rzy)

JAKARTA kontan. Rupiah menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS) hari ini. Analis menilai, ini merupakan siklus penguatan rupiah menjelang pengumuman hasil pertemuan bank sentral AS Federal Open Market Committe (FOMC) yang digelar 28-29 Juli ini.

Di pasar spot, Rabu (29/7), rupiah menguat tipis 0,07% menjadi Rp 13.456 per dollar AS. Sementara di kurs tengah Bank Indonesia rupiah naik 0,12% ke level Rp 13.444.

Trian Fathria, Research and Analyst Divisi Treasury PT Bank Negara Indonesia menyatakan, secara historis, pergerakan rupiah selalu menguat menjelang FOMC meeting.

Ini lantaran pelaku pasar memprediksi kemungkinan naiknya suku bunga AS di bulan September tidak terlalu besar. Langkah The Fed juga mungkin tertahan oleh AS yang masih kesulitan mencapai target inflasi di tengah penurunan harga komoditas dan pelemahan ekonomi global.

“Sementara dari dalam Indonesia, penguatan rupiah juga terbantu dengan lelang sukuk pemerintah yang melebihi target,” ungkap Trian.

Sri Wahyudi Research and Analyst PT Fortis Asia Futures melihat penguatan rupiah masih terbatas. Penguatan tersebut disebabkan oleh melemahnya USD akibat data consumer confidence AS yang dirilis Selasa (28/7) masih negatif di angka 90,9 dari sebelumnya 99,8.

“Ini menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen AS mengalami penurunan sehingga dollar AS terkoreksi,” paparnya.

Pergerakan dollar cederung melemah menjelang FOMC lantaran ada ketidakpastian terkait kenaikan suku bunga The Fed.

Jika dalam FOMC pejabat The Fed memberi pernyataan suku bunga naik tahun ini, dollar berpotensi menguat sehingga rupiah akan kembali melemah, demikian juga sebaliknya.

Oleh karena itu, Wahyudi menilai pergerakan rupiah akan tergantung sinyal The Fed.

Sementara dari dalam negeri, rupiah masih sepi sentimen. Namun, tanggal 1 Agustus mendatang pemerintah akan mengumumkan inflasi bulan Juli yang diprediksi naik. Jika inflasi sesuai prediksi, data tersebut menurut Trian dapat menahan penguatan rupiah lebih jauh.

 

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) Vera Eve Lim mengatakan, pelemahan rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) tidak banyak mempengaruhi kinerja perbankan secara aktiva.

“Untuk industri perbankan pinjaman dolar dibanding rupiah kan enggak besar. Danamon kan dolarnya kecil. Jadi dampak ke aktiva enggak terlalu besar,” ujarnya di Menara Bank Danamon, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2015).

Namun dirinya menilai dampak pelemahan rupiah terhadap dunia perbankan dirasakan kecil secara ekonomi. Sebab pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan mempengaruhi pertumbuhan kredit yang akan melemah.

“Tapi dampak ke ekonomi keseluruhan kami cermati. Depresiasi rupiah kami lihat dampaknya ke industri perbankan, kalau ke aktiva dolar enggak pengaruh tapi ke ekonomi ya. Kalau ekonomi melambat pertumbuhan kredit pengaruh,” jelas dia.

Kalaupun ada pinjaman dalam bentuk dolar, Danamon tidak terlalu khawatir karena telah menjalankan hedging. “Pinjaman kami kalau yang dalam bentuk dolar biasanya kami hedging,” lanjutnya.

Sedangkan, stres test seperti yang diminta oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap semua bank, selalu dilakukan setiap enam bulan. “Stres test selalu dilakukan enam bulan sekali. Stres test kan banyak skenario. Itu dilakukan secara periodik. Modal perbankan masih sangat tinggi di regional, industri secara keseluruhan juga,” pungkas dia.
SAW

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/07/28/416284/dampak-pelemahan-rupiah-ke-industri-perbankan-relatif-kecil
Sumber : METROTVNEWS.COM

 

JAKARTA.  Pemerintah menyebut pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp13.440 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (24/7/2015) didorong oleh sejumlah spekulasi tentang peluang penaikan Fed Rate pada tahun ini.

“Itu karena ada statement yang mengatakan Fed Rate akan naik tahun ini dan otomatis akhirnya dolar AS akan menguat. Itu terjadi di semua mata uang,” ujar Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro di Kantor Wapres, Jumat (24/7/2015).

Seperti diberitakan, Survei Bloomberg termutakhir menunjukkan peluang kenaikan Fed funds rate pada September tetap 50%, sama persis seperti hasil survei pada Juni.

Ada pula yang memproyeksi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuan dua kali sebelum akhir tahun ini. Proyeksi itu didorong oleh likuiditas yang cenderung menciut jelang tutup tahun.

“Intinya memang fenomena global di mana beberapa mata uang yang biasanya tahan terhadap penguatan dolar juga mengalami &lrm;pelemahan. Contohnya baht Thailand dan peso Filipina sekarang terdepresiasi atas statement itu, biasanya keduanya tidak terpengaruh,” kata Bambang.

Berdasarkan Bloomberg Dollar Index, pergerakan rupiah pada hari ini dibuka pada level Rp13.440 /US$. Pada pukul 08.03 WIB, rupiah melemah 0,13% ke Rp13.437/US$. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Kamis, rupiah melemah 45 poin atau 0,34% ke Rp13.420/US$.

http://finansial.bisnis.com/read/20150724/9/456139/spekulasi-soal-penaikan-fed-rate-lemahkan-rupiah
Sumber : BISNIS.COM

INILAHCOM, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sudah “undervalued” dapat menjadi momentum untuk perbaikan iklim berusaha serta bermanfaat meningkatkan kinerja sektor investasi.

“Rupiah kalau kita bandingkan dengan ‘currency’ mitra utama kita ada di posisi ‘slightly undervalued’. Ini mencerminkan kita punya iklim usaha yang memungkinkan daya saing. Tapi infrastruktur harus diperbaiki, untuk menunjang realisasi investasi,” katanya di Jakarta, Rabu (22/7/2015).

Agus mengakui berdasarkan Real Effective Exchange Rate (REER) nilai rupiah sedikit “undervalued” pada kisaran Rp100 per dolar AS, namun hal ini bukan sesuatu yang mengkhawatirkan apabila upaya pembenahan struktural terus dilakukan pemerintah.

Ia menambahkan, untuk mengatasi pelemahan rupiah yang saat ini sedang terjadi, perbaikan fundamental dan meneruskan upaya reformasi struktural bisa terus dilakukan, agar rupiah tetap bisa memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi.

“Minat ekspor harus ditingkatkan meski harga komoditas cenderung menurun. Kalau kita bisa melanjutkan reformasi struktural di pemerintah pusat dan daerah, BI tentu bisa mendukung dalam pendalaman pasar keuangan,” katanya.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan nilai rupiah sudah dalam keadaan “undervalued” sejak isu normalisasi kebijakan moneter di AS berhembus pada 2013. Namun, ia memastikan, BI akan selalu ada untuk menjaga pergerakan rupiah.

Menurut dia, tren global yang ada saat ini adalah penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang lainnya termasuk Indonesia, dan tekanan eksternal inilah yang menjadi salah satu penyebab perlemahan rupiah sejak tahun lalu.

“Fundamental dalam defisit neraca transaksi berjalan menguat, tapi ada tekanan penguatan dolar di seluruh dunia terhadap semua mata uang. Jadi ini yang membuat investor belum ‘recognize’ dengan perbaikan neraca transaksi berjalan,” kata Mirza.

Sementara, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu sore, bergerak melemah sebesar 14 poin menjadi Rp13.349 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.335 per dolar AS.

“Nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS di tengah minimnya volume transaksi dan sentimen positif pascaliburan Hari Raya Idulfitri 1436 Hijriah,” kata pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova.

Menurut dia, koreksi nilai tukar domestik itu menyusul aksi pelaku pasar uang di dalam negeri yang masih cenderung melepas aset instrumen mata uang rupiah seiring minimnya realisasi penyerapan anggaran belanja modal di sepanjang semester pertama tahun ini.

“Minimnya penyerapan belanja modal membuat konsumsi domestik menjadi turun sehingga laju ekonomi Indonesia relatif mendatar,” katanya.

Ke depan, dia mengharapkan penyerapan anggaran belanja modal pada semester kedua 2015 lebih baik daripada sebelumnya sehingga dapat mendongkrak daya beli masyarakat yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Dari eksternal, lanjut Rully, belum adanya kepastian bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) untuk menaikkan suku bunganya (Fed fund rate) masih menjadi salah satu penahan bagi nilai tukar rupiah untuk bergerak menguat.

“Ketidakpastian the Fed terkait kenaikan suku bunga telah menyandera laju mata uang rupiah untuk bergerak menguat sejak 2014,” ujarnya. [tar] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2223838/rupiah-undervalued-momentum-perbaikan-iklim-usaha#sthash.cdTlHfLo.dpuf

KOMPAS.com – Nilai tukar rupiah  terhadap dollar AS terus terpuruk. Bahkan pada Rabu (17/6/2015) lalu, rupiah terperosok ke level terendah, yaitu ke Rp 13.367 per dollar AS.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menganggap pelemahan rupiah akibat kondisi penguatan dollar AS atau yang sering disebut dengan ‘super dollar’. Karena banyak mata uang di negara lain juga mengalami hal serupa. “Malaysia ringgit (depresiasi/melemah) 1,1 persen; won Korea 1,07 persen; dan peso Filipina juga 0,7 persen,” ungkap Bambang di Gedung DPR, Jakarta, Senin (8/6/2015).

Sadarkah Menteri Keuangan bahwa rupiah sudah sangat lama melemah, persisnya sejak awal Agustus 2011.

faisalbasri01.wordpress.com


Sejak Desember 2014 cukup banyak faktor yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap rupiah. Yang terpenting adalah kemerosotan harga minyak. Impor minyak menjadi biang keladi kemerosotan rupiah sejak tahun 2011. Namun selama Januari-Mei 2015 impor minyak turun tajam, sebesar 51 persen.

Tidak hanya dalam nilai, dalam volume pun impor minyak turun.

Sedemikian tajamnya penurunan impor BBM sehingga tidak lagi menjadi komoditas impor terbesar sebagaimana terjadi selama 2011-2014. Kini impor BBM hanya menduduki urutan ketiga terbesar.

Kemerosotan harga BBM pulalah yang membuat transaksi perdagangan luar negeri kembali surplus setelah selama tiga tahun sebelumnya selalu defisit. Walaupun ekspor selama Januari-Mei turun sebesar 11,8 persen, transaksi perdagagan tetap surplus karena impor turun lebih tajam, yaitu sebesar 17,9 persen. Penurunan impor sangat tajam dialami oleh migas, yaitu 42,8 persen.

faisalbasri01.wordpress.com


Penurunan nilai impor juga dialami oleh berbagai komoditas yang tergolong sebagai kebutuhan pokok karena kemerosotan harga, misalnya gandum, kedelai, jagung, dan gula.

Untuk perdagangan jasa juga mengalami perbaikan. Defisit perdagangan jasa yang biasanya per triwulan sekitar 2,5 miliar dollar AS sampai 3,5 miliar dollar AS, pada triwulan I-2015 hanya 1,8 miliar dollar AS. Karena akun primary income dan secondary income tidak mengalami perubahan berarti, maka defisit akun semasa (current account) pada triwulan I-2015 membaik menjadi hanya 1,8 persen PDB dibandingkan 2,9 persen PDB pada tahun 2014.

Defisit current account ditutupi oleh surplus lalu lintas modal dalam bentuk penanaman modal asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) maupun portofolio.

Dengan demikian, neraca pembayaran terus mencatatkan surplus, sehingga cadangan devisa juga masih menikmati surplus. Karena itu seharusnya secara teknis, rupiah tidak mengalami pelemahan berkelanjutan.

faisalbasri01.wordpress.com

Jadi mengapa rupiah terus melemah padahal pasokan dollar AS lebih besar ketimbang permintaannya?

Penyebabnya diduga pemilik dollar AS tidak menukarkan dollarnya ke rupiah karena motif berjaga-jaga. Pemilik dollar AS khawatir merugi kalau nanti mereka butuh dollar AS harus membeli dengan kurs yang lebih tinggi lagi. Masyarakat maupun pebisnis tak berhasil diyakinkan oleh pemerintah dan BI. Ada semacam krisis kepercayaan dan tergerusnya trust terhadap pemerintah dan BI.

Hal itu mengakibatkan pasokan dollar AS di pasar valuta asing tidak meningkat. Apalagi mengingat volume transaksi di pasar valuta asing sangat tipis, sekitar 2 miliar dollar AS saja dalam sehari.

CFD Trading Strategies

Find out more about CFD strategies here

Speculative Short Term Trading

CFD traders will often trade during high volatility periods in stocks such as IPOs, takeovers, and mergers. CFDs allow for a lot of fast trading without having to worry about stamp duty.

Get In and Get Out

Many investors carefully watch the trades a director will make with the stocks and stock options he has in his company. It is often a very good indicator of the direction the stock might move.

CFD brokerage firms will allow traders to set up limit buy and guaranteed stop loss functions which free them from having to watch the market constantly. CFD traders can tell their broker to buy a CFD on a company at a certain price, and then close it at another price, and the trades will automatically be performed for the trader.

What are CFDs?

Contracts for difference (CFDs) allow you to open a contract for the difference in price of an asset, from the point of opening to when you close.

  • Importantly, CFDs are a leveraged product. This means you only have to put down a small deposit for a much larger market exposure.
  • Leverage comes with significant benefits and risks: your investment capital can go further, but you can also lose more than your initial deposit.

CFD trading allows you to take a position on the future value of an asset whether you think it will go up or down. While this means the product is very flexible, it also requires a high level of risk management.

It’s important to remember you’re trading contracts with IG, not physically trading in the underlying market. This means you don’t actually own any assets.

CFD FAQs

How do I trade CFDs?

We set a price for a contract based on the underlying market, which you can buy or sell.

With each market you are given a ‘buy’ and ‘sell’ price either side of the underlying market price. You can trade on a market to go up (known as ‘buying’ or ‘going long’), or you can trade on it to go down (known as ‘selling’ or ‘going short’).

Learn more about trading CFDs

How much does it cost to trade CFDs?

It depends on the market you choose. Generally you only pay a commission charge for share CFDs, or a spread (the difference between the buy and sell prices) for all other markets. There is a small charge to fund positions overnight, a small premium for guaranteed stops, and other fees.

See our full charges and fees

Is it risky?

Yes, CFDs do carry risk – if the market moves against you, you lose money. And because CFDs are leveraged products, you could lose more than your deposit.


Bisnis.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disinyalir disebabkan oleh ‘permainan’ oknum yang memiliki kepentingan tertentu.

Chairman Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) Christianto Wibisono menyatakan ada ‘George Soros’ lokal yang mempermainkan rupiah, sehingga terus melemah terhadap mata uang Negeri Paman Sam itu.

Motif ‘Soros’ lokal dalam mempermainkan perekonomian nasional ini ditengarai memiliki tendensi politik untuk menjatuhkan pemerintah.

Seperti diketahui, George Soros merupakan sosok yang membangkrutkan Bank Sentral Inggris pada 16 Desember 1992 dengan mempermainkan poundsterling.

Setelah krisis moneter 1998, saat ini Indonesia kembali diguncang permainan spekulasi oleh ‘Soros lokal’. “Soros Indonesia tengah menggempur rupiah,” kata Wibisono di Jakarta, Selasa (16/6/2015).

Menurutnya, ‘George Soros’ lokal ini memiliki contract for difference (CFD) sebesar US$10 miliar, hanya dengan modal US$250 juta guna menyudutkan rupiah, dengan strike position Rp13.800/dolar AS. Sejauh ini, BI sendiri belum melarang CFD tersebut.

Situasi ekonomi Indonesia yang melemah saat ini memungkinkan pihak-pihak lokal yang ingin menjatuhkan fundamental ekonomi nasional dan memanfaatkannya demi kepentingan tertentu. “Kalau ini , seolah-olah disengaja ikut memperlemah,” katanya.

Hal itu disebabkan salah satunya oleh perdagangan valuta asing (valas) tidak dapat dikontrol oleh siapapun, termasuk Bank Indonesia.

Ketika wartawan mempertanyakan apakah perekonomian nasional yang melemah ini ada yang mempermainkannya, Christianto Wibisono menjawab bahwa situasi saat ini seperti halnya George Soros yang melakukan serangan terhadap poundsterling pada 1992.

Seperti 1998, tidak ada yang menyangka rupiah bisa jeblos ke Rp17.000/dolar AS.

Di tahun ini, selain karena transaksi valas, pelemahan rupiah juga karena pemain bisnis nasional kurang memanfaatkan rupiah sebagai alat transaksi. “Yang memainkan rupiah kan sedikit, lebih banyak dolar,” katanya.

Wibisono menganalisa ketidakpercayaan masyarakat terhadap perekonomian nasional juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menjatuhkan nilai rupiah. “Pertama, faktor rupiahnya juga naik turun. Kedua, faktor internal Indonesia kurang bagus. Dan, ketiga, faktor psikologi itu,” katanya.

Faktor psikologi di masyarakat ini, yang menyebabkan nilai rupiah melemah, karena dolar menguat akibat banyak yang menyimpan. Selain itu, faktor ‘George Soros’ lokal ikut andil dalam melemahkan rupiah.

Menurutnya, motif ‘George Soros’ lokal mempermainkan perekonomian Indonesia dengan melemahkan rupiah adalah tendensi politik, yakni menjatuhkan pemerintahan saat ini. “Ya politik. Secara politik kan kalau rupiahnya ambruk pemerintahnya ambruk, seperti zaman Soeharto,” ujarnya.

Namun, spekulasinya, kelakuan ‘George Soros’ lokal hanya ingin menggoyahkan pemerintahan saat ini. Oleh karena itu, menurut Wibisono, Bank Indonesia dan pemerintah harus melakukan berbagai upaya dalam mencegah pelemahan rupiah yang bisa berdampak buruk bagi perekonomian nasional.

“Pembangunan harus berjalan terus, termasuk memberikan kepastian ekonomi,” ujarnya.

Selain itu, Bank Indonesia harus segera turun tangan dengan mewajibkan eksportir mengonversi devisa ekspornya ke rupiah dan menjadi market maker untuk transaksi pasar swap.

JAKARTA.  Menjelang penutupan perdagangan Kamis (11/6/2015), rupiah bertahan menguat terhadap dolar AS saat mata uang Asia lainnya cenderung melemah.

Berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah menguat 0,16% ke Rp13.294 per dolar AS pada pukul 14.07 WIB.

Pada awal perdagangan, kurs rupiah dibuka menguat 0,49% ke Rp13.250 terhadap dolar AS dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.

Selanjutnya, rupiah menguat 0,2% ke Rp13.288 per dolar AS pada pukul 10.13 WIB. Adapun pada pukul 11.02 WIB rupiah menguat 0,19% ke Rp13.290 per dolar AS.

Penguatan rupiah sore ini terjadi saat dolar AS ditransaksikan menguat terhadap mata uang asia.

Dari 11 mata uang Asia, delapan mata uang melemah, dua stagnan, dan satu menguat. Pagi ini, mata uang Asia ditransaksikan beragam terhadap dolar AS.

 

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia, Kamis 11 Juni 2015

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB
Yen

123,2700

+0,48%

14:07:38
$Hong Kong

7,7527

0,00%

14:06:58
$Singapura

1,3468

+0,39%

14:07:02
$Taiwan

30,9110

+0,06%

14:06:59
Won

1.108,58

+0,05%

12:59:59
Peso

45,0180

+0,05%

14:07:21
Rupiah

13.294

-0,16%

14:07:01
Rupee

63,9250

+0,13%

14:12:35
Yuan

6,2061

0,00%

14:07:20
Ringgit

3,7430

+0,23%

14:07:16
Baht

33,7010

+0,32%

14:06:58
Sumber: Bloomberg.

http://market.bisnis.com/read/20150611/93/442443/kurs-asia-hanya-rupiah-yang-menguat-jelang-penutupan-hari-ini
Sumber : BISNIS.COM

per tgl 05 Juni 2015, the dollar index looked like this:

dollar index 050615_96

Metrotvnews.com, Jakarta: Pelemahan rupiah makin terpukul jelang akhir pekan ini. Minimnya sentimen positif, serta menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) membuat gerak rupiah makin melemah.

Mengutip Bloomberg, Jumat, 8 Mei, kondisi rupiah makin terlempar ke Rp13.162 per USD jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp13.147 per USD. Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, gerak rupiah berada di level Rp13.166 per USD jika dibandingkan dengan penutupan pergerakan Rp13.145 per USD.

Hasil riset Samuel Sekuritas memaparkan pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini diprediksi masih lesu. Tekanan demi tekanan masih akan dirasakan rupiah karena dolar AS terpantau menguat tajam.

“Penguatan dolar index akibat membaiknya data AS berpeluang menambah tekanan terhadap rupiah pada hari ini,” demikian seperti dikutip dalam hasil riset Samuel Sekuritas.

Prediksi mereka, kehadiran Bank Indonesia (BI) untuk menambah pasokan dolar di pasar valas terpantau tidak terlalu agresif.
AHL

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/05/08/123737/rupiah-makin-terpukul
Sumber : METROTVNEWS.COM

JAKARTA – Kurs rupiah terapresiasi ke kisaran Rp12.800-an berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).

Data yang diterbitkan BI pada pagi ini (Kamis, 16/4/2015) menempatkan Jisdor pada Rp12.838 per dolar AS atau naik 1,06% dari Rp12.976 pada 15 April 2015.

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah naik 0,41% dari penutupan kemarin ke level Rp12.9852 pada pukul 10.01 WIB.

 

Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor/Rupiah)

16 April

12.838
15 April

12.976
14 April

12.979
13 April

12.945
10 April

12.910
Sumber: Bank Indonesia

http://market.bisnis.com/read/20150416/93/423525/kurs-rupiah-16-april-jisdor-menguat-ke-level-rp12.800-an
Sumber : BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA—Rupiah naik paling tajam dibandingkan mata uang lain di Asia pada Rabu (15/4/2015) setelah data Maret menunjukkan kinerja perdagangan yang positif.

Mayoritas mata uang Asia hari ini menguat. Dari 11 mata uang yang dipantau melalui Bloomberg Dollar Index, sebanyak 7 mata uang menguat dan 4 mata uang melemah.

Rupiah terapresiasi paling tajam dengan penguatan 0,61% ke RP12.905 per dolar AS. Pergerakan rupiah terdorong oleh data neraca perdagangan Maret yang diumumkan siang tadi. Surplus perdagangan Maret mencapai US$1,13 miliar dan jauh di atas estimasi ekonomi sekitar US$600 juta.

Di sisi lain, won Korea Selatan turun paling tajam setelah ditutup terdepresiasi 0,25% pada siang tadi, diikuti ringgit yang melemah 0,15% pada penutupan.

Kurs Mata Uang Asia

Kurs Nilai Perubahan WIB
Rupiah 12.905,20 +0,61% 15:59:59
Baht 32,422 +0,18% 16:35:41
Rupee 62,4238 +0,13% 16:36:14
Yuan 6,2051 +0,11% 15:29:34
Peso 44,545 +0,10% 15:05:25
$Hong Kong 7,7506 +0,03% 16:35:18
$Singapura 1,3604 +0,01% 16:35:16
$Taiwan 31,276 -0,00% 14:59:59
Yen 119,46 -0,05% 16:35:54
Ringgit 3,706 -0,15% 15:59:39
Won 1.096,92 -0,25% 12:59:59

Sumber: Bloomberg

per tgl 05 April 2015: dollar index @96:dollar index 050415_96 v IHSG kesimpulan sederhana berdasarkan grafik yahoo finance @ dollar index n ihsg: tren ihsg turun lebe ringan dibandingkan tren dollar index dalam waktu 1 bulan terakhir… sebuah kondisi yang sebenarnya tidak jelek bwat rupiah n ihsg n ekonomi kita ya 🙂

Bisnis.com, JAKARTA–Pemerintah berharap penguatan nilai tukar rupiah terus berlanjut seiring peningkatan investasi langsung dan portofolio, serta bergulirnya proyek APBN.

Presiden Joko Widodo optimistis kurs rupiah akan terus menguat ke posisi di bawah Rp13.000 per dolar Amerika Serikat. Kendati demikian, Jokowi mengakui pergerakan nilai tukar Garuda tidak terlepas dari ekonomi global, terutama kebijakan AS.

“Rupiah juga sama terus menguat, saat ini sedikit di bawah Rp13.000 dan ini juga menunjukkan kepercayaan ekonomi ke depan lebih baik,” tuturnya di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (7/4/2015).

Berdasarkan Bloomberg Dollar Index, rupiah hari ini ditutup melemah 0,21% ke Rp12.987 per dolar AS setelah dibuka turun tipis 0,08% ke Rp12.970 per dolar AS. Namun, rupiah terapresiasi dibandingkan kurs pada Rabu (1/4) yang mencapai Rp13.048 per dolar AS.

“Rupiah akan cenderung bergerak ke arah yang lebih stabil. Apalagi mulai bulan ini, pembangunan infrastruktur sudah banyak yang dimulai,” imbuh presiden.

Jokowi optimistis rupiah akan kembali stabil seiring bergulirnya investasi dalam bentuk penanaman modal langsung domestik maupun asing, investasi portofolio, dan investasi pemerintah dalam bentuk belanja modal untuk proyek-proyek infrastruktur.

“APBN mulai bulan ini bergerak uangnya mulai keluar, pertumbuhan ekonomi itu akan naik sedikit demi sedikit. Kemudian juga minat investasi yang semakin besar juga akan memberikan kepercayaan rupiah akan semakin menguat,” tuturnya.

Pemerintah, imbuh Jokowi, berkomitmen untuk meneruskan perbaikan struktural seperti penyederhanaan perizinan, pembangunan infrastruktur, dan perbaikan kebijakan.

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pagi ini. Rupiah melemah dekati Rp13.000 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Jakarta, Selasa (8/4/2015), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah 11 poin atau 0,09 persen ke Rp12.998 per USD. Angka tersebut dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp12.987 per USD.

Pagi ini, Rupiah bergerak cukup minim di kisaran Rp12.992-Rp13.010 per USD. Sedangkan pergerakan 52 mingguannya di kisaran Rp11.287-Rp13.250 per USD.

analis LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, pelemahan Rupiah masih cerminan dari dampak dari ekonomi Indonesia yang masih belum aman.

“Ya tentu itu cerminan nyata dampak kenaikan bbm, dan inflasi, suku bunga yang belum dikoreksi,” ujarnya.

Menurutnya, Rupiah ke depannya masih tertekan untuk menguji di level Rp13.150-Rp13.200 per USD. Hal ini, dikarenakan pasar uang telah menghakimi Rupiah yang anjlok di awal tahun pada level R13.250.

“Jadi harus jual dolar di Rp13.200, jadi kita mengharapkan megang dolar, nilai tukar diuji di Rp13.200. jd agar mendapatkan pertukaran selisih kurs valas,” ujarnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/04/08/278/1130733/rupiah-dibuka-melemah-dekati-rp13-000
Sumber : OKEZONE.COM

Tokyo, April 6, 2015 (AFP)
The dollar faced selling pressure against major currencies in Asia on Monday after disappointing US jobs data cast a pall over the outlook for higher interest rates.

The greenback fell to 119.11 yen in Tokyo from 119.77 yen on Friday, while the euro rose to $1.0982 and 130.84 yen from $1.0879 and 130.16 yen.

Global trading was thin, with many markets shuttered for public holidays.

The dollar’s drop came after the release Friday of closely watched US payrolls data, which showed employers sharply cut back on hiring in March.

The Labor Department on Friday said world’s leading economy generated 126,000 net new jobs in March, half of what was expected and the worst month since December 2013.

“Non-farm payrolls fell short of market expectations by a long way,” Toshiya Yamauchi, a senior analyst in Tokyo at Ueda Harlow Ltd., a margin-trading-services provider, wrote in a note to clients.

“Sentiment for dollar selling is set to continue,” he said.

The department also trimmed 69,000 from the two previous months’ figures, dimming the picture for growth after a year that averaged 287,000 new hires a month across the country.

“It’s pretty shocking,” said John Vail, the chief global strategist at Nikko Asset Management.

“This report obviously does push out expectations for a Fed hike to some degree, although we all know that the data can change very rapidly.”

— Bloomberg News contributed to this report —

dollar index 050415_96

per tgl 11 Maret 2015: dollar index yaitu UKURAN PERUBAHAN KURS DOLAR AMRIK ATAS SEMUA MATA UANG DUNIA telah menunjukkan TREN NAEK / BULLISH s/d sekira 25%; sementara terhadap mata uang RUP1AH telah menunjukkan kenaekan dolar SEKIRA 15% …
dollar index 110315_1yr

dollar index 110315_1yrVrup

BANDINGKAN dengan tren IHSG n BBRI (harga saham BANK RAKYAT INDONESIA) n SCHRODER DANA ISTIMEWA (REKSA DANA SAHAM yang terdaftar di BEI) sbb:
dollar index 110315_1yrVrupVbbri

dollar index 110315_1yrVrupVihsg

dollar index 110315_1yrVrupVschIST
… jelas INVESTASI gw @ harga saham BBRI lebe BERLABA dibandingkan tren DOLLAR INDEX!
ternyata BBRI masuk dalam portofolio SCHRODER DANA ISTIMEWA:
dollar index 110315_1yrSCHistFACT

okezone:

JAKARTA – Indonesia dinilai membutuhkan rencana jangka pendek untuk mengatasi masalah pelemahan Rupiah dan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) saat ini memang terjadi di Indonesia.

Pengamat Ekonomi Indef Enny Sri Hartati mengaku, optimistis defisit tidak akan berlangsung lama. Dia meyakini masalah ini bisa diselesaikan dengan kebijakan yang tepat.

“Defisit life time? Tidak mungkin kayaknya deh. Semua pasti ada solusinya. Kalau pemerintah gagal, berarti kita semua gagal. Jangan deh,” katanya di Jakarta, Minggu (5/4/2015).

Enny menilai, defisit tersebut tidak melulu disebabkan oleh persoalan eksternal. “Harus deteksi dari dalam juga, apa permasalahan internalnya. Kita semua tahu kalau Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang melemah,” terang dia.

Namun demikian, Enny menilai defisit neraca berjalan Indonesia tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Sehingga, dia mengharapkan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dapat menyelesaikan permasalahan untuk jangka pendek terlebih dahulu.

“Harus ada kebijakan-kebijakan yang akan memberikan dampak langsung dalam jangka pendek dari semua paket yang sudah dikeluarkan,” tukasnya.

(wdi)

JAKARTA. Para pengusaha meminta pemerintah dan Bank Indonesia jujur tentang kondisi rupiah saat ini terhadap dollar Amerika Serikat. Pasalnya, porsi impor di dalam negeri masih besar dan pelemahan rupiah mempengaruhi kondisi bisnis.

Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Natsir Mansyur, dunia usaha saat ini sudah menghitung biaya produksi dengan kurs Rp 13.500 per dollar AS. Dia menilai, fundamental ekonomi Indonesia rapuh lantaran pertumbuhan ekonomi mayoritas ditopang Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (APBN) serta perdagangan ekuitas.

“Idealnya pertumbuhan itu ditopang dari program industrialisasi yang baik dan pajak,” ujar Natsir Mansur kepada KONTAN,Kamis (12/3).

Dalam catatan Kadin, porsi impor bahan baku untuk industri manufaktur mencapai 75%, impor bahan pangan mencapai 65%, impor migas 45% dari total produksi.

Karena itu, dia minta pemerintah dan bank sentral jujur menyampaikan pada rakyat kondisi sebenarnya yang dihadapi negara. “Jangan infonya ke rakyat baik terus, kalo rontok bagaimana, kelihatan sehat tetapi penyakit dalam banyak (kronis),” beber Natsir Mansyur. Dengan begitu, masyarakat bisa bergerak bersama negara menangani persoalan ekonomi.

http://industri.kontan.co.id/news/pengusaha-minta-pemerintah-jujur-soal-rupiah
Sumber : KONTAN.CO.ID

Jakarta -Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Riset Danareksa Research Institute, menilai saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah jauh dari fundamentalnya. Menurut dia, posisi dolar AS yang sesuai fundamental adalah Rp 11.800.

“Sekarang ini rupiah sudah jauh dari fundamentalnya. Menurut kami, fundamental rupiah terhadap dolar AS ada di Rp 11.800/US$,” kata Yudhi kepada detikFinance, Jumat (13/3/2015).

Dari posisi fundamental tersebut, lanjut Yudhi, memang ada peluang menguat atau melemah. Namun walau melemah, seharusnya tidak sampai ke Rp 13.000/US$.

“Ada kesalahan mengelola ekspektasi. Sebelumnya seakan-akan pemerintah dan bank sentral ingin rupiah melemah, dengan berbagai kebijakan dan pernyataan,” sebutnya.

Misalnya adalah pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) yang beberapa kali menyebutkan bahwa pelemahan rupiah positif untuk mendorong kinerja ekspor. Pelaku pasar menerjemahkannya sebagai nilai tukar rupiah memang dibiarkan melemah.

Namun, Yudhi menilai sekarang pemerintah dan BI sudah mulai berubah. Pelaku pasar sudah melihat sikap (stance) dari pemerintah maupun BI yang berkomitmen untuk ‘menjaga’ nilai tukar rupiah.

“Pemerintah dan bank sentral sudah terlihat warna aslinya, sudah jelas stance-nya mau ke mana. Mereka tidak suka juga rupiah terlalu melemah,” kata Yudhi.

Oleh karena itu, Yudhi memperkirakan ke depan rupiah akan semakin menguat. Level Rp 12.500/US$ akan cukup mudah dicapai dalam waktu dekat.

“Dalam waktu, let’s say, 6 bulan ke depan kami perkirakan dolar AS bisa melemah ke Rp 12.000. Jadi prospek rupiah ke depan sepertinya akan cerah,” ucapnya.

(hds/ang)

JAKARTA okezone– Pergerakan nilai tukar Rupiah yang terus melemah di kisaran Rp13.000 per USD harus segera diantisipasi oleh pemerintah. Meski menguntungkan, pelemahan ini ternyata juga bisa merugikan Indonesia.

Ketua Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia, Didik J Rachbini, mengungkapkan, pemerintah tidak boleh main-main dalam menghadapi pelemahan nilai tukar. Apalagi, masalah ini bersifat struktural hingga membuat beberapa sektor bisnis mengalami ketidakstabilan.

“Rupiah yang turun selama beberapa bulan ini merupakan kelanjutan dari dua tahun sebelumnya, tidak boleh main-main. Jangan hanya mengatakan aman tanpa melakukan tindakan apa-apa,” tutur Didik, di Jakarta, Jumat (13/3/2015).

“Kita ini sekarang relatif tidak bergoyang kencang, karena masih ada modal portofolio yang masuk ke kita,” tambah dia.

Lebih lanjut Didik menjelaskan, jika transaksi berjalan di dalam negeri masih minus, ekspor barang juga tidak cukup untuk melakukan impor barang. Bahkan, pelemahan ini merupakan pertama kalinya setelah empat dekade setelah neraca perdagangan mengalami defisit.

“Mengapa defisit? Karena mayoritas dari ekspor kita itu bahan mentah. Apakah itu kakao, apakah itu batu bara, sawit, itu turun harganya di pasar nasional. Karena itu, kita harus mencoba mengatasi masalah ekspor ini,” jelas dia.

 

Namun, Indonesia masih bisa bernapas lantaran impor bensin sudah tidak menggunakan dana sebesar dulu. Menurut dia, dengan perbaikan tersebut, maka Rupiah seharusnya dapat bertahan bahkan mungkin berpotensi mengalami penguatan.

“Karena; pertama, kondisi ekonomi dalam negeri saat kini memiliki harapan bisnis, ekspektasi, demokrasi yang bagus. Kedua, impor minyak yang dulu kencang dengan subsidi, itu tidak sekencang di waktu lalu, tetapi mengapa ini masih goyang terus?” tuturnya.

“Karena pemerintah sangat meremehkan, jadi tidak boleh meremehkan nilai tukar, juga menyatakan bahwa nilai Rupiah melemah pemerintah untung, jangan mengatakan begitu,” tandasnya.

 

(mrt)

Liputan6.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengaku telah menyiapkan beberapa kebijakan untuk menekan defisit transaksi berjalan dalam rangka stabilisasi makro ekonomi Indonesia. Kebijakan ini menyusul 8 paket kebijakan ekonomi yang dirumuskan pemerintah Joko Widodo (Jokowi).

Gubernur BI, Agus Martowardojo mengaku, BI akan fokus menjaga stabilitas ekonomi makro Indonesia secara waspada (cautions) dan kebijakan bias ketat.

“Kebijakan BI mengarah pada defisit transaksi berjalan lebih sehat ke level 2,5 persen sampai 3 persen. Secara moneter bias ketat untuk menjaga stabilitas ekonomi, inflasi supaya mencapai target tahun ini 4 plus minus 1 persen,” kata dia usai Rakor Perkembangan Nilai Tukar di Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Agus meyakinkan, BI akan menjaga stabilitas ekonomi makro Indonesia dengan cadangan devisa (cadev). Cadev Indonesia per Februari 2015 tercatat Rp 115,5 miliar atau 6,5 bulan impor yang menunjukkan ekonomi Indonesia dalam keadaan membaik.

“Kita juga akan mendorong upaya pengelolaan utang luar negeri (ULN) sehat. Jadi ada panduan untuk pengelolaan ULN secara lebih sehat dan hati-hati,” paparnya.

Kebijakan lain, kata dia, BI akan mendorong pendalaman pasar uang dengan menyediakan fasilitas lindung nilai (hedging). BI akan menata agar tidak ada risiko kurs atau kredit berlebihan oleh perusahaan.

“Kita juga mendorong supaya transaksi rupiah di dalam negeri. Jadi jangan buat kondisi panik. Kita hadir di pasar dan menyediakan kebutuhan likuiditas. Penempatan perbankan di BI Rp 350 triliun, itu artinya perbankan likuid,” papar dia.

Dengan kebijakan ini, Agus memproyeksikan defisit transaksi berjalan akan lebih sehat di tahun-tahun mendatang. Namun untuk tahun ini sampai 2017, diperkirakan defisit transaksi berjalan masih di level 3 persen. Neraca pendapatan Indonesia tercatat defisit US$ 27 miliar dan jasa US$ 10 miliar.

“Makanya kita sambut baik langkah pemerintah untuk mengurangi defisit transaksi berjalan, salah satunya dengan membentuk perusahaan reasuransi yang bisa mengurangi defisit neraca pendapatan dan jasa,” pungkas Agus.(Fik/Nrm)

 

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah hari ini, Senin (16/3/2015) dijadwalkan mengumumkan empat kebijakan fiskal untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit dalam tiga tahun terakhir.

Hal itu dikatakan Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro yang mendampingi Menko Perekonomian Sofyan Djalil saat memberikan keterangan pers seusai rapat terbatas di Istana Bogor, Minggu (15/3).

Empat kebijakan fiskal sebenarnya sudah diumumkan akhir pekan lalu. Adapun besok akan diteken sejumlah dokumen oleh presiden dan menteri terkait pada pagi harinya dan sore diumumkan lengkap dengan peraturannya.

“Sorenya peraturan-peraturannya sudah selesai makanya perlu ketemu karena beberapa menteri harus tanda tangan harus paraf. Paling tidak diumumkan kan itu sudah hari Jumat, ini diumumkan berikut aturannya,” ujar Bambang.

Sebelumnya diumumkan empat kebijakan fiskal yakni, pertama revisi Peraturan Pemerintah No. 52/2011 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu. Fasilitas tax allowance itu antara lain dapat dinikmati oleh perusahaan yang berorientasi ekspor dan perusahaan yang mereinvestasi sebagian labanya di dalam negeri.

Kedua, menerapkan bea masuk antidumping dan bea masuk tindakan pengamanan sementara. Pengenaan tariff barrier ini dilakukan untuk mencegah praktik importasi yang mengganggu ekonomi dan industri dalam negeri.

Ketiga, memperluas bebas visa menjadi total 19 negara. Empat negara baru yang akan dijajaki pemberlakuan bebas visa adalah China, Korea, Jepang, dan Rusia. Sebanyak 19 negara tersebut, kata Sofyan, telah mencakup 95% turis mancanegara yang melancong ke Indonesia.

Keempat, meningkatkan mandatori penggunaan biodiesel CPO dari 10% menjadi 15% dan 20%. Peningkatan tersebut diharapkan dapat menghemat devisa karena menurunkan volume dan nilai impor solar.

Menkeu menambahkan, kebijakan tersebut bertujuan untuk jangka panjang tetapi bisa dirasakan dalam jangka pendek.

Contohnya untuk insentif pajak repatriasi dividen, kalau peraturan besok keluar berarti mulai periode April 2015 aplikasi untuk mendapatkan insentif sudah bisa didapatkan. Kemudian untuk anti dumping bisa langsung diterapkan.

“Yang anti dumping sementara besok PMK keluar langsung bisa diterapkan ya hari-hari sesudahnya kalau ada komoditi yang diawasi,” kata Bambang.

Menko Perekonomian Sofyan Djalil menambahkan, sebelum dikeluarkan kebijakan tersebut perlu rapat dulu karena harus ada beberapa keputusan yang harus diteken.

“Besok harus rapat dulu karena besok ada beberapa keputusan yang harus diteken Menkeu, presiden, Menteri ESDM, jadi besok kita akan rapat dulu supaya sorenya sudah oke,” jelasnya.

JAKARTA- Analis Millenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan, investor akan menantikan implementasi delapan kebijakan pemerintah untuk stabilisasi rupiah.

 

&ldquo;Salah satu kebijakan itu adalah insentif pajak kepada perusahaan yang tidak merepatriasi dividennya 100% ke luar negeri dan yang melakukan reinvestasi di dalam negeri,&rdquo; katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

 

Untuk mengatasi gejolak pelemahan rupiah, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah memastikan paket kebijakan ekonomi untuk memperkuat rupiah diterbitkan Senin (16/3) ini. Paket ini sedianya diumumkan Jumat lalu. Paket tersebut berisi delapan kebijakan ekonomi untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan.

 

Pertama, mengeluarkan peraturan menteri keuangan (PMK) yang mengatur fleksibilitas bea masuk anti dumping sementara dan bea masuk tindakan pengamanan sementara. Kedua, revisi PP Nomor 52 Tahun 2011 mengenai tax allowance untuk mendorong peningkatan investasi langsung, baik dari penanaman modal asing (PMA) maupun dalam negeri (PMDN).

 

Ketiga, mendorong peningkatan penggunaan biofuel yang saat ini ditetapkan 10% menjadi lebih tinggi, dengan memperhatikan ketersediaan suplai serta kebijakan harga yang kompetitif. Keempat, mengeluarkan skema perpajakan khususnya untuk PPN industri pelayaran dalam negeri, agar bisa lebih kompetitif. Kelima, mendorong pembentukan BUMN reasuransi untuk mengurangi defisit di neraca jasa, khususnya asuransi.

 

Keenam, meningkatkan law enforcement untuk mendorong implementasi Undang-undang Mata Uang, yang mewajibkan penggunaan rupiah untuk bertransaksi di dalam negeri. Ketujuh, mendukung kewajiban penggunaan letter of credit (L/C) untuk transaksi empat komoditas utama.

 

Kedelapan, memperbaiki sistem remitansi untuk memudahkan arus masuk pendapatan orang Indonesia yang bekerja di luar negeri ke dalam sistem perbankan dalam negeri.

 

Desmon Silitonga menambahkan bahwa pemodal juga akan mencermati langkah yang dilakukan BI untuk stabilisasi rupiah. Jika rupiah dibiarkan melemah, ada kemungkinan investor asing masih melanjutkan aksi jual. Para investor juga akan mengamati neraca perdagangan RI pada Februari 2015 yang diperkirakan surplus dan pengumuman BI rate.

 

Dari global, data yang ditunggu adalah laporan ekonomi AS (kinerja sektor manufaktur, ritel, dan penjualan rumah), rilis neraca perdagangan Jepang, dan laporan ekonom zona euro.

 

&ldquo;Apabila laporan ekonomi tersebut berada dalam tren positif, IHSG di BEI masih memiliki peluang untuk rebound sepanjang minggu depan, dengan proyeksi pergerakan di kisaran 5.400-5.490. Saham-saham yang direkomendasi antara lain AISA, TLKM, PTPP, SMGR, ROTI, KIJA, ELSA, KAEF, dan WTON,&rdquo; kata dia.

 

Pekan lalu, IHSG ditutup pada level 5.426,47 atau turun 1,62% dari penutupan perdagangan pekan sebelumnya sebesar 5.514,79. Asing mencatatkan penjualan bersih Rp 2,36 triliun. Adapun sejak awal tahun 2015, asing melakukan total pembelian bersih Rp 9,34 triliun.

 

Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan mengatakan sebelumnya, potensi net buy saham oleh asing bisa mencapai Rp 40 triliun tahun ini. Kondisi tersebut dengan catatan ada peningkatan kinerja pemerintah. Iklim investasi dan bisnis juga harus kondusif, sehingga meningkatkan kepercayaan investor.

 

&ldquo;Para fund manager asing sebenarnya masih wait and see, sebelum menginvestasikan dana di negara-negara tertentu. Jika kecemasan terhadap pemerintah terus berlanjut, potensi net buy hanya Rp 20-30 triliun,&rdquo; tuturnya.

 

Analis PT Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan, IHSG akan cenderung bergerak dalam kisaran 5.380-5.420 sepanjang pekan ini. Sementara itu, hingga akhir tahun ini, dia memprediksi IHSG tumbuh 15% ke posisi 6.000 (YTD). Salah satu faktor pendorongnya adalah potensi meningkatnya peringkat utang Indonesia dari Standard & Poor&rsquo;s (S&P). (gje/rid/lm)

 

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/investor-tunggu-implementasi-8-kebijakan-pemerintah/110716
Sumber : INVESTOR DAILY

JAKARTA kontan. Rupiah melanjutkan penguatannya dalam tiga hari berturut-turut di hadapan dollar AS. Kali ini setelah pernyataan The Fed yang tidak sesuai ekspektasi pasar.

Di pasar spot Kamis (19/3) nilai tukar rupiah terhadap USD kembali menguat 1,04% ke level Rp 13.039 dibanding hari sebelumnya. Sedangkan di kurs tengah Bank Indonesia rupiah merangkak naik 1,18% ke level Rp 13.008.

Pada Kamis (19/3) hasil FOMC menunjukkan bahwa The Fed masih mengirimkan sinyal dovish. Perekonomian Amerika Serikat ternyata tidak seperti apa yang diharapkan oleh The Fed. Sehingga akhirnya peluang menaikkan suku bunga yang tadinya sebesar 1,125% diubah menjadi 0,625%. Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi yang proyeksinya dipotong dari 2,5% – 2,7% menjadi 2,3% – 2,5%.

Suluh Adil Wicaksono, Analis PT Millenium Penata Futures mengatakan bahwa faktor FOMC membuat rupiah mendapat peluang untuk naik. Pasar memilih mengambil aksi profit taking. Melepas sementara karena index dollar AS yang sudah cukup lama menguat.

Namun penguatan ini hanya bersifat sementara. “Walaupun memang masih akan berlanjut pada Jumat (20/3),” kata Suluh.

Pasalnya, pernyataan The Fed yang tidak agresif seperti biasanya ini beriringan dengan rilis data ekonomi Indonesia yang memuaskan. Ditambah lagi keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga di level 7,5% pada Selasa (17/3) lalu.

“Sehingga dari sisi internal, kita sedang punya daya tahan yang baik,” tambah Suluh. Keadaan akhir pekan yang minim sentimen membuat peluang rupiah menguat masih terbuka.

Suluh menduga Jumat (20/3) rupiah bisa bergulir di antara Rp 12.950 – Rp 13.150.

Editor: Yudho Winarto

 

WE Online, Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini memang sudah berlebihan di bawah level fundamentalnya (under value) yang disebabkan faktor ekseternal dan juga internal.

“Kalau ditanya apakah pelemahannya sudah ‘under value’, memang iya. Mata uang kita melemahnya sebenarnya sudah berlebihan juga,” ujar Mirza saat diskusi di Jakarta, Rabu (18/3/2015).

Mirza menjelaskan, faktor eksternal yang membuat rupiah terdepresiasi yakni rencana kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika The Fed pada tahun ini. Stimulus moneter sebesar 20 persen dari PDB Amerika atau 3,8 triliun dolar AS akan ditarik perlahan oleh bank sentarl dengan menaikkan suku bunga.

“Saat ini suku bunganya 0,25 persen. Dalam tiga tahun ke depan akan naik 2,5-3 persen, sementara itu suku bunga Eropa negatif, Jepang hanya nol koma sekian, China juga turun. AS ekonominya meningkat sendiri,” kata Mirza.

Mirza menuturkan, jika pada 1998 rupiah melemah terhadap semua mata uang, saat ini dolar yang menguat terhadap hampir semua mata uang negara-negara di dunia. Di samping akibat menguatnya ekonomi AS, pelemahan rupiah juga disebabkan faktor fundamental Indonesia sendiri di mana permintaan terhadap dolar AS melebihi suplai.

“Kita tahu kurs itu adalah supply and demand terhadap dolar, ekonomi kita ini sayangnya demand dolarnya lebih besar dari pada supply,” ujar Mirza.

Berdasarkan kurs JISDOR Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada Rabu ini kembali menguat menjadi Rp13.164 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya Rp13.209 per dolar AS. (Ant)

Editor: Achmad Fauzi

 

JAKARTA-Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi bergerak menguat sebesar 62 poin menjadi Rp12.960 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.022 per dolar AS.

http://id.beritasatu.com/home/rupiah-selasa-pagi-menguat-menjadi-rp12960/111478
Sumber : INVESTOR DAILY

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s