dividen bbri BAKAL turun … 291111_240316

bird_bbri_unvrBisnis.com, JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. membagi dividen sebesar 30% dari laba bersih yang didapat perseroan sepanjang tahun lalu.
Direktur Utama BRI Asmawi Syam menuturkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, dividend pay out ratio yang disetorkan disetujui senilai Rp7,61 triliun atau Rp311,66 per saham.
“Pembagian dividen ini tidak terlepas dari kinerja BRI sepanjang 2015 yang tumbuh sehat dan stabil di semua aspek keuangan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (23/3/2016).
Sepanjang tahun lalu, emiten dengan kode saham BBRI ini mencetak laba bersih senilai Rp25,2 triliun atau tumbuh 4,17% dari Rp24,2 triliun secara tahunan. Peningkatan laba bersih ini ditopang oleh peningkatan pendapatan BRI yang naik 14,6% secara tahunan menjadi Rp96,4 triliun.
Selain itu, RUPST juga telah menyetujui pengalihan saham tresuri (treasury stock) untuk digunakan dalam Program Kepemilikan Saham bagi manajemen dan pekerja perseroan.
Sebagai informasi, kata Asmawi, perseroan telah melakukan pembelian kembali atau buy back saham sejumlah 221.718.000 lembar saham yang dilaksanakan pada 12 Oktober 2015 sampai dengan 12 Januari 2016, sesuai ketentuan POJK No. 02/POJK.04/2013 yang saat ini disimpan dalam bentuk saham tresuri.
Dengan sisa laba ditahan sebesar 70% dari laba bersih tahun lalu, Direktur Keuangan BRI Haru Koesmaghargyo menuturkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perseroan meningkat dibandingkan posisi akhir tahun lalu.
“Sebelumnya 20,5%, nambah jadi 20,8% karena dividen,” katanya.
Naiknya rasio kecukupan modal, membuat perseroan lebih ekspansif dalam menyalurkan pinjaman. Untuk tahun ini, bank spesialis kredit mikro tersebut mencantumkan target pertumbuhan sebesar 15% secara tahunan.
Hingga Februari 2016, Haru menyebutkan laju pertumbuhan kredit perseroan telah menyentuh level 14,7% year on year (y-o-y).

 

rose KECILINILAHCOM,Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membukukan laba bersih sebanyak Rp6,1 triliun pada kuartal pertama 2015.

Direktur Utama BBRI Asnawi Syam mengatakan, pendorong laba bersih berasal dari interest income. “Interest income atau pendapatan bunga mencapai Rp20,1 triliun atau tumbuh 22,0 persen,” ujar dia di Jakarta, Kamis (30/1/2015).

Ia menjelaskan, pendorong laba yang lain berasal dari pendapatan non bunga yang mencapai Rp2,7 triliun atau tumbuh 51,1 persen. Sehingga, total pendapatan yang diperoleh mencapai Rp23,1 triliun atau 22,4 persen.

Total aset, lanjut dia, juga mendukung perolehan laba bersih tersebut yang mencapai 31,1 persen yaitu dari Rp595,7 triliun menjadi Rp781,2 triliun pada kuartal pertama tahun ini. “Sejalan dengan peningkatan laba, ekuitas menjadi Rp95,5 triliun dari Rp78,8 triliun atau naik 21,2 persen” katanya. [jin]
– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2200426/bri-bukukan-laba-bersih-rp61-triliun#sthash.j4xnmWBx.dpuf

JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan entitas anak usaha mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp6,1 triliun atau tumbuh 3,5% per Maret 2015.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi BRI, raihan cuan bank spesialis kredit mikro itu tumbuh tipis karena kenaikan beban bunga dan beban kerugian penurunan nilai aset kredit (impairment) yang cukup signifikan.

Hingga Maret 2015, beban bunga BRI mencapai Rp7,35 triliun atau naik 56,6% sedangkan pendapatan bunga tumbuh 21,8% menjadi Rp20,85 triliun. Alhasil pendapatan bunga bersih BRI hanya tumbuh 8,7% menjadi Rp13,49.

Laporan keuangan BRI menunjukan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit telah membuat pertumbuhan beban lebih tinggi daripada pendapatan bunga.

Per Maret 2015, BRI menghimpun dana masyarakat, termasuk dana bagi hasil syariah sebesar Rp616,93 triliun atau tumbuh 26,5%. Sementara itu, total penyaluran kredit dan pembiayaan syariah mencapai Rp493 triliun atau naik 9,5%.

Pertumbuhan DPK ditopang oleh kenaikan deposito yang mencapai 42,2% menjadi Rp288,3 triliun sedangkan dana giro dan tabungan masing-masing tumbuh 19,7% dan 9,6%.

Di sisi lain, beban impairment melonjak hingga 40,2% menjadi Rp1,54 triliun. Kenaikan disumbang oleh beban impairment dari anak usaha PT Bank BRI Syariah sebesar Rp64,62 miliar dari posisi tahun lalu yang masih nihil.

Kenaikan beban impairment sejalan dengan peningkatan rasio kredit bermasalah atau non performing loan. Per Maret 2015, rasio NPL gross BRI naik 39 basis poin menjadi 2,17%.

http://finansial.bisnis.com/read/20150430/90/428329/beban-melonjak-laba-bri-tumbuh-tipis
Sumber : BISNIS.COM

double arrow pic

JAKARTA. Setoran dividen dari empat bank pelat merah tahun buku 2014 naik tipis dari tahun sebelumnya. Untuk tahun buku 2014, pembayaran dividen bank BUMN mencapai Rp 15,15 triliun. Tahun lalu, pembayaran dividen sebanyak Rp 15 triliun.

Bank BUMN paling buncit yang memutuskan pembagian dividen adalah Bank Tabungan Negara (BTN). Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BTN, kemarin, diputuskan pembagian dividen senilai Rp 223 miliar atau setara 20% dari laba bersih tahun 2014. Tahun sebelumnya, porsi pembayaran dividen atau pay out ratio BTN mencapai 30%.

Rasio dividen BTN kali ini tergolong paling mini dibandingkan bank BUMN lain. Ini lantaran laba bersih BTN tahun lalu anjlok dari Rp 1,56 triliun menjadi Rp 1,11 triliun.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi bank dengan porsi dividen terbesar, yakni sebesar 30%. Sedangkan, rasio dividen Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia (BNI) turun dari 30% menjadi 25%.

Maryono, Direktur Utama BTN menjelaskan, tujuan pemegang saham mengurangi rasio dividen BTN karena untuk mendukung pembiayaan program sejuta rumah. “Kami mendukung program sejuta rumah yang dicanangkan pemerintah. Kebijakan tersebut dapat mempercepat penyelesaian masalah backlog perumahan nasional,” imbuh Maryono, Selasa (24/3).

Sementara, Budi Satria, Sekretaris Perusahaan BRI mengatakan, rasio dividen yang diminta pemegang saham BRI tak lepas dari kinerja BRI tahun 2014. “Terutama di semua aspek keuangan, baik kredit yang tumbuh secara berkualitas,” ucapnya.

Dari sisi permodalan, kata Maryono, BTN akan tetap mengandalkan pertumbuhan laba, selain ┬ápenurunan rasio dividen untuk memperkuat modal. Selain itu, BTN juga akan terus melakukan sekuritisasi aset kredit pemilikan rumah (KPR) untuk mengurangi penggunaan modal. Alternatif pendanaan lain adalah penyertaan modal negara (PMN). “Untuk PMN, ini alternatif terakhir,” imbuhnya.

 

http://keuangan.kontan.co.id/news/dividen-bank-bumn-naik
Sumber : KONTAN.CO.ID

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

WE Online, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menyetujui dan mengesahkan pemberian dividen kepada pemegang saham sebesar Rp7,27 triliun atau setara 30 persen dari perolehan laba 2014 senilai Rp24,24 triliun.

Shares Outstanding(Mil.): 24,422.47 (REUTERS) … Rp297 per unit saham :)) … = +2.28% (atas harga saham per tgl 19 Maret 2015 @13050 :)) … tunggu publikasi resm1 ya

“Pembagian dividen akan diberikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,” kata Direktur Utama BRI Asmawi Syam saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (19/3/2015).

Selain pemberian dividen, lanjut Asmawi, perolehan laba tahun lalu juga akan digunakan dalam mendukung investasi 11 persen dari laba tahun lalu atau sebesar Rp2,67 triliun. Sementara itu, sisa dari laba digunakan untuk menambah laba ditahan bank BRI.

Menurut dia, pembagian dividen tidak terlepas dari kinerja perseroan tahun di tahun yang lalu meningkat signifikan dari semua aspek, seperti keuangan, mulai dari pertumbuhan kredit yang berkualitas, peningkatan fee based income, peningkatan IT performance, dan penerapan manajemen resiko dan GCG selcara menyeluruh sehingga terjaganya efisiensi operasional.

“Atas kinerja itu kami meraih beberapa penghargaan baik nasional dan internasional. Kami akan lebih tingkatkan kembali untuk kedepannya,” ujar Asmawi.

Sepanjang 2014, BRI mencatat perolehan laba bersih Rp24,24 triliun (bank only), meningkat 14,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp21,16 triliun. Peningkatan laba bersih tersebut ditopang oleh kontribusi dari penyaluran kredit yang meningkat.

Total aset perseroan tumbuh 28,34 persen menjadi Rp778,02 triliun dari Rp606,37 triliun. Penyaluran kredit naik 13,88 persen dari Rp430,62 triliun menjadi Rp490,41 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 23,45 persen dari Rp486,37 triliun menjadi Rp600,40 triliun.

Adapun rasio keuangan lainnya tercatat marjin bunga bersih (NIM) 8,51 persen, rasio kredit terhadap DPK (LDR) 81,68 persen, rasio kredit bermasalah (NPL) gross 1,69 persen serta, biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 65,37 persen. (Ant)

Editor: Achmad Fauzi

rose KECIL

kontan JAKARTA. Rasio dividen Bank Rakyat Indonesia (BRI) lebih besar ketimbang dua bank pelat merah lain seperti Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Mandiri. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Kamis (19/3), dividen BRI ditetapkan 30% dari perolehan laba bersih, sementara BNI dan Mandiri hanya 25%.

Apa penyebabnya? Haru Kusmahargyo, Direktur BRI menerangkan, penetapan rasio dividen tersebut karena perolehan laba bersih BRI yang memang lebih besar dari BNI dan Mandiri. “Tapi, rasio dividen itu tidak berdampak besar bagi rasio kecukupan modal alias capital adequacy rasio (CAR) kami,” terang Haru.

Haru menuturkan, CAR BRI tidak akan jauh berbeda dengan posisi di akhir 2014. Pada periode itu, CAR BRI berada pada level 18,31%.

Haru juga bilang, dengan level CAR tersebut, BRI merasa masih cukup untuk kebutuhan pertumbuhan kredit di tahun ini. Tahun ini, BRI mengincar pertumbuhan kredit pada kisaran 15%-17%. Sementara khusus untuk kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), BRI menargetkan kredit berkisar 17%-19%.

Asal tahu saja, BRI membukukan laba bersih sebesar Rp 24,24 triliun di akhir 2014. Pencapaian itu tumbuh 14,35% dibandingkan perolehan laba BRI di 2013 yang sebesar Rp 21,16 triliun.

Editor: Hendra Gunawan

bird_bbri_unvr

JAKARTA detik. Empat bank penguasa industri perbankan nasional mampu mengantongi laba gemuk di tengah perlambatan kredit dan likuiditas ketat. Terbaru, Bank Central Asia (BCA) menutup musim rilis kinerja bank besar.

Bank milik Grup Djarum ini mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 15,7% menjadi Rp 16,5 triliun di sepanjang tahun 2014. Mesin pertumbuhan laba BCA adalah pendapatan bunga bersih yang naik 21,2% menjadi Rp 32 triliun. Sementara, kredit BCA tumbuh 11% menjadi Rp 346,6 triliun.

“Pertumbuhan kredit tidak terlalu besar sejalan dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah di level 0,6%,” ujar Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, Kamis (5/3).

Diantara bank besar, predikat bank dengan pertumbuhan laba tertinggi tahun 2014 jatuh ke tangan Bank BNI. Bank pelat merah ini mencatat pertumbuhan laba sebesar 19,1% menjadi Rp 10,78 triliun (lihat tabel). BNI mengulang prestasi tahun 2013 dengan kenaikan tertinggi atau sebesar 28,37%.

Di antara empat bank berstatus bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV, hanya Bank Mandiri yang meraih pertumbuhan laba single digit. Tapi, secara aset konsolidasi, Bank Mandiri tetap menyabet status bank dengan aset terbesar.

Begitupun juga BRI yang masih berhak menggondol status bank dengan pemasukan laba paling jumbo. Nasib enam bank papan atas lain kurang beruntung. Lima dari enam bank mencatatkan kemerosotan laba, yakni CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Tabungan Negara (BTN) dan Bank Permata.

DPK tumbuh tipis Penurunan laba terbesar dialami oleh BII. Pemicu penurunan laba BII tersebut sebagian besar bank adalah perlambatan kredit dan kenaikan beban bunga. Dari enam bank, hanya Bank Panin yang mempertahankan kenaikan laba. Ada juga BTN yang menggenjot aset ke posisi sembilan, menggeser posisi BII.

Yang juga menarik dicermati adalah musim berebut likuiditas yang terlihat nyata. Dana pihak ketiga (DPK) 10 bank besar hanya tumbuh tipis atau di bawah 10%. Misalnya saja DPK BCA yang hanya tumbuh 9,4% menjadi Rp 447,9 triliun sepanjang 2014.

Editor: Barratut Taqiyyah

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0026

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat “idAAA” ke perusahaaan pelat merah di sektor perbankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

“Prospek itu stabil, mencerminkan dukungan yang kuat dan terbukti dari Pemerintah Indonesia, posisi usaha, dan profitabilitas yang baik. Kekuatan itu masih dibatasi tingginya persaingan pembiayaan mikro,” ungkap Assistant Manager Financial Institution Ratings Pefindo, Adrian Noer, ketika ditemui di gedung BEI, Jakarta, Kamis (26/2/2015).

Menurut dia, ranking itu diberikan karena BRI masih fokus ke segmen mikro dengan cakupan kecil. Bank Indonesia (BI) sendiri juga telah menetapkan aturan baru, jikalau penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) minimal Rp20 juta sudah sesuai.

“Kita breakdown dari UMKM yang dijalani BRI. Kita harapkan perbankan besar lainnya akan mengikuti dan mengkaji aturan tersebut. Sedangkan penyaluran kredit akan dilihat dari Dana Pihak Ketiga (DPK),” ungkap dia.

Selain itu, ranking yang diberikan tercermin juga dari jajaran direksi Bank BRI yang masih dari pengurus lama. Dengan komposisi pengalaman yang tidak menjadi halangan untuk BRI ke depannya.
AHL

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/02/26/363555/pefindo-beri-peringkat-idaaa-ke-bri
Sumber : METROTVNEWS.COM

long jump icon

Senin, 19 Januari 2015 | 10:26 WIB

INILAHCOM, Jakarta Para investor disarankan untuk tidak panik dan para trader bisa akumulasi saham saat IHSG berada di kisaran support. Jangan lupa, siapkan saham-saham berdividen.

Praktisi pasar modal Jimmy Dimas Wahyu mengatakan hal itu kepada INILAHCOM. Apalagi, kata dia, ekonomi Indonesia diproyeksikan membaik pada 2015. Oleh karena itu, investasi jangka panjang tak masalah dengan catatan lebih dari satu tahun.

Sedangkan untuk investor jangka pendek alias trader, pembelian saham bisa dilakukan saat IHSG berada di kisaran support 5.110-5.130. “Saham-saham pilihan saat IHSG di kisaran support tersebut, jangan lupa mempersiapkan saham-saham yang akan memberikan dividen dalam waktu dekat yakni Maret-April,” ujarnya.

Pada perdagangan Jumat (16/1/2015), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 40,333 poin (0,78%) ke posisi 5.148,379. Sepanjang perdagangan, indeks mencapai level tertingginya 5.204 atau menguat 15,781 poin dan mencapai level terlemahnya 5.148,379 atau turun 40,333 poin. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Tepat setelah penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, IHSG malah memperparah pelemahan akhir pekan lalu. Apa yang telah terjadi di pasar saham?

Meski IHSG turun, sebenarnya tak ada masalah. Saat harga minyak turun, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pun diturunkan. Ini juga seharusnya menjadi kabar baik bagi perekonomian. Harga gas juga diturunkan. Ke depannya, semua energi itu tidak akan disubsidi lagi.

Hanya saja, pasar memang biasa naik-turun. Artinya, pasar tidak berlebihan merespons langkah Jokowi itu. Bisa dikatakan, koreksi langganan di akhir pekan.

Lantas, bagaimana Anda melihat arah IHSG berikutnya?

Arah IHSG sepekan ke depan, ada peluang penurunan lagi dalam waktu dekat. Jika masih melanjutkan tren turunnya, kurang lebih akan menguji level psikologis 5.100 dalam kisaran support 5.110-5.130. Di sisi lain, resistance IHSG berada di kisaran 5.175-5.195.

Faktor apa saja yang menjadi penekan turun IHSG sepekan ke depan?

Tekanan turun pada IHSG lebih dipicu oleh faktor eksternal. Antara lain, Bank Sentral Swiss baru saja memberlakukan suku bunga negatif -0,25%. Ini menunjukkan pemulihan ekonomi Eropa masih mengalami banyak kendala yang perlu dicermati. Pada saat yang sama, perekonomian dunia baru ditopang hanya satu negara, yakni pemulihan ekonomi AS.

Namun demikian, suku bunga negatif Swiss sebenarnya bisa berarti positif bagi Indonesia. Dengan BI rate di level 7,75% sebenarnya sangat atraktif. Diharapkan, investor asing semakin meningkatkan investasinya di Indonesia.

Lantas, mengapa sentimen Swiss menjadi negatif?

Karena yang dilihat pasar bukan hanya Swiss. Swiss hanya salah satu bagian dari Eropa. Swiss juga sejauh ini dianggap sebagai negara teraman untuk industri perbankannya. Jika Swiss memberikan bunga negatif, tentu para deposannya akan berpikir dua kali menyimpan dana di Swiss. Jadi, yang dilihat bukan hanya Swiss tapi dilihat multiplier effect-nya secara keseluruhan yang menunjukkan bahwa ekonomi Eropa masih jauh dari pulih.

Bagaimana dengan faktor penurunan harga minyak mentah dunia yang sempat tembus ke bawah US$45 per barel?

Soal penurunan harga minyak, posisi Indonesia sangat diuntungkan. Sebab, Indonesia sudah keluar dari OPEC. Indonesia jadi negara net-importir untuk minyak. Saat harga minyak turun, Indonesia mendapat harga yang lebih baik. Di sisi lain, penurunan ini berdampak buruk bagi eksportir.

Indonesia akan mendapatkan tamabahan untuk APBN sehingga sangat positif. Hanya saja, untuk saham-saham berbasis tambang, nampaknya tetap akan tertekan turun. Sementara itu, untuk ekspor Indonesia secara umum, yang harus dicermati adalah kestabilan nilai tukar rupiah yang akan berpengaruh pada neraca perdagangan.

Rupiah sendiri bagaimana?

Pelemahan rupiah sendiri tampak sudah mulai berkurang. Meski begitu harus tetap dicermati oleh para pemodal saham. Rupiah mulai stabil dan diharapkan berjalan dalam jangka yang cukup panjang sehingga cenderung berbalik menguat.

Jika menabung uang di dalam negeri, bunganya atraktif. Di sisi lain, bunga kredit juga menjadi berat dibandingkan negara lain. Yang dikhawatirkan, banyak perusahaan swasta meminjam dananya di luar negeri dalam denominasi dolar AS yang sedang naik nilai tukarnya. Otomatis permintaan atas dolar AS terus meningkat sehingga jadi salah satu penyebab rupiah terus melemah.

Anda sendiri, bagaimana melihat arah rupiah berikutnya?

Rupiah sendiri masih cenderung fluktuatif dalam kisaran 12.500-12.600 per dolar AS dalam waktu dekat ini.

Dalam semua situasi itu, apa saran Anda untuk para pemodal di bursa saham?

Bagi investor jangka panjang, sebaiknya tidak panik karena horisonnya untuk jangka panjang. Apalagi, ekonomi Indonesia diproyeksikan membaik pada 2015. Pada 2014, Produk Domestik Bruto (PDB) ditutup di 5,2%. Pemerintah yakin PDB bisa di 5,8% tahun ini. Intinya adalah adanya perbaikan pada 2015. Jadi, investasi jangka panjang tak masalah dengan catatan lebih dari satu tahun.

Sedangkan untuk investor jangka pendek alias trader, pembelian saham bisa dilakukan saat IHSG berada di kisaran support tadi, 5.110-5.130.

Saham-saham pilihan Anda?

Saham-saham pilihan saat IHSG di kisaran support tersebut adalah, jangan lupa mempersiapkan saham-saham yang akan memberikan dividen dalam waktu dekat yakni Maret-April.

Siapkan saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Lalu, saham PT Astra International (ASII). PT Pakuwon Jati (PWON), PT Media Nusantara Citra (MNCN), PT Vale Indonesia (INCO), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Express Transindo Utama (TAXI), dan PT Blue Bird (BIRD).

Bagaimana strategi masuk pada saham-saham tersebut?

Jika dapat harga bagus, sebaiknya buy on weakness pada saham-saham tersebut. Jangan lupa, strategi pertama, cermati dulu IHSG-nya di kisaran support tadi karena itu merupakan gambaran umum. Setelah itu, baru lihat kondisi sahamnya. [jin]

 

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mendukung perusahaan pelat merah yang berada di bawah naungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk tidak mewajibkan membayar dividen ke negara.

“Dividen tidak dibayar, perusahaan BUMN bisa memanfaatkan dan bisa sebagai peningkatan dana usaha,” kata Anggota VII BPK RI, Achsanul Qosasi, ketika ditemui usai acara konferensi pers forum pembahasan tidak lanjut untuk meningkatkan tata kelola keuangan negara yang baik di Gedung BPK, Jakarta, Kamis (8/1/2015).

Dengan menahan dividen, tegas dia, pendanaan perseroan bisa lebih besar dan kredit yang disalurkan ke masyarakat bisa lebih banyak. Pada akhirnya ekonomi bisa lebih berkembang cepat.

Menurut Achsanul, seharusnya memang pemerintah tidak menggenjot perusahaan-perusahaan dalam membayar dividen ke nagara. Namun, mendorong mereka agar meningkatkan sayap bisnisnya.

“Tingkatkan kualitas dengan tahan dividen, modal jadi lebih besar. Kalau uang ini dikembalikan ke masyarakat, maka masyarakat juga yang bisa menikmatinya,” tegas dia.

Lanjut dia, perusahaan BUMN jangan ditargeti dividennya ke negara, tapi harus kejar ekspansi yang mereka sudah petakan. Sehingga ekonomi bisa lebih berkembang dengan ekspansi yang dijalankan oleh perusahaan BUMN.
AHL

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/01/08/342571/bpk-tidak-setuju-perusahaan-bumn-bayar-dividen
Sumber : METROTVNEWS.COM

Peringkat Bank BRI
Anastasia Joice | Agus Mulyadi | Senin, 28 November 2011 | 20:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Fitch Ratings menegaskan Peringkat Jangka Panjang Mata Uang Asing Issuer Default Rating PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) berada pada BB+, dengan prospek positif. Sementara Peringkat Jangka Pendek Mata Uang Asing IDR berada pada B, Peringkat Jangka Panjang Nasional pada AAA dengan prospek stabil.

Selain itu, Peringkat Individu berada pada C/D, Peringkat Viabilitas di bb+, Peringkat Dukungan pada 3, dan Peringkat Dukungan Batas Bawah di BB+.

Fitch juga menegaskan peringkat obligasi subordinasi BRI berjangka waktu 5 tahun yang diterbitkan pada tahun 2009, berada pada posisi AA.

Berdasarkan kriteria peringkat surat berharga hibrida yang dikeluarkan Fitch, peringkat obligasi subordinasi tersebut adalah dua peringkat di bawah peringkat Nasional Jangka Panjang, yang mencerminkan adanya klausul penundaan kupon secara kumulatif (cumulative deferral).

Penegasan peringkat-peringkat ini mencerminkan peningkatan kinerja keuangan BRI yang kuat dan konsisten, statusnya sebagai bank kedua terbesar di Indonesia dengan posisi yang kuat sebagai bank terdepan di bidang pinjaman mikro di Indonesia, kualitas aset yang memuaskan dan modal yang memadai.

Profitabilitas dan provisi yang tinggi akan dapat membantu mengurangi tekanan pada kualitas aktiva, pendanaan dan permodalan yang dibutuhkan dari pertumbuhan kredit yang kuat dan juga apabila kondisi ekonomi memburuk.

Pertumbuhan kredit yang pesat yang dapat mempengaruhi posisi permodalan bank dan/atau kualitas aset, seperti naiknya resiko penurunan modal, akan memberikan tekanan terhadap Peringkat Viabilitas bank. Namun Peringkat IDR BRI akan tidak berubah karena di dukung olerk Peringkat Dukungan Batas Bawahnya di BB+.

Prospek pada peringkat Jangka Panjang IDR adalah positif, mengikuti prospek peringkat soverign Indonesia. Peningkatan Peringkat soverign akan menyebabkan perubahan yang sama pada peringkat BRI, mengingat signifikannya kepemilikan pemerintah dan pengaruhnya yang besar terhadap system perbankan di Indonesia (11,6 persen dari total sistem aset pada akhir bulan September 2011).

Menurut Fitch, kualitas aset BRI tetap baik, . rasio pinjaman bermasalah (non performing loan-NPL) terhadap total pinjaman kotor membaik menjadi 3,3 persen pada akhir kuartal ketiga 2011 dibandingkan dengan kuartal ketiga tahun 2010, yang berada pada 4,3 persen. Angka ini didukung oleh kondisi ekonomi yang kondusif dan kualitas kredit yang membaik. Fitch mencatat bahwa NPL cenderung menurun menjelang akhir tahun karena BRI menghapuskan sebagian besar pinjaman bermasalahnya pada kuartal keempat. Rasio NPL mikro dan kredit konsumsi tetap rendah, yaitu kurang dari 2 persen pada sembilan bulan pertama tahun 2011. Selain itu, rasio pencadangan tetap kuat berada pada 192 persen dari total kredit bermasalah di akhir September 2011. Nilai ini berada di atas rata-rata bank sekelas. Hal ini mencerminkan pencadangan sebagai kontinjensi atas dampak dari bencana alam mengingat jaringan distribusinya yang tersebar secara luas sampai ke daerah pedalaman.

Rasio kecukupan modal inti dan total CAR BRI meningkat menjadi 13,3 persen dan 14,9 persen pada akhir bulan September 2011. Pencapaian ini didukung oleh tingginya tingkat laba ditahan dari profitabilitas di atas rata-rata bank sekelas dan lebih rendahnya tingkat dividen, yang dapat mengimbangi tekanan penurunan modal dari penerapan resiko operasional Basel II dan pertumbuhan kredit. Profitabilitas bank tetap kuat dengan ROA sebesar 3,4 persen pada akhir kuartal ketiga 2011. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di industri.

Fitch mencatat bahwa BRI melakukan upaya untuk menurunkan pembayaran dividen dan meningkatkan aset yang memiliko risiko tertimbang lebih rendah untuk mempertahankan total CAR pada minimal 12 persen dalam jangka menengah. Pertumbuhan kredit yang lebih rendah juga memberikan kontribusi pada peningkatan CAR BRI.

Didirikan pada tahun 1895, BRI adalah bank tertua di Indonesia dan memiliki jaringan distribusi domestik terluas. (*/joe)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s