keamanan defisit MASIH oke …kok

 

Bisnis.com, JAKARTA— Defisit neraca perdagangan Indonesia menipis pada akhir Desember. Nilai ekspor  dari Tanah Air turun 14,62% pada 2015.

Badan Pusat Statistik melaporkan aktivitas perdagangan internasional Indonesia sepanjang Desember menghasilkan defisit US$236 juta. Defisit perdagangan turun dibandingkan defisit US$408,0 juta yang tercatat per November.

Nilai ekspor Indonesia turun 17,66% year on year pada Desember menjadi US$11.111,2 juta, sedangkan nilai impor turun 16,02% menjadi US$12.122,1 juta.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia turun 14,62% pada 2015 dari US$176,29 miliar menjadi US$150,25 miliar. Adapun nilai impor turun 19,89%  dari US$178,18 menjadi US$142,74 miliar.

 

Neraca Perdagangan Indonesia 2015 (US$ juta)

 

Bulan Nilai 
Desember -236,0
November -408,0
Oktober +1.019
September +1.029,80
Agustus +327,6

 

Sumber: Bloomberg, BPS

Jakarta detik-Berdasarkan realisasi (sementara) pendapatan negara sebesar Rp 1.491,5 triliun dan belanja negara sebesar Rp 1.810,0 triliun, maka realisasi defisit anggaran dalam APBNP 2015 mencapai Rp 318,5 triliun atau 2,8% dari PDB.

Angka tersebut di bawah ketentuan maksimal 3% mengacu pada UU no 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Realisasi ini lebih tinggi dari target defisit anggaran dalam APBNP 2015 Rp 222,5 triliun (1,9% dari PDB).

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam keterangan resminya yang diterimadetikFinance, Minggu (3/1/2015).

Dengan defisit tersebut, berimplikasi pada peningkatan realisasi pembiayaan anggaran yang mencapai Rp 329,4 triliun atau 147,3% dari target dalam APBNP 2015 sebesar Rp 222,5 triliun.

Realisasi pembiayaan anggaran tersebut berasal dari pembiayaan dalam negeri (neto) sebesar Rp 309,3 triliun dan pembiayaan luar negeri (neto) sebesar Rp 20,0 triliun.

Berdasarkan realisasi defisit anggaran sebesar Rp 318,5 triliun dan realisasi pembiayaan anggaran sebesar Rp 329,3 triliun, maka pelaksanaan APBNP 2015 terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp 10,8 triliun.

Sehubungan dengan pengelolaan utang, outstanding utang per 31 Desember 2015 mencapai Rp 3.089 triliun.

Dengan kondisi tersebut, Debt to GDP ratio ada pada kisaran 27% atau di bawah batas aman 60% seperti ditetapkan dalam UU no 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

“Tentu ada rasa tidak puas dari pencapaian tersebut di atas, namun saya juga bersyukur bahwa hasil yang dicapai tersebut adalah hasil yang terbaik di tengah perlambatan ekonomi global yang berimbas kepada ekonomi domestik, khususnya disebabkan oleh menurunnya harga dan permintaan komoditi dari negara mitra dagang Indonesia seperti Tiongkok dan Eropa,” kata Bambang.

Bambang menyebutkan, upaya mendorong kebijakan pro investasi dan untuk mendorong daya beli domestik pun serta untuk meredam terjadinya pengangguran juga telah dilaksanakan Pemerintah, yang mana hal ini akan terus dilanjutkan secara berkesinambungan.

“Saya percaya di tahun 2016 manfaat kebijakan yang diterapkan tersebut telah mulai dirasakan. Di samping itu untuk APBN 2016, kami tak ragu untuk melakukan revisi khususnya terkait penerimaan negara dengan basis realisasi penerimaan negara tahun 2015 dan tentunya rencana pelaksanaan tax amnesty sehingga APBN 2016 lebih kredibel dan tetap dapat mewujudkan Nawacita,” ujarnya.

(mkl/drk)

JAKARTA kontan. Menjelang akhir tahun, penerimaan yang masih seret belum bisa mengimbangi kencangnya realisasi belanja. Hal itu menyebabkan, defisit anggaran melebar ke 2,86% dari produk domestik bruto (PDB) atau Rp 325,2 triliun.

Defisit tersebut berasal dari penerimaan pajak hingga November lalu sebesar Rp 877 triliun atau 67,8% dari pagu dalam APBN-P 2015. Sementara penerimaan bea dan cukai sebesar Rp 138,6 triliun atau 71,1% dari pagu dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 206,7 triliun. Secara total, realisasi penerimaan negara hingga akhir November mencapai 69,5% dari pagu atau Rp 1.223,6 triliun.

Di sisi lain, realisasi belanja negara telah mencapai 78,1% dari pagu atau Rp 1.548,8 triliun. Namun, defisit tersebut ditutup oleh pembiayaan yang realisasi sampai November mencapai Rp 330,8 triliun melampaui target pembiyaan dalam APBN-P 2015 atau 148,7% dari pagu. Dengan demikian, ada kelebihan pembiayaan anggaran sebesar Rp 5,6 triliun.

“Defisit anggaran akan kami jaga di 2,7% dari PDB,” kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Kamis (17/12) malam.

Pihaknya memproyeksi penerimaan pajak akhir tahun ini hanya akan mengalami shorfall sebesar Rp 195,8 triliun. Sementara itu, pemerintah juga memproyeksi adanya shortfall pada penerimaan bea dan cukai dan PNBP masing-masing sebesar Rp 16,2 triliun dan Rp 27,2 triliun sehingga penerimaan negara diproyeksikan mencapai Rp 1.522,4 triliun atau 86,4% dari pagu.

Adapun outlook belanja negara akhir tahun sebesar Rp 1.829,7 triliun atau 92,2% dari pagu. Dengan demikian, defisit anggaran mencapai 2,7% dari PDB.

Adapun outlook pembiayaan akhir tahun sebesar Rp 307,3 triliun atau 138,1% dari pagu sehingga ada kelebihan pembiayaan anggaran sebesar Rp 21,2 triliun.

JAKARTA – Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2015 akan di bawah empat persen terhadap produk domestik bruto atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kuartal II ini estimasi kami defisit transaksi berjalan lebih baik dari pada kuartal II tahun lalu. Saya ’gak’ begitu ingat angkanya nanti saya salah sebut angka. Tapi, kalau di bawah empat persen ’iya’. Di bawah 3,5 persen, rasanya mungkin,” kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Jakarta, Jumat.

Pada triwulan I-2014, defisit transaksi berjalan cukup tinggi yakni mencapai 9,1 miliar dolar AS atau 4,27 persen terhadap PDB.

Menurut Mirza, membaiknya defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2015 bila dibandingkan di kuartal II 2014 disebabkan impor yang menurun atau lebih rendah.

“Memang impornya menurun lebih dalam. Maksudnya penurunan impor lebih dalam dari proyeksi awal tahun,” ujar Mirza.

Sementara itu, pada triwulan I-2015, defisit transaksi berjalan relatif rendah yakni sebesar 3,8 miliar dolar AS atau 1,8 persen terhadap PDB.

Mirza menilai, peningkatan defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2015 disebabkan aktivitas ekonomi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

“Memang polanya di kuartal I paling rendah, karena aktivitas ekonomi di kuartal I biasanya masih lemah. Tahun lalu juga begitu. Biasanya kuartal II aktivitas ekonominya lebih tinggi, makanya biasanya defisitnya meningkat dibanding kuartal I,” ujarnya.

Namun demikian, lanjutnya, memasuki triwulan III-2015 defisit transaksi berjalan biasanya akan kembali menurun.

“Polanya kan memang begitu, di kuartal III biasanya agak turun dibanding kuartal II dan kuartal IV 2015 juga agak turun,” kata Mirza. (*/jnh)

http://id.beritasatu.com/moneyandbanking/defisit-transaksi-berjalan-lebih-baik/118980
Sumber : INVESTOR DAILY

14/07/2009 – 15:17
Defisit Anggaran di Dunia Masih Aman
Ahmad Munjin

Purbaya Yudhi Sadewa
INILAH.COM, Jakarta – Tingginya defisit anggaran di Asia, Eropa dan AS dinilai tidak mengkhawatirkan bagi ekonomi global pada 2010. Besaran defisit akibat agresifnya stimulus fiskal negara-negara maju juga tidak akan berpengaruh negatif pada perekonomian Indonesia.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan defisit yang tinggi tidak mengkhawatirkan bagi negara-negara maju. Pasalnya, negara-negara itu memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan Indonesia.

“Tak perlu dikhawatirkan tentang tingginya defisit akibat agresifnya stimulus fiskal dan pengaruhnya terhadap perekonomian mereka. Apalagi, stimulus fiskal belum banyak pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi,” papar Yudhi kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (14/7).

Menurut Purbaya, investor sudah percaya terhadap negara-negara maju. Karena itu, kalaupun defisit mereka besar, surat utang yang dijual tetap akan disambut investor. ”Dalam jangka pendek, langkah itu yang akan ditempuh untuk mengembalikan perekonomian mereka,” imbuhnya.

Sebelumnya, Plt Menko Perekonomian merangkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan perkiraan bahwa kondisi ekonomi global pada 2010 masih akan mengkhawatirkan yang juga akan berdampak kepada Indonesia.

“Akibat pelaksanaan stimulus fiskal yang sangat agresif menimbulkan masalah terhadap APBN yang sustainable pada sebagian besar negara di dunia,” kata Sri Mulyani saat peluncuran buku Pedoman Reformasi Perencanaan dan Penganggaran di Jakarta.

Pelaksanaan stimulus fiskal yang sangat agresif itu menyebabkan meningkatnya defisit APBN secara signifikan termasuk di Indonesia. “Namun di Indonesia jauh lebih kecil peningkatan defisitnya (dari 1% menjadi 2,5%) dibandingkan negara-negara lain di dunia,” jelasnya.

Yudhi kembali memaparkan, hitungan fiskal di beberapa negara agak berbeda. Di Indonesia jika defisitnya mencapai 3% saja, investor bisa lari karena dianggap tidak prudent.

Berbeda dengan sikap investor di Amerika, Jepang, maupun ke negara-negara besar yang lain. Amerika diprediksikan defisit 10% tahun ini, sementara rata-rata negara-negara di Eropa mencapai 4-6%. Tapi, jangan coba-coba Indonesia menerapkan defisit APBN hingga 3% dari produk domestik bruto (PDB). Karena investor bisa lari dan dianggap tidak prudent.

“Semua negara standarnya sama tidak boleh lebih dari 3%. Uni Eropa harus menjaga defisitnya tidak lebih dari 3% dari PDB. Tapi, ketika krisis seperti sekarang, mereka melanggarnya. Namun meski defisitnya besar, orang tetap saja membeli surat utangnya,” imbuhnya. Ia memaparkan, defisit 2,5% seperti di Indonesia saat ini belum mengkhawatirkan.

Faktor lain, adalah ratio utang terhadap PDB. Indonesia saat ini masih di posisi 30% hingga 31%. Amerika di atas 60%, Jepang bahkan mendekati 200%. Namun hal itu tidak membuat tiba-tiba investor tidak percaya dengan Jepang.

Mengenai kondisi ekonomi global di 2010, ia optimistis masih tetap membaik, apalagi kalau hanya dilihat dari sisi fiskal. Karena, mereka menjual dolar dan surat utang segala macam namun masih tetap diminati.

Sementara tentang kondisi ekonomi nasional, Yudhi memaparkan, sudah cukup membaik. Kalau dilihat dari consumer confidence, penjualan dan lain-lain, keadaan terburuk sudah terlewati. “Saya berpikir hal itu tidak terjadi lebih parah lagi. Malah mungkin ada arah perbaikan tidak akan lama lagi,” imbuhnya.

Memang, perhitungan defisit APBN bagi Indonesia cukup penting. Namun bukan berarti arah ekonomi bisa memburuk. Semua masih menunggu titik balik perekonomian. [E1]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s