branchless @ BBRI … 200315_150116

Jakarta detik -Layanan branchless banking atau layanan perbankan tanpa kantor milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang bernama BRILink mengalami lonjakan kinerja signifikan.

Transaksi pada BRILink mencapai Rp 35,85 triliun di 2015. Angka ini meningkat 3.684% daripada realisasi tahun 2014 yang sebesar Rp 973 miliar. Total agen BRILink hingga akhir 2015 adalah 50.259 atau tumbuh 247% dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Dari 50.259 jumlah Agen BRILink yang tercatat hingga akhir Desember 2015, sebanyak 41.753 agen sudah bisa berperan sebagai agen laku pandai,” tulis BRI dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/1/2016).

BRILink adalah layanan keagenan BRI yang bekerjasama dengan nasabah BRI sebagai agen, untuk memberikan berbagai layanan perbankan bagi masyarakat secara real time online dengan konsep sharing fee (fifty-fifty).

Adapun produk dan layanan yang disediakan oleh Agen BRILink meliputi Mini ATM BRI, T-Bank atau produk uang elektronik BRI yang menggunakan nomor handphone sebagai nomor rekening.

Selain itu, sebanyak 41.753 agen sudah bisa berperan sebagai agen laku pandai. Program Laku Pandai sendiri merupakan program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kegiatan menyediakan layanan perbankan dan layanan keuangan lainnya yang dilakukan tidak melalui jaringan kantor, namun melalui kerjasama dengan pihak lain dan perlu didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi.

Layanan yang bisa diberikan oleh Agen BRILink Laku Pandai hampir sama dengan yang diberikan oleh kantor BRI pada umumnya. Dari sisi simpanan, produk yang disediakan adalah Tabunganku dengan karakteristik Basic Saving Account (BSA), yakni produk tabungan yang dapat diakses langsung melalui tanpa dikenakan biaya administrasi plus biaya transaksi yang lebih murah daripada transaksi regular.

Sedangkan dari sisi pinjaman, bisa melayani permohonan pinjaman Kupedes dan Kupedes Rakyat, di mana agen bertindak sebagai pencatat permohonan serta sebagai pemberi referral terhadap permohonan tersebut.

Tak hanya simpanan dan pinjaman, Agen juga bisa memberikan jasa layanan perbankan lainnya. Dengan dilengkapi perangkat Electronic Data Capture (EDC), layanan jasa perbankan yang bisa diberikan oleh agen meliputi setor dan tarik tunai, pembayaran angsuran pinjaman BRI, transfer antar rekening perbankan, pembelian pulsa telpon, token listrik PLN, dan sebagainya.

(feb/drk)

 

WE Online, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyatakan pihaknya berencana untuk mengembangkan bank tanpa kantor cabang (branchless banking) ke Indonesia bagian timur.

Direktur Utama Bank BRI Asmawi Syam mengatakan perseroan akan mulai membuka branchless banking di daerah Papua pada tahun ini.

Launching branchless banking akan dilakukan bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah itu akan kita lakukan agar masyarakat melek sistem keuangan. Launching pertama di Papua, kita ambil daerah paling timur,” katanya ketika ditemui usai RUPST BRI di Jakarta, Kamis (19/3/2015).

Menurut Asmawi, perseroan memang sebelumnya memiliki rencana untuk memasang 35 ribu agen. Tapi, melihat animo masyarakat (nasabah) yang tinggi maka bakal ditingkatkan lagi menjadi 50 ribu agen untuk seluruh Indonesia.

“Animo masyarakat yang tinggi tadi dua desa satu agen, tapi ada desa yang mengharapkan dua sampai tiga,” ungkapnya.

Dalam memanfaatkan langkah branchless banking ini, dia menjelaskan masyarakat bisa lebih mudah mendapatkan akses ke perbankan, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah.

Penulis: Annisa Nurfitriani

Editor: Cahyo

 

JAKARTA kontan. Bank Rakyat Indonesia (BRI) cukup serius menjalankan programbranchless banking atau layanan tanpa kantor. Melalui perekrutan agen yang berlabel BRILink, BRI berharap bisa mengakuisisi 1,25 juta nasabah baru.

Dalam istilah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), layanan ini dikenal dengan nama Laku Pandai. Saat ini, agen BRILink sudah mencapai sebanyak 25.000. “Dan tahun ini, kami upayakan untuk jadi 50.000 agen,” tutur Asmawi Syam, Plt Direktur Utama BRI, Senin (26/1).

Djarot Kusumayakti, Direktur UMKM BRI menambahkan, tiap agen BRILink ditargetkan bisa merangkul 25 nasabah baru dengan rata-rata transaksi sebanyak 200 kali. “Jadi, jumlah nasabah dari agen BRILink bisa mencapai 1,25 juta. Dan jika target itu tercapai, maka jumlah transaksi bisa mencapai 10 juta jelang akhir tahun ini,” imbuh Djarot.

Toni Soetirto, Direktur Konsumer BRI menampili, target tersebut hanyalah di atas kerta saja. Pada kenyataannya, Toni yakin setiap agen BRILink bisa mengakuisisi nasabah 2-3 kali lipat dari target yang ditetapkan.

Keyakinan Toni tercermin dari realisasi program BRILink yang baru berjalan dalam tiga bulan ke belakang. “Dalam 3 bulan, kami sudah rekrut 25.000 agen. Dari jumlah itu, kami mencatat ada sekitar 1,12 juta transaksi baik transaksi tarik tunai maupun setor,” ujar Toni.

Selanjutnya, Toni berharap, BRI segera mendapat izin agar agen BRILink bisa melayani layanan kredit mikro dan asuransi mikro. Saat ini, Toni mengatakan, izin layanan tersebut masih dalam proses di otoritas.

Asmawi juga bilang, program branchless banking sejalan dengan potensi pengembangan bisnis e-banking masih sangat luas. Dan saat ini BRI terus memberikan edukasi tentang Mobile Banking dan Internet Banking kepada nasabah yang umumnya menggunakan transaksi tunai.

Dengan infrastruktur teknologi informasi serta didukung dengan jumlah nasabah yang besar, Asmawi yakin BRI merupakan bank yang terdepan dalam mendukung  terciptanya finansial inclusion  dalam perekonomian Indonesia. “Sekaligus sebagai bank yang sangat siap menjadi bank terbesar di Indonesia,” terang Asmawi.

Sebelumnya, Asmawi pernah bilang, program branchless banking BRI ditujukan untuk 70 ribu desa di seluruh Indonesia. “Jadi, nanti tiap satu desa akan ada dua agen branchless banking,” terang Asmawi. Asmawi menambahkan, keberadaan agen branchless banking bakal melengkapi 10.300 kantor cabang BRI yang berada di seluruh Indonesia.

Editor: Sanny Cicilia

 

JAKARTA. Bank Rakyat Indonesia (BRI) berhasil mengoptimalkan jaringan dan pemanfaatan teknologi terkini guna mendukung pertumbuhan bisnis perbankan, khususnya melalui transaksi e-channel dan e-banking. Keberhasilan tersebut membawa BRI meraup pendapatan berbasis komisi (fee based income) pada 2014 mencapai Rp 6,1 triliun.

“Jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang sebesar Rp 4,9 triliun, maka perolehan di 2014 meningkat sebesar 24,9%,” kata Djarot Kusumayakti, Direktur UMKM BRI dalam paparan kinerja 2014, Senin (26/1).

Djarot menerangkan, pertumbuhan fee based didukung oleh pertumbuhan signifikan yang berasal dari transaksi e-banking. Di sepanjang 2014, fee based e-banking tercatat meningkat 71,5 % dari tahun sebelumnya.

Djarot menambahkan, potensi pengembangan bisnis e-banking masih sangat luas, mengingat saat ini BRI terus memberikan edukasi tentang Mobile Banking dan Internet Banking kepada nasabah yang umumnya menggunakan transaksi tunai. “Hal ini, juga menunjukkan bahwa BRI mendukung terciptanya cash less society,” terangnya.

Editor: Sanny Cicilia

kontan CIANJUR. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menargetkan memiliki 50 ribu agenbranchless banking pada 2015 mendatang. Target ini hendak dicapai demi memperdalam penetrasi BRI di pasar keuangan Indonesia.

Menurut Fitriani Susilawati, Kepala Divisi Electronic Banking BRI, hingga akhir Oktober 2014, jumlah agen untuk layanan keuangan digital (LKD) BRILink telah mencapai 14.388 agen dengan jumlah transaksi mencapai 3,5 juta transaksi. Sedangkan volume dana transaksi melalui BRI Link sampai akhir Oktober lalu mencapai Rp 4,10 triliun.

“Ke depan agen-agen ini akan diperluas kerjasamanya meliputi branchless banking,” kata Fitriani, Minggu (23/11).

Pasca Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis aturan mengenai Laku Pandai, BRI segera mempersiapkan proses merektur tambahan agen untuk branchless banking sebanyak 50 ribu agen pada tahun depan. “Kira-kira kami upayakan nominal transaksi bisa mencapai Rp 10 triliun,” ujar Fitriani.

Adapun kriteria agen branchless b banking BRI tak beda jauh dengan kriteria agen BRILink. Pertama memiliki KTP, menjadi debitur BRI dengan kolektabilitas lancar, menjadi deposan di BRI, berbentuk koperasi simpan pinjam di daerah, berbentuk Bank Perkreditan Rakyat dan Badan Keuangan Desa (BKD), serta memiliki usaha utama (menjadi agen BRI hanyalah profesi sampingan).

Untuk sistem fee, Fitriani masih akan menunggu Surat Edaran OJK terkait Laku Pandai. Terkait produk, BRI akan menyiapkan produk tabungan, kredit mikro dan asuransi mikro. “Bisa saja ada produk lain, tapi harus menunggu persetujuan OJK,” pungkas Fitriani.

Editor: Yudho Winarto
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s