BI raaa(6%)aate … 101111_221115

 

Liputan6.com, Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap Bank Indonesia (BI) menurunkan tingkat suku bunga acuannya (BI rate) sebesar 0,5 persen hingga 1 persen pada tahun depan. Dengan demikian diharapkan dunia usaha di dalam negeri mampu bersaingan dengan negara-negara lain, terutama saat berlangsungnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Suryani SF Motik mengatakan, dirinya memahami langkah BI yang menahan tingkat suku bunga acuannya pada level 7,5 persen selama 11 bulan terakhir. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikan suku bunganya.

“Karena kan ada ketakutan dari The Fed. Tapi sekarang nyatanya The Fed sudah menaikan. Dan untungnya pasar tidak terlalu berpengaruh, cuma 1-2 hari saja setelah itu normal lagi,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (19/12/2015).

Namun demikian, BI diharapkan bisa menurunkan suku bunga acuannya pada tahun depan sehingga semakin banyak permodalan yang bisa disalurkan ke sektor usaha. “Maka 2016 itu waktu yang tepat untuk BI turunkan lagi, sehingga pertumbuhan penyaluran kredit bank bisa tinggi. Kalau tidak, kita tidak bisa berharap pertumbuhan ekonomi 7 persen,” kata dia.

Suryani mengungkapkan, jika ingin penurunan BI rate ini langsung berdampak signifikan bagi sektor usaha, maka setidaknya BI harus menurunkan suku bunga acuannya sebesar 0,5 persen-1 persen. “Sekarang kan masih 7,5 persen. kalau misalnya turun 0,5 persen-1 persen. Itu efeknya luar biasa. Kalau jadi 6,5 persen itu akan lain efeknya. 0,5 persen turun saja sudah luar biasa. Kita tidak tuntut yang lain-lain, sementara negara tetangga bunganya 5 persen,” tandasnya.

BI sendiri telah memberikan sinyal bakal menurunkan BI Rate pada tahun depan. Namun penurunan suku bunga acuan tersebut masih harus mempertimbangkan indikator makro ekonomi Indonesia, termasuk inflasi yang rawan meningkat di 2016.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo mengaku, keputusannya untuk tetap mempertahankan level suku bunga 7,5 persen sangat beralasan. Salah satunya ketidakpastian kondisi ekonomi global meskipun data-data ekonomi di dalam negeri telah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. “Keputusannya bertahan pada BI Rate yang sekarang karena melihat kondisi eksternal yang masih menjadi perhatian walaupun perbaikan data di domestik terus berlangsung,” ujar dia.

BI, sambungnya, membuka opsi penurunan suku bunga atau pelonggaran moneter lainnya pada tahun depan dengan dukungan data dan informasi. Semua ini akan dievaluasi dalam Rapat Dewan Gubernur pada Januari 2016.

“Kami melihat ada ruang untuk melonggarkan (moneter) ke depan, tapi harus didukung data, indikator ekonomi. Apalagi dengan kenaikan suku bunga The Fed, perhatian kita sudah mulai jelas. Kami harap data dan indikator makro ini bisa dikaji lengkap dalam RDG Bulanan Januari 2016,” jelas dia.

Faktanya saat dilakukan kajian lengkap RDG bulanan, BI masih memperhatikan kondisi global, perkembangan quantitative easing oleh Bank Sentral Eropa dan Jepang, pelemahan ekonomi China dan sebagainya.

Inflasi, ditargetkan pemerintah 3 persen di 2015 dan 4 plus minus 1 persen pada 2016 tentang potensi tekanan inflasi karena beberapa komoditas strategis perlu diwaspadai, seperti beras, rencana kenaikan tarif listrik dari 900 Va ke 1.300 Va.

“Hal-hal yang terkait dengan volatile food administration bisa memberi tekanan pada inflasi, termasuk defisit transaksi berjalan yang cenderung meningkat pada tahun depan meskipun masih di level sehat dan aman. Jadi hanya perlu waktu saja,” ujar Agus. (Dny/Gdn)

Pengamat: BI Terlalu Berani Turunkan BI Rate
Langkah ini akan menjadi bumerang bagi BI, terutama bila bank tidak menurunkan suku bunga.
Kamis, 10 November 2011, 16:07 WIB
Hadi Suprapto, Harwanto Bimo Pratomo

VIVAnews – Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) hingga 50 basis poin dan bercokol di angka enam persen merupakan sesuatu yang mengejutkan di mata pengamat. Pasalnya langkah penurunan ini terlalu drastis.

Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasetyantono menilai bahwa langkah penurunan BI rate merupakan suatu hal yang berani. Menurutnya, alangkah lebih baik jika BI menurunkan acuan suku bunga ini secara perlahan dan bertahap. “Lebih baik turunkan 25 basis poin saja dulu,” katanya kepada VIVAnews.com, Kamis 10 November 2011.

Penurunan ini, lanjutnya, disinyalir akan menjadi bumerang yang akan menyerang balik bagi kredibilitas BI, terutama jika tidak disertai dengan penurunan suku bunga industri perbankan. “Sepertinya kebijakan BI rate tidak efektif mempengaruhi suku bunga bank,” tuturnya.

Padahal, dia mengatakan, penurunan BI rate ini akan berdampak positif kepada masyarakat jika diikuti penurunan suku bunga bank. Sebab dengan begitu akan membantu mendorong pertumbuhan sektor riil.

“Namun itu tidak otomatis, mengingat selama ini bank cukup rigid dalam hal suku bunga, tidak berjalan paralel dengan penurunan BI rate,” ungkapnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin dari 6,5 persen menjadi 6 persen. Penurunan ini karena BI melihat perkembangan inflasi yang rendah yaitu di ambang 4 persen hingga akhir 2011.

“Turunnya BI Rate karena tren inflasi yang menurun,” kata Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah.

Dia menjelaskan, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5 persen. Sektor yang diperkirakan menjadi penopang ekonomi adalah industri, perdagangan, hotel, transportasi, dan komunikasi.

Suku bunga pasar uang antar bank akan cenderung menurun seiring tersedianya likuiditas yang memadai. Penurunan BI Rate ke level 6 persen ini diharapkan dapat memperbaiki struktur suku bunga.

Sementara itu, cadangan devisa pada akhir Oktober 2011 mencapai US$114 miliar atau setara 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. (eh)
• VIVAnews
BI Rate Dipotong 50 Bps Jadi 6%
“Turunnya BI Rate karena tren inflasi yang menurun.”
Kamis, 10 November 2011, 14:14 WIB
Nur Farida Ahniar, Nina Rahayu

VIVAnews – Bank Indonesia secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin dari 6,5 persen menjadi 6 persen. Penurunan ini karena BI melihat perkembangan inflasi yang rendah yaitu di ambang 4 persen hingga akhir 2011.

“Turunnya BI Rate karena tren inflasi yang menurun,” kata Kepala Biro Humas BI, Difi A Johansyah di Gedung BI, Jakarta, Kamis, 10 November 2011.

Dia menjelaskan, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5 persen. Sektor yang diperkirakan menjadi penopang ekonomi adalah industri, perdagangan, hotel, transportasi, dan komunikasi.

Suku bunga pasar uang antar bank akan cenderung menurun seiring tersedianya likuiditas yang memadai. Penurunan BI Rate ke level 6 persen ini diharapkan dapat memperbaiki struktur suku bunga.

Sementara itu, cadangan devisa pada akhir Oktober 2011 mencapai US$114 miliar atau setara 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. (art)
• VIVAnews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s