BANK INDONESIA ANDA KELIRU BESAR, berani-berani MERAMAL masa depan, mengorbankan MASA K1N1

THE FED KELIRU MELULU, apalagi BI

Since the U.S. Federal Reserve Bankended its bond-buying program last year, market pundits have been spending a lot of time trying to predict when the Fed will begin to normalize interest rates. Whenever this happens, the impact of such a decision will be felt outside of America as well. Of particular concern is the likely impact on emerging markets, especially if capital outflows accelerate and money rapidly returns to the U.S. Additionally, higher interest rates could make it more expensive for overseas borrowers to service their debt commitments. This has prompted officials like Christine Lagarde, the Managing Director of the International Monetary Fund (IMF), to warn of the “spillover” effect the Fed’s decision is likely to have on volatility in financial markets, especially emerging markets. (To learn more, see: The Fed’s New Tools For Manipulating The Economy).

Higher U.S. Rates: Capital Flight and More Expensive External Debt

There are two key factors that make higher U.S. interest rates difficult for emerging markets. The first is a reversal of capital flows. This is important because some emerging markets are heavily reliant on foreign inflows to fund fiscal or current account deficits. The IMF says that between 2009 and 2013, emerging markets received about US$4.5 trillion of gross capital inflows, representing roughly half of all global capital flows in that period. If investment returns in the rise in the U.S., international capital flows away from emerging markets could accelerate and make funding the “twin deficits” more difficult. This may already be happening, even before the Fed hikes rates. The International Institute of Finance says private capital flows to emerging markets fell by US$250 billion in 2014. (For more, see: The Risks of Investing In Emerging Markets).

The second factor is the less visible threat of U.S. dollar denominated debt. Emerging market governments, corporations and banks took advantage of low cost dollar finance to shore up their finances. Data from the Bank of International Settlements supports similar figures reported by the IMF that emerging market borrowing has doubled in the past five years to US$4.5 trillion. This is problematic because local currency devaluation caused by a reversal of capital flows can make servicing this dollar debt more difficult. Furthermore, corporations and banks that borrowed in dollars could be facing additional pressure if they don’t have matching revenues or assets.

“Fragile Five” Most Affected

Estimates of exactly which countries are most exposed vary widely, but some countries seem to consistently appear on the lists of the U.S. Fed, international banks and rating agencies. The table below shows the countries that seem to have the largest external financing challenges. Despite a somewhat varied list, Brazil, Turkey and South Africa appear most consistently, both across sources and across time. The Fed issued its vulnerable list in February 2014 and Moody’s just published their list at the end of March 2015.

Economies Viewed As Being Vulnerable to Rising US Interest Rates

US FED

Morgan Stanley

Société Générale

UBS

Moody’s

Brazil

Brazil

Brazil

Brazil

Brazil

India

Mexico

Mexico

Chile

Indonesia

Indonesia

Indonesia

Malaysia

Turkey

Turkey

Turkey

Turkey

Turkey

South Africa

South Africa

South Africa

South Africa

South Africa

Source: Federal Reserve, Estado, Moody’s

Another way to measure which countries are experiencing credit stress is to look at the Credit Default Swap (CDS) market. Current CDS spreads supplied by Deutsche Bank seem to suggest Brazil is most worrying, with a higher overall market implied default probability that is also rising.

Fitch Ratings, another credit rating agency, publishes a Fitch CDS Map, an interactive tool designed to identify and expose month-over-month changes in credit default swap spreads. Positive changes in CDS spreads signal markets’ perception of increased risk while negative changes indicate credit strengthening. Here too, Brazil seems particularly problematic with spreads widening 15.74% in March 2015 compared to 8.09% for Turkey and 4.59% for South Africa, according to Fitch. (For related reading, see: Investing In Emerging Market Debt).

So When Will The Fed Hike Rates?

Before the most recent Federal Open Market Committee (FOMC) press release on March 18, many market participants seemed convinced of a June rate hike. In fact, the CME Group’sFedWatch tool had the probability of a June hike at 50%. Following the statement, the probability fell marginally to 48.9%. Despite this small decrease, market expectations still seem focused on a June lift-off with just a 40.9% chance of rates remaining unchanged, down from a 46.9% probability when measured in February. The CME tool uses 30 Day Federal Funds futures contracts to calculate the probability of where the spot target Fed Funds rate may be by the end of the month, during which an FOMC meeting is scheduled to occur. The tool represents a direct reflection of collective marketplace insight regarding the future course of Fed monetary policy. (For more, see: Forces Behind Interest Rates).

Strangely, market expectations for the timing of the Fed’s interest rate normalization differ from the Fed’s own expectations. The BBC reported that the Fed’s median estimate currently shows rates at 1% by January 2016 and 2.5% by January 2017. Meanwhile, the futures market discussed previously expect U.S. to be rates around 0.5% by January 2016 and just 1.5% by January 2017.

The Bottom Line

Rising U.S. rates are likely to present specific challenges to emerging markets, especially those with external financing vulnerabilities such as Brazil, Turkey and South Africa or governments, companies and banks with large amounts of dollar denominated debt that could become more expensive to service.

Bisnis.com, JAKARTABank-bank berharap Bank Indonesia dapat menurunkan suku bunga acuan atau BI rate dalam waktu dekat melihat tingkat inflasi yang mulai menurun.

Pada September 2015 terjadi deflasi sebesar 0,05% month to month yang mendorong inflasi year on year turun ke 6,83% dari 7,18% pada bulan sebelumnya. Sedangkan inflasi indeks harga konsumen (IHK) tercatat sebesar 2,24% year to date. BI sendiri memperkirakan inflasi pada akhir tahun akan berada di bawah 4%.

Direktur Utama PT Bank Mayapada Internasional Tbk. Haryono Tjahrijadi menuturkan suku bunga acuan sudah waktunya diturunkan mengingat tekanan terhadap ekonomi makro sudah berkurang yang terlihat dari laju inflasi yang terkendali dengan baik dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sudah mulai stabil.

Selain itu, Haryono mengatakan bank-bank sudah mulai menurunkan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit. BI Rate, katanya, berpeluang diturunkan minimal sebesar 25 bps. “Dengan diturunkannya suku bunga acuan akan meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (29/10/2015).

Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk. Glen Glenardi mengatakan dengan penurunan suku bunga acuan diharapkan suku bunga dana juga bakal ikut menurun. “Saya berharap adanya penurunan BI rate karena sudah ditunggu-tunggu dan ini juga bisa menurunkan cost of fund sehingga ada celah bagi bank untuk menambah margin,” ucapnya.

Glen menjelaskan kendati pertumbuhan laba perseroan meningkat, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menurun akibat biaya dana yang meningkat. NIM Bank Bukopin mengalami penurunan sebesar 18 basis poin (bps) dari 3,74% menjadi 3,56%. Dana pihak ketiga (DPK) Bank Bukopin masih didominasi dana mahal atau deposito yang memiliki porsi sebesar 68,70% dari total DPK. Sedangkan porsi tabungan sebesar 20,35% dan porsi giro sebesar 10,95%.

Adapun, BI rate hingga saat ini masih bertahan di posisi 7,5%. Bank Sentral terakhir melakukan perubahan suku bunga acuan pada awal tahun sebesar 25 bps dari 7,75%. Selain itu, Glen menilai penurunan suku bunga acuan bakal melengkapi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dari sisi moneter. Adapun untuk mendorong industri perbankan, menurutnya suku bunga acuan harus turun lebih dari 25 bps. “Minimal turun 50 bps untuk bisa merangsang,” katanya.

xxxxxxxxYYYYYYYYYYYxxxxxxxxxxxx

JAKARTA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan, pertumbuhan jumlah simpanan perbankan per September 2015 sebesar Rp96 triliun atau naik 2,15% (MoM). Angka ini menjadikan total simpanan per akhir September mencapai Rp4.546 triliun.

Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho mengatakan, berdasarkan jenis simpanan (giro, tabungan, deposit on call, deposito dan sertifikat deposito), yang memiliki pertumbuhan jumlah rekening paling tinggi adalah tabungan yakni sebesar 1,82% (MoM).

“Sementara jumlah rekeningnya meningkat dari 158.364.273 rekening (Agustus 2015), menjadi 161.239.772 rekening (September 2015),” kata Samsu di Jakarta, Senin (2/11/2015).

Sementara jika dilihat dari jumlah nominal, pertumbuhan giro adalah yang tertinggi yakni sebesar 5,53% (MoM), dengan jumlah nominal menjadi Rp1.126 triliun (September 2015) dari sebesar Rp1.067 triliun (Agustus 2015).

Untuk simpanan dengan nilai sampai dengan Rp2 miliar, lanjut dia, jumlah rekeningnya meningkat sebesar 1,77% (MoM) dari 164.789.953 rekening (Agustus 2015) menjadi 167.702.041 rekening (September  2015). Sementara jumlah nominal simpanan juga meningkat sebesar 0,79% (MoM), sehingga per akhir Agustus 2015 jumlah nominal simpanan menjadi sebesar Rp1.929,3 triliun (September 2015) dari Rp1.914,1 triliun.

Adapun untuk simpanan dengan nilai di atas Rp2 miliar, jumlah rekeningnya meningkat 2,07% (MoM) dari 218.280 rekening (Agustus 2015) menjadi 222.788 rekening (September 2015).

Sama halnya, jumlah nominal simpanan juga naik sebesar 3,19% (MoM), dari Rp2.536 triliun (Agustus 2015) menjadi Rp2.617,6 triliun (September 2015).

Samsu menjelaskan, pertumbuhan jumlah rekening simpanan dalam rupiah mengalami kenaikan sebesar 1,78% (MoM), dari per akhir Agustus 2015 berjumlah 163.903.722 rekening, menjadi 166.828.326 rekening per akhir September 2015.

Sementara itu, terdapat penurunan pada jumlah rekening simpanan dalam valas, yakni sebesar 0,73% (MoM). “Dengan demikian, per September 2015 jumlahnya mencapai 1.096.503 rekening  atau turun dari 1.104.511 rekening,” jelasnya.

Sementara jika dilihat dari nominal simpanan, rupiah dan valas mengalami peningkatan. Simpanan dalam rupiah meningkat 1,83% (MoM), dari Rp3.656,4 triliun (Agustus 2015) menjadi Rp3.723 triliun (September 2015). Demikian pula simpanan valas naik sebesar 3,65% (MoM) dari Rp794,4 triliun (Agustus 2015) menjadi Rp823,4 triliun (September 2015).
(dmd)

source: http://ekbis.sindonews.com/read/1058325/178/lps-catat-total-simpanan-rp4-546-triliun-1446480207

Jakarta detik-Bank Indonesia (BI) memperkirakan angka inflasi sepanjang tahun ini akan berada di bawah 4% atau sekitar 3,6%. Angka ini jauh di bawah perkiraan sebelumnya yang dipatok 4% plus minus 1%.

Bahkan, di Oktober ini diperkirakan akan terjadi deflasi. Hingga minggu ketiga bulan ini, sudah terjadi deflasi 0,09%. Melihat rendahnya tingkat inflasi tahun ini, akankah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuannya atau BI rate?

“Kita masih perlu lihat,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat ditemui di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Jumat (30/10/2015).

Selain inflasi, nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu indikator BI untuk menentukan arah tingkat suku bunganya.

Meskipun angka inflasi dinilai rendah dan nilai tukar rupiah mulai menunjukkan perbaikan, namun kondisi ekonomi global masih belum kondusif. Stabilitas sistem keuangan masih rentan.

“Perkembangan di dalam negeri menunjukkan kondisi baik, tapi kondisi di luar negeri itu yang namanya stabilitas sistem keuangan itu masih lemah,” katanya.

Lemahnya stabilitas sistem keuangan tersebut, kata Agus, menggiring berbagai risiko, utamanya tekanan terhadap negara-negara berkembang.

“Kita tentu harus jaga karena potensi dari tekanan negara-negara berkembang itu cukup tinggi dan khususnya bisa terjadi ada risiko capital outflow. Dan capital outflow itu juga akan membuat tekanan pada dalam negeri,” terang dia.

Untuk itu, lanjut Agus, Indonesia perlu mewaspadai berbagai risiko dari perkembangan ekonomi global agar tidak terseret terlalu dalam.

“Kita tidak boleh sampai tidak hati-hati karena stabilitas itu utama karena bagi terwujudnya pertumbuhan ekonomi kuat, yang seimbang, yang berkesinambungan,” imbuhnya.

(drk/ang)

SURABAYA kontan. Bank Indonesia (BI) projected October’s consumer price index (CPI) would deflate 0.09 percent (month-on-month), due to a lowered price of staple commodities especially onions, chilies and rice.

“According to last week’s [consumer prices] survey, we record 0.09 percent deflation. It proves that this year’s inflation is controlled and, at the same time, lowered,” said BI’s Deputy Governor Perry Warjiyo in Surabaya, on Wednesday.

On year-to-date (ytd) basis, he further said, the inflation would be 2.15 percent and year-to-year (yoy) inflation would be 6.24 percent in October.

Ultimately, the inflation would be 3.6 percent at the end of the year, or lower than BI’s previous target of 4 percent.

Moreover, Perry said Indonesian economic growth was predicted to be around 4.8 percent to 4.9 percent this year, with fourth quarter growth at around 5.1 percent.

The current account deficit would be around 3.1 percent of the gross domestic product (GDP). (Arif Gunawan)

JAKARTA – Pertumbuhan beberapa perusahaan besar nampaknya mulai kurang bersemangat akhir-akhir ini. Pertumbuhan perusahaan-perusahaan tersebut mulai stagnan bahkan ada yang mulai memasuki zona negatif.

Penurunan keuntungan ini biasanya menandakan bahwa telah terjadi resesi ekonomi di tengah-tengah kita, meskipun hal tersebut tidak selalu benar. Namun, semakin banyak analis yang mengatakan bahwa penurunan laba perusahaan ini tidak bertepatan dengan resesi ekonomi global.

“Berkurangnya pendapatan biasanya berhubungan dengan resesi ekonomi secara keseluruhan, karena itu data-data ekonomi kerap menjadi perhatian pasar,” tulis analis dari High Frequency Economics. Jim O’Sullivan dalam sebuah laporannya, seperti dilansir dari Businessinsider.

Meski demikian, dia mengatakan gejala yang sama juga pernah terjadi saat krisis ekonomi besar pada periode 1998. Menurutnya, saat itu, pertumbuhan ekonomi global dan ekspor melemah secara signifikan, harga minyak dan komoditas lainnya juga mengalami penurunan tajam dan dolar AS menjadi mata uang yang superior.

“Namun pertumbuhan ekonomi Amerika secara keseluruhan tetap solid. Adanya konsumsi domestik telah mengimbangi pelemahan dalam permintaan luar negeri,” tambahnya.

Dia melanjutkan, ini memang bukan cerita baru, meski demikian sejarah pasti berulang dengan sendirinya. Memang, sebagian besar penurunan laba ini disebabkan oleh harga minyak yang rendah dan dolar AS yang terlalu kuat. “Jika Anda membuang semua faktor tersebut, maka bisa terlihat sebenarnya laba perusahaan masih terus tumbuh,” jelasnya.

O’Sullivan mengingatkan, harga minyak yang rendah memang buruk bagi perusahaan-perusahaan minyak. Meski begitu, harga minyak mentah yang rendah menjadi hal yang positif bagi konsumen.

“Akibatnya, penurunan harga minyak merupakan transfer pendapatan dari sektor bisnis dan investasi asing untuk sektor konsumen,” katanya.

Bahkan, ketika dolar AS menguat juga masih memiliki efek yang positif. Dia mengatakan, saat ini perusahaan tersebut tengah mengalami penurunan laba seperti yang terjadi pada saat krisis ekonomi 1998, hanya saja kali ini tanpa adanya resesi ekonomi.

“Kami berharap pola yang terulang saat ini sesuai dengan apa yang telah terjadi sejauh ini. Tentu saja, pertumbuhan keseluruhan lebih rendah sekarang daripada saat itu, tetapi tingkat pertumbuhan potensial yang lebih rendah juga. Kami berharap tingkat pengangguran tetap rendah,” tutur dia.
http://economy.okezone.com/read/2015/10/23/213/1237116/laba-emiten-berjatuhan-gejala-krisis-1998-mulai-nampak
Sumber : OKEZONE.COM

JAKARTA okezone – Bank sentral China (PBoC) memangkas suku bunga acuan untuk simpanan dan pinjaman masing-masing sebesar 25 basis poin. Hal ini sebagai upaya lanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Dalam hal ini, suku bunga pinjaman menjadi 4,35 persen dan suku bunga simpanan 1,5 persen, efektif per 24 Oktober 2015. Apakah akan berdampak kepada perekonomian Indonesia?

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, dengan penurunan suku bunga ini untuk mendorong ekonomi China lebih cepat ditengah perlambatan ekonomi global.

“Tentu tergantung bagaimana perkembangan di China. Mungkin dia mau mendorong ekonominya lebih cepat, mungkin juga karena inflasinya lebih rendah,” kata Darmin di kantornya, Jakarta, semalam.

“Saya enggak tahu persisnya, jadi satu negara itu mengubah tingkat bunganya alasannya lebih kurang gitu,” sambung Darmin.

Sementara itu, untuk dampaknya sendiri ke Indonesia, kata Darmin melihat perkembangan ekonomi China setelah penurunan suku bunga acuannya. Darmin enggan berspekulasi akan mampu menurunkan suku bunga acuan (BI Rate).

Saat ini, posisi BI Rate masih dilevel 7,50 persen.

“Ya, memang inflasi kita rendah tahun ini. Kalo dilihat inflasi saja iya, tapi mungkin BI liat kursnya masih sudah stabil belum. Ya kalau sudah stabil mestinya arahnya turun (BI Rate),” ucap Darmin.

(rzy)

 

JAKARTA sindonews- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo meramal, inflasi di akhir 2015 hanya 4% bahkan berpotensi di angka 3,6% jika fundamental ekonomi stabil. Current account deficit (CAD) juga diperkirakan positif.

Menurutnya, saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulanan pekan lalu, fundamental ekonomi dalam negeri mengalami perbaikan ke arah positif.

“Itu terlihat dari inflasi yang sebelumnya di kisaran 4% plus minus 1% atau 4,3%. Saat pembahasan di RDG terakhir kami lihat bahwa inflasi di akhir 2015 akan di bawah 4%. Bahkan jika dipertahankan bisa di kisaran 3,6%. Adapun CAD kami juga lihat sama,” katanya usai rapat Forum Koordinasi Kestabilan Sistem Keuangan (FKKSK) di Jakarta, Kamis (23/10/2015) malam.

Pihaknya memprediksi CAD kuartal III/2015 bisa di bawah 2% atau 1,8% dari GDP. Maka, sepanjang 2015 secara konsiaten kondisi yang dicapai lebih baik dibanding 2014.

“Sepanjang 2015 akan terlihat CAD yang defisit 3,1% di 2014 akan membaik 2% atau 2,1% di 2015. Kondisi ini juga didukung trade surplus Januari-September yang konsisten surplus menunjukan kondisi perbaikan fundamental ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tetap mengingatkan untuk mewaspasi perkembangan eksternal terutama pada tiga aspek penting yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini.

“Pertaman, pertumbuhan China yang ada cenderung melemah dan kami yakin pelemahan ini bisa berjalan dan tidak membawa dampak signifikan pada dunia khsusunya emerging. China yang akan kelola kurs akan lebih dikelola moneter yang independen dengan curent acount yang lebih terbuka,” tutur Agus.

Hal tersebut memang ada risiko khusus dalam  pelaksanaan dengan pertimbangan USD yang menguat dan upaya China dalam menjaga pertumbuhan ekonominya tidak menurun lebih besar.

“Kedua, normalisasi kebijakan The Fed di mana ada ketidakpastian apakah akan naik 2015 atau 2016. Ketidakpastian ini perlu jadi perhatian kita,” jelas dia.

Ketiga, berlanjutnya penyesuaian harga komoditas. Kondisi ekonomi domestik mengarah kuat, tapi pihaknya tetap memberi perhatian tinggi pada kondisi eksternal.

“Maka kami sampaikan rilis seperti yang kami sampaikan. Perlu dijelaskan jika di bulan mendatang akan dibahas, maka semua kembali ke data independen. Kami akan lakukan satu perubahan kebijakan sepenuhnya jika didukung data,” pungkasnya.
(izz)

source: http://ekbis.sindonews.com/read/1055565/33/bi-ramal-inflasi-akhir-2015-di-bawah-4-1445572992

 

hhhhhhSSSSSSSSShhhhhhhhhhh

TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menolak sikap kepolisian terkait Surat Edaran Kepala Polri Tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech). Alasannya, aturan ini bertentangan dengan prinsip berekspresi, kebebasan berpendapat, beropini, baik pikiran, maupun yang sudah diatur di dalam berbagai instrumen HAM.

“Pemerintah tidak usah terlalu mengekang, ini adalah bagian dari pengekangan kebebasan berekspresi,” kata komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, saat dihubungi Tempo, Ahad 1 November 2015.

Natalius mengatakan, kalau pun ada hate speech di dunia sosial, sudah ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Jadi khusus dari Komnas, jangankan aturan Kapolri yang baru ini yang tentu kami tolak, UU ITE saja kami tolak karena itu mengekang kebebasan berekspresi,” ujar Natalius.

Natalius menegaskan, opini atau pendapat tidak bisa diadili. Ia juga menganggap pemerintah sangat naif. “Kita sudah berjuang berdarah-darah, 15-16 tahun yang lalu, mengantarkan Indonesia ke alam demokrasi seperti yang sekarang. Tetapi 16 tahun kemudian (sekarang), pengekangan ini tiba-tiba muncul,” ucapnya.

Persoalan kebebasan ini, kata Natalius, Indonesia juga sudah meratifikasi aturan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Yaitu Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan Konvensi Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik. “Maka soal ekspresi dan kebebasan semacam ini harus dikembangkan, diberi tempat oleh negara.”

 

Menurut Natalius, persoalan ujaran kebencian ini sudah diatur dalam beberapa undang-undang. “Mereka (polisi) menegakkan hukum saja. Pakai saja undang-undang yang udah ada,” kata dia. Termasuk, perihal suku, ras, agama, dan antargolongan adalah bagian melindungi orang dari serangan yang bersifat pribadi.

“Jadi tidak perlu kepolisian mengaturnya.” Selama ini, kata Natalius, polisi tidak menindaklanjuti berbagai rekomendasi tentang kasus-kasus terkait SARA.

Kepala Polri, Badrodin Haiti, menandatangani Surat Edaran Nomor SE/6/X/2015 Tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech) pada Kamis, 8 Oktober 2015. Beberapa latar belakang dari aturan ini, ialah persoalan mengenai ujaran kebencian makin mendapat perhatian masyarakat nasional dan internasional seiring meningkatnya kepedulian terhadap perlindungan atas HAM. Perbuatan ini juga dinilai berdampak merendahkan harkat martabat dan kemanusiaan.

Ujaran kebencian yang dimaksud pada surat edaran ini adalah sama dengan tindak pidana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan ketentuan lainnya. Yaitu, penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, dan penyebaran berita bohong. Juga semua tindakan yang bertujuan atau berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan atau konflik sosial.

Ujaran kebencian yang diatur dalam surat ini termasuk melalui media orasi saat berkampanye, spanduk atau banner, media sosial, demonstrasi, ceramah keagamaan, media massa, dan pamflet.

REZKI ALVIONITASA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s