L1KU1D1TA$, S0LVAB1L1TA$ @ perbankan (2)… 051115

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit perbankan pada bulan September mencapai Rp3.987 triliun.
Berdasarkan data perkembangan Analisis Uang Beredar M2 yang dipublikasikan Bank Indonesia, pertumbuhan kredit secara keseluruhan tercatat sedikit meningkat sebesar 10,9% (y-o-y) pada bulan September dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10,8% (y-o-y) atau senilai Rp3,915 triliun.
“Peningkatan pertumbuhan kredit ditopang oleh kredit kepada BUMN bukan lembaga keuangan, sementara kredit kepada sektor swasta tumbuh melambat sebesar 11,7% (y-o-y) dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Agustus yang 11,8% (y-o-y),” tulis Bank Indonesia seperti yang dikutip Bisnis.com, Kamis (5/11/2015).
Peningkatan pertumbuhan kredit tersebut terutama dalam bentuk kredit produktif, yaitu kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI).
KMK tercatat sebesar Rp1.893,9 triliun, tumbuh 10,3% (y-o-y) atau lebih tinggi dibandingkan Agustus 2015 yang tercatat senilai Rp1.851,1 triliun.
“Peningkatan KMK terutama terjadi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan & perikanan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) yang masing-masing tumbuh dari 13,2% (y-o-y) dan 10,1% (y-o-y) pada Agustus 2015 menjadi 15,6% (y-o-y) dan 11,2% (y-o-y) pada September 2015,” tulis Bank Indonesia.
Posisi kredit investasi per September 2015 tercatat senilai Rp976,4 triliun, tumbuh 13,0% (y-o-y) atau sedikit meningkat dibandingkan Agustus 2015 yang senilai Rp960,1 triliun.
Peningkatan penyaluran kredit investasi terutama pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dan sektor industri pengolahan, masing-masing sebesar 19,3% (y-o-y) dan 21,0% (y-o-y) dibandingkan dengan Agustus 2015 yang senilai 16,9% (y-o-y) dan 20,5% (y-o-y).

 

Jakarta -Jumlah dana nasabah di seluruh bank umum di Indonesia saat ini mencapai lebih dari Rp 4.000 triliun. Sedangkan dana nasabah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) hanya sekitar Rp 68 triliun.

Dalam data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Senin (2/11/2015), per Juni 2015, dana nasabah di BPR adalah Rp 68,407 triliun, naik Rp 10,829 triliun dibandingkan Juni 2014.

Jumlah BPR/BPRS peserta penjaminan per Juni 2015 mencapai 1.801 bank, yang terdiri dari 1.640 BPR dan 161 BPRS.

Pada periode tersebut, total simpanan pada BPR mencapai Rp 64,023 triliun dan total simpanan BPRS mencapai Rp 4,384 triliun. Proporsi total simpanan pada BPR adalah sebesar 93,59% dari total simpanan BPR/BPRS. Sedangkan proporsi total simpanan BPRS adalah 6,41% dari total simpanan BPR/BPRS.

Berdasarkan Provinsi, total simpanan BPR/BPRS terbesar berada di Provinsi Jawa Tengah dengan total simpanan adalah Rp 15,618 triliun. Sedangkan untuk total simpanan terkecil berada di Provinsi Gorontalo yaitu sebesar Rp 18,59 miliar.

(dnl/ang)

 

Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan jumlah rekening simpanan dalam valuta asing pada September 2015 menurun.

Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho penurunan jumlah rekening simpanan dalam valuta asing sebesar 0,73% (m-t-m) dari per Agustus 2015 yang jumlahnya mencapai 1,1 juta rekening menjadi 1,09 juta rekening di akhir September 2015.

“Tapi jumlah rekening simpanan dalam rupiah meningkat. Sementara itu, nominal simpanan, baik nominal simpanan dalam rupiah maupun dalam valas keduanya meningkat,” ujarnya.

Simpanan dalam valas, jumlahnya naik 3,65% (m-t-m) dari senilai Rp794,4 triliun per Agustus 2015 menjadi Rp823,46 triliun pada September 2015.

Samsu menambahkan jumlah rekening simpanan dalam rupiah meningkat sebesar 1,78% (m-t-m), dimana per akhir Agustus 2015 berjumlah 163,9 juta rekening menjadi 166,82 juta rekening per akhir September 2015.

“Jika dilihat dari nominal simpanan, simpanan dalam rupiah meningkat 1,83% (m-t-m), dari senilai Rp3.656,4 triliun pada Agustus 2015 menjadi Rp3.723,48 triliun per September 2015,” kata Samsu.

LPS mencatat nilai total simpanan hingga akhir September 2015 mencapai Rp4.546,9 triliun, meningkat senilai Rp96,05 miliar atau 2,15% (m-t-m).

 

Liputan6.com, Bandung – [Otoritas Jasa Keuangan (OJK)](2352421″”) menilai kondisi keuangan bank Indonesia relatif masih baik di tengah tekanan ekonomi global. Hal itu ditunjukkan dari indeks kepercayaan perbankan atau Banking Confidence Index hingga Agustus 2015 masih berada di posisi normal tetapi tetap waspada.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan OJK, Irwan Lubis mengatakan posisi indeks kepercayaan perbankan berada di posisi 0,71 pada Agustus 2015. Posisi indeks kepercayaan perbankan itu memang relatif naik dibandingkan Juli 2015 di posisi 0,67. Indeks kepercayaan perbankan masih relatif baik itu dilihat dari salah satu parameter pembentuk indeks kepercayaan perbankan yaitu rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang terjaga.

NPL 2,67 persen itu masih manageable, dan kalau dibandingkan 2008. Bisa dibilang krisis masih jauh. Banking confidence index itu melihat kondisi perbankan. Saat ini indeks di Agustus membaik di level 0,71,” kata Irwan, dalam acara Focus Group Disscussion (FGD) di Bandung, Kamis (29/10/2015).

Irwan mengatakan, posisi indeks kepercayaan perbankan 0,71 itu menunjukkan kondisi normal tetapi tetap waspada. “Kalau posisi satu ke atas itu kondisinya normal. Kalau antara 0,5-1 itu normal tetapi tetap waspada. Sedangkan kalau di bawah nol itu baru negatif,” ujar Irwan.

Irwan mengatakan, ada sejumlah parameter membentuk indeks kepercayaan perbankan selain NPL, yaitu biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), efisiensi perbankan, dan lainnya.

“Namun perlu diwaspadai adalah tekanan NPL. Tekanan NPL itu bervariabel. Saat ini mulai ketahan,” kata Irwan.

Berdasarkan data OJK, posisi NPL secara gross sekitar 2,66 persen hingga Agustus 2015. Angka ini memang naik terus dari posisi Desember 2013-2014 di kisaran 2,014. “Ini masih sejalan dan terjaga sebelum ada berbagai kebijakan,” ujar Irwan.

Meski NPL secara gross terjaga, Irwan mengatakan, pihaknya juga mencermati manajemen bank yang menyalurkan kredit di sektor tambang dan konstruksi. Hal itu lantaran NPL di kedua sektor itu cukup tinggi.

“NPL di sektor pertambangan hampir 5 persen dan konstruksi sekitar 5,3 persen,” kata Irwan.

Selain itu, Irwan juga melihat posisi capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal perbankan Indonesia masih cukup baik. Posisi CAR hingga Agustus 2015 mencapai 20,74 persen. Irwan menilai, penguatan modal perbankan nasional juga menjadi perhatian pengawas untuk tetap menjaga industri perbankan.

“Modal minimum 9-14 persen hampir semua bank penuhi itu. Ada membandel tetapi ada proses untuk tambah modal lagi. Modal bank kita konservatif. Rasio modal inti 18,2 persen. Artinya komponen modal 90 persen itu diisi modal bagus. Jadi berasal dari modal disetor dan laba ditahan sehingga modalnya kuat. Mudah-mudahan ini bisa terus berlangsung,” ujar Irwan. (Ahm/Ndw)

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) industri perbankan pada Agustus 2015 tercatat US$31,85 miliar.

Berdasarkan data ULN bulan Agustus yang dipublikasikan Bank Indonesia pada Senin (19/10/2015), posisi ULN perbankan tersebut menurun sebesar 2,3% (m-t-m) bila dibanding bulan Juli yang senilai US$32,6 miliar.

Namun bila dibandingkan bulan Desember 2014 mengalami kenaikan 0,46% (y-t-d) dari Desember 2014 yang senilai US$31,7 miliar dan tumbuh 6,3% (y-o-y) dari ULN Agustus 2014 yang senilai US$29,95 miliar.

Sementara, ULN sektor swasta pada Agustus tercatat US$169,26 miliar, turun tipis sebesar 0,07% (m-t-m) dari posisi Juli 2015 yang US$169,39 miliar.

Namun, bila dibandingkan tahunan, ULN swasta mengalami kenaikan 7,5% (y-o-y) dari Agustus 2014 yang senilai US$157,4 miliar dan tumbuh 3,25% (y-t-d) dari Desember 2014 yang US$163,9 miliar.

Pangsa ULN sektor swasta tercatat 55,8% atau senilai US$169,3 miliar, lebih besar dari ULN sektor publik sebesar 44,2% atau US$134,0 miliar.

Seperti diketahui, posisi ULN pada Agustus 2015 tercatat senilai US$303,2 miliar, mengalami penurunan 0,21% (m-t-m) atau US$0,7 miliar dibandingkan posisi Juli 2015 yang sebesar US$303,9 miliar.

Namun bila dibandingkan secara tahunan, ULN pada Agustus 2015 mengalami kenaikan 3,98% (y-o-y) dari Agustus tahun lalu US$291,6 miliar dan naik 3,26% (y-t-d) dari Desember 2014 yang senilau US$293,67 miliar.

“Penurunan ULN pada Agustus 2015 tersebut disebabkan oleh penurunan ULN baik sektor pemerintah maupun sektor swasta,” tulis Bank Indonesia seperti yang dikutip, Senin (19/10/2015).

https://i1.wp.com/cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2015/10/13/178/1052900/pertumbuhan-kredit-baru-diprediksi-meningkat-cuO.jpg

JAKARTA sindonews – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan kredit baru pada kuartal IV 2015 meningkat. Optimisme peningkatan kredit didorong perkiraan membaiknya kondisi ekonomi pada kuartal IV dan penurunan suku bunga kredit.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menjelaskan, pada kuartal IV 2015 kredit modal kerja masih menjadi prioritas utama perbankan dalam penyaluran kredit. “Sebanyak 51,3% konsumen menyatakan akan memperketat penyaluran kreditnya pada kuartal IV,” ujarnya di Jakarta, Selasa (13/10/2015).

Sementara itu, lanjut dia, sekitar 43,6% konsumen menyatakan kebijakan penyaluran kredit relatif sama dengan kuartal sebelumnya.

Menurut Tirta, pengetatan kredit akan dilakukan terhadap agunan kredit, premi yang dibebankan pada kredit yang berisiko dan perjanjian kredit.

Di samping itu, pertumbuhan kuartalan permintaan kredit baru pada kuartal III 2015 menguat dibandingkan kuartal sebelumnya. “Peningkatan kebutuhan pembiayaan nasabah dan optimisme membaiknya kondisi ekonomi ke depan menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan penyaluran kredit baru selama kuartal III 2015,” tandasnya.

source: http://ekbis.sindonews.com/read/1052900/178/pertumbuhan-kredit-baru-diprediksi-meningkat-1444744201

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit perbankan pada Agustus 2015 tercatat senilai Rp3.914,3 triliun, atau tumbuh 10,8% (y-o-y).
Berdasarkan Data Uang Beredar yang dipublikasikan Bank Indonesia, posisi kredit yang disalurkan oleh perbankan pada Agustus 2015 tercatat senilai Rp3.914,3 triliun, atau tumbuh 10,8% (y-o-y) dan tumbuh 0,46% (m-t-m).
“Kredit pada bulan Juli tercatat senilai Rp3.896,3 triliun atau tumbuh sebesar 9,6% (y-o-y). Akselerasi pertumbuhan kredit setelah mengalami perlambatan sejak September 2013, memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi kedepan,” tulis Bank Indonesia seperti yang dikutip Bisnis.com, Senin (5/10/2015).
Akselerasi pertumbuhan kredit tersebut terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI) yang meningkat.
Pada Agustus 2015, KMK tercatat senilai Rp1.851,1 triliun, atau tumbuh 10,2% (y-o-y) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 8,4% (y-o-y).
Peningkatan pertumbuhan KMK antara lain terjadi pada sektor industri pengolahan dan perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) yang masing-masing tumbuh dari 14,0% (y-o-y) dan 6,8% (y-o-y) pada Juli 2015 menjadi 16,2% (y-o-y) dan 10,1% (y-o-y) pada Agustus 2015.
Sementara itu, KI pada Agustus 2015 tercatat sebesar Rp960,1 triliun, tumbuh 12,9% (y-o-y), meningkat dibandingkan Juli 2015 sebesar 11,9% (y-o-y).
“Peningkatan KI tersebut antara lain terjadi pada sektor industri pengolahan dan pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan yang masing-masing tumbuh 20,5% (y-o-y) dan 16,9% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan Juli 2015 17,3% dan 16,1% (y-o-y),” tulis Bank Indonesia.

bbbbbIIIIIIIIbbbbbbbbbbbbb

Kamis, 15/10/2015 NERACA

Jakarta – Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sudah mulai pulih, namun hal tersebut belum bisa bernafas lega karena masih dibayangi isu The Fed yang bakal menaikkan suku bunga, sehingga bisa mengancam penguatan nilai rupiah. Kendatipun demikian, industri jasa keuangan diyakini sebagian pelaku pasar masih tetap positif ditengah perlambatan ekonomi dan ketatnya likuiditas perbankan saat ini.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Danan Dito mengatakan, prospek perusahaan sektor jasa keuangan di Indonesia masih stabil meski perekonomian di dalam negeri sedang melambat.”Peringkat perusahaan jasa keuangan masih stabil meski beberapa mengalami penurunan peringkat,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia memaparkan bahwa salah satu perusahaan yang peringkatnya stabil yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang ditegaskan di “idAAA” (triple A) dengan prospek stabil untuk periode 1 Oktober 2015 hingga 1 Oktober 2016. Peringkat Bank Mandiri itu didukung dari pemegang saham pengendali yang kuat dalam hal ini pemerintah serta posisi bisnis yang superior.

Bank Mandiri merupakan bank komersial terbesar di Indonesia. Sebesar 60% dimiliki pemerintah dan 40% dimiliki publik. Kendati demikian, lanjut dia, peringkatnya dapat diturunkan bila terdapat penurunan atas dukungan pemerintah pada perusahaan serta meningkatnya tekanan pada kualitas asset. Selain itu, lanjut dia, PT Intan Baruprana Finance dengan peringkat “idBBB+” (triple B plus) dengan prospek stabil untuk periode 28 September 2015 hingga 1 September 2016. Intan Baruprana Finance merupakan perusahaan pembiayaan yang mempunyai fokus bisnis pada sewa guna usaha alat berat, khususnya merek-merek yang dijual oleh induk perusahaan, PT Intraco Penta Tbk (INTA).”Faktor yang mendukung peringkat yakni diversifikasi bisnis perusahaan yang membaik serta permodaln yang kuat,” paparnya.

Kata Danan, peringkat dapat ditingkatkan jika Intan Baruprana Finance mampu memperbaiki posisi bisnisnya, kualitas aset, dan indikator profitabilitas secara signifikan dan konsisten. Perusahaan perlu menunjukan kemampuan yang signifikan dalam mendiversifikasi bisnis dan tidak terlalu bergantung pada sektor pertambangan.”Risiko yang melekat bagi perusahaan yakni eksposur pada harga komoditas, peringkat dapat diturunkan jika kualitas aset dan profitabilitas perusahaan memburuk secara signifikan,” katanya,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa perusahaan lainnya, PT Danareksa, Pefindo juga menegaskan peringkat perushaan di “idA” (single A) dengan prospek stabil. Peringkat dapat dinaikan jika terdapat peningkatan posisi bisnis yang disertai dengan peningkatan performa profitabilitas yang stabil dan tetap adanya manajemen risiko yang baik. (bani)

 

http://www.neraca.co.id/article/60150/peringkat-sektor-keuangan-dinilai-stabil
Sumber : NERACA.CO.ID

 

JAKARTA ID.   Anggota DPRD DKI Prabowo Soenirman meminta PT Bank DKI untuk mengambil langkah tegas mengatasi tingginya angka kredit macet yang menghambat perkembangan bank.

“Sebaiknya Bank DKI segera mengambil langkah hukum dan melakukan penjualan jaminan,” ujar anggota Komisi D ini kepada Bisnis.com, Jumat (2/10/2015). Sebelumnya, Direktur Utama Bank DKI Kresno Sediarsi mengatakan non performing loan (NPL) gross Bank DKI kini menyentuh angka 7,27%, dan NPL net 4,7%. Kresno mengakui angka NPL yang cukup bombastis itu karena tingginya kredit macet dari beberapa perusahaan termasuk dari sejumlah perusahaan asuransi. “Ini kredit macet bukan karena asuransi, tetapi karena kredit macet jaminan dari asuransi makanya kami menagih ke pihak asuransi. Targetnya ya kami akan menagih saja terus ke asuransi,” tuturnya. Direktur Keuangan Bank DKI Sigit Prastowo mengatakan nominal kredit macet yang tercatat hingga saat ini mencapai Rp 1,7 triliun. Menurutnya, sektor konstruksi dan properti di luar Jakarta justru yang menyumbang seretnya pengembalian kredit. “Kami menargetkan bisa menyelamatkan Rp 200 miliar -Rp 300 miliar hingga akhir tahun ini,” katanya. Dia menuturkan pihaknya akan melakukan beberapa cara untuk menyehatkan keuangan perusahaan. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan memilah mana saja kredit macet yang berpotensi untuk ditarik kembali. “Penagihan utang akan terus kami lakukan. Ada yang bisa kami tarik agunan dan dipailitkan. Saat ini, fokus dulu ke situ,” imbuhnya. Agar tidak mengulangi hal yang sama, Sigit mengatakan Bank DKI lebih jeli dalam menyuntikkan dana. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memfokuskan pada DKI business linkage. “Saat ini, kami sedang menjajaki kerja sama dengan BUMD DKI Jakarta lain. Ada PD Pasar Jaya, PT Jakarta Propertindo, dan lainnya. Kami juga ingin ikut membiayai proyek-proyek infrastruktur yang diinisiasi oleh Pemprov DKI,” kata Sigit.  http://finansial.bisnis.com/read/20151002/90/478474/dprd-minta-bank-dki-segera-atasi-tingginya-kredit-macet
Sumber : BISNIS.COM

ID_Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juda Agung mengungkapkan, serangkaian kebijakan yang menyasar penambahan pasokan valuta asing – khususnya dolar AS — ini akan diluncurkan paling lambat pekan pertama Oktober 2015.

“Kami akan memberikan dukungan dan insentif bagi eksportir. Untuk potongan pajak bunga deposito itu, angka rincinya masih didiskusikan dengan pemerintah. Tujuan utama dari paket kebijakan ini adalah membuat devisa hasil ekspor (DHE) bisa relatif lebih lama tinggal di dalam negeri,” katanya, Jumat (25/9).

Juda menjelaskan, insentif potongan pajak atas bunga akan bersifat progresif. Semakin lama dan semakin besar jumlah DHE yang didepositokan oleh eksportir di bank domestik, potongan pajak akan lebih besar.

Utang Luar Negeri

Sementara itu, Bank Indonesia menilai perkembangan utang luar negeri (ULN) hingga Juli 2015 masih sehat, namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap perekonomian. Ke depan, Bank Indonesia tetap memantau perkembangan ULN, khususnya oleh sektor swasta.

Hal ini agar ULN bisa berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang memengaruhi stabilitas makroekonomi. ULN pada Juli 2015 tumbuh 3,7% (yoy), lebih lambat dibandingkan pertumbuhan Juni 2015 sebesar 6,3% (yoy).

Total ULN Indonesia sebesar US$ 303,7 miliar, yang terdiri atas utang sektor publik sebesar US$ 134,5 miliar (44,3% dari total) dan sektor swasta US$ 169,2 miliar (55,7% dari total). Dari ULN tersebut, yang termasuk utang jangka pendek (maksimal 1 tahun) turun dari posisi Juli 2014 sebesar US$ 59,52 miliar menjadi US$ 56,26 miliar pada Juli 2015. Sedangkan utang jangka panjang (di atas 1 tahun) naik dari US$ 233,19 miliar menjadi US$ 247,41 miliar. (dho/en)

JAKARTA. Kalangan perbankan terus mengantisipasi tren pelemahan nilai tukar rupiah. Tak terkecuali OCBC NISP yang mengaku telah melakukan uji ketahanan (stress test) dengan asumsi rupiah sampai di level Rp 16.000 per dollar AS.

Direktur Utama OCBC NISP, Parwati Surjaudaja mengatakan, hasil stress testmenunjukkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) perseroan akan berada di kisaran 2,5%-3%.

Selain NPL, Parwati mengklaim tidak ada indikator fundamental perseroan lain yang terkena. “Dengan stress test tersebut, LDR perseroan masih terjaga di level 87% dan CAR sebesar 16%,” ujar Parwati kepada KONTAN, di Jakarta, Selasa (8/9).

Parwati berharap, sampai akhir tahun kredit perseroan masih bisa tumbuh di kisaran 15%. Selain itu, NPL akan dijaga di level 3%, CAR di level 16%, dan LDR di bawah 95%.

Editor: Havid Vebri.

 

Bisnis.com, JAKARTA–Pertumbuhan kredit mikro PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. di atas pertumbuhan kredit secara keseluruhan di tengah perlambatan ekonomi global dan domestik

Corporate Secretary BRI Budi Satria menuturkan kredit mikro merupakan segmen kredit yang tidak memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap barang impor, sehingga tidak terlalu terpengaruh atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Selain itu, usaha mikro juga relatif menyasar barang-barang kebutuhan sehari-hari sehingga di tengah perlambatan ekonomi saat ini, segmen usaha wong cilik ini masih menunjukkan geliatnya.

“Pengalaman di BRI menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan kredit secara umum menurun menjadi sekitar 9% hingga 10%. Tetapi, kredit mikro masih bisa tumbuh lebih tinggi,” ucapnya kepada Bisnis.com, Selasa (1/9/2015).

Berdasarkan presentasi kinerja perseroan, sepanjang paruh pertama tahun ini, BBRI menyalurkan kredit ke segmen mikro senilai Rp165,8 triliun atau tumbuh sebesar 14,97% dibandingkan Juni tahun lalu yang senilai Rp144,2 triliun.

Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di segmen ini kendati mengalami peningkatan, namun masih tetap terjaga, yakni di level 1,60%  atau naik 19 basis poin (bsp) dari NPL Juni 2014 yang sebesar 1,41%.

Dari sisi penyaluran kredit secara keseluruhan, BRI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 9,7% menjadi Rp503,6 triliun. Kredit segmen ritel mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,8% menjadi Rp187,3 triliun. Sedangkan kredit di segmen menengah turun tipis sebesar 2,9% menjadi Rp18,9 triun dan kredit korporasi naik 2,8% menjadi Rp131,5 triliun.

JAKARTA ID – Bank Indonesia (BI) akan melakukansupervisory action atau pengawasan khusus terhadap bank yang memiliki rekening nostro atau rekening valuta asing (valas), yang ditempatkan di bank koresponden luar negeri. Pengawasan ini untuk mengantisipasi risiko terjadinya penyalahgunaan likuiditas valas.

Deputi Gubernur BI Ronald Waas menjelaskan, pengawasan khusus ini dilakukan BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan mengawasi secara rutin perilaku perbankan dan nasabahnya dalam menggunakan valas tersebut. “Kami akan memonitor apakah terjadi peningkatan rekening nostro, kalau naik alasannya karena apa, nasabahnya siapa, perusahaan apa dan dari industri mana,” ujar dia ketika ditemui usai Rapat Dewan Gubernur BI di Gedung BI, Jakarta, Selasa (18/8).

Pengawasan tersebut, menurut Ronald, dilakukan untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah yang salah satu sumbernya bisa berasal dari kelebihan likuiditas. “Sebetulnya, rekening nostronya tidak meningkat signifikan, namun apabila ada peningkatan kami sudah mengantisipasi dengan melakukan pengawasan khusus,” lanjut dia.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, memang ada kecenderungan terjadi peningkatan likuiditas valas sehingga mengakibatkan peningkatan rekening nostro. “Peningkatan likuiditas valas ini terjadi karena ada kenaikan simpanan perbankan dalam bentuk valas, sementara bank belum mampu menyalurkan kredit valasnya sehingga disimpan dalam bentuk nostro, call money, dan lain-lain,” jelas dia.

Selain melakukan supervisory action terhadap potensi peningkatan rekening nostro, Perry menjelaskan, BI mengoptimalkan operasi moneter untuk menyerap valas tersebut. Misalnya dengan mengoptimalkan term deposit valas dan mengoptimalkan transaksi foreign exchange (FX) swap.

Sementara itu, ekonom dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Ariefianto mengungkapkan, rekening nostro bisa disalahgunakan untuk kegiatan spekulasi. “Jadi jual beli valas dilakukan terlepas ada underlying atau tidak, bank biasanya membeli valas dengan ekspektasi harga naik,” ujar dia.

Menurut Doddy, ini menjadi alasan BI untuk mengawasi penggunaan rekening nostro. “Pasti BI memiliki data yang kuat mengenai alur rekening nostro ini,” tambah dia.

Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual mengungkapkan, memang ada kecenderungan peningkatan rekening nostro. Pasalnya, saat ini dana pihak ketiga (DPK) valas meningkat, sementara simpanan valas tersebut tidak bisa disalurkan dalam kredit dolar AS.

Di sisi lain, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo mengungkapkan, tidak ada kecenderungan peningkatan rekening nostro di BRI. Posisi rekening nostro BRI saat ini mencapai US$ 800 juta. “Rekening nostro tidak ada kenaikan, malah cenderung turun,” ungkap dia.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja mengungkapkan, posisi rekening nostro per Juli 2015 perseroan sebesar US$ 37 juta. Nilai tersebut stabil dibandingkan Desember 2014. Menanggapi rencana BI yang akan mengawasi rekening nostro tersebut, Parwati menyambut baik.

Sedangkan Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, pihaknya tidak bermasalah dengan rencana BI yang akan mengawasi rekening nostro. Pasalnya, dana tersebut merupakan dana likuid yang akan digunakan ketika diperlukan.

Berdasarkan data OJK, posisi loan to deposit ratio (LDR) valas perbankan per Mei 2015 mencapai 84,81% atau turun dibandingkan Mei 2014 yang sebesar 88,11%. Data tersebut menunjukkan ada peningkatan likuiditas valas, yang ditandai valas per Mei tumbuh 16,6%. Sedangkan kredit valas hanya bertumbuh 12,23% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. (ID)

JAKARTA. Otoritas moneter sedang menyusun sejumlah amunisi untuk mengurangi tekanan pada nilai tukar. Utamanya, Bank Indonesia (BI) akan memperpanjang tenor berbagai instrumen moneter agar bisa menjadi pilihan investor dan perbankan untuk memasukkan dananya.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ekonomi yang melambat menyebabkan permintaan kredit melambat. Akibatnya, setelah Lebaran ini BI melihat terjadi arus balik likuditas sehingga terjadi likuditas yang cukup berlebih. Perbankan mempunyai modal namun tidak bisa tersalurkan karena lesunya permintaan kredit.

AYO TURUNken BI RATE donK

Sekedar mengingatkan, berdasarkan data Mei 2015, kredit yang telah disalurkan perbankan tercatat Rp3.792,8 triliun atau tumbuh 10,3 persen (year on year), relatif stabil dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya. Pertumbuhan likuiditas uang beredar juga susut sebagai bukti minimnya konsumsi masyarakat. Posisi Juni 2015 pertumbuhan uang beredar sebesar Rp 4.359,5 triliun atau tumbuh 13,0% bila dibanding periode Juni 2014.

Pertumbuhan uang beredar Juni ini lebih rendah dibanding pertumbuhan Mei yang mencapai 13,4%. Sebelumnya, pertumbuhan uang beredar April 2014 bahkan mencapai 14,9%.M1, M2

Hal inilah yang dalam pantauan BI menyebabkan likuiditas rupiah dalam jangka pendek mengalami kelebihan sehingga memberi tekanan tambahan pada rupiah. BI pun bergerak dengan menggeser tenor instrumen moneter BI di Deposit Facility atau yang dikenal dengan Fasbi yang sebelumnya bersifat overnight atau satu malam ke arah 1 minggu, 3 minggu, 1 bulan, hingga 3 bulan.

“Ini (kebijakan) jangka pendek sampai menunggu permintaan kreditnya naik,” ujarnya, Selasa (18/8). Dalam catatan BI, kelebihan likuditas perbankan di BI mencapai sekitar Rp 240 triliun di mana yang di-overnight-kan di Fasbi sekitar Rp 110 triliun.

Nominal yang cukup besar ini apabila tidak dijaga dan ditampung dalam suatu instrumen akan menyebabkan tekanan pada rupiah. Selain Fasbi, BI juga akan kembali menerapkan lelang instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 9 bulan. SBI dengan tenor 9 bulan ini sebelumnya ditutup oleh BI karena sepi peminat.

Namun, saat ini BI melihat instrumen dengan tenor yang lebih panjang sangat penting untuk menambah pasokan valuta asing (valas). “Apalagi kalau 9-12 bulan itu bisa dibeli oleh asing sehingga bisa memberikan outlet asing,” terangnya. Saat ini SBI yang ada adalah tenor jangka pendek seperti 1 dan 3 bulan.

 

Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Likuiditas perbankan yang tercermin dari Loan to Deposito Ratio (LDR) membaik pada lima bulan pertama tahun ini. Secara keseluruhan, berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia, rasio likuiditas perbankan tercatat sebesar 88,72% atau mengendur ketimbang akhir tahun lalu yang berkisar 89,42%.

Likuiditas bank BUKU 2, misalnya, yang menunjukkan perbaikan paling positif. LDR bank BUKU 2 tadinya mencapai 101,72% pada Desember 2014 lalu membaik menjadi 84,18% hingga Mei 2015. Diikuti oleh bank BUKU 1, yakni dari 85,11% menjadi 76,20% pada periode yang sama.

Sementara, bank BUKU 4 mengalami peningkatan lumayan kentara dari sebesar 80,73% menjadi 85,11%. Sedangkan, LDR bank BUKU 3 nyaris mandek di posisi saat ini 96,36% atau tercatat paling tinggi di antara kelompok bank lainnya.

Harap maklum, penyaluran kredit bank BUKU 3 sepanjang Januari – Mei 2015 ini tercatat tumbuh paling tinggi di antara kelompok bank lainnya. Yakni, sebanyak 15,2% atawa menjadi Rp 1.427 triliun. Sementara, dana pihak ketiganya meningkat 16,7% mencapai Rp 1.468 triliun

Berbeda dengan kondisi bank BUKU 2 di mana penyaluran kreditnya turun lebih besar, yaitu 19,7% dibandingkan dengan perlambatan pertumbuhan DPK yang negatif 3,3%.

http://keuangan.kontan.co.id/news/likuiditas-bank-buku-3-paling-ketat
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA kontan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyusun rancangan peraturan atau RPOJK mengenai kewajiban pemenuhan rasio kecukupan likuiditas bank atau liquidity coverage ratio (LCR).

Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK, Nelson Tampubolon menuturkan, industri dan juga pemangku kepentingan sudah di mintakan pendapat terkait aturan ini.

Seperti halnya permodalan, perhitungan rasio likuiditas diperlukan untuk mengukur level minimum likuiditas yang harus dikelola oleh bank dan disesuaikan dengan standar internasional yang berlaku, yaitu Basel III: Liquidity Coverage Ratio and Liquidity Risk Monitoring Tools.

Liquidity Coverage Ratio adalah perbandingan antara High Quality Liquid Assets (HQLA) dengan total arus kas keluar bersih (net cash outflow) selama 30 hari ke depan dalam skenario krisis.

Di asumsikan 30 hari karena bank telah dapat melakukan tindakan-tindakan perbaikan yang semestinya atau bank telah berhenti beroperasi dengan cara yang wajar.

OJK memiliki kewenangan untuk menetapkan LCR yang lebih besar dari kewajiban pemenuhan LCR jika suatu bank membutuhkan likuiditas yang lebih besar. “Jadi dalam jangka waktu jangka pendek itu, tersedia likuiditas yang siap pakai kalau ada tekanan,” kata Nelson kepada KONTAN, Senin (10/8).

Aturan LCR ini akan berlaku bagi bank dengan kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 4 terlebih dahulu di 2015.

Nelson mengatakan OJK telah memulai assessment LCR sejak tahun lalu. Dan hasilnya, perbankan di Indonesia dinilai memiliki pemenuhan likuiditas yang baik. Dalam assassmentnya, OJK memantau tingkat keamanan likuiditas di perbankan BUKU 4 dan BUKU 3. Pasalnya dua kategori bank ini merupakan market player di industri perbankan.

“Jadi kami utamakan terlebih dahulu BUKU 4 dan BUKU 3 karena biasanya mereka punya likuiditas banyak,” ucapnya.

Editor: Hendra Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Memasuki kuartal III/2015, kalangan bankir kian dalam menginjak rem  untuk menahan laju peningkatan rasio kredit bermasalah mengingat kondisi ekonomi yang dinilai belum meningkat secara optimal.

Sementara itu, bankir meyakini kondisi likuiditas masih akan melanjutkan pelonggaran  meski proyeksi kenaikan suku bunga acuan The Fed masih membayangi.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Budi Gunadi Sadikin mengatakan pada sisa akhir tahun ini, pertumbuhan ekonomi diprediksi belum akan terakselerasi secara maksimal. Apalagi, harga komoditas masih terus turun dan ekonomi China belum menunjukkan perbaikan.

Mengacu pada proyeksi tersebut, Budi menjelaskan pihaknya lebih memilih langkah konservatif dengan menambah alokasi pencadangan.

“Sehingga kami tidak ingin profitnya besar, karena belum tentu membaik pada September. Jadi kami lihat bank mesti jago mengerem sehingga kredit macet enggak naik,” jelas Budi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pada paruh pertama tahun ini, Bank Mandiri memilih untuk meningkatkan provisi sebesar 40,7% menjadi Rp3,99 triliun. Di periode yang sama, Bank Mandiri mencatatkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 2,43% atau naik 28 basis poin (bps) dari 2,15% pada kuartal IV/2014. Sementara, secara tahunan, rasio tersebut naik 20 bps dari 2,23%.

Dari sisi likuditas, Budi mengakui ada pengetatan pada pertengahan tahun lalu. Namun, dalam sebulan terakhir, kondisi tersebut mulai membaik. Budi pun optimistis pelonggaran tersebut tetap berlangsung di sisa akhir tahun ini. Proyeksi pembaikan likuiditas ini pun, lanjutnya, telah memperhitungkan rencana kenaikan suku bunga The Fed.

“Walaupun likuiditas lebih baik, tapi kalau ekonomi belum naik, kami tetap hati-hati menyalurkan kredit. Kami pilih proyek yang aman yakni proyek pemerintah,” kata Budi.

Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Rico Rizal Budidarmo mengatakan dengan memasukkan proyeksi kenaikan Fed Fund Rate pada tahun ini, pihaknya tetap tak melihat adanya tekanan pada likuiditas perseroan. Apalagi, porsi dana pihak ketiga (DPK) emiten berkode saham BBNI ini masih didominasi oleh dana murah (current account and savings account/CASA) yang mencapai 63,2% .

“Kami lihat likuiditas tidak ada tekanan, yang kami fokuskan mengenai kualitas aset,” ujar Rico.

Untuk menjaga kualitas aset, Rico menuturkan pihaknya berupaya menekan suku bunga agar debitur tak kian terbebani. Adapun, hingga akhir tahun nanti, BNI diproyeksikan bakal mencatatkan NPL di posisi 2,6% ditopang relaksasi kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dari laporan keuangan BNI per Juni 2015, NPL gross tercatat sebesar 2,98% atau naik 98 bps dari 2% pada akhir Desember 2014. Adapun, secara tahunan, posisi tersebut naik 79 bps dari 2,19% pada Juni 2014.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D. W. Martowardojo mengakui rasio kredit bermasalah industri perbankan secara nasional mengalami peningkatan ke posisi 2,6%. “Tapi itu gross. Secaranetto, NPL perbankan di bawah 1,4%.  Ini kondisi yang perlu diperhatikan tapi masih baik,” ungkap Agus.

Dia juga menuturkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2015 belum mengalami peningkatan signifikan dibanding kuartal sebelumnya. Namun, dengan adanya realisasi anggaran pemerintah pada semester II/2015, dinilai Agus bakal menyumbang pergerakan ekonomi.

Kendati demikian, pada paruh kedua tahun ini, ketidakpastian global dinilai masih membayangi kondisi ekonomi dalam negeri. “BI melihat Fed Fund Rate masih akan naik pada September dan perkembangan di China juga masih diperhatikan. Jadi ketidakpastian masih tinggi di tingkat global,” kata Agus.

Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto juga menilai kondisi NPL bank masih aman. Pasalnya, dia melihat bankir sangat berhati-hati dalam menjaga NPL.

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan daftar nama 50 konglomerasi lembaga keuangan yang akan mereka awasi.

Nelson Tampubolon, Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan, mengatakan, semua konglomerasi keuangan akan memperoleh pengawasan yang sama, meskipun mereka memiliki aset yang berbeda.

“Prinsip pengawasannya sama saja. Kami meminta entitas utama harus tanggung jawab membangun sistem manajemen risiko dan GCG dengan kualitas yang sama dengan induknya,” kata Nelson, kepada Kontan.

Berikut adalah 50 entitas keuangan dalam pengawasan terintegrasi OJK :
1.      Grup Mandiri
2.      Grup BRI
3.      Grup BCA
4.      Grup BNI
5.      Grup Astra Permata
6.      Grup CIMB Niaga
7.      Grup Danamon
8.      Grup Panin
9.      Grup BII
10.   Grup BTMU
11.   Grup Sumitomo
12.   Grup HSBC
13.   Grup OCBC
14.   Grup UOB
15.   Grup Bukopin
16.   Grup Mega
17.   Grup BJB
18.   Grup DBS
19.   Grup Citibank
20.   Grup Standard Chartered
21.   Grup Muamalat
22.   Grup Sinar Mas
23.   Grup Mizuho
24.   Grup JP Morgan
25.   Grup Oto Multiartha
26.   Grup Deutsche Bank
27.   Grup Commonwealth
28.   Grup Artha Graha
29.   Grup Victoria
30.   Grup AJB (Asuransi Jiwa Bumiputera)
31.   Grup Resona
32.   Grup MNC
33.   Grup Askrindo
34.   Grup Recapital
35.   Grup BNP Paribas
36.   Grup Indomobil Finance Indonesia
37.   Grup Mitsubishi UFJ Lease & Finance
38.   Grup Index
39.   Grup Chandra Sakti Utama Leasing
40.   Grup AXA Financial
41.   Grup Danareksa
42.   Grup BOA
43.   Grup Agris
44.   Grup Equity Life
45.   Grup Sun Life
46.   Grup Pro Car International Finance
47.   Grup Mitraniaga
48.   Grup Batavia Prosperindo
49.   Grup Artos
50.   Grup Mitra Dana Putra Utama
(Nina Dwiantika)

JAKARTA kontan. Tingkat bunga deposito di Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Central Asia (BCA) sudah menurun dibanding tahun lalu. Tapi, bunga yang lebih rendah ini  tak mampu mengerem pertumbuhan simpanan deposito di kedua bank raksasa tersebut.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2015, deposito BRI telah mencapai Rp 255,79 triliun atau tumbuh 29,45% ketimbang April tahun lalu atau secara year on year (yoy). Angka deposito pada April tahun lalu hanya tumbuh 11,22% secara yoy menjadi Rp 197,59 triliun.

Pertumbuhan deposito BRI ini jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan dana murah giro dan tabungan (CASA). CASA BRI mencapai Rp 298,69 triliun atau tumbuh hanya 0,11% yoy pada April 2015. Tahun lalu pertumbuhan CASA mencapai 19,77% menjadi Rp 298,35 triliun.

Budi Satria, Sekretaris Perusahaan BRI mengatakan, pertumbuhan deposito yang tinggi merupakan antisipasi konservatif BRI sebagai respons atas kondisi likuiditas yang ketat. “Hal ini terlihat pada posisi LDR BRI per Juni yang telah mencapai 94% dibandingkan dengan rata-rata LDR industri yang saat ini mencapai sekitar 90%,” kata Budi kepada KONTAN, Selasa (16/6).

Tapi secara bulanan, posisi deposito BRI menurun pada periode Maret-April. “BRI melihat bahwa pertumbuhan pinjaman saat ini tidak setinggi yang diharapkan, sehingga saat ini BRI lebih berusaha untuk meningkatkan komposisi CASA,” ujar Budi.

Setali tiga uang, pertumbuhan deposito di BCA juga tinggi disebabkan selisih bunga yang menarik dibanding bunga CASA. “Perbedaan bunga deposito dengan CASA sangat besar sehingga nasabah yang sedang tidak membutuhkan uang untuk bisnis akan menempatkan pada deposito,” kata Jahja Setiatmadja, Presiden Direktur BCA.

Jahja mengakui, melemahnya bisnis pada awal tahun ini menyebabkan perputaran dana melambat. Akibatnya, pertambahan CASA juga melambat. “Sementara, bunga deposito terus kami sesuaikan, diturunkan sedikit-sedikit untuk lebih mengatur biaya dana,” kata dia.

Berdasarkan data OJK per April 2015, deposito BCA mencapai Rp 110,02 triliun atau tumbuh 18,17% yoy. Sementara pada April 2014 deposito mencapai Rp 93,10 triliun atau tumbuh 35,93% yoy.

Walau melambat, pertumbuhan deposito BCA tetap lebih tinggi dibanding CASA yang tumbuh 6,04% secara yoy. Per April 2015 CASA BCA mencapai Rp 334,42 triliun. Sementara, pada April 2014 CASA BCA mencapai Rp 315,35 triliun atau tumbuh 4,66% secara yoy.

Editor: Yudho Winarto

Bisnis.com, BALI— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan pelaku industri keuangan tidak panik dalam menghadapi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan yang mencapai 2,3% menjadi 4.899,88 atau di bawah level 5.000 pada penutupan perdagangan pada Selasa (9/6/2015).

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D.Hadad mengatakan penurunan kinerja ekonomi memang sedang terjadi secara global atau tidak hanya di Indonesia.

“Sekarang waktunya para bankers, para pegiat industri keuangan melihat ini secara dekat, perlu alert, tapi tidak perlu panik,” katanya ketika ditemui di Nusa Dua, Bali.

Muliaman menilai penurunan IHSG yang sempat mencapai 3% sebelum pasar ditutup itu cukup signifikan. Menurutnya, sekarang merupakan kesempatan untuk melihat kembali pilihan-pilihan lain pertumbuhan ekonomi berbasis perekonomian dalam negeri.

“Ini kan global, fenomenanya tidak domestik, saya kira harus dilihat apakah ada tanda-tanda Indonesia kelainan sendiri atau nggak. Hari ini kita lihat kembali untuk memperbaiki fundamental,” katanya.

Seperti diketahui, IHSG ditutup melemah 2,30% ke level 4.899,88 atau level paling rendah sejak 2 Juli 2014 ketika IHSG ditutup di level 4.888,74.

BIMA kontan. Kelesuan ekonomi berimbas buruk bagi industri perbankan. Tak hanya membuat pertumbuhan kredit melambat. Rasio kredit bermasalah atawa non performing loan (NPL) pun berisiko meningkat.

Bahkan, Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Irwan Lubis mengungkapkan, satu bank kini masuk kategori bank dalam pengawasan intensif OJK gara-gara NPL bank itu melejit.

OJK tak menyebut identitas bank tersebut. Hanya saja, bani itu masuk golongan bank umum kegiatan usaha (BUKU) I. “Bank ini masuk pengawasan intensif karena NPL-nya di atas ketentuan, atau di atas 5%,” kata Irwan di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (8/6). Akibat NPL membengkak, modal bank juga tergerus di bawah ketentuan.

OJK sudah meminta bank tersebut untuk menekan NPL dan menambah modal. Berdasarkan hitungan OJK, dengan kenaikan NPL 3%, maka rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) minimum yang seharusnya 8% ditambah menjadi 11%.

CAR bank itu sempat di bawah 11%, namun kini sudah kembali mencukupi karena baru diinjeksi modal senilai Rp 100 miliar. “Tapi statusnya masih di pengawasan intensif karena kami tunggu perkembangan NPL,” jelas Irwan.

Asal tahu saja, bank yang masuk kategori pengawasan intensif adalah bank bermasalah yang berpotensi membahayakan kelangsungan usaha. Di tahap ini, OJK meminta bank melaporkan hal-hal tertentu secara berkala, sekaligus memerintahkan bank melakukan tindakan strategis, semisal suntikan modal tambahan dan mengganti manajemen bank.

OJK pun meminta Bank untuk menyusun rencana tindakan sesuai permasalahan yang dihadapi. Dus menempatkan pengawas apabila diperlukan.

Bank lain perbaiki diri

Meski bukan katagori bank yang dimaksud OJK, Bank Pembangunan Daerah (BPD) DKI Jakarta juga tengah terkendala dengan persoalan NPL dan berupaya keras memperbaiki kondisi ini. Sebab, Bank DKI mencatat kenaikan NPL gross menjadi 4,81% per kuartal I–2015 dari setahun lalu di 2,65%. NPL net pun melonjak menjadi 3% dari sebelumnya 1,58%.

“Kenaikan kredit macet ini berasal dari kredit korporasi dan komersial,” ungkap Eko Budiwiyono, Direktur Utama Bank DKI Jakarta. Eko mengaku telah menyusun sejumlah rencana untuk memperbaiki NPL seperti membentuk tim task force dan menambah pencadangan atau provisi.

Bank DKI juga mempercepat penjualan atau lelang jaminan untuk kredit non produktif dan kredit produktif yang tidak dapat direstrukturisasi.

Editor: Hendra Gunawan

 

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan likuiditas perekonomian M2 (uang beredar dalam arti luas) pada April 2015 mengalami perlambatan.

Pada April 2015, posisi M2 tercatat sebesar Rp4.274,9 triliun atau tumbuh 14,9 persen (yoy). Jumlah ini melambat dibandingkan pertumbuhan Maret 2015 yang sebesar 16,3 persen (yoy).

Mengutip dalam laman BI, Jumat, 5 Juni, berdasarkan komponennya, perlambatan pertumbuhan M2 tersebut bersumber dari komponen M1 (uang kartal dan giro rupiah) maupun komponen uang kuasi (simpanan berjangka dan tabungan baik dalam rupiah maupun valas serta simpanan giro valuta Asing).

M1 dan uang kuasi masing-masing tumbuh 9,0 persen (yoy) dan 16,7 persen (yoy), melambat dari 12,2 persen (yoy) dan 17,6 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

“Berdasarkan faktor yang memengaruhi, melambatnya pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh turunnya pertumbuhan kredit yang disalurkan perbankan dan kontraksi operasi keuangan Pemerintah Pusat (Pempus),” demikian disebutkan dalam laman BI.

Pada April 2015, kredit yang disalurkan oleh perbankan mencapai Rp3.747,3 triliun atau tumbuh 10,3 persen (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,1 persen (yoy).

Sementara itu, operasi keuangan pemerintah juga mengalami kontraksi yang tercermin dari pertumbuhan tagihan bersih kepada Pempus sebesar 32,9 persen (yoy), turun dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 38,2 persen (yoy).

Suku bunga simpanan dan kredit perbankan mengalami penurunan. Pada April 2015, suku bunga deposito berjangka 1, 3, dan 6 bulan masing-masing tercatat sebesar 7,96 persen, 8,59 persen, dan 8,98 persen, turun dibandingkan 8,31 persen, 8,81 persen, dan 9,11 persen pada bulan sebelumnya.

Sedangkan rata-rata suku bunga kredit juga mulai mengalami sedikit penurunan dari 12,99 persen menjadi 12,98 persen, mengikuti tren penurunan suku bunga simpanan. (Gervin Nathaniel Purba/MTVN)
AHL

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/06/05/402145/pertumbuhan-kredit-turun-jumlah-uang-beredar-melambat
Sumber : METROTVNEWS.COM

 

Bisnis.com, JAKARTA–Kelompok industri bank pembangunan daerah (BPD) mencatatkan bunga deposito yang meningkat sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan Suku Bunga Simpanan Berjangka Rupiah Menurut Kelompok Bank yang dirilis Bank Indonesia Maret 2015, seperti yang dikutip Bisnis.com, Rabu (3/6/2015), bunga deposito bertenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun masing-masing mencapai 8,18%, 8,73%, 9,19% dan 9,29%.

Kondisi itu, mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan bunga deposito industri perbankan yang mencatatkan penurunan.

Sebagai pembanding, pada Februari 2015, bunga deposito BPD untuk tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan masing-masing 8,12%, 8,55%, 9,17% dan 9,19%.

Adapun bunga deposito industri perbankan untuk tenor 1 bulan pada Maret 2015 mencapai 8,31% turun dari posisi 8,36% pada Februari 2015, untuk tenor 3 bulan 8,81% turun dari posisi 8,94% dari bulan sebelumnya. Sedangkan tenor 6 dan 12 bulan mencapai 9,11% dan 8,92% turun dari bulan sebelumnya yang sempat mencapai 9,21% dan 8,87%.

JAKARTA – Otoritas Indonesia dinilai tidak perlu melakukan strest test perbankan untuk nilai tukar rupiah hingga Rp 25.000 per dolar AS seperti disarankan ekonom dari Nanyang Business School Singapura Lee Boon Keng.

“Pemerintah harus tetap percaya diri menerapkan stress test yang berjenjang terhadap rupiah, yaitu Rp 12.500, Rp 13 ribu, dan Rp 15 ribu. Pemerintah harus percaya diri dan tidak usah menggubris hal yang bisa menganggu kepercayaan pasar,” ujar Chief Economist Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ryan Kiryanto kepada Investor Daily, Senin (1/6).

Sebelumnya, di sela seminar bertajuk Indonesia Financial and Economic Conference, Kamis (28/5), Lee Boon Keng menyatakan, level nilai tukar yang dipatok dalam stress test seharusnya bisa dinaikkan hingga Rp 25.000 karena Rp 15.000 –seperti yang saat ini berlaku– tidak cukup menggambarkan kesiapan sistem keuangan Indonesia dalam menghadapi krisis.

Dia juga menekankan, perekonomian Indonesia harus bersiap menghadapi hal-hal di luar ekspektasi untuk meminimalisasi efek guncangan yang diakibatkan oleh pembalikan dana akibat pengaruh kondisi moneter global.

Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan kurs tengah BI, rupiah ditransaksikan di posisi Rp 13.230 per dolar AS pada Senin (1/6), atau melemah dari posisi Rp 13.211 pada Jumat (29/5) dan Rp 13.205 pada Kamis (28/5).

Ryan menuturkan, regulator harus mengoptimalkan Forum Komunikasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), memantau perkembangan pasar khususnya pergerakan rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). “Sehingga bisa dilakukan tindakan preventif maupun kuratif agar pasar keuangan dan kondisi perekonomian tetap terkendali,” jelas dia.

Senada, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menolak patokan stress test rupiah dinaikkan sampai Rp 25 ribu. Pasalnya, sepanjang sejarah Indonesia, nilai rupiah terendah hanya berada di kisaran Rp 17.000 yaitu pada 20-21 Januari 1998.

“Pada saat itu, ekonomi Indonesia sedang jelekjeleknya, sedang krisis, ditambah kepercayaan terhadap Presiden Soeharto sedang dalam posisi nadir,” tegas dia.

Saat ini kondisi ekonomi tidak seburuk 1998, yaitu masih bisa tumbuh di angka 5%. Padahal pada 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia -13,7% dengan utang luar negeri US$ 130 miliar dan cadangan devisa US$ 21 miliar.

Menurut Tony, yang juga menjabat komisaris independen PT Bank Permata Tbk, kendati kepercayaan terhadap Pemerintahan Joko Widodo terus menurun, tidaklah seburuk persepsi masyarakat terhadap Soeharto pada 1998. “Jadi, bagaimana mungkin rupiah bisa Rp 25.000? Itu tidak berdasar,” tegas dia.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiatmadja juga berkeyakinan rupiah tidak akan melemah hingga level 25.000. Dia pun menilai daya tahan ekonomi dan perbankan Indonesia saat ini cukup baik.

“Kalau orang Singapura yang bicara, ada kepentingan kalau masyarakat kita khawatir, maka dananya akan diparkir di sana,” terang dia.

Jahja pun menilai stress test yang telah dilakukan OJK dan BI hingga level Rp 15.000 per dolar sudah lebih cukup untuk menggambarkan daya tahan perekonomian maupun stabilitas keuangan Indonesia saat ini.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja juga menilai, stress test pelemahan rupiah hingga level Rp 25.000 terlalu ekstrem.

Menurut dia, stabilitas pada industri keuangan, khususnya perbankan, relatif terjaga seperti terlihat dari posisi CAR perbankan yang kuat maupun tingkat NPL yang masih relatif terjaga serta pengawasan otoritas yang ketat. (gtr/nti/afp/bloomberg/wsj/sn/jn)

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan laba bersih industri perbankan hingga kuartal I 2015 mencapai 4,24% (year-on-year) menjadi Rp29,63 triliun.

Berdasarkan data statistik perbankan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan laba bersih perbankan masih terbatas karena kenaikan beban bunga menunjukkan tren yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan bunga.
Per Maret 2015, beban bunga mencapai Rp85,728 triliun atau naik 27,57% sedangkan pendapatan bunga tumbuh 18,86% menjadi Rp157,866 triliun.
Berdasarkan kelompok bank, hanya kelompok bank persero dan bank pembangunan daerah (BPD) yang mencatat kenaikan laba di atas industri sedangkan laba bank asing tumbuh di bawah industri.
Kelompok bank persero hingga kuartal I 2015 mencatat perolehan laba sebesar Rp14,765 triliun atau naik 12,95%.
Pertumbuhan ini disusul kelompok BPD yang meraup laba sebesar Rp3,195 triliun atau tumbuh 6,39%. Sementara itu, bank asing mencatat kenaikan laba 1,11% menjadi Rp2,622 triliun.
Sementara itu, kelompok bank swasta dan campuran mengalami penurunan pertumbuhan laba.
Kelompok bank swasta devisa dan nondevisa masing-masing mencatat penurunan sebesar 4,82% dan 11,85%.
Adapun kelompok bank campuran mencatat penurunan paling dalam sebesar 27,44% menjadi Rp904 miliar.

 

Bisnis.com,JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan optimistis rasio kredit bermasalah bank tak akan menyentuh posisi 3% pada akhir tahun nanti.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad menuturkan keyakinan bahwa non-performing loan (NPL) industri perbankan tak akan menyentuh posisi 3% tersebut, disumbang proyeksi pembaikan pertumbuhan ekonomi mulai kuartal II/2015.

“Tidak lah , karena kreditnya juga tumbuh. Saya kira kalau geliat ekonomi bagus, NPL akan berkurang,” tutur Muliaman di Jakarta, pekan ini.

Muliaman juga melihat kalangan perbankan telah melakukan mitigasi risiko dengan membentuk pencadangan yang mencukupi. “Sehingga semua sudah dipersiapkan,” ujar dia.

Rasio kredit bermasalah yang masih berada jauh di bawah level 5%, lanjut Muliaman, juga menunjukkan tak ada hal yang perlu dikhawatirkan terkait NPL industri ini. Muliaman memang mengakui pada tiga bulan pertama tahun ini, kredit yang disalurkan industri perbankan menunjukkan perlambatan.

Namun, dia meyakini pertumbuhan kredit perbankan akan kembali melaju pada kuartal II/2015 disumbang belanja pemerintah,  sehingga NPL pun tak melaju tinggi.

JAKARTA. Bank Indonesia mencatat total simpanan masyarakat di bank pada Maret 2015 mencapai Rp4.105,2 triliun atau tumbuh 16,3% dari bulan Februari senilai Rp4.067,8 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara mengatakan peningkatan tersebut terutama bersumber dari giro dan tabungan yang masing-masing tercatat Rp901,1 triliun dan Rp1.216,2 triliun, atau tumbuh 19,0% dan 4,2% (yoy).

“Pada bulan Februari 2015, giro Rp852,3 triliun dan tabungan Rp1.230,5 triliun,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (8/5/2015).

Namun, simpanan dalam bentuk deposito pada Maret 2015 tercatat sebesar Rp1.987,9 triliun atau tumbuh melambat dari 26,1% (yoy) menjadi 23,9% (yoy).

“Simpanan deposito pada Februari capai Rp1.985 triliun atau tumbuh 26,1% dari bulan Januari. Yang Maret ini tumbuh melambat,” katanya.

Tirta menambahkan DPK dalam bentuk rupiah pada bulan Maret mencapai Rp3.423,4 triliun atau tumbuh 15,3% dari Februari yang hanya Rp3.398,7 triliun.

Untuk DPK dalam bentuk valuta asing atau valas mencapai Rp681,8 triliun atau tumbuh 21,5% dari bulan Februari yang hanya Rp669,1 triliun.

http://finansial.bisnis.com/read/20150508/90/431289/bi-dana-simpanan-masyarakat-di-bank-naik-163-per-maret-2015
Sumber : BISNIS.COM

 

Bisnis.com, JAKARTA – Volume transaksi pasar uang antarbank (PUAB) mencatatkan peningkatkan, meski suku bunga antarbank sempat mengalami  kenaikan.

Dalam Tinjauan Kebijakan Moneter April 2015 yang dirilis Bank Indonesia seperti yang dikutip Bisnis.com, Jumat (1/5/2015), total transaksi PUAB pada Maret 2015 tercatat sebesar Rp11,84 triliun, atau meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya Rp11,12 triliun.

“Kenaikan volume PUAB total lebih dikontribusi oleh kenaikan volume PUAB O/N yang naik dari Rp 6,01 triliun menjadi Rp6,89 triliun,” tulis Bank Indonesia dalam hasil tinjauan tersebut.

Sementara itu, rata-rata tertimbang (RRT) suku bunga PUAB O/N pada Maret 2015 tercatat sebesar 5,93% atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,76%.

BI menilai peningkatan itu bersifat sementara dan tidak mencerminkan keketatan likuiditas. Lalu, pada 1 April 2015, suku bunga PUAB O/N sudah kembali ke 5,71%. Suku bunga operasi moneter tetap stabil dan suku bunga perbankan justru menunjukkan tren menurun.

 

JAKARTA kontan. Kabar baik mulai menghampiri industri perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini, kucuran kredit bank di kuartal I tahun ini bisa mencapai target di kisaran 15%-17%. Angka ini di atas realisasi pertumbuhan kredit tahun 2014 yang sebesar 11,64%.

Tapi, hingga Januari 2015, kredit perbankan masih seret. Berdasarkan data OJK, kredit di akhir Januari 2015 tercatat sebesar Rp 3.634,62 triliun, menyusut 1,95% secara bulanan, ketimbang posisi akhir Desember 2014. Pemicunya, kucuran kredit baru lebih sedikit dari kredit yang lunas.

Menurut Irwan Lubis, Deputi Komisioner OJK Bidang Pengawasan Perbankan, tren menurun di Januari merupakan buntut dari perlambatan ekonomi yang terjadi di tahun lalu. “Di awal tahun pun belum banyak penarikan kredit,” ujar Irwan. Senada dengan OJK, bankir pun lebih optimistis.

Masih lambat

Direktur Keuangan Bank Mandiri Pahala Mansyuri mengungkapkan, pertumbuhan kredit sepanjang kuartal I-2015 sebesar 14%-15%. Angka ini lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 20% di kuartal I-2014. “Tapi kondisi likuiditas membaik,” ungkap Pahala, Minggu (22/3).

Setali tiga uang, Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Budi Satria menjelaskan, secara historis,  penyaluran kredit di kuartal pertama memang selalu lebih rendah. Tapi, Budi bilang, kredit usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta ritel BRI tumbuh sesuai target di sepanjang awal tahun, yakni sebesar 12%-15%.

Direktur Ritel Bank Internasional Indonesia (BII) Lani Darmawan mengungkapkan, kredit segmen ritel dan UMKM membaik di awal tahun ini, ketimbang tahun lalu. Tapi, baki kredit konsumsi yang terdiri dari kendaraan bermotor (KKB) dan kredit pemilikan rumah (KPR) BII masih tumbuh kurang dari 10%.

“Pertumbuhan kredit kuartal I lebih tinggi dari kuartal IV-2014, tapi masih menunjukkan perlambatan,” ujar dia. Selain kredit konsumsi, penghambat laju kredit yakni stagnasi kredit korporasi di BII.

Sedikit berbeda, Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja menyatakan, hingga pertengahan Maret 2015, pertumbuhan kredit secara membaik dibanding kuartal 1-2014. “Perbaikan terjadi merata di seluruh segmen, kecuali kredit segmen konsumer,” jelas dia.

Meski membaik, penyaluran kredit OCBC NISP masih di bawah target yang dipatok perseroan ini. Menurut Parwati, kucuran kredit di kuartal pertama 2015 sulit tumbuh tinggi lantaran mengekor siklus bisnis secara umum yang masih wait and see.

Editor: Yudho Winarto

 

JAKARTA ID – Kalangan perbankan optimistis margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tahun ini stabil, bahkan berpeluang meningkat dibandingkan akhir tahun silam. Dengan NIM yang terjaga pada level 4-6%, mereka yakin proyeksi pertumbuhan laba bersih dan kredit masing-masing sebesar 15% dan 16% pada 2015 bakal tercapai. 

Optimisme ini muncul di tengah imbauan regulator dan pemerintah agar perbankan menurunkan suku bunga pinjaman, seiring kebijakan Bank Indonesia (BI) menurunkan BI rate dari 7,75% menjadi 7,50% pada Februari lalu. Proyeksi kinerja perbankan tersebut sudah memperhitungkan perubahan sejumlah indikator makro ekonomi, termasuk inflasi akibat fluktuasi harga minyak yang berdampak pada kenaikan atau penurunan harga BBM bersubsidi.

Sementara itu, depresiasi rupiah hingga menembus Rp 13.000 per dolar AS tidak menaikkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank. Hasil stress test Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan daya tahan bank cukup kuat menghadapi depresiasi rupiah. Bahkan saat ini sejumlah bank memiliki likuiditas valas berlebih serta mempunyai long position (posisi beli) dolar AS.

Hal itu terungkap dalam wawancara Investor Daily dengan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja, Direktur Keuangan PT Bank Danamon Indonesia Tbk Vera Eve Lim, Direktur Utama PT Bank DKI Eko Budiwiyono, serta Direktur Treasury dan Asset Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Imam Nugroho Soeko.

Hal senada dikemukakan Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Budi Gunadi Sadikin, Direktur Keuangan Bank Mandiri Pahala Mansury, Direktur Keuangan PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Thilagavathy Nadason, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Budi Satria, dan Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja. Mereka dihubungi terpisah di Jakarta, pekan lalu.

Berdasarkan data OJK, bank umum pada 2014 mencetak laba bersih Rp 112,16 triliun, tumbuh 5,11% dibandingkan 2013 yang mencapai Rp 106,71 triliun. Pertumbuhan itu melambat signifikan dibandingkan 2013 sebesar 14,95% (year on year/yoy). Tahun lalu, bank umum menyalurkan kredit Rp 3.674,3 triliun, tumbuh 11,58% (yoy) dibandingkan 2013.

Penyaluran kredit itu pun melambat dibandingkan 2013 sebesar 21,61%. Bersamaan dengan itu, NIM bank tahun lalu turun dari 4,89% menjadi 4,23%. Adapun penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) bank umum pada 2014 tumbuh 12,29% (yoy) menjadi Rp 4.114 triliun. Sedangkan rasio kredit terhadap dana simpanan (loan to deposit ratio/LDR) bank umum turun dari 89,7% menjadi 89,42%.

OJK memperkirakan laba bank pada 2015 mencapai Rp 129 triliun, tumbuh sekitar 15% sejalan dengan proyeksi kenaikan NIM menjadi 5,76% dan per tumbuhan kredit 16,43%. Tahun ini, return on equity (ROE) perbankan diproyeksikan mencapai 12,61% dengan return on asset (ROA) sekitar 2,04% dan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 75,38%.

Biaya Dana Turun
Direktur Keuangan Bank Danamon Vera Eve Lim mengungkapkan, perseroan sudah menurunkan suku bunga deposito pada Januari 2015. Pascapenurunan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) pada Februari lalu, Bank Danamon juga mengkaji untuk kembali menurunkan suku bunganya.

“Pasti akan diturunkan, karena biaya dana (cost of fund) sudah mulai turun. Tetapi, saat ini sukuk negara ritel menawarkan kupon 8,5%. Jadi, bunga deposito juga nggak bisa jauh di bawah itu, kami sama-sama bersaing,” ujar dia.

Menurut Vera, Bank Danamon masih melihat perkembangan suku bunga kredit. NIM Bank Danamon diperkirakan terjaga di level 8,4% pada semester I-2015.

Budi Gunadi Sadikin optimistis NIM Bank Mandiri tahun ini mencapai 6%, tumbuh 10 bps dibandingkan realisasi tahun lalu pada level 5,9%. Perseroan pun tengah mengkaji penurunan suku bunga. “Suku bunga kami akan turun, tetapi NIM tahun ini tetap 6%. Masih bisa, karena cost of fund perseroan kan turun juga,” ujar dia.

Penurunan suku bunga, kata Budi, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap NPL. “Kalau suku bunga kredit turun, kemungkinan pembayaran kredit lancar lebih tinggi. Walaupun tanpa menaikkan bunga, mungkin tahun ini NIM kami bisa lebih tinggi,” papar dia.

Eko Budiwiyono menjelaskan, NIM Bank DKI berada pada level 6,9% saat ini. Perseroan memproyeksikan sepanjang tahun ini NIM Bank DKI sedikit meningkat dibandingkan tahun silam.

Terkait penurunan BI rate, Eko mengatakan, Bank DKI memerlukan jeda waktu tiga bulan untuk menyesuaikan suku bunga. Di sisi lain, perseroan juga ingin terlebih dahulu melihat reaksi pasar sebelum menurunkan suku bunga. “Tetapi, penurunan itu nggak terlalu besar pengaruhnya terhadap NIM,” papar dia.

Di sisi lain, Direktur Keuangan BII Thilagavathy Nadason menuturkan, penurunan BI rate akan berdampak pada menurunnya biaya dana yang diperkirakan mencapai 10 bps tahun ini.

Thila menambahkan, NIM BII pada 2015 kemungkinan stabil jika kondisi BI rate stagnan hingga akhir tahun ini. Namun, jika kembali terjadi gejolak dan BI kembali menaikkan BI rate, NIM perseroan bisa kembali turun. “Best scenario NIM akan tetap. Sedangkan untuk worst scenario, NIM akan turun 10-15 bps dari tahun lalu,” tutur dia.

Hal senada disampaikan Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja. Menurut dia, penurunan BI rate tidak serta-merta mendorong peningkatan NIM Bank OCBC NISP tahun ini. Soalnya, suku bunga pinjaman juga harus berangsur-angsur turun. “Kami perkirakan besaran NIM tahun ini tidak berbeda jauh dibandingkan tahun lalu sekitar 4,1%,” ucap dia.

Turun Maret
Bersamaan dengan itu, BRI menurunkan suku bunga simpanan dan pinjaman per 1 Maret 2015. Menurut Sekretaris Perusahaan BRI Budi Satria, penurunan suku bunga tersebut merupakan respons terhadap penurunan BI rate serta imbauan pemerintah dan regulator agar bank menurunkan suku bunga kredit.

Budi menjelaskan, perseroan bulan ini menurunkan suku bunga simpanan 0,75% (75 bps). Adapun untuk bunga kredit, BRI menurunkannya 25 bps di semua sektor. Penurunan suku bunga kredit ini tidak akan mengganggu NIM perseroan. Itu karena penurunan suku bunga kredit bakal diimbangi penurunan suku bunga simpanan, yang berimbas pada penurunan biaya dana.

Direktur Treasury dan Asset Management BTN Imam Nugroho Soeko mengemukakan, BTN juga menurunkan bunga kredit per Maret 2015. Pascapenurunan BI rate, BTN menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) bervariasi sebesar 50-75 bps, tergantung tipe kredit.

BTN, kata Imam, menargetkan NIM tahun ini berkisar 5,2-5,4%. Perseroan optimistis bisa mencapai target tersebut karena kondisi makro ekonomi dan likuiditas membaik.

Capping Deposito
Di sisi lain, Kepala Departemen Pengembangan Kebijakan Strategis OJK Imansyah menjelaskan, dalam menetapkan batas atas (capping) suku bunga deposito, OJK selama ini menggunakan BI rate, yaitu maksimal 2,25 bps di atas BI rate. Dengan adanya penurunan BI rate pada Februari lalu, OJK akan memperhitungkan lagi capping suku bunga deposito.

Imansyah mengakui, penurunan BI rate akan langsung berimbas pada suku bunga deposito bank. Sedangkan suku bunga kredit memerlukan waktu sebelum turun, karena perbankan terikat kontrak kredit dengan debitor. Selain itu, perbankan perlu memperhitungkan margin sebelum menurunkan suku bunga kredit.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan OJK Irwan Lubis sebelumnya mengungkapkan, bank konvensional maupun syariah memproyeksikan laba bersih tahun ini mencapai Rp 129 triliun. NIM diperkirakan meningkat menjadi 5,76% dan per tumbuhan kredit mencapai 16,43%.

Irwan mengemukakan, tahun lalu OJK mengeluarkan aturan pembatasan suku bunga deposito bagi bank umum kegiatan usaha (BUKU) III dan IV. Penurunan suku bunga deposito yang berimbas pada penurunan biaya dana ini diharapkan mampu mendorong penurunan suku bunga kredit.

Dalam RBB yang disampaikan perbankan pada Januari lalu, OJK sudah mendapat sinyal dari perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit.

Kredit Bermasalah 
Sementara itu, para bankir juga tidak khawatir pelemahan rupiah hingga Rp 13.000 per dolar AS bakal memengaruhi kinerja perbankan. Depresiasi rupiah juga tidak akan mendongkrak NPL, khususnya dari kredit valas.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, OJK sudah melakukan stress test terhadap perbankan dalam menghadapi pelemahan rupiah. Kesimpulannya, daya tahan perbankan cukup kuat untuk mengabsorbsi, karena mayoritas bank memiliki long position dalam dolar AS.

“Artinya, total aset dalam valas lebih besar dibandingkan total kewajiban valas. Jadi, penguatan dolar sebenarnya menguntungkan mereka (bank). Kendati, bank semestinya mencermatinasabah kredit mereka yang kemungkinan terekspos nilai tukar,” ujar dia di Jakarta, Jumat (6/3).

Direktur Utama BCA Jahja Setiatmadja menuturkan, dampak pelemahan rupiah yang paling nyata bagi perbankan adalah kenaikan biaya, terutama untuk belanja teknologi yang umumnya masih impor, sehingga memicu high cost. Sedangkan dampak terhadap kualitas kredit, bagi BCA tidak ada masalah.

Pelemahan rupiah tidak memicu kenaikan NPL karena BCA menerapkan tingkat kehati-hatian yang tinggi.

“Apalagi eksposur kredit valas BCA kecil saja, tidak lebih dari US$ 1,5 miliar, atau 6% dari total portofolio kredit. Yang bahaya itu kalau nasabah pinjam dolar tapi penjualannya rupiah,” kata Jahja. Sedangkan penghimpunan DPK valas hanya US$ 2,7-3,1 miliar.

Pada 2014, rasio NPL BCA relatif rendah, yakni 0,6% untuk NPL gross dan 0,2% untuk NPL nett,” tutur dia.

Chief Economist BCA David Sumual menambahkan, NPL bank akan naik, terutama kredit bagi nasabah yang berpendapatan rupiah namun banyak membeli bahan baku impor menggunakan dolar AS.

Direktur Keuangan dan Kebijakan Strategis Bank Mandiri Pahala Mansury juga mengaku, pelemahan rupiah belum berpengaruh terhadap kinerja Bank Mandiri. Rasio NPL tetap stabil.

Demikian pula pengaruhnya terhadap utang luar negeri Mandiri, tidak signifikan. Pasalnya, utang luar negeri perseroan bertenor pendek dan Mandiri boleh dibilang memiliki dolar berlebih. Namun, pihaknya akan menjaga likuiditas valas, dengan rasio LDR valas mencapai 73%.

Secara terpisah Treasury and Asset Management Director BTN Iman Nugroho Soeko dan CEO PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk Yanto M Purbo menyatakan, depresiasi rupiah tidak berpengaruh terhadap rasio NPL. Apalagi BTN tidak memiliki kredit valas. (nti/th/az/hg)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s