laba bbri neh … 030210_221015

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 18,3 triliun pada akhir kuartal III-2015.

Jumlah itu naik tipis sebesar 1,4 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp 18 triliun.

Dalam penjelasan resminya, Kamis (22/10/2015), tipisnya kenaikan laba bersih itu lantaran perseroan melakukan pencadangan kerugian hingga 150 persen.

Sementara itu rasio kecukupan modal mencapai sebesar 20,6 persen, atau jauh di atas ambang batas ideal yang ditentukan regulator.

“Dengan modal kinerja yang sehat, stabil dan berkelanjutan, BRI optimistis pertumbuhan ke depan jauh lebih baik,” jelas manajemen.

Hingga akhir September 2015, total kredit yang sudah disalurkan oleh Bank BRI sebesar Rp. 518,9 Triliun. Angka tersebut meningkat 11,8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp. 464,2 triliun.

Penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro masih menjadi motor penggerak pertumbuhan kredit dengan kontribusi sebesar 32,8 persen dari total keseluruhan kredit.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kredit mikro yang disalurkan Bank BRI tumbuh 14,7 persen dari sebesar Rp 148,4 triliun menjadi Rp 170,2 triliun, dengan jumlah nasabah 7,6 juta nasabah pada akhir September lalu dari 7,1 juta nasabah setahun sebelumnya.

Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 84,9 persen pada September 2015.

Adapun posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) di Triwulan III tahun 2015 ini tumbuh 12,3 persen year on year mencapai Rp 611,3 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 544,3 triliun.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

 

JAKARTA kontan. Bank Rakyat Indonesia (BRI) akhirnya memberikan konfirmasi atas penurunan kinerja keuangan pada April 2015. Kondisi ini disebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I 2015.

Menurut Budi Satria, Sekretaris Perusahaan BRI, perlambatan kredit BRI terutama dirasakan pada segmen BUMN yang lebih terkait belanja pemerintah melalui BUMN.

“Melihat kondisi Semester I 2014 di mana ekonomi tumbuh di atas 5% dan kredit BRI tumbuh 17,2%, maka kemungkinan pertumbuhan kredit BRI pada Semester I 2015 akan lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Budi kepada KONTAN, Jumat (12/6).

Budi mengakui tidak tertutup kemungkinan BRI akan merevisi target pertumbuhan kredit tahun 2015 jika situasi saat ini terus berlanjut. Untuk itu, BRI akan tetap fokus menggenjot pertumbuhan kredit Mikro dan Kecil.

“Dengan jatuhnya bulan puasa di akhir Semester I 2015, kami harapkan ini bisa menunjang pertumbuhan kredit di dua segmen tersebut,” ujarnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2015, laba bersih yang diraup bank spesialis kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tersebut mencapai Rp 7,41 triliun atau turun 5,12% secara year on year (yoy).

Realisasi tersebut jauh menurun dibanding April 2014. Kala itu laba bersih yang diperoleh mencapai Rp 7,81 triliun atau tumbuh 18,15% secara yoy dibanding April 2013 yang mencapai Rp 6,61 triliun.

Penyaluran kredit oleh BRI juga mengalami perlambatan signifikan di akhir April 2015. Jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp 478,85 triliun atau tumbuh 8,26% secara yoy.

Sementara di akhir April 2014, jumlah kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp 442,29 triliun. Jumlah ini menunjukkan pertumbuhan 19,58% dibanding April 2013 yang mencapai Rp 369,68 triliun.

Editor: Hendra Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Perolehan laba PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk mencatat pertumbuhan double digit, masing-masing 16% dan 11,5%.

Berdasarkan laporan publikasi keuangan masing-masing bank ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tidak diaudit, Mandiri mengantongi laba bersih sebesar Rp7,07 triliun sedangkan BCA sebesar Rp5,23 triliun.

Perolehan laba kedua bank tersebut ditopang pendapatan bunga bersih yang masing-masing tumbuh 10,96% dan 11,9%.

Hingga April 2015, Bank Mandiri menyalurkan kredit sebesar Rp480,04 triliun atau tumbuh 14,3% sedangkan pertumbuhan kredit BCA mencapai 5,7% dengan outstanding sebanyak Rp339,04 triliun

Di lain pihak, laba BRI dan BNI turun masing-masing 5,1% dan 1,4%. Pertumbuhan beban bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan bunga menyebabkan pendapatan bunga bersih kedua bank tersebut tertekan.

Beban bunga BRI hingga April 2015 melonjak 50,8% menjadi Rp9,12 triliun sedangkan pendapatan bunga naik 20% menjadi Rp26,7 T. Ini terjadi karena pertumbuhan kredit BRI hanya mencapai 8,2% sedangkan dana pihak ketiga (DPK) naik 11,8%.

Sementara itu, laba bersih BNI turun tipis karena pendapatan nonbunga turun 9,37% menjadi Rp2,51 triliun. Ini turut menekan laba bank berlogo 46 itu kendati pendapatan bunga bersih tumbuh dua digit sebesar 12,6%.

 

kontan:
Rabu, 03 Februari 2010 | 17:59

KINERJA BRI

Laba Bersih BRI 2009 Naik 15%

JAKARTA Laba bersih BRI tahun 2009 mencatat kenaikan sebesar 10% hingga 15%. Kenaikan laba ini banyak didorong oleh peningkatan penyaluran kredit tahun lalu yang mencapai 22%. Direktur Keuangan BRI Sudaryanto Sudargo mengungkapkan, “Laba tumbuh dengan baik rata-rata peningkatannya antara 10% sampai 15%,” ujarnya usai RDP dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (3/2).

Pencapaian laba tersebut menurun dari tahun 2008 yang mencapai 23% yakni sebesar Rp 5,95 triliun. Untuk tahun 2010, BRI masih akan terus menggenjot kredit minimal di level 20%. Khusus untuk KUR, BRI menargetkan bisa menyalurkan sampai sebesar Rp 8 triliun dari target total KUR yang dipatok pemerintah sebesar Rp 20 triliun tahun ini.

Ruisa Khoiriyah

2009, Laba Bersih BRI Capai 15%
Rabu, 3 Februari 2010 – 16:02 wib

Andina Meryani – Okezone

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada 2009 mencatatkan laba bersih hingga 15 persen. Sementara itu kredit juga tumbuh 22 persen untuk 2009 lalu.

“Laba tumbuh baik di 2009, meningkat rata-rata 10-15 persen. Sementara itu kredit sendiri tumbuh hingga 22 persen,” ujar Direktur Keuangan BRI, Sudaryanto Sudargo, seusai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2010).

Sementara itu, untuk 2010 kredit ditargetkan untuk tumbuh hingga 20 persen. Dengan komposisi 80 persen untuk kredit UMKM dan 20 persen untuk kredit korporasi.

Untuk kredit korporasi, optimisme pertumbuhan dikarenakan banyaknya proyek infrastruktur pemerintah yang sudah memegang komitmen dengan BRI.

Sementara itu, BRI sudah menurunkan suku bunga kreditnya sejak Juni 2009 sebesar 50 bps, di mana saat ini berada di kisaran 12 persen, namun tergantung dari segmennya.

“Suku bunga kredit kami sudah turun tiga kali sejak Juni 2009. Kisaran bunga kredit kita berada di 12 persen. Tergantung masing-masing segmennya,” tambahnya.

Dia pun menjelaskan bahwa Margin Bunga Bersih (NIM/Net Interest Margin) BRI, juga sudah turun, yaitu menjadi sembilan persen di akhir 2009 yang selanjutnya NIM tersebut masih akan ada ruang lagi untuk turun. “Masih ada ruang lagi untuk turun,” tandasnya.
(ade)

EKONOMI
03/02/2010 – 16:08
BRI Targetkan KUR Rp8 Triliun
Rosdianah Dewi

(Inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menargetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun ini sebesar Rp8 triliun. Jumlah tersebut di bawah target awal pemerintah yakni sebesar Rp12 triliun.

“Dari total target pemerintah sebesar Rp 20 triliun, BRI akan menyalurkan KUR sebesar Rp 8 triliun,” ujar Direktur BRI, Bambang Supeno usai RDP dengan Komisi VI di Gedung

DPR-RI, Jakarta, Rabu (3/2).

Ia menuturkan, pemerintah semula meminta BRI menyalurkan KUR sebesar Rp12 triliun, namun BRI keberatan. Menurutnya, pembagian tersebut seharusnya dilakukan secara seimbang dengan bank lain.”Walaupun memang BRI lebih besar, namun jangan juga sampai Rp12 triliun,” tuturnya.

Bambang menilai meski telah banyak bank yang ikut menyalurkan KUR, namun menyalurkan KUR hingga saat ini belum optimal. “Istilahnya hanya syarat saja karena diwajibkan pemerintah. Pasalnya banyak bank-bank yang hanya menyalurkan kredit KUR, cuma sebesar Rp1 triliun atau bahkan ada yang hanya Rp300 miliar,” ungkap Bambang.

Menurut Bambang, kewajiban KUR seharusnya ditanggung secara merata. Jarak perbedaan jangan terlalu lebar.

Lebih lanjut ia mengatakan, pemerintah telah menurunkan kredit KUR yang sudah dipatok oleh pemerintah. “Untuk KUR sektor mikro dari 24% menjadi 22%,” jelasnya.

Sedangkan untuk sektor ritel, kata dia, suku bunganya turun dari 16% ke 14%. Dengan begitu, BRI optimistis target tersebut akan tercapai. “Karena sudah ada peraturan baru dari Komite KUR,” katanya. [cms]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s