yang diutangin oleh bbri … 210510_250915

JAKARTA okezone – Tren pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah semakin mengkhawatirkan. Bahkan hari ini Rupiah hampir tembus di level Rp14.800.

Para pengamat menilai, banyak hal yang menyebabkan Rupiah semakin keok dihadap dolar meskipun sentimen negatif global sudah berakhir pasca Fed menunda kenaikan suku bunga.

Namun menurut Direktur Institute Development for Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, salah satu penyebab anjloknya Rupiah adalah suntikan pinjaman dari China Development Bank (CDB) untuk tiga bank BUMN yakni Mandiri, BRI dan BNI.

Enny memandang, setelah disepakati pinjaman sebesar USD3 miliar tersebut, pemerintah tidak menjelaskan secara detail penggunaan dana pinjaman tersebut. Hal itu menimbulkan persepsi miring dari pelaku pasar terhadap kondisi tiga bank plat merah tersebut.

“Sampai saat ini masih simpang siur. Pelaku pasar jadi punya persepsi sendiri, jadi menimbulkan sentimen negatif,” ucap Enny saat dihubungi Okezone belum lama ini.

Terlebih lagi, lanjutnya, hasil penelitian OJK mengatakan bahwa jika Rupiah bisa tembus Rp15 ribu per USD maka bisa menghantam bank nasional. Dengan adanya pinjaman dari CDB tersebut bisa membuat persepsi pelaku pasar semakin liar hingga menganggap tiga bank BUMN tersebut di ambang kolaps.

“Mereka bisa berpikir kekurangan porsi modal. Ditambah lagi pemberitaan dari media yang simpang siur,” tuturnya.

Oleh karena itu, seharusnya pemerintah bisa muncul ke permukaan publik khusus untuk menjelaskan secara terperinci fungsi dari pinjaman tersebut.

(rzy)

Beijing – Indonesia dan China terus mendorong transaksi langsung antara mata uang kedua negara yakni Rupiah dan Yuan. Itu guna makin meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara.

“Aktivitas perdagangan dan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan China akan cukup besar serta luas, jadi lebih baik kita langsung bertransaksi langsung Rupiah dan Yuan (Renmimbi/RMB),” jelas Menteri BUMN Rini Sumarmo di Beijing, Rabu (16/09/2015) malam.

Ditemui usai menyaksikan penandatanganan kesepakatan pinjaman tiga bank BUMN, yakni Bank Mandiri, Bank BNI dan Bank BRI dengan Bank Pembangunan Tiongkok (CDB), ia mengatakan transaksi langsung menggunakan Rupiah dan Yuan, bertujuan pula melindungi Rupiah dan Yuan, dari tekanan Dolar AS apapun bentuknya, akibat tingginya permintaan Dolar AS, jika kedua negara masih menggunakan mata uang Dolar AS dalam bertransaksi.

Tiga bank milik negara yakni Bank Mandiri, BNI dan BRI menandatangani kesepakatan pinjaman senilai total US$3 miliar dengan Bank Pembangunan Tiongkok (China Development Bank/CDB), guna membiayai proyek-proyek infrastruktur di Indonesia.

Penandatanganan kesepakatan pinjaman dilakukan Direktur Utama Bank Mandiri Budi G Sadikin, Direktur Utama BRI Asmawi Syam dan Direktur Utama BNI Ahmad Baiquni dengan Presiden Eksekutif CDB Zeng Zhijie, disaksikan Menteri BUMN Rini Sumarno dan Kepala Komisi Nasional Pembangunan dan Reformasi (National Development and Reform Committe/NDRC) Xu Shaoshi.

Pinjaman sebesar US$3 miliar tersebut, merupakan tahap pertama dari keseluruhan komitmen pinjaman yang akan diberikan CDB sebesar US$20 miliar, yang sudah disepakati antara Kementerian BUMN dan CDB dan NDRC. “Ada pula pinjaman sebesar 10 miliar dolar AS untuk PLN,” ungkap Rini.

Dari total pinjaman tiga miliar dolar AS tersebut, masing-masing bank yaitu Bank Mandiri, BRI dan BNI, menerima pinjaman sebesar satu miliar dolar AS dengan jangka waktu 10 tahun. “Selain itu 30 persen dari dana pinjaman tersebut akan diterima dalam mata uang Renminbi (RMB). Ini merupakan tahap awal, untuk kedua negara mulai melakukan transaksi langsung menggunakan Rupiah dan RMB,” papar dia.

Terkait transaksi langsung dalam Rupiah dan RMB, Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya telah mengajukan izin penggunaan RMB dalam melakukan transaksi serta kegiatan perbankan lainnya bagi Bank Mandiri di Shanghai. “Semoga akhir tahun ini, kami sudah boleh menggunakan RMB, tidak lagi harus menggunakan dolar AS, sehingga keuntungan yang didapat juga lebih tinggi, terutama untuk melakukan layanan perbankan di Chinak,” kata dia.

Sementara Direktur Bank BNI46 Achmad Baiquni mengatakan, “sebenarnya untuk transaksi menggunakan RMB, sudah dilakukan BNI46, dalam beberapa bentuk fasilitas yang diberikan kepada debitur.”

“Ke depan, kita akan tawarkan lagi kepada para debitur yang memang membutuhkan RMB,” imbuh dia.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2238223/cdb-beri-pinjaman-untuk-bank-mandiri-bni-bri
Sumber : INILAH.COM

JAKARTA kontan. Makin hari kinerja bank makin lesu. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per April 2015, perbankan mengalami perlambatan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang diikuti dengan kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

Tirta Segara, Direktur Eksekutif, Departemen Komunikasi BI, menyampaikan, misalnya untuk kredit mengalami perlambatan karena menurunnya permintaan kredit akibat dari rendahnya pertumbuhan ekonomi.

BI melaporkan, kredit tumbuh 10,4% per April 2015 dari pertumbuhan kredit 11,3% per Maret 2015. Kemudian, DPK tumbuh 14,2% per April 2015, dari pertumbuhan 16,0% per Maret 2015. Serta, NPL netto naik 0,1% menjadi 2,5% per April 2015, dari posisi 2,4% per Maret 2015.

“Rasio NPL lebih meningkat karena pembaginya tidak imbang yang disebabkan oleh rendahnya penyaluran kredit,” kata Tirta, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (18/6).

Meskipun kinerja bank mengalami perlambatan, namun regulator tetap optimis kedepan pertumbuhan kredit akan naik, jika pemerintah melakukan belanja investasi untuk kegiatan infrastruktur. Pasalnya, ini akan membantu penyaluran kredit bank.

“Diperkirakan ada perbaikan pertumbuhan ekonomi setelah kinerja kuartal II/2015 yang masih tetap (stagnan,” tambahnya.

Editor: Hendra Gunawan

Bisnis.com, TANGERANG – PT Angkasa Pura (AP) II menghentikan sementara pembangunan rel kereta dari Tangerang menuju Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.
Presiden Direktur AP II Budi Karya Sumadi menilai tidak ada yang salah dengan keputusan tersebut. Penghentian hanya berlangsung temporer terkait dengan perbaikan jaringan saluran air dan kelistrikan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

“Pengerjaan memang ditunda, ada hal-hal yang harus didahulukan, seperti perbaikan jaringan air dan listrik. Oktober 2015 baru mulai lagi,” ucapnya ditemui di Kantor AP II, Jumat (8/5/2015).
Menurutnya, alasan perbaikan infrastruktur saluran air dan kelistrikan memang krusial, sehingga tidak ada yang salah dari penundaan sementara proyek tersebut. Selain itu yang sedang jadi fokus perseroan sekarang adalah menuntaskan perluasan Terminal 3.

Budi memastikan penundaan tersebut tidak memengaruhi anggaran. Target penyelesaian proyek kereta bandara pun diyakini tetap sesuai target, akhir tahun depan mulai beroperasi. Jalur ganda (double track) ini terbentang sejauh 36,3 km.

AP II memeroleh kredit bertenor 14 tahun senilai Rp1,4 triliun dari BRI, BNI, BCA, dan Mandiri untuk menuntaskan proyek kereta bandara melalui Kota Tangerang, Banten itu. Kelak moda transportasi ini akan dioperasika PT Railink, yakni perusahaan patungan PT KAI dan AP II.

Jumat, 21/05/2010 17:51:35 WIB
Langgeng Makmur raih pinjaman dari BRI
Oleh: Dwi Wahyuni

SURABAYA (Bisnis.com): Rapat umum pemegang saham PT Langgeng Makmur Industri Tbk menyetujui menjaminkan seluruh aset perseroan terfkait dengan komitmen utang senilai Rp97 miliar dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) selaku kreditur.

Direktur Langgeng Makmur Kosasih mengatakan komitmen utang yang sudah berjalan sejak tahun lalu itu seluruhnya untuk memperkuat struktur permodalan perseroan.

Dari total fasilitas pendanaan BRI senilai Rp97 miliar itu, sebanyak Rp53 miliar merupakan pinjaman modal kerja, sedangkan Rp44 miliar untuk fasilitas kredit investasi.

Menurut Kosasih, sebagian dari fasilitas kredit tersebut digunakan uintuk regenerasi sejumlah mesin guna menunjang program peningkatan kapasitas produksi.

Perseroan telah menaikkan kapasitas produksi alumunium yang sebelumnya mencapai 300 ton-350 ton menjadi 400 ton per tahun.

“Kami optimis prospek bisnis peralatan rumah tangga tahun ini masih membaik kendati untuk pasar dalam negeri relatif rentan terhadap perkembangan daya beli masyarakat, ujar Kosasih pada paparan publik di hari ini.

Namun, sejauh ini, tambah Kosasih, perkembangan daya beli masyarakat belum terlihat dampaknya terhadap kinerja perseroan. Per 31 Maret 2010 total penjualan produk Langgeng sudah mencapai 79,16 miliar untuk pasar dalam negeri.

Sebagaimana diketahui 80% penjualan Langgeng adalah untuk pasar domestik.

Pada akhir 2009 perseroan membukukan penjualan bersih senilai 372,19 miliar untuk pasar dalam negeri naik 18% dubanding 2008 sebesar Rp315,4 miliar.

Penjualan tersebut didominasi produk almunium dan PVC mengat pasar kontruksi dan properti semakin membaik. Kontribusi divisi tersebut mencapai 83%-an. (wiw)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s