(KUR) KUPEDE$ bbri KINCLONk … 210612_130915

WE Online, Jakarta – Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) mendorong agar bunga kredit usaha rakyat (KUR) turun lagi. Pertimbangannya 56,7 juta unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ada di Indonesia dipercaya akan mampu menjadi penopang perekonomian nasional di tengah kelesuan ekonomi global.

Kemenkop UKM mengusulkan bahwa pada 2016 bunga KUR khusus di sektor mikro bisa turun lagi menjadi 9%. Tahun ini bunga KUR dipatok 12% setelah turun siginifikan dari tahun sebelumnya, yakni 22%.

Menurut Direktur Keuangan PT Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, pengurangan bunga KUR haruslah diimbangi dengan penguatan daya beli masyarakatnya. Pasalnya, bila daya beli masyarakat lesu maka penurunan bunga KUR tak akan efektif.

“Kebijakan penurunan bunga kredit UMKM akan dirasa efektif jika ada penguatan daya beli. Pengusaha-pengusahanya harus punya demand baru dan untuk meng-create itu memang perlu demand baru,” ujar  pria yang akrab disapa Tiko pada acara Media Training Mandiri pada 10-13 September 2015 di Malang.

Lebih jauh, dia mengatakan bahwa seharusnya pemerintah juga fokus mengakomodasi munculnya permintaan-permintaan baru tersebut seperti contohnya peluang dalam pengembangan usaha-usaha kecil substitusi impor berorientasi konsumen mengingat konsumsi masyarakat akan barang impor semakin meningkat.

Jika pemerintah mau memberi kebijakan pembatasan arus masuk barang impor tersebut, tentunya permintaan masyarakat akan kebutuhan itu jadi tidak terakomodir.

“Logika kalau konsumsi masyarakat ini impornya meningkat kan harusnya ada yang me-replace impor ini seperti buah dan daging. Pemerintah harus fokus untuk meng-create demand-demand subtitusi impor ini,” tukasnya.

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Cahyo Prayogo

 

SP: Beberapa penelitian menyebutkan bahwa struktur modal UMKM di Indonesia, hampir sebagian besar berdasar pada investasi pribadi. Sangat sedikit yang berhubungan dengan pihak ketiga untuk mendapatkan dana.

Jika mereka membutuhkan suntikan dana dari pihak luar, justru pihak-pihak penyedia dana selain bank, yang sangat berperan. Misalnya, bank-bank perkreditan rakyat atau malah rentenir yang mengenakan bunga sangat tinggi dan mencekik leher.
Namun, ketika terjadi krisis pada 1998, UMKM nisbi mampu bertahan dibandingkan perusahaan besar. Alasannya, mayoritas usaha berskala kecil tidak terlalu tergantung pada modal besar atau pinjaman dari luar negeri dalam mata uang dolar AS.

Ke depan, pemerintah mencanangkan, Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) akan menjadi salah satu program prioritas pemerintah pada 2016 karena program itu signifikan untuk mendorong pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta meningkatkan tingkat keuangan inklusif masyarakat.

“KUR akan menjadi program yang besar, dan akan melibatkan koordinasi strategis dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Pertumbuhan UMKM diharapkan mampu menopang pemerataan pendapatan masyarakat, dan memperkuat stabilitas perekonomian domestik, mengingat pada 2016, imbas negatif dari ketidakpastian ekonomi global masih mengancam Indonesia.

Darmin Nasution menjelaskan, guna mendorong peningkatan program KUR, pada tahun ini pemerintah telah memangkas bunga KUR dari 22 persen menjadi 12 persen. Pada 2016, pemerintah manargetkan dapat kembali memotong bunga KUR hingga hanya sembilan persen.

Penurunan suku bunga KUR itu dilakukan dengan peningkatan pemberian subsidi oleh pemerintah kepada bank pelaksana pemberi KUR. Pemerintah juga menaikkan anggaran subsidi KUR pada 2015 dari Rp400 miliar menjadi Rp1 triliun.

Program KUR 2016 akan dibahas dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain itu, KUR juga akan masuk ke dalam program pemerintah yang mendorong keuangan inklusif, yang bisa membuat pemerintah mengurangi aliran dana asing dalam pasar keuangan domestik.

Ketergantungan terhadap aliran dana asing ini dinilai yang membuat Indonesia rentan dengan imbas negatif dari krisis ekonomi global.

Sebuah kajian beberapa waktu yang lalu merekomendasikan sejumlah kebijakan untuk meningkatkan peran UMKM.

Disebutkan bahwa melihat pentingnya peranan lembaga pembiayaan dalam pengembangan UMKM, terutama sektor perdagangan sebagai alternatif sumber pembiayaan maka pemerintah perlu melakukan sosialisasi kepada UMKM tentang eksistensi lembaga pembiayaan baik bank maupun nonbank khususnya koperasi.

Bagi lembaga pembiayan perbankan yang tidak memiliki ‘core’ usaha pada usaha mikro dapat menggunakan model pembiayaan linkage dan channeling dengan lembaga pembiayaan lainnya.

Selain itu perlu adanya sistem informasi debitur terintegrasi antarlembaga pembiayaan bank dan nonbank untuk mencegah terjadinya pembiayaan berulang pada UMKM yang sama yang dapat menimbulkan terjadi kesulitan pembayaran.

Juga diperlukan pembentukan kemitraan antara pemerintah pusat, daerah dan lembaga pembiayaan dalam hal memberikan bantuan teknis kepada UMKM, sehingga pembinaan yang dilakukan dapat lebih terintegrasi.

Ini dilakukan untuk mempersiapkan UMKM dalam menghadapi persaingan usaha, baik dari pasar modern maupun adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015.

Rekomendasi itu juga menyebutkan perlunya kebijakan yang mewajibkan UMKM untuk mengikuti pembinaan dari lembaga pembiayaan dan menyerahkan laporan keuangan usaha secara periodik kepada lembaga pembiayaan. Ini dilakukan untuk mengurangi terjadi penyimpangan pemanfaatan kredit yang diberikan oleh lembaga pembiayaan.

Rp 120 triliun
Pada 2016, pemerintah menargetkan program KUR dapat menyalurkan pembiayaan hingga Rp 120 triliun ke masyarakat, seiring dengan upaya pemerintah untuk memangkas suku bunga KUR hingga sembilan persen.

“Dengan bunga sembilan persen, ‘outstanding’ bisa mencapai Rp 120 triliun,” kata Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro.

Untuk merealisasikan saluran pembiayaan itu, kata Bambang, antara lain dengan usulan pagu anggaran untuk subsidi KUR yang mencapai Rp 10,5 triliun pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016.

Alokasi subsidi untuk program KUR tersebut merupakan subsidi bunga yang akan diberikan kepada institusi perbankan penyalur KUR.

Selain dengan subsidi, pemerintah juga akan menugaskan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Jamkrindo (Persero) dan PT Askrindo (Persero) untuk memberikan jaminan terhadap pemberian kredit tersebut.

Dengan begitu, diharapkan masyarakat yang menjadi debitur KUR tidak direpotkan dengan syarat-syarat dari perbankan untuk untuk memperoleh kredit.

Sejalan dengan itu, kementerian teknis diminta untuk menyusun program KUR, terutama peruntukan pembiayaan yang diutamakan kepada sektor produksi. Selama ini pembiayaan dari KUR lebih banyak digunakan untuk kegiatan ekonomi sektor ritel dan perdagangan.

KUR Mikro

Pemerintah telah membuka peluang bagi perbankan untuk menjadi bank pelaksana KUR Mikro. Saat ini sebanyak 14 bank selain BRI, Bank Mandiri, dan BNI masih berpeluang menjadi bank pelaksana tersebut.

“Kami membuka peluang bagi perbankan menjadi bank pelaksana KUR Mikro dan bila sudah memenuhi syarat silakan berkas permohonan dikirim ke Komite Kebijakan untuk segera diproses lebih lanjut,” ujar Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Braman Setyo.

Bram, panggilan akrib Braman Setyo menyebut 14 bank yang berpotensi besar siap dan memenuhi syarat khusus untuk menjadi bank pelaksana KUR yakni Bank BNI Syariah dan 13 Bank Pembangunan Daerah (BPD) terdiri dari PT Bank Syariah, PT Bank Nagari, BPD Aceh, BPD Riau Kepri, BPD Sumsel Babel, BPD Jateng, BPD DIY, BPD Bali, BPD NTT, BPD NTB, BPD Kalbar, BPD Kalsel, BPD Kalteng, dan BPD Jambi.

Terkait perbankan pelaksana KUR Mikro, Braman Setyo menegaskan bahwa tahun lalu semua BPD secara otomatis menjadi penyalur KUR maka mulai tahun ini ketentuan tersebut tidak berlaku, setelah KUR mengalami evaluasi.

“Selain sudah mempunyai sistem daring dengan perusahaan penjaminan, ‘nonperforming loan’ (NPL) bank pelaksana juga harus di bawah 5 persen per Desember 2014 lalu,” tutur Bram yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Perum Jamkrindo.

Keputusan Komite Kebijakan soal pembiayaan bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), lanjut Bram, adalah plafon pinjaman KUR ditetapkan untuk usaha mikro maksimal Rp 25 juta. “Karenanya dinamakan program KUR Mikro,” tukas mantan Kadis Koperasi dan UKM Jatim ini. [Ant/N-6]

JAKARTA kontan. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi bank BUMN yang menyalurkan dana pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar tahun 2015 ini. Direktur Keuangan BRI, Haru Koesmahargyo mengungkapkan, sebagian besar alokasi KUR memang disalurkan oleh BRI.

Menurutnya, perseroan menargetkan penyaluran KUR mencapai Rp 21 triliun dari total alokasi anggaran KUR pemerintah tahun 2015 ini yang sebesar Rp 30 triliun.

“Kami menyalurkan sebagian besar alokasi dana KUR dan menargetkan habis tahun 2015. Target penyaluran KUR sebesar Rp 21 triliun adalah sejarah, karena jumlahnya besar,” kata Haru, Jumat (26/6).

Haru menuturkan, untuk alokasi penyaluran dana KUR ini, akan disebarkan di seluruh Indonesia, tanpa ada alokasi dana untuk wilayah khusus. Ia merinci, BRI menargetkan penyaluran KUR di sektor pertanian, perikanan, perdagangan dan industri pengolahan.

Sementara itu, kata Haru, untuk suku bunga yang ditetapkan pemerintah sebesar 12%, merupakan beban bunga yang dikenakan kepada nasabah. “Suku bunga KUR 12% adalah untuk nasabah. BRI masih diberikan bantuan pemerintah dalam bentuk keringanan bunga, agar bisa menyesuaikan dengan suku bunga pasar,” ungkapnya.

Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA kontan. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menghentikan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sejak akhir tahun 2014. Sebagai gantinya, BRI menyalurkan program serupa bernama Kupedes Rakyat.

“Mengingat potensi yang sangat besar, basis nasabah yang besar, dan kemampuan SDM BRI yang kompeten untuk menyalurkan produk KUR, BRI melakukan modifikasi KUR menjadi Kupedes Rakyat,” jelas Budi.

Seperti diketahui bahwa, mulai akhir 2014 kemarin, penyaluran KUR di moratorium atau dihentikan oleh Kementerian terkait. Itu sebabnya BRI menggantikannya dengan Kupedes Rakyat. Segmen pasar dan Karakteristik Kupedes Rakyat ini sama dengan KUR.

Kupedes Rakyat adalah produk pinjaman skala kecil (plafond maksimal Rp 25 juta) yang berbasis komersial penuh, diberikan kepada calon debitur yang feasible baik yang sudah bankable maupun yang belum bankable. Syaratnya adalah  telah memiliki usaha secara aktif minimal 6 (enam) bulan dan tidak sedang mendapatkan fasilitas kredit Kupedes komersial.

Kupedes Rakyat juga memiliki mekanisme penjaminan kredit dengan coverage sebesar 70%. Selain penjaminan, debitur diberikan fasilitas AMKKM (Asuransi Mikro Kecelakaan Kesehatan dan Meninggal Dunia) yang bertujuan untuk membantu stabilitas cashflow nasabah apabila nasabah mengalami sakit, kecelakaan atau meninggal dunia. Fasilitas AMKKM tersebut diberikan selama 1 tahun pertama setelah nasabah melakukan realisasi pinjaman Kupedes Rakyat.

Dalam menyalurkan Kupedes Rakyat, BRI menggunakan Teras BRI yang berada di pasar-pasar basah dan BRI Unit yang menjangkau daerah-daerah terpencil. “Hingga saat ini jumlah jaringan mikro, termasuk Teras BRI dan Teras BRI keliling adalah 8.360 outlet dengan infrastruktur IT real time online” pungkasnya.

Sekedar gambaran, hingga akhir tahun 2014, BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 117 triliun, tumbuh 134,4% yoy.

Menurut Budi, tingkat penyaluran KUR selama ini selalu lancar. Dari Rp 117 triliun yang telah disalurkan sepanjang tahun lalu, NPL KUR Bank BRI ada di posisi 1,7%.

Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melonjak 241,18% dari Rp 3,4 triliun pada 2009 menjadi Rp 11,6 triliun per Maret 2012. Direktur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Bank BRI Djarot Kusumayakti mengungkapkan, lonjakan kredit itu terpacu karena tiga faktor utama. Seperti apa jurus BRI memacu KUR Mikro?

Jurus pertama, yaitu penambahan jumlah nasabah baru melalui KUR. Dari 1,344 juta nasabah KUR Mikro pada 2009, kini BRI telah memiliki 1,968 juta nasabah. Sebagian nasabah KUR Mikro ini sudah bermigrasi ke kredit mikro komersil.

”Mereka loncat ke sana, sebab kemudian usahanya bagus dan makin bankable. Sangat menggembirakan,” kata Djarot, Kamis (21/6).

Pada 2009, baru 301.000 nasabah KUR Mikro yang bermigrasi. Sementara, per Maret 2012 sebanyak 563.000 nasabah KUR Mikro yang bisnisnya sudah jauh berkembang dan makin menguntungkan telah bermigrasi ke Kredit Mikro Komersil BRI.

Jurus kedua, peningkatkan akses ke nasabah KUR BRI melalui ekspansi outlet. Untuk memperluas penetrasi pasar, BRI bukan cuma menambah di wilayah yang sudah ada outlet melainkan juga di wilayah-wilayah baru. Outlet tersebut baik berupa kantor unit BRI, Teras BRI, maupun Mobile Teras BRI (Teras Keliling).

Pada 2009, kantor unit BRI sebanyak 4.538 buah, namun pada Maret 2012 sebanyak 4.849 buah. Teras BRI yang pada 2009 masih 217 Teras, per Maret 2012 telah berkembang menjadi 1.348 Teras. Sementara itu, layanan baru Teras BRI Keliling kini tersedia sebanyak 101 buah.

Jurus ketiga, BRI memperbanyak sumber daya manusia dengan merekrut mantri (Account Officer kredit mikro) baru. Tujuannya, supaya penyaluran pinjaman mikro semakin baik dan prudent. Djarot mengungkapkan, sejak setahun terakhir, BRI melakukan percepatan dalam perekrutan pekerja pemasar kredit mikro. Pada 2009, jumlah mantri BRI sebanyak 7.373 orang. Per Maret 2012 tercatat BRI sudah memiliki 12.354 mantri.

Djarot menambahkan, sejak awal BRI telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan bisnis mikro yang berkualitas. Hal tersebut terlihat dari kualitas kredit KUR Mikro BRI. “Dari total realisasi per Maret 2012, non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah KUR Mikro BRI hanya 2,51% atau jauh dibawah rasio yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) sebesar 5%,” pungkas Djarot.

http://www.tribunnews.com/2012/06/21/jurus-bri-terbukti-ampuh-dongkrak-kur-mikro

Sumber : TRIBUNNEWS.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s