$urplu$ @ Jul 2015 : 131112 _ 18082015

 TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik mencatat transaksi perdagangan pada Juli 2015 surplus senilai US$ 13,3 miliar, tertinggi dalam 19 bulan terakhir. Namun, tingginya raihan tersebut tak diikuti dengan kenaikan volume transaksi.

Menurut data BPS, ekspor/impor turun 15 persen dibandingkan Juni. Untuk ekspor turun dari US$ 11,41 miliar menjadi US$ 13,5 miliar dan impor turun dari US$ 12,9 miliar menjadi US$ 10,07 miliar. “Banyak hal yang jadi penyebab, salah satunya adalah pelemahan nilai tukar,” ujar Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono di kantornya, Selasa, 18 Agustus 2015.

Adi mengatakan penurunan mata uang yang hampir dialami seluruh negara di dunia membuat adanya penekanan dalam impor, itu juga dialami Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh mata uang transaksi internasional dolar Amerika Serikat semakin perkasa sejak akhir tahun lalu.

Selain itu, faktor turunnya harga komoditas mentah juga turut melambatkan laju ekspor negara. Adi mencontohkan perlambatan yang terjadi pada minyak mentah dan minyak nabati yang turun hingga 40 persen.

Adi membandingkan rapor ekspor pada Januari-Juli 2015 dengan raihan US$ 89,76 miliar dengan rapor Januari-Juli 2014 senilai US$ 102,9 miliar. Pelemahan nilai tukar terlihat volume nilai transaksi ekspor industri pengolahan tahun ini dengan tahun lalu sebesar US$ 63,27 miliar dengan pangsa 70,49 persen dibandingkan torehan tahun lalu sebesar US$ 68,51 miliar dengan pangsa 66,55 persen.

Menurut Adi, hal serupa juga terjadi pada neraca impor. Belanja bahan modal Januari-Juli 2015 yang sebesar US$ 14,33 miliar (17,05 persen) turun secara nilai dari US$ 16,99 miliar, padahal pangsa belanjanya hanya sebesar 16,33 persen.

Situasi ini, ujar Adi, menjadi sinyal kuat jika perekonomian dunia pun turut melemah. Selain itu dibutuhkan pengalihan andalan ekspor dari komoditas mentah menjadi barang jadi untuk terus mendongkrak ekspor.

Dia mengatakan surplus masih bisa dicapai karena perlambatan ekspor tak separah perlambatan impor. “Bagi saya, selama neraca surplus itu berarti berita baik,” kata Adi.

ANDI RUSLI

Bisnis.com, JAKARTA— Surplus neraca perdagangan Indonesia melebar ke angka US$1,33 miliar pada Juli 2015, lebih besar dari estimasi.

Badan Pusat Statistik hari ini, Selasa (18/8/2015), melaporkan aktivitas perdagangan internasional Indonesia sepanjang Juli menghasilkan surplus US$1.332 juta atau naik dari surplus US$528 juta juta pada Juni.

Nilai ekspor Indonesia sepanjang Juli US$11.408, 5 juta, sedangkan nilai impor senilai US$10.076,5 juta.

Selisih perdagangan Indonesia menunjukkan angka yang dua kali lebih besar dari estimasi ekonom. Median estimasi 12 ekonom yang disurvei Bloomberg berada pada US$601 juta.

 

Neraca Perdagangan Indonesia 2015 (US$ juta)

 

 

Bulan Nilai 

Juli

+1.332

Juni

+528

Mei

+1.076,60

April

+477,40

Maret

+1.025,60

 

 

Sumber: Bloomberg

Jakarta detik -Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia pada Juli sangat tinggi sebesar US$ 1,33 miliar. Capaian ini termasuk memecahkan rekor dalam 19 bulan terakhir atau sejak Januari 2014.

“Surplus di bulan Juli terbesar dikarenakan penurunan impor yang jauh lebih besar dibandingkan dengan ekspor. Sehingga muncul surplus,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, Adi Lumaksono di kantor BPS, Selasa (18/8/2015)

BPS mencatat Ekspor Juli US$11,41 miliar dibandingkan dengan Juni turun 15,53%‎. Sedangkan impor pada Juli 2015 tercatat US$ 10,08 miliar atau turun 22,36% dibandingkan Juni 2015.

“Penurunan ekspor dan impor dikarenakan faktor global mempengaruhi volume ekspor. Tidak hanya negara kita, tapi juga tetangga. Terutama karena nilai tukar, ini sehingga mempengaruh harga barang lain,” katanya.

“Penurunan juga terjadi karena harga jenis komoditas, terutama untuk ekspor. Kita masih bersyukur bahwa penurunan ekspor lebih lambat dibandingkan impor,” katanya.

Menurutnya bila kondisi nilai ekspor terus di atas impor, karena ada penurunan impor, karena faktor kurs rupiah yang melemah, maka kondisi surplus perdagangan akan berlanjut.

“Kalau kondisinya terus begitu, surplus akan terus meningkat,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2015 surplus US$ 1,33 miliar. Hal terjadi karena ekspor tercatat US$ 11,41 miliar, sedangkan impornya lebih rendah yaitu US$ 10,08 miliar.

BPS juga mencatat surplus neraca perdagangan secara akumulasi Januari-Juli 2015 mencapai US$ 5,73 miliar

“‎Ini adalah capaian surplus yang luar biasa, terbesar sejak Januari 2014 atau 19 bulan‎ yang lalu,” kata Adi.

(mkl/hen)

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Pusat Status (BPS) melansir neraca perdagangan RI pada Juli 2015 mengalami surplus sebesar 1,33 miliar dollar AS.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono mengatakan ini adalah surplus perdagangan terbesar sejak Januari 2014. “Ini adalah surplus tertinggi sejak 19 bulan,” kata dia dalam paparan Selasa (18/8/2015).

Pada bulan Juli 2015, neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar 872 juta dollar AS. Namun neraca perdagangan non-migas mengalami surplus sebesar 2,2 miliar dollar AS. Surplus yang besar ini kata Adi disebabkan penurunan impor lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspor.

Ekspor pada Juli 2015 mencapai 11,41 miliar dollar AS atau turun 15,53 persen dibandingkan ekspor Juni 2015 yang sebesar 13,51 miliar dollar AS. Impor pada Juli 2015 mencapai 10,08 miliar dollar AS atau turun 22,36 persen dibandingkan impor Juni 2015 yang sebesar 12,98 miliar dollar AS.


Penulis : Estu Suryowati
Editor : Erlangga Djumena

JAKARTA – Surplus neraca perdagangan Indonesia naik ke angka US$1,13 miliar pada Maret 2015.

Badan Pusat Statistik melaporkan aktivitas perdagangan internasional Indonesia sepanjang Maret menghasilkan surplus US$1.130 juta atau naik signfikan 53% dari surplus US$738,30 juta pada Februari.

Kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan capaian yang jauh lebih baik dari estimasi ekonom. Median estimasi 19 ekonom yang disurvei Bloomberg berada pada US$589 juta.

Neraca Perdagangan Indonesia 2015 (US$ juta)

Bulan

Nilai
Maret

+1.130
Februari

+738,30
Januari

+743,50
Desember 2014

+186,80
November 2014

-425,70
Sumber: Bloomberg

http://finansial.bisnis.com/read/20150415/9/423102/neraca-perdagangan-indonesia-surplus-maret-meningkat-53
Sumber : BISNIS.COM

JAKARTA – Meskipun terjadi penurunan pada ekspor Indonesia bulan Februari 2015, namun neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD740 juta. Ini dipicu dari menurunnya impor Indonesia sebesar 8,42 persen dibanding Januari 2015 menjadi USD11,55 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menjelaskan, untuk nilai impor Indonesia pada Febuari 2015 mencapai USD11,55 miliar atau turun 8,42 persen dibanding Januari 2015. Demikian pula jika dibanding Februari 2014 turun 16,24 persen.

“Impor ini sedikit lebih cepat menurunnya daripada ekspor,” kata Suryamin di kantornya, Senin (16/3/2015).

Impor nonmigas Februari 2015 mencapai USD9,83 miliar atau turun 6,34 persen dibanding Januari 2015. Sementara bila dibanding Februari 2014 turun 4,86 persen.

Impor migas Februari 2015 mencapai USD1,72 miliar atau turun 18,70 persen dibanding Januari 2015, demikian pula jika dibanding Februari 2014 turun 50,26 persen.

Nilai impor nonmigas terbesar Februari 2015 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai USD1,82 miliar. Nilai ini turun 10,29 persen dibanding impor golongan barang yang sama Januari 2015‎.

http://economy.okezone.com/read/2015/03/16/20/1119256/impor-ri-turun-8-42-di-februari
Sumber : OKEZONE.COM

JAKARTA – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor Indonesia. Padahal, pemerintah optimistis pelemahan tersebut membawa pengaruh baik terhadap lonjakan ekspor.

“Pengaruhnya ini Rupiah tidak serta merta ekspor meningkat. Dari 98 komoditi ada yang walaupun nilai Rupiah menurun tapi ekspornya juga tidak langsung melejit,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di kantornya, Senin (16/3/2015).

Meskipun demikian, Suryamin menambahkan, ada beberapa komoditi yang merespons baik melemahnya Rupiah ini. Salah satunya kendaraan dan bagiannya yang meningkat 7 persen dibanding tahun lalu.

Suryamin juga menuturkan, penurunan ekspor ini juga diimbangi dengan penurunan impor sebesar 8,42 persen dibanding Januari tahun ini. Oleh sebab itu, terjadi surplus pada neraca perdagangan.

“Tapi neraca perdagangannya migas dan nonmigas dua-duanya surplus. Kan masih banyak pengaruh global tapi kok masih punya surplus, itu yang kita lihat,” kata dia.

Di tempat yang sama, Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menegaskan bahwa pelemahan mata uang asing lainnya terhadap dolar AS juga dapat mempengaruhi berkurangnya kebutuhan impor negara masing-masing.

“Harusnya tinggi ekspornya. Tapi kita lihat dulu apakah kebutuhan lain menurun. Mata uang asing lain kan juga melemah. Biasanya, dibeli dolar akan lebih mahal,” ujar Sasmito.

http://economy.okezone.com/read/2015/03/16/20/1119243/lemahnya-rupiah-tak-buat-ekspor-melonjak
Sumber : OKEZONE.COM

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2015 surplus sebesar USD740 juta secara month to month. Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2015 mencapai USD12,29 miliar, sedangkan impornya mencapai USD11,55 miliar.

Menurut Kepala BPS Suryamin, faktor pemicu surplus neraca perdagangan bulan ini dipengaruhi oleh sektor migas yang mengalami surplus sebesar USD170 juta. Begitu pula dengan sektor nonmigas yang surplus USD570 juta.

“Dari sisi volume perdagangan, pada Februari 2015, perdagangan Indonesia juga mengalami peningkatan signifikan,” ujar Suryamin dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr Sutomo No 6-8, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2013).

Volume perdagangan Indonesia, lanjut dia, surplus sebesar 27,61 juta ton. Hal ini didorong oleh surplus neraca sektor nonmigas sebesar 27,76 juta ton walaupun sektor migas defisit 0,15 juta ton.

Suryamin mengungkapkan, terkait penurunan nilai mata uang rupiah terhadap neraca perdagangan, memang ada pengaruh meski tak banyak. Menurut dia, ada beberapa komoditas yang berpengaruh, ada pula yang stabil bahkan merosot.

“Penurunan rupiah kalau terhadap ekspor, itu tidak terlalu berpengaruh. Hal ini tidak serta merta meningkatkan ekspor karena ada beberapa komoditas yang menurun,” pungkas Suryamin.
WID http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/03/16/371936/depresiasi-rupiah-neraca-perdagangan-februari-surplus-usd740-juta
Sumber : METROTVNEWS.COM

JAKARTA.  Neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2015 mencatatkan surplus US$0,74 miliar.

Badan Pusat Statistik melaporkan kinerja perdagangan Indonesia pada Februari surplus US$740 juta atau meningkat dari surplus US$709,4 juta pada Januari

Nilai ekspor Februari turun 16,02% YoY ke US$12,29 miliar atau turun 7,99% dibandingkan Januari.

Nilai impor Februari turun 16,24% YoY ke US$11,55 miliar atau turun 8,24% dari Januari.

Neraca Perdagangan Indonesia 2015 (US$ juta)

Bulan

Nilai
Februari

740
Januari

+709,4
Desember 2014

+186,80
November 2014

-425,70
Oktober 2014

+21
Sumber: Bloomberg

http://finansial.bisnis.com/read/20150316/9/412140/bps-neraca-perdagangan-februari-surplus-us740-juta
Sumber : BISNIS.COM

Significantly Lower Current Account Deficit

n  Current account deficit lowered to 3.07% of GDP.

n  Lower imports and higher exports of non-oil & gas persist.

n  Financial account and overall balance remain in surplus.

n  We expect the BI rate to stay at 7.5% until the end of 2014.

November’s policy meeting – CAD lowered. The BI rate was kept unchanged at 7.5% in an effort to control inflation and reduce the current account deficit (CAD). This strategy has had significant results with the decline of the CAD to US$6.84bn or 3.07% of GDP in 3Q14. This is well ahead of the Bank Indonesia’s (BI) previous estimate of US$8bn or 3.6% of GDP and consensus estimates of US$7.23bn or 3.25% of GDP, and significantly lower than the US$8.7bn deficit (4.07% of GDP) in 2Q14 and US$8.64bn (3.9% of GDP) deficit in the year-ago period.

Improvement due to non-oil & gas surplus. The improvement was driven mainly by declining imports as a result of the BI’s stabilization policy, as well as an increase in non-oil & gas exports. The resumption of mineral exports and positive growth of manufacturing exports helped to lower CAD and increased US$2.1bn surplus in non-oil & gas exports vs the previous year’s level. Meanwhile, the oil & gas sector continued to put pressure on Indonesia’s current account, with the sector deficit staying at US$3.1bn from the previous quarter. This deficit has persisted since the end of 2011.

BOP remains in surplus. The overall balance of payment (BOP) in 3Q14 remained in surplus of US$6.5bn, higher than the US$4.3bn surplus in 2Q14. The financial account still recorded a significant surplus, which has been supported by escalating inflow of foreign direct investment. The improvement in the BOP was also due to a slightly lower services deficit of US$2.5bn vs US$2.9bn in 2Q14. The government is currently working to improve services exports, including freight and insurance. Under the new government, which has identified the maritime sector as one of its key focus areas, the services account is aimed to show improvement by strengthening national shipping capacity. In addition, the government is working on a tax incentives scheme for income repatriation. All these efforts should help to lower CAD ahead and result in a higher BOP surplus. In 3Q14, the higher BOP surplus has helped to bolster Indonesia’s official reserve assets to USid=”mce_marker”11.2bn from USid=”mce_marker”07.7bn in 2Q14, in line with the positive perception of foreign investors concerning the domestic economic outlook.

Benchmark rate to be maintained throughout the year. The BI rate will be maintained at 7.5% throughout the year. The possibility of an increase was doused by the latest statement from the government about the fuel price hike, which will be lower than its previous pronouncement of Rp3,000/litre during the presidential campaign, as the world oil price continues to decline. The lower-than expected fuel price hike is likely to affect inflation by up to around 8%, which is lower than the impact on inflation after last year’s fuel price hike. In addition, CAD for 2014 will most likely be lower than BI’s previous estimate of US$27bn and may even possibly be just shy of US$25bn. Therefore, we believe the BI rate will remain unchanged as the government works to ensure that the policy continues to result in a CAD improvement and bring this to a more sustainable level of 2.5% of GDP.

JAKARTA, Sept 01, 2014 (AFP)
Indonesia posted a slim trade surplus in July, bouncing back from a deficit the previous month caused by increased imports before the Islamic holy month of Ramadan and the Eid holiday, data showed Monday.

Meanwhile inflation eased further to 3.99 percent year-on-year in August from 4.53 percent in July, continuing a downward trend after a big rise in fuel prices sparked a surge last year.

The trade surplus came in at $125 million, compared to a deficit of around $290 million in June as shops stocked up on expensive imported food and clothes before Islam’s holiest month.

Suryamin, the head of the official statistics agency, who like many Indonesians goes by one name, said imports surged in June before the start of Ramadan but actually slowed during the holy month in July.

Eid falls at the end of Ramadan.

Imports slipped to $14.05 billion in July, down 19.31 percent from a year earlier.

The trade balance is keenly watched because a large shortfall adds to the current account deficit, which has been a key concern of foreign investors in recent times.

Narrowing the deficit is one of the main economic challenges facing Indonesia’s president-elect Joko Widodo, who will take office in October.

However on a more disappointing note, manufacturing activity in Indonesia contracted in August, according to HSBC’s purchasing managers’ index.

It slipped to 49.5, a surprise reading after months of expansion. A reading above 50 indicates expansion, while below signals contraction.

kontan JAKARTA. Meski dibuka menguat pada transaksi perdagangan tadi pagi (14/8),

posisi rupiah terlihat sideways sore ini. Mengutip data Bloomberg, pada pukul 14.29 WIB, posisi rupiah tak banyak mencatatkan perubahan di posisi 11.688 per dollar AS. Pada transaksi sebelumnya, posisi rupiah menguat 0,3% menjadi 11.661 per dollar AS.

Sementara, nilai kontrak rupiah di pasar non deliverable forwards (NDF) untuk pengantaran satu bulan ke depan menguat 0,2% menjadi 11.735. Itu artinya, posisi rupiah di pasar NDF lebih lemah 0,4% dibanding posisi rupiah di pasar spot.

Pergerakan rupiah sore ini dipengaruhi oleh membengkaknya defisit neraca perdagangan Indonesia yang mendekati rekor terbesarnya pada kuartal lalu. Selain itu, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya pada hari ini di level 7,5%.

“Stabilitas eksternal masih tetap menjadi tantangan bagi bank sentral dan rupiah. Saya tetap bearish atas fundamental rupiah dan menargetkan rupiah berada di level 12.000 pada akhir tahun nanti,” jelas Sacha Tihanyi, currency strategist Scotiabank yang berbasis di Hong Kong kepada Bloomberg.

Sekadar tambahan informasi, BI hari ini memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,1% menjadi 5,5% pada tahun ini. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5,12%.

Editor: Barratut Taqiyyah
Sumber: Bloomberg

 

Balance of payments: BI Governor stated Indonesia’s CA deficit could potentially widen to as much as US$8bn or c.4% of GDP in 2Q14 (1Q: US$4.2bn; 2.06% of GDP) due to sustained monthly trade deficits in 2Q on the back of high fuel imports (US$10-12bn pa). (Bisnis Indonesia)

Comment: Although not entirely unexpected, sustained trade deficits in coming months could be negative for the country’s financial markets although this would still be an improvement in comparison to CA deficit of US$10bn (4.5% of GDP) in the same quarter last year. However, we are still optimistic that CA deficit would be significantly lower in 3Q in line with slowing economic growth and BI’s target for deficit of 2.5-3.0% of GDP in FY14F to be achievable.

 

Sumber : IPS RESEARCH
JAKARTA-Bank Indonesia memandang defisit neraca perdagangan April 2014 masih sesuai dengan pola musiman antara lain terkait dengan meningkatnya permintaan menjelang bulan Puasa dan Hari Raya Idul Fitri.

“Kondisi ini diperkirakan kembali membaik didorong oleh meningkatnya aktivitas ekspor sejalan dengan perbaikan ekonomi global,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam pernyataan resmi di laman BI, Jakarta, Senin.

Dengan perkembangan itu, lanjut Tirta, Bank Indonesia berkeyakinan defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan tahun 2014 dapat ditekan di bawah 3 persen dari PDB.

“Bank Indonesia akan terus mencermati risiko global dan domestik yang dapat mempengaruhi prospek defisit transaksi berjalan dan ketahanan eksternal,” ujar Tirta.

Neraca perdagangan Indonesia pada April 2014, sesuai dengan publikasi BPS, mengalami defisit sebesar 1,96 miliar dolar AS, setelah pada bulan sebelumnya mencatat surplus sebesar 0,67 miliar dolar AS. Kinerja neraca perdagangan tersebut dipengaruhi oleh neraca perdagangan nonmigas April 2014 yang berbalik dari surplus menjadi defisit, meskipun defisit neraca perdagangan migas tercatat lebih rendah dibandingkan kondisi Maret 2014.

Neraca perdagangan nonmigas mencatat defisit 0,89 miliar dolar AS dibandingkan dengan surplus 2,02 miliar dolar AS pada Maret 2014, dipengaruhi ekspor nonmigas yang terkontraksi 7,09 persen (mtm) dan impor nonmigas yang meningkat 19,32 persen (mtm). Pertumbuhan negatif ekspor nonmigas terutama terjadi pada komoditas utama yang berbasis sumber daya alam seperti batubara dan minyak nabati seiring melemahnya permintaan dari Tiongkok dan India.

Di sisi lain, ekspor manufaktur (seperti mesin/pesawat mekanik, pakaian jadi bukan rajutan, dan alas kaki) masih mengalami peningkatan. Sementara itu, meningkatnya pertumbuhan impor nonmigas terutama didorong oleh kenaikan impor pada 9 dari 10 golongan barang utama seperti mesin & peralatan mekanik, mesin & peralatan listrik, dan besi baja.

Neraca perdagangan migas juga mengalami defisit pada bulan April 2014, meskipun turun menjadi 1,07 miliar dolar AS dari 1,35 miliar dolar AS di bulan Maret 2014. Menyempitnya defisit neraca perdagangan migas ini didorong oleh kontraksi impor migas yang lebih dalam dibandingkan kontraksi ekspor migas. Impor migas terkontraksi 7,55 persen (mtm), akibat penurunan impor hasil minyak sebesar 0,5 persen (mtm) dan minyak mentah 24,78 persen (mtm), sementara ekspor migas hanya mengalami penurunan sebesar 0,35 persen (mtm) akibat turunnya ekspor minyak mentah.(ant/hrb)

 

http://www.investor.co.id/moneyandbanking/defisit-neraca-perdagangan-sesuai-pola-musiman/86096
Sumber : INVESTOR DAILY

 

TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia selama kuartal pertama 2014 mencapai US$ 58,59 miliar. Angka ini turun 2,63 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kepala BPS Suryamin mengatakan penurunan tersebut, antara lain, dipicu pemberlakuan Undang-Undang Mineral dan Batu Bara. “Regulasi tersebut membuat ekspor bahan mineral mentah menjadi terganggu,” ujarnya dalam konferensi pers bulanan di kantornya, Senin, 2 Juni 2014.

Nilai ekspor periode April 2014 juga mengalami penurunan 5,92 persen dibanding periode Maret 2014, dan juga lebih rendah 3,16 persen dibanding periode April 2013. Khusus April 2014, aktivitas ekspor Indonesia menghasilkan pendapatan US$ 14,29 miliar. Jumlah tersebut disumbangkan sektor minyak dan gas bumi sebanyak US$ 2,63 miliar, sementara sektor non-migas sebesar US$ 11,66 miliar.

Selain itu, Suryamin menambahkan, kecenderungan merosotnya harga crude palm oil (CPO) sebagai hasil olahan kelapa sawit juga menyebabkan pendapatan dari minyak nabati menurun. Namun penurunan nilai ekspor bahan mineral dan CPO itu tidak menggoyahkan posisinya sebagai komoditas terbesar penyumbang nilai ekspor. “Bahan mineral bersama dengan lemak dan minyak nabati menempati share komoditas ekspor terbesar hingga 29 persen,” ujarnya.

Bahan mineral memberikan pemasukan US$ 7,49 miliar. Sedangkan komoditas lemak dan minyak nabati menyumbang US$ 6,41 miliar.

RAYMUNDUS RIKANG R.W.

okezone JAKARTA – Setelah mengalami surplus pada Maret, neraca perdagangan Indonesia di April kembali mengalami defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2014 mengalami defisit sebesar USD1,96 miliar, turun USD2,64 miliar dari posisi Maret yang sebesar USD680 juta.

“Defisit nilai perdagangan Indonesia disebabkan oleh defisitnya sektor migas dan nonmigas, masing-masing sebesar USD1,07 miliar dan USD89 juta,” ujar Kepala BPS Suryamin, di Jakarta, Senin (2/6/2014).

Sementara dari sisi volume perdagangan, pada April 2014 neraca volume perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar 31,80 juta ton. “Hal tersebut didorong oleh surplusnya neraca sektor nonmigas sebesar 32,34 juta, sebaliknya neraca perdagangan sektor migas defisit 540 ribu ton,” jelas dia.

Sekadar informasi, impor Indonesia April 2014 mencapai USD16,26 miliar atau naik 11,93 persen dibanding Maret 2014. Namun bila dibanding April 2013, turun 1,26 persen.

Sementara ekspor Indonesia pada April 2014 mencapai USD14,29 miliar, turun sebesar 5,92 persen dibanding ekspor Maret 2014. Demikian juga bila dibanding April 2013 yang mengalami penurunan sebesar 3,16 persen. (mrt)

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) melaporkan tren perbaikan kinerja transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat terus berlanjut pada kuartal I-2014. Defisit transaksi berjalan turun dari 4,3 miliar dollar AS pada kuartal IV-2013 menjadi 4,2 miliar dollar AS. Jumlah itu setara dengan 2,06 persen dari PDB pada kuartal I-2014.

“Perbaikan ini bersumber dari penurunan impor barang dan berkurangnya defisit neraca jasa dan neraca pendapatan. Impor nonmigas masih terkontraksi mengikuti moderasi permintaan domestik sebagaimana tercermin dari menurunnya impor bahan baku dan barang modal,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs dalam pernyataan resmi, Jumat (9/5/2014).

Sementara itu, penurunan defisit neraca jasa disebabkan oleh berkurangnya pengeluaran jasa transportasi, mengikuti turunnya impor barang, dan pengeluaran jasa travel. Hal itu terkait dengan turunnya jumlah penduduk Indonesia yang bepergian ke luar negeri pascaberakhirnya musim haji dan masa liburan akhir tahun.

“Dalam periode yang sama, defisit neraca pendapatan juga menyusut, terutama akibat berkurangnya pembayaran bunga utang luar negeri sesuai jadwalnya,” tulis Peter.

Adapun surplus transaksi modal dan finansial pada kuartal I 2014 tercatat 7,8 miliar dollar AS, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan IV-2013 sebesar 8,8 miliar dollar AS. Hal ini dipengaruhi oleh penempatan simpanan swasta di luar negeri seiring derasnya aliran masuk investasi portofolio.

Perbaikan transaksi berjalan dan surplus transaksi modal dan finansial menyebabkan secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I 2014 mencatat surplus sebesar 2,1 miliar dollar AS.

“Pada April 2014, cadangan devisa terus meningkat hingga mencapai 105,6 miliar dollar AS. Bank Indonesia menilai kinerja NPI triwulan I-2014 berkontribusi positif dalam menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang,” kata Peter.
Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Indonesia 10-Year Bond Yield Falls to Eight-Month Low on Inflows
November 12, 2012

jakarta globe

Indonesia’s bonds rose, sending the 10-year yield to an eight-month low, on speculation the nation’s relatively high interest rates will draw capital from abroad.

Global funds boosted holdings of local-currency sovereign debt by almost Rp 15 trillion ($1.6 billion) this quarter to Rp 255.6 trillion on Nov. 8, Finance Ministry data show.

Bank Indonesia has kept its benchmark interest rate unchanged at 5.75 percent since February. Central bank rates are at 2.75 percent in Thailand and South Korea and at 3 percent in China. The rupiah dropped, adding to four weeks of declines.

“Indonesian bonds are rising because foreign funds are buying the debt for better yields relative to those in other countries in the region,” said Wee-Khoon Chong, a strategist at Societe Generale SA in Hong Kong. “The demand for bonds will help limit the rupiah’s weakness in the short term.”

The yield on the government’s 7 percent bonds maturing in May 2022 dropped three basis points, or 0.03 percentage point, to 5.52 percent, according to prices from the Inter Dealer Market Association. That’s the lowest level since March. The notes still pay almost 4 percentage points more than similar-maturity US Treasuries.

The rupiah fell 0.2 percent to 9,635 per dollar as of 9:46 a.m. in Jakarta, prices from local banks compiled by Bloomberg show. The currency lost 0.1 percent last week.

One-month implied volatility, which measures exchange-rate swings used to price options, was unchanged at 4.80 percent, the lowest level since September 2008.

Bank Indonesia may gradually raise the rate it pays lenders on overnight deposits while keeping the benchmark unchanged, Deputy Governor Hartadi Sarwono said in an interview in Jakarta on Nov. 9.

Editors: Anil Varma, Amit PrakashTo contact the reporter on this story: Elffie Chew in Kuala Lumpur at echew16@bloomberg.netTo contact the editor responsible for this story: James Regan at jregan19@bloomberg.net

Bloomberg
BI: Defisit Transaksi Berjalan Capai 2,4%
Kamis, 8 November 2012 | 19:08
investor daily
JAKARTA – Bank Indonesia melaporkan defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal III/2012 mencapai 2,4 persen dari produk domestik bruto atau lebih rendah dibanding kuartal II/2012 sebesar 3,5 persen dari PDB.

“Keseimbangan eksternal dalam perekonomian mengalami perbaikan sebagaimana yang diharapkan,” kata Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo dalam siaran pers di Jakarta, Kamis.

Perbaikan defisit transaksi berjalan itu disebabkan oleh membaiknya kinerja neraca transaksi perdagangan yang didorong oleh penurunan impor yang cukup tajam, khususnya barang-barang konsumsi, sementara beberapa komoditas ekspor non-migas seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mulai tumbuh positif.

Defisit transaksi berjalan menggambarkan selisih negatif antara nilai ekspor barang dan jasa dengan impor barang dan jasa.

Sementara itu, transaksi modal dan finansial (TMF) tercatat mengalami peningkatan surplus yang lebih besar, terutama didorong oleh investasi langsung (FDI), sehingga secara keseluruhan neraca pembayaran Indonesia (NPI) triwulan III-2012 kembali mencatat surplus.

Ke depan, NPI pada triwulan IV-2012 diprakirakan akan mengalami surplus yang lebih besar, ditopang oleh membaiknya transaksi berjalan dan meningkatnya surplus TMF, khususnya investasi langsung.

“Dengan perkembangan tersebut, jumlah cadangan devisa pada akhir Oktober 2012 meningkat sehingga mencapai 110,3 miliar dolar AS atau setara dengan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah,” sebut Dody.

Rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis ini juga menilai perekonomian domestik sejauh ini masih tumbuh cukup baik walaupun mengalami sedikit perlambatan.

Perekonomian Indonesia pada triwulan III-2012 tumbuh 6,2 persen, sedikit lebih rendah dari prakiraan akibat penurunan kinerja ekspor yang masih berlanjut. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kuatnya permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan kembali meningkat, ditopang oleh konsumsi dan investasi domestik yang tetap kuat. Ekspor diprakirakan juga akan mengalami perbaikan sejalan dengan membaiknya perekonomian beberapa negara mitra dagang utama, meskipun masih dibayangi ketidakpastian kondisi perekonomian global.

Dengan perkembangan tersebut, ekonomi Indonesia untuk keseluruhan tahun 2012 diprakirakan tumbuh 6,3 persen dan pada 2013 meningkat menuju kisaran 6,3-6,7 persen.

BI juga menilai stabilitas sistem keuangan dan fungsi intermediasi perbankan tetap terjaga dengan baik. Kinerja industri perbankan yang solid tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada di atas minimum delapan persen dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah lima persen.

Sementara itu, pertumbuhan kredit hingga akhir September 2012 mencapai 22,9 persen (yoy), melambat dari 23,6 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Perlambatan terutama pada kredit modal kerja yang tumbuh sebesar 21,9 persen (yoy) sementara kredit konsumsi tumbuh relatif stabil sebesar 19,6 persen (yoy).

Namun, kredit investasi tumbuh 30,4 persen (yoy) dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian nasional. (tk/ant)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s