deposito aja dirating, bwat nakut2in SIAPA…STRESSFUL stress test…

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum beranjak dari level Rp13.800 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah 18,2 poin atau 0,13 persen menjadi Rp13.840 per USD dibandingkan dengan penutupan sebelumnya Rp13.821 per USD.

Menanggapi pelemahan ini, Bank Indonesia (BI) mengaku terus melakukan stress test untuk menguji ketahanan bank di dalam negeri.

“Stress test ada dong, kisaran (level nilai tukarnya) macam-macam,” ungkap Deputi Gubernur BI Ronald Waas, Selasa (18/8/2015).

Namun dia meyakini, di level rupiah saat ini, bank masih memiliki ketahanan yang cukup. Dalam melakukan stress test, BI berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun pelaksanaan stress test masih berjalan masing-masing.

“Koordinasi dengan OJK, enggak mungkin makro berjalan tanpa mikro sementara ini masing-masing (stress test OJK dan BI),” tukasnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/08/18/278/1198237/rupiah-jeblok-hasil-stress-test-bi-bank-masih-sanggup
Sumber : OKEZONE.COM

 

Strest Test Rupiah di Posisi Rp 25.000 Tidak Perlu
Rabu, 3 Juni 2015 | 7:39

INVESTOR DAILY

JAKARTA – Otoritas Indonesia dinilai tidak perlu melakukan strest test perbankan untuk nilai tukar rupiah hingga Rp 25.000 per dolar AS seperti disarankan ekonom dari Nanyang Business School Singapura Lee Boon Keng.

“Pemerintah harus tetap percaya diri menerapkan stress test yang berjenjang terhadap rupiah, yaitu Rp 12.500, Rp 13 ribu, dan Rp 15 ribu. Pemerintah harus percaya diri dan tidak usah menggubris hal yang bisa menganggu kepercayaan pasar,” ujar Chief Economist Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ryan Kiryanto kepada Investor Daily, Senin (1/6).

Sebelumnya, di sela seminar bertajuk Indonesia Financial and Economic Conference, Kamis (28/5), Lee Boon Keng menyatakan, level nilai tukar yang dipatok dalam stress test seharusnya bisa dinaikkan hingga Rp 25.000 karena Rp 15.000 –seperti yang saat ini berlaku– tidak cukup menggambarkan kesiapan sistem keuangan Indonesia dalam menghadapi krisis.

Dia juga menekankan, perekonomian Indonesia harus bersiap menghadapi hal-hal di luar ekspektasi untuk meminimalisasi efek guncangan yang diakibatkan oleh pembalikan dana akibat pengaruh kondisi moneter global.

Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan kurs tengah BI, rupiah ditransaksikan di posisi Rp 13.230 per dolar AS pada Senin (1/6), atau melemah dari posisi Rp 13.211 pada Jumat (29/5) dan Rp 13.205 pada Kamis (28/5).

Ryan menuturkan, regulator harus mengoptimalkan Forum Komunikasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), memantau perkembangan pasar khususnya pergerakan rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). “Sehingga bisa dilakukan tindakan preventif maupun kuratif agar pasar keuangan dan kondisi perekonomian tetap terkendali,” jelas dia.

Senada, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menolak patokan stress test rupiah dinaikkan sampai Rp 25 ribu. Pasalnya, sepanjang sejarah Indonesia, nilai rupiah terendah hanya berada di kisaran Rp 17.000 yaitu pada 20-21 Januari 1998.

“Pada saat itu, ekonomi Indonesia sedang jelekjeleknya, sedang krisis, ditambah kepercayaan terhadap Presiden Soeharto sedang dalam posisi nadir,” tegas dia.

Saat ini kondisi ekonomi tidak seburuk 1998, yaitu masih bisa tumbuh di angka 5%. Padahal pada 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia -13,7% dengan utang luar negeri US$ 130 miliar dan cadangan devisa US$ 21 miliar.

Menurut Tony, yang juga menjabat komisaris independen PT Bank Permata Tbk, kendati kepercayaan terhadap Pemerintahan Joko Widodo terus menurun, tidaklah seburuk persepsi masyarakat terhadap Soeharto pada 1998. “Jadi, bagaimana mungkin rupiah bisa Rp 25.000? Itu tidak berdasar,” tegas dia.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiatmadja juga berkeyakinan rupiah tidak akan melemah hingga level 25.000. Dia pun menilai daya tahan ekonomi dan perbankan Indonesia saat ini cukup baik.

“Kalau orang Singapura yang bicara, ada kepentingan kalau masyarakat kita khawatir, maka dananya akan diparkir di sana,” terang dia.

Jahja pun menilai stress test yang telah dilakukan OJK dan BI hingga level Rp 15.000 per dolar sudah lebih cukup untuk menggambarkan daya tahan perekonomian maupun stabilitas keuangan Indonesia saat ini.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja juga menilai, stress test pelemahan rupiah hingga level Rp 25.000 terlalu ekstrem.

Menurut dia, stabilitas pada industri keuangan, khususnya perbankan, relatif terjaga seperti terlihat dari posisi CAR perbankan yang kuat maupun tingkat NPL yang masih relatif terjaga serta pengawasan otoritas yang ketat. (gtr/nti/afp/bloomberg/wsj/sn/jn)

 

 

Rabu, 20 Mei 2009 | 14:30

RATING PERBANKAN

Moodys Mungkin Turunkan Rating Deposito 10 Bank

HONG KONG. Rabu (20/5) ini, Moodys Investors Service kemungkinan akan menurunkan rating deposito dengan mata uang lokal di 10 bank di Indonesia.

Bank-bank tersebut yaitu Bank Central Asia, Bank CIMB-Niaga, Bank Danamon Indonesia, Bank Internasional Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Permata, Bank Rakyat Indonesia, Bank Tabungan Negara and Pan Indonesia Bank.

“Review itu akan mencermati jangkauan sejauh mana Indonesia mampu menyokong sistem perbankan jika memang dubutuhkan, telah berubah di di tengah-tengah perekonomian global dan krisis kredit yang tengah berjalan,” kata Vice President and Senior Credit Officer Moodys Beatrice Woo.

Femi Adi Soempeno

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s