LABA perbankan @CAPITAL FLIGHT … 230713_130815

JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta empat yang berada pada posisi bank buku 1 atau yang mempunyai modal dibawah Rp 1 triliun untuk segera menambah modal. Permintaan itu disampaikan lantaran kredit macet bank tersebut sudah berada diatas ketentuan yang diizinkan OJK.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad mengatakan, empat bank itu terpengaruh perlambatan ekonomi sehingga kinerjanya mengalami penurunan.

“Dalam kondisi saat ini memang kami sangat memperhatikan terkait dengan rasio kecukupan modal sebuah bank, jadi jangan sampai dibawah ketentuan,” ujar Muliaman ketika ditemui setelah acara Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) di Jakarta, Kamis (13/8).

Seperti diketahui, OJK menentukan rasio kecukupan modal perbankan di atas 8%. Namun, otoritas akan menjaga rasio kecukupan modal rata-rata perbankan di atas 20%. Semakin besar rasio kecukupan modal perbankan, maka semakin besar kemungkinan bank menghadapi krisis.

Secara umum Muliaman mengatakan, pada semester pertama tahun ini, kondisi permodalam dan kredit perbankan masih dalam situasi terkendali. Sampai semester I 2015, tercatat rasio kecukupan modal rata-rata perbankan sebesar 20,28%.

Sementara NPL nett rata-rata perbankan semester pertama di kisaran 1,25% dan untuk NPL Gross sebesar 2,45%. Untuk rasiio likudiitas, kedepannya otoritas akan menjaga rasio diangka 94%.

http://keuangan.kontan.co.id/news/kinerja-menurun-ojk-minta-empat-bank-tambah-modal
Sumber : KONTAN.CO.ID

Perbankan kebal krisis
Oleh Nina Dwiantika – Senin, 22 Juli 2013 | 08:59 WIB

kontan

JAKARTA. Risiko pelemahan mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada beberapa bulan terakhir tidak berdampak besar pada industri perbankan. Industri ini memiliki modal yang kuat dalam menyerap risiko.
Kepala Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS, Dody Arifianto, menyampaikan perbankan Indonesia tahan guncangan karena didukung modal besar. Apalagi sebagian besar modal baru merupakan modal inti (tier I). Berdasarkan data LPS, saat ini rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan 18,4% dan modal tier I mencapai 16,7%. Doddy menambahkan, salah satu yang harus diwaspadai perbankan adalah kekeringan likuiditas. Sebab loan to deposit ratio (LDR) atau rasio intermediasi perbankan sudah mencapai 89,1%.
Direktur Keuangan Bank Mandiri, Pahala Nugraha Mansury, mengklaim sejauh ini rasio modal Mandiri masih kuat di kisaran 15,7%, sehingga belum ada rencana memupuk modal. Perseroan memprediksi, sampai tiga tahun mendatang rasio penurunan modal hanya 0,5% per tahun, dengan rata-rata pertumbuhan kredit 20% dan rasio dividen 25% per tahun. “Rasio modal sampai akhir tahun menjadi 15%. Level itu masih cukup aman,” kata Pahala.
Selain menjaga rasio permodalan, Bank Mandiri juga akan menjaga kondisi likuiditas agar tetap mampu mengucurkan kredit. Bank Mandiri akan menyerap dana-dana jangka panjang, seperti deposito tenor 6 bulan sampai 12 bulan.
Demi menarik dana-dana tersebut, Mandiri melakukan penyesuaian bunga untuk nasabah dengan simpanan tinggi. “Pemberian bunga 5,5% untuk nasabah tertentu,” kata Pahala.
Direktur Keuangan Bank Danamon, Vera Eve Lim, mengaku pihaknya belum berencana menambah modal, sebab CAR masih 18,7%. Namun, bank ini berencana menerbitkan obligasi pada semester II-2013 jika kondisi pasar memungkinkan.
Penerbitan obligasi ini untuk membiayai kredit konsumer, khususnya otomotif. “Penerbitan obligasi akan dilakukan anak usaha, Adira Finance,” ujarnya.
Perbankan Raup Laba Rp 42,69 Triliun per Mei
Penulis : Bambang Priyo Jatmiko Senin, 15 Juli 2013 | 19:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Perbankan nasional hingga akhir Mei 2013 membukukan laba bersih sebesar Rp 42,69 triliun, atau naik 17,44 persen dari periode yang sama 2012 Rp 36,35 triliun.

Dari publikasi Bank Indonesia (BI), Senin (15/7/2013) diketahui pendapatan bunga bersih perbankan pada Mei 2013 sebesar Rp 94,69 triliun atau tumbuh Rp 80,05 triliun. Sementara itu, kredit yang disalurkan sebesar Rp 2.909,08 triliun atau naik 21,02 persen dari Mei 2012 Rp 2.403,65.

Di sisi lain, dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun pada periode tersebut mencapai Rp 3.349,66 triliun atau tumbuh 15,15 persen dari periode yang sama 2012 Rp 2.908,95 triliun.

Sejauh ini, kinerja industri perbankan masih terjaga, kendati pertumbuhan kredit sedikit mengalami perlambatan.

Gubernur BI Agus Martowardojo sebelumnya menjelaskan pelemahan pertumbuhan kredit ini juga tidak lepas dari pengaruh sentimen global yang masih belum menentu. Dengan demikian, hal ini berimbas ke perekonomian dalam negeri.

“Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat, pertumbuhan kredit hingga akhir Mei 2013 melambat menjadi 21 persen (year on year atau yoy),” kata Agus.

BI mencatat, untuk kredit modal kerja dan kredit investasi, pertumbuhannya masing-masing sebesar 21,7 persen dan 22,9 persen year on year. Sementara itu untuk pertumbuhan kredit konsumsi turun menjadi 18,4 persen year on year.

Bank sentral juga mengkhawatirkan kinerja kredit yang tinggi ini dapat mengganggu kinerja perbankan dan stabilitas sistem keuangan.

Dari sisi rasio kecukupan modal, BI mencatat rasionya masih 18,4 persen dan berada jauh di atas ketentuan minimum 8 persen serta rasio kredit bermasalah (non-performing loan atau NPL) gross yang masih rendah sebesar 1,95 persen pada bulan Mei 2013.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s