DPK @ bbri … 160913_020815

JAKARTA kontan. Bank pelat merah mulai realistis menghadapi tantangan bisnis yang lebih berat. Ekonomi yang melambat membuat bank tak mau gegabah memasang target. Bank Rakyat Indonesia (BRI), semisal, tak jor-joran menggeber kredit di tahun ini.

Direktur Keuangan BRI, Haru Koesmahargyo mengatakan, penyaluran kredit BRI sampai akhir tahun ini dipatok hanya tumbuh 11%-13%, lebih rendah dari kenaikan kredit tahun lalu sebesar 13,9%.

Terlebih, potensi kenaikan kredit macet (NPL) juga kian meningkat. BRI sendiri memproyeksikan, rasio NPL sampai akhir tahun ini sebesar 2,1%-2,4%. “Ini lebih tinggi dari NPL akhir 2014 sebesar 1,69%,” ujar Haru, kemarin (31/7).

Meski ada potensi naik, BRI tetap berupaya menekan NPL agar tak membesar. Wakil Direktur Utama BRI, Sunarso menambahkan, untuk menekan NPL, BRI akan selektif dalam menyalurkan kredit. Haru bilang, BRI akan mengoptimalkan aset agar kinerja masih bisa bertumbuh.

BRI juga akan menekan cost of fund dan mendongkrak fee based demi menggenjot pendapatan. “Untuk fee based kami menargetkan low to medium single digit,” ujar dia.

Lantaran kredit melambat, BRI pun memprediksi perolehan net interest margin (NIM) tahun ini akan turun menjadi 7,9%-8,2% sampai akhir tahun. Tahun lalu, BRI masih bisa meraih NIM 8,51%.

Di semester II-2015, ada dua sektor yang akan menjadi perhatian BRI. Pertama, sektor UMKM. Kedua, sektor infrastruktur seiring proyek pemerintah yang mulai menggelindning.

Pada semester II, belanja pemerintah di bidang infrastruktur sudah mulai jalan. Sampai akhir tahun, BRI menargetkan laba bersih sampai hanya tumbuh 1%-3% menjadi Rp 24,9 triliun.

Target ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan laba bersih 2014 yang mencapai 14,4%. Bank Mandiri pun mengaku berhati-hati memasang target.

Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Mandiri meramal, perlambatan ekonomi terjadi hingga Juni 2016. Dus, pertumbuhan laba bakal akan tertekan hingga 12 bulan.

Karena itu, Bank Mandiri fokus menjaga kualitas kredit ketimbang jor-joran memacu kredit. “Kami akan lakukan cost reduction. Laba kami juga bukannya tidak tumbuh. Tapi kami lebih memilih dimasukkan di celengan atau Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) agar tetap sehat,” ujar Budi, kemarin.

Jurus lain, memacu kredit segmen mikro. Maklum, kredit ini memiliki margin legit. Bank Mandiri juga berharap pada pendapatan komisi.

Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kantongi laba Rp6,1 triliun pada kuartal I-2015. Laba tersebut disumbang oleh pendapatan bunga yang mencapai Rp20,1 triliun atau tumbuh sebesar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2014.Wakil Direktur Bank BRI Sunarso menyebutkan sumber pendapatan lain berasal dari pendapatan nonbunga yang mencapai Rp2,7 triliun atau tumbuh sebesar 51,1 persen dari periode yang sama tahun 2014.

“Jadi total income atau total pendapatan yang diperoleh BRI mencapai Rp23,1 triliun, meningkat sebesar 22,4 persen (yoy),” ucapnya pada pemaparan kinerja BRI di Gedung BRI, Kamis (30/4/2015).

Lebih lanjut dia mengatakan, peningkatan laba tersebut didukung oleh kenaikan total aset Bank BRI sebesar 31,1 persen. Dari sebelumnya Rp595,7 triliun pada triwulan I-2014 menjadi Rp781,2 triliun pada kuartal I-2015.

“Sejalan dengan peningkatan laba, ekuitas BRI juga mengalami pertumbuhan dari Rp78,8 triliun pada kuartal I-2014 menjadi Rp95,5 triliun pada kuartal I-2015 atau naik 21,2 persen,” tukasnya.

 

http://economy.okezone.com/read/2015/04/30/278/1142428/laba-bri-naik-22-capai-rp6-1-triliun
Sumber : OKEZONE.COM

JAKARTA – Bank Indonesia mencatat jumlah dana pihak ketiga (DPK) pada Desember 2014 mencapai Rp4.007,9 triliun atau tumbuh sebesar 12% year on year (yoy).

Jumlah DPK pada bulan Desember lalu mengalami perlambatan pertumbuhan dibanding bulan sebelumnya yakni November 2014 yang mencapai Rp3.930,1 triliun atau bertumbuh 13,4% (yoy).

Seperti yang dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, perlambatan pertumbuhan DPK tersebut terjadi pada seluruh jenis simpanan yaitu giro, tabungan, dan simpanan berjangka.

Selain itu, perlambatan pertumbuhan DPK juga dipengaruhi oleh perlambatan simpanan milik korporasi yang diindikasi terkait pembiayaan kegiatan produksinya.

Giro pada Desember tahun lalu tercatat senilai Rp845,7 triliun atau tumbuh 6,1% (yoy), melambat dibanding November 2014 yang mencapai Rp873 triliun atau tumbuh 7,8% (yoy).

Perlambatan giro tersebut bersumber dari giro rupiah yang tumbuh hanya sebesar 7,5% (yoy) atau Rp576,9 triliun, dibanding bulan November 2014 yang bertumbuh 12,3% (yoy) atau mencapai Rp601,3 triliun.

Untuk giro valas pada Desember 2014 tercatat Rp268,8 triliun atau tumbuh sebesar 3,1% (yoy), sedangkan pada bulan sebelumnya giro valas mencapai Rp271,7 triliun atau sebesar 0,9% yoy.

Sementara itu, jumlah keseluruhan tabungan rupiah dan valas mencapai Rp1.296 triliun atau tumbuh melambat 6,1% (yoy) dibanding bulan November yang mencapai Rp1.228,5 triliun atau tumbuh 7% (yoy).

Jumlah simpanan berjangka baik berupa rupiah maupun valas pada Desember tahun lalu juga mengalami perlambatan pertumbuhan yakni 19,7% (yoy) atau senilai Rp1.866,2 triliun dibanding bulan November yang bertumbuh 21,2% (yoy) atau mencapai Rp1.828,5 triliun.

Perlambatan jumlah simpanan terjadi pada simpanan milik perseorangan. Hal itu ditengarai karena meningkatnya konsumsi masyarakat di bulan Desember 2014 yang bertepatan dengan hari raua Natal, tahun barudan libur sekolah.

http://finansial.bisnis.com/read/20150205/90/399012/bank-indonesia-tumbuh-melambat-dpk-capai-rp4.0079-triliun
Sumber : BISNIS.COM

 

The good times end

Banks’ solvency is not in question. Profitability is another matter
the economist
Sep 14th 2013 | Jakarta |From the print edition
IN THE late 1990s Indonesia’s banking sector collapsed after the rupiah lost about 85% of its value against the dollar, leading to a spate of loan defaults by borrowers unable to service their foreign debts. The rupiah’s recent decline—the currency has dropped by 14% against the dollar since the start of the year—and a big current-account deficit have revived uncomfortable memories of that period.

Indonesia’s economy is now growing at its slowest pace in almost three years. In real terms GDP expanded at an annual rate of 5.8% in the second quarter, down from a recent high of 6.8%. Since May Bank Indonesia, the central bank, has lifted its main interest rate by 125 basis points to 7%, the highest since June 2009, in an effort to reverse the rupiah’s slide.

When the currency was stable it made sense for firms to borrow in dollars even if their revenues were in rupiah, says Ivan Tan of Standard & Poor’s, a ratings agency. Slower growth, currency depreciation and higher interest rates will “start to stretch” companies’ ability to repay their debts.

Firms with dollar revenues, which are naturally hedged against exchange-rate risk, may not be as safe as they once were. Many of Indonesia’s biggest exporters are in the natural-resources sector, selling things like palm oil, rubber or minerals. International prices for such commodities have tumbled recently as growth has slowed in China and other large importing countries.

This is not the 1990s again, however. Indonesia’s banks have high capital ratios—an average of 16.9% in May for the country’s commercial lenders. Credit growth has raced along at an annual rate of about 20% in recent years, but this has been financed mostly by deposits rather than flightier wholesale borrowing. Non-performing loans are equivalent to only 2% of total lending.

Corporate balance-sheets are widely accepted to be stronger than they were during the Asian crisis. Stricter regulation means that lenders are better at managing their own exposure to exchange-rate risk, too. Fitch, another ratings agency, notes that banks’ net open positions (the difference between the foreign assets and foreign liabilities on their balance-sheets) average only 2% of their capital, well within the 20% maximum permitted at the end of each business day.

Even so, change is coming to the industry. Indonesia’s banks have been among the world’s most profitable in recent years. As the economy slows, and banks put aside more provisions for bad loans, the years of effortlessly high returns are ending.

From the print edition: Finance and economics
4 Bank BUMN mengaku kuat menahan gejolak ekonomi
Oleh Oginawa R Prayogo – Selasa, 10 September 2013 | 18:37 WIB
kontan
JAKARTA. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mengakui keadaan empat bank badan usaha milik negara dalam keadaan yang baik dan dianggap cukup menghadapi tekanan perekonomian saat ini.
Keempat bank yang dimaksud adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Tabungan Milik Negara Tbk (BBTN).
“Secara fundamental empat bank pemerintah ini cukup solid. Kuat dalam menahan tekanan (ekonomi),” ujar Gatot Suwondo, Ketua Himbara usai acara CEO Day Danareksa di Hotel Four Seasons, Selasa (10/9).
Gatot bilang, yang dimaksud solid adalah, keadaan umum empat bank tersebut mempunyai

tingkat rata-rata loan deposit ratio (LDR) sebesar 86%.

Kemudian rasio kredit macet (non-performing loans/NPL) di perbankan tersebut kurang dari 3%.
Gatot menjelaskan tantangan ke depannya adalah, bagaimana menjaga pertumbuhan keempat bank tersebut secara berkesinambungan. Dia menginginkan, perbankan tersebut bisa terus mengucurkan kreditnya ke hal yang lebih ke produktif.
“Kalaupun (kredit) konsumtif, lebih ke yang dasar dulu seperti pembelian rumah pertama (KPR),” ujar Gatot yang juga menjabat sebagai Direktur Utama BNI.
Sebelumnya, Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia (BI) juga menjelaskan hal serupa. “Sekarang dalam kondisi sehat. Perbankan kita dihormati dunia karena

tingkat kesehatan, kecukupan modal, tingkat non performance low rendah dan likuiditasnya

terjaga,” jelas Agus, pekan lalu.

Dana pihak ketiga perbankan masih tumbuh

Oleh Nina Dwiantika, Adhitya Himawan – Selasa, 10 September 2013 | 10:16 WIB
kontan

JAKARTA. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di kuartal III 2013 tampak makin kuat. Hasil survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pelaku perbankan optimistis, DPK pada kuartal III tumbuh lebih tinggi ketimbang kuartal sebelumnya. Meskipun, pertumbuhan DPK tahun ini lebih rendah ketimbang tahun lalu.

BI juga mencatat, peningkatan penghimpunan DPK terjadi pada kelompok bank besar. Sementara, pertumbuhan DPK kelompok bank menengah dan kecil melambat.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin, mengatakan lantaran ekonomi melemah, banyak nasabah memindahkan dana mereka ke bank besar. Untuk menggaet dana tersebut, Bank Mandiri menaikkan bunga simpanan deposito sebesar 150 basis poin (bps) menjadi 7,75%. “Ini hanya untuk nasabah khusus, misalnya, simpanan Rp 20 triliun,” ujar Budi.

Meski harus mengerek porsi dana mahal, Budi mengatakan, langkah itu harus dilakukan untuk menjaga likuiditas. Meskipun, likuiditas Bank Mandiri masih terjaga dengan rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) sebesar 85%.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga akan menaikkan suku bunga deposito sebesar 50 bps pada bulan ini. Direktur Keuangan BRI, Achmad Baequni, beralasan sejak BI menaikan suku bunga acuan pada Juni 2013, BNI belum menaikan bunga deposito. Kenaikan bunga deposito ini akan mendongkrak target pertumbuhan DPK  BNI antara 18%-20%. “Likuiditas BRI masih aman, tapi jika ada yang masuk akan kami serap berapapun nilainya,” tambahnya.

Biaya dana ikut naik

Untuk memperebutkan DPK, bank menengah dan kecil mau tak mau ikut menaikkan bunga simpanan untuk menjaga likuiditas. Direktur Utama Bank Ina Perdana, Edy Kuntardjo, mengatakan akan menaikkan bunga deposito antara 0,2%-0,5%. Meski mengaku tak mengalami kesulitan likuiditas, Presiden Direktur Bank Maspion, Herman Halim, mengatakan akan menaikkan suku bunga deposito dari 7% menjadi 8,25%-8,50%.

Kenaikan bunga simpanan  jelas akan menggerek kenaikan biaya dana.  BI memproyeksi, rata-rata biaya yang dikeluarkan bank atas dana nasabah dalam rupiah naik 11 bps menjadi 5,45% per kuartal III 2013. Tapi, “Kenaikan biaya dana bisa mencapai 100 basis point,” kata Budi. Nah, kalau biaya dana naik, siap-siap bunga kredit ikut naik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s