rup1(1????)AAAh … 110315

kursUSDidr1967_2015 100215

usdidr chart 1999_2014

dollar index 060315_2004berdasarkan grafik kurs rupiah per 1 US Dollar sejak 1990, ternyata setidaknya 3 kali kurs 12000-13000 TERJADI, yaitu JAMAN GUS DUR, SBY, dan AWAL JOKOWI… politis kah ? eksternal kah ? well, kombinasi semua faktor seh 
IMBAS kejatuhan RUBEL dkk @ RUP1AH n EKONOMI MAKRO kita

 

cds idr 11032015mwatch
cds v default risk tablecds 200 equals to 13.9% bangkrut, jadi maseh ada 76,1% tidak bangkrut
cds v default risk v S&P tablecds Indonesia padahal @160, berarti sewajarnya diganjar AA oleh pemeringkat Standard & Poor, itu tingkat negara maju bo 🙂

Credit default swaps (CDS) allow sellers to take on, or buyers to reduce, the default risk on a bond. At its most basic, the pricing of CDS measures how much a buyer needs to pay to purchase, and how much a seller demands to sell, protection against default of an issuer’s debt. CDS spreads therefore are one way the market rates creditworthiness. Widening spreads suggest increasing risk.
The Markit iBoxx family of indexes measures total returns for different segments of the bond markets. Investors use the indexes to benchmark and measure their performance as well as to inform the construction of their own portfolios.

cds idr 2007_2010 trendJIKA DIBANDINGKAN cds spreads 2015/saat ini @156-160, maka LEBE RENDAH DIBANDINGKAN dengan cds spread 2010 @200, bahkan terhadap 2008 @ 800
JAKARTA kontan. Risiko investasi Indonesia meningkat seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Ini terlihat dari credit default swap (CDS) Indonesia untuk tenor 5 tahun dan 10 tahun yang kemarin naik ke level tertinggi sejak akhir Januari 2015.CDS merupakan persepsi risiko investasi di suatu kawasan. Semakin rendah angka CDS, semakin rendah pula risiko tersebut.Mengutip Bloomberg per 10 Maret 2015, CDS Indonesia tenor 5 tahun berada di level 160,18 naik 11,68 bps dibandingkan hari sebelumnya. Padahal pada 2 Maret 2015, CDS Indonesia berjangka waktu 5 tahun sempat menyentuh level terendah sejak September 2014.Sementara CDS Indonesia tenor 10 tahun kemarin senilai 239,03 naik 14,47 bps dari hari sebelumnya. Pada 2 Maret 2015, CDS berjangka 10 tahun ini sempat menyentuh level terendah sejak Desember 2014.

Hari ini, kurs tengah Bank Indonesia memperlihatkan nilai tukar rupiah Rp 13.164 per dollar AS, melemah 0,8% dibanding hari sebelumnya.

Editor: Mesti Sinaga

The government is preparing a series of regulations to help limit the impact of currency weakening and strengthen its external balance (current ccount). These measures include a variety of tax incentives to help local manufacturers boost exports such as tax cuts for up to six years, accelerated depreciation and amortization, a reduction in tax on dividends to 10% and extension of losses carried forward, from five to 10 years. The MoF also plans to issue a temporary anti-dumping duty to curb imports even before investigation of suspected anti-dumping activity is completed. Another measure would be a program to boost the use of biofuels to improve the country’s energy mix and lower dependence on fossil oils. (Jakarta Post).
Sumber : IPS RESEARCH

JAKARTA – Menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dinilai akan membatasi daya beli di dalam negeri. Apalagi saat ini harga-harga tengah meningkat.

Kendati Rupiah melemah, namun di pasar keuangan hal ini menjadi peluang bagi pelaku pasar. Demikian dikatakan oleh Analis Lucky Bayu Purnomomo, dalam Power Breakfast MNC Business, di Jakarta Rabu (11/3/2015).

“Itu alasan yang menjadikan consumer good akan menjadi leading sektor pada pekan ini,” ujarnya.

Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah pada pukul 16.20 WIB ini terpantau di kisaran Rp13.094 per USD, di mana menit sebelumnya ambruk di posisi Rp13.105 per USD.

Seperti diketahui, Rupiah pekan lalu bergerak di kisaran Rp12.900 per USD. Namun pekan ini rupiah menjelajah zona baru di bawah Rp13.000 per USD.

http://economy.okezone.com/read/2015/03/11/278/1116803/penguatan-dolar-as-batasi-daya-beli
Sumber : OKEZONE.COM

JAKARTA. Rupiah anjlok bukan akhir segalanya. Justru, selalu ada peluang, termasuk pada saat rupiah melemah seperti sekarang.

Sebagai gambaran, pertahanan rupiah terhadap dollar AS kian melemah. Kemarin, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah melemah 0,49% ke Rp 13.047 per dollar AS.

Sedangkan, di pasar spot hingga pukul 20.40 WIB, rupiah merosot ke level Rp 13.051, posisi terburuk  sejak tahun 1998.

Bank besar juga sudah menjual dollar di atas Rp 13.000. Bahkan, lima bank diantaranya memasang kurs jual dollar AS di atas Rp 13.100.

Nah, rupiah yang sedang loyo dimanfaatkan nasabah bank untuk memupuk simpanan berdenominasi dollar AS. Hasil pantauan KONTAN di KCP Bank BCA Jalan Kyai Maja, Jakarta, aktivitas perburuan dollar meningkat. “Sejak dua minggu terakhir, di sini banyak nasabah yang membuka tabungan, deposito dan giro dalam dollar,” ujar Sari, salah satu customer service BCA, Jumat (6/3).

Aktivitas ini banyak dilakukan oleh nasabah prioritas BCA. “Mereka tidak menukar dollar ke rupiah, melainkan menambah dan membuka simpanan dollar,” imbuh Sari.

Toh, secara umum, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA menilai, animo masyarakat menyimpan dollar di bank belum besar. Lagi pula BCA justru sedang membatasi penghimpunan valas karena likuiditas valas BCA masih memenuhi permintaan kredit. “Simpanan valas akan naik jika bank memberi bunga simpanan tinggi,” kata Jahja.

Tren peningkatan simpanan valas juga terjadi di Bank BNI. Darmadi Sutanto, Direktur Konsumer dan Ritel BNI mengatakan, kenaikan animo masyarakat menyimpan dollar AS sudah terjadi pada beberapa pekan terakhir.

BNI pun memanfaatkan situasi ini untuk menghimpun dana pihak ketiga (DPK) valas. Tahun ini, BNI menargetkan pertumbuhan DPK valas 14%-16%. Tahun lalu, DPK valas BNI turun 5% menjadi setara sekitar Rp 43,94 triliun.

Memang, peningkatan tersebut tak terjadi merata di semua bank dan di semua wilayah. Di Bank BRI Cabang Palmerah, Jakarta, misalnya, belum tampak kenaikan pembukaan simpanan valas. “Belum ada permintaan untuk simpanan tabungan dan deposito valas baru,” tutur Rendy Wahyu, Customer Service di kantor tersebut, kemarin.

Roy A. Arfandy, Direktur Utama Bank Permata berpendapat, pelemahan rupiah belakangan ini tak berdampak langsung pada kenaikan simpanan valas di perbankan.

 

http://keuangan.kontan.co.id/news/rupiah-loyo-simpanan-dollar-dilirik
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA kontan. Nilai tukar mata uang dollar Amerika Serikat (AS) yang menguat terhadap rupiah sejak kemarin teryata tidak banyak berimbas pada transaksi penukaran valuta asing (valas) di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Direktur Treasury dan Market Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan, permintaan rupiah masih normal meskipun nilai kurs rupiah sempat tembus Rp 13.000 per dollar

“Transaksi yang normal ini karena fluktuasi kurs dari adanya faktor global dimana hampir semua mata yang melemah terhadap US$,” kata Royke, Jumat (6/3). Bank berplat merah ini menawarkan nilai kurs sebesar Rp 12.893,00 untuk beli dan Rp 13.057,00 untuk jual yang terpampang pada info kurs Bank mandiri.

Editor: Uji Agung Santosa

dollar index 060315liveJAKARTA kontan. Dollar Amerika Serikat (AS) semakin perkasa terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Para pelaku pasar masih menanti sejumlah pengumuman data ekonomi AS untuk mengambil posisi. Mengutip Bloomberg, Kamis (5/3) pukul 18.00 WIB, pasangan EUR/USD turun 0,29% dibandingkan hari sebelumnya menjadi 1,1046.

Pasangan AUD/USD turun 0,12% ke 0,7808. Sementara USD/JPY naik 0,37% ke 120,1200.

Suluh Adil Wicaksono, analis PT Millenium Penata Futures, menjelaskan, EUR/USD melemah menjelang jumpa pers Bank Sentral Eropa (ECB). Presiden ECB Mario Draghi akan mengumumkan stimulus moneter. Selain itu, euro juga tertekan akibat buruknya data-data ekonomi Zona Eropa, seperti PMI sektor jasa Spanyol dan Italia.

“Secara fundamental, mustahil euro dapat menguat terhadap USD,” ungkap Suluh.

Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menuturkan, pasangan AUD/USD bergerak mendatar. Di satu sisi, data penjualan ritel Australia bulan Januari sesuai ekspektasi, yakni tumbuh 0,4%.

Namun, aussie juga terimbas oleh sentimen negatif dari pemerintahan Tiongkok yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 7% atau lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, sebesar 7,5%.

Sebagai mitra dagang utama China, hal ini turut menyeret pelemahan aussie. Sementara nasib dollar AS, ditentukan oleh data nonfarm payrolls yang diumumkan Jumat (6/3) malam waktu setempat. Apabila hasilnya positif, maka akan memberikan tenaga bagi dollar AS.

Analis PT SoeGee Futures, Nizar Hilmy mengatakan, USD/JPY bergerak konsolidasi karena pasar masih menunggu pengumuman data nonfarm payrolls AS. “Pasar sedang mencari arah sembari menunggu katalis baru,” kata Nizar. Nizar memperkirakan, hari ini pasangan USD/JPY masih dalam pergerakan konsolidasi sampai pengumuman data ketenagakerjaan di AS.

Editor: Barratut Taqiyyah
BANDUNG kontan- Bank Indonesia (BI) menilai peraturan Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengenai kewajiban penggunaan letter of credit (LC) akan berdampak positif pada devisa negara. Pasalnya dengan diterapkannya aturan ini, jumlah dan nilai uang dari ekspor bisa lebih jelas.Adapun peraturan wajib LC tersebut akan diterapkan pada awal April pada empat komoditas ekspor, yakni crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil(CPKO), mineral, batu bara serta minyak bumi dan gas.”Mestinya ada (pengaruhnya), karena untuk beberapa ekspor komoditi itu kan dengan LC, maksudnya supaya jumlah dan nilainya uangnya itu jelas, jadi kalau yang diekspor itu devisa hasil ekspornya paling tidak sudah dicatat dan dibukukan dulu di bank dalam negeri setelah itu kan bisa dipakai lagi,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, Sabtu (28/2/2015).Dengan begitu, Tirta menyebutkan bahwa aturan ini diharapkan bisa menambah supply valas di pasar valas domestik. “Itu yang kita harapkan,” tukasnya.Sebagai informasi, LC adalah suatu surat pernyataan yang dikeluarkan olehissuing bank atas permintaan pembeli atau importer yang ditunjukkan kepada penjual, eksportir atau beneficiary melalui advising/conforming bank dengan menyatakan bahwa issuing bank akan membayar sejumlah uang tertentu apabila syarat-syarat yang ditetapkan dalam L/C tersebut dipenuhi.Letter of credit merupakan jasa bank yang diberikan kepada masyarakat untuk memperlancar atau mempermudah pelayanan arus barang. Baik arus barang dalam negeri (antarpulau) maupun arus barang antarnegara (ekspor-impor).

(rzk)

 

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah. Rupiah pagi ini langsung menembus pelemahan terendahnya di Rp13.052 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis (5/3/2015), Rupiah pada perdagangannon-delivery forward (NDF) bergerak langsung melemah Rp29 poin atau 0,23 persen ke Rp13.019 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp12.990 per USD.

Pada pembukaannya, tercatat di level Rp12.999 per USD. Dengan pergerakan harian di kisaran Rp12.999-Rp13.052 per USD.

Namun, analis Samuel Sekuritas Rangga Tjipta mengatakan, Dolar melemah di Asia membuat rupiah menguat tipis pada penutupan kemarin.

“Sementara itu aksi jual terlihat di IHSG dan SUN walaupun sempat menguat tipis di pembukaan Selasa pagi. Rupiah berpeluang melanjutkan penguatannya hari ini dengan dollar index yang turun,” ujarnya.

(rzy)

Rupiah masih terkapar. Di pasar spot, Rabu (4/3), rupiah melemah 0,13% terhadap terhadap
dollar Amerika Serikat (AS) dibandingkan hari sebelumnya menjadi Rp 12.986. Di kurs tengah
Bank Indonesia, rupiah juga melemah satu poin ke 12.963.
Albertus Christian, Senior Research and Analyst PT monex Investindo Futures mengatakan,
pelemahan rupiah akibat menurunnya tingkat kepercayaan investor, terhadap pergerakan
rupiah yang konsisten melemah dari waktu ke waktu. Ini tercermin oleh sedikitnya investor
asing yang menyerap penawaran surat utang negara (SUN).(kontan/az)

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/2) pagi ini di Bank Rakyat Indonesia (BRI) menguat tipis dibanding posisi kemarin.

Pantauan Beritasatu.com di BRI cabang Jakarta Kemayoran pukul 09.15 WIB, rupiah berada pada posisi kurs beli Rp 12.940 per dolar AS, sementara posisi kurs jual Rp 13.000 per dolar AS.

Dibandingkan Senin (2/3) pukul 12.00 WIB, posisi kurs beli Rp 12.945 per dolar AS atau menguat 5 poin, sementara posisi kurs jual Rp 13.015 per dolar AS atau menguat 15 poin.

Sementara itu nilai tukar rupiah dengan mata uang lain berdasarkan situs resmi BRI tercatat sebagai berikut :

– Dolar Singapura : kurs beli Rp 9.442,90 ; kurs jual Rp 9.560,96.
– Dolar Australia : kurs beli Rp 9.995,08 ; kurs jual Rp 10.142,37.
– Yen Jepang : kurs beli Rp 107,37 ; kurs jual Rp 108,71.
– Euro Eropa : kurs beli Rp 14.417,60 ; kurs jual Rp 14.596,51.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/253765-kurs-jual-rupiah-di-bri-pagi-ini-rp-13000-per-dolar-as.html
Sumber : BERITASATU.COM

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengaku, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak begitu buruk bagi Indonesia jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Meski hampir menyentuh Rp13.000 per USD, Sofyan mengaku mata uang Rupiah tetap yang paling baik. “Dibandingkan negara ASEAN periode kapan, lihat Jepang itu sudah 30 persen depresiasinya, Jepang itu kan tergantung persepsinya kapan, nah secara umum Rupiah its ok dibandingkan mata uang yang lain,” kata Sofyan di Kantor Wapres, Jakarta, Rabu (25/2/2015).

Mengenai efek psikologis, Sofyan menuturkan, situasi pelemahan saat ini dengan kondisi beberapa tahun yang lalu tentu berbeda jauh. Batas efek psikologis yang terjadi di 1998 tersebut lantaran nilai tukar Rupiah dari Rp2.400 ke Rp13.000 per USD.

Bahkan, dirinya mengungkapkan, pelemahan nilai tukar Rupiah yang saat ini terjadi memiliki keuntungan tersendiri, yaitu dalam sektor ekspor. Di mana, ekspor akan menjadi lebih kompetitif sedangkan impor akan mengalami pengurangan.

“Jadi jangan membayangkan 2008-2009 dengan sekarang, basis kita kan dari Rp11.000-Rp11.500 dari anggaran tahun lalu menjadi Rp12.500 terjadi pelemahan hanya berapa persen saja, tidak ada efek psikologis gitu loh,” ujar dia.

Sofyan menambahkan, untuk saat ini yang paling penting dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah menjaga laju inflasi dan juga membenahi manajemen ekonomi Indonesia. Sebab, jika kedua itu baik, maka ekonomi Indonesia dipastikan akan lebih baik.

(rzy)

JAKARTA – Hari ini, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah ke level Rp12.984 per USD. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, kondisi ini disebabkan oleh risk on dan risk off yang terjadi di dunia.

Seperti diketahui, Bloomberg Dollar Index, mencatat Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) mencatat pelemahan cukup rendah. Rupiah sentuh level terendah di Rp12.847-Rp12.983 per USD.

Jadi secara umum, lanjutnya, di dunia terjadi penguatan dolar AS. Menurutnya, Indonesia harus siap dengan kondisi itu, kalau di Indonesia currency sampai ke Rp12.800- Rp12.700.

“Kita harus siap ke depan akan ada depresiasi karena dolar terjadi penguatan dan di dunia AS merupakan ekonomi yang betul-betul sedang perbaikan dibandingkan negara lain, jadi kita harus menerima kondisi bahwa Amerika akan menguat dan currency lain akan melemah. Tetapi Indonesia di arah yang baik,” ungkapnya Jumat (27/2/2015).

Dirinya, terus mengikuti perkembangan dari Gubernur Federal Reserve Janet Yellen mengenai statement Dovish yang masih akan cukup sabar untuk tidak terburu-buru menyesuaikan tingkat suku bunga. Meskipun begitu, situasi ekonomi AS masih tetap diperhatikan lantaran tingkat inflasi AS tengah meningkat.

“Core inflation di AS adalah gejala yang memang diperhatikan kalau inflasi terjadi peningkatan di batas tertentu kondisi yang akan melengkapi kebijakan AS untuk naikkan bunga,” imbuhnya.

Jadi secara umum, lanjutnya, di dunia terjadi penguatan dolar AS. Menurutnya, Indonesia harus siap dengan kondisi itu, kalau di Indonesia currency sampai ke Rp12.800-Rp12.700.

http://economy.okezone.com/read/2015/02/27/278/1111544/gubernur-bi-ri-harus-siap-serangan-dolar
Sumber : OKEZONE.COM

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengkhawatirkan penurunan rupiah belakangan ini. Apabila nilai tukar tembus Rp 13.000 per dollar AS, maka dunia usaha, kata dia, akan terkena dampaknya.

“Pengusaha yang impor akan berat, yang punya pinjaman dollar juga. Bagaimana kalau rupiah melemah terus,” kata Suryo di Jakarta, Rabu (25/2/2015).

Menurut dia, pemerintah harus segera melakukan berbagai kebijakan yang tepat. Sebab, apabila situasi nilai tukar terus melemah, maka iklim usaha pasti terganggu. “Dalam situsi ini, (pemerintah) jaga iklim usaha, jangan sampai terganggu,” kata dia.

Bagi dia, nilai tukar yang stabil akan jauh lebih baik bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, dia meminta agar pemerintah segera bergerak agar dunia usaha tidak terganggu.

Selain itu, Suryo juga memperhatikan bagaimana pemerintah mengambil berbagai kebijakan dalam dunia usaha. Salah satu yang menjadi fokus perhatian dia adalah kebijakan pelarangan penjualan minuman keras.

“Misalnya miras, di Bali, turis gimana kalau tidak ada miras. Dampaknya pada pariwisata. Pandailah atur kebijakan sehingga arus investasi yang deras masuk,” ucap dia.

(Bloomberg) — Asian currencies are likely to strengthen in 2015 for the first time in three years as exchange rates already more than reflect the prospect of higher U.S. interest rates, according to Manulife Asset Management Ltd.

Indonesia’s rupiah, India’s rupee and Malaysia’s ringgit will lead the gains, said Endre Pedersen, who helps manage $45 billion as chief investment officer for Asian fixed income outside of Japan at the unit of Canada’s largest life insurer. The Bloomberg-JPMorgan Asia Dollar Index, which tracks the region’s 10 most-active currencies excluding the yen, sank to a four-year low in January.

“We’ve been seeing dollar strength, particularly against South Asia, since 2013, so that trade for us is starting to get somewhat long,” Pedersen said in an interview in Singapore Tuesday. “We have seen long periods of sell-offs and weakness in Asian currencies. That trend might actually change this year. That is probably the biggest call we are making.”

The greenback advanced against all 16 major currencies in the past six months as signs of an improving U.S. economy boosted the odds of a U.S. interest-rate increase while monetary authorities loosened policy in Europe, China and Japan. Futures contracts indicate there’s an 82.5 percent chance the Federal Reserve will boost its benchmark to at least 0.5 percent by December, data compiled by Bloomberg show. It’s been held at a maximum 0.25 percent since December 2008.

Top Pick

The rupiah is Manulife’s top pick in the region, said Pedersen, who sees slowing inflation and President Joko Widodo’s efforts to improve fiscal balances attracting global funds. The rupee is seen buoyed by Prime Minister Narendra Modi’s reforms to revive growth in Asia’s third-largest economy, he said.

“We’re expecting flows and interest in Asia to remain,” Pedersen said. “You are going to see opportunities, not necessarily today, but during the course of this year.”

Overseas funds, which poured a record $42 billion into Indian stocks and bonds in 2014, have added another $7.1 billion to their holdings this year. Indonesia has lured $3.39 billion in 2015, data compiled by Bloomberg show.

Pedersen said he likes the ringgit as the currency has been “too beaten up” given that Malaysia runs a trade surplus. The ringgit has lost 2.4 percent this year in Asia’s worst performance on concern tumbling crude prices will erode revenue for the only net oil exporter among the region’s 10 largest economies.

Low Yields

Pedersen, whose Asia Total Return Bond Fund has outperformed peers with a 12 percent gain in the past year, said he is seeking returns more from currency appreciation in the region than from rallies in bonds, which offer “very little value” given how low yields are.

A JPMorgan Chase & Co. index of Asian local yield slumped to 4.78 percent on Feb. 3, the lowest since June 2013, as the plunge in Brent crude helped slow inflation in the region. The gauge is approaching levels last seen when the Fed first signaled it will pare its unprecedented bond-buying program.

“Rates are still going to hurt you massively,” Pedersen said. “We are very much cautious on rates.”

 

JAKARTA — Sebagian besar mata uang Asia ditransaksikan menguat terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini, Jumat (13/2/2015).

Dari 11 mata uang Asia, sebanyak tujuh mata uang menguat dipimpin oleh won sebesar 0,97% disusul oleh dolar Taiwan 0,37% dan ringgit 0,33%.

Posisi selanjutnya ditempati rupiah yang menguat 0,27% ke Rp12.767 per dolar AS pada pukul 08.40 WIB.

Adapun tiga mata uang melemah dan satu mata uang stagnan terhadap dolar AS.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia, Jumat 13 Februari 2015

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB
Yen

118,9800

-0,11%

08:41:07
$Hong Kong

7,7542

0,00%

08:41:06
$Singapura

1,3569

+0,04%

08:41:07
$Taiwan

31,4410

-0,37%

08:41:25
Won

1.100,03

-0,97%

08:40:57
Peso

44,2810

-0,19%

08:33:05
Rupiah

12.767

-0,27%

08:40:18
Rupee*

62,3063

+0,08%

18:29:59
Yuan

6,2405

-0,08%

08:41:14
Ringgit

3,5925

-0,33%

08:41:17
Baht

32,6300

+0,06%

08:40:32
Sumber: Bloomberg.

*Kamis (12/2/2015)

http://market.bisnis.com/read/20150213/93/402248/mata-uang-asia-cenderung-menguat-rupiah-tempati-urutan-keempat
Sumber : BISNIS.COM

 

 JAKARTA—Kurs rupiah turun sekitar 0,44% berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).Data yang diterbitkan BI pada pagi ini menempatkan Jisdor pada Rp12.700 per dolar AS atau naik 0,44% dari Rp12.644 pada 10 Februari 2015.

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah turun 0,16% ke level Rp12.690 pada pukul 10.02 WIB.

Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor/Rupiah)

11 Februari

12.700

10 Februari

12.644

9 Februari

12.679

6 Februari

12.613

5 Februari

12.653

Sumber: Bank Indonesia

http://market.bisnis.com/read/20150211/93/401312/kurs-rupiah-11-februari-jisdor-merosot-ke-rp12.700us

Sumber : BISNIS.COM

Minggu, 25 Januari 2015 | 07:29 WIB

 

Stimulus ECB Bangkitkan Rupiah Sepekan

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 25 Januari 2015 | 06:00 WIB

 

INILAHCOM, Jakarta Dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah mampu bangkit sebesar 149 poin seiring sentimen dari kucuran stimulus European Central Bank (ECB). Seperti apa?

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia (BI), dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah menguat 149 poin (1,18%) ke posisi 12.444 pada pekan yang berakhir Jumat, 23 Januari 2015 dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 12.593 per 16 Januari 2015

“Rupiah masih bertahan di zona hijaunya sepekan kemarin,” kata Reza Priyambada, kepala riset Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI), kepada INILAHCOM, di Jakarta, Minggu (25/1/2015).

Setelah menguat di akhir pekan kemarin, laju rupiah kembali melemah seiring pelaku pasar yang melakukan peralihan ke Yen yang sedang bergerak menguat. “Penguatan yen dipicu antisipasi sentimen negatif dari China berupa pengendalian margin trading yang dipersepsikan kemungkinan adanya pembatasan transaksi tersebut,” ujarnya.

Dari dalam negeri, sentimen dari penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi belum cukup mampu mempertahankan penguatan rupiah. Meski nilai tukar yuan menguat setelah merespons kenaikan data Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan China, tidak diikuti oleh rupiah yang masih betah di zona merah.

Tampaknya rilis GDP tersebut secara tidak langsung membuat laju yen mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Lalu, dolar AS pun memanfaatkan kondisi tersebut untuk bergerak menguat sehingga mengakibatkan rupiah menjadi korban dari take-off nya mata uang AS itu.

Dari dalam negeri pun belum ada sentimen yang positif yang mampu membuat rupiah beranjak dari zona merah sehingga terlihat Rupiah terus tertekan. Laju rupiah berada di bawah target level support 12.620. “Tidak jauh berbeda dari sebelumnya di mana belum adanya sentimen positif signifikan masih akan membuat laju rupiah variatif dengan cenderung melemah,” tuturnya.

Namun demikian, laju nilai tukar rupiah mampu berbalik positif setelah terimbas kenaikan yen setelah BoJ di sesi akhir memutuskan untuk menolak menambah tambahan stimulus. “Laju yen yang awalnya melemah terhadap dolar AS dan berimbas pada melemahnya rupiah menjadi berbalik menguat,” ucapnya.

Kenaikan pada yen mampu melampaui dolar AS dan mampu mengimbangi pelemahan pada euro dan poundsterling. Di sisi lain, menguatnya won juga turut mendukung berbalik naiknya laju rupiah. “Kombinasi sentimen positif tidak hanya berada di pasar saham, di pasar uang pun turut terjadi sehingga membuat laju nilai tukar rupiah mampu melanjutkan pergerakan positifnya,” papar dia.

Sentimen dari kenaikan kucuran stimulus ECB sebesar 60 miliar (US$69 miliar) dari rencana awal sebesar 50 miliar; pernyataan positif PM China, Li Keqiang, terhadap pertumbuhan ekonomi China; dan target moderat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 sebesar 5,6%-5,8%% lebih tinggi dari tahun sebelumnya memberikan angin positif pada Rupiah.

Sentimen-sentimen tersebut diperkuat oleh menguatnya poundsterling dan yuan terhadap Euro dan dolar AS turut menambah sentimen positif. “Arah berikutnya, rupiah berpeluang bergerak dalam kisaran support-resisten 12.745-12.487 jika mengacu pada kurs tengah BI,” imbuhnya.

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini menguat. Rupiah menguat ke level Rp12.500 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Senin (12/1/2015) Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat 86 poin atau 0,68 persen ke Rp12.560 per USD dibandingkan sebelumnya berada di posisi Rp12.646 per USD.

Dalam pergerakan hariannya, Rupiah berada di kisaran Rp12.543-Rp12.585 per USD. Sedangkan, pergerakan 52 mingguan di kisaran Rp11.254-Rp12.938 per USD.

Menurut Analis Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta penurunan harga BBM premium masih ditunggu pelaku pasar. Dan dengan ditundanya kenaikan tarif listrik, ekspektasi inflasi di 2015 akan turun.

“Kombinasi antara turunnya inflasi serta membaiknya neraca perdagangan akan mendukung Rupiah yang lebih kuat ke depan. Hari ini Rupiah diperkirakan menguat dengan dolar index yang turun,” katanya dalam riset, Senin (12/1/2015).

Sementara itu, Yahoofinance mencatat, Rupiah menguat 18,34 poin atau 0,15 persen ke Rp12.569 per USD dibandingkan dengan penutupan sebelumnya Rp12.588 per USD.

Rupiah dibuka pada level Rp12.576 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah di kisaran Rp12.552-Rp12.590 per USD.

(rzk)

 

http://economy.okezone.com/read/2015/01/12/278/1090876/rupiah-dibuka-menguat-rp12-500-per-usd
Sumber : OKEZONE.COM

Bisnis.com, JAKARTA—Rupiah dan ringgit memimpin pelemahan sebagian besar mata uang asia pada Rabu sore (7/1/2015).

Dari 11 mata uang yang dipantau melalui Bloomberg Dollar Index, sebanyak 8 mata uang bergerak melemah pada sore ini.

Ringgit Malaysia turun 0,70% ke 3,58 ringgit per dolar AS, sedangkan rupiah turun 0,69% ke Rp12.735 per dolar AS. Nilai tukar yen juga turun 0,49% ke 118,97 per dolar AS.

Di sisi lain, rupee India mencetak kenaikan 0,41% ke 63,32 rupee per dolar AS. Adapun yuan China menguat 0,01% ke 6,21 yuan per dolar AS.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia, pada Rabu 7 Januari 2015.

 

Kurs Nilai Perubahan WIB
Yen 118,97 -0,49% 5:08:23
$Hong Kong 7,75 -0,00% 5:09:02
$Singapura 1,34 -0,29% 5:08:36
$Taiwan 31,98 +0,03% 2:59:56
Won 1.099,88 -0,11% 0:59:58
Peso 45,07 -0,31% 3:59:33
Rupiah 12.735,00 -0,69% 3:59:59
Rupee 63,32 +0,41% 5:09:28
Yuan 6,21 +0,01% 3:29:58
Ringgit 3,58 -0,70% 3:59:33
Baht 32,90 -0,12% 5:09:24

Sumber: Bloomberg

NERACA

Jakarta –Imbas dari anjloknya nilai tukar rupiah, menjadi hambatan bagi beberapa emiten yang memiliki utang dollar AS untuk meraup untung lebih besar dan sebaliknya malah buntung, karena rugi selisih kurs. Oleh karena itu, agar imbas pelemahan rupiah terhadap dollar AS tidak lebih buruk lagi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyarankan agar emiten di pasar modal domestik untuk menyelaraskan pendapatan dengan utang dalam bentuk dolar AS.

Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengatakan, emiten yang mampu menyelaraskan pendapatan dengan utang dalam bentuk dollar AS, diharapkan tidak lagi mengganggu kinerja keuangan,”Pekerjaan rumah bagi perusahaan baik emiten maupun non-emiten bisa menyelaraskan pendapatan dengan utang, jangan berhutang dolar AS jika pendapatannya dalam bentuk mata uang rupiah,”tandasnya di Jakarta, Rabu (17/12).

Dia menambahkan bahwa meski fluktuasi nilai tukar rupiah masih cukup normal saat ini, namun sikap kehati-hatian tetap perlu dijaga di tengah sentimen dari neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan Indonesia masih mengalami defisit,”Defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia masih cukup besar, maka yang harus dilakukan pemerintah adalah berusaha menaikan ekspor dan menurunkan impor,” katanya.

Ito Warsito menambahkan bahwa pelemahan mata uang rupiah juga dialami oleh nilai tukar negara lainnya seperti yen Jepang, won Korea, dolar Australia, rupee India dan lainnya. Dalam menjaga mata uang rupiah, lanjut Ito Warsito, tentunya Bank Indonesia yang lebih berperan dalam menjaga volatilitasnya agar tetap stabil sehingga tidak membuat pasar khawatir,”Tentunya BI lebih tahu seberapa besar melakukan intervensi, ini kan mekanisme pasar. BI juga harus membiarkan pasar bertindak secara rasional kecuali terjadi pelemahan rupiah yang terlalu dalam maka BI bisa melakukan intervensi,” katanya

 

http://www.neraca.co.id/bursa-saham/48766/Saatnya-Emiten-Pangkas-Utang-Dollar
Sumber : NERACA.CO.ID

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah mulai stabil di kisaran Rp12.700 per USD, setelah kemarin sempat menyentuh Rp12.900 per USD. Meski demikian, gejolak Rupiah ini memang sesuai dengan pergerakan pasar.Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito menuturkan, Bank Indonesia (BI) harus membiarkan pasar bergerak secara rasional. Namun, dia mengatakan bank sentral harus segera melakukan intervensi jika terjadi pelemahan Rupiah yang terlalu dalam atau ada volatilitas yang bergerak signifikan.

“Tidak perlu BI melakukan intervensi besar-besaran yang keluar dari teknis pendekatan pasar. BI tentunya lebih mengetahui seberapa besar melakukan intervensi (terhadap volatilitas Rupiah),” ungkap dia di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (17/12/2014).

Menurutnya, tertekannya Rupiah juga disebabkan karena permintaan dolar AS di dalam negeri yang cukup tinggi. Oleh karenanya, dia meminta emiten berpendapatan Rupiah tidak terlalu agresif berutang dalam denominasi dolar AS.

“Perusahaan atau pun emiten itu harus menyelaraskan pendapatan dengan utang,” ujarnya.

http://economy.okezone.com/read/2014/12/17/20/1080478/bi-tak-perlu-intervensi-rupiah-besar-besaran
Sumber : OKEZONE.COM

JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih lunglai menghadapi dollar Amerika Serikat. Mengutip Bloomberg, rupiah diperdagangkan di Rp 12.728 per dollar AS di pasar spot pada pukul 10:12 WIB.

Rupiah melemah tipis dibanding penutupan perdagangan kemarin di Rp 12.725 per dollar AS.

Namun, perdagangan intrahari sampai saat ini, menunjukkan stamina rupiah lebih stabil. Pairing USD/IDR sempat menyentuh 12.783 pada pagi tadi. Bandingkan kemarin pagi, ketika nilai tukar mencapai Rp 12.937 per dollar AS.

Kemarin, pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertemu untuk membicarakan tren pelemahan rupiah. BI terjun ke pasar, mengintervensi rupiah lewat buyback surat berharga negara. Bank sentral yakin, kondisi makroekonomi Indonesia lebih baik ketimbang tahun 1998.

Hari ini, dollar AS rebound, bergerak menguat tipis. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,17%, menunjukkan penguatan greenback terhadap 10 mata uang utama dunia.

http://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-lebih-fit-menghadapi-dollar-as
Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA — Sebagian besar mata uang Asia ditransaksikan melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini, Rabu (17/12/2014).

Dari 11 mata uang Asia, hanya empat mata uang yang menguat yakni dolar Hong Kong, won, peso, dan ringgit.

Sementara itu, tujuh mata uang lainnya melemah dengan yen paling tertekan sebesar 0,27%.

Adapun rupiah terpantau melemah tipis 0,02% ke Rp12.727 per dolar AS pada pukul 10.11 WIB.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia, Rabu 17 Desember 2014

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB
Yen

116,7200

+0,27%

10:07:30
$Hong Kong

7,7537

-0,01%

10:07:30
$Singapura

1,3039

+0,08%

10:07:30
$Taiwan

31,3100

+0,05%

10:06:36
Won

1.086,02

-0,04%

10:07:28
Peso

44,7000

-0,02%

10:06:31
Rupiah

12.727

+0,02%

10:11:30
Rupee*

63,5375

+0,94%

18:29:59
Yuan

6,1917

+0,02%

10:06:51
Ringgit

3,4843

-0,13%

10:07:30
Baht

33,0270

+0,14%

10:07:24
Sumber: Bloomberg.

*Selasa (16/12/2014)

http://market.bisnis.com/read/20141217/93/383447/dolar-as-vs-mata-uang-asia-yen-paling-tertekan-rupiah-melemah-tipis-ke-rp12.727us
Sumber : BISNIS.COM

Beside intervention in forex market, Bank Indonesia is intensifying liquidity management in Rupiah by increasing the auction of monetary instruments such as 9 months SBI. In the last 2 days, BI also bought government bonds in secondary market amounted to Rp.1.7tn to manage yield hike. (Investor Daily)
Sumber : IPS RESEARCH

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) sudah melakukan intervensi terhadap makin turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, kalangan pelaku industri menilai langkah BI kurang responsif.

“BI kurang responsif, setelah panik baru (bertindak),” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani saat ditemui di Gedung Permata Kuningan, Jalan Kuningan Mulia, Jakarta Selatan, Selasa 16 Desember 2014.

Diketahui, BI sudah melakukan intervensi atas melemahnya nilai tukar rupiah. BI juga melakukan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder sebagai langkah stabilisasi di pasa keuangan, serta melakukan intensitas pengelolaan likuiditas di pasar rupiah.

Namun, ujar Haryadi, langkah-langkah tersebut harusnya dilakukan saat rupiah masih berada di atas Rp12.500 per dollar.

“Seharusnya kemarin pas di atas Rp12.500 harus ada treatment. Dan ini jangkanya pendek, orang ramai karena mau 22 Desember,” sebut dia.
AHL http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/12/17/332916/apindo-bi-kurang-responsif
Sumber : METRONEWS.COM

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengaku, hingga saat ini investasi belum terganggu dengan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski begitu, BKPM terus bersiap dan mendorong investasi di enam sektor yang mempunyai kemampuan untuk meredam gejolak rupiah.

“Investasi yang dilakukan lebih mendorong enam hal. Pertama listrik, dengan listrik bisa investasi apa saja,” ujar Franky di Jakarta, Selasa (16/12/2014).

Kedua, Franky mengungkapkan, BKPM mendorong investasi sektor pertanian. Sebab, sektor pertanian banyak menggunakan sumber daya dari dalam negeri. Dengan begitu, tidak terlalu bergantung dengan bahan baku impor. Ketiga ialah sektor maritim yang memaksimalkan produksi ikan sebagai bahan baku industri.

Keempat ialah industri padat karya di mana kebutuhan barang modal impor relatif kecil namun mempunyai impak yang besar terhadap penciptaan lapangan kerja.

“Industri subtitusi impor, itu akan kita utamakan. Tentu ini akan meredam kebutuhan dolar. Kita juga mendorong perusahaan ekspor agar ekspornya lebih besar lagi,” tuturnya.

Franky mengungkapkan, BKPM akan melakukan pendekatan lebih personal kepada perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor. BKPM akan mempelajari rencana bisnis perushaan tersebut. Jika tujuannya meningkatkan ekspor lebih besar akan difasilitasi untuk mendapat kemudahan bisnis.

“Kalau butuh perizinan cepat kita berikan, kalau butuh tanah kita berikan, kita minta Kementerian Agraria. Dalam waktu dekat kita akan undang beberapa perusahaan yang orientasi ekspor,” tuturnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Ansari Bukhari mengatakan, perlu dilakukan hilirisasi agar industri menggunakan bahan baku dari dalam negeri, bukan tergantung impor. Ia mencontohkan Krakatau Steel dan Inalum belum menggunakan bahan baku dari dalam negeri.

“Kita ingin hilirisasi mengolah bauksit menjadi alumina, nikel menjadi stainless setell dan turunannya. Dengan demikian harusnya impor bahan baku dari 70 persen bisa dikurangi,” katanya.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemenperin untuk mengembangkan industri tersebut ialah melimpahkan kewenangan perizinan ke BKPM. Semisal perizinan smleter membutuhkan dua perizinan dari Kemenperin dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Makannya disatukan disini, kalau berada di sini bisa lebih murah,” tuturnya.

Meski diakui Ansari pelemahan rupiah bisa menjadi salah satu penyumbang perlambatan investasi, terutama yang berhubungan dengan bahan baku dan barang modal impor, industri masih bisa tumbuh 6,1 persen di tahun mendatang. Meskipun, target yang dipatok dalam rencana induk pembangunan nasional (RIPIN) sebesar 6,8 persen.

“Pernah terjadi 2008-2009 hanya 2,5 persen (pertumbuhan industri) kondisinya lebih parah dari ini tapi sekarang tidak separah itu masih 6,1 persen. Itu sudah mempertimbangkan harga minyak,” ucapnya.
AHL

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/12/16/332773/redam-gejolak-rupiah-bkpm-perkuat-investasi-enam-sektor
Sumber : METROTVNEWS.COM

JAKARTA—Pemerintah bakal mengambil langkah antisipasi seperti yang pernah dilakukan pada 2013 untuk menghadapi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus merosot.

Langkah tersebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengakui situasi melemahnya nilai rupiah ini serupa dengan kondisi pada pertengahan 2013 ketika isu tapering The Fed menguak.

“Nanti kami siapkan sepeti mengantisipasi 2013 kemarin,” ujarnya usai Lokakarya Pembiayaan Sektor Produktif dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jakarta, Selasa (16/12/2014).

Bambang menambahkan  pihaknya mencermati menurunnya nilai tukar rupiah tersebut juga merupakan imbas dari terjerembapnya mata uang Rusia.

“Kemarin Rusia menaikan policy rate-nya tinggi sekali dan ini pasti akan mempengaruhi pergerakan uang di dunia. Ini yang kami mau koordinasikan dengan BI dan OJK untuk memastikan bahwa kami bisa mengatasi kondisi yang sifatnya datang dari global,” jelasnya..

Namun, dia menegaskan opsi untuk menaikan suku bunga acuan menghadapi pelemahan rupiah ini akan tetap menjadi keputusan BI.

“Itu tidak bisa pemerintah yang drive, tapi kami ingin melihat rupiah bisa menjaga fundamentalnya pada kondisi seperti ini,” tegas Menkeu.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot pada perdagangan Selasa pagi (16/12/2014). Dari data yang dilansir Bloomberg, rupiah terdepresiasi sekitar 1,4% menjadi Rp12.893 per dolar AS dari penutupan kemarin di kisaran Rp12.713.

http://finansial.bisnis.com/read/20141216/11/383122/rupiah-anjlok-pemerintah-akan-ambil-langkah-antisipasi-seperti-2013
Sumber : BISNIS.COM

 

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan. Tercatat pada perdagangan pagi ini, Rupiah terperosok hampir di level Rp12.900-an per USD, sebelumnya pada penutupan perdagangan kemarin sore ditutup di level Rp12.700 per USD. Pelemahan ini terbilang cukup tinggi sejak krisis moneter pada 1998.

Para pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta agar fenomena pelemahan tidak melulu dipandang negatif. Ketua Bidang Infrastruktur dan Properti HIPMI Bahlil Lahadalia meyakini pemerintah akan bisa mengatasi hal tersebut seiring pengalaman krisis yang melanda Indonesia sebelumnya.

“Kita mesti optimistis bahwa kita bisa keluar dari jarum-jarum tersebut. Rata-rata kita ini adalah kita pesimistis dengan bangsa sendiri. Gimana kita yakin kepada bangsa kalau anak bangsanya sendiri enggak yakin terhadap bangsanya sendiri. Kita sebagai pengusaha muda optimistis kok,” tegas Bahlil, Jakarta, Selasa (16/12/2014).

Calon Ketum HIPMI Periode 2015-2018 ini juga memperkirakan pelemahan Rupiah ini tidak akan terlalu lama. Menurutnya, pelemahan ini terjadi juga di beberapa mata uang negara lainnya, dan bukan terjadi pada mata uang Indonesia saja.

“Kita lihat mendatang ya, saya pikir itu tentatif ya, enggak akan lama itu. Biasalah itu. Pengalaman pemerintah Indonesia itu kan sudah cukup bagus dalam menangani ini. Krisis tahun 1998 gimana? Krisis 2008 gimana bisa keluar? Itu pemerintah sudah bisa mengatasi itu,” sebutnya.

Menurutnya, sebagai pengusaha dengan melemahnya nilai tukar Rupiah mendatangkan sisi positif dan negatif. Dirinya mencontohkan, yang akan berdampak langsung adalah pengusaha pasar uang, sedangkan pengusaha yang didaerah seperti bergerak disektor perkebunan akan menguntungkan karena ada kegiatan eskpor.

“Jadi tidak selamanya itu merugikan, tidak selamanya kenaikan dolar berdampak negatif. Bagi pengusaha lokal. Jadi situasional. Tergantung kita melihat dari sudut pandang mana,” pungkasnya.

http://economy.okezone.com/read/2014/12/16/320/1079808/belajar-dari-krisis-penanganan-rupiah-harusnya-cukup-bagus
Sumber : OKEZONE.COM

JAKARTA-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengklaim pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir lebih diakibatkan faktor eksternal.

“Ini kan tren global ya, bukan hanya di Indonesia. Kan semua mata uang mengalami tekanan yang luar biasa,” kata Sofyan saat ditemui di Kantor Menko, Jakarta, Selasa.

Sofyan menjelaskan, membaiknya perekonomian Amerika Serikat disertai menguatnya mata uang negara tersebut dan juga antisipasi kebijakan bank sentral AS The Fed, berkontribusi terhadap pelemahan rupiah.

Namun, lanjut Sofyan, apabila dibandingkan dengan negara lain, depresiasi rupiah relatif lebih baik di mana tidak mengalami tekanan yang begitu dalam.

“Rupiah is not bad, not the worst (bukan paling buruk). Sampai hari ini depresiasi rupiah sepanjang tahun hanya 4 persen,” kata Sofyan.

Ia menegaskan, pemerintah akan terus melakukan berbagi upaya untuk menjaga stabilitas rupiah dan sesuai dengan fundamental Indonesia.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah bukan karena persoalan di dalam negeri. Suasana politik yang relatif stabil dan kerja keras dari kabinet saat ini justru diyakini akan memperbaiki perekonomian ke depannya.

“Masalah pelemahan rupiah berasal dari luar Indonesia atau global trend. Kami akan melakukan segala upaya untuk menjaga rupiah,” ujar Sofyan.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Selasa pagi bergerak melemah sebesar 171 poin menjadi Rp12.884 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp12.713 per dolar AS.(ant/hrb)

http://id.beritasatu.com/business/pemerintah-klaim-pelemahan-rupiah-akibat-faktor-eksternal/102828

Sumber : INVESTOR DAILY

JAKARTA — Kurs tengah rupiah ditransaksikan melemah tajam 2,39% terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (16/12/2014).

Berdasarkan data Bank Indonesia, kurs tengah rupiah hari ini bertengger di level Rp12.900 per dolar AS, dari kurs tengah sebelumnya Rp12.599 per dolar AS.

Adapun jika dibandingkan dengan patokan kurs tengah Selasa pekan lalu di level Rp12.347 per dolar AS, kurs tengah hari ini juga tertekan 4,48%.

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah melemah 1,07% ke Rp12.850 per dolar AS pada pukul 11.02 WIB.

Kurs Tengah Dolar AS-Rupiah

16 Desember

12.900

15 Desember

12.599

12 Desember

12.432

11 Desember

12.336

10 Desember

12.336

9 Desember

12.347

Sumber: Bank Indonesia

http://market.bisnis.com/read/20141216/93/383040/kurs-tengah-bi-16-desember-kian-tertekan-bertengger-di-rp12.900us

Sumber : BISNIS.COM

JAKARta. Terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga ke kisaran Rp 12.690 memicu dana asing mulai hengkang dari pasar surat utang negara (SUN).

Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) mencatat, per 12 Desember 2014, kepemilikan asing menyusut menjadi Rp 471 triliun atau setara dengan 38,63% dari total SBN yang diperdagangkan. Sebagai perbandingan, akhir November lalu, asing masih menggenggam Rp 481,2 triliun atau sekitar 39,41%.

Bisa jadi, gara-gara asing menjual kepemilikannya, harga SUN di pasar sekunder kompak tiarap, sementara imbal hasil (yield) melejit. Data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) mencatat, rata-rata yield obligasi seri acuan (benchmark) melonjak 19,7 basis poin pada perdagangan Senin (15/12) dibandingkan dengan Jumat lalu.

Misalnya, yield seri FR0069 bertenor lima tahun naik ke level 8,15% dari sebelumnya 7,9%. Harga seri ini tertekan menjadi 98,978 dari sebelumnya 99,756. Lalu, yield seri FR0070 bertenor 10 tahun naik dari 8,01% menjadi 8,43%. Adapun, harga seri ini turun dari 101,994 menjadi 99,606.

Data Inter Dealer Market Association menunjukkan, harga FR0069 sempat mencapai level tertinggi tahun ini di 101,088 pada akhir November lalu. Kemarin (15/12), harganya jatuh ke level 99,312. Pada periode yang sama yield melejit dari 7,57% menjadi 8,06%. Pergerakan yang sama terjadi pada seri benchmark lainnya.

Analis IBPA Ayu Ajeng menilai, kenaikan yield masih relatif stabil dibandingkan perdagangan 27 Januari 2014. Saat itu, rata-rata yield melesat 34,1 basis poin akibat rupiah melemah ke Rp 12.238.

Return obligasi pemerintah sepanjang tahun ini masih positif ketimbang tahun lalu. Data Indonesia Bond Indexes Goverment menunjukkkan,  return obligasi pemerintah mencapai 11,08% secara year to date hingga 12 Desember 2014. Sementara pada periode yang sama tahun lalu, return minus 13,73%.

Jangka panjang positif

Ayu memperkirakan, pasar obligasi masih akan akan diwarnai tekanan hingga akhir tahun. Pemicunya, inflasi diperkirakan meningkat sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan peningkatan konsumsi domestik di akhir tahun. Faktor lain, berkurangnya cadangan devisa Indonesia, serta sinyal tren perlambatan ekonomi global dan kenaikan suku bunga The Fed. “Jadi masih ada potensi yield obligasi domestik terus naik,” kata Ayu.

Fixed Income Analys Samuel Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengamini, pasar obligasi tertekan seiring mulai keluarnya dana asing. “Tertekannya rupiah dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS lebih awal, menyebabkan repatriasi dana asing,” jelas Nico.

Menurutnya, jika rupiah terus tertekan, dana asing di pasar obligasi domestik akan ikut menyusut. “Namun, kami belum bisa perkirakan bisa turun sampai berapa persen dana asing,” imbuh Nico.

Meski demikian, Nico menduga, pelemahan pasar obligasi hanya terjadi hingga kuartal pertama 2015. Dalam jangka panjang, pasar akan pulih, sebab Jepang mengucurkan stimulus, dan Eropa juga diperkirakan bakal melakukan hal serupa. “Sehingga, dana asing akan cepat kembali ke domestik,” ujarnya.

http://investasi.kontan.co.id/news/asing-kabur-obligasi-ikut-goyah

Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA. Rupiah makin terkapar. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) maupun kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah di level Rp 12.599 per dollar Amerika Serikat (AS), terendah sejak 30 Juni tahun 2008.

Para ekonom memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut dan berpotensi menembus Rp 13.000 per dollar AS. Jika itu terjadi, “Efeknya pasti akan mengganggu ekonomi nasional,” kata David Sumual, Ekonom BCA, kepada KONTAN, Senin (15/12).

Naik turun rupiah selalu membawa dilema. Rupiah yang lemah bisa mendatangkan manfaat bagi eksportir. Barang buatan Indonesia lebih kompetitif di pasar dunia.

Namun di sisi lain, segepok mudarat turut menyertainya. Pertama, mayoritas kebutuhan warga Indonesia  dipenuhi barang impor. Saat dollar kuat, devisa yang keluar kian deras. Alhasil, defisit neraca perdagangan yang  sepanjang Januari-Oktober 2014 sudah mencapai US$ 1,64 miliar akan kian lebar. BI juga makin sulit mendorong defisit transaksi berjalan ke level di bawah 3%.

Kedua, berkaitan dengan poin pertama, harga barang  impor ikut melonjak. Akibatnya, inflasi gara-gara lonjakan dollar makin tak terkendali.

Pebisnis juga kelimpungan, terutama yang menggunakan bahan baku impor. “Bahan baku naik, tapi pengusaha tak bisa lagi menaikkan harga barang karena sudah menaikkan harga saat kenaikan BBM,” kata Haryadi Sukamdani, Ketua Kadin Indonesia.

Ketiga, anggaran negara juga terbebani pelemahan rupiah. Catatan Kementerian Keuangan, setiap rupiah melemah Rp 100, defisit anggaran bertambah Rp 940,4 miliar-
Rp 1,21 triliun. Dengan kata lain, jika sejak awal tahun sampai sekarang rupiah melemah sekitar Rp 1.000, defisit anggaran tahun ini bertambah Rp 9 triliun-Rp 12 triliun.

Keempat, beban utang pemerintah dan korporasi meningkat. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan menyatakan, setiap depresiasi Rp 100 per dollar AS menyebabkan biaya bunga utang naik Rp 207 miliar. Jadi, jika rupiah melemah Rp 1.000, bunga utang naik Rp 2 triliun.

Situasi yang dihadapi perusahaan swasta lebih pelik lagi. Sebab, kini 80% korporasi pengutang valas tak melakukan lindung nilai (hedging).  Alhasil, bisa banyak perusahaan yang gulung tikar jika rupiah semakin ambrol.

Lebih dari itu, kejatuhan mata uang suatu negara juga salah satu pertanda menurunnya kepercayaan  investor terhadap negara  tersebut. Per 12 Desember 2014, dana asing di obligasi negara sudah berkurang Rp 11 triliun jadi Rp 471 triliun. Harga obligasi negara juga jatuh. “Jika tak segera diatasi, investor bisa terus keluar,” kata  Satrio Utomo, Analis Universal Broker.

http://nasional.kontan.co.id/news/rupiah-kian-lunglai-risiko-besar-mengintai

Sumber : KONTAN.CO.ID

JAKARTA – Rupiah hingga akhir pekan ini bergerak suram. Rupiah sore ini ditutup mendekati Rp12.500-an.

Melansir Bloomberg, Jumat (12/12/2014), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah 117 poin ke Rp12.467 per USD dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp12.350 per USD.

Dalam pergerakannya, Rupiah berada di kisaran Rp12.371-Rp12.473 per USD. Dalam 52 mingguannya, Rupiah bergerak di level Rp11.254-Rp12.473 per USD.

Sementara itu, yahoofinance mencatat, rupiah menguat 11,55 poin atau 0,09 persen ke Rp12.467 per USD.

Bank Indonesia mencatat, kurs tengahnya anjlok hingga level Rp12.432 per USD. Melemah dibandingkan dengan periode sebelumnya ke Rp12.336 per USD.

(rzy)

Mengendalikan Risiko Nilai Tukar
Oleh: Purbaya Yudhi Sadewa

Pelemahan rupiah pada Agustus lalu membuat beberapa kalangan khawatir. Wajar, karena pengalaman sewaktu krisis menunjukkan pelemahan rupiah yang tak terkendali dapat mengganggu perekonomian.Apakah ada cara untuk mengurangi dampak negatif fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap pelaku bisnis ataupun perekonomian secara keseluruhan?Fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini memang sudah tidak separah beberapa tahun lalu. Pada periode 2003-2005, misalnya, nilai tukar rupiah sempat bergerak dari Rp 8.285 (nilai tukar pada akhir bulan) pada Juni 2003 ke Rp 10.310 per dollar AS pada September 2005. Sejak tahun 2006 boleh dikatakan rupiah relatif stabil dan tidak pernah melemah ke atas sepuluh ribu lagi.Walaupun demikian, bukan berarti fluktuasi nilai tukar rupiah dapat dihilangkan sepenuhnya. Misalnya, pada Mei 2007 rupiah sempat menguat ke Rp 8.828 dan banyak kalangan waktu itu yakin rupiah akan terus menguat sampai di bawah Rp 8.500 per dollar. Namun, kemudian rupiah melemah hingga ke level Rp 9.410 per dollar (nilai tukar pada akhir bulan) pada Agustus 2007. Nilai tukar hariannya bahkan sempat menembus di atas Rp 9.500 per dollar.Banyak faktor penentu nilai tukar rupiah bergejolak. Namun, pemicu utamanya akhir-akhir ini adalah pergerakan di bursa saham Amerika Serikat. Kekhawatiran akan problem kredit subprime menyebabkan bursa saham AS terkoreksi secara signifikan. Bursa saham global pun ikut terkoreksi dengan signifikan.Untuk Indonesia, dampaknya tidak hanya berhenti di bursa saham. Ketika investor asing melepas sahamnya di pasar domestik, timbul kekhawatiran akan terjadinya capital flow reversal secara masif (atau hot money keluar dari Indonesia secara masif). Akibatnya, timbul ekspektasi rupiah akan melemah secara signifikan, yang membuat banyak kalangan membeli dollar (untuk spekulasi ataupun untuk menutupi kebutuhan dollarnya pada masa yang akan datang) yang membuat rupiah menjadi benar-benar melemah.Sebaliknya, ketika bursa saham AS membaik, modal asing pun kembali masuk ke pasar modal Indonesia, yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap rupiah. Kurs rupiah pun menguat signifikan, seiring dengan naiknya IHSG (Gambar 1).Ada juga faktor lain yang membuat nilai tukar rupiah tak dapat sepenuhnya dikendalikan dari dalam negeri, misalnya produk derivatif non-deliverable forward (NDF). NDF adalah suatu kontrak forward jangka pendek dengan keuntungan atau kerugian pada waktu jatuh tempo dihitung dengan menghitung selisih antara nilai tukar yang telah disetujui dan nilai tukar yang terjadi di pasar spot pada saat kontrak tersebut jatuh tempo. Yang dibayarkan pada waktu kontrak jatuh tempo hanyalah selisih tersebut. NDF merupakan instrumen hedging yang populer untuk mata uang yang tidak diperdagangkan secara internasional (seperti rupiah).NDF dapat memengaruhi arah pergerakan nilai tukar rupiah. Misalnya, libur Lebaran (11 Oktober) pasar spot USD/IDR (dollar/rupiah) dalam negeri ditutup di sekitar Rp 9.065 dan ternyata pada 17 Oktober kurs dibuka pada level Rp 9.100/ Rp 9.120 per dollar. Hal ini terjadi karena selama pasar Jakarta libur, ternyata pasar NDF (di Singapura) tetap bekerja membentuk harga yang cenderung ditutup melemah dari hari ke hari. Ketika pasar Jakarta buka, kurs langsung melompat (tertinggi 9.145) walaupun akhirnya dollar ditutup melemah di level Rp 9.090/Rp 9.100.Nilai tukar rupiah kita saat ini memang tidak lagi dipatok terhadap dollar. Saat ini nilai tukar rupiah dibiarkan bergerak agak longgar sesuai dengan kekuatan pasar. Namun, pergerakan nilai tukar yang terlalu liar juga bukan hal yang dikehendaki di dalam sistem nilai tukar yang kita anut sekarang. Ingat, krisis pada tahun 1997-1998 lalu dipicu depresiasi nilai tukar yang dalam.Dampak negatifKrugman (2000) menyebutkan, depresiasi nilai tukar yang tajam membuat utang luar negeri perusahaan menjadi berlipat-lipat (dalam mata rupiah) dalam waktu singkat dan memperburuk neraca keuangan dari perusahaan di dalam negeri.Namun, Rothig, Semmler, dan Flascher (2005) berargumen bahwa pengaruh negatif nilai tukar terhadap neraca keuangan dapat dihilangkan dengan praktik manajemen risiko perusahaan. Manajemen risiko terhadap fluktuasi nilai tukar ini dilakukan dengan hedging.Hedging adalah aktivitas memanfaatkan instrumen derivatif (misalnya forward, option, atau NDF) dengan tujuan memperkecil risiko. Misalnya, untuk mengurangi risiko terhadap pelemahan rupiah, suatu perusahaan dapat membeli transaksi forward rupiah/dollar. Di dalam transaksi tersebut perusahaan terikat kontrak untuk membeli dollar dengan jumlah dan nilai tukar tertentu pada waktu yang ditentukan. Dengan demikian, perusahaan tadi akan terbebas dari risiko pelemahan rupiah yang terlalu signifikan.Memang, ada potensi keuntungan yang hilang bila pada saat yang telah ditentukan, ternyata rupiah lebih kuat daripada yang telah disetujui. Sebaliknya, perusahaan tersebut akan diuntungkan ketika jatuh tempo nilai tukar rupiah lebih lemah daripada yang disetujui.Dalam aktivitas hedging, sering juga spekulator dilibatkan. Mereka mengambil posisi tertentu dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Spekulator ini tidak selalu membawa dampak negatif. Dengan mengambil pandangan yang berlawanan dari pihak yang melakukan hedging (tidak ada yang akan membeli kontrak forward bila semua pihak berpandangan rupiah akan melemah terus), spekulator justru memberikan likuiditas kepada pasar untuk hedging ini.Rothig menyimpulkan, hedging risiko nilai tukar dapat memberikan perlindungan dan berperan penting dalam mencegah terjadinya krisis di dunia usaha. Pergerakan liar nilai tukar dapat memengaruhi rencana berinvestasi perusahaan.Pelemahan mata uang domestik, misalnya, akan memperburuk neraca keuangan perusahaan dan mengurangi kekayaannya. Akibatnya, kegiatan investasi dari perusahaan tersebut berkurang secara signifikan dan (bila hal ini terjadi pada banyak perusahaan) kegiatan ekonomi secara keseluruhan terganggu.Hedging akan mengurangi dampak pergerakan nilai tukar terhadap neraca keuangan, kekayaan perusahaan, dan akhirnya pada kegiatan investasi. Dengan kata lain, tersedianya instrumen hedging dapat membuat rencana investasi suatu perusahaan tidak terlalu rentan terhadap pergerakan nilai tukar. Dan apabila sebagian besar perusahaan di suatu negara melakukannya, kemungkinan krisis nilai tukar dapat dihilangkan.Jadi, stabilitas dari suatu perekonomian dapat dimantapkan dengan meningkatkan aktivitas hedging. Itu dapat ditempuh antara lain dengan mempermudah akses ke instrumen hedging, dengan menurunkan biaya untuk melakukan hedging (dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah institusi finansial domestik yang menyediakan jasa ini), atau dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya hedging untuk mengendalikan risiko nilai tukar.Berkembangnya aktivitas hedging di dalam negeri akan mengurangi peranan pasar NDF (di Singapura) terhadap arah pergerakan nilai tukar rupiah. Jadi, arah pergerakan nilai tukar akan lebih ditentukan pasar domestik dan keadaan perekonomian di dalam negeri.Dalam rezim nilai tukar yang mengambang dan perekonomian dunia yang semakin terintegrasi, fluktuasi nilai tukar sulit dihindari. Dampak negatifnya terhadap perekonomian dapat dikurangi dengan manajemen risiko terhadap fluktuasi nilai tukar.URL Source: http://kompas.com/kompas-cetak/0710/22/ekonomi/3934895.htmPurbaya Yudhi Sadewa Kepala Ekonom Danareksa Research Institute

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengeluhkan gejolak nilai tukar mata uang (kurs) rupiah. Mereka berpendapat fluktuasi kurs sudah sampai taraf mengganggu proses bisnis, sembari meminta Pemerintah membenahi beragam hal terkait dunia industri.

“Di mana kerjanya (Bank Indonesia)? Apa hanya melakukan peresmian rumah-rumah orang BI di daerah? BI harus stabilkan valas,” kata Ketua Komisi Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia, Adler Manurung, Kamis (4/12/2014).

Menurut Adler, menstabilkan kurs merupakan tanggung jawab BI. “Valas (valuta asing) tidak stabil. UU BI menyatakan BI menstabilkan valas,” imbuh dia. (Baca juga: Bank Indonesia Sudah Tidak Kredibel?)

Pasokan barang modal

Selain mempertanyakan kinerja BI terkait fluktuasi kurs, Adler mengatakan para pengusaha juga mengeluhkan kurangnya dukungan perbankan untuk memenuhi kebutuhan barang modal. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan pun dinilai masih terlalu lama, ditambah dengan ekonomi biaya tinggi yang terus berlanjut.

“Inilah permintaan orang-orang Kadin,” kata Adler yang menjadi pembicara dalam “Seminar Nasional Outlook Ekonomi Indonesia 2015” yang digelar BI. Karena itu, ujar dia, para pengusaha Selain dukungan dari bank sentral juga perbankan, Adler juga meminta dukungan pemerintah untuk mempermudah proses bisnis.

Adler menyebutkan, mempermudah proses bisnis itu bisa dilakukan dengan upaya mempersingkat proses perizinan dan mendorong peningkatan produktivitas buruh. “Buruh saat ini banyak melakukan demo. Apakah mereka tidak memahami etika, atau pengusaha yang perlu belajar etika?” tanya dia beretorika.

Selain itu, lanjut Adler, pemerintah juga diharapkan membuat infrastruktur yang memadai tak hanya di Jakarta. Listrik, tegas dia, merupakan salah satunya. Lalu, Adler juga meminta masalah perpajakan diperjelas, selain perbaikan pada aspek legal terkait industri, dan percepatan reformasi birokrasi.

 

JAKARTA – Meskipun saat ini Rupiah terus terpuruk, Faisal Basri tetap optimistis nilai tukar Rupiah terhadap dolar tahun depan akan berada dik isaran Rp10.000-an per USD.

“Ada beberapa faktor yang cukup meyakinkan. Prediksi saya Rp10.000-an jauh lebih optimistis dari prediksi BI dan pemerintah,” ungkap Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas di Gedung BI, Kamis (4/12/2014).

Menurutnya, faktor utama yang bisa menopang nilai tukar rupiah adalah perubahan harga yang dilakukan pemerintah terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Jadi semuanya, penopang utamanya itu tadi. Kenaikan harga minyak,” ucapnya.

Kemudian penopang kedua adalah sektor otomotif. Faisal menyebutkan bahwa sudah banyak perubahan yang terjadi pada sektor automotif. Salah satunya adalah berkurangnya defisit di sektor automotif.

“Sektor otomotif itu defisitnya dulu kan boros devisa, sekarang berkurang dan kita sudah ekspor mobil 258.000,” jelasnya.
http://economy.okezone.com/read/2014/12/04/278/1074631/faisal-basri-prediksi-rupiah-tembus-rp10-000-usd
Sumber : OKEZONE.COM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s