bn11 mo memperKUAT moDAL … 241114

kontan:

JAKARTA. Ketatnya kondisi likuiditas perbankan diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun depan. Apalagi, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan dana pihak ketiga (DPK) tahun 2015 hanya akan tumbuh 14%–16%. Alhasil, perbankan harus memutar otak untuk memperoleh sumber-sumber pendanaan baru.

Yang menarik, sejumlah bank tengah menjajaki beberapa instrumen pendanaan dari pasar modal. Salah satunya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Selain berniat merilis obligasi, BTN berencana mengajukan pinjaman jangka panjang kepada kreditur luar negeri.

Meski begitu, Direktur Utama BTN Maryono menerangkan, pihaknya akan melihat kondisi kupon di pasar sebelum merilis obligasi. “Karena bunga di pasar mahal, kami akan memindahkan rencana penerbitan obligasi tahun ini menjadi tahun depan. Tahun depan pun, kami akan lihat dulu kondisi pasar,” katanya, pekan lalu. Jika kondisi pasar mendukung, lanjut Maryono, BTN bakal merilis obligasi sekitar Rp 1 triliun–Rp 2 triliun.

Sementara itu, BTN masih menggodok opsi pinjaman jangka panjang. Selain mencari pendanaan baru, BTN masih terus berupaya meningkatkan porsi dana murah (CASA). Per September lalu, rasio CASA bank pelat merah ini mencapai 45,76% dari total dana pihak ketiga (DPK) yang sebesar Rp 101,84 triliun atau tumbuh 15% dari periode sama 2013.

Maryono berharap porsi CASA BTN pada tahun ini bisa berkisar 50% dari total DPK. “Kami akan push CASA, khususnya dari produk tabungan. Salah satu strateginya adalah menggandeng institusi-institusi pemerintah untuk bekerjasama,” ujar Maryono.

Mempertahankan CAR

Langkah serupa ditempuh PT Bank International Indonesia Tbk (BII). Salah satu opsi pendanaan BII adalah penawaran saham baru alias rights issue senilai Rp 1,5 triliun. “Kami optimistis rights issue tercapai,” ujar Taswin Zakaria, Direktur Utama BII.

Selain untuk penyaluran kredit, BII akan memakai dana rights issue untuk meningkatkan modal. Dus, mereka berharap bisa meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) di atas 14%. BII juga sedang menggodok penerbitan obligasi. “Tapi, rencana obligasi masih didiskusikan secara internal,” ujar Taswin.

BII pun tidak menutup peluang untuk menggaet pinjaman dari induk usaha. Di pihak lain, PT Bank Permata Tbk sedang mengkaji penerbitan subdebt atau obligasi subordinasi dan rights issue. Bank ini memperkirakan bisa menerbitkan subdebt senilai Rp 1 triliun, dan rights issue sebesar Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun.

Roy Arfandy, Plt Direktur Utama Bank Permata mengatakan, rencana dua aksi korporasi tersebut akan masuk dalam rencana bisnis bank yang diharapkan tuntas bulan ini. “Hitung-hitungannya sesuai kebutuhan modal dengan melihat pertumbuhan kredit,” kata Roy. Dari sederet aksi tersebut, Bank Permata berupaya mempertahankan CAR di level 16%.

Editor: Barratut Taqiyyah

kontan JAKARTA. Seperti ramalan regulator di awal tahun ini, industri perbankan bakal menghadapi sejumlah tantangan. Sebut saja, pelambatan ekonomi dan likuiditas ketat. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, rasio likuiditas atau loan to deposit ratio (LDR) bank umum konvensional mencapai 91,17%, per Maret tahun ini. Angka itu melesat dibandingkan tahun lalu yang masih sebesar 84,93%.

Atas dasar itulah, Halim Alamsyah, Dewan Komisioner OJK Ex-Officio Bank Indonesia (BI), mengatakan pihaknya akan meminta bank-bank meningkatkan CAR jauh di atas 14%. Permintaan ini dilakukan regulator terhadap bank dengan LDR di atas 92%. “Kami sedang mengkaji dan berdiskusi dengan OJK tentang permodalan.

Bank yang memiliki profil risiko tinggi, maka kami akan meminta agar modal mereka dinaikkan,” kata Halim, kemarin. Ia menjelaskan, pihaknya menyarankan dua strategi untuk memperkuat permodalan. Yaitu, menyuntikkan modal jenis tier I dari pemegang saham, atau memperkuat modal tier II melalui penerbitan surat utang atau subdebt.

Opsi itu, menurut Halim, menjadi jalan terbaik lantaran niatan bank mengerem ekspansi kredit belum terlihat. Pahala N. Mansuri, Direktur Finance dan Strategi Bank Mandiri, menjelaskan pihaknya masih menimbang rencana penerbitan obligasi. Rencana ini sebenarnya sudah masuk dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun ini. “Kami melihat kondisi pasar, Jadi sewaktu-waktu jika bisa, ya, kami akan jalankan,” tutur Pahala, kepada KONTAN.

Selain obligasi, Bank Mandiri bersiap merilis Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) sebesar Rp 500 miliar sampai Rp 700 miliar. Mandiri juga memiliki rencana merilis KIK-EBA. Dalam rencana ini, Mandiri mengincar dana sekitar Rp 750 miliar, dengan penerbitan pertama sebesar Rp 685 miliar.

CIMB Niaga juga tengah menimbang penerbitan obligasi. “Kami pertimbangkan setelah kuartal III nanti. Kebutuhan obligasi disesuaikan proyeksi pinjaman,” terang Arwin Rasyid, Direktur Utama CIMB Niaga.

Taswin Zakaria, Presiden Direktur Bank Internasional Indonesia (BII), menyatakan pihaknya berencana merilis penawaran saham umum terbatas (rights issue) atau penerbitan surat utang (subdebt), masing-masing sebesar Rp 3 triliun.

Dus, rasio permodalan (CAR) BII terjaga di level 13%, dengan asumsi pertumbuhan kredit antara 17% sampai 20%.
Editor: Barratut Taqiyyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s