l1ku1d1tAAA(amaN)aa$ … 161114 (daftar 10 TERBESAR)

JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai perkembangan dan profil risiko di industri jasa keuangan hingga awal November secara umum berada dalam kondisi yang normal.

Deputi Komisioner Manajemen Strategis IB OJK, Lucky F.A. Hadibrata, mengungkapkan, untuk kondisi industri perbankan, permodalan dan intermediasi perbankan menunjukkan perkembangan positif.

Kinerja rentabilitas dan efisiensi perbankan tergolong baik. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang tergolong masih tinggi di level 19,5% dan didominasi komponen modal inti atau tier 1.

Rentabilitas relatif stabil tercermin dari ROA dan NIM yang relatif stabil per September 2014 masing-masing sebesar 2,91% dan 4,21%. Efisiensi pun relatif stabil tercermin dari BOPO yang relatif tidak berubah yakni 76,14%.

“Sementara itu, untuk profil risiko pada perbankan, risiko likuiditas tergolong relatif rendah. Rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) sedikit menurun, namun masih terdapat potensi risiko likuiditas sejalan ketergantungan terhadap pendanaan non-inti serta rasio deposan inti yang masih cukup tinggi,” kata Lucky melalui pernyataan tertulisnya , Kamis (13/11).

OJK juga mencatat pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga (DPK) perbankan kembali meningkat pada Agustus dan September. Pertumbuhan aset dan DPK per September masing-masing sebesar 14,39% dan 13,32% secara tahunan, atau meningkat dibandingkan bulan Agustus 2014 yang masing-masing berada di level 13,92% dan 12,08% secara tahunan.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2014 tercatat sebesar 5,01% secara tahunan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi yang melambat. Sedangkan pertumbuhan belanja meningkat.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan dengan asumsi itu turut mempengaruhi pertumbuhan kredit perbankan. Per September-2014, kredit perbankan tumbuh sebesar 13,16% secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan Agustus sebesar 14,05% secara tahunan atau year on year (yoy).

Namun, kualitas kredit perbankan September 2014 cukup baik. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross sebesar 2,16% jika dibandingkan dengan Agustus 2014 yang mencapai 2,19%.

Namun NPL net pada September 2014 justru mengalami kenaikan menjadi 1,19% dibandingkan Agustus 2014 yang sebesar 1,17%. Lucky menambahkan, rasio kredit kualitas rendah terhadap total kredit September 2014 sebesar 7,52%, menurun dibandingkan Agustus yang mencapai 7,57%. Sementara rasio kredit kepada debitur inti September 2014 relatif stabil pada level 24,11%.

Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA–Walaupun menawarkan tingkat suku bunga deposito cukup rendah, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengklaim masih mengalami pertumbuhan simpanan berjangka.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan BCA menawarkan suku bunga deposito sebesar 8,25% setelah sebelumnya telah melakukan penurunan suku bunga sebesar 25 bps dan 50 bps pada Agustus dan September.

“Suku bunga BCA berada di bawah pembatasan OJK. Kami di level 8,25% dan saya amati dari 1 Agustus sampai 14 Oktober masih naik Rp4,9 triliun. Padahal kami sudah paling rendah,” ujarnya di Jakarta, Kamis (16/10/2014).

Jahja mengklaim kondisi likuiditas perseroan masih mencukupi sehingga pihaknya beberapa waktu lalu berani menurunkan suku bunga simpanan.

Adapun, sebelumnya OJK telah membatasi suku bunga simpanan untuk bank BUKU IV yang ditetapkan maksimal 200 bps di atas BI Rate atau sekitar 9,5%.

Pembatasan itu juga berlaku untuk bank kategori BUKU III di mana ditetapkan maksimal 225 bps di atas BI Rate atau sebesar 9,75%. Ketentuan tersebut berlaku untuk simpanan dengan nominal di atas Rp2 miliar.

http://finansial.bisnis.com/read/20141016/90/265453/suku-bunga-rendah-bca-masih-kebanjiran-deposito
Sumber : BISNIS.COM

 

 

JAKARTA. Krisis likuiditas perbankan masih mengancam. Apalagi, diprediksi, kekeringan likuiditas masih akan terjadi di tahun depan. Ini seiring kebijakan Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunganya.

Betul, saat ini, permodalan bank masih sehat walafiat. Tapi ogah kecolongan akibat ancaman pembalikan dana serentak (sudden reserval), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mewajibkan perbankan melaporkan rasio likuiditasnya atau liquidity coverage ratio (LCR). Ini adalah indikator ketahanan likuiditas bank saat terjadi krisis.

Praktiknya, di perbankan internasional, LCR ini diikur dengan kemampuan bank bertahan 30 hari saat terjadi krisis. Di Basel III, aturan ini akan berlaku tahun depan.

Ada dua komponen yang masuk hitungan LCR. Pertama, jumlah aset likuiditas tinggi atau stock high quality liquid assets (HQLA). Masuk dalam kategori ini, antara lain penempatan dana di Bank Indonesia dan surat berharga.

Kedua adalah total arus bersih kas keluar atau net cash outflows, semisal penarikan dana nasabah ritel maupun korporasi. Rumus perhitungan rasio LCR yang berlaku adalah HQLA dibagi net cash outflows.

Mulya E. Siregar, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK, bilang, bank perlu menghitung LCR sedini mungkin. Sebab, pengetatan likuiditas diramal masih bakal berlangsung hingga tahun-tahun mendatang.

“Saat ini, bank belum menghadapi penarikan dana signifikan, tapi bagaimana ke depan?” ujar Mulya, akhir pekan kemarin. Perhitungan LCR ini kelak wajib bagi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV dan BUKU III serta seluruh Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) . Uji coba pelaporan LCR akan dimulai Januari 2015 dengan data kinerja perbankan Desember 2014. Bank kelak wajib menyampaikan data LCR per kuartal.

Tahap pertama uji coba berlaku bagi bank BUKU IV dan KCBA. Tahap kedua berlaku bagi bank BUKU III yakni mulai Juli 2015. Tahap awal, bank BUKU IV dan KCBA wajib memenuhi 70% kewajiban LCR per Desember 2015. Adapun masa transisi berlangsung Desember 2018 yakni rasio LCR minimal 100%.

Bagi bank BUKU III, rasio LCR minimal sebesar 70% mulai Juni 2016, daan meningkat menjadi 100% per Desember 2018. Mulya bilang, berdasarkan pantauan OJK, kelompok bank BUKU IV dan BUKU III siap melakukan kewajiban LCR ini.

 

http://keuangan.kontan.co.id/news/bank-wajib-lapor-kemampuan-likuiditas
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Mandiri, Bank Mega, Bank Danamon, dan Bank Panin masuk dalam pilot project pengawasan terintegrasi berdasarkan risiko atas konglomerasi keuangan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Namun selama periode pilot project dijalankan masih ditemukan sejumlah kendala. Salah satunya perhitungan risiko konglomerasi yang melibatkan anak usaha maupun sister company yang berlainan sektor namun masih di industri keuangan.

Ada sejumlah pendekatan yang akan ditempuh OJK untuk mengatasi persoalan tersebut, salah satunya dengan perhitungan melalui metode building block, yakni menjumlahkan semua risiko masing-masing anak usaha.

Aturan mengenai risiko terintegrasi tersebut ditargetkan akan dirilis akhir tahun ini. Terdapat dua tambahan risiko bagi yang akan digunakan sebagai alat pengawasan yakni risiko transaksi intragrup dan risiko asuransi bagi konglomerasi yang memiliki usaha di bidang tersebut.

Selain aturan mengenaik risiko terintegrasi, OJK juga akan merilis aturan terkait implementasi good corporate governance serta aturan permodalan bagi konglomerasi keuangan. Meskipun begitu aturan mengenai permodalan diperkirakan baru selesai tahun depan.

Kepala Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK Boedi Armanto mengatakan semua ketentuan akan mengacu pada standar internasional. “Sebagian masih dibahas,” ujarnya di Jakarta, Kamis (25/9/2014).

Seperti diberitakan sebelumnya sebanyak 31 lembaga jasa keuangan (LJK) masuk dalam kategori konglomerasi keuangan. LJK tersebut menguasai 70% dari total aset industri keuangan yang mencapai Rp5.300 triliun pada semester I/2014.

 

Editor : Sepudin Zuhri

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bank Mandiri masih menjadi bank di Indonesia dengan aset terbesar. Bank pemerintah itu punya aset total mencapai Rp 674,74 triliun,  per Juni 2014. Angka ini naik 14,08 persen dari tahun sebelumnya.

Posisi kedua disusul Bank Rakyat Indonesia (BRI). Bank menyandang gelar sebagai bank dengan laba paling jumbo itu punya aset Rp 621,98 triliun.  BRI spesialis kredit mikro ini membukukan pertumbuhan kredit 15,54 persen.

Bank Permata sebagai bank patungan antara Grup Astra dan Standard Chartered ini melesat naik ke peringkat enam.

Permata berhasil menggeser posisi Bank Panin dan Bank Danamon sekaligus dengan kenaikan aset sebesar 22,32 persen menjadi Rp 176,57 triliun. Mesin pertumbuhan aset Permata adalah kredit yang mampu tumbuh 19 persen menjadi Rp 127 triliun per Juni.

“Di awal tahun kami mematok pertumbuhan kredit lebih konservatif, tapi ada beberapa rencana kredit dari akhir tahun 2013 yang baru tercatat di tahun ini,” ujar Roy A. Affandy, Plt Direktur Utama Bank Permata, Senin (11/8/2014).

Nasib berbeda dialami Bank Tabungan Negara (BTN). Bank pelat merah ini harus mengalami penurunan peringkat dari posisi sembilan ke posisi paling buncit. Bank Internasional Indonesia (BII) menyalip posisi BTN dengan pertumbuhan aset 19,10 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan aset BTN yang sebesar 14,36 persen.  (*)

Berikut 10 besar bank aset terbesar (Juni 2014):

1. Bank Mandiri                                Rp 674,74 triliun
2. Bank Rakyat Indonesia (BRI)      Rp 621,98 triliun
3. Bank Central Asia (BCA)            Rp 512,84 triliun
4. BNI                                                 Rp 388,01 triliun
5. CIMB Niaga                                  Rp 224,83 triliun
6. Bank Permata                              Rp 176,57 triliun
7. Bank Panin                                   Rp 156,72 triliun
8. Bank Danamon                            Rp 154,42 triliun
9. BII                                                   Rp 137,79 triliun
10. BTN                                             Rp 135,62 triliun

JAKARTA. Menjelang pertengahan tahun 2014, performa saham-saham sektor perbankan kembali berotot. Merujuk pada statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (30/5), empat saham bank kembali masuk ke jajaran 10 dengan saham performa terbaik sejak awal 2014 alias year-to-date (YTD).

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi saham bank dengan performa terbaik. Pada 2 Januari-30 Mei 2014, harga BBRI sudah naik 40,7% ytd ke level Rp 10.200 per saham.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membuntuti BBRI di posisi kedua dalam daftar 10 saham penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini. Sejak awal tahun, harga BMRI sudah naik 29,6% ytd ke level Rp 10.175 per saham.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga turut masuk ke jajaran 10 saham penggerak IHSG di periode 2 Januari-30 Mei 2014. BBCA sudah naik 12,2% YTD ke harga Rp 10.775 per saham, sedangkan BBNI naik 20,9% ke level Rp 4.775 per saham.

Hans Kwee, Pengamat Pasar Modal menilai, performa saham empat bank besar tidak terlepas dari pertumbuhan kinerja keuangannya. Di kuartal I 2014, tiga dari empat bank tersebut memang masih bisa meraih pertumbuhan di atas 15%, meski penyaluran kredit sedikit melambat.

BBRI, misalnya, berhasil membukukan kenaikan laba bersih senilai 17,86% menjadi Rp 5,9 triliun di Januari-Maret 2014, dibandingkan periode sama 2013 yang tercatat Rp 5,01 triliun.

Pertumbuhan laba BBCA, bahkan, lebih tinggi, yaitu 26,7% year-on-year (yoy) menjadi Rp 3,7 triliun di tiga bulan pertama 2014. Pertumbuhan laba, salah satunya, ditopang oleh penyaluran kredit BCA yang naik 19,7% yoy menjadi Rp 317,2 triliun.

BBNI pun masih sanggup mendongkrak laba bersih 15,6% yoy menjadi Rp 2,39 triliun di Januari-Maret 2014. Kenaikan laba BBNI banyak ditopang oleh pendapatan bunga bersih 23,2% yoy menjadi Rp 5,29 triliun.

Hanya BMRI yang pertumbuhan laba bersihnya di bawah 15%. Di kuartal I 2014, laba bersih BMRI naik 14,5% yoy menjadi Rp 4,9 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu yang Rp 4,3 triliun.

“Di tengah kian ketatnya likuiditas, pertumbuhan laba empat bank ini menjadi salah satu poin positif di mata investor,” kata Hans. Faktor pendongkrak saham bank tentu saja bukan hanya dari kinerja keuangan semata.

Hans bilang, faktor lain yang menentukan tentunya proyeksi investor, terutama asing, terhadap kondisi ekonomi maupun sosial politik Indonesia. Investor asing cenderung optimistis akan hadirnya perbaikan ekonomi terutama setelah pilpres 9 Juli mendatang.

Hal ini secara langsung berimbas pada kenaikan empat saham sektor bank seperti terjadi belakangan ini. “Asing menyukai saham bank karena likuiditasnya paling bagus,” terang Hans.

Namun, secara umum, emiten sektor bank sejatinya sedang mengalami tekanan. Tjandra Lienandjaja, Analis Mandiri Sekuritas dalam riset per 26 Mei 2014 menyatakan, penyaluran kredit bank melambat menjadi hanya tumbuh 19,5% yoy di kuartal I 2014.

Ini adalah untuk pertama kalinya pertumbuhan penyaluran kredit bank berada di bawah 20% sejak Agustus 2010. Di sisi lain, rasio kredit macet bank juga naik menjadi 2% di Maret 2014, dibandingkan Desember 2013 yang masih 1,77%.

Sebaliknya, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) bank di Maret justru turun menjadi 4,3% dari Desember yang 5,4%.
Editor: Asnil Bambani Amri

kontan JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan siap memantau ketat kondisi keuangan sejumlah bank berskala kecil yang tengah kepayahan. Perbankan yang mengalami penurunan tingkat kesehatan dan tata kelola perusahaan atau good corporate governance (GCG) itu telah mengirimkan action plan ke OJK.

Berdasarkan informasi yang diperoleh KONTAN, ada 10 bank berskala kecil yang kesehatannya terganggu. Namun OJK enggan membeberkan identitas 10 bank tersebut.

Irwan Lubis, Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan OJK, hanya mengatakan, bank-bank itu baru melakukan pencarian investor strategis. Di tahap awal, opsi yang dilakukan untuk pelepasan saham antara lain mencari investor baru. Opsi ini masih dapat berubah sesuai keputusan pemegang saham. Misalnya, jika bank tak memperoleh calon investor, maka bisa merger atau konsolidasi. “Harapan kami adalah merger itu lebih bagus,” kata Irwan.

Kemudian, jika bank yang tak sehat sudah mendapatkan calon investor atau bank untuk diajak konsolidasi, mereka dapat memasukkan rencana divestasi saham melalui rencana bisnis bank (RBB). Nah, masa pencarian investor baru atau merger berlaku hingga tahun 2019. “Tapi, jika mereka dapat menyelesaikan dalam waktu dekat, itu lebih bagus,” tutur Irwan.

OJK menegaskan, bank yang tingkat kesehatannya menurun adalah bank umum kelompok usaha (BUKU) 1, yang memiliki peringkat komposit (PK) di level 3 atau cukup sehat. Dus, tidak ada bank yang berada di level PK-4 (kurang sehat) dan PK-5 (tidak sehat). “Semua bank yang mengalami penurunan GCG itu di level 3,” kata Irwan. Bank BUKU 1 memiliki modal inti kurang dari Rp 1 triliun.

Dari indikator keuangan seperti kredit, likuiditas dan rasio kredit bermasalah (NPL), kondisi bank tersebut masih stabil. Namum, ada beberapa bank yang mengalami kerugian. Artinya, investor tidak buntung, jika memiliki bank tersebut, karena mereka masih dapat mencatat pertumbuhan usaha.

Achmad Baequni, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia, menyatakan pihaknya berencana melirik bank-bank kelompok BUKU 1 yang tingkat GCG-nya menurun. Langkah ini akan ditempuh apabila BRI kalah bersaing untuk mengakuisisi saham Bank Mutiara. Saat ini, BRI tengah melakukan proses penawaran saham Bank Mutiara yang akan dijual Lembaga Penjamin Simpanan.

Terkait rencana akuisisi bank BUKU 1, manajemen BRI ingin bank yang menjadi target harus sesuai dengan fokus bisnis BRI, yakni bidang mikro dan ritel. “Kami memang tertarik untuk mengincar bank BUKU 1,” ungkap Baequni.

Bank pelat merah ini selalu memasukkan rencana pertumbuhan anorganik seperti mengakuisisi bank atau non bank untuk mengembangkan usahanya. BRI juga memiliki dana sebesar Rp 3 triliun untuk memiliki bank baru. “Kami akan memperkuat penyertaan modal jika dibutuhkan,” tambah Baequni.

Analis Bank Himpunan Saudara, Rully Nova, berpendapat, konsolidasi bank saat ini memang diperlukan. Merger menjadi salah satu caranya. Bagi bank, merger bertujuan antara lain untuk memperkuat permodalan. “Karena bank butuh modal untuk ekspansi,” kata dia, kemarin.

Bagi regulator, kata Rully, konsolidasi akan memudahkan dalam hal pengawasan. Seperti diketahui, saat ini banyak bank yang beroperasi di Indonesia dan pengawasan akan efektif apabila jumlah bank bisa berkurang.

Konsolidasi juga menjadi bagian dari persiapan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Jika bank-nya kecil-kecil, maka daya saingnya akan kurang apabila dibandingkan dengan bank di ASEAN,” ungkap Rully.
Editor: Sandy Baskoro

JAKARTA, KOMPAS.com – Likuiditas ketat yang kini dihadapi oleh sejumlah bank bisa diselesaikan dengan memangkas jumlah bank dan mendorong terjadinya konsolidasi. Apalagi sesuai Arsitektur Perbankan Indonesia (API), jumlah bank yang kini sebanyak 120 bank akan dipangkas menjadi hanya 80 bank.

Pengamat ekonomi dan pasar modal Yanuar Rizky menilai, melalui konsolidasi, perbankan Indonesia akan menjadi lebih kuat. Sejauh ini, perbankan Indonesia sedang menghadapi persaingan yang sangat ketat untuk mendapatkan pendanaan.

Akibat tingkat suku bunga tinggi saat ini, banyak bank yang tidak mampu bersaing dengan bank-bank besar yang didukung dengan SDM, sistem teknologi dan jaringan yang sangat besar.

“Ketatnya likuditas ini akan membuat ruang pertumbuhan kredit perbankan menjadi berkurang. Solusi terbaik adalah konsolidasi perbankan dan Bank BUMN harus menjadi lokomotifnya. Kita butuh Bank BUMN yang kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi agar tetap solid dalam berbagai situasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (23/5/2014).

Ketatnya likuiditas perbankan, ujarnya, tecermin dari tingginya rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) perbankan Indonesia.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2014 tingkat LDR bank konvensional yang mencapai 91,17 persen, meningkat tajam dibandingkan periode sama 2013 sebesar 84,93 persen. Bank Indonesia membatasi ratio LDR maksimal 92 persen.

Salah satunya bank yang LDR-nya terlalu tinggi adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk, di mana rasionya mencapai 102 persen di kuartal I-2014 lalu. Selain harus menghadapi likuiditas ketat, BTN juga diharapkan pada kualitas kredit yang memburuk.

Marolop Alberth Nainggolan, Pengajar Universitas 17 Agustus Jakarta menambahkan, bank-bank BUMN memiliki peran strategis dalam mendorong perekonomian nasional, karenanya harus kuat, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Konsolidasi Bank BUMN merupakan kunci bagi penguatan sistem perbankan nasional. Langkah ini akan menguntungkan pemerintah, baik untuk membiayai perekonomian maupun bersaing dengan bank-bank asing yang juga sudah melakukan konsolidasi lebih cepat,” katanya.

Marolop menambahkan, akuisisi Bank BTN oleh Mandiri merupakan salah satu agenda penting pemerintah yang seharusnya menjadi prioritas.

Bertahun-tahun BTN berjuang untuk menjalankan fungsinya menjadi bank perumahan guna mendukung program pemerintah. Namun, akibat likuiditas yang semakin terbatas, peran BTN dalam menopang pembiayaan perumahan masih sangat kecil.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
kontan
JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menghembuskan kabar baik terkait permodalan perbankan. Berdasarkan hasil stress test tahun 2014, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) masih kuat, meskipun sudah memperhitungkan shock scenarios risiko kredit dan risiko pasar, yaitu peningkatan kredit bermasalah (NPL), peningkatan suku bunga, pelemahan nilai tukar dan penurunan harga Surat Berharga Negara (SBN).

Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI, mengatakan, hasil stress test BI menunjukkan rasio permodalan bank hanya turun 0,1%-0,2%, dengan asumsi skenario kenaikan suku bunga BI 2,5%. Jika kenaikan suku bunga 1%-5% menunjukkan, CAR bank, baik secara industri maupun berdasarkan BUKU, masih kuat, yaitu di atas 14%. “Rata-rata modal bank masih di atas 18%,” kata Halim, Senin (19/5).

Namun, bank BUKU 1 dan BUKU 3 berpotensi memiliki dampak risiko suku bunga terhadap permodalan lebih besar dibanding BUKU lain. Jika terjadi kenaikan rasio NPL gross industri perbankan di 5%-15% akan menjaga rasio permodalan di atas 10%.

Bank BUKU 4 paling tahan terhadap kenaikan risiko kredit, karena risiko NPL gross relatif rendah, sehingga berpotensi mengalami penurunan CAR lebih kecil.

Taswin Zakaria, Presiden Direktur Bank Internasional Indonesia (BII), menuturkan pihaknya akan terus meningkatkan permodalan dengan cara penawaran saham umum terbatas (rights issue) atau penerbitan surat utang (subdebt), keduanya senilai Rp 3 triliun. Dengan penambahan modal, menjaga CAR pada level 13%, dengan asumsi pertumbuhan kredit 17%-20%. “Pada tahun 2015, kami juga akan menjaga CAR 13% dengan rencana suntikan modal yang lain,” katanya.

Riswinandi, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, mengaku, permodalan Mandiri mencukupi untuk pertumbuhan bisnis dan risiko usaha. Pada kuartal I-2014, rasio modal Mandiri 16,15% dengan rencana pertumbuhan kredit 15%-18%. Jika modal tergerus, di tahun 2015 mendatang, Mandiri akan memperkuat modal melalui penerbitan surat utang.
Editor: Sanny Cicilia

kontan JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengaku belum mencium adanya potensi risiko yang menyebabkan kekurangan likuiditas pada industri perbankan.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Darsono mengungkapkan, bank sentral terus mengupayakan agar likuiditas perbankan tetap terjaga dengan sehat.

“Kalau potensi yang baru, saya kira tidak ada. Tapi kami terus mencermati bank mana saja yang perlu kami carikan jalan keluarnya,” jelas Darsono di Gedung BI, Jakarta, Senin (19/5).

Darsono mencontohkan, otoritas terus mencermati potensi risiko rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) industri perbankan, likuiditas perbankan, serta mengawasi bank mana saja yg rentan terhadap debitur macet karena profil debiturnya yang rentan terhadap gejolak.

Lebih lanjut Darsono menambahkan, saat isu global yang muncul dan wajib dicermati adalah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve yang ingin mempercepat kenaikan tingkat suku bunga. Nah, hal ini turut pula dicermati oleh Bank Indonesia, sebagai langkah antisipatif

Saat The Fed mengumumkan untuk mengurangi stimulus moneter alias tapering off, Bank Indonesia mencermati potensi risiko industri perbankan yang dikhawatirkan akan mengalami kekurangan likuiditas.

Namun demikian, sejauh ini BI terus mengupayakan agar bank-bank tersebut aman dari dampak tapering off tersebut. “Upaya BI, OJK (otoritas jasa keuangan) dan Kementerian Keuangan lakukan langkah-langkah seperti mendorong ekspor. Kita tidak boleh lengah meski tapering off sudah di antisipasi atau price in oleh pasar dengan melemahnya nilai tukar rupiah,” ucapnya.

Selain itu, BI juga terus berupaya untuk menjaga defisit transaksi berjalan agar tidak meningkat lagi. Paling penting, menurut Darsono, adalah dengan menjaga defisitnya transaksi berjalan atau current account defisit.

“Potensi domestik dan eksternal harus diawasi,” ujar Darsono.
Editor: Sanny Cicilia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s