rupiaaa(HALU$)AAkh … 240814

JAKARTA, KOMPAS.com – “Jokowi Effect”, frasa ini acapkali muncul untuk menggambarkan dampak kemenangan Joko Widodo (Jokowi) dalam kontestasi politik terhadap perekonomian, utamanya di pasar keuangan dan saham.

Biasanya, efek ini terlihat salah satunya dari penguatan nilai tukar mata uang Garuda terhadap dollar AS. Sebelumnya telah dibuktikan, setelah hasil hitung cepat lembaga survei terkait Pilpres 9 Juli 2014 dirilis, nilai tukar Rupiah menguat bahkan melonjak ke level tertinggi selama tujuh pekan, menembus Rp 11.518 per dollar AS.

Penguatan kembali terjadi setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengeluarkan hasil resmi rekapitulasi Pilpres, pada 22 Juli 2014 lalu. Rupiah kembali bertengger di level Rp 11.484 per dollar AS.

Diprediksi, “Jokowi Effect” akan berulang pasca-putusan Mahkamah Konstitusi terkait hasil sengketa Pilpres. Namun, menurut Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, A Tony Prasetiantono, kali ini putusan MK tidak akan memberikan lompatan lebih tinggi terhadap penguatan Rupiah, dibanding ketika rilis hasil KPU.

“Rasanya tidak. Dugaan saya hanya sampai Rp 11.500-an saja,” kata Tony kepada Kompas.com, Kamis (21/8/2014) malam.

Menurut Tony, pasar sedikit kehilangan momentum, di mana seharusnya momentum itu bisa mendongkrak kembali rupiah. “Karena, momentumnya agak hilang. Ibarat makanan sudah keburu agak dingin, karena proses yang melelahkan dan menjemukan,” jelas Tony.

Tony menengarai, kemungkinan rupiah akan bisa menguat signifikan saat Jokowi mengumumkan kabinet yang sesuai ekspektasi pasar. Dengan demikian, rupiah diprediksi bisa menguat ke arah Rp 11.200 per dollar AS.

Namun, Tony menambahkan, Rupiah sulit menembus di bawah Rp 11.000 per dollar AS. Sebab, subsidi bahan bakar minyak dan subsidi listrik yang mencapai Rp 350 triliun sudah tidak masuk akal lagi, sehingga APBN tidak kredibel. “Ini memberi beban berat bagi Rupiah, sehingga sulit menguat,” tandas Tony.

Majelis hakim Mahkamah Konstitusi, pada Kamis malam, memutuskan menolak seluruh gugatan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) yang diajukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Mahkamah Konstitusi menilai, Prabowo-Hatta tak bisa membuktikan dalil permohonannya. Dengan putusan ini, artinya pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla resmi sebagai presiden dan wakil presiden terpilih 2014-2019. Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat, tak ada cara untuk mengubahnya.


Penulis : Estu Suryowati
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

 

JAKARTA okezone – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya berhasil menguat di akhir perdagangan hari ini. Rupiah menguat kembali di level Rp11.692 per USD.

Dalam pergerakannya, di akhir sesi Rupiah, bergerak level menguat, setelah Rupiah dari pembukaannya melemah di level Rp11.700-an.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis (21/8/2014), Rupiah dalam pergerakan non-delivery forward (NDF) melemah 12 poin atau 0,11 persen ke Rp11.692 per USD. Adapun pergerakan hariannya, Rupiah nyaman di level Rp10.706-Rp11.742 per USD.

Begitu pula yahoofinance mencatat penguatan hingga Rp55 atau 0,47 persen di Rp11.693 per USD. Sedangkan, dalam pergerakan hariannya Rupiah bergerak di kisaran Rp11.692-Rp11.748 per USD.

Namun, kurs tengah bank Indonesia (BI) mencatat pelemahan di level Rp11.717 per USD. Angka tersebut melemah dibandingkan periode sebelumnya di level Rp11.707 per USD. (rzy)

JAKARTA — Mata uang Asia ditransaksikan cukup beragam terhadap dolar AS pagi ini, Jumat (25/7/2014).

Dari 11 mata uang Asia, sebanyak lima mata uang melemah dengan won terpantau paling tertekan terhadap dolar AS sebesar 0,2%.

Sementara itu, empat mata uang lainnya menguat dengan dolar Taiwan paling terapresiasi sebesar 0,12%. Adapun dua mata uang stagnan yakni dolar Hong Kong dan rupee.

Pagi ini, rupiah terpantau melemah 0,17% ke Rp11.589 per dolar AS pada pukul 08.20 WIB.

http://market.bisnis.com/read/20140725/93/246002/dolar-as-vs-mata-uang-asia-rupiah-tertekan-rp11.589us

Sumber : BISNIS.COM

 

JAKARTA. Otot rupiah kokoh di awal pekan ini. Di pasar spot, Senin (21/7), pasangan USD/IDR turun 0,37% dari akhir pekan lalu ke 11.572. Pergerakan serupa terlihat di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah menguat 1,10% terhadap dollar AS menjadi Rp 11.577.

Reny Eka Putri, analis pasar uang Bank Mandiri, menilai, rupiah semakin bertenaga sejak mendekati pengumuman hasil pemilihan presiden dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pelaku pasar menduga, hasil rekapitulasi akan sesuai ekspektasi.

Padahal, di sisi lain, BI merilis utang luar negeri bulan Mei meningkat 9,7% menjadi US$ 283,7 miliar. “Data ini tidak menghalangi rupiah,” kata Reny.

Head of Research and Analysis Division PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menebak,  hari ini (22/7), rupiah akan lebih menguat, apabila hasil rekapitulasi KPU sesuai ekspektasi.

Prediksi Ariston, rupiah bergulir di kisaran Rp 11.450-Rp 11.550. Sementara, Reny melihat potensi rupiah lanjut menguat dengan range pergerakan antara 11.400-11.620.

Editor: Dupla KS
 

 

Bisnis.com, JAKARTA – Fluktuasi nilai tukar rupiah dinilai tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi politik nasional menjelang Pemilihan Presiden.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan faktor politik tidak akan terlalu berpengaruh selama Pilpres berlangsung lancar dan aman.

Dalam hal ini, BI bertugas meyakinkan investor bahwa seluruh proses demokrasi akan berlangsung aman, merujuk pada Pemilu Legislatif yang telah berjalan dengan baik.

“Ini sudah Pilpres langsung yang ketiga kali, pemilu legislatif juga sudah tiga kali dan berlangsung aman,” ujarnya, Jumat (27/6/2014).

Menurut Mirza, faktor yang berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah adalah pasar keuangan Indonesia yang belum dalam. Ketika pasar belum dalam, rupiah akan tertekan ketika timbul permintaan terhadap mata uang asing dalam jumlah besar.

Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap nilai tukar adalah fundamental ekonomi nasional. Ketika defisit neraca perdagangan belum tertangani, maka beban impor masih akan memberatkan perhitungan nilai tukar.

 

Editor : Fatkhul Maskur

 

JAKARTA- Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dollar AS beberapa waktu ini memberikan keuntungan untuk perdagangan dalam jangka pendek. Kondisi ini meningkatkan daya saing ekspor menjadi lebih tinggi.

Sayangnya, Bayu juga mengingatkan untuk jangka panjang kondisi ini justru harus diantisipasi terutama untuk kepentingan impor. Apalagi Indonesia sendiri masih membutuhkan impor yang cukup besar  untuk bahan baku dan baku penolong, hal ini berpotensi memicu inflasi pada barang-barang berbahan baku impor (imported inflation)

“Ada problem yang harus diantisipasi, pertama impor, jadi kalau rupiahnya makin berat, makin tertekan. Maka impor kita makin besar, itu akan membuat kita lebih sulit karena sebagian dari,impor kita pakai untuk bahan baku dan bahan baku penolong disamping itu ada imported inflation, jadi inflasi yang muncul karena kurs. Itu yang harus diperhatikan,” ujar Bayu.

Bayu memaparkan Kementerian perdagangan sendiri telah melakukan koordinasi dengan importir dan seluruh pelaku usaha agar tidak terburu-buru menaikan harga. Menurut dia bahan baku impor yang digunakan untuk produksi saat ini sudah datang dari jauh hari sebelumnya.  Misalnya, industri makanan yang bebahan dasar terigu dimana sebagian besar bahan baku masih harus impor. Meski menurut dia tekanan untuk menaikkan harga tidak dapat dihindari setelah lebaran.

“Untuk itu kami sudah berkoordinasi dengan importir dan pelaku usaha yang komponen impornya besar menahan diri agar tidak menaikkan harga sekarang,” ujar dia.

Bayu juga berharap Pilpres 9 Juli mendatang dapat berlagsung damai agar tidak semakin menekan nilai tukar rupiah yang mengakibatkan semakin melonjaknya harga barang.

“Kalau nanti pemilu tenang damai berjalan dengan bermartabat mudah-mudahan kepercayaan akan naik kepada indonesia dan mudah-mudahan kurs rupiah bisa kembali ke angka seharusnya,” ujar Bayu.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Federasi Kemasan Indonesia (FPI) Hengky Wibawa memaparkan permasalahan utama industri kemasantahun ini adalah fluktuasi rupiah yang membuat harga impor bahan baku kemasan melambung dimana kenaikan harga bahan baku berpengaruh 60-70% terhadap produksi.

Menurut Impor bahan baku dan mesin masih akan terus berlanjut karena industry dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri kemasan. Impor Bahan baku kemasan saat ini kebanyakan berasal Tiongkok dan Kawasa Timur Tengah. (ajg)

 

http://www.investor.co.id/tradeandservices/jangka-pendek-pelemahan-rupiah-untungkan-eksportir/88914
Sumber : INVESTOR DAILY

Jakarta – Rupiahpada perdaganganSelasasiang (1/7) kembali menguat ke level Rp11.850/US$. membaiknya sejumlah data ekonomi yang dirilis hari ini menjadi pemicu utama penguatan rupiah atas dollar Amerika.

HSBC mengumumkan indeks manufaktur PMI Indonesia naik ke level 52,7 pada Juni. Angk ini naik dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi 52,4. Indeks di bulan Juni ini sekaligus menjadi yang tertinggi sejak survei dimulai pada bulan April 2011. Hal ini mengindikasikan membaiknya kinerja ekonomi dengan tingkat laju yang solid dan cepat.

Indonesia juga berhasil mencatat surplus neraca perdagangan pada periode Mei 2014. Hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan surplus perdagangan mencapai US$70 juta. Sebelumnya para analis memperkirakan surplus hanya akan mencapai US$50 juta.

Data lainnya, tingkat inflasi pada Juni naik tercatat 0,.43%. angka ini lebih lambat dibanding estimasi pasar yang 0,5%. Sementara jika dihitung dalam skala tahunan, inflasi Juni tercatat sebesar 6,70%, juga lebih lambat dibandingkan perkiraan, yang 6,81%.

Hingga sesi rehat siang, kurs Rupiah mengkuat di kisaran Rp11.875. sebelumnya rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp11.755. Kemarin, rupiah ditutup di titik Rp11.870

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2115281/data-ekonomi-membaik-rupiah-terbawa-naik#.U7Ji_UC3TMo
Sumber : INILAH.COM

Jakarta —  Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah menyentuh Rp 12.000 membuat importir memilih menahan impor produknya ke pasar domestik.

“Importir wait and see atau menunggu perkembangan nilai tukar rupiah terhadapp dolar AS. Untuk impor barang-barang konsumsi akan mengalami kerugian jika nilai tukar rupiah terus menurun,” Kata Sekretaris Jenderal Gabungan Importir Seluruh Indonesia (Ginsi), Ahmad Ridwan Tento di Jakarta, Selasa (1/7).

Kerugian importir, menurut Ridwan, disebabkan transaksi impor dengan dolar, sementara menjualnya dengan kurs rupiah. Untuk menutupi kerugian, importir menyiasatinya dengan menaikkan harga barang.

“Importir umum tidak mungkin mengelak dengan kontrak impor. Jadi ketika dalam waktu bersamaan dolar naik, harga barangnya tidak mungkin diubah dan strateginya akan menaikkan harga barang,” paparnya.

Para importir, lanjut Ridwan, akan wait and see sampai nilai rupiah kembali stabil. Para importir tidak ingin mengalami kerugian yang cukup besar.

“Untuk importir produsen tetap mengimpor, meskipun nilai dolar saat ini naik. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan produksi,” ujarnya.

Ridwan menambahkan, kenaikan nilai dolar AS saat ini merupakan tren sesaat. Hal yang sama terjadi saat pemilihan legislatif (pileg).

“Ketika itu, harga dolar menguat dan setelah pileg, nilai dolar kembali turun. Jika nilai dolar saat ini tetap bertahan sampai periode yang lama, importir pasti akan melakukan tindakan impor, meskipun harga dolar tetap tinggi,” tuturnya.

http://www.imq21.com/news/read/238652/20140701/133451/Nilai-Tukar-Rupiah-Melemah-Importir-Tahan-Impor.html
Sumber : IMQ21.COM

Bisnis.com, JAKARTA— Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan kurs rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Selasa (1/7/2014) berpotensi menguat.

“Rupiah diperkirakan berlanjut menguat,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta dalam risetnya yang diterima hari ini, Selasa (1/7/2014).

Rangga mengatakan rupiah menguat ke 11.875, memimpin penguatan mata uang di Asia.

Dikemukakan selain faktor turunnya harga minyak, harapan turunnya inflasi serta membaiknya posisi neraca perdagangan, yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini,  menambah optimistis rupiah kuat.

“Data regional memburuk, dollar index ke bawah 80,” kata Rangga.

Walaupun penjualan rumah membaik, ujarnya, memburuknya data aktivitas produksi regional mengantarkan dollar index untuk turun ke bawah 80.

Di sisi lain, ujarnya, euro terus menguat mendekati 1,37. Kenyataan bahwa perang di Irak sama sekali tidak memengaruhi produksi minyak berhasil membawa harga minyak Brent turun ke US$112.37/ barel.

“Pagi ini ditunggu data Manufacturing PMI China yang diperkirakan membaik,” kata Rangga.

Pergerakan rupiah/US$

Tanggal Rp/US$
30/6 11.875
27/6 11.995
26/6 12.099

 

 

 

Sumber: Bloomberg Dollar Index, 2014

 

Editor : Linda Teti Silitonga

TEMPO.CO , Jakarta: Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Peter Jacobs, menyatakan bank sentral dalam jangka pendek belum melihat adanya hal-hal yang drastis terjadi dan membutuhkan intervensi khusus. “(Fluktuasi kurs rupiah) Masih tergolong halus,” ujarnya, di Gedung Bank Indonesia, Kamis, 26 Juni 2014.

Ia mengungkapkan, intervensi baru akan dilakukan Bank Indonesia jika gangguan berasal dari sisi fundamental. “Intervensi dilakukan ketika dibutuhkan, sifatnya situasional,” kata Peter. (Baca: Beberapa Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah)

Untuk itu, Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar dan terus melihat perkembangan yang ada. Fluktuasi pelemahan dan penguatan rupiah yang terlalu tinggi ataupun rendah akan lebih mengkhawatirkan Bank Indonesia jika terjadi secara drastis.

Lebih jauh Peter menilai pelemahan kurs rupiah yang terjadi belakangan ini hingga melewati Rp 12.000 per dolar AS bukan karena dinamika politik di dalam negeri. “Ini lebih karena month end demand yang menular ke (harga) minyak. Lebih karena eksternal,” tuturnya. (Baca: Bank Indonesia: Melemahnya Rupiah Tidak Buruk)

Yang dimaksud dengan month end demand adalah kenaikan permintaan valuta asing di akhir bulan. Selain itu, menurut dia, masih tingginya harga minyak mentah juga berpengaruh pada pelemahan rupiah.

Sebab, semakin tinggi harga minyak mentah, kebutuhan terhadap subsidi minyak menjadi lebih besar. Adapun penyebab kenaikan harga minyak itu di antaranya karena adanya konflik di Irak. Oleh karena itu, menurut Peter, investor memperkirakan defisit bakal semakin besar di masa yang akan datang.

Pada Kamis lalu (26 Juni 2014), situs resmi Bank Indonesia mencatat kurs tengah rupiah berada di level Rp 12.091 per dolar AS. Nilai tersebut melemah dibandingkan sehari sebelumnya sebesar Rp 12.027 per dolar AS.

MAYA NAWANGWULAN

 

TEMPO.CO , Jakarta: Kepala Ekonom PT Bank International Indonesia Tbk. Juniman, mengatakan pelaku pasar mulai meninggalkan aset-aset rupiah dan berburu dolar AS. “Investor takut memegang rupiah yang semakin rawan oleh ancaman double deficit, yakni defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran,” ujarnya ketika dihubungi Tempo, Kamis, 26 Juni 2014.

Melonjaknya harga minyak mentah jenis Brent di kisaran US$ 116 per barel membuat biaya impor minyak semakin membengkak. Berdasarkan penghitungan para ekonom, setiap kenaikan harga minyak sebanyak US$ 1 dolar per barel, negara berpotensi menambah subsidi senilai Rp 700 miliar. (Baca: Tunggu BI Rate, Rupiah Stabil)

Menurut Juniman, kondisi ini kemudian memicu spekulasi defisit perdagangan akan semakin melebar dan selanjutnya meningkatkan defisit transaksi berjalan. Hingga kuartal pertama, defisit neraca berjalan telah mencapai US$ 4,2 miliar atau 2,06 persen dari GDP. “Saya khawatir di defisit transaksi berjalan kuartal kedua bisa mencapai 2,3 persen dari GDP.”

Imbas lonjakan harga minyak terhadap pelemahan mata uang juga dialami oleh negara net importer lainnya seperti India, Korea, Malaysia, dan Thailand. Mereka sedang menghadapi ancaman defisit perdagangan. (Baca: Beberapa Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah)

Kebanyakan negara di atas produk minyaknya tidak disubsidi. Sementara Indonesia minyaknya masih disubsidi. Ini akan menimbulkan konsekuensi yang kedua, yaitu melebarnya defisit anggaran (budget deficit). “Defisit anggaran kita telah mencapai 2,3 persen GPD, atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir,” tuturnya.

Karena itu, rilis data-data ekonomi kuartal kedua akan menjadi penentu nasib rupiah. Dalam jangka pendek, rupiah bisa menembus level Rp 12.280 per dolar AS. Namun, seiring meredanya tekanan di awal bulan dan ekspektasi surplus neraca perdagangan, rupiah bakal kembali di bawah 12.000.

Analis pasar uang PT Bank Mandiri, Reny Eka Putri memperkirakan rupiah masih berpeluang melemah seiring semakin tingginya permintaan dolar di akhir bulan. “Rupiah masih cenderung melemah hingga akhir bulan,” kata dia.

Sesuai siklus, kata dia, permintaan dolar memang akan cenderung lebih besar pada hari-hari terakhir di penghujung bulan. Selain dibebani pembayaran dividen, kewajiban jangka pendek korporasi yang jatuh tempo pada akhir bulan, mendorong perusahan selalu meningkatkan pembelian dolar menjelang waktu tersebut.

M. AZHAR | MEGEL JEKSON

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s