ASIENK nama yang tak asing di portofolio indo … 070110_170814

Bisnis.com, JAKARTA–Neraca pembayaran Indonesia kuartal II/2014 surplus US$4,3 miliar, atau kinerja positif untuk kedua kalinya setelah kuartal IV/2013, akibat derasnya aliran masuk portofolio asing selama paruh pertama tahun ini.

Performa itupun membalik kondisi periode sama tahun lalu yang defisit US$1,5 miliar karena surplus transaksi modal dan finansial tidak mampu menutup defisit transaksi berjalan saat itu.

Data Bank Indonesia menyebutkan transaksi berjalan periode April-Juni 2014 masih defisit US$9,1 miliar, tetapi transaksi modal dan finansial mencetak surplus US$14,5 miliar.

Meskipun investasi langsung menyumbang surplus, kontribusi investasi portofolio terhadap transaksi modal dan finansial paling besar, yakni mencapai US$4,3 miliar.

Investasi portofolio selama ini rentan pembalikan arus modal keluar (sudden reversal) jika muncul sentimen negatif di pasar keuangan.

“Jika arus modal yang masuk didominasi oleh portofolio jangka pendek, perekonomian akan rentan terhadap gejolak, dan akhirnya dapat memengaruhi rupiah,” kata ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina, Minggu (17/8/2014).

Untuk itu, lanjutnya, menjaga persepsi positif di pasar menjadi keharusan pemerintahan saat ini. Arah kebijakan yang jelas dari pemerintahan baru juga dapat mengangkat sentimen positif di pasar.

Menanggapi ini, Menteri Keuangan M. Chatib Basri mengatakan infrastruktur harus dibangun agar investasi portofolio beralih menjadi investasi langsung (foreign direct investment). Namun, dia melimpahkan urusan itu pada pemerintahan baru.

“Paling tidak yang bisa dilakukan sekarang karena appetite-nya (minat) sudah bagus dan kepercayaan sudah tinggi dan pada pemerintahan baru confidence-nya makin kuat, akan pindah dari jangka pendek ke jangka panjang,”  paparnya.

Pemerintahan saat ini, lanjutnya, paling tidak berupaya menciptakan instrumen investasi portofolio yang lebih beragam (diversifikasi) dan memperbesar porsi investor domestik.

 

Editor : Ismail Fahmi

Kamis, 07/01/2010 00:00 WIB

Aliran dana asing perkuat rupiah
Musim paceklik naikkan risiko inflasi

oleh :

JAKARTA: Rupiah mempertahankan tren penguatannya dan mencapai level tertinggi sejak 4 September 2008 terdorong oleh aliran dana ke pasar modal nasional di tengah positifnya proyeksi atas pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Aksi investor asing yang terus menggelontorkan dana ke pasar modal nasional memungkinkan indeks harga saham gabungan (IHSG) terbebas dari koreksi drastis setelah kenaikan 7 hari secara berturut-turut.

Rupiah kemarin ditransaksikan di posisi Rp9.279 per dolar AS pada pukul 15.59 WIB, lebih tinggi dari posisi penutupan sehari sebelumnya sebesar Rp9.320 per dolar AS. Mata uang domestik itu dan won memimpin pergerakan 10 mata uang yang paling banyak diperdagangkan di Asia.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Johannes Ginting mengatakan rupiah menapaki tren penguatan terhadap dolar AS setidaknya hingga akhir pekan ini. Penguatan mata uang domestik itu dipengaruhi aliran hot money yang ditopang oleh proyeksi fundamental yang positif, meski Indonesia masih menghadapi masalah politik.

Dia menjelaskan minat berinvestasi ke beberapa aset negara berkembang mulai naik di tengah faktor global yang cenderung fluktuatif karena data ekonomi dari negara maju cenderung masih mengecewakan pasar.

Kondisi itu mendorong investor semakin memupuk kepercayaan terhadap aset negara berkembang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Aliran modal yang masuk ke Indonesia cukup kencang karena prospek ekonomi bagus. Masalah politik yang dihadapi Indonesia sepertinya tidak terlalu mengganggu [investor],” kata Johannes kepada Bisnis kemarin.

Data Bloomberg menyebutkan dana asing yang masuk ke Indonesia pada pekan pertama tahun ini (year-to-date) melonjak 231,7% senilai US$184 juta atau setara dengan Rp1,75 triliun. Posisi itu tertinggi di pasar Asia.

Posisi kedua diduduki Filipina dan Pakistan yang masing-masing tumbuh sebesar 192,8% dan 118%, senilai US$28,7 juta dan US$5,4 juta pada periode yang sama.

Kepala Riset PT Bhakti Securities Edwin Sebayang menilai investor secara umum tidak memperhatikan tren IHSG, selama mereka yakin beberapa saham dalam portofolionya masih membukukan keuntungan.

“Investor masih membeli saham unggulan sektor komoditas ketika IHSG tertekan mengikuti saham perbankan. Usulan penurunan pembayaran dividen beberapa emiten bank menjadi sentimen negatif bagi investor asing,” katanya.

IHSG kemarin melemah 0,08% (1,98 poin) ke level 2.603,297, berbarengan dengan penurunan harga minyak mentah dunia sebesar 0,2% atau sekitar US$0,16 per barel jadi US$81,61 per barel.

Meski terkoreksi, investor asing masih mengakumulasi beli senilai Rp1,43 triliun, dengan posisi pembelian bersih (net buying) Rp644 miliar. Posisi beli bersih itu terjadi dalam 7 hari berturut-turut sejak transaksi 17 Desember.

Pada perdagangan kemarin, broker asing yang mencatatkan nilai transaksi terbesar adalah PT Kim Eng Securities Rp652,03 miliar, PT Credit Suisse Securities Indonesia Rp638,82 miliar, dan PT CLSA Indonesia Rp617,95 miliar.

Meski demikian, Johannes mengingatkan risiko keluarnya aliran modal tersebut sehingga bisa melemahkan nilai rupiah. Selain itu, dia memperkirakan Bank Indonesia juga terlihat tidak ingin rupiah menguat terlalu tajam.

“Meski sempat menyentuh level Rp9.295 per dolar AS, rupiah kembali berfluktuasi di area Rp9.300-Rp9.400. Jadi sepertinya pergerakan rupiah akan tertahan di area itu,” katanya.

Ancaman inflasi

Penguatan rupiah tersebut turut dipengaruhi realisasi inflasi tahun lalu sekitar 2,78% yang merupakan level terendah dalam 1 dekade terakhir. Adapun tahun ini, pemerintah menargetkan laju inflasi bergerak di kisaran 5%.

Target inflasi tersebut direspons bank sentral dengan mempertahankan BI Rate di posisi 6,5%. Keputusan yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur BI itu merupakan yang keenam kalinya sejak Agustus 2009.

Pjs Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan posisi suku bunga acuan tersebut masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi sepanjang tahun ini dengan toleransi sekitar 1%.

Meski demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan risiko kenaikan laju inflasi pada tahun ini bisa terlihat pada Januari-Februari. Pemicu utama kenaikan indeks harga konsumen adalah kenaikan permintaan dan musim paceklik.

Kepala BPS Rusman Heriawan menjelaskan faktor musiman seperti siklus paceklik selama 2 bulan pertama tahun ini akan menaikkan harga beras, meskipun Bulog sudah mengamankan cadangannya.

Kenaikan harga beras sudah terasa dalam pekan pertama tahun ini yang naik 4% dibandingkan dengan posisi rata-rata Desember. Selain beras, gula juga menunjukkan lonjakan harga sebesar 13%. Namun, sejumlah komoditas lain mencatatkan penurunan harga seperti daging dan telur ayam, serta cabai.

“Faktor eksternal seperti minyak belum akan berdampak. Harga minyak ke inflasi terjadi kalau pemerintah menaikkan harga BBM. Kalau tidak ada kenaikan, tak ada pengaruh,” katanya.

Menurut dia, meski faktor domestik lebih berpengaruh terhadap lonjakan inflasi, pemerintah harus hati-hati mengatur sejumlah harga di dalam negeri termasuk harga bahan bakar minyak.

Selain itu, penundaan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) diyakini akan mampu meredam lonjakan inflasi. Pasalnya, TDL memiliki multiplier effect yang besar terhadap kemampuan konsumsi atau permintaan masyarakat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan pemerintah akan memantau perkembangan harga beras hingga April sebelum masuk musim panen. Kenaikan harga barang yang berasal dari kenaikan permintaan karena akselerasi pertumbuhan ekonomi juga akan dimonitor.

“Faktor nilai tukar saya rasa masih positif. Untuk harga-harga yang diatur pemerintah, selama tidak diubah, tidak ada alasan inflasi akan naik,” tambahnya tanpa mengelaborasi kemungkinan penyesuaian harga-harga yang diatur oleh pemerintah. (hendri t. asworo/Dewi Astuti/Linda T. Silitonga) (arif.gunawan@bisnis.co. id/nana.oktavia@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S. & Nana Oktavia Musliana

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s