biRAAA(+7,5%)aat3 … 11042014

BI Rate: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga di 7,5%
Novita Sari Simamora – Selasa, 08 April 2014, 14:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI (BI Rate) di 7,5% dalam rapat Dewan Bubernur (RDG) BI April 2014.

“Kami mempertahankan BI Rate tetap, penjelasan lebih lanjut akan diberikan usai RDG,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, Selasa (8/4/2014).

Rapat kali ini juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga lending facility dan suku bunga deposit facility masing-masing di level 7,5% dan 5,75%.

BI mempertankan BI Rate sejak November 2013. Sebelumnya, Bank Sentral telah menaikkan BI Rate senilai 175 basis poin (bps) dalam 5 tahap. Kenaikan tersebut dilakukan mulai Juni 2013.

Pada kesempatan sebelumnya, Direktur Bank OCBC NISP Hartati mengharapkan agar BI tetap menahan BI Rate di 7,5% mengingat kondisi makro ekonomi yang sudah stabil.

“Kini BI belum ada alasan untuk menaikkan karena kondisi masih mulai membaik,” ungkapnya.

Kepala Pusat Studi Ekonomi & Kebijakan Publik UGM A. Tony Prasetiantono memprediksikan BI akan tetap menahan BI Rate di 7,5%. Apalagi dengan kondisi inflasi yang sudah mulai melandai ke 7,32%, sehingga belum memerlukan perubahan BI Rate.

Selain itu, Tony mengungkapkan, kurs mata uang RI sudah berada di posisi nyaman yakni Rp11.300 per dolar, angka tersebut tidak terlalu mahal (overvalued) tetapi juga tidak terlampau lemah (undervalued).

Hingga Maret 2014, cadangan devisa Indonesia menjadi US$102,6 miliar, meski mengalami penurunan dari bulan sebelumnya US$102,7 miliar, kondisi tersebut tergolong cukup aman dan tak perlu menaikkan BI Rate.

Editor : Saeno

BI rate bertahan di level 7,5%

Oleh Dea Chadiza Syafina – Kamis, 13 Maret 2014 | 16:08 WIB

JAKARTA. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini (13/3) memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BIrate di level 7,50%. Ini merupakan kali ketiga BI mempertahankan bunga di tahun ini.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menyatakan, bank sentral juga mempertahankan besaran suku bunga lending facility di level 7,50% dan deposit facility di level 5,75%.

“Kebijakan tersebut masih konsisten dengan stance (pendirian) kebijakan moneter ketat, untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5% plus minus 1% tahun 2014 dan 4% plus minus 1% pada 2015 mendatang serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat,” ujar Tirta di Gedung BI, Jakarta, Kamis (13/3).

Selain itu, bank sentral juga akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, melanjutkan upaya pendalaman pasar serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah untuk pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan.

Lebih lanjut  menambahkan, bauran kebijakan yang telah dilakukan BI bersama pemerintah dinilai telah mendorong stabilisasi perekonomian sesuai dengan arah yang diharapkan. Hal ini tercermin dari terkendalinya inflasi dan menurunnya defisit transaksi berjalan.

“Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati berbagai risiko baik global maupun defisit dan memastikan langkah-langkah antisipasi agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga,” jelasnya.

Catatan saja, Bank Indonesia mempertahankan tingkat BI rate di level 7,50% sejak Desember 2013 lalu. Sebelumnya, pada November 2013, bank sentral menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bps) dari 7,25% menjadi 7,50%.

Penetapan BI rate
Maret 7,5%
Februari 7,5%
Januari 7,5%
Desember 7,5%
November 7,5%
Oktober 7,25%
Editor: Sanny Cicilia

Jakarta – Sejumlah pengamat dan bankir menyesalkan tindakan Bank Indonesia (BI) yang tidak mengindahkan desakan pemerintah dan pengusaha agar tidak menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). Justru sebaliknya, bank sentral seperti “membalikan tangan” dengan mudahnya menaikkan BI Rate menjadi 7,5% dari sebelumnya 7,25%. Alih-alih ingin memperbaiki defisit transaksi berjalan atau current account deficit dan menstabilkan nilai tukar rupiah, justru malah menimbulkan bumerang dan akan menimbulkan masalah baru ketimbang menyelesaikan masalah.

NERACA

Hal itu diamini Direktur Eksekutif Indef yang juga guru besar Univ. Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika. Dia menegaskan BI sangat keliru dalam melakukan prediksi. Justru, kata dia, dengan menaikkan BI Rate akan menimbulkan masalah baru dan tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

“Kebijakan BI dalam melakukan diagnosa sangat keliru dalam mengindentifikasikan persoalan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia dengan hanya mengandalkan menaikkan BI Rate saja. Alhasil, kebijakan yang dibuat justru akan melahirkan persoalan atau masalah baru, bahkan persoalan yang berulang. Intinya, kebijakan tersebut tidak efektif dalam menekan inflasi,” tegas Erani kepada Neraca, Selasa (12/11).

Dia juga mengungkapkan bahwa sektor pembiayaan akan merasa dirugikan atas kenaikan BI Rate ini. Pasalnya, suku bunga kredit akan menjadi terkerek naik sehingga akan memperlambat perekonomian sektor riil. Tak pelak, sektor riil semakin mengalami kesulitan dalam menjalankan usahanya.

“Saya sangat menyayangkan melihat ulah BI menaikkan BI Rate. Seharusnya hal itu tak perlu dilakukan lantaran situasi makro ekonomi Indonesia masih relatif stabil. Dengan kenaikan BI Rate ini maka dunia perbankan semakin bernafsu menaikkan suku bunga kredit sehingga akan mengganggu pertumbuhan ekonomi,” terangnya.

Secara terpisah, guru besar UGM Prof Tony A. Prasetiantono mengatakan, kebijakan ini tidak terlalu mendesak untuk dilakukan lantaran tingkat inflasi sudah mulai kembali normal.

“Saya cukup kaget dengan kenaikan BI Rate kali ini, yang mestinya tidak terlalu mendesak dilakukan karena inflasi mulai jinak. Mestinya sudah cukup, kecuali inflasinya meningkat dengan hebat misalnya di atas 9%, ujarnya kepada media elektronik, kemarin.

Menurut data BI, inflasi hingga akhir Oktober 2013 mencapai 8,32%. Tingkat inflasi ini diproyeksikan akan di bawah 9% hingga akhir tahun ini. Jadi menurut Tony, kebijakan yang efektif dilakukan BI adalah membiarkan nilai tukar rupiah melemah, sehingga akan mendorong ekspor, menurunkan impor, dan menekan defisit jasa.

Menurut dia, kebijakan menaikkan suku bunga ini tidak akan mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit), tetapi justru akan memukul perekonomian nasional secara luas. Meski kenaikan BI Rate  berdampak positif bagi pergerakan nilai tukar rupiah karena berkesempatan menguat, hal ini justru akan memukul daya saing produk Indonesia.

Dampaknya, kinerja ekspor akan kembali tertekan. Dengan pelemahan ekspor ditengah impor migas yang tinggi, defisit perdagangan akan membengkak. “Akibatnya defisit transaksi berjalan justru akan cenderung stagnan atau malah membesar, bukan membaik seperti yang diklaim oleh BI,” jelas Tony.

Kenaikan suku bunga acuan ini akan menghambat ekspansi perbankan dalam menyalurkan kreditnya. Perlambatan kredit di sektor industri keuangan ini akan berdampak tidak langsung terhadap upaya penurunan defisit transaksi berjalan.

“Jadi kalau mau mengurangi defisit neraca transaksi berjalan, mestinya BI Rate ditahan tetap atau malah diturunkan. Kebalikan dari yang sekarang dilakukan BI,” kata Tony.

Menurut pengamat ekonomi Universitas Atmajaya A. Prasetyantoko, kenaikan BI Rate ini merupakan langkah penyelesaian persoalan fundamental dengan instrumen terbatas. “Ini sama seperti ingin nilai bagus tapi tidak ingin belajar. Ini adalah kebijakan instan,” ujarnya.

Karena itu, dia mengaku pesimis atas langkah kenaikan suku bunga acuan ini akan mampu secara efektif menekan defisit neraca transaksi berjalan. Menurut dia, kebijakan yang diambil pemerintah seharusnya adalah merestui kebijakan fiskal dan industri untuk harus lebih progresif lagi.

Kebijakan ini menurutnya justru akan membuat perlambatan kredit, perlambatan investasi serta terkoreksinya pertumbuhan ekonomi.

Perburuk Keadaan

Kepala Ekonom Bank BII Juniman mengungkapkan, reaksi BI ini terlalu berlebihan. Sekarang ini situasi cenderung sudah membaik. Ini terlihat dari tren inflasi yang sudah menurun dan dari sisi defisit transaksi berjalan yang akan mengecil.

Menurut Juniman, kenaikan BI Rate ini justru akan memperburuk keadaan karena akan membuat suku bunga perbankan naik baik yang deposit ataupun kredit. “Yang pada akhirnya akan membuat ekonomi kita slowing down tahun depan,” ujarnya kepada pers, kemarin.

Sebelumnya pihak BI mengungkapkan, menaikkan suku bunga acuan bedasarkan pertimbangan masih besarnya defisit transaksi berjalan di tengah risiko kepastian global yang masih tinggi.

“Dengan demikian, keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa defisit transaksi berjalan menurun ke tingkat yang lebih sehat dan inflasi tetap terkendali menuju ke sasaran 4,5 plus minus 1 persen pada 2014,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A Johansyah di Jakarta, Selasa.

Difi menjelaskan, perkembangan neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III-2013 masih mengalami tekanan defisit, yang diperkirakan akan menurun menjadi US$8,4 miliar pada kuartal ketiga tahun 2013 dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai hampir USid=”mce_marker”0 miliar.

“Ke depan, BI mencermati sejumlah risiko dalam perekonomian global dan nasional serta akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial,” ujanya.

Lebih lanjut Erani mengatakan, dengan naiknya BI Rate dampak terhadap pasar surat utang (obligasi) akan terasa, di mana kenaikan ini menyebabkan investor meminta imbal hasil (yield) obligasi lebih tinggi. Kemudian, akan diperparah dengan valuasi Surat Utang Negara (SUN) yang saat ini relatif mahal sehingga akan memberikan imbas kurang baik terhadap produk dengan portofolio investasi.

“Pihak asing yang memegang SBI dan SUN akan menjadi salah satu pihak yang diuntungkan dengan kenaikan BI Rate ini,” tegasnya. Oleh karena itu, lanjut Erani, BI seharusnya lebih berhati-hati dan melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam mengambil kebijakan moneter. BI, lanjut Erani, juga harus menyiapkan langkah-langkah untuk meminimalisir risiko jika tiba-tiba uang yang masuk ke Indonesia akan kembali keluar pasca kenaikan BI Rate.

Senada, Kepala Ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan mengatakan kenaikan BI Rate bukan jawaban atas defisit neraca transaksi berjalan. “Padahal untuk menyelesaikan masalah itu kita harus memiliki kebijakan fiskal yang tepat. Bukan BI Rate terus-menerus dinaikkan,” ungkap dia.

Lebih lanjut Anton menilai, langkah tersebut sangat tidak tepat. Dia juga mengaku tidak yakin dengan menaikan BI Rate, maka defisit neraca perdagangan yang diperburuk oleh impor dapat membaik. Justru dampaknya bisa menganggu kinerja perbankan.

Bank Kecil Terhempas

“Pertama akan terjadi perang likuditas di perbankan yang bisa membuat bank kecil justru mengalami kematian. Kedua, nanti para bankan bukan sibuk menyalurkan kresit justru sibuk mencari pendanaan untuk bisa bersaing likuiditas. Ketiga, tingkat penangguran akan meningkat karena pertumbuhan ekonomi diperlambat,” jelas Anton.

Ketika ditanya persoalan bank lokal yang dapat tergerus oleh bank asing akibat naiknya BI Rate, Anton menjawab hal itu memang akan terjadi untuk bank-bank kecil. Sedangkan bank besar khususnya milik BUMN lebih bisa bertahan. “Tidak perlu khawatir dengan persaingan modal sebab bank asing sebetulnya juga akan mengalami ketergerusan modal. Tapi untuk bank kecil memang nasibnya akan semakin buruk,” tambahnya.

Ketergerusan modal bank kecil dinilai Anton disebabkan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) akan terus meningkat. Terutama bank-bank kecil yang banyak menanggung jenis-jenis kredit tertentu seperti KUR. Jadi bank kecil itu sendiri akan mengalami dua hambatan kerja secara lansung, yaitu persaingan likuiditas dan meningkatnya NPL. Padahal bank kecil sangat terbatas modalnya.

Sementara ekonom Iman Sugema menambahkan kebijakan menaikkan BI Rate akan berdampak negatif terhadap arus modal masuk di Tanah Air. “Kenaikan BI Rate tidak bisa dipakai untuk mengelola inflasi maupun pelemahan nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Kalau inflasi disebabkan permintaan meningkat, kata dia, maka menaikkan suku bunga efektif mengendalikan inflasi. Namun, nyatanya kenaikan inflasi yang terjadi saat ini lebih disebabkan karena korupsi sehingga berdampak pada meningkatnya biaya yang sebenarnya percuma. Oleh karena itu, dia menilai tidak ada relevansi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga.

Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini pun, sambung dia, lebih karena dipicu pengaruh global sehingga sebenarnya untuk memicu arus modal masuk di pasar modal misalnya, akan lebih bagus jika suku bunga itu diturunkan karena return yang diharapkan investor lebih baik. “Kalau lebih banyak berinvestasi di pasar modal ini justru negatif,” ujar Iman.

Belum lagi, kata dia, kinerja perbankan terkait pertumbuhan penyaluran kredit, dan potensi kredit bermasalah. Hal ini tentunya akan dirasakan dampaknya oleh perbankan ke depan. Oleh karena itu, dia menilai kebijakan BI rate yang diambil bank sentral sia-sia, bahkan cenderung merugikan, “Ini dampaknya jangka panjang, 3-6 bulan ke depan,” tandasnya. lulus/mohar/lia/sylke/ardi

http://www.neraca.co.id/harian/article/35051/Kebijakan.BI.Keliru

Sumber : NERACA.CO.ID
Ekonomi Melambat Akibat Naiknya BI Rate, Ini yang Disiapkan Pemerintah
Maikel Jefriando – detikfinance
Selasa, 12/11/2013 18:04 WIB

Jakarta -Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan melambat menyusul kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) menjadi 7,5%. Hal ini memberikan dampak buruk terhadap lapangan kerja di dalam negeri.

Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengaku pemerintah siap mengeluarkan kebijakan untuk menangani hal tersebut. Terutama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tidak melambat terlalu dalam.

“Kita bikin kebijakan, bukan dalam pengertian bertentangan dengan BI, tapi bagaimana agar perlambatan pertumbuhan tidak terlalu berat. Itu kebijakan yang mau kita keluarkan November dan Desember. Kalau BI naikkan BI rate bisa lambatkan pertumbuhan, kita coba netralisir dengan kebijakan-kebijakan yang diharapkan bisa stimulasi ekonomi,” ujar Bambang di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (12/11/2013).

Kebijakan yang dimaksud adalah terkait investasi dan dorongan untuk keseimbangan pada neraca perdagangan. Ini dinilai dapat menetralisir kebijakan BI yang menaikan bunga acuan.

“November ini kita akan buat kebijakan yang lebih kepada trade balance. Desember lebih ke investasi. jadi tak ada solusi instan tuk dorong pertumbuhan dalam waktu pendek. kecuali pada kuartal IV belanja modal anggaran bisa ditingkatkan plus jaga daya beli masyarakat,” paparnya.

Di samping itu, Bambang mengaku perlambatan ekonomi akan menambah angka pengangguran. Karena lapangan kerja tidak tersedia untuk mengimbangi angkatan kerja yang ada. Untuk itu insentif pajak untuk perusahaan padat karya yang dikeluarkan beberapa waktu lalu harus segera diimplementasikan.

“Itu sudah di kemarin tax break. Itu jalan, implementasinya masih luas kemungkinannya. Ya artinya kalau pertumbuhan melemah pasti ada dampaknya ke lapangan kerja. Makanya kita mau jaga,” ujar Bambang.

(mkl/dru)
JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditransaksikan menguat terhadap dolar AS menjelang penutupan perdagangan Selasa (12/11/2013).

Berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah terpantau menguat 0,07% ke Rp11.555 per dolar AS pada pukul 14.54 WIB.

Penguatan tersebut terjadi setelah adanya pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang memutuskan untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebanyak 25 basis poin menjadi 7,5%.

Pada awal perdagangan pagi ini, rupiah melemah 0,1% ke Rp11.575 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB.

Bahkan pada pukul 12.02 WIB, rupiah semakin anjlok 0,61% dan tembus ke level Rp11.634 per dolar AS.

Penguatan rupiah sore ini terjadi saat dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang Asia Pasifik.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia-Pasifik  Selasa (12/112013)

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB

$ Australia

0,93

+0,27%

14:53:31

$ Selandia Baru

0,82

+0,24%

14:55:36

Yen

99,7

+0,54%

14:57:04

$Hong Kong

7,75

+0,01%

14:55:08

$Singapura

1,25

-0,01%

14:58:05

$Taiwan

29,58

+0,04%

14:52:45

Won

1.071,45

-0,09%

12:59:59

Peso

43,77

+0,43%

14:57:06

Rupiah

11.555

-0,07%

14:54:29

Rupee

63,52

+0,45%

14:53:29

Yuan

6,09

-0,01%

14:54:09

Ringgit

3,21

+0,18%

14:52:55

Baht

31,56

-0,28%

14:52:25

Sumber: Bloomberg.

http://market.bisnis.com/read/20131112/93/185917/bi-rate-naik-rupiah-menguat-007-ke-level-rp11.555us

Sumber : BISNIS.COM
Ini alasan BI menaikkan BI rate jadi 7,50%
Oleh Dea Chadiza Syafina – Selasa, 12 November 2013 | 15:15 WIB

kontan

JAKARTA. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini (12/11) memutuskan untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan perbankan atau BI rate sebesar 25 basis points (bps).
Direktur Eksekutif Departemen Bank Indonesia Difi A. Johansyah mengungkapkan, BI rate naik dari 7,25% menjadi 7,50%.
Sesuai dengan kenaikan BI rate, BI juga memutuskan untuk menaikkan lending facility rate dari 7,25% jadi 7,5% atau naik sebesar 25 bps. Bank Indonesia juga memutuskan untuk menaikkan fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi) rate sebesar 25 bps dari 5,5% jadi 5,75%.
“Alasannya adalah untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan ke depan. Lebih kepada sisi demand,” ujar Difi di Gedung BI, Jakarta, Selasa (12/11).

Pengumuman! BI rate naik 25 bps jadi 7,50%

Oleh Dea Chadiza Syafina – Selasa, 12 November 2013 | 14:43 WIB

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) hari ini (12/11) menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 bps menjadi 7,50% dari sebelumnya 7,25%.

Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia, Difi A Johansyah mengumumkan kebijakan tersebut seusai Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar hari ini, Selasa  (12/11).

Selain BI rate, secara serempak, landing facility rate juga naik sebesar 25 bps menjadi 7,50% dari sebelumnya 7,25%, deposit facility rate juga naik 25 bps ke 5,75% dari sebelumnya 5,5%. “Semuanya, kami naikan 25 bps,” ujar Difi.

Perjalanan BI Rate 2013
9 Oktober 2013 7,25%
11 September 2013 7,25%
29 Agustus 2013 7%
15 Agustus 2013 6,5%
11 Juli 2013 6,5%
13 Juni 2013 6%
14 Mei 2013 5,75%
11 April 2013 5,75%
7 Maret 2013 5,75%
12 Februari 2013 5,75%
10 Januari 2013 5,75%

Pengamat ramalkan BI rate tak berubah
Oleh Dea Chadiza Syafina – Selasa, 12 November 2013 | 11:24 WIB

kontan

JAKARTA. Bank Indonesia dijadwalkan akan mengumumkan tingkat suku bunga acuan perbankan atau BI rate pada hari ini (11/11). Beberapa ekonom memperkirakan, Bank Indonesia akan tetap menahan BI rate di level 7,25%.

Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Destri Damayanti memperkirakan, BI akan menahan BI rate di level tersebut. Namun, ia memperkirakan BI akan menaikkan fasilitas simpanan Bank Indonesia atau Fasbi rate sebesar 25 basis points.

Sebab menurut Destri, Bank Indonesia tetap harus memberikan sinyal bahwa bank sentral tetap memprioritaskan kebijakan pengetatan moneter atau monetary policy. Hal ini dikarenakan data-data makro ekonomi Indonesia seperti importasi yang masih tinggi.

“Selain itu, BI juga masih ingin mengerem pertumbuhan kredit yang masih tinggi. Itu harus di normalisasi,” ujar Destri saat dihubungi KONTAN, Selasa (12/11).

Kondisi lain adalah terkait pengetatan likuditas perbankan. Karena itu, Destri memperkirakan bank sentral Indonesia itu akan menaikkan fasbi rate sebesar 25 bps.

Senada, Ekonom Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Agustinus Prasetyantoko juga menduga bahwa BI rate kali ini akan ditahan di level 7,25%.

Hal ini, menurut Prasetyantoko, belum ada alasan yang cukup kuat bagi Bank Indonesia untuk menaikkan BI rate. Prasetyantoko menilai, pasar ekonomi Indonesia maupun nilai tukar atau kurs rupiah masih relatif stabil.

“Inflasi juga sudah kembali normal. Maka perkirakan BI rate akan tetap,” kata Prasetyantoko.

Catatan saja, sejak Februari 2012 hingga September 2013, BI telah menaikkan BI rate hingga 150 bps dari 5,75% menjadi 7,25%. Langkah BI tersebut diklaim sebagai upaya menyeimbangkan kondisi perekonomian dalam negeri yang terimbas perekonomian global.

Langkah itu juga dianggap sebagai upaya BI menarik dana investasi asing yang mulai keluar dari Indonesia sebagai respons ditundanya rencana Amerika Serikat (AS) melakukan pengurangan stimulus ekonomi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s