rupiaaa(11K)AAh … 1403201empat

JUM’AT, 14 MARET 2014 | 17:32 WIB
Pencapresan Jokowi Dorong Penguatan Rupiah

TEMPO.CO, Jakarta – Nilai tukar rupiah berbalik arah setelah Joko Widodo alias Jokowi resmi diusung menjadi calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Pengumuman yang disampaikan menjelang sore hari tersebut mendadak membuat rupiah bergerak menguat. Pada pukul 16.30 WIB di pasar mata uang, rupiah naik 28,8 poin (0,25 persen) ke level 11.357.

Analis dari PT Bank Saudara, Rully Nova, mengatakan pencalonan Jokowi sebagai presiden menjadi sentimen positif yang menggerakkan rupiah. Besarnya ekspektasi pasar terhadap figur seorang Jokowi membuat pelaku pasar kembali bersemangat mengakumulasi aset investasi berdenominasi rupiah. “Penguatan rupiah didorong pencapresan Jokowi,” ujarnya, Jumat, 14 Maret 2014.

Namun, disamping faktor pencapresan Jokowi, penguatan rupiah juga disebabkan oleh kondisi fundamental perekonomian dalam negeri yang semakin membaik. Nilai cadangan devisa pada Februari yang naik menjadi US$ 102,74 miliar dan laju inflasi tahunan (year on year) berada di level 7,75 persen membangun optimisme perekonomian Indonesia ke depan terus membaik.

“Selain faktor Jokowi, laju rupiah memang ditopang oleh fundamental perekonomian,” kata Rully.

MEGEL JEKSON

Ini Cara BI Agar Rupiah Tak Digoyang Uang Panas

Maikel Jefriando – detikfinance
Jumat, 14/03/2014 13:28 WIB
Jakarta –Capital inflow berupa hot money atau uang panas masuk ke dalam negeri lewat saham, obligasi, dan sertifikat Bank Indonesia (SBI). Ini membuat dolar melemah meninggalkan Rp 12.000. Namun bisa juga menggoyang rupiah bila uang panas tersebut kabur.Diperlukan penjagaan kestabilan ekonomi yang baik, agar rupiah tidak kembali melemah liar dalam sekejap.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara, mengatakan konsentrasi saat ini adalah pada inflasi dan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

“Kita kan tetap menjaga kondisi ekonomi kita tetap stabil, jadi kan investor itu konsentrasi dengan inflasi, pemerintah konsentrasi dengan CAD,” ungkap Tirta kepada detikFinance, Jumat (14/3/2014).

Tirta menuturkan, inflasi memang melonjak di awal tahun karena harga pangan. Namun masih sesuai perkiraan selaras dengan target 4,5% plus minus 1% pada akhir tahun. Kemudian CAD juga perlahan bisa diturunkan. BI optimistis pada akhir tahun CAD mencapai 2,5%.

“CAD saya katakan, kita optimistis kita katakan di bawah 3% tahun ini defisitnya. Tapi kan membaik artinya. Kalau lebih optimistis lagi 2,5%,” ujarnya.

Kemudian adalah cadangan devisa (cadev), pada Februari 2014 meningkat menjadi US$ 102,7 miliar atau setara 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Cadev kita ruang lingkupnya berapa bulan impor dan bayar utang jangka pendek. Kan selama ini rasio itu kita sehat ya,” sebut Tirta

Sebelumnya Kepala Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti menilai, masih ada ketidakpastian ke depan yang mampu mengancam nilai tukar rupiah. Yaitu adalah neraca transaksi berjalan, pemilu, dan kredit perbankan.

“Kita nggak tahu neraca perdagangan ke depan seperti apa, itu yang pertama. Kedua ketidakpastian pemilu dan ketiga adalah CAD bener nggak akhir tahun bisa 2,5% terus terakhir ada kredit perbankan yang masih tinggi. Kan targetnya kisaran 15%,” papar Destri.

(mkl/dnl)

BI rate bagaikan obat kuat bagi rupiah
Oleh Yuliani Maimuntarsih – Kamis, 13 Februari 2014 | 17:51 WIB

kontan

JAKARTA. Awan cerah kembali menyelimuti rupiah. Di pasar spot hari ini, kamis (13/2), rupiah menunjukkan kebolehan dan menguat 0,89% menjadi Rp 11.980 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia turun 0,34% menjadi Rp 12.073.
Head of Research Divisi Tresuri BNI, nurul Eti Nurbaeti bilang, sentimen positif yang membuat rupiah menguat adalah, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga BI rate di posisi 7,5%.
Menurutnya harga rupiah masih akan terus menguat, selama belum ada rilis data AS yang sangat berpengaruh terhadap mata uang dunia. Pergerakan pasar modal yang belum pasti juga pemicu penguatan rupiah akhir-akhir ini.
Editor: Asnil Bambani Amri
JAKARTA— Nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat terus menguat pada hari ini, Kamis (13/2/2014).

Setelah dibuka ke Rp12.084, pada pukul 11.42 WIB rupiah per dolar AS menguat 0,25% ke Rp12.058.

Analis PT Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengemukakan ada sejumlah faktor positif yang mendorong penguatan rupiah atas dolar AS, yaitu:

Rangkaian data ekonomi Indonesia yang dirilis sejak awal Februari, antara lain surplus neraca perdagangan, kenaikan cadangan devisa, dan PDB yang meningkat, telah berhasil meredakan kekhawatiran akan kondisi ekonomi IndonesiaSentimen juga cukup positif setelah gubernur bank sentral AS the Federal Reserve  Janet Yellen menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan kebijakan moneter longgarDi samping itu meningkatnya surplus neraca perdagangan China.“Ini masih dapat menjadi faktor positif bagi rupiah,” kata Zulfirman dalam risetnya yang diterima hari ini, Kamis (13/2/2014).

Terkait pergerakan rupiah, ujarnya, fokus hari ini adalah hasil pertemuan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Pergerakan rupiah/US$

Tanggal

Rp/US$

Pk. 11.42 WIB (13/2)

12.058

Buka 13/2

12.084

12/2

12.088

11/2

12.148

Sumber:Bloomberg Dollar Index, 2014

http://market.bisnis.com/read/20140213/93/203016/rupiahus-menuju-rp12.000-simak-ulasan-analis

Sumber : BISNIS.COM


JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) dan Bank of Japan (BoJ) menyepakati implementasi penyediaan likuiditas rupiah dengan menggunakan Surat Berharga Pemerintah Jepang guna memperkuat stabilitas pasar keuangan.


“Kesepakatan ini akan menjadi landasan bagi bank-bank yang beroperasi di Indonesia yang memenuhi syarat (eligible banks) untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan likuiditas rupiah dari BI dengan melakukan transaksi sell and buy back surat berharga Pemerintah Jepang yang dimiliki oleh bank-bank tersebut kepada Bank Indonesia,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A Johansyah, Jumat (13/12/2013).


Skema tersebut akan memperluas cakupan aset yang dapat digunakan untuk pengelolaan likuiditas oleh BI selama masa krisis dan menciptakan fleksibilitas yang lebih besar bagi pengelolaan likuiditas bank-bank yang beroperasi di Indonesia.


“Kerjasama ini memperkuat komitmen Bank of Japan dan Bank Indonesia untuk mendukung hubungan jangka panjang antara Jepang dan Indonesia dalam hal ekonomi dan keuangan,” ujar Difi.


Gubernur BI Agus D W Martowardojo menambahkan, penandatanganan bilateral swap antara dua bank sentral tersebut senilai 22,76 miliar dollar AS. Ia pun menyambut baik penandatanganan kerjasama tersebut.


“Kami sambut baik, kita bisa memperluas dan meningkatkan bilateral swap arrangement di antara 2 negara. Dan lingkup diperluas bukan hanya terkait krisis, tapi juga untuk prevention. Itu menunjukkan kerjasama yang semakin membaik di antara 2 negara,” ungkap dia.


http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/12/13/1602017/BI.Siap.Barter.Rupiah.dengan.Obligasi.Pemerintah.Jepang


Sumber : KOMPAS.COM



Bank Indonesia memutuskan mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI rate) pada 

level 7,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar Kamis. Ini konsisten 

dengan upaya inflasi menuju sasaran 2014 serta mengendalikan defisit transaksi berjalan 

turun ke tingkat yang lebih sehat, kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI 

Difi A Johansyah saat jumpa pers di Jakarta, Kamis.  (Antara/nlt) 

Dolar Masih Setia di Rp 12.000
Herdaru Purnomo – detikfinance
Kamis, 05/12/2013 10:38 WIB

Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) masih setia di level Rp 12.000 hari ini. Penguatan masih dipengaruhi membaiknya perekonomian AS seiring dengan rencana pengurangan stimulus oleh The Fed yang sejalan dengan membaiknya data ekonomi.

Di dalam negeri sendiri, surplus neraca perdagangan dan kenaikan BI Rate tetap saja tak membuat nilai tukar membaik.

Mengutip data Reuters, Kamis (5/12/2013) dolar AS dibuka di level Rp 12.015. Tepat pada pukul 11.30 WIB, dolar sedikit melemah ke Rp 12.000.

Sementara, Bank Indonesia (BI) sendiri telah mematok kurs acuan para pedagang valas (Jisdor) di level Rp 12.018.

Beberapa analisis dari market research pagi ini mengemukakan pelaku pasar masih mencermati data job report yang dirilis pada Jumat, namun data awal menyebutkan terdapat penambahan tenaga kerja sebanyak 215.000 selama November yang mana lebih baik dari perkiraan.

Hal ini membuat dolar menguat ke beberapa mata uang di kawasan regional.

Bursa Eropa pun terkena imbasnya. Bursa Eropa ditutup melemah dari sentimen data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan tersebut.

(dru/dnl)
Indonesia sells 4 trln rupiah of bonds at auction, as targeted
JAKARTA Tue Dec 3, 2013 4:21am EST

Dec 3 (Reuters) – Indonesia’s finance ministry sold 4 trillion rupiah ($339.9 million) of bonds at an auction on Tuesday, as targeted.

The ministry sold all offered bonds, except 3-month and 1-year T-bills.

The yield for six-year bonds was 8.25623 percent, up from 7.94541 percent previously. The yield for 11-year bonds was 8.58424 percent, higher than 8.35025 percent previously.

Bids totalled 10.06 trillion rupiah, compared with 22.77 trillion rupiah at the previous auction. The highest bid-to-cover ratio was 3.35 for 11-year bonds.

($1 = 11,770 rupiah) (Reporting by Nilufar Rizki; Editing by Jacqueline Wong)
Neraca Perdagangan Surplus US$ 42,4 Juta
Senin, 2 Desember 2013 | 13:06

Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, suprlus tersebut terjadi karena ekspor lebih tinggi dibandingkan impor dengan nilai ekspor US$ 15,72 miliar dan impor US$ 15,67 miliar. “Secara bulanan, ini surplus ketiga tahun 2013 setelah surplus di Maret dan Agustus,” ujar Suryamin di Jakarta, Senin (2/12).

Menurut Suryamin, untuk volume perdagangan pada Oktober tercatat surplus sebesar 44,79 juta ton. Surplus tersebut terbentuk atas ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor yakni masing-masing sebesar 56,88 juta ton dan 12,09 juta ton.

Surplusnya neraca perdagangan, menurut dia disebabkan turunnya defisit pada neraca migas menjadi sebesar US$ 749,7 juta. Di sisi lain, terjadi peningkatan surplus pada neraca non migas sebesar US$ 792,1 juta.

“Minyak mentah defisit US$ 400,3 juta, hasil minyak defisit US$ 1,71 juta, sedangkan gas surplus US$ 1,36 miliar. Defisit minyak mentah turun karena yang biasa kita ekspor diluar negeri sebagian kita sudah olah didalam negeri,” ungkap dia.

Sementara itu, secara akumulasi Januari-Oktober, defisit neraca perdagangan tercatat sebesar US$ 6,36 miliar. Defisit tersebut terutama disebabkan oleh defisit pada migas sebesar US$ 10,63 miliar, sedangkan neraca non migas akumulasi tercatat surplus US$ 4,28 miliar. (Investor Daily/Nti)
JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan 3,97% seiring dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, diketahui IHSG ditutup pada level 4.256,44 pada 29 November 2013, anjlok dari penutupan pada 1 November 2013 pada level 4.432,59.

Penurunan sebesar 3,97% itu juga merupakan penurunan bulanan terbesar pertama kalinya dalam 3 tahun terakhir.

Adapun secara teknikal, berdasarkan kurva relative strength indeks untuk 14 hari atau RSI (14), level penutupan indeks pada berada pada poin 39 dalam skala 25-75.

IHSG sempat menyentuh level tertinggi yakni 4.486,11 pada 7 November 2013, dan 4.233,93 untuk  level terendah pada 28 November 2013.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau ambruk 5,56% ke Rp11.965 per dolar AS pada akhir bulan lalu dari Rp11.335 per dolar AS pada awal November 2013. Pada bulan lalu, rupiah juga menembus ke atas level Rp12.000 per dolar AS, yang merupakan pelemahan terdalam sejak 2009.

http://market.bisnis.com/read/20131202/7/189862/bulan-lalu-ihsg-anjlok-397-dan-rupiah-tertekan-556

Sumber : BISNIS.COM
Bank Indonesia Mulai Siaga Intervensi Rupiah
Sri Mas Sari – Kamis, 28 November 2013, 22:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mulai berjaga-jaga untuk melancarkan intervensi menyusul tren pelemahan rupiah yang terus berlanjut hingga menembus Rp12.000 per dolar AS.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI Difi A. Johansyah mengatakan volatilitas rupiah yang meningkat saat ini menimbulkan ketidakpastian sehingga pemegang dolar menyimpan dolarnya sampai ada kestabilan.

Situasi ini di luar keinginan BI yang menghendaki rupiah bergerak sesuai faktor permintaan dan penawaran di pasar.

Sampai di posisi Rp11.700 per dolar AS, bank sentral masih melepas rupiah bergerak floating ditentukan pasar.

Namun, rupiah terus bergerak melemah ke level Rp11.800 pada penutupan Rabu (27/11/2013) dan melampaui Rp12.000 per dolar AS sehari kemudian.

“Kemarin di level Rp11.500 sebetulnya kami happy karena pasar itu bekerja. Ada yang jual valas, ada yang beli valas karena ada stabilitas. Di level itulah mereka sepakat. Kami ingin mengembalikan stability yang dulu sehingga nanti eksportir mau lepas,” jelasnya, Kamis (28/11/2013).

Meskipun tak secara eksplisit akan melakukan intervensi, Difi menyampaikan BI akan mengawal dan menjaga pergerakan rupiah.

Menurutnya, pelemahan rupiah masih diwarnai kekhawatiran akan pengurangan pembelian aset (tapering off quantitative easing) The Fed yang dipercepat ke Desember 2013 meskipun dari sisi internal pemerintah meyakinkan akan ada perbaikan transaksi berjalan di bawah 2,7% terhadap PDB pada 2014.

“Sekarang on track ke arah sana (perbaikan transaksi berjalan), tapi masih ada head wind dalam pengertian tapering itu. Ini menuju akhir tahun, menjelang saat-saat tapering. Orang sudah mulai memprediksi. Terus terang, market uncertain soal itu,” ujar Difi. (ra)
BI Siapkan Multi Amunisi
Oleh Hari Gunarto dan Wahyu Sudoyo | Rabu, 27 November 2013 | 11:20
investor daily
JAKARTA – Bank Indonesia menggunakan multi amunisi untuk menurunkan defisit neraca transaksi berjalan. Amunisi itu merupakan kombinasi kebijakan suku bunga, kebijakan kurs, pengetatan loan to value (LTV), pengetatan rasio kredit terhadap simpanan (LDR), penurunan target ekspansi kredit tahun 2014 ke kisaran 15–17%, serta kebijakan lain jika diperlukan.

Hal itu diungkapkan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (26/11). Dalam hal kebijakan kurs, kata Mirza, BI mengarahkan bahwa pelemahan kurs disesuaikan dengan fundamental ekonomi.

“Bank Indonesia selalu melakukan intervensi, selalu ada dan masuk pasar, serta menjaga agar volatilitas rupiah terkendali,” kata dia.

Nilai tukar rupiah sudah melemah dari Rp 9.500 ke Rp 11.700 per dolar AS. Menurut Mirza, level Rp 11.500 per dolar AS sudah cukup untuk menurunkan pertumbuhan impor, menurunkan pinjaman valas dari luar negeri, dan cukup untuk mendorong ekspor.
Jakarta: Rupiah anjlok parah mendekati level 12 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) setelah gagal melelang surat utangnya. Kekhawatiran semakin besar setelah wacana penarikan dana stimulus Bank Sentral AS (The Fed) yang bakal menyebabkan lambatnya laju aliran dana masuk ke dalam negeri.

Seperti dikutip dari data Valuta Asing (Valas) Bloomberg, Kamis (28/11/2013), di pasar bank domestik rupiah melemah sebesar 0,7% ke level 11.966 per dolar AS pada perdagangan pukul 9:35 waktu Jakarta. Rupiah sebelumnya sempat menyentuh level 11.968. Dalam sepekan terakhir, kurs rupiah telah melemah hingga 2,2%.

Di pasar Non-deliverable Forward (NDF) untuk satu bulan ke depan, nilai tukar rupiah juga merosot 0,1% ke level 11.938.

Jumlah klaim pengangguran AS menurun secara tiba-tiba pekan lalu usai The Fed mengatakan akan mulai mengurangi laju pembelian obligasinya dalam beberapa bulan ke depan jika ekonominya terus pulih.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, penurunan rupiah belakangan ini dipicu sejumlah faktor eksternal dan meningkatnya permintaan dolar menjelang akhir bulan. Indonesia tercatat menyerap dana sebesar US$ 190 juta dari penawaran surat utang negara (SUN) berdenominasi dolar pada 25 November. Angka tersebut meleset dari target penjualan keseluruhan sebear US$ 450 juta.

“Lelang SUN yang mengecewakan menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan dolar yang tersedia. Level 12.000 merupakan level psikologis yang sangat penting yang bisa membuat negara semakin gugup dan cemas,” ungkap pakar strategi valuta asing di Australia & New Zealand Banking Group Ltd., Irene Cheung.

Sejak Agustus data valuta asing mencatat investor asing telah memborong surat utang berdenominasi lokal sebesar US$ 354 juta hingga 27 November.

Sementara itu Association of Bank in Singapore mencatat kurs rupiah di pasar NDF kemarin berada di level 11.662. Volatilitas rupiah satu bulan ke depan, tercatat naik 15 basis point atau 0,15% ke level 14,95%.

http://bisnis.liputan6.com/read/758964/rupiah-nyaris-12-ribu-us-negara-bisa-gugup-dan-cemas

Sumber : Liputan6.com
RABU, 27 NOVEMBER 2013 | 14:58 WIB
Menkeu: Defisit Transaksi Berjalan Terus Turun

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Muhamad Chatib Basri menyatakan tren penurunan defisit transaksi berjalan akan terus terjadi. “Akhir tahun ini, 31 bilion dollar AS,” kata Chatib saat membuka acara Manajemen Pengelolaan Utang 2014 di kantor Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Rabu, 27 November 2013.

Sebelumnya, Bank Indonesia mengumumkan defisit transaksi berjalan pada kuartal ketiga tahun ini senilai US$ 8,4 miliar atau 3,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu berkurang dari kuartal sebelumnya, yang dilaporkan defisit mencapai US$ 9,9 miliar atau 4,4 persen dari PDB. Sementara pada kuartal pertama, defisit transaksi berjalan tercatat US$ 5,9 miliar.

Perbaikan kinerja transaksi berjalan terutama didukung oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas yang dipicu oleh lebih besarnya penurunan impor non-migas ketimbang ekspor. Selain itu, juga berkurangnya defisit neraca jasa dan pendapatan.

Namun, BI mencatat defisit neraca perdagangan migas masih meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya akibat kenaikan impor minyak. Selain disebabkan tren volume konsumsi BBM yang masih tinggi, hal itu juga dipengaruhi naiknya konsumsi BBM dalam rangka Idul Fitri yang terjadi pada Agustus 2013.

Untuk terus menekan defisit transaksi berjalan, pemerintah juga sudah mengeluarkan paket kebijakan pada Agustus lalu. Rencananya, dua paket kebijakan tambahan akan dikeluarkan Kementerian Keuangan pada awal bulan depan.

Selain itu, pemerintah berupaya meredam defisit neraca transaksi berjalan dengan menaikkan tarif pajak penghasilan (PPh) pada Pasal 22 menjadi 7,5 persen untuk seluruh jenis produk impor. Nantinya juga akan ada aturan untuk menggenjot ekspor.

Sementara itu, untuk menggenjot ekspor, akan dikeluarkan aturan proses mendapatkan fasilitas kemudahan impor untuk tujuan ekspor (KITE). Pemerintah beranggapan, untuk mendorong ekspor, pemerintah akan memberi kemudahan bea masuk impor yang diperlukan dalam rangka ekspor.

ANGGA SUKMA WIJAYA
26. November 2013, 12:39:19 SGT
BI Tak Cemaskan Rupiah
OlehFarida Husna
wsj
JAKARTA—Bank Indonesia (BI) tak mencemaskan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini, karena baik untuk ekspor.

“Level rupiah saat ini cukup bagus, selaras dengan kondisi [ekonomi] saat ini,” papar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara kepada wartawan pada Selasa.

Kurs dolar AS menyentuh level tertinggi dalam 4,5 tahun terakhir menjadi Rp11.775 pada Selasa. Faktor pemicunya adalah kombinasi antara penguatan permintaan dari importir lokal serta perkiraan yang meluas bahwa dolar akan terus naik. Perkiraan ini dipicu prediksi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve segera melonggarkan stimulus.

Pelemahan kurs membuat ekspor Indonesia kian kompetitif. Penguatan ekspor akan mendukung upaya pemerintah menutup kesenjangan neraca transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan lebih lebar dari perkiraan sepanjang tahun ini, mendorong penurunan rupiah sebesar 18% terhadap dolar AS.

BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 basis poin sejak Juni menjadi 7,5%. Kenaikan diharapkan dapat menarik investor asing.

BI pun membiarkan pelemahan rupiah untuk menghambat impor, dan pada saat yang sama memperkuat ekspor.

Sementara itu, dua pialang memperkirakan BI sudah menjual sekitar $25 juta di kurs Rp11.775 pada Selasa lalu, untuk terus mengangkat nilai dolar.
Rabu, 13 November 2013 | 22:52 Email
Defisit Transaksi Berjalan Menyusut Jadi US$ 8,4 M

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan (current account deficit) menyusut menjadi US$ 8,4 miliar atau 3,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 9,9 miliar (4,4 persen dari PDB).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Ahmad Johansyah mengatakan, kebijakan stabilisasi ekonomi domestik yang dilakukan BI dan pemerintah secara bertahap telah memperbaiki kinerja transaksi berjalan. Perbaikan kinerja transaksi berjalan tersebut terutama didukung oleh kenaikan surplus neraca perdagangan non migas.

“Itu seiring dengan penurunan impor nonmigas yang lebih tajam dibandingkan penurunan ekspor nonmigas, serta berkurangnya defisit neraca jasa dan pendapatan,” katanya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (13/11).

Meskipun ekspor nonmigas secara nominal masih menurun, karena belum pulihnya perkembangan harga dunia, volume ekspor mencatat pertumbuhan positif. Perbaikan ekspor tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan
volume ekspor barang tambang, seperti batubara, bijih tembaga, nikel, dan bauksit.

Difi melanjutkan, di sisi neraca jasa, penurunan defisit didukung oleh berkurangnya pembayaran jasa transportasi. Hal itu sejalan dengan turunnya impor nonmigas serta meningkatnya net inflow jasa travel, karena jumlah kedatangan wisatawan mancanegara meningkat.

“Itu ditopang juga oleh berbagai kegiatan berskala internasional, yang diadakan di Indonesia,” ujar Difi.

Dalam periode yang sama, defisit neraca pendapatan juga menurun mengikuti jadwal pembayaran bunga utang luar negeri dan transfer keuntungan kepadai investor asing. Di sisi lain, perbaikan kinerja neraca perdagangan nonmigas belum disertai dengan perbaikan kinerja neraca perdagangan migas. Sebab, defisit neraca perdagangan migas masih meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Defisit neraca migas terutama karena kenaikan impor minyak, yang selain disebabkan tren volume konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang masih tinggi. Kenaikan impor minyak juga disebabkan oleh naiknya konsumsi BBM dalam rangka Idul Fitri pada Agustus 2013.

“Perlu dicatat bahwa persentase defisit transaksi berjalan terhadap PDB pada triwulan III-2013 juga dipengaruhi oleh rilis data PDB nominal dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang lebih rendah dari perkiraan,” papar Difi.

Penulis: GRC/RIN
Sumber:PR
Jika The Fed Pangkas Stimulus, Ini Prediksi Rupiah & Yield SUN
Sri Mas Sari – Senin, 11 November 2013, 17:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia harus bersiap dengan nilai tukar rupiah di atas Rp10.000 per US$ dan imbal hasil obligasi pemerintah di level 8%-9% jika Amerika Serikat mengakhiri pelonggaran kuantitatif.

Menteri Keuangan M.Chatib Basri mengatakan negara berkembang, seperti Indonesia, harus siap kembali ke dunia tanpa stimulus moneter (quantitative easing) yang digulirkan bank sentral AS The Fed untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi pascakrisis keuangan 2008.

Sebelum The Fed menggulirkan kebijakan moneter tidak lazim (unconventional monetary policy) itu pada Maret 2009, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp11.000-Rp11.500 per dolar AS. Adapun yield surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun bergerak di level 8%-9%.

Rupiah pada perkembangannya menguat ke kisaran Rp8.000 per dolar AS dan yield SUN 10 tahun menipis menjadi 6%.

Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan kurs rupiah dan imbal hasil SUN kembali ke posisi awal yang disebutkan sebagai titik keseimbangan baru.

“Jangan terlalu khawatir akan proses ini. Yang harus kita kerjakan adalah bagaimana meyakinkan pasar bahwa ketika kita bergerak ke ekuilibrium baru, tidak terlalu banyak shock di market,” katanya dalam acara Mandiri Investment Forum 2013, Senin (11/11/2013).

Situasi serupa, lanjutnya, kemungkinan juga akan dialami oleh negara berkembang lainnya.
Rupiah Selasa Pagi Menguat Menjadi Rp11.050
Selasa, 29 Oktober 2013 | 9:38
investor daily
JAKARTA- Mata uang rupiah Selasa pagi terapresiasi menjadi Rp11.050 per dolar AS setelah data indeks konsumer Amerika Serikat mengalami pelemahan.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Selasa pagi menguat 23 poin menjadi Rp11.050 dibanding posisi sebelumnya (28/10) Rp11.073 per dolar AS.

Laju nilai tukar rupiah masih bertahan di area positif setelah dolar AS menunjukan pelemahan.

“Data indeks kepercayaan konsumer AS tercatat lebih rendah dari periode sebelumnya sehingga diasumsikan akan memperkuat alasan The Fed mempertahankan kebijakan stimulusnya,” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan terapresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga terimbas dari penguatan sejumlah mata uang Asia diantaranya won Korea Selatan, dolar Australia, dan ringgit Malaysia.

Analis pasar uang Bank Mandiri Renny Eka Putri menambahkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah cenderung terbatas menjelang rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) the Fed pada akhir bulan ini.

Ia mengemukakan bahwa pertemuan FOMC itu rencananya akan membahas kebijakan stimulus keuangan the Fed akan dilanjutkan atau dikurangi.

Menurut dia, kondisi itu akan membuat pergerakan nilai tukar rupiah cenderung mendatar pada pekan ini. Nilai tukar rupiah masih memiliki potensi penguatan dikarenakan sentimen positif di dalam negeri masih cukup mendominasi.

“Sentimen positif masih banyak, Bank Indonesia (BI) terus menjaga kinerja ekonomi Indonesia,” katanya.

Renny memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp10.800–Rp11.230 per dolar AS pada Selasa ini (29/10) (ant/hrb)

Penguatan Rupiah Tercepat Sejak 2009
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Jumat, 25 Oktober 2013 | 17:55 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (25/10/2013) ditutup menguat 140 poin (1,25%) ke posisi 11.010/11.020 dari posisi kemarin 11.150/11.160. 

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, kinerja terbaik rupiah dalam sepekan terakhir, menunjukkan kenaikan terkuat sejak September 2009. Kemungkinan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa The Fed masih akan mengundur tapering-nya hingga Maret 2014.

Karena itu, dolar AS dalam tekanan negatif. “Sepanjang perdagangan, rupiah pun mencapai level terkuatnya 10.910 dengan level terlemahnya 11.150 dari posisi pembukaan 11.140 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (25/10/2013).

Lebih jauh Christian menjelaskan, menguatnya ekspektasi pengunduran tapering The Fed akibat buruknya data-data ekonomi AS yang dirilis baru-baru ini dan risiko negosiasi pagu utang pada awal 2014.

Kondisi itu, kata dia, diperparah oleh kenaikan data unemployment claims jadi 350 ribu atau melampaui estimasi 343 ribu dari publikasi sebelumnya 362 ribu. Begitu juga dengan memburuknya indeks PMI Manufaktur AS yang merosot ke 51,1 dibadingkan sebelumnya 52,8 dan estimasi 52.

Selain itu, lanjut Christian, rupiah juga diuntungkan oleh arus capital inflow yang menunjukkan peningkatan permintaan terhadap rupiah. “Capital inflow berasal dari arus investasi asing yang masuk ke sektor riil seiring pembangunan beberapa infrastruktur besar di Jakarta,” ucapnya.

Begitu juga dengan arus modal di pasar obligasi yang menunjukkan solidnya permintaan. “Hal serupa terjadi di bursa saham,” timpal dia.

Alhasil, dolar AS menguat melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah 0,12% ke 79,12 dari sebelumnya 79,26. “Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3808 dari sebelumnya US$1,3798 per euro,” imbuh Christian. [jin]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s