1nflaaa(+1,07%)AA$1 … 03 Februar1 201empat

BPS Ubah Dasar Penghitungan Inflasi
Senin, 3 Februari 2014 | 17:17
investor daily
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengubah Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun dasar untuk penghitungan laju inflasi, dari berdasarkan survei biaya hidup tahun 2007 menjadi tahun 2012, dengan mencakup beberapa perubahan.

Kepala BPS Suryamin dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (3/2), mengatakan perubahan penghitungan laju inflasi tersebut termasuk adanya penambahan cakupan kota, paket komoditas dan diagram timbang, serta dimulai sejak Januari 2014.

Perubahan tersebut didasarkan pada survei biaya hidup tahun 2012 yang dilaksanakan BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil pada 2012 telah mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan 2007.

Survei biaya hidup 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri atas 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya. Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota survei biaya hidup lama dan 16 kota merupakan kota survei biaya hidup baru.

Survei hanya dilakukan di daerah perkotaan dengan total sampel rumah tangga sebanyak 136.080. Survei ini telah dilaksanakan secara triwulan selama tahun 2012, sehingga setiap triwulan terdapat 34.020 sampel rumah tangga.

Sedangkan, paket komoditas nasional hasil survei biaya hidup 2012, terdiri dari 859 barang dan jasa, dengan paket terbanyak ada di Jakarta yaitu 462 barang dan jasa, serta paling sedikit di Singaraja sebanyak 225 barang dan jasa.

Sementara, jumlah paket komoditas kelompok inflasi inti dari survei ini adalah sebanyak 751 komoditas, harga diatur pemerintah sebesar 23 komoditas dan bergejolak mencapai 85 komoditas.

Dari penghitungan IHK terbaru ini, tercatat adanya kenaikan harga berbagai komoditas pada Januari 2014 sehingga terjadi inflasi sebesar 1,07 persen atau lebih tinggi pada inflasi pada Januari tahun lalu yang tercatat 1,03 persen.

BPS mencatat inflasi Januari 2014 yang mencapai 1,07 persen tersebut, relatif tinggi dari rata-rata inflasi pada bulan Januari yang terjadi dalam lima tahun terakhir.

Hal tersebut terlihat dari inflasi pada Januari 2012 yang hanya tercatat mencapai 0,76 persen, inflasi pada 2011 mencapai 0,89 persen dan inflasi 2010 sebesar 0,84 persen. Bahkan pada tahun 2009 tercatat deflasi 0,07 persen.

Indikator IHK merupakan salah satu penentu ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi maupun deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK ini menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi rumah tangga. (ID/ths/ant)
Ekonom: inflasi Januari sebesar 1,07% masih wajar
Oleh Dea Chadiza Syafina – Senin, 03 Februari 2014 | 16:08 WIB

kontan

JAKARTA. Ekonom asal Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetyantono menyatakan, inflasi Januari 2014 yang sebesar 1,07% terbilang masih dalam tahap wajar, di tengah kondisi cuaca yang buruk belakangan ini.

“Menurut saya wajar, karena mungkin tahun ini banjirnya lebih parah dari tahun lalu, seperti di Pantura dan Manado. Kalau Jakarta, memang tidak separah tahun lalu,” kata Tony dalam dialog bertema Strengthening Indonesia’s Financial System di Jakarta, Senin (3/2).

Tony menambahkan, selain lebih dikarenakan soal tingginya curah hujan yang mengakibatkan banjir, inflasi di bulan Januari yang tinggi sudah merupakan tradisi dalam setiap tahunnya. Inflasi akan sedikit menurun pada Februari.

“Mungkin Februari akan turun, bahkan bisa deflasi. Karena pola historikalnya Januari memang 1%, nanti 1% lagi pada saat lebaran,” jelas Tony.

Lebih lanjut Tony mengungkapkan, meski inflasi Indonesia memiliki pola historis secara tahunan, namun hal yang terjadi merupakan hal yang positif jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.

“Bagusnya Indonesia ini sekali inflasi kemudian terkoreksi lagi. Itu berarti, kondisi politik aman tidak sprinter yang tinggi terus. Misalnya negara inflasi sprinter itu karena konflik politik, seperti Thailan dan Turki,” ucapnya.

Catatan saja, dari 82 kota indeks harga konsumen (IHK) yang disurvei BPS, sebanyak 78 daerah mengalami inflasi sementara empat kota lainnya masih bisa mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 3,79%.

Curah hujan tinggi yang menghambat distribusi membuat inflasi terjadi pada awal tahun ini. Sepanjang Januari 2014 juga terjadi berbagai bencana alam di beberapa daerah.
Editor: Hendra Gunawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s