cadaaa($99,4M)AAngAn D3V1$4 … 0901201empat

MENKEU: KENAIKAN CADANGAN DEVISA BERIKAN KEPASTIAN
Oleh Ihsan – Rubrik Finansial
09 Januari 2014 02:00:00 WIB

periode keemasan ihsg WELCOME BACK 🙂
WE.CO.ID – Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan kenaikan cadangan devisa hingga menjadi 99,4 miliar dolar AS per akhir Desember 2013, memberikan kepastian kepada pelaku pasar dalam menghadapi “tapering off” oleh The Fed (Bank Sentral AS).

“‘Tapering off’ (pengurangan stimulus) akan terjadi, cadangan devisa naik akan memberikan ketenangan pada ‘market’,” kata Chatib saat ditemui di Jakarta, Rabu.

Chatib mengatakan kenaikan cadangan devisa akan mengurangi kekhawatiran pelaku pasar, karena apabila pengurangan stimulus moneter dilakukan, maka ada kemungkinan terjadi pembalikan arus modal serta gejolak di pasar keuangan.

“Dengan adanya cadangan devisa, kita punya ‘second line of defence’. Ditambah perjanjian ‘bilateral swap’ dengan tiga negara dan pinjaman siaga, kita total punya 150 miliar dolar. Jadi, kekhawatirannya lebih semakin kecil,” katanya.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2013 tercatat sebesar 99,4 miliar dolar AS, meningkat 2,4 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir November 2013 sebesar 97 miliar dolar AS.

Pada level tersebut, cadangan devisa dapat membiayai 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional. BI melihat akumulasi cadangan devisa akan semakin memperkuat ketahanan sektor eksternal.

Meningkatnya jumlah cadangan devisa tidak terlepas dari respon kebijakan BI untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dan berkesinambungan serta menjaga stabilitas nilai rupiah sesuai dengan kondisi fundamentalnya.

Chatib menambahkan adanya kenaikan cadangan devisa, berarti Bank Indonesia tidak melakukan intervensi kepada rupiah yang masih bertahan pada kisaran Rp12.000 per dolar AS dan angka nilai tukar tersebut makin mencerminkan fundamentalnya.

“Ini berarti nilai tukar yang terjadi sekarang ‘more or less’ cerminan dari refleksi pasar. BI tidak terlalu banyak intervensinya, oleh karena itu cadangan devisanya bisa meningkat,” katanya.

Selain itu, kenaikan cadangan devisa dan respon yang baik dari pasar internasional terkait penerbitan global bond, memberikan gambaran yang baik bagi perekonomian nasional serta kepastian terkait pengelolaan defisit transaksi berjalan. (Ant)

Cadangan devisa akhir tahun US$ 99,4 miliar
Oleh Dea Chadiza Syafina – Rabu, 08 Januari 2014 | 17:08 WIB

kontan

JAKARTA. Jumlah cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2013 meningkat US$ 2,4 miliar dibandingkan pada posisi November 2013. Cadangan devisa pada Desember 2013 tercatat sebesar US$ 99,4 miliar.

Di bulan sebelumnya, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 97 miliar. Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Peter Jacobs mengatakan, angka ini berada di atas standar kecukupan internasional. Cadangan devisa dapat membiayai 5,6 bulan impor pada level tersebut atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Akumulasi cadangan devisa akan memperkuat ketahanan sektor eksternal,” ujar Peter, Rabu (8/1).

Peter menambahkan, peningkatan jumlah cadangan devisa tidak terlepas dari respon kebijakan BI untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan agar turun ke tingkat yang lebih sehat serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Editor: Sanny
per November 2013, cadangan devisa kita mulai MENGUAT

PAKET KEBIJAKAN EKONOMI BERJALAN EFEKTIF
Oleh Cipto – Rubrik Ekonomi Bisnis
06 Januari 2014 22:01:00 WIB

WE.Co.ID, Jakarta – Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan paket kebijakan ekonomi yang diterbitkan pemerintah pada Agustus 2013, telah berdampak positif dan berjalan efektif bagi perekonomian nasional dalam menghadapi gejolak eksternal.

“Saya bisa katakan kebijakan yang diambil pemerintah sejak Agustus untuk mengurangi defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan sudah membuahkan hasil,” katanya dalam jumpa pers evaluasi perkembangan perekonomian global dan domestik serta kinerja realisasi APBN-Perubahan 2013 di Jakarta, Senin (6/1/2014).

Chatib mengatakan hal tersebut terlihat dari membaiknya angka neraca perdagangan yang mengalami surplus, bahkan pada November tercatat surplus 776,8 juta dolar AS dan penurunan angka defisit transaksi berjalan pada triwulan IV.

“Kalau dilihat neraca perdagangan akan surplus, dan kalau aktivitas ekonomi melambat, neraca jasa akan turun. Maka triwulan empat, defisit neraca transaksi berjalan akan turun dan menjadi lebih kecil dari triwulan sebelumnya,” katanya.

Kementerian Keuangan mencatat defisit transaksi berjalan mulai menyempit menjadi 8,4 miliar dolar AS atau 3,6 persen terhadap PDB pada triwulan III, dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 10 miliar dolar AS atau 4,4 persen terhadap PDB.

Sedangkan neraca perdagangan pada Oktober dan November telah mengalami surplus, masing-masing sebesar 24,3 juta dolar AS dan 776,8 juta dolar, sehingga memperbaiki neraca pembayaran pada triwulan IV-2013.

“Diperkirakan defisit transaksi berjalan pada 2013 berada di kisaran 3,5 persen-3,7 persen terhadap PDB dan pada 2014 berada di kisaran 2,7 persen-3,2 persen terhadap PDB,” kata Chatib.

Selain itu, Chatib menjelaskan dampak paket kebijakan ekonomi juga terlihat dari laju inflasi yang tercatat 8,38 persen (yoy) pada akhir tahun, meskipun telah terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi pada pertengahan Juni.

“Meskipun harga BBM dinaikkan, laju inflasi bisa dibawah 10 persen, bahkan dibawah sembilan persen, itu karena kita sudah membuka kuota impor untuk makanan, yang juga termasuk dalam paket kebijakan ekonomi,” ujarnya.

Pada 2005 dan 2008, ketika juga terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi, laju inflasi tercatat hampir mencapai 17 persen dan 11 persen. Namun inflasi 2013, relatif lebih tinggi dibandingkan asumsi dalam APBN-Perubahan sebesar 7,2 persen.

Dalam kesempatan tersebut, Chatib juga memaparkan perkembangan ekonomi makro 2013, yaitu pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,7 persen, suku bunga SPN 3 bulan 4,5 persen, nilai tukar rupiah Rp10.452 per dolar AS, harga ICP minyak 106 dolar AS per barel, dan lifting minyak 825.000 barel per hari.

Sedangkan, asumsi dalam APBN-Perubahan 2013 antara lain pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, suku bunga SPN 3 bulan 5,5 persen, nilai tukar rupiah rata-rata Rp9.600 per dolar AS, harga ICP minyak 108 dolar AS per barel dan lifting minyak 840.000 barel per hari.

“Lebih rendahnya perkiraan tersebut karena pertumbuhan ekonomi di triwulan IV masih melambat, hanya mencapai 5,6 persen. Namun, konsumsi pemerintah ikut menyumbang komposisi pertumbuhan tertinggi yaitu 0,45 persen. Jadi kalau tidak ada belanja pemerintah, pertumbuhan ekonomi hanya 5,25 persen,” ujarnya. (Ant)

Redaksi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s