L1KU1D @#1 … 121113

Waspadai Tekanan Likuiditas Ketat
12 November 2013 13:52 WIB

infobank
Bank-bank besar masih menguasai perolehan DPK perbankan. Keseimbangan likuiditas antara bank besar dan bank kecil diharapkan mampu meningkatkan kinerja perbankan. Tb. Rully Ferdian

MENJAGA likuiditas sekaligus menjaga kualitas kredit. Ini bak dua keping mata uang yang tak bisa dipisahkan. Apalagi di tengah perlambatan ekonomi, likuiditas kerap kali hinggap di tempat yang dinilai aman, sementara bank dituntut menjaga kolektibilitas kredit agar tidak terjerat kredit macet.

Itulah barangkali yang menghantui para bankir menjelang tutup buku 2013. Betapa tidak, rencana bisnis bank (RBB) yang sudah dirancang jauh-jauh hari terpaksa direvisi pada akhir tahun setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 7,25% pada pertengahan September 2013.

Adalah penyaluran kredit yang dipastikan tidak sesuai dengan target awal. Hal ini pun diamini BI yang mencatat tren penurunan kredit menjadi 19,6% pada pertengahan Agustus 2013. BI juga meminta kalangan perbankan untuk tidak jorjoran menyalurkan kredit agar likuiditas perbankan kondisinya aman. Ekspansi tinggi tanpa memerhatikan pendanaan yang sehat akan merugikan bisnis bank itu sendiri.

Sejumlah langkah ditempuh BI dalam rangka mengerem laju kredit dan menjinakkan likuiditas. Dalam penyaluran kredit, misalnya, BI menurunkan batas atas aturan giro wajib minimum-loan to deposit ratio atau (GWM-LDR) dari 100% menjadi 92%. Selain itu, bank sentral menaikkan GWM sekunder dari 2,5% menjadi 4%.

Untuk likuiditas, BI mengeluarkan Surat Edaran BI (SE BI) Nomor 15/38/DPM tanggal 10 September 2013 perihal Perubahan Ketujuh Atas SE BI Nomor 12/18/DPM tanggal 7 Juli 2010 perihal Operasi Pasar Terbuka dan berlaku secara efektif pada 12 September 2013.

Dalam hal ini bank sentral memperpendek jangka waktu minimal kepemilikan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari enam bulan menjadi satu bulan. Penyesuaian minimum holding period SBI itu ditujukan untuk memperkuat pengelolaan likuiditas dan meningkatkan efektivitas operasi moneter serta mendorong pendalaman pasar keuangan.

Lantas, apakah cara BI tersebut cukup ampuh untuk meredam gejok pasar keuangan yang sedang galau? Kepada wartawan, di Jakarta, medio September 2013, Gubernur BI, Agus D.W. Martowardojo, memastikan bahwa perbankan dalam kondisi sehat. Bahkan, jauh lebih baik ketimbang krisis 1997/1998 dan 2008. Dari sisi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio atau CAR), CAR perbankan secara industri masih di atas 17%, dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan atau NPL) terjaga di bawah 3% secara net, dan perbaikan rasio pinjaman terhadap DPK (LDR) juga margin bunga bersih (net interest margin atau NIM).

Menurut data yang diolah Biro Riset Infobank (birI), hingga Juni 2013, dana pihak ketiga (DPK) perbankan mencapai Rp3.374,27 triliun atau naik 14,16% dibandingkan dengan periode Juni 2012 yang sebesar Rp2.955,83 triliun. Sebagian besar DPK perbankan tersebut masih didominasi deposito yang mencapai Rp1.481,02 triliun atau menguasai 43,89%. Kemudian, disusul tabungan dan giro masing-masing Rp1.066,01 triliun (31,59%) dan Rp827,25 triliun (24,52%).

Memang tidak ada yang baru dari komposisi DPK perbankan tersebut. Namun, melihat pertumbuhannya, perbankan masih akan terus berburu dana murah, terutama bank-bank besar yang memiliki jaringan luas. Terlebih lagi Lembaga Penjamin Simpan (LPS) turut pula menaikkan batas suku bunga penjaminan sebesar 7% sebagai respons terhadap kenaikan BI Rate.

Hal itu tentu memicu bank untuk menaikkan suku bunga simpanan. Bank Rakyat Indonesia (BRI), misalnya, sudah menaikkan suku bunganya dan kini gencar mengembangkan saluran elektronik (electronic channel atau e-channel) dalam rangka menghimpun DPK. Begitu pula dengan Bank CIMB Niaga yang menawarkan program Poin Xtra untuk nasabah tabungan.

Bank kelas menengah seperti Bank Bukopin membukukan pertumbuhan DPK 22,13% atau sebesar Rp58,5 triliun pada semester pertama 2013 (audited) dibandingkan dengan periode yang sama pada 2012 sebesar Rp48 triliun. Perolehan tersebut didorong oleh tumbuhnya dana kelolaan deposito sebesar 29,04% atau Rp35,1 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2012, yakni Rp27,2 triliun. Tabungan tumbuh 29,13% menjadi Rp13,3 triliun dari posisi sebelumnya, yakni Rp10,3 triliun, sedangkan giro tercatat Rp10,5 triliun.

Data Biro Riset Infobank menyebutkan, total DPK 10 bank besar hingga triwulan kedua 2013 mencapai Rp2.132,8 triliun. Bank Mandiri menjadi bank penghimpun DPK terbesar hingga menembus Rp451,2 triliun, disusul BRI dan Bank Central Asia (BCA) masing-masing sebesar RpRp438,9 triliun dan Rp378,4 triliun.

Sumbangan/kontribusi terbesar perolehan DPK tersebut berasal dari produk tabungan yang mencapai Rp830,2 triliun. BCA yang mengumpulkan Rp208,9 triliun untuk produk tabungan mendominasi perolehan DPK untuk tabungan ini. Posisi kedua dan ketiga masing-masing ditempati Bank Mandiri dan BRI dengan kontribusi masing-masing sebesar Rp185,9 triliun dan Rp176,1 triliun.

Sumbangan terbesar untuk perolehan DPK berikutnya atau di posisi kedua ialah produk deposito, dengan kontribusi mencapai Rp820,3 triliun. Untuk deposito, BRI menjadi pengumpul terbesar, yaitu mencapai Rp181,4 triliun. Posisi kedua dan ketiga masing-masing ditempati Bank Mandiri (sebesar Rp158 triliun) dan BNI (sebesar Rp81,4 triliun). Untuk deposito ini, BCA justru berada di posisi kelima (sebesar Rp72.4 triliun) di bawah Bank CIMB Niaga (posisi keempat) dengan kontribusi deposito mencapai Rp77,6 triliun.

Untuk giro, total produk giro yang dikumpulkan 10 bank besar mencapai Rp482,3 triliun. Bank Mandiri teratas di produk ini yang tercatat sebesar Rp107,2 triliun, kemudian BRI Rp97,0 triliun, dan BCA Rp81,3 triliun.

Berdasarkan data distribusi simpanan pada Juli 2013, porsi giro hanya mencapai 2,28% atau 2.918,07 rekening. Tabungan masih menguasai porsi jenis simpanan yang mencapai 95,40% atau 121.909,13 rekening. Ironisnya, deposito dengan simpanan paling besar, yakni Rp1.336,0 triliun, hanya memiliki porsi 2,31% atau 2.955,54 rekening.

Dari ketiga jenis simpanan itu, total jumlah rekening mencapai 127.782,73 rekening atau naik 15,68% dibandingkan dengan Juli 2012 yang sebanyak 110.446,05 rekening. Begitu juga dengan jumlah nominalnya yang naik 11,56% dari Rp3.011,85 triliun pada Juli 2012 menjadi Rp3.359,88 triliun pada Juli 2013.

Ketimpangan distribusi simpanan nasabah pada bank memang sudah lama terjadi. Bahkan, sebagian besar DPK tersebut dikumpulkan bank-bank besar. Tak heran jika kesulitan likuiditas sering kali dialami bank-bank kecil. Beberapa dari mereka bahkan sempat “ngutang” ke BI untuk menunjang keperluan bisnisnya. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada pengujung 2013. Di samping itu, masih ada bank besar yang tidak memanfaatkan aji mumpung kenaikan BI Rate dengan menyedot lebih banyak DPK dari deposito karena rasio pinjaman terhadap DPK (LDR) yang masih lebar di 85%.

Namun, persoalan likuiditas sejatinya tidak mengenal bank besar, menengah ataupun bank kecil. Semua bank berburu likuiditas. Hanya porsinya yang berbeda-beda karena tiap bank juga punya profil nasabah yang berbeda pula. Kendati dalam praktiknya tidak bisa dimungkiri bahwa persaingan ketat perebutan dana murah lazim terjadi. Inilah yang kemudian menjadi pekerjaan rumah BI untuk menata likuiditas perbankan. Pasalnya, adanya keseimbangan jumlah likuiditas antara bank kecil dan bank besar diharapkan pertumbuhan perbankan bisa lebih baik lagi.

Peta perebutan DPK masih akan terjadi. Biro Riset Infobank memperkirakan pertumbuhan DPK pada 2014 akan mencapai 12% sampai dengan 17%. Hal ini selaras dengan pertumbuhan kredit yang diperkirakan tumbuh antara 15% dan 20%. Beberapa indikator pertumbuhan tersebut, antara lain program-program hadiah yang setiap tahun digelar bank, di samping konsumsi pemerintah yang juga akan menyokong DPK perbankan. Selain itu, masih banyaknya bank yang menunda penerbitan surat utang akibat melambatnya pertumbuhan perekonomian dan kembalinya dana-dana dari investor asing diharapkan mampu mendongrak likuiditas perbankan. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s