berburu di KEBUN BINATANg … 041013

Pungutan OJK Memberatkan, Industri Keuangan Menolak
Hery Lazuardi – Jumat, 04 Oktober 2013, 08:54 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Kalangan bankir dan pelaku jasa keuangan nonbank keberatan atas rencana pengenaan iuran tahunan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 0,03%–0,04% yang dihitung dari total aset perusahaan.

Sigit Pramono, Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas), secara tegas menolak pungutan OJK, terutama dalam 5 tahun pertama berdirinya lembaga baru tersebut, karena pungutan ini akan sangat membebani.

Menurut dia, kebutuhan dana operasional untuk 5 tahun pertama sebenarnya bisa dipenuhi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

“Jadi, kami minta agar pungutan ditetapkan serendah-rendahnya dan tidak dikenakan pada 5 tahun pertama,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (3/10/2013).

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN) Maryono menambahkan jika aset sebuah bank menca pai Rp100 triliun maka iuran 0,03% per tahun berkisar Rp30 miliar.

“Tahun depan NIM [net interest margin] pasti turun. Saya berharap kebijakan ini ditinjau ulang dan diusahakan tidak memberatkan,” ujar Maryono.

Senada dengan mereka, Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan berpendapat pungutan sekecil apa pun tetap akan memberatkan perbankan ketika suku bunga acuan BI, giro wajib minimum, dan kebijakan prudensial perbankan lainnya dinaikkan. “Margin perbankan bisa
tertekan tahun depan,” kata Fauzi.

Saat ini OJK bersama pemerintah tengah menyelesaikan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang pungutan iuran tersebut. “Besarannya 0,03%-0,04% dari aset,” ujar Muliaman D. Hadad, Ke tua OJK.

Penyusunan RPP itu merupakan amanah dari UU 21/2011 tentang OJK. Apabila pungutan tersebut diberlakukan OJK, maka lembaga ini akan meraup setidaknya Rp1,32 triliun-Rp1,75 triliun per tahun hanya dari industri perbankan saja yang pada akhir Juli 2013 total asetnya mencapai Rp4.386 triliun.

Sementara itu, pungutan dari industri multifinance, OJK bisa meraup Rp107 miliar-Rp144 miliar. Pungutan yang lebih besar bisa diraih OJK dari industri asuransi dan pasar modal. (Donald Banjarnahor/Febriany D.A. Putri/Farodlilah Muqoddam/Lavinda)

Berita selengkapnya baca: Bisnis Indonesia edisi Jumat, 4 Oktober 2013

Source : Bisnis Indonesia (4/10/2013)
Editor : Hery Lazuardi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s