inflaaa(+ 1,12%)aa$1 … 020913

Menkeu: inflasi Agustus di bawah perkiraan
Senin, 2 September 2013 15:54 WIB |

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan laju inflasi Agustus 2013 sebesar 1,12 persen yang baru diumumkan oleh Badan Pusat Statistik, di bawah perkiraan pemerintah sebelumnya sebesar 1,27 persen.

“Alhamdulillah, (sebelumnya) kami perkirakan 1,27 persen, berarti inflasinya lebih rendah dari perkiraan kami,” ujar Chatib saat ditemui usai rapat dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.

Dengan inflasi Agustus yang lebih rendah dari prediksi tersebut, lanjut Chatib, pihaknya optimistis inflasi pada September akan kembali normal sesuai jalurnya.

“Kalau lihat trennya begini, saya percaya September sudah akan balik ke normal. Juli 3,3 persen, sekarang 1,1 persen, ya September sudah di bawah satu kan, kembali ke normal sehingga inflasinya in line,” tutur Chatib.

Menurut Chatib, pemerintah dan Bank Indonesia perlu memperhatikan imported inflation atau inflasi yang diakibatkan perubahan harga di luar negeri, yang turut memberikan kontribusi terhadap inflasi di Tanah Air.

“Yang mesti dijaga ini adalah imported inflation yang membuat rupiah melemah, karena itu akan sangat ditolong dengan penghapusan (sistem) kuota itu,” ujarnya.

Selain itu, Chatib juga menambahkan, kendati inflasi Agustus 2013 mulai menunjukkan angka yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, hal tersebut belum merubah proyeksi inflasi pemerintah sebelumnya untuk 2013 sebesar 9,2 persen.

“Lebih baik ditaruh 9,2 persen dulu deh, jangan cepet-cepet girang,” tutur Chatib.
Editor: Fitri Supratiwi
BPS: inflasi Agustus 1,12 persen
Senin, 2 September 2013 11:54 WIB |

Jakarta (ANTARA News) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Agustus 2013 sebesar 1,12 persen.

“Inflasi Agustus kalau dibandingkan periode Juli mengalami penurunan, berarti upaya pengendalian inflasi menunjukkan hasil signifikan,” kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Senin.

Suryamin menjelaskan, meski laju inflasi menurun dibandingkan Juli 2013 yang tercatat sebesar 3,29 persen, namun inflasi Agustus masih relatif tinggi dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir.

Menurut dia, inflasi pada Agustus 2011 tercatat 0,93 persen dan pada Agustus 2012 mencapai 0,95 persen.

Ia menambahkan, komponen harga diatur pemerintah menyumbang 0,12 persen terhadap inflasi sedang harga bergejolak memberikan andil 0,4 persen terhadap inflasi Agustus 2013.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok bahan makanan memberikan andil inflasi tertinggi (0,45 persen) diikuti kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,16 persen.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menyumbang inflasi 0,12 persen, diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang mengalami inflasi 0,16 persen.

Kelompok sandang menyumbang inflasi 0,13 persen, kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,01 persen serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,09 persen.

Dengan demikian, laju inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2013 mencapai 7,94 persen dan inflasi secara tahunan (yoy) 8,79 persen. Sedangkan inflasi komponen inti Agustus 1,01 persen dan inflasi (yoy) 4,48 persen.

Suryamin menambahkan, seluruh 66 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi Sorong 6,47 persen dan Ambon 4,79 persen serta inflasi rendah di Pangkal Pinang 0,15 persen.

Editor: Maryati
Kenaikan Harga BBM Pengaruhi Laju Inflasi
Senin, 2 September 2013 | 16:38

JAKARTA- Laju inflasi Agustus 2013 yang mencapai 1,12 persen antara lain disebabkan efek dari harga bahan bakar minyak yang dinaikan pemerintah pada Juni, kata Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR RI Arif Budimanta.

“Harus diakui bahwa tingginya inflasi hingga akhir Agustus ini masih sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM, karena secara historis menurut catatan Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa ‘second round effect’ dari naiknya harga BBM itu lebih besar dari ‘first round effect’ nya. Jadi jangan heran lagi jika inflasi masih akan tinggi hingga beberapa bulan ke depan,” kata Arif dalam pesan singkat yang diterima di Jakarta, Senin.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin mengumumkan inflasi Agustus 2013 tercatat 1,12 persen, secara year on year angka inflasi mencapai 8,79 persen, sedangkan untuk year on date (Januari-Agustus) tercatat 7,94 persen.

Dikatakan, pemerintah maupun BI harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan maupun prediksi khususnya mengenai inflasi.

“Beberapa kali Gubernur BI memprediksi inflasi yang akan terjadi tetapi kenyataannya inflasi yang terjadi lebih tinggi dari yang mereka perkirakan. Jika terlalu sering terjadi demikian akan dapat menimbulkan ‘dynamic inconsistency’,” katanya.

Bila hal ini terus terjadi masyarakat maupun pasar tidak lagi percaya dengan asumsi inflasi yang dikeluarkan pemerintah dan membentuk ekspektasi bahwa inflasi pasti akan lebih tinggi dari apa yang sudah disebutkan atau diprediksikan pemerintah ataupun BI.

Arif mencontohkan misalnya saja inflasi Juli yang diperkirakan BI sebesar 2,87 persen kenyataanya mencapai 3,29 persen, demikian juga inflasi Agustus ini yang sebelumnya diprediksi Gubernur BI akan berada dibawah satu persen kenyataannya hari ini inflasi lebih dari itu.

Selain itu angka inflasi kota2 di luar Jawa, lebih tinggi dari inflasi nasional. Artinya kebijakan stabilisasi harga yang dilakukan pemerintah jangkauannya belumlah menasional. Diperlukan kerja lebih keras untuk membenahinya.

Makanan Dikatakan pula, bahan makanan memiliki kontribusi terbesar dalam membentuk inflasi Agustus yakni sebesar 0,45 persen.

“Dengan rincian seperti itu, rakyat miskinlah yang terkena dampak cukup besar, karena sebagian besar penghasilannya hampir habis hanya untuk membeli bahan makanan,” katanya.

Fluktuasi produksi dalam komoditi-komoditi pangan memang sangat tinggi, hal inilah yang harus menjadi tugas pemerintah untuk mengkoordinasikan dan memastikan bahwa persediaan bahan makanan kebutuhan masyarakat tersedia melalui distribusi, serta membeli kelebihan produksi saat panen raya untuk kemudian dilepaskan kembali ke pasar saat produksi turun.

“Selama ini fungsi-fungsi semacam ini yang kurang diperankan oleh pemerintah sehingga pasar dikendalikan oleh pemilik modal besar untuk menguntungkan mereka dan rakyat kecil terus menjadi korban,” tegas Arif.(ant/hrb)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s