rupiAAA(PAKET $t1muLu$)aaH … 230813-270813

SENIN, 26 AGUSTUS 2013 | 19:21 WIB
Wapres Boediono : Ekonomi Indonesia Lampu Kuning

TEMPO.CO, Yogyakarta- Wakil Presiden Boediono menyebut melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia berimbas bagi ekonomi Indonesia. “Situasi perekonomian gawat dan tidak pasti. Indonesia berada pada lampu kuning,” kata dia saat membuka rapat kerja evaluasi realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah di Gedung Agung atau Istana Kepresidenan Yogyakarta, Senin pagi, 26 Agustus 2013.

Menurut Boediono melambatnya pertumbuhan ekonomi menjadi topik utama di seluruh dunia. Kondisi ekonomi menunjukkan tanda-tanda yang kurang baik. Dampak langsung bagi Indonesia adalah harga komoditas ekspor yang anjlok sehingga penerimaan ekspor turun. “Defisit membengkak. Indonesia tekor,” katanya.

Selain menurunnya ekspor, perubahan kebijakan moneter di negara adikuasa, misalnya Amerika Serikat juga mempengaruhi kondisi ekonomi Indonesia. Amerika Serikat memperketat pembiayaan atau likuiditas global. Dahulu, dolar gampang masuk ke Indonesia melalui sejumlah proyek. Kini nilai tukar dolar terhadap rupiah semakin menguat hampir di seluruh dunia. “Sekarang dolar kembali ke kandang masing-masing karena ekonomi negara adikuasa mulai bergerak,” katanya.
Menurut dia tidak hanya Indonesia yang mengalami nilai tukar rupiah yang anjlok, melainkan juga Jepang dan Malaysia.

Boediono menyebut kegawatan ekonomi saat ini belum bisa dikatakan sebagai krisis. Hanya saja, ia mengimbau pemerintah pusat dan daerah untuk waspada terhadap situasi ini. Ia meminta pemerintah pusat dan daerah meningkatkan pendapatan dari sektor pajak, investasi, dan melakukan pengurangan impor misalnya dengan mengganti solar dengan bio diesel. “Jangan santai-santai. Bisa saja pertumbuhan ekonomi kita anjlok hingga dua persen,” katanya.

Boediono juga meminta pejabat pemerintah selalu efektif dan efisien menggunakan anggaran. Kepala daerah, kata Budiono, hendaknya meningkatkan kualitas penyerapan anggaran. Salah satunya adalah mempermudah kalangan usaha untuk berinvestasi. Ia meminta kepala daerah menerapkan aturan usaha yang sederhana. Dia juga meminta pencabutan aturan yang menghambat kemudahan investasi.

Selama ini, pengusaha kerap mengeluhkan persyaratan yang terlalu rumit. Dampaknya pengusaha dari luar negeri dan Indonesia banyak yang pindah untuk berinvestasi ke negara lain. Misalnya pindah ke Vietnam dan Bangladesh karena persyaratan usaha lebih mudah. “Pemodal dalam negeri kalau diberi karpet merah di luar negeri ya ke sana. Jangan mengandalkan nasionalisme kalau menyangkut uang,” katanya.

Ketua Tim Evaluasi Pengawasan dan Penyerapan Anggaran atau TEPPA, Kuntoro Mangkusubroto mengatakan penyerapan anggaran pada Semester Pertama Tahun 2013. Rata-rata penyerapan atau realisasi belanja kementerian, lembaga (non kementerian), lembaga negara pada Semester pertama ini mencapai 26, 81 persen. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan Semester pertama tahun lalu yang mencapai 31,52 persen. Angka penyerapan juga tidak mencapai target, yaitu sebesar 34,93 persen.

Kuntoro mengatakan penyerapan anggaran berpotensi tidak selesai hingga akhir tahun. Beberapa lembaga negara dan pemerintah provinsi lamban melakukan proses lelang. Misalnya Badan Narkotika Nasional dan Provinsi Kalimantan Barat.

Di daerah, penyerapan anggaran, kata Kuntoro juga tidak mencapai target, yaitu hanya 30,47 persen. Padahal, targetnya sebesar 37,88 persen. Ia mencontohkan penyerapan anggaran infrastruktur yang bersumber dari APBN. Penyerapan tidak optimal karena proyek pembangunan infrastruktur tidak diselesaikan tepat waktu. Misalnya pembangunan jalan tol di Jawa Tengah. “Sebaiknya tidak ada usulan pembangunan proyek infrastruktur pada pertengahan tahun,” kata dia.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan pembangunan jalan tol di Jawa Tengah terhambat karena lemahnya sosialisasi kepada masyarakat. Dampaknya beberapa kelompok masyarakat menolak pembangunan proyek itu.

SHINTA MAHARANI
SELASA, 27 AGUSTUS 2013 | 07:22 WIB
Rupiah Melemah, Utang Luar Negeri Naik 30 Persen

TEMPO.CO, Jakarta – Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN), Aviliani memperhitungkan nominal rupiah untuk utang luar negeri naik 30 persen akibat depresiasi rupiah. “Dulu pinjam kurs Rp 8.500, sekarang jadi Rp 11 ribu, utang naik sekitar 30 persenan,” kata Aviliani kepada Tempo, Senin, 26 Agustus 2013.

Aviliani menilai Bank Indonesia perlu melakukan stabilisasi nilai tukar agar tak terdepresiasi lebih dalam dan beban utang semakin membesar. Pemerintah dan Bank Indonesia bisa memanfaatkan Chiang Mai Initiatives untuk membantu stabilisasi nilai tukar. “Paling tidak supaya rupiah tidak anjlok,” kata dia. Seperti diketahui cadangan devisa Indonesia sudah merosot ke level US$ 92,7 miliar pada akhir Juli 2013. Hal ini membuat kemampuan intervensi BI semakin terbatas.

Sebagai langkah stabilisasi rupiah, Aviliani menambahkan, Bank Indonesia bisa mengambil kebijakan beli atas modal jangka pendek milik asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi. Total kepemilikan asing di saham dan obligasi diperkirakan mencapai Rp 600 triliun. “Selama ini, yang bisa dibeli BI cuma obligasi pemerintah, obligasi swasta perlu dipikirkan untuk dibeli. Kalau tidak, tidak aman,” katanya.

Adapun untuk mengantisipasi kebutuhan dolar yang tinggi untuk pembayaran luar negeri di paruh kedua tahun ini, ia usul Pemerintah bisa mendorong restrukturisasi utang luar negeri swasta. Jatuh tempo utang luar negeri swasta semakin cepat lantaran swasta banyak mengambil utang jangka pendek dari semula bertenor rata-rata 5 tahunan menjadi 8 bulanan. “Pemerintah bisa menjadi penengah, supaya kreditur percaya,” ujarnya.

Restrukturisasi juga dinilai Aviliani penting untuk mencegah gagal bayar baik yang dikarenakan kinerja perusahaan yang menurun atau risiko kurs. “Kalau ada gagal bayar bisa berdampak pada krisis kepercayaan pada swasta domestik dan Indonesia,” katanya.

Sepanjang 2013, total pembayaran utang luar negeri pemerintah, bank sentral dan swasta direncanakan sebesar US$ 41,20 miliar, sedangkan sepanjang Juli – Desember sebesar US$ 27,86 miliar. Khusus untuk utang luar negeri swasta, total pembayaran utang luar negeri direncanakan US$ 32,12 miliar sepanjang tahun ini dan US$ 22,27 miliar sepanjang Juli – Desember.

MARTHA THERTINA
Dollar stuck in a rut, EM currencies pressured
7:15pm EDT
By Wayne Cole
SYDNEY (Reuters) – The dollar was marking time against the majors on Tuesday after disappointing U.S. data dragged Treasury yields lower but failed to budge bets the Federal Reserve will start tapering stimulus next month.
The dollar was stuck at 98.51 yen having wandered between 98.35 and 98.70 overnight. The euro was equally becalmed at $1.3372 after trading in a $1.3357 to $1.3394 range.
The dollar index was parked at 81.375 .DXY, with support at 81.224 and resistance around 81.719.
For any notable action, traders had to cast their eyes to emerging markets where the Mexican peso and Brazilian real came under fresh pressure, despite the drop in U.S. yields. That could bode ill for emerging market currencies in Asia, and particularly the Indonesian rupiah and Indian rupee.
Still, overshadowing everything was uncertainty about when the Fed will start tapering and at what pace it might scale back asset buying.
A sharp 7.3 percent drop in durable goods orders for July seemed to argue for a cautious withdrawal, and helped 10-year Treasury yields dip 3 basis points to 2.79 percent.
Still, much of the fall in orders came in the very volatile aircraft and defense sectors. Strip those out and core orders fell a more moderate 3.3 percent. The series also has a habit of showing weakness in the first month of a quarter, followed by a bounce over the following two months.
“We would not get too carried away by the weak durables print,” said Citi economist Dana Peterson.
“There is positive momentum coming from the consumer, fiscal drag is dissipating and the housing revival remains solid,” she added. “So we would not alter our expectations for growth materially or Fed decisions on tapering.”
Looking ahead, the Asian data calendar is very light with only Chinese industrial profits standing out. Germany releases its Ifo business climate survey for August, while the U.S. has the Case-Shiller house price index, consumer confidence and the Richmond Fed survey.
(Reporting by Wayne Cole; Editing by Shri Navaratnam)
Rupiah Slides to April 2009 Low as Policy Measures Disappoint
By Yudith Ho
Agustus 26, 2013 1:12 AM EDT
bloomberg
The Indonesian rupiah fell to the weakest since April 2009 and sovereign bonds dropped on concern policy makers’ steps to boost dollar supply are insufficient to buoy Asia’s worst-performing currency.
Indonesia will offer tax deductions for export-oriented companies to boost overseas sales and narrow the current-account deficit, which was a record $9.8 billion last quarter, Finance Minister Chatib Basri said Aug. 23. Bank Indonesia announced measures aimed at increasing domestic foreign-currency supply on the same day. Nomura Holdings Inc. is maintaining a bearish view on the rupiah due to the “relatively ineffective policy package,” analysts led by Singapore-based Euben Paracuelles wrote last week.
“The measures were meant to address structural issues in the medium- to long-term, while the market was expecting more immediate steps to address the rupiah’s weakness,” said Eric Alexander Sugandi, an economist in Jakarta at Standard Chartered Plc. “It doesn’t mean the measures are bad, only that they will take at least a month to show any impact.”
The rupiah slid 0.7 percent to 10,855 per dollar as of 11:58 a.m. in Jakarta, the weakest level since April 2009, according to prices from local banks. The spot rate fell 3.7 percent last week in the worst five-day period since November 2008, and traded at a 4.9 percent premium to the one-month non-deliverable forwards, which lost 1.3 percent to 11,412, data compiled by Bloomberg show.
A fixing used to settle the forwards set by the Association of Banks in Singapore was 11,052 today, from 10,964 on Aug. 23. One-month implied volatility, a measure of expected moves in the exchange rate used to price options, dropped eight basis points, or 0.08 percentage point, to 17.91 percent, data compiled by Bloomberg show.
The yield on government bonds due May 2023 climbed five basis points to 8.48 percent, prices from the Inter Dealer Market Association show. It has added 65 basis points in August and 329 basis points since the end of 2012.
Rupiah Menguat 110 Poin di Posisi 10.865
Senin, 26 Agustus 2013 | 17:02
investor daily

JAKARTA- Intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar uang domestik mendorong nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore bergerak menguat sebesar 110 poin menjadi Rp10.865 dibanding sebelumnya di posisi Rp10.975 per dolar AS.

“Penguatan rupiah pada awal pekan ini cenderung didorong oleh intervensi Bank Indonesia di tengah sentimen negatif yang cukup kuat saat ini,” ujar pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Ruly Nova di Jakarta, Senin.

Ia menilai beberapa langkah yang dilakukan BI untuk menjaga nilai tukar domestik cukup membantu dalam menahan sentimen negatif dari global.

“Beberapa pelaku pasar masih menilai negatif kebijakan pemerintah menahan sentimen global karena ersifat jangka menengah panjang, yang diharapkan pelaku pasar saat ini yakni kebijakan untuk jangka pendek,” kata dia.

Analis pasar uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri menambahkan penguatan rupiah seiring dengan BI yang agresif mengintervensi pasar uang domestik, meski demikian, positifnya mata uang domestik saat ini cenderung bersifat jangka pendek.

“Tren rupiah masih berada dalam tren pelemahan, pelaku pasar masih menunggu isu besar yakni the Fed terkait kepastian rencananya untuk mengurangi stimulus keuangannya,” kata dia.

Seiring dengan penguatannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah BI Senin ini rupiah juga menguat menjadi Rp10.841 dibanding sebelumnya di posisi Rp10.848 per dolar AS. (ant/gor)

yyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyLLLLLLLLLLLLLLLLyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy
Kamis, 22 Agustus 2013 | 19:22 WIB
Indonesia Masih Punya Tambahan Cadangan Devisa

TEMPO.CO, Jakarta- Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Destri Damayanti mengatakan Indonesia masih punya tambahan cadangan jika kebutuhan valas dalam negeri memang meningkat tajam. “Kita punya dana second line of defense, istilahnya tambahan reserve untuk situasi-situasi ekstrem,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis, 22 Agustus 2013.

Sejumlah tambahan cadangan devisa berasal dari Chiang Mai Initiatives, seperti dari Cina, Jepang dan Korea. “Saya lupa jumlahnya, tapi dulu sering disebut pada tahun 2008, 2009. Sekarang kok tidak ada disebut,” kata Destri.

Destri menjelaskan, tambahan cadangan devisa tersebut bisa dipakai dalam kondisi mendesak dari segi likuiditas valas. “Tapi ya dulu pun kita baru bisa ambil liqudity itu kalau kita jual bond ke luar. Yield-nya berapa persen di atas normal. Ada hitung-hitungan,” katanya.

Menurut Destri, keberadaan cadangan ini perlu disampaikan Pemerintah agar pelaku pasar paham. Seperti diketahui, cadangan devisa tercatat merosot ke level US$ 92,671 miliar per 31 Juli 2013. Artinya, sepanjang Januari – Juli 2013, cadangan devisa sudah merosot US$ 20,11 miliar dari posisi akhir Desember yakni US$ 112,781 miliar.

Kondisi cadangan devisa tersebut membuat ruang BI untuk melakukan intervensi terhadap rupiah semakin terbatas. Padahal masih ada kebutuhan dolar yang tinggi di dalam negeri, apalagi jika terjadi lagi pelarian modal asing lagi di pasar modal dan obligasi menyusul rencana Bank Sentral Amerika untuk menghentikan secara bertahap stimulus moneternya.

Kebutuhan dolar untuk pembayaran utang luar negeri juga besar. Mengacu pada data Bank Indonesia tentang statistik utang luar negeri per Juli 2013, rencana pembayaran utang luar negeri sepanjang tahun ini sebesar US$ 41,20 miliar. Angka ini turun sekitar 2,4 persen dibanding beban tahun lalu yakni US$ 42,19 miliar. Adapun beban pembayaran utang luar negeri Indonesia sepanjang Juni – Desember 2013 mencapai US$ 28,88 miliar.

MARTHA THERTINA

Paket Stimulus Diumumkan, Ini Pergerakan Rupiah Jumat Siang (23/8/2013)

Gita Arwana Cakti   –   Jumat, 23 Agustus 2013, 12:34 WIB

Bisnis.com,JAKARTA— Nilai tukar rupiah masih tercatat melemah terhadap dolar AS pada siang ini, Jumat (23/8/2013), setelah paket stimulus untuk perekonomian Indonesia diumumkan oleh pemerintah.

Berdasarkan data kurs valas Bloomberg, pada pukul 12.16 WIB, rupiah melemah 0,86% ke level Rp10.968 per dolar AS.

Pelemahan tersebut tidak separah penurunan pada pagi ini. Rupiah dibuka melemah 1,76% ke level Rp11.066 pada pukul 08.13 WIB.

Adapun sepanjang hari ini, rupiah sempat menyentuh level terkuatnya Rp10.835 per dolar AS atau menguat 0,37% pada pukul 08.34 WIB.

Sementara itu, untuk pelemahan terbesar dialami pada level Rp11.086 per dolar AS atau melemah 1,94% pada pukul 08.22 WIB.

 

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia-Pasifik Jumat, 23 Agustus 2013

 Kurs Nilai Perubahan WIB
$ Australia 0,9018 -0,11% 12:14:28
$ Selandia Baru 0,7830 0,00% 12:15:51
Yen 99,0200 +0,30% 12:15:08
$Hong Kong 7,7546 -0,01% 12:14:08
$Singapura 1,2797 -0,26% 12:13:37
$Taiwan 29,9470 -0,28% 12:04:50
Won 1.116,6000 -0,55% 12:17:00
Peso 44,2600 +0,22% 12:11:38
Rupiah 10.968,0000 +0,86% 12:16:29
Rupee 64,4713 -0,25% 12:13:09
Yuan 6,1229 +0,03% 12:12:45
Ringgit 3,3065 -0,09% 12:13:44
Baht 31,9400 -0,31% 12:16:51

Sumber: Bloomberg.

Editor : Nurbaiti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s