BI raaa(v. FX $wap)aat3 … 230813

Serapan Lelang FX Swap Menciut
Donald Banjarnahor – Kamis, 22 Agustus 2013, 19:21 WIB
Bisnis. com, JAKARTA – Bank Indonesia hanya menyerap dana valas senilai US$240 juta pada lelang FX Swap hari ini Kamis (22/8/2013). Perolehan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan target indikatif maupun lelang sebelumnya.

Difi A. Johansyah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), mengatakan pada lelang FX Swap hari ini sebenarnya bank sentral menetapkan target indikatif sebesar US$500 juta dengan tenor 1,3, dan 6 bulan.

“Jumlah penawaran yang masuk sebesar US$965 juta atau melebihi target yang ditetapkan,” ujarnya, Kamis (22/8/2013).

Namun , jumlah dana valas yang diserap oleh BI hanya US$240 juta dengan rincian tenor 1 bulan diserap US$50 juta dengan premi 48,00 dan tenor 6 bulan senilai US$190 juta dengan premi 324,63.

“Kami tidak serap semuanya karena premi yang diminta tidak sesuai dengan kisaran BI,” ujarnya.

Hasil lelang FX Swap pada hari ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang mencapai US$1,996 miliar. Pada pekan lalu, jumlah penawaran yang masuk mencapai US$2,081 miliat atau oversubscribed hingga 4 kali lipat dari target indikatif US$500 juta.

Editor : Ismail Fahmi
 

BI Rate Ditahan di 6,5 Persen
Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan Kamis, 15 Agustus 2013 | 16:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 6,5 persen.

Direktur Komunikasi BI, Peter Jacobs menjelaskan bahwa bank sentral akan memperkuat bauran kebijakan untuk pengendalian inflasi.

Untuk itu, BI akan melakukan penguatan operasi moneter untuk mengintensifkan pengendalian ekses likuiditas yang cenderung meningkat pasca Ramadhan.

“Dalam hal ini, Bank Indonesia akan menerbitkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dan menyempurnakan ketentuan GWM-LDR untuk memperkuat penyaluran kredit dan penghimpunan dana yang prudent, serta menyempurnakan GWM Sekunder untuk memperkuat manajemen likuiditas perbankan,” jelasnya Kamis (15/8/2013).

Selanjutnya, stabilisasi nilai tukar jangka panjang rupiah tetap dilakukan sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian, dan sekaligus untuk pengelolaan neraca pembayaran yang lebih sustainable.

Bank Indonesia juga akan melakukan langkah-langkah pengawasan bank (supervisory actions) untuk mengendalikan pertumbuhan kredit yang dinilai masih relatif tinggi pada sejumlah bank dan sektor tertentu, termasuk yang mempunyai kandungan impor tinggi.
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Ekonom: BI Rate jangan naik lagi
Oleh Annisa Aninditya Wibawa – Rabu, 14 Agustus 2013 | 16:55 WIB

kontan

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) akan segera menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan, besok, (15/8). Dalam RDG tersebut, salah satu yang akan menjadi pembahasan yakni suku bunga acuan atau BI rate. Ekonom menilai, sebaiknya BI tak menaikkan lagi tingkat BI rate tersebut.
“Saya rasa tak perlu menaikkan BI rate. BI mesti memperhitungkan secara lebih cermat, memanfaatkan instrumen yang lain,” sebut Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN), Agustinus Prasetyantoko, kepada KONTAN, Rabu, (14/8).
Menurutnya, BI perlu memaksimalkan lelang FX Swap. Lelang yang digelar tiap Kamis pun terbilang berhasil. BI sudah 3 kali menyelenggarakan lelang FX Swap tersebut dan selalu mendapat kelebihan permintaan. Pada Kamis, (1/8) lalu, BI menargetkan pelelangan FX Swap senilai US$ 500 juta. Namun permintaannya mencapai US$ 1,605 miliar. Lantas, jumlah yang BI lepas yakni US$ 1,285 miliar.
Kemudian, BI pun bisa juga menaikkan suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia atau BI rate. Tony menyebut, Fasbi rate ini idealnya naik sekitar 25 sampai 50 basis poin. “Fasbi rate ini jaraknya masih agak lebar dengan BI rate,” ungkap Tony.
Posisi Fasbi rate saat ini adalah 4,75%. BI meningkatkan suku bunga tersebut sebesar 25 basis poin di bulan Juni dan 50 basis poin di bulan Juli. Namun, rentangnya dengan BI rate yang 6,5% masih cukup jauh yakni 175 basis poin.
Selain itu, Tony melihat BI pun perlu untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah demi menjaga inflasi dan tukar Rupiah. Ia bilang bahwa kondisi yang terjadi saat ini merupakan faktor fundamentar sektor riil, bukan moneter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s