rupiaaa(10-11K)aaH … 210813

Perjalanan Rupiah 3 Tahun, Dari Rp 8.000/US$ Hingga Rp 11.000/US$
Herdaru Purnomo – detikfinance
Rabu, 21/08/2013 14:09 WIB

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergejolak belakangan ini. Adapun dua faktor yang mempengaruhinya yakni dari dalam dan luar negeri.

Dari luar, penghentian stimulus yang digelontorkan The Fed membuat bursa asia khususnya Indonesia jeblok. Dana asing ‘kabur’, dan rupiah pun terkena imbasnya.

Adapun dari dalam yakni defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang masih cukup tinggi. Kedua hal tersebut membuat investor tak mau ambil pusing dan memindahkan investasinya dari Indonesia.

Nilai tukar rupiah ini merupakan yang terparah koreksinya dalam 3 tahun terakhir. Data Reuters yang dikutip detikFinance, Rabu (21/8/2013), dolar pernah hinggap di Rp 12.400 pada tahun 2008 tepatnya di 25 November 2008 lalu.

Seiring perkembangan ekonomi yang kuat dan inflasi yang terkendali, rupiah mampu menguat terhadap dolar dan berada di level Rp 8.900-an di 2010.

Adapun dolar mampu menguat hingga level di Rp 8.400 pada tahun 2011 atau tepatnya Rp 8.455 di Agustus 2011.

Namun memasuki tahun 2012, dolar yang berada di level Rp 9.000-an di awal tahun harus ditutup lebih tinggi hingga Rp 9.700 di akhir 2012 kemarin.

Apalagi memasuki tahun 2013. Dolar yang dibuka Rp 9.600-an di awal tahun 2013 kemarin menguat hingga Rp 10.900 sampai hari ini.

Presiden SBY mengungkapkan, ada faktor global dan regional serta domestik sendiri yang mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Faktor pertama, global dan regional, yaitu ditetapkan kebijakan moneter di AS yang berpengaruh kepada semua negara berkembang, emerging market termasuk ke indonesia.

Kemudian dari dalam sendiri defisit yang besar di neraca pembayaran mengakibatkan terganggunya fundamental ekonomi Indonesia.\

(dru/dnl)
Transaksi Modal dan Finansial Kembali Surplus Jadi US$ 8,2 Miliar
Jumat, 16 Agustus 2013 | 22:00

JAKARTA – Setelah mengalami defisit sebesar US$ 300.000 juta pada kuartal I-2013, neraca transaksi modal dan finansial (TMF) mengalami perbaikan dengan kembali surplus yaitu sebesar US$ 8,2 miliar pada kuartal II-2013.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, perbaikan tersebut di antaranya berasal dari meningkatnya arus masuk investasi langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI). Hal itu mengindikasikan tetap kuatnya keyakinan investor terhadap kondisi fundamental dan prospek ekonomi Indonesia ke depan.

“Di tengah gejolak pasar keuangan global, respon kebijakan BI dan strategi pembiayaan fiskal pemerintah telah membantu mengembalikan surplus transaksi modal dan finansial,” kata Agus dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (16/8).

Selain itu, investasi portofolio asing masih mencatat surplus yang cukup signifikan, meski sempat terjadi arus keluar yang cukup besar pada Juni 2013. Saat itu mencuat isu rencana penghentian kebijakan moneter longgar di Amerika Serikat.

Hal itu, kata Agus, didukung oleh langkah antisipatif BI dalam meredam kenaikan ekspektasi inflasi melalui peningkatan suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) dan BI rate.

Dia juga menilai langkah pemerintah menerbitkan penerbitan obligasi valuta asing (valas) sebagai salah satu sumber pembiayaan defisit fiskal cukup berpengaruh. Begitu pula dengan dampak meningkatnya penerbitan obligasi valas oleh korproasi.

Perbaikan transaksi modal dan finansial juga berasal dari surplus pada investasi lainnya, terutama dalam bentuk penarikan simpanan milik perbankan domestik di luar negeri. Bank-bank menarik sebagian simpanannya di luar negeri untuk berbagai tujuan.

“Selain untuk memenuhi kebutuhan nasabah, juga untuk memanfaatkan fasilitas simpanan berupa instrumen term deposit valas. Bank juga menggunakan valasnya untuk fasilitas lindung nilai berupa instrumen swap valas yang disediakan oleh BI,” jelas Agus. (ID/Grc/Wbp)
Analis: Pelemahan Rupiah Bakal Berkepanjangan
Ardhanareswari AHP – Minggu, 18 Agustus 2013, 22:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Rupiah mengakhiri pekan lalu pada level terburuk selama 5 tahun, yang menurut analis kondisi ini bakal berkepanjangan.

Bloomberg Dollar Index mencatat rupiah berada pada level 10.430 per dolar AS, menguat 0,20% pada Jumat (16/8/2013). Pada transaksi Jumat, rupiah sempat menyentuh 10.453, tertinggi sejak kuartal pertama 2009.

Menurut analis PT Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong, nilai rupiah saat ini secara teknikal dan psikologis sudah mencapai 10.500.

“Saya kira akan berkepanjangan dan [nilai rupiah] akan bergerak perlahan-lahan,” kata Lukman, Minggu (18/8/2013).

Dia menambahkan, banyak faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah akhir-akhir ini tetapi yang utama adalah tak berubahnya suku bunga acuan (BI Rate) dan penantian terhadap keputusan Federal Reserve.

Sementara itu, Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra meramalkan nilai rupiah dalam waktu dekat ini akan berada pada kisaran 10.300-10.500 per dolar AS.

Pada penutupan pekan lalu, rupee dan rupiah membukukan penurunan tertinggi. Rupee India turun 0,43% ke level 61,706 per dolar AS.

Yen turut turun 0,02% ke posisi 6,114 yen per dolar AS. Sementara itu, dolar Taiwan dan won Korea tercatat naik masing-masing 0,14% (29,921 dolar Taiwan) dan 0,34% (1.113,59 won). Peso juga melonjak 0,38% menjadi 43,63 per dolar.
BI Optimistis Tekanan Rupiah Mereda pada Kuartal III
Ringkang Gumiwang – Rabu, 24 Juli 2013, 22:51 WIB
Bisnis.com, JAKARTA–Meski nilai impor diproyeksikan meningkat akibat langkah stabilisasi harga pangan, Bank Indonesia (BI) optimistis tekanan rupiah akan mulai mereda pada kuartal ketiga didorong tambahan devisa dari penerbitan surat utang pemerintah.

“Secara historis, defisit neraca pembayaran kita akan mengecil pada kuartal ketiga. Seharusnya nilai tukar rupiah menjadi lebih baik,” ujar Difi A Johansyah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Rabu (24/7/2013).

Selain itu, lanjutnya, penerbitan surat utang atau obligasi pemerintah juga diperkirakan akan menambah devisa negara, sehingga turut mendorong perbaikan nilai tukar rupiah. Sayang, dia tidak menjelaskan nilai kisaran penambahan terhadap devisa negara tersebut.

Seiring dengan penguatan rupiah, Bank Indonesia juga optimistis proyeksi inflasi Juli berada di level 2,38%. Menurutnya, sektor transportasi kini menjadi perhatian BI mengingat ikut berdampak terhadap kenaikan inflasi pada Juli ini.

“Kami masih optimis inflasi Juli di level 2,38%. Walau begitu, ada beberapa hal yang menjadi kendala terutama terkait transportasi, kami harap pemerintah bisa ikut turun tangan, karena mempengaruhi inflasi juga,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Denni P. Purbasari, Dosen FEB Universitas Gajah Mada menilai ketidakelastisan dan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang terus meningkat mendongkrak tingkat inflasi, sehingga peran impor untuk meredam kenaikan inflasi menjadi pilihan terbaik.

“Untuk meredam kenaikan inflasi akibat harga pangan pokok, seharusnya ada relaksasi impor, walaupun hanya bersifat jangka pendek. Untuk jangka panjang yakni swasembada pertanian, namun hingga saat ini sulit terpenuhi,” ujarnya.

Menurutnya, rencana pembatasan impor yang dilakukan pemerintah justru menjadi bumerang terhadap stabilitas harga pangan, sehingga menimbulkan kelangkaan bahan pokok di pasar. Apalagi, konsumsi masyarakat semakin tinggi menjelang lebaran tahun ini.

Dia menilai pola konsumsi masyarakat khususnya perkotaan tidak mengenal istilah substitusi, sehingga ini juga menjadi alasan kenaikan harga bahan pangan. Adapun, dia juga berpendapat kenaikan rata-rata upah minimun buruh sebesar 19% turut berdampak terhadap inflasi.

Editor : Ismail Fahmi
BI: Likuiditas Perbankan Membaik Mulai Triwulan Tiga
20 July 2013 15:29 WIB

Kembalinya dana-dana asing yang diprediksi akan mulai terjadi pada triwulan tiga tahun ini, ditambah dengan ekspansi rekening pemerintah dinilai Bank Indonesia akan mendukung membaiknya likuiditas perbankan. Paulus Yoga

Jakarta–Bank Indonesia (BI) menilai likuiditas perbankan, termasuk di dalamnya dana pihak ketiga (DPK) masih tetap oke, kendati saat ini tengah terjadi arus keluar dari modal asing (capital outflow). Bank sentral optimis pada paruh kedua tahun ini likuiditas akan kembali membaik.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah mengatakan, ada beberapa faktor mengapa DPK turun, namun bila dilihat secara fundamental memang kegiatan perbankan tetap kencang, ekspansi kredit masih tetap kuat di atas 20%.

“Sementara kegiatan yang menciptakan penciptaan uang, ekspansi uang yang berasal dari inflow malah outflow. Nah itu juga menyebabkan uang sedikit berkurang tapi ini tidak besar,” ujarnya kepada wartawan di Kompleks Gedung BI, Jakarta, Jumat, 18 Juli 2013.

Ia menambahkan, yang paling penting adalah ekspansi pemerintah yang belum sebesar biasanya, di semester kedua pihaknya berharap ekspansi rekening pemerintah bisa sebesar biasanya sehingga otomatis likuiditas akan tercipta karena ekspansi rekening pemerintah itu akan menambah DPK perbankan.

Dalam laporan Tinjauan Kebijakan Moneter triwulan II-2013, BI mencatat bahwa hingga Mei 2013, pertumbuhan DPK dalam setahunan melambat menjadi 15,1% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 16%.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia per Mei 2013, total DPK bank umum mencapai Rp3.349,66 triliun, meningkat 15,15% dibandingkan Rp2.908,95 triliun pada Mei 2012. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp2.816,40 triliun merupakan DPK rupiah, yang menunjukkan penurunan giro dari bulan April 2013 sebesar Rp582,87 triliun menjadi Rp563,06 triliun.

Terkait dengan banyaknya bank yang menunda penerbitan surat utangnya akibat melambatnya perekonomian, menurut Halim, diharapkan akan membaik pada triwulan tiga seiring dengan mulai kembalinya dana-dana dari investor asing yang belakangan keluar akibat gonjang-ganjing pengentian stimulus moneter di Amerika Serikat.

“Kalau nanti inflow-nya sudah mulai masuk, iyakan artinya kalau inflow masuk dia (investor asing) punya ruang untuk membeli obligasi. Ya kita harapkan,” tutupnya. (*)
Mewaspadai Panas-Dingin Rupiah
20 July 2013 14:06 WIB

Eko B. Supriyanto
Kredit perbankan yang berkualitas rendah hasil kongkalikong dengan debitor dalam kondisi normal tak akan bermasalah. Namun, dalam situasi panas-dingin, kredit yang kelebihan plafon berdasarkan pengalaman sering terbakar.

GEJOLAK nilai tukar rupiah yang sempat membuat gelisah masyarakat tetap saja masih menyimpan kegundahan. Bank-bank yang juga sempat kaget-kaget atas nilai tukar rupiah yang tertekan pun mengambil langkah berjaga-jaga. Terlebih Bank Indonesia (BI) yang membuat kebijakan antisipasi dengan menaikkan BI Rate menjadi 6%, yang dimaksudkan agar kondisi moneter tidak terlalu liar dan tetap terkendali.

Situasi yang mencekam itu disebabkan oleh respons atas tekanan neraca pembayaran dan kondisi fiskal yang tertekan karena membengkaknya subsidi energi yang mencapai Rp317 triliun. Jumlah subsidi yang teramat besar itu menekan neraca pembayaran.

Hal lain yang juga menjadi tantangan berat ialah negatifnya neraca perdagangan kita. Jumlah nilai impor lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor. Kenyataan ini juga yang membuat posisi cadangan devisa menyusut.

Lebih tidak bersahabatnya lagi likuiditas global tersedak oleh kebijakan penghentian tambahan likuiditas di Amerika Serikat (AS). Pasar modal global pun merosot. Hal yang sama terjadi pada pasar modal Indonesia yang membuat banyak investor asing mencairkan sahamnya untuk dibelikan dolar AS sehingga kebutuhan atas dolar meningkat dan rupiah panas-dingin.

Pertanyaannya, bagaimana pasar keuangan dan khususnya perbankan? Satu hal yang perlu digarisbawahi ialah tidak mengalami kepanikan. Bank-ank menjaga nasabahnya untuk tidak melakukan aksi beli terhadap dolar AS sehingga pasar tidak makin gelisah. Andil dari perbankan ini tidak lepas dari bisikan BI untuk menjaga ketenangan pasar.

Namun, dalam perspektif jangka panjang tentu masih mengandung kerawanan sepanjang masalah utama tidak dihilangkan. Salah satu masalah penting ialah besarnya impor akibat meningkatnya kelas menengah yang tinggi. Kelas menengah telah menimbulkan efek konsumsi yang tinggi sehingga impor juga meningkat, sementara ekspor mengalami kelambatan. Apalagi sumber daya alam yang melimpah tanpa nilai tambah secara gelondongan dilepas untuk diekspor. Sisi lain yang perlu diperhatikan ialah kesiapan sumber daya manusia yang merespons perubahan dunia akibat hiruk pikuk politik dalam negeri yang kehilangan prioritas.

Jebakan kelas membawa Indonesia relatif lebih lama menjadi negara maju, kendati sekarang ini optimisme sebagai negara dengan pertumbuhan relatif tinggi masih berlangsung.

Panas-dingin rupiah ini boleh jadi akan terus berlangsung. Bebasnya rezim devisa bebas yang tanpa terkendali menjadi pintu besar bagi keluar-masuknya investor asing, baik yang di pasar modal maupun yang dalam bentuk lain. Jadi, situasi naik-turunnya rupiah ini akan tetap saja ada. Mata uang asing bisa banjir mendadak dan bisa kering secara tiba-tiba. Pasar modal yang menarik juga bisa menjadi pemicu pasang-surut dolar AS secara tiba-tiba.

Dilema dihadapi oleh perekonomian Indonesia. Untuk itu, dalam persfektif jangka panjang perlu dibuat kebijakan yang tidak membuat pasar valuta asing ini rock n roll secara mendadak akibat devisa bebas yang teramat bebas. Kebijakan dividen bisa menjadi salah satu agar lalu lintas devisa bisa lebih dikendalikan.

Di samping itu, penyakit utama yang masih belum pulih ialah invesment gap yang sudah berlangsung lama. Jumlah kredit selalu lebih kencang dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat. Pilihan yang diambil ialah offshore loan yang terkadang membuat situasi bertambah rumit.

Kelebihan permintaan kredit inilah yang dalam jangka panjang akan menyandera bank-bank kita. Jika tidak ada terobosan, hal itu akan membuat bank-bank tumbuh moderat. Industri perbankan hanya tumbuh sebesar pertumbuhan dana masyarakat dan situasi makin rumit manakala dibandingkan dengan suku bunga deposito.

Sungguh berat untuk menggenjot dana masyarakat dalam situasi tidak normal ini. Bayangkan saja, hanya orang terpaksa saja menyimpan dananya dalam bentuk deposito jika inflasi lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga deposito.

Perekonomian yang rentan gejolak ini juga perlu dicarikan jalan keluarnya. Namun, yang tak kalah penting ialah melakukan langkah antisipasi. Sejarah membuktikan bahwa transmisi krisis selau datang dari sektor keuangan dan khususnya perbankan.

Nilai tukar rupiah dan pasar modal yang senyap merupakan ciri awal dari sebuah krisis keuangan. Suku bunga tinggi disertai dengan inflasi dan penurunan pertumbuhan ekonomi merupakan efek sambungan. Sektor perbankan merupakan api besar dalam menyumbang krisis.

Untuk itu, tak ada salahnya sektor perbankan selalu membuat stress test sebagai langkah antisipasi. Tidak ada salahnya membuat skenario terburuk yang bakal terjadi. Langkah ini memberikan gambaran bagi manajemen bank jika terjadi gejolak yang datang secara tiba-tiba.

Nah, karena gejolak pasar keuangan yang datang lebih cepat, maka diperlukan amunisi permodalan. Jangan sampai modal terkikis habis lantaran ekspansi yang menggebu. Lebih dari itu, perlu menjaga likuiditas agar tidak mengalami kekeringan. Komposisi dana dan porsi kepemilikan dana menjadi hal yang perlu diperhatikan secara saksama dan cermat. Banyak bank mengalami kesulitan bersumber dari likuiditas.

Bank-bank pun perlu tetap menjaga kesehatan kreditnya. Jangan sampai nyala inflasi dan tekanan terhadap rupiah akan membakar kredit perbankan. Kredit perbankan yang berkualitas rendah hasil kongkalikong dengan debitor dalam kondisi normal tak akan bermasalah. Namun, dalam situasi panas-dingin, kredit yang kelebihan plafon berdasarkan pengalaman sering terbakar. Jadi, perlu hati-hati dan langkah antisipasi.

Pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam jangka panjang akan menyehatkan postur keuangan negara dan akan mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran. Namun, dalam jangka pendek akan menaikkan inflasi. Untuk itu, bank-bank harus tetap waspada. Semoga nyala inflasi ini tidak membakar rupiah terlalu lama. Kelambatan menaikkan harga BBM merupakan potret buruk dalam pengambilan keputusan.

Harapannya, penurunaan ekonomi akibat pencabutan subsidi BBM tidak berlangsung lama. Hiruk pikuk kenaikan harga BBM sudah berlangsung sejak 2011.

Karena keputusan yang lambat, maka bank-bank perlu berjaga-jaga sendiri dan tidak bergantung pada pihak lain. Jangan berharap jika terjadi krisis akan mudah melakukan bailout di tengah politisasi di segala kehidupan.

Situasi setahun menjelang pemilihan umum (pemilu) sungguh rawan bagi sektor keuangan dan khususnya perbankan. Jangan membiarkan diri untuk bernafsu ekapansi. Situasi yang memanas ini akan menunjukkan siapa kita sebenarnya. Apakah kita seorang bankir yang layak dibayar mahal atau kita hanya seorang yang numpang hidup semata. Jika demikian, kita mesti belajar dari krisis sebelumnya bahwa rusaknya bank karena kita tidak mempunyai sensitivitas terhadap krisis.

Rupiah yang panas-dingin merupakan ujian bagi kita dalam jangka pendek dan jangka panjang. Semoga perbankan akan lolos dalam ujian pada tahun ini. (*)

Penulis adalah Wakil Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Infobank
BI Upayakan Titik Keseimbangan Baru Kurs Rupiah
Kamis, 18 Juli 2013 | 14:05

JAKARTA- Bank Indonesia (BI) melakukan penyesuaian kurs dengan pelemahan rupiah untuk menemukan titik keseimbangan baru guna menstimulus ekspor agar kembali bergairah dan dapat membantu pengurangan defisit neraca transaksi berjalan.

“BI mulai mencari keseimbangan baru supaya kalau kursnya melemah, ekspornya akan lebih bergairah dan impornya akan lebih tidak bergairah, impor lebih mahal dan ekspornya jadi untung,” ujar Dirut PT Bank Mandiri Tbk Budi Gunadi Sadikin di sela-sela acara buka puasa bersama wartawan di Jakarta, Rabu malam.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di laman BI, sejak awal Juli rupiah terus melemah perlahan. Pada 1 Juli 2013 lalu rupiah menunjukkan angka Rp9.934 hingga pada 15 Juli 2013 rupiah menembus angka di atas Rp10.000. Kurs rupiah Kamis ini sendiri menunjukkan angka Rp10.059.

“BI ingin menciptakan keseimbangan baru dari ekspor dan impor, sekarang defisit (transaksi berjalan) karena impor kita lebih besar dari ekspor kita. Untuk menyeimbangkan, kursnya pelan-pelan di-adjust oleh BI ke titik keseimbangan baru,” ujar Budi.

Menurut Budi, defisit neraca transaksi berjalan memang merupakan salah satu faktor utama penyebab nilai tukar rupiah terus bergejolak. Namun, dengan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah pada Juni lalu, ia optimistis defisit neraca transaksi berjalan bisa berkurang.

Ia menuturkan, kondisi yang sama pernah terjadi pada 2005 dan 2008, ketika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi maka dalam rentang kurang lebih setahun defisit neraca transaksi berjalan mengalami perbaikan.

“Jadi memang pengalaman bangsa indonesia, current account deficit itu disebabkan karena subsidi minyak. Kalau begitu gap antara harga dalam negeri dan di luar negeri jauh dan impor yang masuk banyak terjadi defisit. Defisit ini jika tidak dikontrol, maka nilai tukar rupiah kita akan melemah terus,” kata Budi. (gor/ant)
Tembus Rp 10.000 per USD, BI: Masih wajar
Oleh Barratut Taqiyyah – Rabu, 17 Juli 2013 | 13:34 WIB

kontan

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menganggap bahwa nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 10.000 per dollar AS masih wajar. Sebab, kondisi rupiah saat ini masih terimbas oleh perekonomian global yang belum pulih.

“Jadi, secara umum nilai tukar kita masih dalam kondisi yang baik, mencerminkan fundamentalnya. Kalau seandainya nilainya sedikit di atas Rp 10.000 per dollar AS itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat ditemui di kantor Kementerian Perekonomian Jakarta, Rabu (17/7).

Agus menambahkan, dengan adanya kebijakan kenaikan suku bunga acuan BI (BI rate) menjadi 6,5%, maka pihaknya mengharapkan akan ada dana asing yang masuk ke Indonesia. Imbasnya, nilai tukar rupiah akan kembali mencerminkan fundamentalnya.

Agus memandang pelemahan rupiah selama ini memang disebabkan karena pelemahan ekonomi global. Di sisi lain, neraca pembayaran domestik juga masih menurun sehingga menggerus nilai tukar rupiah. “Nilai tukar Rp 10.000 per dollar AS itu temporary, masih wajar,” tambahnya.

Agus membandingkan bahwa di tahun 2005 dan di tahun 2008 saat pemerintah menaikkan kebijakan harga BBM bersubsidi, posisi nilai tukar rupiah juga di atas Rp 10.000 per dollar AS. Namun posisi defisit neraca pembayarannya tidak selebar seperti saat ini.

Jika dibandingkan dengan posisi saat ini, depresiasi nilai tukar rupiah juga masih lebih bagus. Apalagi jika dibandingkan dengan negara sekawasan. Misalnya ringgit Malaysia, peso Filipina, won Korea, rupee India atau yuan China. Kondisi nilai tukar dari negara sekawasan tadi bahkan lebih buruk dari Indonesia.

“Jadi yang saya sampaikan, kita tidak perlu khawatir dengan nilai tukar itu. Itu udah mencerminkan terjadinya trade yang sehat, artinya ekspor impor balance dan kita secara umum mengharapkan ekonomi kita ke depan bisa lebih kuat,” tambahnya.

Di sisi lain, BI akan menjaga nilai inflasi agar tidak terlalu membebani pelemahan rupiah. Selama ini, BI akan fokus menjaga inflasi sesuai target di akhir tahun sebesar 7,2%. (Didik Purwanto/Kompas.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s