Utaaa(1/500 Jepang seh)aaNk … 100813

Wow! Utang Pemerintah Jepang Capai Rp 104.000 Triliun
Wahyu Daniel – detikfinance
Jumat, 09/08/2013 17:59 WIB

Tokyo – Pemerintah Jepang mengumumkan jumlah utang negaranya saat ini mencapai 1 kuadriliun yen (1.000 triliun yen). Dengan kurs saat ini, jumlah utang itu mencapai US$ 10,2 triliun atau sekitar 104 ribu triliun.

Dikutip dari AFP, Jumat (8/8/2013), jumlah utang ini adalah sampai 30 Juni 2013. Jepang saat ini menjadi negara dengan utang terbesar dibandingkan dengan negara-negara industri lainnya. Jumlah utang Jepang mencapai dua kali lipat dari ukuran PDB negaranya.

Utang-utang ini terdiri dari surat utang (obligasi) jangka pendek dan panjang, juga pinjaman-pinjaman lainnya. Jumlah utang ini naik 1,7% dalam satu kuartal, dibandingkan kuartal sebelumnya. Pengumuman utang ini muncul setelah pemeirntah Jepang berencana memangkas anggarannya, dan mengontrol ketat pengeluaran negara.

Meski utang menggunung, namun Jepang tidak sedang dalam krisis utang seperti Eropa, ini karena utang-utang yang ditanggung Jepang memiliki bunga yang rendah.

Walaupun begitu, lembaga moneter internasional (IMF) memperingatkan Jepang untuk mewaspadai utang-utangnya. IMF juga meminta pemerintah Jepang untuk memperbaiki kinerja fiskal dan anggarannya, termasuk menaikkan tarif pajak agar pendapatan negara meningkat.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tengah merencanakan untuk menaikkan sejumlah tarif pajak di negaranya dia kali lipat di 2015.

Jumlah utang Jepang ini jauh lebih tinggi dari utang pemerintah Indonesia yang mencapai Rp 2.036,14 triliun dengan rasio 24,7% terhadap PDB hingga Juni 2013. Namun pemberi utang terbesar ke pemerintah Indonesia sampai saat ini adalah Jepang.
JUM’AT, 09 AGUSTUS 2013 | 14:12 WIB
Jepang Cetak Rekor Utang Tertinggi

TEMPO.CO, Tokyo -Jepang untuk pertama kalinya mencatatkan utang melebihi 1.000 triliun yen. Total utang Jepang mencetak rekor baru, mencapai 1.008,6 triliun yen atau US$10,46 triliun sampai Juni 2013. Jumlah ini naik 1,7 persen dibandingkan tiga bulan sebelumnya.

Jumlah utang terbesar di dunia ini mendorong Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, untuk menaikkan pajak penjualan dua kali lipat demi menjaga kestabilan keuangan pemerintah. Lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service kemarin mengingatkan bahwa memburuknya kondisi keuangan akan menghapus tingkat kepercayaan investor pada obligasi pemerintah.

“Nilai utang yang terus merangkak naik memicu Abe untuk meningkatkan besaran pajak penjualan. Kebijakan ini harus dilakukan oleh pemerintahan Abe,” kata ekonom di Royal Bank of Scotland Group Plc, Hanhua Wang seperti dikutip laman Reuters, Jumat,9 Agustus 2013.

Pemerintah Jepang sebelumnya memang berencana untuk menaikkan pajak penjualan dari 5 persen menjadi 8 persen. Pada Oktober 2015, pemerintah akan menaikkan lagi pajak penjualan menjadi 10 persen. Tapi pemerintahan Abe baru akan memutuskan apakah kebijakan ini jadi diimplementasikan atau tidak pada bulan September, atau setelah data produk domestik bruto Jepang dirilis.

Total utang Jepang lebih besar dua kali lipat dari besaran ekonomi negara tersebut. Defisit fiskal akan naik menjadi 10,3 persen, dari posisi sebelumnya 9,9 persen dibanding total PDB. Secara umum, tunjangan kesejahteraan naik menjadi 103 triliun yen pada 2010 dari 47 triliun yen pada 1990. “Reformasi pajak dan pemangkasan belanja untuk tunjangan kesejahteraan akan membantu pemerintah dalam mengurangi defisit,” kata Wakil Presiden Moody’s Investor, Thomas Byrne.

ANANDA TERESIA/REUTERS
Japan’s Debt Exceeds 1 Quadrillion Yen as Abe Mulls Tax Rise
By Mayumi Otsuma – Aug 9, 2013 12:51 PM GMT+0700
bloomberg
Japan’s national debt exceeded 1,000 trillion yen for the first time, underscoring the case for Prime Minister Shinzo Abe to proceed with a sales-tax increase to shore up government finances.
The country’s outstanding public debt including borrowings reached a record 1,008.6 trillion yen ($10.46 trillion) as of June 30, up 1.7 percent from three months earlier, the finance ministry said in Tokyo today. Larger than the economies of Germany, France and the U.K. combined, the amount includes 830.5 trillion yen in government bonds.

Japan’s debt is more than twice the size of the economy, and its fiscal deficit will expand to 10.3 percent of GDP this year from 9.9 percent in 2012, according to OECD data compiled by Bloomberg.

The world’s heaviest debt burden will weigh on Abe when he decides next month whether to implement a two-step plan to double the tax on consumers in a nation with ballooning welfare costs. While boosting the levy would drag on growth, Moody’s Investors Service yesterday warned that a worsening of finances would erode confidence in government bonds.
“Ballooning public debt underlines the need for Abe to push for a sales-tax increase,” said Long Hanhua Wang, an economist at Royal Bank of Scotland Group Plc in Tokyo. “This is a minimum policy requirement for his government.”
The levy on consumption is due to be raised to 8 percent in April from the current 5 percent, followed by an increase to 10 percent in October 2015. Abe said he would make a final call on the plan after the release of revised second-quarter gross domestic product data on Sept. 9.
The sales-tax law enacted last year gives Abe the power to postpone the rise should he conclude that the economy is unable to weather the austerity measure.
Expert Panel
The prime minister yesterday ordered the creation of a panel of experts to analyze the impact on the economy of a higher levy. Advocates of an increase including Bank of Japan Governor Haruhiko Kuroda and Finance Minister Taro Aso will stand in the committee.
Etsuro Honda, an economic adviser to Abe, called this week for a shallower path of increases to ease the burden on households. Another adviser, retired Yale University professor Koichi Hamada, said the BOJ should be prepared to add stimulus if the sales-tax rise hurts the economy.
The country’s debt is more than twice the size of the economy, and its fiscal deficit will expand to 10.3 percent of GDP this year from 9.9 percent in 2012, according to OECD data compiled by Bloomberg.
Japan will still run a primary budget balance deficit equivalent to 2 percent of the economy in the fiscal year starting April 2020 even if it raises the tax as planned, a Cabinet Office estimate showed yesterday.
Overall social welfare benefits rose to 103 trillion yen in 2010 from 47 trillion yen in 1990, according to data compiled by the National Institute of Population and Social Security Research.
“Tax reform and containment of social security expenditure would further reduce the government’s budget deficit and enhance its debt-servicing capacity,” Thomas Byrne, senior vice president at Moody’s, wrote in a report yesterday.
For Related News and Information: BOJ Seen Adding Stimulus by June as Inflation Goal Elusive Abe Aide Hamada Calls for BOJ Easing If Sales Tax Hurts Economy Aso: Don’t Expect Sales Tax Hike to Cause Slowdown Like in 1997

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s