cadaaa($91 M)aangAn D3V1$4 … 170713

Nafas BI Sudah Senin-Kamis

Oleh: Bastaman
ekonomi – Selasa, 16 Juli 2013 | 13:52 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Frustasi. Tampaknya hanya kata itu yang paling pas untuk menggambarkan perasaan para petinggi moneter di negeri ini.

Bagaimana tidak? Berbagai cara sudah dilakukan agar rupiah tidak ajrut-ajrutan. Mulai dengan menaikan suku bunga acuan, mengerek bunga fasilitas dikonto (FasBI), hingga mengubah aturan transaksi swap valas.

Hasilnya? Nol. Dolar terus mengamuk dan membuat mata uang kebangaan RI itu tetap berada di jalur merah. Seperti yang terjadi Senin (15/7), rupiah kembali tutup melemah ke level Rp 9.980 per dolar. Sebelumnya, Jum’at pekan lalu, rupiah juga melemah 0,18% terhadap dolar. “Rupiah telah kehilangan kepercayaan masyarakat,” kata seorang analis pasar uang.

Penyebabnya memang banyak. Mulai dari akibat tingginya inflasi sampai penarikan dana oleh asing. Namun melemahnya otot rupiah pasa dasarnya dipicu oleh persoalan yang itu-itu juga, yakni tidak seimbangnya pasokan dengan permintaan pasar. Makanya, kendati suku bunga dikerek naik, pelemahan rupiah sulit diatasi bila pasokan dan permintaan masih jomplang.

Nah, terkait dengan pasokan dolar, dalam waktu dekat cadangan dolar di BI akan bertambah US$1 miliar. Devisa itu bukan berasal dari ekspor, melainkan dari hasil penjualan obligasi global bertenor 10 tahun. “Meskipun yang masuk US$1,9 miliar, pemerintah hanya ambil US$1 miliar,” kata Loto Srinaita Ginting, Direktur Surat Utang Negara Dirken Pengelolaan Utang (DJPU).

Namun tambahan dolar tersebut tampaknya tak ada arti apa-apa. Soalnya, selama minggu pertama di bulan Juli, dolar yang ke luar dari brankas BI mencapai US$6,3 miliar sehingga cadangan devisa Indonesia tinggal US$91,8 miliar. Sebelumnya, Juni lalu, cadangan devisa juga telah berkurang sebesar US$14,69 miliar. Makanya, sejumlah analis memprediksi nilai tukar rupiah masih akan tertekan di hari-hari berikutnya.

Benar-benar memprihatinkan
Rupiah Merosot Karena Fundamental Lemah

Oleh: Vinsensius Segu
ekonomi – Selasa, 16 Juli 2013 | 21:45 WIB

INILAH.COM,Jakarta – Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menilai merosotnya nilai tukar rupiah ke level Rp 10 ribu per dollar AS diakibatkan lemahnya fundamental ekonomi Nasional.

“Jadi faktor utamanya saya kira fundamental ekonomi kita sedang diuji jadi setelah kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Selain itu pelaksanaan program pembangunan dalam APBN serta perbaikan Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) turut menjadi andil kenaikan rupiah ini,” katanya di Jakarta, selasa (16/07/2013).

Mirza melanjutkan, faktor perekonomian dalam negeri yang masih bergantung pada impor yang membuat defisit NPI pada sepanjang 2012 semakin membesar. Perekonomian Indonesia sedang diuji untuk mencapai surplus dan salah satu jalan untuk mencapai itu yakni dengan peningkatan ekspor dan menurunkan impor.

“Selama ini kan pembangunan selalu dari impor, bagaimana barang konsumsi serta barang modal selalu melalui impor, padahal sudah saatnya perekonomian harus dijaga dilevel yang seharusnya bertumpukan pada ekspor,” katanya.

Dia menilai, upaya Bank Indonesia (BI) menaikkan BI rate sudah cukup baik untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi yang bergantung kepada impor. Dia pun menyarankan pemerintah untuk berupaya mendorong masuknya Foreign Direct Investment (FDI) untuk menghasilkan barang modal sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terdorong naik.

“Dengan masuknya FDI maka impor barang modal akan semakin berkurang dan mengurangi defisit dalam neraca berjalan,”tuturnya.

Dia menambahkan,terjaganya fundamental ekonomi indonesia seperti menjaga kenaikan inflasi dan NPI akan menjadi tugas pemerintah indonesia dan harus menjadi fokus utama seperti mengurangi impor dan memperbanyak ekspor. Hal ini perlu mendapat perhatian serius agar bisa menarik investor untuk masuk sehingga rupiah kita bisa menguat lagi.

“Jika kondisi semakin membaik maka banyak investasi asing akan ramai masuk yang pada akhirnya nilai rukar rupiah terdorong menguat,begitupun yield SUN kita juga akan terpangkas, jika ini terjadi investasi akan semakin deras mendukung pertumbuhan ekonomi indonesia,” tutupnya.
Rupiah Semakin Terpuruk di Rp10.068
Selasa, 16 Juli 2013 13:00 wibWidi Agustian – Okezone Ilustrasi.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah semakin terpuruk di level Rp10.000-an. Bank Indonesia (BI) tampaknya belum mengambil sikap untuk mengintervensi rupiah ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Selasa (16/7/2013) siang berada di level Rp10.068 per USD. Sementara menurut yahoofinance, rupiah ada di Rp10.015 dengan perdagangan harian di kisaran Rp10.035 per USD.

Pengamat ekonomi dari Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih menjelaskan, pasar Asia kemungkinan masih akan positif terlihat dari indeks futurenya. “Sedangkan untuk rupiah, ada upaya BI untuk membawa kembali di bawah Rp10.000 per USD pada hari ini,” kata dia dalam risetnya, Selasa (16/7/2013).

Dia melanjutkan, rupiah melewati batas psikologis Rp10.000 per USD kendati secara depresiasi termasuk terkecil di antara mata uang Asia lainnya. Hanya yuan yang terapresiasi terhadap USD.

“Sentimen pelemahan mata uang Asia ini kemungkinan berlanjut begitupun IDR yang secara teknikal bisa menuju Rp11.200 per USD,” jelas dia.

Di sisi lain, di tengah kebijakan mengurangi kredit, perbankan China justru menjual produk wealth-management (WMP) yang berskema ponzi game dan bisa berbahaya membuat perbankan China terjerat utang. (wdi)
Rupiah Terus Melemah, Fundamental Ekonomi Diuji
Penulis : Zico Nurrashid Priharseno Rabu, 17 Juli 2013 | 02:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelemahan rupiah yang tak kunjung teratasi dinilai merupakan dampak dari lemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Periode pelemahan rupiah ini pun dinilai sebagai ujian bagi fundamental ekonomi.

“Inti utamanya adalah fundamental ekonomi kita sedang diuji. Jadi setelah kenaikan BBM, pelaksanaan program pembangunan dalam APBN serta perbaikan NPI (neraca perdagangan Indonesia, red) akan menentukan kenaikan rupiah,” ujar ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Mirza Adityaswaranya di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Mirza berpendapat saat ini ujian terutama ditujukan pada masalah ketergantungan impor, yang dituding sebagai penyebab menggelembungnya defisit NPI sepanjang 2012. Pemerintah diuji mendapatkan surplus perdagangan dengan

menurunkan impor dan meningkatkan ekspor.

Menurut Mirza, langkah Bank Indonesia yang dua kali berturut-turut menaikkan suku bunga acuan (BI rate) merupakan langkah signifikan untuk mendukung kajian soal impor tersebut. Langkah Bank Indonesia tersebut, ujar dia, signifikan mendukung kajian dengan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang selama ini bergantung pada impor.

“Selama ini, kan pembangunan selalu dari impor. Sudah saatnya perekonomian harus dijaga di level yang seharusnya bertumpukan pada ekspor,” tegas Mirza. Untuk mencapai hal-hal tersebut, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan terus masuknya investasi asing langsung (foreign direct investment atau FDI) untuk barang modal.

Bila FDI membanjir dan itu adalah investasi untuk barang modal, Mirza berkeyakinan pertumbuhan ekonomi pun akan terdorong. “Dengan masuknya FDI, maka impor barang modal akan semakin berkurang, dan mengurangi defisit dalam neraca berjalan,” jelas Mirza.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, rupiah dalam pekan ini masih terus melemah dan menembus level psikologis Rp 10.000 per dollar Amerika. Pada perdagangan Senin (15/7/2013), kurs rupiah ditutup pada level Rp 10.024 per dollar AS. Pada perdagangan Selasa (16/7/2013), rupiah terus terperosok dan ditutup pada level Rp 10.036 per dollar AS.

Pelemahan rupiah ini semula diduga karena dampak perekonomian global dan tak terlepas dari kemungkinan dihentikannya stimulus Bank Sentral Amerika (The Fed). Namun ketika Gubernur The Fed menyatakan bahwa stimulus masih diperlukan untuk ekonomi Amerika dan mata uang utama dan Asia cenderung menguat terhadap dollar AS, rupiah justru masih terus terpuruk. Tak peduli intervensi Bank Indonesia sudah menggerus cadangan devisa lebih dari 7 miliar dollar AS sepanjang 2013.
Editor : Palupi Annisa Auliani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s