BI rAt3 @6,5% … 130713

Dampak BBM Temporer 3 Bulan Terhadap Inflasi
8 July 2013 20:42 WIB

infobank

Jakarta–Dampak kenaikan harga BBM bersubsidi tentu erat kaitanya dengan tingkat inflasi. Bahkan, hal itu membuat tekanan yang cukup berat kepada masyarakat Indonesia. Namun, Bank Indonesia (BI) memperkirakan dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi akan bersifat temporer.

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo mengatakan, inflasi memang akan merangkak naik dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi, yang diputuskan pemerintah pada beberapa waktu lalu. Kenaikan inflasi sendiri juga akan merangkak naik akibat dari pangan.

“Inflasi sampai Juni 2013 lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Didorong inflasi volatile food dan dampak kenaikan harga BBM bersubsidi”, kata Agus, di Jakarta, Senin, 8 Juli 2013.

Kendati dampak kenaikan harga BBM bersubsidi akan membuat inflasi merangkak naik, namun Agus memperkirakan dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi bersifat sementara. Bahkan, puncaknya akan terjadi pada Juli, karena bersamaan dengan bulan suci Ramadhan. Namun, diperkirakan inflasi akan masih terkendali.

“Inflasi keseluruhan di 2013 kami perkirakan 7,82%. Bila pemerintah bisa memitigasi kenaikan BBM bersubsidi dan mengelola pangan, tentu bisa saja bisa lebih rendah”, ungkap Agus. (*)
BI: Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga
Kamis, 11 Juli 2013 | 16:00
investor daily
JAKARTA- Bank Indonesia (BI) menyatakan stabilitas sistem keuangan secara umum tetap terjaga baik, meskipun pasar keuangan domestik sempat mendapat tekanan sebagai akibat sentimen global.

“Stabilitas sistem keuangan ditopang oleh kinerja industri perbankan yang tetap solid,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Kinerja perbankan tersebut tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang masih tinggi sebesar 18,4% dan berada jauh di atas ketentuan minimum 8% per Mei 2013.

Sedangkan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross perbankan juga masih rendah sebesar 1,95% pada bulan Mei 2013. “Sementara itu, sejalan pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat, pertumbuhan kredit hingga akhir Mei 2013 melambat menjadi 21,0% (yoy),” ujar Agus.

Kredit modal kerja dan kredit investasi, meskipun juga berada dalam tren menurun, masih tumbuh cukup tinggi masing-masing sebesar 21,7% (yoy) dan 22,9% (yoy), sedangkan pertumbuhan kredit konsumsi turun menjadi 18,4% (yoy). (ant/gor)
BRI Akan Naikkan Suku Bunga Simpanan
Jumat, 12 Juli 2013 | 18:37
investor daily
JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk akan menaikkan suku bunga simpanan untuk merespons kenaikan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 50 basis poin dari 6 persen menjadi 6,5 persen.

“Kami akan menyesuaikan tingkat bunga dana kami,” kata Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni usai penandatanganan kerja sama dengan PT Askes (persero) di Jakarta, Jumat (12/7).

Terkait dengan besaran kenaikan suku bunga tabungan, Baiquni mengatakan pihaknya masih akan mengkaji hal tersebut. Namun, menurutnya, kenaikan suku bunga tabungan tersebut akan berkisar sesuai dengan kenaikan BI rate yakni sekitar 50 basis poin.

Baiquni menuturkan, sebelumnya BRI tidak menaikkan suku bunga ketika pada Juni lalu BI rate naik 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 6 persen. Akan tetapi, besaran kenaikan BI rate sebesar 50 basis poin dinilai cukup besar, sehingga pihaknya akan menyesuaikan tingkat suku bunganya.

Per Maret 2013, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI sebesar Rp 403,1 triliun yang terdiri atas tabungan Rp 173 triliun, giro Rp 58 triliun, dan deposito Rp 173 triliun.

Baiquni menambahkan, pihaknya juga akan memonitor besaran kenaikan suku bunga simpanan bank-bank lain sebagai pertimbangan kenaikan besaran suku bunga simpanan BRI.

Sebelumnya pada Kamis (11/7) lalu, Bank Indonesia menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 6,5 persen dari posisi sebelumnya 6 persen.

BI menyatakan, kebijakan itu diambil untuk memastikan inflasi yang meningkat pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dapat segera kembali ke lintasan sasarannya. (ID/tk/ant)
BRI akan menaikkan suku bunga dana
Oleh Annisa Aninditya Wibawa – Jumat, 12 Juli 2013 | 12:10 WIB
kontan

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 6,5%. Ini membuat PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berencana menaikkan suku bunga pendanaanya.

“Respons kenaikan BI rate, kami akan menyesuaikan tingkat bunga dana,” sebut Direktur Keuangan BRI, Achmad Baiquni, Jumat, (12/7).

Meski begitu, bank yang berfokus pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini masih mengkaji seberapa besar kenaikan tingkat suku bunga tersebut. Baiquni hanya bilang bahwa perkiraan kenaikannya akan berkisar pada 50 basis poin.

Ketika BI rate naik 25 basis poin menjadi 6% di bulan lalu, Baiquni menyebut bahwa BRI tak turut menaikkan suku bunganya. Namun kenaikan yang cukup besar kali ini membuat BRI merasa perlu untuk akan menaikkan suku bunga dana.

Baiquni bilang bahwa pihaknya melihat ada kebutuhan terhadap posisi likuiditas. Pada posisi Maret, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI yaitu Rp 403,1 triliun. Angka tersebut terdiri dari tabungan Rp 173 triliun, giro Rp 58 triliun, dan deposito Rp 173 triliun.

Selain itu, BRI juga akan memantau tingkat kenaikan suku bunga pendanaan di bank-bank lain. Ini juga akan menjadi pertimbangan bagi BRI untuk memperkirakan seberapa besar kenaikan suku bunga dananya.
Harga BBM, Picu BI Rate Naik ke 6,5%

Oleh: Ranto Rajagukguk
ekonomi – Kamis, 11 Juli 2013 | 14:39 WIB

INIIALH.COM, Jakarta – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Kamis (11/7/2013) memutuskan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 6,5 persen.

Gubernur Bank Indonesia Agus D W Martowardojo mengatakan Rapat Dewan Gubernur BI juga memutuskan suku bunga deposit facility naik 50 basis poin menjadi 4,75 persen dari sebelumnya 4,25 persen dan suku bunga lending facility tetap sebesar 6,75 persen.

Langkah ini, untuk memastikan inflasi yang meningkat pascapenaikan harga BBM bersubsidi dapat kembali ke lintasan sasarannya .”Kebijakan tersebut ditempuh untuk mengantisipasi inflasi pascanaiknya BBM subsidi sehingga dengan kebijakan ini dapat membalikkan inflasi pada lintasan,” ujar Agus di kantor BI Jakarta, Kamis (11/7/2013).

Bersamaan dengan hal itu, pihaknya juga memperkuat bauran kebijakan guna memperkuat fundamental ekonomi secara nasional. Kebijakan yang akan BI lakukan menurut Agus adalah dengan melanjutkan posisi nilai tukar rupiah secara fundamental dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar valuta asing.

“Kami juga akan menyempurnakan ketentuan loan to value ratio terkait kredit kepemilikan rumah, serta apartemen untuk tipe tertentu,” kata Agus. [hid]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s