cadaaa($98 M)aangAn D3V1$4 … 080713

Cadangan devisa Juni terendah satu tahun terakhir
Oleh Dyah Megasari – Sabtu, 06 Juli 2013 | 14:44 WIB

kontan

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa hingga akhir Juni 2013 sebesar 98,1 miliar dollar AS. Nilai tersebut merosot dari cadangan devisa di akhir bulan sebelumnya yang masih 105,1 miliar dollar AS.
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, penurunan cadangan devisa ini disebabkan oleh kenaikan dana asing yang keluar dari Tanah Air. BI mencatat, ada dana asing yang keluar hingga akhir Juni 2013 sebesar Rp 40,1 triliun.
“Semua tahu bahwa cadangan devisa ini terkait inflow dan outflow. Tapi, hingga akhir Juni 2013 ini, ada outflow sekitar US$ 4,1 miliar sehingga cadangan devisanya menurun menjadi US$ 98,1 miliar,” kata Agus saat konferensi pers di Gedung BI Jakarta, Jumat (5/7/2013).
Nilai tersebut merupakan yang terendah dalam dua tahun terakhir. Namun, Agus menganggap bahwa penurunan cadangan devisa ini masih wajar. Sebab, cadangan devisa ini dipahami menjadi asuransi bagi Indonesia, khususnya saat terjadi dana asing yang keluar dari Tanah Air (outflow).
Nilai cadangan devisa tersebut untuk memenuhi 5,4 bulan impor dan utang pembayaran luar negeri.
Jika utang pembayaran luar negeri tidak dimasukkan, itu bisa memenuhi 5,5 bulan impor.
“Nilai cadangan devisa tersebut masih cukup untuk menjaga nilai tukar rupiah,” tambahnya. Di sisi lain, kondisi rupiah sepanjang Januari hingga Juni 2013 telah menurun sebanyak 3,01 persen. Sementara pekan ini, rupiah terkoreksi 0,18 persen menjadi Rp 9.943 per dollar AS. (Didik Purwanto/Kompas.com)
Jaga Rupiah di Bawah Rp 10.000/US$, Cadangan Devisa RI Jeblok Rp 66 T
Herdaru Purnomo – detikfinance
Minggu, 07/07/2013 13:22 WIB

Jakarta – Cadangan devisa RI tergerus hingga US$ 7,1 miliar selama sebulan. Bank Indonesia (BI) mencatat per akhir Juni 2013, cadangan devisa RI sudah berada di bawah US$ 100 miliar.

Dikutip detikFinance dari situs Bank Indonesia, Minggu (7/7/2013), cadangan devisa tercatat berada di posisi US$ 98,09 miliar di akhir Juni 2013 atau turun dari bulan sebelumnya yang tercatat masih berada di level US$ 105,14 di Mei 2013.

Penurunan tersebut mencapai US$ 7,1 miliar atau sebesar Rp 66 triliun. Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan penurunan cadangan devisa ini disebabkan karena besarnya arus modal keluar dari Tanah Air, yang mencapai US$ 4,1 miliar, yang terdiri dari US$ 2 miliar di saham dan US$ 1,98 miliar di pasar SUN (surat utang negara).

“Semua tahu bahwa cadangan devisa ini terkait inflow dan outflow. Tapi hingga akhir Juni 2013 ini ada outflow sekitar US$ 4,1 miliar. Sehingga cadangan devisanya menurun menjadi US$ 98,1 miliar,” kata Agus saat kepada wartawan.

Agus mengatakan, nilai cadangan devisa sebesar US$ 98,1 miliar tersebut masih cukup untuk memenuhi pembayaran 5,4 bulan impor dan utang pembayaran luar negeri. Jika utang pembayaran luar negeri tidak dimasukkan, maka bisa memenuhi 5,5 bulan impor.

“Nilai cadangan devisa tersebut masih cukup untuk menjaga nilai tukar rupiah,” pungkas Agus.

Januari 2013 : US$ 108,8 miliar
Februari 2013 : US$ 105,2 miliar
Maret 2013 : US$ 104,8 miliar
April 2013 : US$ 107,2 miliar
Mei 2013 : US$ 105,1 miliar
Juni 2013 : US$ 98,1 miliar

(dru/nia)
Cadangan Devisa “Bobol” Sampai USD7 Miliar
Jum’at, 05 Juli 2013 21:49 wibRezkiana Nisaputra – Okezone
penjelasan mati-matian cadangan devisa kita
CATATAN CD sejak Januari 2013
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa per akhir Juni 2013 turun sekira USD7 miliar menjadi USD98,1 miliar. Di mana sebelumnya, per akhir Mei cadangan devisa berada di angka USD105,1 miliar.

Gubernur BI Agus Martowardjojo mengatakan, penurunan cadangan devisia tersebut antara lain karena dipengaruhi oleh pengeluaran dalam rangka kebijakan nilai tukar rupiah, selisih kurs neraca dan revaluasi aset.

“Cadangan devisa saat ini lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Posisi cadangan devisa akhir Juni 2013 setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran ULN Pemerintah atau diatas kondisi yang terjadi pada tahun 2005 dan 2008 yakni sekitar 4,3 bulan impor,” ujar Agus dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Jumat (5/7/2013) malam.

Selain itu, melemahnya cadangan devisa juga disebabkan adanya arus modal asing (out flow) di Surat Berharga Negara (SBN) dan Saham yang keluar hingga USD4,1 miliar atau Rp40,1 triliun di bulan Juni 2013. “Ini pengeluaran di bulan Juni saja,” tukasnya.

Sementara jika dilihat dari sisi nilai tukar, pelemahan nilai rupiah masih lebih baik bila dibandingkan dengan negera regional yang lain. Lanjut Agus, rupiah hanya mengalami depresiasi sebesar 3,01 persen, sementara Malaysia 3,33 persen, Singapura 3,8 persen dan Filipina 5,04 persen.

Sedangkan pada beberapa negara yang mengalami depresiasi cukup dalam yakni Jepang dan Korea. “Tapi lebih jauh lagi itu mata uang Jepang, Yen mengalami depresiasi hingga 14 persen dan korea bon 7 persen,” papar Agus.

Namun demikian, BI tetap optimistis ke depannya cadangan devisa akan mengalami perbaikan, hal ini didukung adanya kenaikan harga BBM bersubsidi sehingga hal ini akan membuat APBN jauh lebih sehat. “Kami yakin transaksi berjalan juga akan lebih kuat,” tutup Agus. (wdi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s