bbri @9K … 040713

Rekomendasi Beli Saham BBCA, BBRI, dan BMRI

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Rabu, 3 Juli 2013 | 03:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Saham BBCA, BBRI, dan BMRI mendapat rekomendasi beli dari analis. Alasannya, ketiga bank tersebut diutungkan oleh besarnya rasio dana murah terhadap total DPK. Seperti apa?

Raymond Budiman, analis PT Panin Sekuritas menargetkan harga relatif saham BBRI di atas level Rp9.000 ke Rp9.300 dalam kuartal III-2013. Sementara itu, target harga BMRI di Rp11.000; dan BBCA Rp10.500 dalam kuartal III-2013. Dari sisi harga, kata dia, saham BBCA memang sudah tinggi tapi bukan berarti negatif secara fundamental. “Saya rekomendasikan buy untuk tiga saham tersebut,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Selasa (2/7/2013) saham PT Bank Central Asia (BBCA) ditutup menguat Rp50 (0,50%) ke posisi Rp9.950; PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melemah Rp100 (1,25%) ke level Rp7.850; PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp350 (3,93%) ke Rp8.550; PT Bank Negara Indonesia (BBNI) melandai Rp150 (3,48%) ke Rp4.150. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Pascakenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang diekspektasikan memicu kenaikan inflasi dan BI rate, benarkah bank-bank berebut Dana Pihak Ketiga (DPK)?

DPK memang pertumbuhanya lebih kecil dibandingkan pertumbuhan kredit. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), DPK hanya tumbuh 15,5% sedangkan kredit tumbuh 21% per April 2013. Akibatnya, Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat.

Hanya saja, posisi LDR perbankan saat ini masih di level optimal pada kisaran 85% atau masih dalam kisaran yang ditentukan BI antara 70% hingga 100%. Bank-bank, memang biasanya mempertahankan LDR dalam kisaran optimal 80-85%. Dari sisi ini, masih belum jadi masalah dari sisi likuiditas bank.

Karena pertumbuhan DPK lebih kecil dibandingkan pertumbuhan kredit, seiring kenaikan BI rate ke 6%, DPK menjadi perebutan perbankan. Siapa yang bunga depositonya naik paling tinggi, dana nasabah akan mengalir ke situ.

Bank apa saja yang memenangkan persaingan?

Untuk bank seperti BBCA sudah menjadi bank transaksi sehingga DPK-nya sangat kuat. Dari sisi DPK, BCA memenangkan persaingan. Itupun jika dikerucutkan, kenaikan BI rate menguntungkan bank-bank yang dana murahnya banyak seperti tabungan dan giro. Sedangkan deposito merupakan dana mahal. Faktor DPK menjadi concern semua bank. Dari waktu ke waktu, mereka rebutan. Jadi memang, tugas bank adalah menampung dana masyarakat dan menyalurkan kredit untuk mengembangkan bisnisnya.

Dari sisi dana murah, BBCA diuntungkan?

Ya, BBCA diuntungkan. Suku bunga kredit naik sementara cost of fund atau biaya bunga dana murah tidak sebesar suku bunga kredit. Jadi, BCA mengandalkan dana murah yang mencapai 81% dari total DPK. Karena itu, saya melihat profitabilitas DPK BCA akan meningkat dengan kenaikan BI rate.

Intinya, jika suatu bank sudah dipakai sebagai bank transaksi seperti bayar listrik, asuransi, reksadana, telepon, tagihan dan lain-lain, nasabah akan tetap menaruh dananya di situ. Nasabah tidak minta bunga, karena motif menyimpan uang hanya untuk transaksi sehingga menjadi dana murah bagi BCA. Sebagai bank transaksi, sistem BCA sudah kuat.

Bagaimana dengan BMRI?

BMRI masih membangun IT-nya supaya bisa menjadi bank transaksi seperti BBCA yang bisa meningkatkan DPK. Tapi, BMRI dan BCA diuntungkan dari sisi kenaikan suku bunga karena besarnya dana murah.

Lantas, berapa rasio dana murah masing-masing bank dari total DPK?

Per Maret 2013, Dana murah BBCA 81% (tabungan dan giro) dan 19% deposito, dana murah BMRI mencapai 68%, BBNI 65% dan BBRI 60%. Bunga tabungan dan giro, paling-paling 1-2% sehingga cost of fund-nya kecil. Dari sisi dana murah, BCA yang paling menonjol. Tapi, secara umum, para pelaku pasar saham suka sama bank-bank ini karena masuk kategori LQ45.

Anda punya target harga untuk saham-saham tersebut?

Target harga relatif untuk BBRI di atas level Rp9.000 ke Rp9.300 dalam kuartal III-2013 dengan PER 11 kali. Target harga BMRI Rp11.000; dan BBCA Rp10.500 dalam kuartal III-2013. Dari sisi harga, saham BBCA memang sudah tinggi tapi bukan berarti negatif secara fundamental. Jadi, harga di pasar sudah tinggi. Saya rekomendasikan buy untuk tiga saham tersebut.

Target harga saham BBNI?

Target harga BBNI di Rp5.300. Tapi, karena tidak ada story-nya, saya tidak merekomendasikan untuk BBNI. Hanya saja, secara umum saya masih merekomendasikan positif untuk saham-saham bank. Hanya saja, untuk rekomendasi memang tidak usah banyak-banyak, 1-2 saja, kalau bukan BBCA-BMRI ya, BMRI-BBRI, karena BBCA sudah mahal. BMRI dan BBRI upside potential-nya paling besar. Tapi, secara fundamental, BCA punya story yang bagus. BBNI, tak punya cerita fundamentalnya. [jin]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s